SDN 1 Sukorini
Updated Feb 8, 2012, 5:29 AM
Mari kita tingkatkan mutu pendidikan di Indonesia ini
Use template

Kumpulan Puisi

PUISI ALAM
Bila angin
kehilangan desirnya
daun-daun kering
takkan mau
meluruhkan tubuhnya

Bila langit
kehilangan kebiruannya
burung-burung
takkan mau
mengepakkan sayapnya

Bila sungai
kehilangan kejernihannya
ikan-ikan
takkan mau
mengibaskan ekornya

Bila bulan
kehilangan sinarnya
malam-malam
akan gelap tanpa cahaya

Bila hutan
kehilangan pohon-pohon
hewan-hewan
kehilangan tempat tinggalnya

Bila bukit
kehilangan kehijauannya
sungai-sungai
akan kering selamanya

Bila petani
kehilangan sawah ladangnya
kanak-kanak
akan menitikkan air mata

Bila manusia
kehilang kemanusiaannya
alam semesta
akan tertimpa bencana
dan bertanya angin kering
"Perlukah memanusiakan manusia?".

tembang cinta burung yang luka
Post by sanggabuana on Jul 20, 2005, 11:24am

hendak kemana burung yang luka
istirahatlah dulu saja
dalam sangkar sementara
hingga kering luka yang kau derita

hendak kemana burung yang luka
tinggal disini saja kita bisa bersama
bermain tralala
di luar tak ada lagi yang bisa kau mangsa
sawah telah di tanami gedung-gedung raksasa
hutan rimba sudah langka
di angkasa pun hanya ada mega
dan bianglala
tak usah mengembara
nanti kembali terluka!
pohon dan laut


dipepohonan
burung-burung belajar berbicara
dengan lidah kecilnya,
tapi aku tak mengerti,
dilaut
ikan-ikan belajar terbang
dengan sayap yang keperak-perakan,
tapi aku tak mengerti.
karena aku hanyalah hutan kecil yang
tak tahu kenapa ditanam dialam untuk
dimusnahkan.

Re: puisi alam


Katanya kalian adalah tanganNya untuk kami
Nyatanya kalian hanya panjang tangan
Malang melintang di hutan kami
Menebar benci dan dengki

Katanya ajaran yang di amanatkan kepada kalian adalah cinta kasih
Nyatanya sekedar cinta pada diri yang tak terkendali
Katanya kalian pencinta alam
Nyatanya sekedar suka bercinta dengan alam

Dari kami kalian berasal
Tapi kami asing dengan kalian
Kalian toreh kulit kayu dan batu kami
"hanya tuk sekedar nama-nama kecil

Jinjinglah terompahmu
Injaklah kaki di batu-batu kecil kami yang memberi refleksi
Berwudhu'lah di air kami
Basuh mukamu sepuas syukurmu

Syukur jauh dari sekedar memuji-Nya
Syukur jauh dari sekedar menikmati
Makanlah dengan tangan telanjang di tepi kolam kami
Bersama teratai,capung,burung,katak dan burung-burung kami
Bersatulah dengan kami

Binalah tempat berpijakmu ini
Niscaya akan kami mintakan kepadaNya
Pemilik jagad ini
"tuk meneguhkan kedudukanmu dimuka bumi

Sampai suatu saat,
Kami kehilangan dari pandanganmu
Karena kami hanya segelintir ayat-Nya
Di jagad-Nya yang luas ini
Re: puisi alam
Post by sanggabuana on Jul 23, 2005, 10:19am

aku adalah seekor burung
mungkin engkau talah lama mengenalku
kerna aku sering menggodamu pagi hari
tak peduli apakah engkau sedang bercumbu dengan mimpi

aku adalah seekor burung
mungkin engkau tahu tentang aku
yang tak pernah lelah berceloteh
yang tak pernah bosan berkencan dengan dahan-dahan dan dedaunan

aku adalah seekor burung
dulu,memang aku selalu begitu
terbang mengarak darah dan harapan
kepak sayap sarat angan-angan masa depan
sementara paruhku
tak pernah kubiarkan menyimpan keluh-kesah

