Masjidil haram terambil dari akar kata “masjid” dan “haram”. Al-Masjid adalah ketaatan atau suatu aturan yang harus ditegakkan yang terangkum didalamnya aturan-aturan. Al-masjid ini bisa saja masjidillah yaitu ketaatan yang bersumber dari Allah, lillah yang merujuk kepada kepada Allah, ataupun masjid2 yang didirikan atas kekafiran dan kemusriykan. Masjid yang didirikan atas kekafiran juga merupakan suatu bentuk syariat yang dibuat untuk penyembahan kepada berhala, maupun syariat2 yang dibuat-buat oleh pemuka-pemuka agama kemudian mengatakan bahwa ini dari Allah. 

Mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan itu.(QS 9:9)

Jika kita tunduk kepada suatu aturan, maka ia dikatakan “ TAAT” , kemudian apabila tunduk kepada suatu larangan, maka ia akan dikatakan “TAAT LARANGAN”
 
Al-Masjid adalah ketaatan, dimana kata ini terdapat didalam al-quran yang merupakan petunjuk kepada jalan kebenaran, maka masjid yang terdapat didalam al-quran adalah taat kepada apa2 yang dituliskan didalam al-quran itu sendiri. Meskipun al-quran disalah satu ayatnya mengatakan tentang masjid yang didirikan oleh mereka yang kafir adalah masjid atau ketaatan yang bertentangan dengan dengan Al-quran. Tetapi masjid tersebut diikuti penjelasan yang jelas mengenainya, kemudian melarang orang2 yang beriman untuk memasukinya atau mentaatinya. Dan itu juga merupakan salah satu ketaatan yang harus dipatuhi. Namun secara umum perkataan Al-masjid tanpa diikuti keterangan khusus, maka ia adalah masjidlillah yaitu ketaatan kepada Allah. 

Masjid adalah ketaatan kepada Allah, sedangkan haram adalah larangan, maka masjidil haram akan bermakna ketaatan kepada larangan, atau batas-batas larangan yang diperintahkan. Pengertian masjidil haram sudahlah mapan dikalangan muslimin yaitu sebuah masjid suci yang terdapat di Mekkah kemudian menjadi kiblat umat islam dalam melaksanakan sembahyang. Pengambilan nama (proper name) dari satu ayat al-quran kemudian dijadikan penamaan suatu tempat atau bangunan tanpa pertimbangan akan dapat membawa kata-kata lainnya juga dapat dijadikan hal yang serupa. Ini menjadikan batas2 informasi yang dibawa al-quran itu sendiri menjadi lemah.

Masjidl haram bukanlah bangunan fisik, kemudian teridikasi kata tersebut menjadi metafor sebagaimana masjid. Sesungguhnya makna dasar dan awal kata tersebut bukanlah penamaan benda fisik. Dikarenakan pemahaman yang sudah terbentuk didalam diri kita semenjak kita mengetahui islam (semenjak kita lahir) adalah sebuah bangunan fisik maka ketika kata itu kita kembalikan kemakna asalnya seolah-olah kata tersebut menjadi makna metafor atau makna tersirat. 

Masjidil haram adalah ketaatan kepada larangan2 Allah, kemudian masjidil aqso adalah ketaatan yang sama namun penekannya bukan pada larangan. Ketaatan dimulai dari batas2 larangan kemudian bergerak kepada ketaatan yang harus ditunaikan atas kemampuan yang kita miliki, sejauh yang kita mampu. Dan pasti kemampuan tersebut akan mendatangkan kedekatan kepada pencipta dan keridhoaa-Nya. Masjidil aqso secara mudah dapat juga dikatakan ketaatan yg jauh. Kata      اقْصَي –Aqsho juga terdapat pada QS 28:20 - Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota(أَقْصَى الْمَدِينَةِ ) bergegas-gegas seraya berkata: "Hai Musa, sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu, sebab itu keluarlah (dari kota ini) sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasehat kepadamu".

