BUKU DI JAMAN KOLONIAL

Kios 'Balai Poestaka' di Purwokerto | foto: Tropenmuseum
BUKU DAN MISI PENGADABAN BUMIPUTRA 

Pembaharuan dalam kebijakan kolonial di awal abad XX yang dikenal dengan sebutan Politik Etis membuka jalan bagi kaum bumiputra untuk memperoleh pendidikan modern dan meningkatkan kemampuan mereka membaca dan menulis. Pemerintah kolonial Belanda menyadari bahwa memberi pendidikan dapat melahirkan gagasan-gagasan pembebasan yang akan membahayakan kekuasaan mereka. Dalam pandangan penguasa, rakyat pribumi harus dibimbing bangsa Belanda untuk memasuki dunia modern dan diperkenalkan kepada peradaban Barat yang lebih maju agar mencapai persesuaian antara Barat dan Timur. Sejak dini pemerintah menentukan apa yang patut dan tidak patut diketahui rakyat bumiputra antara lain dengan mengendalikan produksi dan distribusi bahan bacaan.

Pendidikan di sekolah memberi ketrampilan dasar bagi kaum pribumi agar tenaga mereka dapat dimanfaatkan untuk menjalankan mesin birokrasi pemerintah kolonial dan perusahaan-perusahaan Eropa. Di luar sekolah, pemerintah melihat ada kebutuhan pendidikan mental-spiritual agar rakyat tidak berpegang pada ajaran-ajaran agama atau adat yang kolot dan takhayul. Munculnya kelompok-kelompok terpelajar pribumi yang mulai menghasilkan terbitan sendiri dengan pandangan politik berbeda juga menjadi ancaman bagi pemerintah. Rakyat harus dicegah dari pengaruh agitasi dan propaganda politik yang disebarkan melalui ‘batjaan liar’. Penyediaan bahan bacaan yang murah, mudah diperoleh, dan bermutu menurut standar Eropa menjadi bagian penting dari rencana pemerintah menjaga perkembangan moral dan kebudayaan kaum pribumi. 

Snouck Hurgronje | foto: KITLV

Untuk merumuskan pengetahuan yang layak disampaikan kepada rakyat penguasa Hindia Belanda mendapat bantuan dari ilmuwan-ilmuwan kolonial yang mendalami beragam agama/kepercayaan, bahasa, seni dan budaya suku-suku bangsa Nusantara. Misalnya, Snouck Hurgronje yang secara khusus mempelajari Islam untuk menaklukkan perlawanan rakyat Aceh dan mencegah ajaran Islam menjadi doktrin politik untuk alat berlawan kaum pribumi. Di bidang bahasa dikenal C. A. van Ophuijzen yang meneliti dan mengembangkan sistem ejaan bahasa Melayu Riau. Hasil penelitian van Ophuijzen kemudian menjadi acuan pemerintah untuk menetapkan bahasa Melayu Riau atau ‘Melayu Tinggi’ sebagai bahasa resmi pengajaran sejak 1901. Bahasa Melayu Pasar yang sudah berkembang melalui penerbitan Tionghoa peranakan dan pribumi dikesampingkan dan disebut ‘Melayu Rendah’.

Ilmuwan-ilmuwan ini pula yang kemudian membakukan apa yang kita anggap sebagai hukum, adat-istiadat, tradisi, sastra, bahkan sejarah.

Komisi Bacaan Rakyat | foto: KITLV

Percetakan Negara di Batavia | foto: KITLV


BALAI POESTAKA: MENATA PIKIRAN DAN SELERA

Pada 14 September 1908 Pemerintah mendirikan Commissie voor de Inlandsche School en Volkslectuur (Komisi Bacaan Rakyat) yang dipimpin G. A. J. Hazeu, seorang doktor dalam bidang bahasa dan sastra Nusantara dari Universitas Leiden dan Penasehat Gubernur Jendral untuk urusan bumiputra. Komisi ini bertugas memilih ‘buku-buku baik yang dapat menjadi bacaan bagi penduduk pribumi’ dan memberi pertimbangan kepada Direktur Pendidikan yang mengurus sekolah-sekolah pribumi. Awalnya tema-tema bacaan yang dipilih komisi ini berkisar pada pelajaran ketrampilan teknik, pertanian, tanaman dan ilmu alam atau yang berkaitan dengan sikap dan perilaku yang baik. 

