Apresiasi Sastra I

BAB I
PENDAHULUAN

Tak dapat dipungkiri bahwa mata kuliah kesusastraan merupakan mata kuliah yang cukup rumit bagi mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang merupakan calon Guru Bahasa dan Sastra Indonesia. Rumitnya studi terhadap sastra disebabkan oleh sifat karya sastra yang dinamis, tidak pasti dan cenderung bebas sehingga tidak ada teori pasti yang mampu menyingkapnya.
Namun di balik kerumitannya, sastra adalah hal yang menarik untuk dikaji sebab sastra mampu membawa manusia menemukan nilai hakiki atau kebenaran. Sastra mampu menuntun hidup manusia dan menjadikan manusia peka serta dapat menjadi wahana sosialisasi hidup manusia.
Sering dikatakan, sastra adalah cermin masyarakat. Sehubungan dengan itu, Pamusuk Eneste, editor buku Proses Kreatif Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang, mengatakan bahwa sebuah karya sastra sudah barang tentu tidak mungkin lepas dari pengarangnya. “Sebelum karya itu sampai kepada pembaca, sudah pasti ia melewati suatu proses yang panjang (proses yang sering kali tidak diketahui pembaca awam dan sering pula disepelekan para penelaah sastra). Mulai dari dorongan untuk menulis, pengendapan ide (ilham), penggarapannya, sampai akhirnya tercipta sebuah karya sastra yang utuh dan siap untuk dilemparkan kepada publik.” ungkapnya dalam kata pengantar buku jilid kedua yang diterbitkan KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) Juli 2009 itu.
Diktat Apresiasi Puisi ini diharapkan sebagai pegangan mahasiswa dalam melakukan kajian-kajian kesusastraan sehingga mereka dapat mengapresiasi karya sastra dan mengajarkannya kelak.
Materi pokok dari Apresiasi Sastra yaitu bagaimana mengantar mahasiswa kepada kemampuan membacakan, melakukan, memahami, dan menilai, serta menikmati karya sastra yang termasuk puisi, prosa, dan drama. Aplikasi dari mata kuliah ini diharapkan banyak dilakukan latihan apresiasi pengenalan teori apresiasi.
Sajian ini perlu dipahami dan didalami mahsisiwa agar memiliki keterampilan berpikir, keterampilan sosial, dan vokasional skill. Pembentukan karakter tersebut sangat berpengaruh pada pembelajaran sastra subjek didik. Menurut Suwardi Endaraswara (2005:6) bahwa subjek didik belum diajak mencelupkan ke dalam hubungan sastra secara natural. Subjek didik belum belajar sastra yang bersifat liar dan penuh relavasi kreatif.
Apa yang diungkapkan Suwardi merupakan tantangan bagi guru Bahasa dan Sastra Indonesia, karena itu karakter calon guru Bahasa dan Sastra Indonesia harus dibentuk dengan penguasaan kamampuan mengapreasi sastra. Pembentukan kompetensi tersebut sangat penting terutama penciptaan paradigma baru pembelajaran sastra di sekolah.
Keberadaan diktat ini sedapat mungkin dapat memperkaya nuansa pengetahuan dan pemahaman kita terhadap karya sastra, karena itu dalam diktat ini diuraikan beberapa hal sekaitan dengan apresiasi sastra. Pada setiap bagian uraian tersebut (puisi, prosa, dan drama) ditampilkan masing-masing sebuah contoh pemahaman dan penikmatan karya sastra sebagai bahan diskusi dan pemberian tugas-tugas selanjutnya.






 
BAB II
PENGANTAR APRESIASI SASTRA

A.    Hakikat Apresiasi Sastra
Secara etimologi, Apresiasi berasal dari kata appreciation yang berarti penghargaan, sedang dalam Kamus Bahasa Indonesia kata apresiasi berarti penilaian penghargaan terhadap sesuatu hal atau kesadaran terhadap nilai seni.
Moha Junaedi (1988:1) berpendapat bahwa apresiasi dititikberatkan pada kemampuan membaca, melakukan, memahami, dan menikmati sesuatu karya. Secara harfiah kata apresiasi berarti pengertian, pengetahuan, atau penghargaan terhadap sesuatu misalnya karya seni. Dengan demikian, yang dimaksud apresiasi sastra adalah pengetahuan, pengertian atau penghargaan terhadap karya sastra (Wardani dalam Abd Khalik, 2004:1). Penekanan Wardani tentang apresiasi sastra terletak pada aspek kognitif dan emotifnya.
Selanjutnya Zaidan, dkk (2000:35) mengemukakan bahwa apresiasi sastra sebagai penghargaan atas karya sastra sebagai pengenalan, pemahaman, penafsiran, penghayatan, dan penikmatan yang didukung oleh kepekaan batin terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra itu. Dalam batasan ini, syarat untuk mengapresiasi adalah kepekaan batin terhadap nilai-nilai karya sastra sehingga apresiator mengenal, memahami, menafsirkan, menghayati, dan menikmati karya sastra tersebut.
Sebagai suatu proses, apresiasi melibatkan tiga unsur inti, yakni (1) aspek kognitif, berkaitan dengan keterlibatan intelek pembaca dalam upaya memahami unsur-unsur kesastraan yang bersifat objektif. Unsur instrinsik sastra yang bersifat objetif itu misalnya, tulisan, aspek bahasa, dan struktur wacana. Sedangkan unsur ekstrinsik antara lain berupa bibliografi pengarang, latar proses kreatif, maupun latar sosial budaya yang menunjang kehadiran teks sastra, (2) aspek emotif, berkaitan dengan keterlibatan unsur emosi pembaca dalam upaya menghayati unsur-unsur keindahan dalam teks sastra yang dibaca menjadi makna subjektif, (3) aspek evaluatif, berhubungan dengan kegiatan memberikan penilaian terhadap baik buruk, indah tidak indah, sesuai tidak sesuai, serta sejumlah ragam penilaian yang tidak harus hadir dalam sebuah karya kritik, tetapi secara personal cukup dimiliki oleh pembaca.
Untuk kegiatan apresiasi sastra, usaha membantu seseorang menuju ke tindak apresiasi sastra (menghayati dan menikmati) perlu diawali atau disertai dengan pemahaman lebih dahulu tentang isi atau jalan cerita teks sastra yang sedang dihadapi. Pada kegiatan pemahaman isi ini yang berperanan adalah kemampuan kognitif seseorang, yakni kemampuan menangkap peristiwa, kejadian, cerita, atau apa yang tergambarkan melalui rentetan kata pada teks sastra. Namun, teks sastra tidak sekedar dipahami secara kognitif, sebagaimana pemahaman terhadap teks bukan sastra, melainkan pemahaman dengan apresiasi. Pemahaman dengan apresiasi ialah pemahaman yang melibatkan alat indera, yakni pemahaman dengan menghayati atau menikmati keindahan yang memercik dari teks. Dalam hal ini, percikan makna tidak hanya mengemukakan dari rentetan kata (bentuk) tetapi juga dari jalinan makna yang tersingkap dari teks sastra.
Lebih lanjut S. Efendi (dalam Suroto, 1990:158) mengemukakan bahwa yang dimaksud apresiasi terhadap karya sastra ialah upaya atau proses menikmati, memahami, dan menghargai suatu karya sastra secara kritis, sehingga tumbuh pengertian, penghargaan, dan kepekaan pikiran kritis dan kepekaan pikiran yang baik terhadap sastra. Lebih lanjut S. Efendi menekankan bahwa kegiatan apresiasi sastra merupakan kegiatan menggauli sastra dengan sungguh-sungguh.
Kegiatan menggauli sastra bertumpu pada dua pilar utama, yaitu:
1.    Menggauli sastra dalam konteks memahami, menikmati dan menghargai karya sastra.
2.    Menggauli sastra dengan melibatkan dua pilar tersebut akan mengantarkan pada penguasaan kompetensi reseptif dan kompetensi kreatif.
Sedangkan menurut Moha Junaedi (1988:3) bahwa apresiasi sastra adalah kemapuan membaca, memahami, dan menilai, serta menikmati karya sastra sebagai bentuk manifestasi penghargaan terhadap karya sastra tersebut. Karena itu penekanan apresiasi sastra ini aspek pembacaan karya sastra dalam mengantarkan pemahaman dan penilaian terhadap sastra sehingga melahirkan bentuk penghargaan. Kemampuan membaca merupakan kompetensi utama dalam mengapresiasikan, tentunya kemampuan membaca yang dimaksud adalah kemampuan membaca pemahaman terhadap sastra. Untuk jelasnya perhatikan diagram berikut:













Sementara itu, M. ESuhendar dan Pien Supinah mengatakan bahwa apresiasi sastra mengandung arti memahami, menikmati, menghargai, dan menilai karya sastra. Karya sastra yang bisa diapresiasikan itu bukan karya sastra yang imajinatif saja, karya sastra non imajnatif pun perlu, sebab kedua jenis itu pada dasarnya tetap termasuk karya sastra. Bedanya terletak dalam hal proses. Karya sastra imajinatif yaitu karya sastra yang menekankan ke dalam sifat khayal, sedang karya sastra non imajinatif menekankan ke dalam sifat nyata.
Untuk melibatkan diri pada kegiatan apresiasi ini, apresiator menyediakan waktu untuk menikmati dan merasakan karya sastra tersebut sehingga karya sastra bisa diterima dengan baik. Karya sastra yang diterima berarti karya sastranya bisa membawa kesan. Ada beberapa langkah dalam menentukan kesan terhadap hasil karya sastra, yaitu:
1.    Harus ada keterlibatan jiwa terhadap karya sastra itu
Artinya apresiator sedapat mungkin bisa menyelaraskan antara jiwanya dengan jiwa pencipta sastra dalam karya sastra tersebut.
2.    Harus memiliki rasa kenikmatan seni
Sebuah karya sastra senantiasa mempunyai unsur seni di dalamnya, karena itu apresiator akan merasa nikmat batinnya sehingga merasa dan menganggap dirinya yang menggarap atau menciptakan karya itu.
3.    Harus memiliki penghayatan yang pekat
Artinya apresiator akan merasa puas apabila dalam karya sastra mampu mengungkapkan pelambangan dan pengalaman pencipta karya sastra.
4.    Harus bisa menemukan masalah
Pada kegiatan ini apresiasi ini, apresiator harus dapat menemukan dan menghubungkan kenyataan hidup yang dihadapi dengan masalah yang ada dalam karya sastra.
Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa apresiasi sastra adalah suatu bentuk kegiatan menggauli sastra dengan cara membaca, memahami, menilai, dan menikmati, serta menghargai karya sastra.