Ujung kota mengisyaratkan kepada kota yang sama, atau daerah yang sama namun pada bagian tepi atau bagian terjauhnya.

Juga pada QS 36:20 - Dan datanglah dari ujung kota (أَقْصَى الْمَدِينَةِ ), seorang laki-laki dengan bergegas-gegas ia berkata: "Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu".

Dien yang Allah turunkan adalah syariat yang mesti dipatuhi, ia bermula kepada larangan2  yang harus ditaati, mutlak dan tidak bisa tidak. Inilah batas2 muslim. 

Kemudian  ketaatan atau kebaikan2 yang diperintahkan. Kebaikan2 dan amal2 sholeh tidaklah bersifat memaksa/dilanggar, lebih kepada anjuran yang sangat dianjurkan, kemudian usaha manusia untuk semakin menekankan kebaikan tersebut semampu kemampuan yang ada atau sejauh kesanggupan hamba itu sendiri. Dengan kata lain kebaikan itu sendiri tidaklah ada batasnya, sedangkan larangan tentu saja ada batas-batasnya yang tidak boleh dilanggar. Meskipun ketaatan yang jauh (tanpa batas :red) , tetapi ia masih dalam lingkup ketaatan. Larangan dan anjuran berada dalam aturan atau syariat yang diturunkan Allah, diluar itu semua pastilah ketaatan kepada selain Allah.

Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan. (QS 2:110)


Perjanjian Allah dengan Bani Israel

 Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk). (QS 2:40)

Demikian bunyi surat al-baqarah ayat 40 untuk memulai kisah bani israel. Dari susunan surat dalam al-quran, albaqarah termasuk surat pembuka atau awal dari petunjuk yang diturunkan dari Allah, tentu saja susunan surat2 didalam al-quran adalah sesuai dengan kehendak Allah sendiri yang diperintahkan kepada muhammad untuk meletakkan dimana suatu surat mesti ditempatkan didalam al-quran. Sebelum sampai kepada ayat tersebut al-quran menceritakan perihal dirinya, yaitu sebagai petunjuk bagi segenap manusia kemudian tidak ada keraguan didalmnya dan bersumber dari tuhan.

Al-quran turun kepada bangsa arab melalui salah satu manusia arab dimana bangsa ini belum pernah kedatangan seorang nabi-pun sebelumnya untuk mengingatkan mereka dari Allah.

فَإِنْ حَاجُّوكَ فَقُلْ أَسْلَمْتُ وَجْهِيَ لِلَّهِ وَمَنِ اتَّبَعَنِ ۗ وَقُل لِّلَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَالْأُمِّيِّينَ أَأَسْلَمْتُمْ ۚ فَإِنْ أَسْلَمُوا فَقَدِ اهْتَدَوا ۖ وَّإِن تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَاغُ ۗ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ

Kemudian  mereka mendebat kamu , maka katakanlah: "Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku". Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi: "Apakah kamu mau berserah diri". Jika mereka berserah diri, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (QS 3:20)

Al-quran turun kepada bangsa arab, namun jelas diatas, ketika al-quran turun pada saat itu  diterima oleh  2 golongan manusia .1. ummi yaitu  orang2 yang belum pernah diberi peringatan sebelumnya, atau tidak mengenal adanya peristiwa seorang manusia membawa pesan dari tuhannya yang berbentuk tulisan (kitab) , 2. non ummi yaitu orang2 yang telah mengenal tradisi pesan (kitab) dari tuhannya yang disebut ahli kitab. Kemudian perdebatan mengenai isi pesan itu telah terjadi diantara nabi dan ahli kitab

Defenisi ummi bukanlah buta huruf, tetapi mereka yang belum mengenal tradisi kenabian. Jika orang2 arab (QS3:30) adalah buta huruf maka diperlukan bangsa lain untuk mengajarkan huruf arab kepada bangsa arab, padahal didunia ini hanya orang arab yang memakai bahasa dan tulisan arab, sehingga tidak tepat mengatakan ummi adalah buta huruf demikian juga nabi yang ummi bukanlah nabi yang buta huruf.