tapi,O siapakah gerangan
yang diam-diam mengubur arti dulu
membungkam mulutku dan menyekat suaraku
hingga aku tak mampi lagi bersenandung
padahal dalam benakku
masih kusimpan rindu melagukan nyanyian

setelah aku kehilangan pepohonan
tempat bercanda bersama teman-teman
haruskah sekarang aku kehilangan kehidupan
ah,laras senjatamu itu
belum jera juga menguliti kebebasanku

entahlah telah berapa banyak
nyawa sesamaku yang terampas
di terjang tangan-tangan gagah
ditelan langkah-langkah pongah

sebenarnya,aku masih ingin akrab dengan matahari
mengadukan segala rupa persoalan
tapi,begitulah akhirnya
hari-hariku di sini kian tak utuh

biarlah,kukabarkan pada dunia
bahwa sekarang di sini
aku adalah seekor burung
yang menanti jatuh
Re: puisi alam


mesranya sapaan angin
menjamah tubuhku yang gersang
terbangkan semua kegersangan

cakrawala tampil cemerlang
berselendang pelangi
bumbui kemegahan alam

gemuruh ombak berkejaran di pantai
perjuangan yang tiada putus
sempat bangkitkan semangatku
nyalakan nyaliku
dari tidur panjangku

hamparan hijau tergelar
berpagar sungai peluntur kelelahan
berdinding gunung perkasa
tegar menyongsong zaman

kulahap kenikmatan yang hadir
dengan segenap inderaku
keindahan alam begitu sempurna
sulit tergambarkan lewat taburan kata
istana raya penuh kedamaian
kandung selaksa kasiat
ubat penolak duka
pendobrak kepengapan

gema alunan burung bervokal
serukan tembang kedamaian
keantero jagat gemerlapan
peredam gejolak emosi
peluruh keangkuhan

sekeluarga kelinci berpesta
diatas permadani hijau
berselimut kebahgiaan

panoramanya alam kian gemilang
matapun enggan berlalu
serasa berenang di telaga kedamaian




POHON HIJAU, BATANG, RANTING, DAN DAUN MAHKOTANYA

Pohon hijau
Batang, Ranting, dan Daun Mahkotanya


OLEH :: febriansyah iskandar

Ia masih seperti yang dulu
Terlihat kemarin pagi
Ia masih seperti yang dulu
Kulihat kemarin siang
Masih…….. Ia tetap seperti yang dulu
Terlihat lagi sore kemarin

Hujan terlalu lama untuk diturunkan
Matahari terlalu gahar untuk dimandikan
Alam melanglang, embun berganti deburan topan
Debu menggelora
Panas menyengat datang

Aahh….Ia masih seperti yang dulu
Terlihat pagi ini, mentari mercusuar dunia
Oh Tuhan….Ia masih seperti yang dulu
Kulihat lagi sore ini, menggalang sunyi menatap prahara

Akar, Batang………..
Ia masih seperti yang dulu
Tetap tangguh, menancap kokoh menusuk perut bumi
Batang, ranting………bermahkotakan Daun
Selalu, seperti dulu
Kulitnya coklat, merona menyerap mentari
Daunnya segar menghijaukan
Seperti yag aku lihat dulu, diperjalanan hidupku

Oh…Tuhan…..
Ia berbeda hari ini, meranggas, tanpa mahkota

Batang, Ranting…..
Tetap seperti yang dulu
Tapi tak coklat seperti pertama dulu
Legam, pekat….
Ia terbakar, ia telah mati, ia tercabik mahkotanyapun hilang
Tanpa daun

Tepat hari ini
Gelora mentari congkak telah membakarnya
Diatas kepala tersenyum
Mentari tersenyum gahar