B.    Manfaat Apresiasi Sastra
Menurut Moody dan Leslie S. (dalam Abd Khalik Sani, 2004:3) bahwa manfaat apresiasi sastra adalah:
1.    melatih keempat keterampilan berbahasa
2.    menambah pengetahuan tentang pengalaman hidup seperti adat-istiadat, agama, kebudayaan, dsb.
3.    membantu mengembangkan kepribadian
4.    membantu pembentukan watak
5.    memberi kenyamanan
6.    meluaskan dimensi kehidupan dengan pengalaman baru
Sedangkan Ellis I (dalam Abd Khalik Sani, 2004:3) mengemukakan dua manfaat apresiasi sastra, yang mencakup:
1.    Nilai intrinsik : kesenangan, pengembangan pribadi, pemahaman tentang orang lain/dunia luar
2.    Nilai ekstrinsik : peningkatan keterampilan berbahasa atau perluasan pengetahuan
Pendapat Ellis ini lebih menekankan pada nilai intrinsik yang tentunya berkaitan dengan unsur dalam sebuah karya sastra, dan penilaian juga unsur karya yang disebut nilai ekstrinsik berbeda. Huck dalam Abd Khalik tidak mendasari pada unsur karya sastra, tetapi menitikkan pada nilai yang lain, berikut pendapat Huck tentang manfaat apreasiasi sastra:
1.    Nilai Personal: memberi kesenangan, mengembangkan imajinasi, memberi pengalaman yang dapat terhayati, mengembangkan pandangan kearah  persoalan kemanusiaan, menyajikan pengalaman yang bersifat emosional.
2.    Nilai Pendidikan: membantu perkembangan bahasa, meningkatkan kelancaran, kemahiran membaca, meningkatkan keterampilan menulis, mengembankan kepekaan terhadap sastra.
Dari uraian beberapa pendapat, jelas bahwa manfaat apresiasi sastra adalah:
1.    Menambah pengetahuan dan pengalaman tentang makna hidup dan kehidupan
Sebagaimana kita ketahui bahwa sebuah karya sastra mengangkat makna hidup dan kehidupan. Artinya seluruh aktivitas kehidupan akan tergambar pada isi sebuah karya sastra. Karena itu, memahami dan menikmati sebuah karya sastra berarti kita memiliki banyak pengetahuan serta pengalaman tentang persoalan kehidupan.
Misalnya        Sebuah Seorang Kawan
Buah yang hanya Satu
Berduri dan berbisa
Kau dan aku harus memakannya
Pada malam sedih tanpa jendela
Sajak ini melukiskan suatu pengalaman pahit yang pernah dialami oleh penyair pada masa lampau, yaitu ketika penyair menghadapi suatu perjuangan berat, perjuangan yang penuh resiko dan tidak ada alternatif lain yang harus ditempuh kecuali jalan yang ditawarkan kepada temanya.
2.    Mengembangkan Imajinasi
Menikmati karya sastra dibutuhkan kompetensi kreaktivitas tersendiri, di mana kemampuan kreatif  tersebut akan lahir dari daya imajinasi. Karena itu apresiator karya sastra sangat membutuhkan daya imajinasi. Hal ini sejalan dengan pendapat Huch dalam Abd Khalik Sani (2004:4) bahwa mengapresiasikan sastra dapat mengembangkan imajinasi. Imajinasi yang dimaksud adalah daya pikir untuk membayangkan (dalam angan) atau menciptakan sesuatu (gambar, karangan, dan sejenisnya) berdasarkan kenyataan atau pengalaman seseorang.
Mengapa apresiasi sastra terkait dengan pengembangan imajinasi? Untuk menjawab pertanyaan ini mari kita mengkaji serangkaian penekanan pada apresiasi sastra sebagaimana kita pahami bahwa apresiasi sastra merupakan serangkaian kegiatan dalam memahami, menikmati, menilai, dan menghargai sebuah karya sastra. Dalam melakukan serangkaian kegiatan tersebut, dibutuhkan suatu bentuk kreativitas, di mana bentuk kreativitas itu ada jika kita memiliki daya imajinasi bentuk satu bait puisi:
Kawanku hanya rangka saja
Karena dera mengelucak tenaga
Dia bertanya jam berapa!
Satu bait puisi di atas dapat mengembangkan imajinasi bagi kita, jika apresiasi lewat daya imajinasi itu akan melahirkan interprestasi. Misalnya baris terakhir dengan tanda seru, harus dipahami sebagai reaksi si aku lirik yang heran sekali bahwa orang yang sudah begitu kehabisan tenaga, sehingga sudah larut sekali, masih ingin tahu jam berapa -- seakan-akan waktu masih penting pada tingkat kelarutan ini. Tetapi penikmat sastra lain tentu daya imajinasinya juga berbeda. Dia bertanya jam berapa! Harus kita pahami dengan latar belakang yang lekas indikasi; menurut keyakinan atau pengalaman kita bahwa kalau orang sakit parah mulai bertanya jam berapa, hal itu merupakan indikasi bahwa dia akan meninggal.
Jadi lirik itu tidak mengungkapkan keheranan si aku, melainkan menetapkan dugaanya bahwa akhir hidup kawanku telah tiba, kalau kawanku sudah bertanya ”jam berapa”, jelaslah detik terakhirnya sudah dekat.
3.    Memberi Kesenangan
Kegiatan apresiasi sastra dapat memberikan kesenangan, baik apresiasi secara lisan maupun apresiasi sastra secara tertulis. Misalnya apresiasi sastra secara lisan melalui pentas drama atau deklamasi puisi, tentunya sebagai penikmat sastra akan merasakan sesuatu nilai keindahan atau kesenangan tersendiri. Kesenangan itu bisa melalui aluanan inturuasi, perubahan mimik, dan gerak yang ditampilkan.
Sedangkan apresiasi secara tertulis bisa dilakukan dengan menikmati teks karya sastra. Melalui penikmatan teks tersebut, akan memberikan kesenangan.
4.    Meningkatkan Keterampilan Berbahasa
Berdasarkan berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa apresiasi karya sastra dalam pembelajaran dapat meningkatkan keterampilan berbahasa Misalnya dalam apresiasi dibutuhkan keterampilan membaca karena apresiator sebelum melakukan kegiatan tersebut teks karya sastra perlu dibaca dengan tehnik penekanan
Selanjutnya keterampilan berbahasa yang terkait kegiatan apresiasi adalah keterampilan berbicara dan keterampilan menulis karena apresiator selesai memahami menilai, dan lewat penilaian itu bisa secara lisan dan bisa secara tertulis.


C.    Tahapan Kemampuan Apresiasi Sastra
Dalam memiliki kompetensi apresiasi sastra perlu diperhatikan beberapa aspek yaitu aspek pengetahuan, penikmat, dan penilaian. Hal ini sejalan dengan pendapat Squire dan Taba (dalam Abd Khalid, 2004:7) bahwa sebagai satu proses apresiasi sastra melibatkan tiga unsur inti yaitu:
1.    aspek kognitif
2.    aspek emotif
3.    aspek evakuatif
Apabila ketiga aspek tersebut didalami, maka apresiator dengan mudah melakukan apresiasi berdasarkan tahapan apresiasi sastra. Menurut Maidar G Arsyad Idah Suroto (1990:157) bahwa tahapan kemampuan apresiasi sastra adalah
1.    Tahap Penikmatan
Pada tahap ini penikmat melakukan tindakan membaca, melihat, menonton, atau mendengarkan suatu karya sastra
2.    Tahap Penghargaan
Disini penikmat melakukan tindakan melihat kebaikan, manfaat atau nilai karya sastra. Mungkin sekali setelah mendengar atau membaca karya sastra lalu penikmat merasakan adanya manfaat.
3.    Tahap Pemahaman
Pada tahap ini penikmat/pembaca akan menganalisis lebih lanjut karya sastra tersebut, mencari hakikat atau makna suatu karya sastra beserta argumentasinya.
4.    Tahap Implikasi
Setelah membaca atau menikmati suatu karya sastra, sangat mungkin timbul ide baru pada pembaca.

D.    Bekal Awal Apresiasi Sastra
Membaca dan memahami, menikmati, menilai sebuah karya sastra bukanlah sesuatu yang mudah. Setiap pembaca karya sastra baik modern ataupun klasik, pasti pernah mengalami kesulitan, merasa seakan-akan tidak memahami apa yang dikatakan ataupun dimaksudkan oleh pengarang.
Proses membaca yaitu memberi makna pada sebuah teks sastra yang kita pilih adalah proses yang memerlukan pengetahuan dan pemahaman tentang unsur karya sastra. Penumbuhan sikap serius dalam membaca cipta sastra itu terjadi karena sastra bagaimanapun lahir dari daya kontemplasi batin pengarang sehingga untuk memahaminya juga membutuhkan pemikiran daya kontemplatif pembacanya.
Dengan demikian sastra sebagai bagian dari karya seni jika dibaca tidak cukup dipahami lewat analisis kebahasannya tetapi semua yang terkait dengan teks sastra. Adapun ciri khusus teks sastra ditandai oleh adanya unsur-unsur yang membangun karya sastra yang berbeda dengan teks yang lain.
Dari keseluruhan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa cipta sastra sebenarnya mengandung berbagai macam unsur yang sangat kompleks, antara lain:
1.    unsur keindahan
2.    unsur konteplatif yang terkait dengan nilai karya sastra
3.    media pengungkapanya bisa berupa bahasa dan mantera
4.    unsur yang membangunnya (unsur intrinal dan unsur ekstrinal) terkait dengan cipta sastra itu sendiri
Aplikasi pemahaman dengan pengetahuan tersebut, merupakan syarat yang dimiliki apresiator sebagai bekal awal mengapresiasi karya sastra. Di samping itu, bekal awal yang lain dalam mengapresiasi karya sastra adalah:
1.    Kepekaan emosi/perasaan sehingga penikmat sastra bisa memahami dan menikmati estetika pada cipta sastra;
2.    Pengetahuan dan pengalaman yang terkait dengan makna hidup dan kehidupan;
3.    Pengetahuan dan pemahaman terhadap aspek diksi mantera dan kebahasaan pada karya sastra;
4.    Pengetahuan dan pemahaman terhadap unsur karya sastra;
5.    Pengetahuan dan pemahaman pada pendekatan apresiasi sastra; dan
6.    Kemampuan awal dalam menganalisis karya sastra.

 
TUGAS 1
1.    Jelaskan pengertian dan manfaat apresiasi sastra!
2.    Jelaskan bagan apresiasi sastra menurut Moha Junaedi!
3.    Jelaskan pendapat Anda tentang bekal awal yang harus dimiliki oleh seorang apresiator!

JAWABAN:



 
BAB III
TEORI DAN APRESIASI SASTRA

A.    Hakikat Teori Sastra
Pada pemahaman ini, akan dibahas tentang teori sastra yang sangat terkait dengan apresiasi sastra. Namun, sebelum kita bahas teori sastra, kita akan bahas hakikat sastra yang sebenarnya. Menurut etimologinya, sastra berarti tulisan atau karangan yang indah atau karangan yang baik.
Sastra harus dapat menyiratkan hal-hal yang baik dan indah. Aspek keindahan dan kebaikan dalam sastra belum lengkap kalau tidak dikaitkan dengan kebenaran. Kebenaran dan keindahan dalam sastra hendaknya dikaitkan dengan nilai-nilai yang benar dan yang indah. Sebuah karya sastra harus bisa menyajikan kepada pencinta sastra kepekaan terhadap nilai-nilai hidup sastra.
Sastra adalah seni bahasa. Sastra adalah ungkapan spontan dari perasaan yang mendalam. Sastra adalah ekspresi pikiran dalam bahasa. Yang dimaksud dengan pikiran di sini adalah pandangan, ide-ide, perasaan, pemikiran, dan semua kegiatan mental manusia. Sastra adalah inspirasi yang diekpresikan dalam sebuah bentuk keindahan. Sastra juga adalah semua buku yang memuat perasaan manusia yang mendalam dan kebenaran moral dengan sentukan kesucian, keleluasaan, pandangan, dan membentuk yang mempesona.
Berdasarkan batasan-batasan di atas dapat disimpulkan bahwa sastra mencakup:
a.  isi sastra
b.    ekspresi/ungkapan
c.    bentuk
d.    bahasa
Selanjutnya bagaimana hakikat dari teori sastra, teori sastra merupakan penyelidikan yang menghasilkan pengertian-pengertian sastra. Karena itu, teori sastra dapat memberikan bantuan pada cabang ilmu sastra lain. Sejarah sastra misalnya, hanya bisa menjalankan tugasnya dengan baik apabila memperoleh bantuan teori sastra, begitu pula kritik dan apresiasi sastra.

