pelarangan buku: menutup jendela dunia

foto: Arip (Semurjengkol)



















Pelarangan Buku: Menutup Jendela Dunia
Pameran Pelarangan Buku di Indonesia dari Jaman ke Jaman
14 - 17 Maret 2010
Galeri Cipta III Taman Ismail Marzuki, Jakarta


Keputusan pelarangan beberapa buah buku oleh Kejaksaan pada akhir tahun 2009 telah mengejutkan masyarakat. Tak mengira ditengah alam reformasi dan era globalisasi masih masih tersisa kebijakan dan sikap anti terhadap pengetahuan - sebuah sikap otoriter pra-reformasi. Mengkoreksi negara melalui jalur hukum - sebagaiman yang kini dilakukan oleh penerbit dan penulis, serta jalur-jalur politik lainnya, tidaklah cukup. Negara harus terus dikontrol tiap waktu, oleh tiap warga, di setiap lini dan kegiatan kehidupan agar tak menjadi represif.

Namun budaya mengawasi negara bukan sesuatu yang muncul begitu saja di setiap benak warga - bahkan bila telah tercipta, dapat pula melemah atau dilemahkan. Budaya masyarakat sipil yang sadar akan kuasa warga atas negara perlu dibangun bersama terus-menerus. pameran ini menjadi sebuah upaya untuk meneguhkan kesadaran bersama kita sebagai warga. Yaitu kesadaran akan pentingnya melawan kesewenang-wenangan negara yang memberangus kebebasan berpendapat. Pameran ini mempresentasikan betapa seni rupa, dan juga desain, adalah sebuah ekspresi budaya, selain juga merupakan media edukasi warga.



Media seni rupa dan desain di ruang publik menjadi bagian dan perangkat dari keseluruhan lingkungan budaya yang menyapa, bercengkerama, dan mempengaruhi tiap individu dalam lingkungan itu. Dalam pertarungan dan persaingan informasi dan ideologi yang bertebaran di ruang publik, maka seni rupa dan desain harus merambah tidak saja di ruang pameran, namun hingga ke ruang-ruang publik. Media mural, poster, sticker, bersama lukisan, dan sebagainya, menjadi sarana tepat mengekspresikan diri. Pada akhirnya pameran ini lebih menjadi basis data yang mempresentasikan berbagai kegiatan berkomunikasi melalui media visual di ruang publik yang lebih luas. pameran ini hanyalah awalan, karena berbagai kegiatan berkomunikasi di ruang publik kota yang lebih luas akan terus berlangsung, untuk membangun kesadaran kita semua.

(Kuratorial Pameran)

Display Pameran | foto-foto: Arip (Semurjengkol)