Pohon itu…..
Batang itu…..
Ranting itu……
Mahkotanya……..hilang
Hutanku tak seperti yang dulu
Hari ini kulihat siang tadi
Diperjalanan hidupku




pohon dan laut (2)


di pepohonan aku tahu,
burung-burung mencuba berbicara
dengan lidah kecilnya,
yang menyimpan beribu rahsia.
tapi akankah aku mengerti
apa yang d**eluhkannya?
di laut aku tahu
ikan-ikan terbang
dengan sayap yang keperak-perakan,
kian kemari tak tentu arah.
tapi akankah aku mengerti
apa yang di resahkannya?
kerana aku sendiri hanyalah
seekor katak kecil
yang tak lagi bisa berlindung
diantara akar-akar yang dulu perkasa
sekarang hilang tak berbekas.




ilusi dalam mimpi


bilamana aku dapat bermimpi berjumpa dengan ibu
akan kubawakan sebidang tanah penuh bunga
kuajak ia berjalan dalam hamparan flamboyan
lalu dari atas dahan kuperintahkan seribu burung
beryanyi tentang embun dan sinar mentari

bilamana ibu bersedih,akan kuhibur ia sambil
melihat lucunya kumbang cumbui kembang ditaman
lalu kubiarkan seribu kupu-kupu berterbangan
diatas rambutnya yang bermahkota pelangi

bilamana ibu letih,kan kukumpulkan butiran embun
dari pucuk-pucuk daun.dan kutaburkan pada tiap langkahnya
agar ibu merasa sejuk.lalu kubawa ibu menanam
masa depanku dalam warna bunga
agar ibu bangga anaknya lahir dinegeri daun
yang hijau penuh kicau

bilamana nanti ibu tertidur
kan kupagari ia dengan kemilau doa
dan kuajak burung-burung menjaganya
dari gemuruh dunia luar

bilamana ibu bertanya mengapa aku mengirim keindahan
hanya dalam mimpi,akan kukatakan pada ibu
bahwa hanya lewat mimpi anaknya bisa memberikan
kebahagiaan.kerna dinegeri yang kini hilang wangi,
telah tumbuh pohon-pohon berakar besi,kembang plastik,binatang yang di mumikanserta gemuruh pabrik yang
memproduksi polusi.biar ibu tahu
negeri yang subur telah hilang dalam peta.



Sebuah Lukisan hati

Dibawah rindang pepohonan
Dalam keindahannya ku dengar
Suara mu ku dengar memekik
Memanggil aku dengan kata merindu
Indahnya cinta bukan karena racun
Indahnaya cinta bukan karena bibir
Indahnya cinta bukan karena cerita

Sesuatu yang terindah…
Sebuah falsafah
Seperti nyanyian cinta
Menorah sebuah cerita dan catatan
Bersama dahan-dahan nan indah ku isyaratkan dawai asah
Dan kisah yang terindah hanya untuk sebuah penantian
Yang panjang di alam sepi tanpa siapapun
Ini adalah cinta yang terus ku nikmati
Bahasa cinta untuk seluruh makhluk.

BINTANG KECIL


Berkilau penuh warna-warni
Berkilau penuh cahaya yang mewangi
Kejora begitu disebutnya
Penuh kata-kata dan pintar berucap
Suasana ramai penuh ucapan
Sebagian sisi begitu jauhnya…
Dan damailah sepanjang malam – malam itu
Segalanya begitu dalam hingga aku tercebur
Karena cintamu…., aku berharap banyak
Namun entah hatimu untuk siapa…?
Kilau mu membuat aku terpesona
Kejora mu membuat aku tak tenang
Berharap aku miliki….
Berharap hanya aku yang nikmati
Dimana cinta ini hanya untuk mu
Dimana hati ini selalu untuk mu
Dialam penuh warna dan ceria
Engkau bungaku ….
Bunga mimpi yang selalu aku impikan
Dimana cinta ku hanya kamu
Cinta yang terindah dan terbaik
Cerita cinta ……
Cerita kau dan aku
Bintang kecil ku.