B.    Ruang Lingkup Teori Sastra
Sebelum dibahas ruang lingkup teori sastra, maka perlu dikaji terlebih dahulu ruang lingkup sastra. Teks sastra dapat dibedakan menurut fungsi dan susunan intern suatu teks sastra. Sastra memenuhi fungsi keindahan dan pengantar pengungkapan sarana kebudayaan dalam konteks kehidupan.
Hubungan lain antara sastra dan kehidupan ialah di mana sastra, juga melalui stilasi dan atau distursi, menyajikan citra terbalik dari kehidupan. Dalam peristiwa seperti ini, sastra merupakan citra dari segi-segi atau sejumlah segi kehidupan yang bertentangan dengan sifatnya dari segi-segi yang digambarkan dalam bentuk ekspresi. Yang dimaksud dengan ekspresi adalah berupa upaya mengeluarkan sesuatu dari dalam diri manusia.
Misalnya setiap manusia pasti mempunyai pengalaman hebat, pikiran yang baik, perasaan yang mendalam, keyakinan yang kuat, kalau hal-hal tersebut tidak diekspresikan oleh orang tersebut, tentu orang lain tak akan mengetahuinya. Dalam hal ini ekspresi sangat penting dikeluarkan oleh orang yang bersangkutan, agar orang lain mengetahuinya.
Unsur berikutnya adalah bentuk dan bahasa. Untuk mengekspresikan sesuatu oleh seseorang, tentu akan menggunakan beragam bentuk dan alat yang dipakai manusia untuk mengungkapkan dengan indah adalah bahasa. Bentuk berperan dalam mengatur isi dan bahasa merupakan media yang digunakan.
Berdasarkan uraian di atas, terasa bahwa batasan tentang sastra sangat sulit. Alasan mengapa sastra sulit diungkapkan M.E. Suhendar dan Pien Supinah (1990:4), bahwa penyebab batasan sastra sulit dibuat adalah:
1.    Sastra bukan ilmu, sastra adalah seni. Dalam seni, banyak unsur kemanusiaan yang masuk ke dalamnya, khususnya perasaan. Perasaan, semangat, kepercayaan, keyakinan, sebagai unsur sastra.
2.    Sebuah batasan sastra sulit menjangkau hakikat dari semua jenis sastra mungkin batasan ini cocok untuk puisi, belum tentu cocok untuk novel, atau sebaliknya. Sastra bisa terdiri dari berbagai bentuk ungkapan yang berbeda wataknya satu sama lain. Misalnya bentuk puisi, novel, cerpen, dan drama.
3.    Sebuah batasan selalu berusaha mengungkapkan hakikat sebuah sasaran. Hakikat itu sifatnya universal dan abadi. Bisa dikatakan, sastra tergantung pada tempat dan waktu.
Misalnya, seseorang karya sastra itu mungkin diterima di tempat itu sesuai sastra, tetapi di tempat lain belum tentu disebut sastra.
4.    Batasan tentang sastra biasanya tidak hanya berhenti pada pembuat pemberian saja, tetapi juga suatu usaha penilaian. Di sinilah letaknya batasan sastra yang selalu mengacu kepada apa yang disebut karya sastra yang baik, untuk suatu zaman dari tempat.
Meskipun batasan sastra terasa sulit didefinisikan dengan beberapan alasan tertentu, namun untuk mengetahui bahwa itu sastra atau bukan sastra, kembali Suhendar dan Supinah memberikan beberapa ciri bahwa hal itu sebuah sastra, yaitu:
1.    Sastra merupakan sebuah ciptaan, sebuah kreasi, bukan sebuah imitasi, sastra merupakan suatu luapan yang spontan. Misalnya dalam sebuah puisi di sini akan terungkap kodrat dan makna hidup serta kehidupan.
Dalam penciptaan karya sastra sebagai bagaian dari karya seni tidak semua orang mampu menciptakannya, karya orang-orang yang memiliki bakat dan daya imajinasi yang tinggi, aplikasi dari daya imajinasi yang dimiliki manusia
2.    Sastra bersifat otonom yang artinya tidak mengacu kepada sesuatu yang lain, otonomi sastra berbeda dengan otonomi karya yang lain, karena itu karya sastra mengacu kepada kemampuan daya imajinasi, baik dalam penciptaan karya sastra maupun penikmatan karya satra.
3.    Karya sastra yang otonomi itu bercirikan suatu koherensi. Koherensi artinya suatu keselarasan yang mendalam antara bentuk dan isi. Unsur bentuk pada karya sastra sangat terkait dengan tipologi, rima, diksi, bahasa, warna, wujud, dll.
Sedangkan bentuk isi meliputi persoalan tema, amanah, pikiran, perasaan, pengalaman, ide-ide, semangat, keyakinan, dan kepercayaan.
4.    Sastra menghidangkan sebuah sintesis antara hal-hal yang saling bertentangan. Pertentangan itu aneka ragam bentuknya.
Dari uraian di atas dapat terungkap bahwa cipta sastra merupakan sintesa dari adanya tesa dan antitesa. Tesa berarti kenyataan yang dihadapi. Antitesa berarti sikap yang bersifat subjektif. Sintesa berarti hasil dari perlawanan antara tesa dengan anti, yang bersifat idealis, imajinati, dan kreatif berdasarkan cita-cita dan konsepsi pengarang dengan bahasa sebagai medianya.
Di dalam membuat karya sastra, yang mesti diperhatikan adalah faktor persoalan yang diungkapkan, faktor keindahan, faktor bahasa, serta faktor diksi. Akumulasi dari seluruh faktor tersebut akan menentukan mutu karya sastra. Ada beberapa syarat karya sastra bermutu adalah karya sastra:
1.    Berusaha Merekam Isi Jiwa Sastrawan dan Pengarang
Karya sastra yang terbentuk adalah karya sastra yang mampu mengungkapkan isi dan jiwa sastrawan, karena apa yang digambarkan tersebut merupakan penggambaran kehidupan.
2.    Komunikasi antara Pengarang dan Pembaca
Di samping karya sastra harus mengungkapkan isi jiwa sastrawan, maka karya sastra juga mampu berkomunikasi antara pengarang dan pembaca. Karena itu banyak karya sastra hanya mampu berkomunikasi dengan beberapa orang tetapi tidak bisa menjalankan tugas terhadap penikmat karya sastra.
3.    Sebuah Keteraturan
Sebuah karya sastra harus memiliki keteraturan. Keteraturan itu baik berupa bentuk, isi, maupun kandungan sastra yang lain.
4.    Sebuah Penghibur
Karya sastra bermutu mampu memberikan rasa puas dan rasa senang kepada pembacanya. Karya sastra yang baik memberikan pesona dan membuat pembaca larut di dalamnya sehingga pembaca melupakan waktu. Karya sastra yang baik juga tidak membosankan pembaca sehingga pembaca tidak terbebani untuk membaca.
5.    Sebuah Integrasi
Sebuah karya sastra yang bermutu harus mampu menunjukkan integritas antara unsur yang ada pada karya sastra. Kesatuan dan keserasian antara unsur isi, bentuk, bahasa, dan ekspresi menentukan baik tidaknya karya tersebut. Karena itu semua unsur tadi merupakan suatu system yang masing-masing memiliki fungsi yang penting.
6.    Sebuah Penemuan/Pembeharuan
Sastrawan yang bisa menciptkan karya sastra yang bermutu adalah sastrawan yang menghasilkan karya sastra baru, artinya sastrawan tersebut bisa melakukan pembaharuan atau perombakan dalam penciptaan karya sastra. Perombakan karya sastra sebelumnya dapat memperkaya khsamah sastra Indonesia.
7.    Ekspresi Sastrawan
Sebuah karya sastra yang baik akan mencerminkan isi kepribadian sastrawan yang berupa pemikiran, keluasan pandangan, kepekaan perasaan, kesucian ketulusan hati, kejujuran dan ketulusan ekspresi sastrawannya.
8.    Padat Isinya
Kepadatan isi, bentuk, bahasa, dan ekspresi merupakan hasil kepekatan sastrawan dalam menghayati kehidupannya. Karya sastra yang padat isinya menggambarkan mutu dari sebuah karya sastra.
9.    Penafsiran Makna Hidup dan Kehidupan
Sebuah karya sastra akan berhasil dan dinilai bermutu apabila menunjukkan segi-segi baru dari kehidupan. Bahkan sebuah karya sastra bisa juga menafsirkan serta memberi arti kehidupan agar kehidupan tetap berharga. Di samping itu, karya sastra juga mampu mengungkapkan makna kehidupan.
10.    Karya Inovatif
Sebuah karya sastra dianggap baik apabila isi dan nuansa yang lain mampu menciptakan nuansa baru serta membuka pandangan baru, baik dalam persajakan, prosa, maupun bidang drama.
Nuansa baru dan pandangan baru yang lahir bisa mengantarkan sastrawan menjadi tokoh atau pelopor di bidang kesusatrawan. Misalnya Chairil Anwar, yang membawakan pembaruan di bidang persajakan, Sutardji Calsoum Bachri juga di bidang puisi.

C.    Bentuk Karya Sastra
Sebelum dibahas tentang langkah apresiasi sastra, terlebih dahulu dibahas cakupan dan bentuk karya sastra. Batasan cakupan dan bentuk karya sastra akan diuraikan sebagai berikut:
1.    Puisi
Penggolongan puisi pada hakikatnya terbagi 3, yaitu:
a.    Penggolongan Puisi Berdasarkan Isi
Puisi yang berdasarkan isi meliputi:
1.    Puisi Epik, yaitu puisi yang isinya menceritakan tentang sesuatu hal, di mana sifat dari puisi ini bersifat cerita. Puisi ini berisi cerita kepahlawanan, baik kepahlawanan yang berhubungan dengan legenda, kepercayaan, maupun sejarah. Penyair/pencipta puisi yang sering menggunakan jenis ini adalah W.S Rendra, Taufiq Ismail, dll.
2.    Puisi Lirik, yaitu puisi di mana pengungkapan isinya menggunakan makna konotasi atau makna simbolik, sehingga dalam pengkajiannya memerlukan daya imajinasi. Penyair yang karya-karya mengungkapkan hal ini adalah Amir Hamzah, Chaeril Anwar, dll.
3.    Puisi Naratif, yaitu puisi yang di dalamnya mengandung  suatu cerita dengan penokohan, perwatakan, latar, maupun rangkaian peristiwa tertentu yang menjalin suatu cerita. Yang termasuk jenis puisi naratif adalah puisi balada.
4.    Puisi dramatik, yaitu salah satu jenis puisi yang secara objektif menggambarkan perilaku seseorang, baik lewat lakuan, dialog, maupun monolog sehingga mengandung suatu gambaran kisah tertentu. Penyair dapat berkisah tentang dirinya atau orang lain yang diwakilinya lewat lakuan, dialog, atau monolog.
5.    Puisi didaktik, yaitu puisi yang mengandung nilai-nilai kependidikan.
6.    Puisi satire/satirik, yaitu puisi yang mengandung sindiran atau kritikan tentang ketidakberesan kondisi sosial masyarakat atau suatu kelompok.
7.    Romance/Romansa, yaitu puisi yang berisi luapan perasaan kasih sayang.
8.    Elegi, yaitu puisi ratapan yang mengungkapkan rasa pedih atau luka mendalam.
9.    Ode, yaitu puisi yang berisi pujian terhadap seorang yang memiliki jasa atau sikap kepahlawanan.
10.    Himne, yaitu puisi yang berisi pujian kepada Tuhan, bangsa dan tanah air.
b.    Penggolongan Puisi Berdasarkan Bentuk
Karya puisi yang golongan bentuknya meliputi:
1.    Bentuk Puisi Lama
Bentuk puisi selalu berdasarkan pola hidup masyarakat lama dengan segala aktivitasnya. Karena itu bentuk puisi ini mempunyai ciri-ciri:
a.    terikat oleh bait dan rima
b.    menyangkut pola masyarakat lama
c.    biasanya ada sampiran
d.    menekankan padi ritme dan nada
Contoh puisi yang masuk kategori ini adalah:
a.  pantun
b.    syair
c.    ru’bai
d.    mantera
e.    gurindam
f.    seloka
g.    karmina
h.    talibun
2.    Bentuk Puisi Baru
Puisi baru bentuknya lebih bebas daripada puisi lama baik dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun rima.
Dari segi bentuk (jumlah larik) puisi baru digolongkan menjadi:
a.    distikon (2 larik)
b.    terzina (3 larik)
c.    quatrin (4 larik)
d.    quint (5 larik)
e.    sektet (6 larik)
f.    septima (7 larik)
g.    oktav/stanza (8 larik)
h.    soneta (14 larik), jenis ini berasal dari Italia dengan ragam komposisi jumlah larik sebagai berikut:
-   4,  4,  3,  3  jumlah lariknya 14
-   8,  6 jumlah lariknya 14
-   4,  4,  4,  2  jumlah lariknya 14
-   4,  4,  2,  2,  2,  juga jumlah lariknya 14
Penggunaan bentuk tersebut berarti bahwa jumlah larik dalam satu bait. Misalnya pada soneta asli 4, 4, 3, 3 menunjukkan pada bait pertama ada 4 larik, bait kedua ada 4 larik, bait ketiga ada 3 larik dan bait keempat ada 3 larik, dan kalau digambarkan bentuknya seperti:












3.    Bentuk Puisi Modern
Bentuk puisi modern adalah bentuk puisi yang termasuk pada puisi angkatan 45 dan angkatan 66, di mana karya karya puisi sudah tidak terikat oleh jumlah larik dan bait.
4.    Bentuk Puisi Kontemporer
Puisi yang berbentuk kontemporer ini dipelopori oleh Sutardji Colsoum Bachri, di mana puisi ingin mengembalikan kata ke asalnya, yaitu mantera. Karena itu tidak mengherankan kalau kata yang digunakan hanya sebuah permainan, tetapi di balik dari permainan itu terdapat kata-kata kunci di dalamnya.
Misalnya puisi:

KALIAN
Pun

(Sutardji Calzoum Bachri)

c.     Penggolongan puisi berdasarkan jenisnya, mencakup:
1.    Puisi Transparan
Puisi transparan biasa juga disebut puisi diafan, di mana penikmat puisi dengan mudah menyatu dan memahami puisi tersebut.
2.    Puisi Prismatis
Pemakaian kata dan bahasa puisi ini dalam bentuk kiasan atau bermakna simbolis, bahkan jenis puisi ini dituntut pengembangan daya imajinasi sehingga terkadang puisi ini memerlukan pengkajian dan analisis yang mendalam.
11.    Puisi Kontemporer
Puisi ini mementingkan permainan kata dalam merangkai puisi, karena itu puisi tersebut mengembalikan kata ke asalnya, yaitu mantera, sehingga pengkajiannya memerlukan pendekatan khusus.
12.    Puisi Mbeling
Puisi mbeling adalah bentuk-bentuk puisi yang tidak mengikuti aturan-aturan puisi, melainkan aturan khusus yang ada pada puisi baik menyangkut unsur yang membangun maupun yang terkait dengan puisi tersebut.
b.    Prosa
Karangan prosa adalah karangan yang bersifat menerangkan secara terurai mengenai suatu masalah atau hal atau peristiwa. Menurut H.B Yassin (dalam Suroto, 1990:3) mengatakan bahwa “prosa adalah pengucapan dengan pikiran yang berbeda dengan puisi yang merupakan pengucapan dengan perasaan”.
Karya sastra berbentuk prosa, terbagi atas 3 jenis, yaitu:
1.    Prosa Lama
Prosa lama memiliki ciri khas, yaitu:
a.    Cenderung bersifat statis, sesuai dengan keadaan masyarakat lama yang mengalami perubahan secara lambat;
b.    Bersifat istanasentris;
c.    Hampir seluruhnya berbentuk hikayat, tambo, atau dongeng (bersifat fantasi);
d.    Dipengaruhi oleh kesustraan Hindu dan Arab;
e.    Umumnya bersifat anonim.
2.     Prosa Baru
Ciri khas dari prosa baru adalah:
a.    Bersifat dinamis (berubah sesuai dengan perkembangan masyarakat);
b.    Bersifat masyarakatsentris
c.    Berbentuk roman, novel, cerpen, dan kisah;
d.    Diketahui pengarangnya.

c.    Drama
Drama berasal dari bahasa Yunani, draomai yang berarti berbuat. Beberapa batasan tentang drama dikemukakan para sastrawan dan pakar sastra, yaitu:
a.    Menurut H.B Yassin dalam bukunya “Tita penyair dan daerahnya mengemukakan bahwa drama adalah rentetan kejadian yang merupakan cerita”.
b.    B. Simorangkir Simanjutak mengatakan bahwa drama adalah seni yang mempertunjukkan pekerti manusia dengan perbuatan.
c.    Mbiyo Saleh mengatakan hakikat drama ialah konflik dalam kehidupan manusia dipandang dari segi kejiwaan dan seni.
Berdasarkan pendapat itu, dapat disimpulkan bahwa drama ialah jenis karya sastra yang mengungkapkan rentetan peristiwa atau kejadian yang berupa konflik dalam kehidupan manusia yang merupakan suatu cerita yang dipertunjukkan di atas pentas.

D.    Langkah-Langkah Apresiasi Sastra
Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam mengapresiasi karya sastra adalah:
1.    Langkah Persiapan
a.    menentukan jenis karya sastra yang ingin diapresiasi
b.    menentukan tujuan mengapresiasi jenis karya sastra
c.    menentukan jenis pendekatan yang sesuai jenis karya sastra yang ingin diapresiasi
d.    mengetahui dan memahami tehnik apresiasi sastra
2.    Langkah Pelaksanaan
Pada langkah itu, apresiator melakukan apresiasi dengan melibatkan seluruh kompetensi yang dimiliki baik kompetensi kognitif, emotif, maupun kompetensi evakuatif.
3.    Langkah Revisi
Langkah revisi dilakukan apresitor agar hasil penikmatan dan penilaian serta penghargaan karya sastra baik
Ketiga langkah apresiasi tersebut dilakukan apresiator pada seluruh bentuk karya sastra (puisi, prosa, dan drama).

 
TUGAS 2
1.    Jelaskan pengertian sastra menurut Anda!
2.    Jelaskan syarat-syarat karya sastra yang bermutu menurut Anda!
3.    Jelaskan secara singkat bentuk-bentuk karya sastra!

JAWABAN:




 
BAB IV
APRESIASI PUISI

A.    Mengenal Puisi
Karya sastra yang paling awal ditulis manusia adalah puisi. Contoh Karya sastra lama yang berbentuk puisi adalah Sureq I Lagaligo, Mahabrata, Ramayana, dll. Bahkan drama-drama Sophocles (Oedipus Sang Raja, Oedipus di Kolonus, dan Antigone) dan drama-drama William Shakespeare (Hamlet, Macbeth, dan Romeo and Juliet) juga berbentuk puisi.
Secara etimologi, istilah puisi berasal dari bahasa Yunani yaitu kata poeima (membuat) atau poeisis (pembuatan) dan dalam bahasa Inggris disebut poem atau poetry. Puisi diartikan “membuat” dan pembuatan karena lewat puisi pada dasarnya seorang telah menciptakan suatu dnia tersendiri, yang mungkin berisi pesan atau gambaran suasana-suasana tertentu, baik fisik maupun batiniah.
Struktur dan ragam puisi sebagai hasil karya kreatif terus-menerus berubah. Hal ini nampak apabila kita mengkaji ciri-ciri puisi pada zaman tertentu yang ternyata berbeda dari ke-khas-an puisi pada zaman yang lain. Di masa lampau misalnya, penciptaan puisi harus memenuhi ketentuan jumlah baris, ketentuan rima dan persyaratan lain. Itulah sebabnya Wirjosoedarmo mendefinisikan puisi sebagai karangan terikat. Definisi tersebut tentu saja tidak tepat lagi untuk masa sekarang karena saat ini penyair sudah lebih bebas dan tidak harus tunduk pada persyaratan-persyaratan tertentu. Hal ini mengakibatkan pembaca tidak dapat lagi membedakan antara puisi dengan prosa hanya dengan melihat bentuk visualnya. Misalnya sajak Sapardi Djoko Damono dan cerpen Eddy D. Iskandar berikut ini :

AIR SELOKAN

“Air yang di selokan itu mengalir dari rumah sakit,” katamu pada suatu hari Minggu pagi. Waktu itu kau berjalan-jalan bersama istrimu yang sedang mengandung – ia hampir muntah karena bauj sengit itu.
Dulu di selokan itu mengalir pula air yang digunakan untuk memandikanmu waktu kau lahir : campur darah dan amis baunya.
Kabarnya tadi sore mereka sibuk memandikan mayat di kamar mati.
+
Senja ini ketika dua orang anak sedang berak di tepi selokan itu, salah seorang tiba-tiba berdiri dan menuding sesuatu : “Hore, ada nyawa lagi terapung-apung di air itu – alangkah indahnya!” Tapi kau tak mungkin lagi menyaksikan yang berkilau-kilauan hanyut di permukaan air yang anyir baunya itu, sayang sekali.

(Sapardi Djoko Damono – Perahu Kertas, 1983 : 18)


NAH

Nah, karena suatu hal, maafkan Bapak datang terlambat. Nah, mudah-mudahan kalian memaklumi akan kesibukan Bapak. Nah, tentang pembangunan masjid ini yang dibiayai oleh kalian bersama, itu sangat besar pahalanya. Nah, Tuhan pasti akan menurunkan rahmat yang berlimpah ruah. Nah, dengan berdirinya masjid ini, mereka yang melupakan Tuhan, semoga cepat tobat. Nah, sekianlah sambutan Bapak sebagai sesepuh.
(Nah, ternyata ucapan suka lain dengan tindakan. Nah, ia sendiri ternyata suka kepada uang kotor dan perempuan. Nah, bukankah ia termasuk melupakan Tuhan? Nah, ketahuan kedoknya).
[….]
(Eddy D. Iskandar – Horison, Th. IX, Juni 1976 : 185)


Bentuk visual kedua contoh di atas sama, padahal Sapardi Djoko Damono memaksudkan karyanya sebagai puisi, sedangkan Eddy D.Iskandar memaksudkan karangannya sebagai cerita pendek (prosa). Dengan demikian mendefinisikan puisi berdasarkan bentuk visualnya saja, pada masa sekarang tidak relevan lagi.
Karena sulitnya mendefinisikan pengertian puisi, A. Teeuw dan Culler menyerahkan pada penilaian pembaca. Menurut mereka pembacalah yang paling berhak menentukan suatu karya termasuk prosa atau puisi (Teeuw, 1983:6; Culler, 1977:138). Pendapat demikian meskipun nampaknya menyelesaikan masalah, namun untuk study keilmuan tentu sangat membingungkan karena tidak ada standar yang pasti.
Kecuali A. Teeuw dan Culler, banyak ahli sastra dan sastrawan, khususnya penyair romantik Inggris, yang berusaha memberikan definisi. Berikut ini adalah beberapa pendapat mereka :
•    Altenbernd (1970 : 2), mendefinisikan puisi sebagai the interpretive dramatization of experience in metrical language (pendramaan pengalaman yang bersifat penafsiran dalam bahasa bermetrum). Meskipun mengandung kebenaran, namun definisi tersebut tak bisa sepenuhnya diterapkan di Indonesia karena pada umumnya puisi Indonesia tidak memakai metrum sebagai dasar. Jika yang dimaksud metrical adalah ‘berirama’, maka definisi Altenbernd memang bisa diterima, tetapi memiliki kelemahan karena prosa pun ada yang berirama. Sebut misalnya cerpen-cerpen Danarto yang menggunakan kekuatan irama untuk menambah keindahan karyanya.
•    Samuel Taylor Coleridge berpendapat bahwa puisi adalah kata-kata terindah dalam susunan yang terindah, sehingga nampak seimbang, simetris, dan memiliki hubungan yang erat antara satu unsur dengan unsur lainnya.
•    Carlyle mengemukakan bahwa puisi adalah pemikiran yang bersifat musikal, kata-katanya disusun sedemikian rupa, sehingga menonjolkan rangkaian bunyi yang merdu seperti musik.
•    Wordsworth memberi pernyataan bahwa puisi adalah ungkapan perasaan yang imajinatif atau perasaan yang diangankan.
•    Dunton berpendapat bahwa puisi merupakan pemikiran manusia secara konkret dan artistik (selaras, simetris, pilihan kata tepat), bahasanya penuh perasaan dan berirama seperti musik(pergantian bunyi kata-katanya berturut-turut secara teratur).
•    Shelley mengatakan bahwa puisi adalah rekaman detik-detik yang paling indah dalam hidup manusia, misalnya hal-hal yang mengesankan dan menimbulkan keharuan, kebahagiaan, kegembiraan, kesedihan dan lain-lain.
    Dengan meramu pendapat-pendapat di atas, kita dapat mendefinisikan  puisi sebagai berikut :
 
Puisi adalah salah satu bentuk karya sastra yang mengekspresikan secara padat pemikiran dan perasaan penyairnya, digubah dalam wujud dan bahasa yang paling  berkesan.