Komisi ini berkembang pesat terutama di bawah pimpinan D. A. Rinkes. Pada 1917 Rinkes dipercayai untuk menata-ulang komisi ini menjadi sebuah lembaga otonom, Kantoor voor de Volkslectuur, yang secara khusus mengatur pengumpulan naskah, pencetakan, penerbitan dan peredaran buku-buku yang dianggap pemerintah bermutu. Lembaga ini kemudian dikenal sebagai Balai Poestaka (BP). 

D.A. Rinkes bersama perahunya 'Balai Poestaka' | foto ISTIMEWA

Rinkes melihat bahwa BP tidak hanya berperan untuk menyediakan bacaan-bacaan ringan, tetapi juga mendorong minat baca dan membentuk selera rakyat tentang sastra. BP menerjemahkan dan mengadaptasi karya-karya pengarang Eropa yang terkenal, seperti Alexander Dumas, Charles Dickens, dan Mark Twain ke dalam bahasa Melayu, Jawa, Madura dan Sunda. Selain itu BP juga menerbitkan hikayat, cerita rakyat dan kisah perwayangan dari khazanah kesusastraan Jawa, Melayu dan Sunda. Belakangan BP mendorong penulis-penulis pribumi untuk menghasilkan karya-karya mereka sendiri dalam bahasa Melayu Tinggi, seperti Marah Rusli, Sutan Takdir Alisjahbana, dan Armijn Pane.

Suasana di percetakan negara, Batavia | foto: KITLV

Untuk memperlancar peredaran hasil penerbitan BP pemerintah mendirikan perpustakaan, Taman Poestaka, di sekolah-sekolah pribumi dan di tempat-tempat publik. Antara 1918 dan 1926 sekitar 2.500 perpustakaan didirikan di seluruh kawasan Hindia Belanda. BP juga memiliki jalur distribusi tersendiri di toko-toko buku, kantor pos, dan truk yang berfungsi sebagai toko buku keliling untuk mencapai pelosok Jawa.

Hingga masa sebelum perang koleksi BP mencapai 2000 jilid. Diantara koleksi tersebut boleh dikatakan tidak ada yang memuat masalah politik, apalagi kritik terhadap pemerintah kolonial. Perbincangan tentang seksualitas yang terlalu terbuka dan rinci, misalnya dalam novel Mata Gelap karangan Mas Marco Kartodikromo, juga tidak mendapat tempat dalam khazanah kesusastraan BP. Tema yang kerap diangkat dalam roman-roman BP adalah kawin paksa, seperti dalam kisah Azab dan Sengsara karya Merari Siregar dan Sitti Nurbaya karya Marah Rusli.

Dengan dukungan penuh dari pemerintah kolonial BP menjalankan kontrol yang ketat terhadap barang cetakan sejak dari pemilihan dan penyuntingan naskah sampai pada penjualan. Di bidang kesusastraan pengaruh BP masih terasa sampai masa kini. Karya-karya sastra hasil penulis Tionghoa, Eropa peranakan, maupun pribumi yang sudah beredar jauh sebelum BP berdiri tersingkir dari sejarah kesusastraan Indonesia modern.