SORE INI

)

Bergelimang permata jingga di balik awan
sejuta keinginan dari balik banyak pikiran
bertahtakan alam dan bercahaya tak menentu
disisi waktu hati terus berkata tentag cerita
jalan ini, kisah ini dan harapan ini
tataplah dengan senyum di saat cahaya redup itu,
bermunajat kala tengelamnya mentari di ufuk barat
kan kau temui arti tentang cerita ini
ketika hari esok tiba…!
tersadarlah dalam lautan sendu tentang jingga nya langit
akan nampak awan-awan putih membekas dibenak ini!

TELAGA

)

Dipucuk indahnya alam yang mewarnai
Di sebuah halaman dekat pelataran yang terus aku sanjungi
Disisi malam berdahan dalam sebuah cerita
Sisi waktu semakin membuat aku terus tenggelam
Dalam madu yang terus aku semaikan
Disebuah harapan terpancar sejuta kenangan
Telaga biru!

Terpukau dalam asah aku terlarut dalam hembusan alam
Terpuja sejuta kenangan yang terus aku lalui
Berlebih kebahagiaan itu
Disana ada sebuah arti yang terdalam
Disana ada sejuta harapan yang aku jadikan sebuah curahan
Diam lah asah itu
Disana ditelaga biru
Danau yang terindah untuk terus aku pandangi

Terinspirasi dari sebuah kenangan
Terinspirasi dari sebuah karya
Tergali asah dan terus aku ingat
Terbayang bersama syahdunya alam berpanorama
Disana lah telaga itu
Penuh keindahan dalam heningnya alam bertahtakan surga.

BUNGA LAVENDER

Posted Agustus 7, 2010 * Comments(1)

Ungu, penuh pesona

Indah penuh kharisma

Gemulai penuh nuansa

Temani aku bercerita

Syahdu hari-hari dengan ceria

Tebarkan wangi didalam cinta

Membuka mata hati yang kecewa

Kau tenangkan dengan keelokan

Ditaman itu dirimu begitu cantik

Banyak kumbang mendekati dirimu

Hanya sekedar mengambil madu dan berlalu

Karena kau bunga nan cantik!

Ungu menarik dan wangi

Menatap mu takkan jemu

Mencium wangi mu takkan ragu

Karena kau bunga terindah

Mentari pagi sinari tubuhmu

Hadirkan kehangatan dirimu

Menawan jiwa saat menatapmu

Ku petik dirimu hanya untuk ku

Taman yang terindah dihatiku

Bila dapat memandang dirimu

Kau bunga yang ku sayangi

Kau bunga yang ku cintai

Lemah gemulai tubuhmu

Hadirkan kelembutan mu

Wangi mu membawa ceria

Indahmu membuat ku suka

Takkan indah hari-hariku

Bila belum mencium mu

Takkan bahagia hati ini

Jika belum menatap mu

Kau cantik bak secantik wajah bidadari

Kau anggun bagai seanggun putri

Kau lucu membuat aku rindu

Kau lugu membuat aku mencintaimu

Dan saat kau ada temani hari-hariku

Kau hadirkan cinta dan keindahan

Karena kau bunga lavender !

CERITA ALAM


Sepanjang jalan berliku diatas alam terindah

disana rerumputan hijau menyenangkan hati ini

diatas tanah yang lembab mengatakan aku sebatas cinta

malam dingin tak berarti untuk ku

siang nan hangat hanya sebuah mentari yang bersinar

kini aku bersama padatnya polusi

kini aku tak lagi mau bicara tentang kepastian

kini yang ada hanya sebatas luapan yang senantiasa terjadi


Re: puisi alam


Rinduku terpahat dalam batu
suaraku mengalir bersama air
bertebaran menjadi bunga-bunga keabadian.

Aku patrikan diriku pada alam
cinta,tembang,lara,berlagu di pucuk cemara
angin semilir padamkan gelora.

Aku tak,kaupun tak,kita tak paham
bagaimana laut dengan cintanya
mematrikan diri pada tebing terjal.

Aku ingin belah sepi
tatkala bulan bersemi
tapi kemana kan kupautkan rindu
ketika air tak lagi bergemericik jernih.