Dengan mengutip pendapat McCaulay, Hudson megungkapkan bahwa puisi adalah salah satu cabang sastra yang menggunakan kata-kata sebagai media penyampaian untuk membuahkan ilusi dan imajinasi, seperti halnya lukisan yang menggunakan garis dan warna dalam menggambarkan gagasan pelukisnya. Rumusan pengertian puisi di atas, sementara ini dapatlah kita terima karena kita sering kali diajuk oleh suatu ilusi tentang keindahan, terbawa dalam suatu angan-angan, sejalan dengan keindahan penataan unsur bunyi, penciptaan gagasan, maupun suasana tertentu sewaktu membaca suatu puisi.
Puisi adalah karya sastra dengan bahasa yang dipadatkan, dipersingkat, dan diberi irma dengan bunyi padu dan pemilihan kata khas. Dalam menulis puisi kata-kata betul-betul dipilih agar menciptakan kekuatan pengucapan. Walau singkat dan padat namun bahasa puisi berkekuatan.

B.    Bangun Struktur Puisi
Aminuddin (2009:136) mengemukakan bahwa bangun struktur puisi adalah unsur pembentuk puisi yang dapat diamati secara visual. Unsur tersebut meliputi:
1.    Bunyi
Untuk mengenal unsur bunyi, Terlebih dahulu bacalah contoh puisi berikut ini.
Salju
Wing Kardjo       
Ke manakah pergi
mencari matahari
ketika salju turun
pohon kehilangan daun

Ke manakah jalan
mencari lindungan
ketika tubuh kuyup
dan pintu tertutup

Ke manakah lari
mencari api
ketika bara hati
padam tak berarti

Ke manakah pergi
selain mensuci diri

Dari puisi tersebut, apakah yang menarik perhatian Anda? Tentu Anda coba mengamati contoh konkret dari bangun struktur puisi. Marilah sekarang kita pusatkan perhatian pada aspek bunyi.
Bila berbicara tentang bunyi dalam puisi maka kita harus memahami konsep tentang:


a.    Rima
Rima adalah bunyi yang berselang/berulang, baik di dalam larik puisi maupun pada akhir larik-larik puisi. Rima meliputi antara lain (1) asonansi atau runtun vokal, (2) aliterasi atau purwakanti, (3) rima akhir, (4) rima dalam, (5) rima rupa, (6) rima identik dan (7) rima sempurna.
Dalam puisi “Salju” karya Wing Kardjo dapat kita lihat adanya perulangan bunyi vokal u seperti tampak pada larik /ketika tubuh kuyup/dan /dan pintu tertutup/. Perulangan bunyi demikian disebut asonansi. Selain itu, juga dapat diamati adanya perulangan bunyi konsonan n pada larik /pohon kehilangan daun/. Perulangan bunyi konsonan seperti itu disebut aliterasi. Perulangan bunyi seperti contoh di atas berlaku di antara kata-kata dalam satu larik. Rima demikian itu disebut rima dalam.
Lebih lanjut, bila kita mengamati bait pertama puisi “Salju” di atas, tampak juga adanya paduan bunyi antara setiap akhir larik sehingga menimbulkan pola persajakan vokal /i/ - vokal /i/ dengan konsonan /n/ - konsonan /n/ seperti pada bentuk /…pergi/matahari/…turun/ …daun/. Rima demikian itu yakni rima yang terdapat pada akhir larik puisi, disebut rima akhir.
Pengulangan kata “ketika” dapat pula kita jumpai di antara bait-bait dalam puisi di atas. Ulangan kata demikian disebut rima identik. Rima identic dapat pula kita jumpai dalam penggalan puisi berjudul “Idealisme berbatas waktu” karya Jumadi Aminuddin berikut ini:

Rasanya baru kemarin Pak Amin mengumandangkan Reformasi
Sebab aku belum melihat Reformasi
Tahun enamenam mahasiswa ditembak mati
Tahun Sembilandelapan mahasiswa ditembak mati
Lalu sekarang, kampus masih saja diserang dan
    Mahasiswa pun tetap ditembak mati
Reformasi tahi kucing!

(sumber: arsip karya Gerbang Sastra
STKIP Puangrimaggalatung)
Bila perulangan bunyi meliputi baik pengulangan konsonan maupun vokal disebut rima sempurna seperti yang tampak pada bentuk “ke manakah pergi”, bait 1 dan bait 4 puisi “Salju” karya Wing Kardjo. Bila perulangan hanya tampak pada penulisan suatu bunyi, sedangkan pelafalannya tidak sama, disebut rima rupa. Misalnya,rima antara bunyi vokal /u/ dalam bentuk “bulan” serta bunyi vokal /u/ dalam belum, seperti  tampak pada salah satu puisi Abdul Hadi W.M. berjudul “Dan Bajumu” di bawah ini.
Pasang bajumu. Dingin akan melewat
menyusup dekat semak-semak pohon kayu
Tapi bulan belum kelihatan, puncak-puncak bukit
sudah berhenti membandingkan dukamu,sehari ke-
luh kesah

b.    Irama
Irama adalah paduan bunyi yang mengandung unsur musikalitas, baik berupa alunan keras-lunak, tinggi rendah, panjang-pendek dan kuat-lemah yang keseluruhannya mampu menumbuhkan kemerduan, kesan suasana serta nuansa makna tertentu. Timbulnya irama itu selain akibat penataan rima, juga akibat pemberian aksentuasi dan intonasi maupun tempo sewaktu melaksanakan pembacaan.
c.    Ragam bunyi
Ragam bunyi yang dimaksud adalah euphony, cacophony, dan onomatope. Ragam bunyi euphony dapat menuansakan suasana keriangan, vitalitas maupun gerak. Ragam bunyi euphony umumnya berupa bunyi-bunyi vokal. Misalnya, kata-kata yang mengandung sesuatu yang menyenangkan umumnya mengandung bunyi vokal, seperti kata “gembira”, “bernyanyi”, “bermain”. Pada puisi “Salju” Anda dapat melihat adanya kata “pergi”,  “mencari”, “matahari”.
Cacophony adalah kebalikan dari uphony. Bunyi cacophony menuansakan suasana tekanan batin, kebekuan, kesepian atau kessedihan. Bunyi cacophony umumnya berupa bunyi-bunyi konsonan yang berada di akhir kata. Misalnya kata “kuyup”, “tertutup” yang terdapat dalam penggalan puisi “Hampa” karya Chairil Anwar berikut ini.
Sepi di luar. Sepi menekan mendesak
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut
Tak satu kuasa melepas-renggut
Ragam bunyi onomatope umumnya memberikan sugesti suara yang sebnarnya. Bunyi yang disugestikan misalnya berupa bunyi binatang, gemuruh ombak, dll.
2.    Kata
Berdasarkan bentuk dan isi, kata-kata dalam puisi dapat dibedakan menjadi:
a.    Lambang
Lambang yaitu apabila suatu kata mengandung makna leksikal (yang terdapat dalam kamus) sehingga acuan maknanya tidak menunjuk pada berbagai macam kemungkinan.
b.    Utterance atau indice
Utterance atau indice yaitu kata-kata yang mengandung makna sesuai dengan keberadaannya dalam konteks pemakaian. Misalnya kata “jalang” dalam baris puisi Chairil, “Aku ini binatang jalang” berbeda maknanya dengan kata yang sama dalam ungkapan “wanita jalang itu telah berjanji mengubah hidupnya”.
c.    Simbol
Simbol yaitu apabila suatu kata mengandung makna ganda (konotatif) sehingga butuh penafsiran yang serius untuk mengerti maknanya.
Ketiga hal tersebut di atas digunakan dalam membahasakan puisi dan sangat berhubungan dengan majas atau gaya bahasa.
3.    Larik atau baris
Istilah baris atau larik dalam puisi pada dasarnya hampir sama dengan istilah kalimat dalam karya prosa. Hanya saja wujud, ciri-ciri, dan peranan larik dalam puisi tidak begitu saja disamakan secara menyeluruh dengan kalimat. Struktur kalimat dalam puisi sebagai suatu baris, tidak selamanya sama dengan struktur kalimat dalam karya prosa. Hal tersebut dapat kita kaji lewat bait ke-12 puisi berjudul “Parikesit” karya Goenawan Mohammad.
Pada akhirnya kita
tak senantiasa bersama. Ajal
memisah kita masing-masing tinggal
4.    Bait
Bait adalah kesatuan larik yang berada dalam satu kelompok dalam rangka mendukung satu kesatuan pokok pikiran, terpisah dari kelompok larik lainnya. Keberadaan bait sebagai kumpulan larik tidaklah mutlak sebab ada pula bait yang  hanya terdiri dari satu larik saja. Contohnya dapat kita jumpai dalam puisi berjudul “Tuhan telah menegurmu” karya Apip Mustopa.

Tuhan telah menegurmu dengan cukup menahan kesabaran
Lewat gempa bumi yang berguncang
Deru angin yang meraung-raung kencang
Hujan dan banjir yang melintang-pukang.

