Kolom Yudhistira ANM Massardi

Komet Mei 2009

Memilih Teman

Oleh: Yudhistira ANM Massardi

Sekali lagi, bangsa Indonesia menyelenggarakan hajatan demokrasi. Sebuah kerja besar yang dimulai
dengan tahapan unjuk, bujuk dan tunjuk.

Sekarang, kerja utama contreng-menyontreng sudah selesai. Kerja berikutnya, hitung-menghitung,
sedang dilakukan dalam kesemerawutan. Beberapa pihak melancarkan protes dan gugat atas sejumlah
kekacauan yang terjadi. Sementara itu, partai-partai besar mulai melakukan kerja memilih teman, guna
menjalin koalisi untuk bersama-sama melakukan tahapan berikutnya: membangun kuasa. Tentu, itu bukan
kerja mudah. Apalagi jika sungguh demi kejayaan bangsa dan negara.

***

Di sekolah binaan kami, Taman Kanak-kanak Batutis Al-Ilmi (sekolah gratis untuk kaum dhuafa di Pekayon
Jaya, Bekasi Selatan) yang menggunakan sistem ajar Sentra (Beyond Centers and Circle Time) – yang
diadopsi dari Sekolah Al-Falah di Cipayung, Jakarta Timur -- ada pelajaran menarik. Dalam Sentra
Persiapan, sebelum kelas dimulai, anak-anak didik dibiasakan untuk mengikuti Prosedur Kerja: 1.
Memilih teman. 2. Memilih pekerjaan. 3. Kerjakan dengan fokus dan tuntas. 4. Melapor. 5. Beres-beres. 6.
Memilih pekerjaan berikutnya.

Para murid yang kurang pangan-sandang-papan itu, ternyata bisa mengikuti seluruh prosedur kerja dengan
baik, tertib, ikhlas. Mereka memahami semua makna dari tahapan-tahapan tersebut, dan kemudian
melaksanakannya sebagai sebuah proses dan disiplin kerja (belajar), tanpa disuruh guru. Maklum, dalam
Sistem Sentra, secara tegas dinyatakan: guru tidak boleh melakukan ”3M” (Menyuruh, Melarang,
Marah/Menghukum). Para guru diwajibkan berbicara dan memberikan motivasi (non-direct teaching)
kepada para murid dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik, benar, dan bermakna. Kurikulum
diajarkan sesuai dengan tahapan perkembangan anak (tidak klasikal dan general, melainkan personal).
Dengan demikian, para murid – satu kelas dibatasi maksimal hanya 12 orang -- bisa belajar dengan
perasaan aman, nyaman dan bahagia.

Melihat apa yang dilakukan oleh para murid TK itu, saya jadi teringat kepada Gus Dur, yang dulu
mengumpamakan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) seperti TK. Jika saja yang dimaksud Gus Dur itu TK seperti
Batutis, tentu persamaan itu merupakan ungkapan pujian. Sayang, pada waktu itu TK Batutis belum ada, dan
Sistem Sentra belum dikenal luas.

*

Kini, para anggota Dewan yang baru terpilih atau terpilih kembali, juga partai-partai yang baru akan
berkoalisi atau koalisi-koalisi baru yang akan dijalin, alangkah indahnya jika semua mau belajar di
”Sentra Persiapan” dan bersama-sama memahami serta memaknai ”Prosedur Kerja”-nya.

Sesudah dari Sentra Persiapan (belajar baca-tulis-hitung), lanjut ke Sentra Imtaq (belajar mengaji dan
memahami makna ayat-ayat Al-Qur’an, sholat dan akhlak mulia). Dari situ, lanjut ke Sentra Balok
(belajar geometri, matematika, konstruksi, akurasi). Lanjut ke Sentra Bahan Alam (sumber daya alam,
kimia, fisika, tata surya, teknologi), lanjut ke Sentra Seni (garis, bentuk, warna, kreatifitas,
imajinasi), lanjut ke Sentra Drama (memainkan peran kecil dan peran besar: memahami fungsi, tugas dan
kewajiban setiap jenis pekerjaan/profesi secara jelas, benar dan mendasar).

*

Jika seluruh bangsa, atau para calon pemimpin kita mengalami pendidikan dasar dengan metode seperti itu,
niscaya – jangankan hanya dalam hal memilih teman untuk kerjasama, lebih dari itu – bangsa kita akan
menjadi bangsa yang berilmu, percaya diri, berakhlak mulia, berjaya, dan bahagia.
Ah, kalau saja bangsa kita tidak salah metode dan salah didik sejak di TK...!

* Penulis adalah pengarang/wartawan/pengelola pendidikan gratis untuk kaum dhuafa, tinggal di Bekasi.

Comments