Sekilas TPA Talang Agung

Wisata Edukasi ala Ecology-holic, TPA Talang Agung

Tempat Pembuangan Akhir (TPA) merupakan salah satu tempat pengumpulan dan pengelolaan terakhir sampah. Salah satu TPA yang terdapat di Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang yaitu TPA Talangagung. TPA Talangagung memiliki luas wilayah sebesar 2,5 hektar. TPA Talangagung bukan hanya sebagai tempat pengolahan terakhir sampah, namun merupakan salah satu TPA percontohan yaitu sebagai tempat wisata edukasi berbasis lingkungan.





Kesan pertama yang didapatkan setelah memasuki kawasan TPA Talangangung adalah tidak seperti memasuki kawasan TPA pada umumnya yang memiliki kesan kotor dan bau busuk. Kawasan TPA Talangagung ditumbuhi oleh tanaman hijau yang menghijaukan lokasiTPA. Jika pada umumnya di dekat TPA bertebaran lalat  dan bau busuk yang menyengat, namun tidak demikian halnya di TPA Talangagung. TPA ini lebih bisa dikatakan sebgai taman walaupun pada bagian belakang TPA ini memiliki bank sampah yang menyimpan sampah basah maupun sampah kering dalam jumlah yang sangat besar.




TPA Talangagung dibentuk dan dikembangkan oleh Dinas Pekerjaan Umum (PU) Cipta Karya. Berdirinya TPA Talangagung ini dilatar belakangi dari pendapat Bapak Koderi. Pada awal tahun 2009, bapak Koderi sebagai Kasi Kebersihan Bidang Kebersihan dan Pertamanan Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (CKTR) Kabupaten Malang mengajak warga di sekitar TPA Talangagung menyamakan persepsi untuk mengolah sampah menjadi barang bermanfaat bagi warga sekitar, dapat memanfaatkan sampah sebaik mungkin, sampah yang merupakan bahan buangan disulap menjadi barang yang bermanfaat.

Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya yang banyak terlibat dalam pembuatan TPA ini pun memiliki berbagai usaha dalam penciptaan lingkungan yang bersih, sehat dan nyaman. Usaha tersebut diantaranya adalah menyulap tempat pembuangan akhir (TPA) sampah Talangagung menjadi lokasi wisata edukasi. Pemanfaatan sampah yang terdapat di TPA Talangagung dilakukan dengan mengubah tumpukan sampah menjadi sumber energi alternatif biogas. Selain itu pengolahan sampah dilakukan dengan pengelolaan sampah organik menjadi  pupuk  melalui proses composting, dan pembuatan  pupuk organik plus yakni pencampuran kompos dengan pupuk kandang.

Sistem perangkutan sampah di TPA Talangagung dilakukan dengan perangkutan sampah diangkut truk masuk ke TPA  Talangagung, kemudian ditampung ke dalam bak besar untuk dipilah-pilah, antara sampah organik dan anorganik. Selain itu, di TPA Talangagung terdapat ada sejumlah pemulung dari warga Desa Talangagung yang diberdayakan oleh pengelola TPA  Talangagung. Dari bak, kemudian diolah sedemikian rupa, hingga menghasilakn  gas metan, yang disalurkan melalui pipa-pipa bawah tanah dan ditampung ke suatu tempat. Dari tempat itulah gas metan bisa dimanfaatkan oleh warga masyarakat sekitar secara gratis. 



Tujuan utama berdirinya TPA Talangagung adalah untuk memberikan pembelajaran kepada masyarakat tentang pengolahan sampah secara maksimal dan bagaimana teknologi dapat mengubah sampah yang sebelumnya di jauhi dan dipandang sebelah mata menjadi sesuatu yang sangat berguna. Dengan prinsip pemanfaatan gas metah yang dihasilkan dari pengelolaan sampah merupakan suatu inovasi energi terbarukan. Gas metan yang dihasilkan sangat berguna bagi penduduk sekitar di Desa Talangagung. Gas metan tersebut di manfaatkan sebagai pengganti penggunaan gas LPG, jika dibandingkan penggunaan gas metan untuk keperluaan memasak lebih ekonomis dibandingkan dengan menggunakan gas LPG.

Manfaat dari gas metan yang dihasilkan TPA Talangagung. Saat ini, pihak pengelola TPA Talangagung telah memanfaatkan gas metan itu, untuk berbagai inovasi. Seperti,untuk menggerakkan pompa air, menghasilkan listrik 5000 watt dan 22,5 KVA,  kompor “nonaku” BBG metan, panggang fill BBG metan, oven kue BBG metan, dan petromak BBG metan. Gas metan adalah salah satu penyebab kerusakan ozon. Tapi karena sampah diolah, akhirnya gas metan yang bisa merusak ozon itu bisa dimanfaatkan, baik untuk tenaga lisrik, masak dan sebagainya.


Analisis yang terhadap TPA Talangagung yaitu analisis lingkungan, sosial dan ekonomi. Dari segi lingkugan TPA Talangagung pengendalian dan pemanfaatan dari gas metan yang dihasilakan dapat membantu mengurangi dampak dari pemanasan global dan mengurangi pencemaran lingkungan. Dari segi sosial penduduk sekitar TPA Talangagung membangun paradigma mengenai sampah yang semulanya sampah merupakan benda yang tidak bernilai dengan adanya TPA Talangagung yang memanfaatkan sampah-sampah menjadi sesuatu yang berharga  bagi masyarkat sekitar. Untuk segi ekonomi dari pemanfaatan gas metan warga dapat menghemat pendapatan mereka dengan menggunakan gas metan sebagai pengganti gas LPG. Selain itu, sampah yang diolah menjadi gas metana (CH4) atau bio gas ini  digunakan secara gratis, sehingga kini  sekitar 60 KK masyarakat di sekitar TPA talangagung,  tak lagi membeli LPG untuk masak. Mereka gratis mengambil gas metan dari  TPA  Talangagung, yang sudah diproses dan ditampung di sebuah stasiun kecil. Sebelum dialiri ke rumah-rumah warga, gas metan yang dihasilkan dilakukan pemilahan terlebih dahulu.