Adakah kau dengar?
5.    Tipografi
Tipografi adalah cara penulisan suatu puisi sehingga menampilkan bentuk-bentuk tertentu yang dapat diamati secara visual. Contohnya dapat kita simak dalam puisi karya F. Rahardi.berikut ini:

“Doktorandus Tikus I”
 
selusin toga
           me
            nga
                    nga
seratus tikus berkampus di atasnya

    dosen dijerat
professor diracun
    kucing
        kawin
            dan bunting

dengan predikat
    sangat memuaskan


C.    Unsur Batin Puisi
1.    Tema Puisi
Tema adalah gagasan pokok yang dikemukakan oleh penyair melaui puisinya. Tema mengacu pada penyair sehingga pembaca harus mengetahui latar belakang penyair agas tidak salah menafsirkan puisi tersebut.
Tema yang banyak terdapat dalam puisi adalah tema ketuhanan/religious (Doa, karya Chairil Anwar), tema kemanusiaan (Gadis Peminta-minta, karya Toto Sudarto Bachtiar), tema patriotisme (Kerawang-Bekasi, karya Chairil Anwar), tema cinta tanah air (Tanah Sunda, karya Ajip Rosidi), tema cinta kasih (Surat Cinta, karya W.S. Rendra), tema kerakyatan/demokrasi (Rakyat, karya Hartoyo Andangjaya), tema keadilan sosial/protes sosial (Sajak-Sajak Burung Kondor, karya W.S. Rendra), tema pendidikan/budi pekerti (Surat dari Ibu, karya asrul Sani), serta tema-tema lain.
2.    Nada dan Suasana Puisi
Nada mengungkapkan sikap penyair terhadap pembaca. Dari sikap itulah tercipta suasana. Ada puisi yang bernada kagum (Perempuan-perempuan Perkasa, karya Hartoyo Andangjaya), bernada main-main (Biarin, karya Yudhistira ANM Massardhi), bernada patriotik (Diponegoro, karya Chairil Anwar), bernada protes (Doktorandus Tikus II, karya F. Rahardi), bernada pujian (Teratai, karya Sanusi Pane), bernada pasrah (Derai-derai Cemara, karya Chairil Anwar), dll.
3.    Perasaan dalam Puisi
Perasaan penyair dalam puisi dapat kita tangkap kalau puisi itu dibaca dalam poetry reading atau  deklamasi. Perasaan yang menjiwai puisi bisa perasaan gembira, sedih, terharu, terasing, tersinggung, patah hati, sombong, tercekam, cemburu, kesepian, takut, menyesal, dll.
4.    Amanat Puisi
Amanat merupakan kesan yang ditangkap pembaca setelah membaca puisi. Amanat dirumuskan sendiri oleh pembaca. Tetapi meskipun ditentukan oleh cara pandang pembaca, amanat tidak dapat lepas dari tema da nisi puisi yang dikemukakan penyair.
Simaklah puisi karya Hartoyo Andangjaya berikut ini:

Dari Seorang Guru kepada Murid-muridnya

Adakah yang kupunya anak-anakku
selain buku-buku dan sedikit ilmu
sumber pengabdianku kepadamu

Kalau hari minggu engkau datang ke rumahku
aku takut anak-anakku
kursi-kursi tua yang di sana
dan meja tulis sederhana

dan jendela-jendela yang tak pernah diganti kainnya
semua kepadamu akan bercerita
tentang hidupku di rumah tangga
…………………………………….. .

Dari puisi tersebut dapat kita petik amanat sebagai berikut:
1.    Perbaikilah nasib guru
2.    Hormatilah guru yang hidupnya menderita namun tetap berbakti dengan penuh semangat
3.    Muliakanlah guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa
4.    Jangan menilai harkat guru dari harta kekayaannya tetapi dari keseluruhan martabatnya.


TUGAS 3
1.    Temukanlah makna puisi di bawah ini!
Ilmu hitung di negeriku
Jumadi Aminuddin (eyanK GS)   
               
dua ditambahkan tiga
sama dengan enam
karena tanda tambah dengan tanda kali
hanya berbatas antara tegak dan miring.
(sumber: Arsip Gerbang Sastra,
STKIP Puangrimaggalatung)

2.    Apresiasilah penggalan puisi di bawah ini!
Dari titik ini
Sedang kita tarik garis lurus
Ke titik berikutnya
....
            (Puisi Geometri, karya Taufiq Ismail)

JAWABAN:




 
BAB V
APRESIASI PROSA

A.    Hakikat Apresiasi Prosa
Kata apresiasi secara harfiah berarti “penghargaan” terhadap suatu objek, hal, kejadian, atau pun peristiwa. Untuk dapat memberi penghargaan terhadap sesuatu, tentunya kita harus mengenal sesuatu itu dengan baik dan dengan akrab agar kita dapat bertindak dengan seadil-adilnya terhadap sesuatu itu, sebelum kita dapat memberi pertimbangan bagaimana penghargaan yang akan diberikan terhadap karya itu. Kalau yang dimaksud dengan sesuatu itu adalah karya sastra, lebih tepat bagi karya sastra prosa, maka apresiasi itu berarti memberi penghargaan dengan sebaik-baiknya dan seobjektif mungkin terhadap karya sastra prosa itu. Penghargaan yang seobjektif mungkin, artinya penghargaan itu dilakukan setelah karya sastra itu kita baca, kita telaah unsur-unsur pembentuknya, dan kita tafsirkan berdasarkan wawasan dan visi kita terhadap karya sastra itu.
Prosa atau prosa fiksi adalah sebuah bentuk karya sastra yang disajikan dalam bentuk bahasa yang tidak terikat oleh jumlah kata dan unsur musikalitas. Bahasa yang tidak terikat itu digunakan untuk menyampaikan tema atau pokok persoalan dengan sebuah amanat yang ingin disampaikan berkenaan dengan tema tersebut. Oleh karena itu, dalam apresiasi dengan tujuan memberikan penghargaan terhadap karya prosa itu, kita haruslah bisa “membongkar” dan menerangjelaskan hal-hal yang berkenaan dengan ukuran keindahan dan “kelebihan” karya prosa itu. Dengan demikian, penghargaan yang diberikan dapat diharapkan bersifat tepat dan objektif.
Suatu apresiasi sastra, menurut Maidar Arsjad dkk dilakukan melalui beberapa tahap kegiatan. Tahap-tahap itu adalah:
1.    Tahap penikmatan atau menyenangi
Tindakan operasionalnya pada tahap ini adalah misalnya membaca karya sastra (puisi maupun prosa), dan sebagainya.
2.    Tahap penghargaan
Tindakan operasionalnya, antara lain, melihat kebaikan, nilai, atau
manfaat suatu karya sastra, dan merasakan pengaruh suatu karya ke dalam jiwa, dan sebagainya.
3.    Tahap pemahaman
Tindakan opersionalnya adalah meneliti dan menganalisis unsur
intrinsik dan unsur ektrinsik suatu karya serta berusaha menyimpulkannya.
4.    Tahap penghayatan
Tindakan operasionalnya adalah menganalisis lebih lanjut akan suatu
karya, mencari hakikat atau makna suatu karya beserta argumentasinya; membuat tafsiran dan menyusun pendapat berdasarkan analisis yang telah dibuat.
5.    Tahap penerapan. Tindakan operasionalnya adalah melahirkan ide baru, mengamalkan penemuan, atau mendayagunakan hasil operasi dalam mencapai material, moral, dan struktural untuk kepentingan sosial, politik, dan budaya.
B.    Khasanah Prosa Indonesia
Kalau prosa kita artikan sebagai karangan dengan bahasa yang tidak terikat sebagai dikotomi dari puisi yang disajikan dalam bahasa yang terikat (dengan jumlah baris dan irama persajakan), maka semua karya sastra prosa dari kesusasteraan lama dapat kita masukkan sebagai prosa Indonesia. Jadi, semua dongeng, hikayat, fabel, dan cerita rakyat seperti Dongeng Sang Kancil, Hikayat Si Miskin, Hikayat Pendawa Lima, Hikayat Amir Hamzah, Legenda Terjadinya Tangkuban Perahu, dan sebagainya adalah termasuk karya prosa Indonesia. Di sini termasuk karya seperti Sejarah Mejayil Kisah Pelayaran Abdullah ke Negari Mekah, dan lain sebagainya.
Karya prosa modem Indonesia dimulai dari buku-buku terbitan Balai Pustaka seperti Si Jamin dan Si Johan, Siti Nurbaya, Salah Asuhan, Sengsara Membawa Nikmat. dan sebagainya. Di luar Balai Pustaka sebenarnya ada pula buku-buku cerita yang diterbitkan; tetapi karena bahasanya “kurang terpelihara” maka sering tidak dianggap atau tidak dibicarakan sebagai karya sastra Indonesia. Prosa-prosa produk zaman Balai Pustaka kebanyakan karya mengangkat persoalan adat sebagai tema, dan belum mengangkat masalah sosial budaya. Oleh karena itu, konflik-konflik yang terjadi hanyalah seputar pertentangan golongan yang mempertahankan adat dengan golongan yang ingin meninggalkan adat karena dianggap mengekang kebebasan dan kemajuan.
Zaman Balai Pustaka dilanjutkan oleh yang disebut Angkatan Pujangga Baru. Prosa pada angkatan ini sudah tidak banyak lagi bertemakan adat atau pertentangan adat melainkan sudah mengangkat juga persoalan sosial seperti dalam roman Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisyahbana yang mengangkat masalah emansipasi wanita; novel Belenggu karya Armyn pane yang mengangkat masalah kehidupan sosial seorang dokter, istrinya, dan seorang pasien wanita. Sutan Takdir meskipun disebut-sebut sebagai tokoh Pujangga Baru, namun dia sebelumnya sudah menulis prosa jauh sebelum itu, dan karya-karyanya juga banyak dihasilkan setelah itu. Prosanya yang lain adalah Tak Putus Dirundung Malang, dan Grotta dan Azura yang ditulisnya pada tahun enam puluhan.
Zaman Jepang (1940-1945) adalah zaman susah akibat perang Asia Timur Raya dan pendudukan tentara Jepang atas Indonesia. Pada masa ini karya sastra kebanyakan berupa puisi yang bersifat simbolis karena tidak berani berterang-terangan, takut akan ancaman kempetai Jepang. Prosa yang muncul hanyalah berupa corat-caret, sketsa, dan kisah-kisah pendek dari pengarang Idrus. Itu pun baru diumumkan setelah Jepang kalah perang. Judul-judul prosanya antara lain “Corat-Caret di bawah Tanah”. “Kota harmoni”, Sanyo”, “Oh..oh”, dan “Aki”. Kalau Chairil Anwar disebut sebagai pelopor Angkatan ’45 dalam bidang puisi, maka Idrus adalah pelopor Angkatan ’45 dibidang prosa. Keduanya disebut sebagai pelopor karena keduanya membuat pembaharuan dalam memberi corak karya sastra mereka yang berbeda dengan karya angkatan sebelumnya.
Setelah Jepang pergi pada tahun 1945, dan negeri kita diamuk suasana revolusi sejumlah karya prosa muncul. Pada 1948 terbit karya Idrus Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roman yakni kumpulan cerita pendek yang dimulai dengan cerpen “Ave Maria” dan berakhir dengan cerpen “Jalan lain ke Roma” Namun, didalam buku itu pun ada naskah drama yang berjudul “Kejahatan Membahas dendam”. Pengarang lain adalah Pramudya Ananta Toer yang dalam prosa-prosanya banyak melukiskan kedahsyatan revolusi Indonesia. Karyanya antara lain Keluarga Gerilya (novel), Mereka yang Dilumpuhkan (novel), Percikan Revolusi/kumpulan (cerpen), Perburuan (novel), Subuh (novel), dan Di Tepi Kali Bekasi (novel).
Novel lain yang muncul pada masa revolusi adalah Atheis karangan Achdiat Karta Mihardja, Tidak Ada Esok dan Jalan Tak ada Ujung karangan Mochtar Lubis.
Terlepas dari ide yang dikandung di dalamnya, H.B. Jassin menyatakan bahwa “Surabaya” karya Idrus, Keluarga Gerilya karya Pramudya dan Jalan Tak Ada Ujung karya Mochtar Lubis merupakan puncak kesusastraan angkatan ’45 sampai sakarang.
Revolusi berakhir pada akhir Desember 1949 dan Indonesia secara de facto dan de jure menjadi negara merdeka. Namun, pada awal kemerdekaan ini kegiatan sastra tampaknya lebih banyak pada karya puisi dan cerita pendek. Banyak pengarang muncul bersama cerpennya yang dipublikasikan dalam buku kumpulan cerita pendek. Mereka itu antara lain Subagio Sastrowardoyo, N.H. Dini, S.M. Ardan, Sukanto S.A., A.A. Navis, Trisnoyuwono, dan Nugroho Notosusanto.
Karya mereka yang bisa disebutkan di sini antara lain, adalah Terang Bulan Terang di Kali (kumpulan cerpen) dan Nyai Dasima karya S.M. Ardan, Hitam Putin (kumpulan cerpen) karya Mohamad Ali, Robohnya Surau Kami (kumpulan cerpen) karya A.A. Navis, Kawat Berduri karya Trisno Yuwono. Pulang (novel) karya Toha Mochtar, Hati yang Damai dan Dua Dunia karya N.H. Dini, dan Daun Kering karya Trisno Sumardjo.
Sesudah huru-hara G 30S/PKI 1965 khasanah prosa Indonesia tetap didominasi oleh cerpen, meskipun karya novel juga tidak kurang, tetapi lebih banyak pengarang dikenal karena karya cerpennya. Walaupun demikian novel-novel yang patut disebutkan sesudah huru-hara G 30 S/PKI itu, antara lain adalah Harimau-Harimau dan Maut dan Cinta keduanya karya Mochtar Lubis, Jalan Terbuka karya Ali Audah, Sepi Terasing karya Aoh K. Hadimadja; Tidak Menyerah. Jentera Lepi, Kubah, dan Bawuk, keempatnya karya Umar Kliayam, Burung-Burung Manyar karya Y.B. Mangunwijaya, Kalah dan Menang karya Sutan takdir Alisyahbana, Telegram karya Putu V/ijaya, Pada Sebuah Kapal karya N.H. Dini; Ziarah dan Merahnya Merah keduanya karya Iwan Simatupang; Karmila karya Marga T; Wajah-Wajah Cinta karya La Rose; dan sejumlah novel lainnya.
Seperti disebutkan di atas bahwa cerita pendek mendominasi prosa Indonesia mutakhir, hal itu tampak dari banyak cerita pendek yang dipublikasikan melalui berbagai majalah sastra maupun majalah umum, serta sejumlah buku kumpulan karya sastra seperti yang diedit oleh para cerpenis seperti Gerson Poyk, Umar Khayam, Kuntowijoyo, Putu Wijaya, Budi Darma, dan Danarto.
C.    Langkah-Langkah Apresiasi Prosa
Dalam berbagai buku sumber ada disebutkan langkah-langkah yang dilakukan dalam melaksanakan apresiasi sastra secara umum dan apresiasi karya sastra secara khusus. Yang disebut di bawah ini pada dasarnya tidak berbeda dengan yang disebutkan dalam buku-buku sumber itu. Langkah-langkah tersebut adalah:
1.    Membaca novel (cerpen, roman) itu secara tenang dan seksama. Kalau perlu bisa diiakukan dua tiga kali. Biasanya sebuah karya prosa yang baik akan mengundang kita untuk membacanya berkali-kali karena kita memperoleh kenikmatan dari pembacaan itu.
2.    Mencoba mencari jati diri melalui prosa yang dibacanya.
3.    Mencoba menelaah apa tema cerita tersebut, dan mengetahui bagaimana tema itu disajikan, menelaah plot, penokohan, setting/latar, dan berbagai unsur instrinsik lainnya.
4.    Mencoba menelaah amanat yang ingin disampaikan oleh pengarang dengan novel (cerpen, roman) tersebut.
5.    Mencoba menelaah penggunaan bahasa yang digunakan dalam karya prosa tersebut melihat kekuatannya, dan mencari kekurangannya.
6.    Mencoba menarik kesimpulan akan nilai karya prosa tersebut berdasarkan telaah objektif terhadap temanya, plotnya, perwatakannya, latarnya, dan sebagainya.
 