'BATJAAN LIAR' DARI KAUM PERGERAKAN

Tahun 1920-1926 adalah masa menjamurnya bacaan liar sekaligus terbukanya ruang yang demokratis bagi arena pergerakan. Bacaan liar adalah bagian yang tak terpisahkan dari “mesin pergerakan” yaitu untuk mengikat dan menggerakkan kaum kromo – kaum buruh dan kaum tani yang tak bertanah. Bacaan merupakan penyampai pesan dari organisasi atau aktivis pergerakan kepada rakyat. Melalui bacaan liar rakyat mengenal kata-kata baru yang berkaitan dengan gerak perlawanan terhadap kekuasaan kolonial, seperti kapitalisme, sosialisme, internasionalisme, beweging (pergerakan), staking (pemogokan), dan vergadering (rapat umum). 

Bacaan liar melukiskan situasi pergerakan, eksploitasi kolonial, mendorong pembacanya untuk berpartisipasi dan bergerak bersama kaum pergerakan untuk menentang kediktatoran kolonial, memantulkan harapan masa depan tanah airnya, mengandung penglihatan baru atas dunia dan penolakan terhadap gagasan lama. Bacaan menjadi instrumen politik kesadaran kolektif masyarakat kolonial.

Produksi bacaan berupa surat kabar, novel, buku, syair hingga teks lagu, antara lain misalnya karya Semaoen (Hikajat Kadiroen), Mas Marco Kartodikromo (Student Hidjo, 1918; Sair Rempah-rempah, 1918; Matahariah, 1919;), Tan Malaka (Parlemen atau Soviet, 1921); dan esai-esai yang mengritisi kekuasaan kolonial dan modal di Hindia Belanda.

Latar beberapa bacaan itu mengenai beberapa kota di Hindia Belanda seperti Semarang, Surabaya, Batavia yang menjadi pusat kekuasaan, perdagangan dan industri. Kaum pergerakan juga menyerap gagasan dari luar dan menuangkannya dalam bacaan. Arena pergerakan sebagai bagian tak terpisahkan dari bacaan liar. 

Penerjemahan dan penyaduran karya-karya revolusioner yang diproduksi percetakan milik Tionghoa peranakan – muncul sejak pertengahan abad ke-19 – sangat mendorong perkembangan bacaan liar. Kaum Tionghoa peranakan juga memberikan dana kepada kaum pergerakan melalui pemasangan iklan. Masyarakat Arab juga mempunyai percetakan yang bernama NV Setia Oesaha, pimpinan Hasan Ali Soerati, yang menerbitkan surat kabar Central Sarekat Islam, Oetoesan Hindia.

TAN MALAKA | foto: ISTIMEWA

Kaum bumiputera baru mempunyai penerbitan sendiri pada 1906-1912 dengan munculnya NV Javasche Boekhandel en Drukkerrij en Handel in Schrijfbehoeften “Medan Priaji” pimpinan R.M. Tirto Adhi Soerjo. Tirto menjadi pelopor pergerakan nasional yang memelopori bacaan fiksi dan nonfiksi untuk mendidik bumiputera. Selain itu ada percetakan Insulinde yang disokong oleh H.M. Misbach dan menerbitkan Mata Gelap (Mas Marco, 3 jilid, 1914), percetakan VSTP(Serikat Buruh Kereta Api dan Tram) yang menerbitkan koran Si Tetap.

Dalam rangka pendidikan politik rakyat, pada 1924 di Batavia, PKI mendirikan Kommissi Batjaan Hoofdbestuur PKI. Komisi ini menerbitkan “literatuur socialisme” – kaum pergerakan memahaminya sebagai bacaan untuk menentang dan penyebarluasan bacaan dari kaum modal, juga untuk melawan dominasi bacaan yang diproduksi Balai Poestaka. Komisi secara terbuka menentang produksi bacaan Balai Poestaka yang disebut sebagai geest kapitalisme (kapitalisme jiwa). 