Kepada alam jiwaku bermalam





Re: puisi alam


Katanya kalian adalah tanganNya untuk kami
Nyatanya kalian hanya panjang tangan
Malang melintang di hutan kami
Menebar benci dan dengki

Katanya ajaran yang di amanatkan kepada kalian adalah cinta kasih
Nyatanya sekedar cinta pada diri yang tak terkendali
Katanya kalian pencinta alam
Nyatanya sekedar suka bercinta dengan alam

Dari kami kalian berasal
Tapi kami asing dengan kalian
Kalian toreh kulit kayu dan batu kami
"hanya tuk sekedar nama-nama kecil

Jinjinglah terompahmu
Injaklah kaki di batu-batu kecil kami yang memberi refleksi
Berwudhu'lah di air kami
Basuh mukamu sepuas syukurmu

Syukur jauh dari sekedar memuji-Nya
Syukur jauh dari sekedar menikmati
Makanlah dengan tangan telanjang di tepi kolam kami
Bersama teratai,capung,burung,katak dan burung-burung kami
Bersatulah dengan kami

Binalah tempat berpijakmu ini
Niscaya akan kami mintakan kepadaNya
Pemilik jagad ini
"tuk meneguhkan kedudukanmu dimuka bumi

Sampai suatu saat,
Kami kehilangan dari pandanganmu
Karena kami hanya segelintir ayat-Nya
Di jagad-Nya yang luas ini


.

SAAT YANG TERINDAH


Karya : John ucup
Bayangan kini berjalan mengikuti ku
segala cerita kini telah aku nikmati
dalam canda ku senantiasa berdiri
dan aku berharap ini yang terindah

katakan aku ingin bersamanya
didalam dekap indah dan cerita bahagia
didalam kisah yang tak pernah aku sesali lagi
dan segalanya telah ku lumat dalam hal yang terindah

kisah adalah sebuah kenyataan hidup
dan kehidupan adalah sebuah kebenaran nyata
jangan sesali
jangan abaikan
berjalan lurus seperti cahaya yang bersinar
dan terangnya malam
dan begitu indahnya Siang
segalanya hanya milik Tuhan

bermunajatlah…..
dan berdoalah….
sesungguhnya alam dunia ini
bukan milik manusia seutuhnya…!

Sepengal cerita pagi


Harum udara pagi setelah hujan turun dipagi ini
Semua kehidupan mengatakan rasa dingin di hari ini
Sebanyak keinginan mengiba dan mengungkapkan berjuta harapan
Gelandangan mencari keindahan dibawah pepohonan
Dan para koruptor berinteraksi memasang muka semangat, pagi ini
Bercumbu dalam sebuah kehinaan, karena akarnya belum tercabut
Sebuah lembaga yang terus merajai memainkan perannya
Dagelan semakin tak tahu kemana arah dan tujuannya
Mengejar apa yang terjadi ternyata hanya kekosongan
Semakin tak jelas apa yang dijalankan
KMKBDR hanya menjadi topeng Demokrasi untuk berdisko
Dengan banyak tampang rupawan dan menarik
Menutup sebuah kisah menjadi kisah klasik yang selalu terjadi
Mengangalah mulut buaya mengejar betinanya
Meraup jatah gaji yang takkan habis
Mencari kepastian tentang sebuah perbedaan
Tak ada tunggal ika
Yang ada tunggal satu
Tak ada sumpah pemuda
Yang ada sumpah panti jompo
Yang semakin menjadi kutukan untuk bangsa ini..!
Anak negeri tak terawat yang akhirnya ayam luar negeri dirawat
Makan diemperan tempat sampah
Sama dengan mereka yang makan diatas kursi emas
Elit dan eropanisme yang membuat kita semakin terinjak.