TUGAS 4

Carilah sebuah cerpen lalu identifikasi unsur intrinsiknya.
JAWABAN:

 
BAB VI
APRESIASI DRAMA

A.    Hakikat Drama
Sebelum menarik kesepahaman tentang drama, ada baiknya kita simak dulu beberapa pengertian drama dari berbagai sumber berikut ini:
1.    Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) drama memiliki beberapa pengertian. Pertama, drama diartikan sebagai komposisi syair atau prosa yang diharapkan dapat menggambarkan kehidupan dan watak melalui tingkah laku (akting) atau dialog yang dipentaskan. Kedua, cerita atau kisah terutama yang melibatkan konflik atau emosi, yang khusus disusun untuk pertunjukan teater. Ketiga, kejadian yang menyedihkan.
2.    Dalam sejarahnya (Barranger, 1994) kata drama dan teater memiliki arti yang berbeda. Drama berasal dari bahasa Yunani dramoi yang berarti ”to do” atau ”to act” (berbuat). Kata teater juga erasal dari Yunani theatron yang berarti ”a place for seeing” (tempat untuk menonton), dengan demikian kata teater mengacu pada suatu tempat di mana aktor-aktros mementaskan lakon. Dengan kata lain, secara lebih mudah, kata drama diartikan sebagai lakon yang dipertunjukkan oleh apra aktor di atas pentas, sedangkan teater  diartikan  sebagai tempat lakon itu dipentaskan. Dengan demikian, seyogyanya kita bukan mengajak ’bermain teater’ tetapi ’bermain drama’, dan bukan ’menonton teater’ tetapi ’menonton drama di teater’.
3.    Pengertian lain, drama adalah kisah kehidupan manusia yang dikemukakan di pentas berdasarkan naskah, menggunakan percakapan, gerak laku, unsur-unsur pembantu (dekor, kostum, rias, lampu, musik), serta disaksikan oleh penonton.
4.    Ada sejumlah istilah yang memiliki kedekatan makna dengan drama, yaitu:
a.    Sandiwara. Istilah ini diciptakan oleh Mangkunegara VII, berasal dari kata bahasa Jawa sandhi ang berarti rahasia, dan warah yang berarti pengajaran. Ole Ki Hajar Dewantara, istilah sandiwara diartikan sebagai pengajaran yang dilakukan dengan perlambang, secara tidak langsung.
b.    Lakon. Istilah ini memiliki beberapa kemungkinan arti, yaitu (1) cerita yang dimainkan dalam drama, wayang, atau film (2) karangan yang berupa cerita sandiwara, dan (3) perbuatan, kejadian, peristiwa.
c.    Tonil. Istilah ini berasalh dari bahasa Belanda toneel, yang artinya pertunjukan. Istilah ini populer pada masa penjajahan Belanda.
d.    Teater. Istilah ini berasal dari kata Yunani theatron, yang arti sebenarnya adalah dengan takjub memandang, melihat. Pengertian dari teater adalah (1) gedung pertunjukan, (2) suatu bentuk pengucapan seni yang penyampaiannya dilakukan dengan dipertunjukkan di depan umum.
e.    Pentas. Pengertian sebenarnya adalah lantai ang agak tinggi, panggung, tempat pertunjukan, podium, mimbar, tribun.
f.    Sendratari. Kepanjangan akronim ini adalah seni drama dan tari, artinya pertunjukan serangkaian tari-tarian yang dilakukan oleh sekelompok orang penari dan mengisahkan suatu cerita dengan tanpa menggunakan percakapan.
g.    Opera. Artinya drama musik, drama yang menonjolkan nyanyian dan musik.
h.    Operet. Opera kecil, singkat, dan pendek.
i.    Tablo. Yaitu drama yang menampilkan kisa dengan sikap dan posisi pemain, dibantu oleh pencerita. Pemain-pemain tablo tidak berdialog.

B.    Bentuk-Bentuk Drama
1.    Berdasarkan bentuk sastra cakapannya, drama dibedakan menjadi:
a.    Drama puisi, yaitu drama yang sebagian besar cakapannya disusun dalam bentuk puisi atau menggunakan unsur-unsur puisi.
b.    Drama prosa, yaitu drama yang cakapannya disusun dalam bentuk prosa.
2.    Berdasarkan sajian isinya, dibedakan menjadi:
a.    Tragedi (drama duka), yaitu drama yang menampilkan tokoh yang sedih atau muram, yang terlibat dalam situasi gawat karena sesuatu yang tidak menguntungkan. Keadaan tersebut mengantarkan tokoh pada keputusasaan dan kehancuran. Dapat juga berarti drama serius yang melukiskan tikaian di antara tokoh utama dan kekuatan yang luar biasa, yang berakhir dengan malapetaka atau kesedihan.
b.    Komedi (drama ria), yaitu drama ringan yang bersifat menghibur, walaupun selorohan di dalamnya dapat bersifat menyindir, dan yang berakhir dengan bahagia.
c.    Tragikomedi (drama dukaria), yaitu drama yang sebenarnya menggunakan alur dukacita tetapi berakhir dengan kebahagiaan.
3.    Berdasarkan kuantitas cakapannya, dibedakan menjadi:
a.    Pantomim, yaitu drama tanpa kata-kata
b.    Minikata, yaitu drama yang menggunakan sedikit sekali kata-kata.
c.    Doalogmonolog, yaitu drama yang menggunakan banyak kata-kata.
4.    Berdasarkan besarnya pengaruh unsur seni lainnya
a.    Opera/operet, yaitu drama yang menonjolkan seni suara atau musik.
b.    Sendratari, yaitu drama yang menonjolkan seni eksposisi.
c.    Tablo, yaitu drama yang menonjolkan seni eksposisi.
5.    Bentuk-bentuk lain
a.    Drama absurd, yaitu drama yang sengaja mengabaikan atau melanggar konversi alur, penokohan, tematik.
b.    Drama baca, naska drama yang hanya cocok untuk dibaca, bukan dipentaskan.
c.    Drama borjuis, drama yang bertema tentang kehidupan kam bangsawan (muncul abad ke-18).
d.    Drama domestik, drama yang menceritakan kehidupan rakyat biasa.
e.    Drama duka, yaitu drama yang khusus menggambarkan kejathan atau keruntuhan tokoh utama
f.    Drama liturgis, yaitu drama yang pementasannya digabungkan dengan upacara kebaktian gereja (di Abad Pertengahan).
g.    Drama satu babak, yaitu lakon yang terdiri dari satu babak, berpusat pada satu tema dengan sejumlah kecil pemeran gaya, latar, serta pengaluran yang ringkas.
h.    Drama rakyat, yaitu drama yang timbul dan berkembang sesuai dengan festival rakyat yang ada (terutama di pedesaan).

C.    Perbedaan Drama dengan Naskah Sastra Lainnya
Apa yang membedakan teks drama dengan teks cerita rekaan? Anda tentu saja masih ingat bahwa dala novel Belenggu karya Armijn Pane, pengarangnya menceritakan kisahannya dengan melibatkan tokoh-tokoh Tono, Tini, Yah lewat kombinasi antara dialog dan narasi. Sementara itu, dalam teks drama yang lebih mendominasi adalah dialog. Narasi hanya terbatas berupa petunjuk pementasan yang disebut sebagai teks sampingan. Lewat petunjuk pementasan (yang kebanyakan dicetak miring) itulah pengaranag naskah drama memberi arahan penafsiran agar tidak terlalu melenceng ari apa yang sebenarnya dikehendaki.
Ciri khas apa yang terdapat dalam drama? Ada gerak seperti mengacungkan tangan, membentak, dan ketakutan. Dengan demikian, penulis lakon membeberkan kisahannya tak cukup jika hanya dibaca. Dibutuhkan gerak. Itulah yang disebut action. Pementasan di panggung. Penulis lakon membayangkan action para aktornya dalam bentuk dialog. Dan dialoglah bagian paling penting dalam drama. Lewat dialoglah kita bisa melacak emosi, pemikiran, karakterisasi, yang kesemuanya itu terhidang di panggung lewat action alias gerak. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan apabila seorang pakar drama kenamaan Moulton menyebut drama sebagai ’life presented in action’, alias drama adalah hidup yang ditampilkan dalam gerak. Dengan demikian, secara lebih ringkas drama adalah salah satu bagian dari genre sastra yang menggambarkan kehidupan dengan mengemukakan tikaian dan emosi lewat lakuan dan dialog, yang dirancang untuk pementasan di panggung (Sudjiman, 1990).