Al-quran ternyata adalah juga dialog langsung kepada ahl kitab, karena pesannya banyak mengulang dan menceritakan ahli kitab untuk membenarkan al-quran sebagaimana mereka mengimani kitab yang ada pada tangan mereka. Perdebatan dengan ahli kitab ini banyak kita jumpai didalam al-quran. Sesungguhnya al-quran ini adalah benar dari tuhan membenarkan apa-apa yang ada ditangan mereka, sebelum mereka merubah-rubah keterangan dari Allah, sedangkan mereka mengetahuinya, kemudian al-quran kembali menegaskan untuk mengikuti petunjuk tersebut yang mana janji itu diulang lagi didalam al-quran, atau apa yang diturunkan kepada mereka sama dengan apa yang diturunkan kepada hambanya muhammad, dan ikutilah petunjuk tersebut. Allah menagih janji yang telah diturunkan kepada mereka melalui al-quran yang diturunkan kepada muhammad.

Dan Kami  turunkan kepadamu kitab dengan Haq, membenarkan apa yang ada diatara kedua tangan mereka dari kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan sebagai batu ujian terhadapnya; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu, (Al-Maaidah: 48)

Tidaklah  dijadikan Al Quran ini untuk mengada-adakan apa yang dari  selain Allah; akan tetapi membenarkan apa yang ada diantara kedua tangan mereka dan menjelaskan kitab yang tidak ada keraguan didalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam. (Yunus: 37)

Kenabian muhammad banyak ditentang oleh bangsa arab sendiri karena dengan sendirinya menghapuskan kepercayaan dan tradisi turun temurun dari nenek moyang mereka.  Sebagian mereka menanyakan perihal kenabian muhammad melalui ahli kitab yang memang sudah ada di mekkah maupun medinah. Para ahli kitab-pun membawa apa yang ada pada mereka, kemudian menguji kenabian muhammad berdasarkan keterangan muhammad sendiri bahwa ia diutus kepada manusia dari tuhan yang sama yang telah mengutus isa, musa dan mengikuti agama ibrahim yang lurus. Sedangkan para ahli kitab sendiri bersikeras bahwa mereka adalah pewaris nabi2 atau pengikut nabi dan rasul Allah yang disebutkan tersebut bahkan ditangan mereka masih memegang kitab yang diturunkan oleh Allah. Perdebatan ini banyak kita jumpai didalam al-quran itu sendiri, bahkan al-quran memerintahkan muhammad agar mengikuti apa yang diturunkan Allah kepadanya, jangan mengikuti mereka atau meninggalkan kebenaran yang turunkan kepadanya.

Secara tersirat al-quran tidaklah menghapus atau membatalkan kitab2 yang diturnkan sebelumnya yang ada ditangan para ahli kitab, namun juga tidak serta merta membenarkan apa yang ada pada mereka. Bunyi ayat yang sering diulang didalam al-quran adalah membenarkan kitab2 yang ada pada tangan mereka, juga al-quran memberikan informasi adanya beberapa keterangan yang sudah diada-adakan oleh mereka yang bukan berasal dari Allah. Bahkan Allah memerintahkan untuk menegakkan apa yang ada pada mereka.

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَسْتُمْ عَلَىٰ شَيْءٍ حَتَّىٰ تُقِيمُوا التَّوْرَاةَ وَالْإِنجِيلَ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ ۗ وَلَيَزِيدَنَّ كَثِيرًا مِّنْهُم مَّا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ طُغْيَانًا وَكُفْرًا ۖ فَلَا تَأْسَ عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, tidaklah kamu diatas apapun (kebenaran) sampai kamu menegakkan  Taurat, Injil, dan apa  yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu". Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu akan menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada kebanyakan dari mereka; maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir itu. (Al-Maaidah: 68)

Dan sesungguhnya apa yang diturunkan kepada muhammad adalah apa yang diturunkan juga kepada mereka, sehingga mengikuti al-quran (apa  yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu ) adalah juga menegakkan apa yang ada pada mereka.

Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu (QS Al-A’laa :18)

Dan sesungguhnya (Al Quran) itu benar-benar (tersebut) dalam Kitab-kitab orang yang dahulu. (Ash-Syu'araa': 196)

Namun perdebatan dengan ahli kitab terus terjadi, diantaranya......

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti  mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (Al-Baqarah: 120)

 Dan mereka berkata: "Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk". Katakanlah: "Tidak, melainkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik". (Al-Baqarah: 135)

 Dan janganlah kamu percaya melainkan kepada orang yang mengikuti agamamu. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk (yang harus diikuti) ialah petunjuk Allah, dan (janganlah kamu percaya) bahwa akan diberikan kepada seseorang seperti apa yang diberikan kepadamu, dan (jangan pula kamu percaya) bahwa mereka akan mengalahkan hujjahmu di sisi Tuhanmu". Katakanlah: "Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Luas karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui"; (Ali-Imran: 73)

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman. (Ali-Imran: 100)

Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya. (An-Nisaa': 125)

 Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: "Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?" Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?" (Al-An'aam: 50)

Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya). (Al-A'raaf: 3)

 Keterangan yang dibawa Al-quran adalah kitab ini berasal dari Allah yang diturunkan kepada hambanya sebagai petunjuk bagi segenap manusia, sebagaimana kitab2 terdahulu yang diturunkan kepada nabi-nabi-Nya. Sebagian ada pada mereka (ahli kitab), membenarkan kitab2 tersebut bagi mereka yang tidak percaya sebelumnya, dan sekaligus koreksi atas kitab2 itu bagi mereka yang sudah mempercayainya/mengimaninya. Al-quran tidak membatalkan apa yang seblumnya namun membenarkan sekaligus membetulkan apa2 yang telah turun kemudian telah diubah ataupun telah dilupakan manusia atas perintah-Nya. Bagi mereka yang belum mempercayainya ( kaum paganis) dapat menanyakan hal tersebut kepada ahli kitab, dan bagi Ahli kitab, ikutilah al-quran sebagaimana kalian mengikuti apa yang ada ditangan kalian, karena sesungguhnya kitab2 yang diturunkan seblumnya adalah juga apa yang diturunkan kepada hambanya muhammad jika kalian beriman kepada Allah dan rasul sebelumnya.

 Al-quran kembali mengulang ketaatan2 yang harus ditunaikan yang terdapat pada kitab seblumnya bagi ahli kitab sekaligus bagi mereka yang ummi. Kemudian Allah menagih janji tersebut kepada ahli kitab maka Allah akan tunaikan janji-Nya kepada mereka, sekaligus ketaatan bagi mereka yang mempercayai al-quran dari kalangan quraisy

يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ

Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk). (QS 2:40)

Janji yang harus mereka taati adalah masjid-masjid Allah, sebagaiman yang tertulis dikitab sebelumnya, kemudian diulangi lagi didalam al-quran, antara lain...

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِّنكُمْ وَأَنتُم مُّعْرِضُونَ

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling. (QS 2:83)

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ لَا تَسْفِكُونَ دِمَاءَكُمْ وَلَا تُخْرِجُونَ أَنفُسَكُم مِّن دِيَارِكُمْ ثُمَّ أَقْرَرْتُمْ وَأَنتُمْ تَشْهَدُونَ

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu (yaitu): kamu tidak akan menumpahkan darahmu (membunuh orang), dan kamu tidak akan mengusir dirimu (saudaramu sebangsa) dari kampung halamanmu, kemudian kamu berikrar (akan memenuhinya) sedang kamu mempersaksikannya(QS 2:84)

Kemudian dibeberapa ayat yang lain juga terdapat larangan dalam makanan, dan larangan2 lain tersebar dibeberapa ayat dalan al-quran . Yang pada dasarnya masjidil haram yang terdapat didalam al-quran adalah masjid2 yang sama yang telah diturunkan sebelumnya, disampaing ada penambahan dari ketentuan Allah.