Pemerintah kolonial tidak pernah mengeluarkan undang-undang khusus untuk melarang peredaran bacaan liar, tapi mereka berusaha menghambat kelanjutannya dengan menguasai percetakan, penerbitan dan peredaran bahan bacaan melalui Balai Poestaka. Pemerintah melakukan pelarangan ketika terjadi aksi perlawanan yang dimotori atau didukung organisasi-organisasi pergerakan. Misalnya, ketika pada tahun 1920 terjadi pemogokan buruh percetakan van Dorp – yang disusul dengan buruh-buruh percetakan sejumlah surat kabar, yang didukung Sarekat Islam Semarang – pemerintah menyita buku-buku karangan Mas Marco dan menutup toko-toko buku milik organisasi ini. 

Pemerintah juga memenjarakan pengarang-pengarang yang dianggap menyebarkan kebencian terhadap penguasa, seperti yang terjadi pada R.M. Soeardi Soerjaningrat, Douwes Dekker dan dr. Tjipto Mangoenkoesoemo dalam kasus penerbitan pamflet “Seandainya Saya Seorang Belanda”, yang ditulis Soeardi dalam rangka menyambut perayaan pembebasan Belanda dari kekuasaan Perancis. Pemenjaraan juga dialami Darsono, Mas Marco dan Semaoen.

Runtuhnya bacaan liar erat dengan perkembangan politik nasional, khususnya pemberontakan nasional 1926/1927. Pemberangusan organisasi radikal diiringi pula dengan pemberangusan produksi bacaan liar sejak pemberontakan itu. Pemberangusan bacaan liar, pembuangan dan pembuian pengarang liar pasca pemberontakan itu tetap tak mematikan gagasan kaum pergerakan, meskipun dalam bentuk dan isi yang berbeda, antara lain seperti serikat buruh yang tetap aktif dan tumbuhnya gerakan radikal pascapemberontakan.

Meluasnya pendidikan bagi kaum bumiputra menghasilkan
1920 orang melek huruf (3,9%) --> 1930 meningkat menjadi (6,4%)
Persentase orang yang melek huruf di Hindia Belanda (1930)
Manado (21,9%)
Maluku (14,5%)
Sumatra (10,7%) 
Jawa dan Madura (5,5%)















































































































































































































































































Mas Marco Kartodikromo:
Dan semangkin tambah pengatahoean saja, bertambah berani saja bergerak dimedan kemadjoean. Sebab semoea kepandaian itoe hanja saja pandang seperti perkakas jang bisa menjampaikan toedjoean saja goena kebangsaan. Tetapi ada banjak orang jang berkepandaian mendjilat kotorannja orang-orang jang merampok kita. Kasian!!
(“Dorongan oentoek si pendjilat”, Sinar Hindia, 28 Agoestoes 1918)

Mas Marco Kartodikromo dan istri | foto: KITLV

MUSO | foto: ISTIMEWA

Moesso: 
Volksalmanak-volksalmanak dan almanak-almanak tani itoe soedah tentoe memoeat hal-hal wetenschappenlijk (ilmiah), jang kelihatannja tidak bersangkoetan dengan politik. Tetapi orang jang mengerti sedikit tentang politik mengerti djoega, bahwa boekoe-boekoe dan almanak-almanak itoe nomer satoe dibikin tidak memboeat mendidik Rakjat, tetapi boeat menjesatkan pikiran Rakjat. Sistematis, dengan cara jang haloes sekali boeah-boeah pikiran pihak sana dimasoekkan dalam kepala Rakjat. Soedah waktoenja kewadjiban kita melawan pengaroeh Balai Poestaka. Kita haroes menerbitkan boekoe jang perloe, boekoe tjerita sendiri, agar Rakjat tidak lepas dari pergerakan. Rakjat tidak terikoet aroes nasehat-nasehat baik dalam boekoe dari Volkslectuur, karena batjaan terseboet tidak baik bagi rakjat djadjahan. 
(Api, 25 Djoeli 1925)
ą
Alit Ambara,
25 Mar 2010 01.57