D.    Unsur-Unsur Drama
1.    Dalam drama tradisional (khususnya Aristoteles), lakon haruslah bergerak maju dari suatu beginning (permulaan), melalui middle (pertengahan), dan menuju pada ending (akhir). Dalam teks drama disebut sebagai eksposisi, komplikasi, dan resolusi.
Eksposisi, adalah bagian awal yang memberikan informasi kepada penonton yang diperlukan tentang peristiwa sebelumnya atau memperkenalkan siapa saja tokoh-tokohnya yang akan dikembangkan dalam bagian utama dari lakon, dan memberikan suatu indikasi mengenai resolusi.
Komplikasi, berisi tentang konflik-konflik dan pengembangannya. Gangguan-gangguan, halangan-halangan dalam mencapai tujuan, atau kekeliruan yang dialami tokoh utamanya. Alam komplikasi inilah dapat diketahui bagaimana watak tokoh utama (yang menyangkut protagonis dan antagonisnya).
Resolusi, adalah bagian klimaks (turning point) dari drama. Resolusi haruslah berlanagsung secara logis dan memiliki kaitan yang wajar dengan apa-apa yang terjadi sebelumnya. Akhir dari drama bisa happy-en atau unhappy-end.
2.    Karakter merupakan sumber konflik dan percakapan antartokoh. Dalam sebuah drama harus ada tokoh yang kontra dengan tokoh lain. Jika dalam drama karakter tokohnya sama maka tidak akan terjadi lakuan. Drama baru akan muncul kalau ada karakter yang saling berbenturan.
3.    Dialog merupakan salah satu unsur vital. Oleh karena itu, ada dua syarat pokok yang tidak boleh diabaikan, yaitu (1) dialog harus wajar, emnarik, mencerminkan pikiran dan perasaan tokoh yang ikut berperan, (2) dialog harus jelas, terang, menuju sasaran, alamiah, dan tidak dibuat-buat.

E.    UNSUR-UNSUR INTRINSIK DRAMA
Unsur-unsur intrinsik drama adalah unsur-unsur pembangunan struktur yang ada di dalam drama itu sendiri. Unsur-unsur intrinsik drama menurut Akhmad Saliman  (1996 : 23) ada 7 yakni : 1. Alur. 2. Amanat, 3. Bahasa, 4. Dialog, 5. Latar, 6. Petunjuk teknis, 7. Tema, 8. tokoh.
1.    Alur
Alur menurut Akhmah Saliman (1996 : 24), alur adalah jaringan atau rangkaian yang membangun atau membentuk suatu cerita sejak awal hingga akhir. Urutan alur terdiri atas 5 fase, yakni : 1. Perkenalan, 2. Awal masalah, 3. Menuju klimaks, 4. Klimaks, 5. Penyelesaian.
2.    Amanat
Menurut Akhmad Saliman (1996 : 67) amant adalah segala sesuatu yang ingin disampaikan pengarang, yang ingin ditanakannya secara tidak langsung ke dalam benak para penonton dramanya.
Harimurti Kridalaksana (183) berpendapat amanat merupakan keseluruhan makna konsep, makna wacana, isi konsep, makna wacana, dan perasaan yang hendak disampaikan untuk dimengerti dan diterima orang lain yang digagas atau ditujunya.
Amanat di dalam drama ada yang langsung tersurat, tetapi pada umumnya sengaja disembunyikan secara tersirat oleh penulis naskah drama yang bersangkutan. Hanya pentonton yang profesional aja yang mampu menemukan amanat implisit tersebut.
3.    Bahasa
Menurut Akhmad Saliman (1996 : 68), bahasa yang digunakan dalam drama sengaja dipilih pengarang dengan titik berat fungsinya sebagai sarana komunikasi.
Setiap penulis drama mempunyai gaya sendiri dalam mengolah kosa kata sebagai sarana untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya. Selain berkaitan dengan pemilihan kosa kata, bahasa juga berkaitan dengan pemilihan gaya bahasa (style).
Bahasa yang dipilih pengarang untuk kemudian dipakai dalam naskah drama tulisannya pada umumnya adalah bahasa yang mudah dimengerti (bersifat komunikatif), yakni ragam bahasa yang dipakai dalam kehidupan kesehatian. Bahasa yang berkaitan dengan situasi lingkungan, sosial budyaa, dan pendidikan.
Bahasa yang dipakai dipilih sedemikian rupa dengan tujuan untuk menghidupkan cerita drama, dan menghidupkan dialog-dialog yang terjadi di antara para tokoh ceritanya. Demi pertimbangan komunikatif ini seorang pengarang drama tidak jarang sengaja mengabaikan aturan aturan yang ada dalam tata bahasa baku.
4.    Dialog
Menurut Akhmad Saliman (1996 : 98) dialog adalah mimetik (tiruan) dari kehidupan keseharian. Dialog drama ada yang realistis komunikatif, tetapi ada juga yang tidak realistis (estetik, filosopis, dan simbolik). Diksi dialog disesuaikan dengan karekter tokoh cerita.
5.    Latar
Menurut Akhmad Saliman (1996 : 66), latar adalah tempat terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah drama. Latar tidak hanya merujuk kepada tempat, tetapi juga ruang, waktu, alat-alat, benda-benda, pakaian, sistem pekerjaan, dan sistem kehidupan yang berhubungan dengan tempat terjadinya peristiwa yang menjadi latar ceritanya.
6.    Petunjuk Teknis
Petunjuk teknis adalah rambu-rambu yang sengaja dicantumkan oleh seorang penulis naskah drama sebagai penuntun penafsiran bagi siapa saja yang ingin mementaskannya.
Petunjuk teknis dalam naskah drama bisa berupa paparan tentang adegan demi adegan, profil tokoh cerita, latar cerita (tempat adegan) tata lampu, tata musik, tata panggung, dan daftar properti yang harus disiapkan.
Tema menurut WJS Poerwadarminta (185 : 1040) tema adalah pokok pikiran. Mursal Esten (1990) berpendapat tema adalah sesuatu yang menjadi pikiran atau sesuatu yang menjadi persoalan.
Seorang pengarang drama, sadar atau tidak sadar pasti menyampaikan amanat dalam dramanya. Amanat bersifat kias, subjektif, dan umum. Setiap orang dapat saja saling berbeda pendapat dalam menafsirkan amanat yang disampaikan pengarang drama.
7.    Tokoh
Tokoh dalam drama disebut tokoh rekaan yang berfungsi sebagai pemegang peran watak tokoh. Itulah sebebanya istilah tokoh juga disebut karakter atau watak. Istilah penokohan juga sering disamakan dengan istilah perwatakan atau karakterisasi (tidak sama dengan karakteristik) (Saliman : 1996 : 32).
Menurut Akhmad Saliman (1996 : 25 : 27) berdasarkan peranannya di dalam alur cerita tokoh dapat diklasifikasikan menjadi 3 macam yakni : 1. Antagonis, tokoh utama berprilaku jahat, 2. Protagonis, tokoh utama berprilaku baik, 3. Tritagonis, tokoh yang berperanan sebagai tokoh pembantu. Selain itu, masih menurut Akhmad Saliman (1996 : 27) berdasarkan fungsinya di dalam alur cerita tokoh dapat diklasifikasi menjadi 3 macam juga, yakni : 1. Sentral, tokoh yang berfungsi sebagai penentu gerakan alur cerita, 2. Utama, tokoh yang berfungsi sebagai pendukung tokoh antagonis atau protagonis, 3. Tokoh pembantu, tokoh yang berfungsi sebagai pelengkap penderita dalam alur cerita.
Masih berkaitan dengan tokoh ini, ada istilah yang lajim digunakan yakni penokohan dan teknik penokohan. Penokohan merujuk kepada proses penampilan tokoh yang berfungsi sebagai pembawa peran watak tokoh cerita dalam drama. Sedangkan teknik penokohan adalah teknik yang digunakan penulis naskah lakon, sutradara, atau pemain dalam penampilan atau penempatan tokoh-tokoh wataknya dalam drama.
Teknik penokohan dilakukan dalam rangka menciptakan citra tokoh cerita yang hidup dan berkarakter. Watak tokoh cerita dapat diungkapkan melalui salah satu 5 teknik di bawah ini. 1. Apa yang dipikirkan, dirasakan, atau dikehendaki tentang dirinya atau tentang diri orang lain. 2. Lakuan, tindakan, 3. Cakapan, ucapan, ujaran, 4. Kehendak, perasaan, pikiran, 5. Penampilan fisik.
Tokoh watak atau karakter dalam drama adalah bahan baku yang paling aktif dan dinamis sebagai penggerak alur cerita. Para tokoh dalam drama tidak hanya berfungsi sebagai penjamin bergeraknya semua peristiwa cerita, tetapi juga berfungsi sebagai pembentuk, dan pencipta alur cerita. Tokoh demikian disebut tokoh sentra (Saliman, 1996 : 33).
Penokohan, gerak, dan cakapan adalah tiga komponen utama yang menjadi dasar terjadinya konflik (tikaian) dalam drama. Pada hakekatnya, konflik (tikaian) merupakan unsur instrinsik yang harus ada di dalam sebuah drama.
Tokoh cerita dalam drama dapat diwujudkan dalam bentuk 3 dimensi, meliputi . 1. Dimensi fisiologi, yakni ciri-ciri fisik yang bersifat badani atau ragawi, seperti usia, jenis kelamin, keadaan tubuh, ciri wajah, dan ciri-ciri fisik lainnya. 2. Dimensi psikologi, yakni ciri-ciri jiwani atau rohani, seperti mentalitas, temperamen, cipta, rasa, karsa, IQ, sikap pribadi, dan tingkah laku. 3. Dimensi sosiologis, yakni ciri-ciri kehidupan sosial, seperti status sosial, pekerjaan, jabatan, jenjang pendidikan, kehidupan pribadi, pandangan pribadi, sikap hidup, perilaku masyarakat, agama, ideologi, sistem kepercayaan, aktifitas sosial, aksi sosial, hobby pribadi, organisasi sosial, suku bangsa, garis keturunan, dan asal usul sosial.
 
TUGAS 5
Carilah salah satu contoh naskah drama lalu identifikasi unsur intrinsiknya!

JAWABAN:

 
DAFTAR PUSTAKA

Aminuddin. 2009. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Sinar Baru Algesindo Bandung
Badudu, J.S. 1984. Sari Kesusastaraan Indonesia. CV. Pustaka Prima. Bandung.
Colsoum Bachri, Sutardji. 2002. O Amuk Kapak. Yayasan Indonesia – Jakarta.
Endaswara, Suwardi. 2005. Metode Teori Pengajaran Sastra. Buana Pustaka. Yogyakarta.
Esten, Mursal. 1984. Kesusasteraan Pengantar Teori dan Sejarah. Angkasa. Bandung.
Guntur Tarigan, Henry. 1985. Prinsip – Prinsip Dasar Sastra. Angkasa. Bandung.
Hasyuni, Moeh. 1992. Gong., Esei – Esei dari Kampus. Teater Kampus Unhas. Makassar.
Junaedie, Moha. 1988. Teori dan Apresiasi Sastra II. IKIP. Ujung Pandang.
Khalik Sani, Abd. 2005. Apresiasi Sastra II. STKIP. Rappang.
K.M, Saini. 1995. Protes Sosial Dalam Sastra. Angkasa. Bandung.
Rosidi, Ajip. 1982. Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia. Bima Cipta. Bandung.
Semi, Atar. 1985. Kritik Sastra. Angkasa. Bandung.
Setia, Beni. 1988. Legiun Asing Tiga Kumpulan Sejarah. Balai Pustaka. Jakarta.
Suhendar, M.E, dan Supinah, Pien. 1990. Pendekatan Teori Sejarah dan Apresiasi Sastra Indonesia.
Suwarjo, Yaoeb. 1982. Masyarakat dan Sastra Indonesia. CV. Nur Cahaya. Yogyakarta.
Suroto, 1990. Apresiasi Sastra Indonesia. Erlangga. Jakarta.
Soemardjo, Selo. 1984. Budaya Sastra. CV. Rajawali. Jakarta.
Teeuw, A. 1983. Membaca dan Menilai Sastra. PT. Gramedia. Jakarta.
Waluyo, Herman J. 2002. Apresiasi Puisi. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.