ثُمَّ أَنتُمْ هَٰؤُلَاءِ تَقْتُلُونَ أَنفُسَكُمْ وَتُخْرِجُونَ فَرِيقًا مِّنكُم مِّن دِيَارِهِمْ تَظَاهَرُونَ عَلَيْهِم بِالْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَإِن يَأْتُوكُمْ أُسَارَىٰ تُفَادُوهُمْ وَهُوَ مُحَرَّمٌ عَلَيْكُمْ إِخْرَاجُهُمْ ۚ أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَاءُ مَن يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰ أَشَدِّ الْعَذَابِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

Kemudian kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan daripada kamu dari kampung halamannya, kamu bantu membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan; tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal mengusir mereka itu (juga) terlarang bagimu. Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab  dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat. (QS 2:85)

Larangan2 yang Allah perintahkan kebanyakan mereka langgar. Larangan2 inilah yang dimaksud dengan masjidil haram. Jika kita mengambil referensi diluar al-quran (meski kita tidak menyakini benar atau salahnya/sudah ada perubahan)  janji yang Allah turunkan kepada bani israel melalui nabi musa dikenal dengan 10 order of good

  1. Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.
  2. Jangan membuat bagimu patung atau sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya.
  3. Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan.
  4. Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat.
  5. Hormatilah ayahmu dan ibumu.
  6. Jangan membunuh.
  7. Jangan berzinah.
  8. Jangan mencuri.
  9. Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.
  10. Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau apapun yang dipunyai sesamamu.

Sebagian besar berupa Larangan dan beberapa terdapat didalam al-quran itu sendiri. Ketaatan dan ketaatan kepada larangan ini adalah masjidil haram, yaitu janji yang Allah berikan kepada bani israel untuk dipatuhi. Agar mereka mengikuti Dien/cara hidup yang diridhoi Allah.

Allah telah memerintahakan mereka yang beriman untuk mentaati atau meluruskan wajah mereka kepada masjidil haram dimana, dan kapan saja mereka berada ataupun apa saja kegiatan mereka. Perintah yang sama juga telah diperintahakan kepada bani israel sebelumnya melalui nabinya. Sebahagian dari mereka mentaati dan sebagian mereka menukar perintah Allah dengan membuat atau mengada-adakan masjidil haram kemudian mengatakan bahwa ini dan itu berasal dari Allah. 

Perintah yang sama Allah berikan kepada mereka yang beriman kepada al-quran, sekaligus membenarkan atau memperjelas perintah itu kepada ahli kitab untuk menunaikan perintah yang sama sebagaimana sebelumnya mereka diperintahkan. Mereka (ahli kitab) mengenal masjidil haram itu sebagaimana mereka mengenal anak mereka sendiri, karena perintah dan larangan2 yang sama juga ada didalm kitab ataupun risalah nabi2 sebelumnya. Keberatan lain dari Ahli kitab adalah mengapa perintah itu diturunkan kepada bangsa arab, yaitu bangsa yang tidak mereka kenal dalam tradisi kenabian. Dan seluruh nabi dan rasul beserta kitab2-nya selalu diturunkan dikalangan mereka, sehingga mereka keberatan untuk merubah kiblatnya dari apa yang ada ditangan mereka kepada al-quran yang diturunkan sesudahnya kepada bangsa non yahudi.