SAAT PAGI KU JELANG


Saat pagi tertuang di balik ufuk barat
temaram dibuai malam….
hidup layak dibatas karang
susunan tembikar itu adalah aku

terbuai asah senyum sejenak
ku kumpulkan pecahan ku
ku tuai rintang menghadang
merangkai cahaya tak ada
diufuk barat ku berada
tiada ku nanti
tiada ku kejar
diam ku bukan menyerah
diam ku hanya dalam ikhlas

tiada aku menyerah
tiada aku merasa lelah
seperti hidup
selalu bernafas
dan aku selalu ada disini
bersama tembikar hati ku
di ufuk barat



Setelah Musim Pergi“

Angin..
Musim telah beranjak
Tergesa mengemasi pecahan hujan
Yang kepingannya jatuh berserak

Dengan langkah-langkah panjang
Beranjak menyisakan jarak
Masihkah terukur?

Tak lagi teduh di rerintiknya
Bulir embun ikut tak bersisa
Yah, musim telah berlalu..

Musim..
Setelah aku pergi…
Lambaian nya terasa dingin
Bersama pagi dan pada siang mengiring

Daun-daun pun gugur kaku
Parasnya pucat pasi tanpa bunga
Berderai tanpa lambaian

Menyebrangi kemarau kering
Melintasi dermaga sepi
Kemana kan ku cari?



LAUT YANG RAMAI

Laut mendadak ramai
deburan ombak terseret angin
ke tengah samudera itu
sedang di bibir pantai
orang saja menari-nari

Laut mengundang sehamparan gunung samudera
datanglah dari penjuru segala
melihat kami menari
menjelang akhir sodorkan air
ketika tubuh bermandi peluh
tapi jangan suguhkan seudati*)
sebab ia sudah mati

Datang,
datanglah dari penjuru segala
ramaikan laut kami yang sepi
dengan lagumu yang sarat cinta

Puisi tentang alam ke Dua

LAUT

Siapa menghuni pulau ini kalau bukan pemberani?
Rimba menyembunyikan harimau dan ular berbisa.
Malam membunuhmu bila sekejap kau pejam mata.
Tidak. Di pagi hari kautemukan bahwa engkau
di sini. Segar bugar. Kita punya tangan
dari batu sungai. Karang laut menyulapmu jadi
pemenang. Dan engkau berjalan ke sana.
Menerjang ombak yang memukul dadamu.
Engkau bunuh naga raksasa. Jangan takut.
Sang kerdil yang berdiri di atas buih itu
adalah Dewa Ruci. Engkau menatapnya: menatap dirimu.
Matanya adalah matamu. Tubuhnya adalah tubuhmu.
Sukmanya adalah sukmamu. Laut adalah ruh kita
yang baru! Tenggelamkan rahasia ke rahimnya:
Bagai kristal kaca, nyaring bunyinya.
Sebentar kemudian, sebuah debur
gelombang yang jauh menghiburmu.
Saksikanlah.
Tidak ada batasnya bukan?

Puisi tentang alam ke Tiga

PEMANDANGAN DI QUE-LIN

gunung-gunung dan bukit-bukit hitam
tinggi dan tajam
menjulang menusuk-nusuk awan

air sungai Li berkelok-kelok
bermain-main di celah kaki-kakinya

bilakah sebenarnya
dewa-dewa telah turun dari langit
sempat-sempatnya membuat
pahatan alam yang begini cantik!

Puisi tentang alam ke Empat

ANGIN LAUT

Perahu yang membawamu
telah kembali
entah ke mana
angin laut mendorongnya ke ujung dunia
Engkau tidak mengerti juga
Duduklah
Ombak yang selalu
pulang dan pergi.
Seperti engkau
mereka berdiri di pantai
menantikan
barangkali
seseorang akan datang dan menebak teka-teki itu.

KEINDAHAN ALAM

Batapa indahnya alam in
Laut berombak-ombak
Awan berarak-arak
Udara segar bertiup-tiup

Aku berdiri di atas guning,
Berdiri di bawah langit
Untuk melihat keindahan alam,
Keindahan dunia

Aku mempertaruhkan nyawa,
bertahan diri di atas guning
Demi melihat keindahan alam
keindahan ciptaan Tuhan

Comments