Kemudian al-quran menjawab keberatan mereka

سَيَقُولُ السُّفَهَاءُ مِنَ النَّاسِ مَا وَلَّاهُمْ عَن قِبْلَتِهِمُ الَّتِي كَانُوا عَلَيْهَا ۚ قُل لِّلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ ۚ يَهْدِي مَن يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

Akan berkata orang-orang yang kurang akal dari manusia: “Apa yang memalingkan mereka dari kiblat yang  sebelumnya mereka berpaling kearahnya ?Katakanlah: "Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus". (QS 2:142)

Kiblat diatas tidak menerangkan apa2 mengenai ritual sembahyang sebagaimana banyak dipahami kaum muslimin. Disana tidak menceritakan kegiatan apapun selain mengarahkan wajahmu kepada masjidil haram yang menjadi kiblat baru setelah al-quran diturunkan. Masjidil haram bukanlah hal yang baru, tetapi membenarkan sekaligus membetulkan masjidil haram sebelumnya yang telah diada-adakan oleh mereka yang menukar ayat2 Allah dengan harga yang sedikit, hal yang baru hanyalah ia terdapat didalam kitab yang baru yaitu al-quran, dimana sebelumnya juga turun hal yang serupa menerangkan perjanjian mereka(ahli kitab) dengan Allah yaitu masjidil haram . Mengikuti perintah yang sama namun pada tempat yang berbeda inilah yang menjadi keberatan para ahli kitab, dimana perintah tersebut turun didaerah arab, bukan daerah konsentrasi bani israel seperti sebelumnya.

بِئْسَمَا اشْتَرَوْا بِهِ أَنفُسَهُمْ أَن يَكْفُرُوا بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ بَغْيًا أَن يُنَزِّلَ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ عَلَىٰ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۖ فَبَاءُوا بِغَضَبٍ عَلَىٰ غَضَبٍ ۚ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ مُّهِينٌ

Alangkah buruknya (hasil perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya. Karena itu mereka mendapat murka sesudah (mendapat) kemurkaan. Dan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan.(QS 2:90)

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ قَالُوا نُؤْمِنُ بِمَا أُنزِلَ عَلَيْنَا وَيَكْفُرُونَ بِمَا وَرَاءَهُ وَهُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقًا لِّمَا مَعَهُمْ ۗ قُلْ فَلِمَ تَقْتُلُونَ أَنبِيَاءَ اللَّهِ مِن قَبْلُ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Berimanlah kepada Al Quran yang diturunkan Allah," mereka berkata: "Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami". Dan mereka kafir kepada Al Quran yang diturunkan sesudahnya, sedang Al Quran itu adalah (Kitab) yang hak; yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah: "Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman?" (QS 2:91)

Allah berkehendak menurunkan petunjuknya dimana saja yang IA kehendaki, dan tidak ada daerah istimewa ataupun lebih suci/sakral diantara seluruh permukaan bumi, sesunggunya kepunyaan Allah-lah barat dan timur.

Muhammad tidaklah mengikuti apa2 selain apa yang diwahyukan kepadanya, dan beliaupun tidaklah berkiblat kemanapun sebelumnya. Pemindahan kiblat hanya terjadi kepada para Ahli kitab ataupun mereka yang telah beriman kepada Allah sebelumnya melalui nabi2 sebelumnya. Sehingga penyataan bahwa rasulullah berkiblat kepada suatu tempat sebelumnya kemudian dialihkan ketempat lain tidaklah masuk akal. Disaat al-quran turun tidaklah ada bangunan fisik yang disebut masjid saat itu.


Kiblat kepada aturan-aturan Allah

Lanjutan ayat diatas........

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا ۗ وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنتَ عَلَيْهَا إِلَّا لِنَعْلَمَ مَن يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّن يَنقَلِبُ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ ۚ وَإِن كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ ۗ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَّحِيمٌ


Dan demikian itu Kami telah menjadikan kamu, umat pertengahan agar kamu menjadi saksi atas manusia dan menjadikan Rasul saksi atas kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang kamu merujuk atasnya melainkan agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik darinya. Dan sungguh itu amat berat, kecuali bagi orang-orang diatas petunjuk Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.(QS 2:143)

Bagi ahli kitab, meninggalkan sesuatu yang sudah menjadi pegangan selama hidup dan beralih kepada apa yang dibawa rasul yang bahkan ia bukan dari kalangan yang diharapkan sangatlah berat, kecuali mereka2 yang tulus dan benar2 beriman kepada Allah, kemudian Allah akan mengganjar kebaikan yang lebih atas keimanan mereka, baik sebelumnya maupun setelah mengikuti muhammad. Bagi mereka yang ummi kemudian mempercayai muhammad, meninggalkan thogut sudah menjadikan mereka nyakin tentang apa2 yang dibawa nabi tsb. Mereka benar2 didalam petunjuk Allah ketika meninggalkan thogut dan sebelumnya tidaklah berkiblat kemanapun dari petunjuk Allah, tentu telah lepas segala keberatan yang mengganjal didalam hatinya dalam mengikuti setiap perintah mentaati Allah dan rasulnya.

 قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ ۗ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّهِمْ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

Sungguh Kami  melihatmu membalikkan wajahmu ke langit, maka  Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi Al Kitab sungguh mengetahui, bahwa yang demikian itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. (QS 2:144)

Sesungguhnya rasulullah selalu meminta petunjuk kepada Allah dalam memutuskan setiap perkara, terlebih dengan para ahli kitab yang membawakan hukum mereka berdasarkan kitab mereka. QS 2:144 kembali menegaskan untuk mengikuti apa2 yang diturunkan tuhanmu kepadamu, dan janganlah ikuti langkah2 setan. Maka palingkan wajahmu atau ikutilah masjidil haram. Yaitu ketentuan dan aturan2 Allah berupa ketaatan dan larangan, kemudian putuskanlah hukum di atasnya. Sesungguhnya merujuk kepada masjidil haram adalah kebenaran dari Allah dan ahli kitab sungguh mengetahui hal tersebut memang benar dari tuhan mereka, sebagaimana ia ada didalam kitab mereka dan perintah yang sama juga berlaku didalam kitab mereka. Sehingga merujuk kepada masjidil haram adalah sama merujuk kepada kitab sebelumnya,sehingga setiap perkara diputuskan berdasarkan hukum Allah

 Bahkan pada ayat lain Allah memerintahkan untuk berpaling saja dari mereka, apabila mereka mengajukan suatu urusan kepadamu namun dengan mengikuti hukum yang mereka bawa atau kitab yang telah mereka ubah atas nafsu2 mereka.

سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ أَكَّالُونَ لِلسُّحْتِ ۚ فَإِن جَاءُوكَ فَاحْكُم بَيْنَهُمْ أَوْ أَعْرِضْ عَنْهُمْ ۖ وَإِن تُعْرِضْ عَنْهُمْ فَلَن يَضُرُّوكَ شَيْئًا ۖ وَإِنْ حَكَمْتَ فَاحْكُم بَيْنَهُم بِالْقِسْطِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram. Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta putusan), maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka, atau berpalinglah dari mereka; jika kamu berpaling dari mereka maka mereka tidak akan memberi mudharat kepadamu sedikitpun. Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil. (Al-Maaidah:42)

 وَكَيْفَ يُحَكِّمُونَكَ وَعِندَهُمُ التَّوْرَاةُ فِيهَا حُكْمُ اللَّهِ ثُمَّ يَتَوَلَّوْنَ مِن بَعْدِ ذَٰلِكَ ۚ وَمَا أُولَٰئِكَ بِالْمُؤْمِنِينَ

Dan bagaimanakah mereka mengangkatmu menjadi hakim mereka, padahal mereka mempunyai Taurat yang didalamnya (ada) hukum Allah, kemudian mereka berpaling sesudah itu (dari putusanmu)? Dan mereka sungguh-sungguh bukan orang yang beriman. (Al-Maaidah:43)

 إِنَّا أَنزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ ۚ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا وَالرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ بِمَا اسْتُحْفِظُوا مِن كِتَابِ اللَّهِ وَكَانُوا عَلَيْهِ شُهَدَاءَ ۚ فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا ۚ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.  (Al-Maaidah:44)

وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيهَا أَنَّ النَّفْسَ بِالنَّفْسِ وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ وَالْأَنفَ بِالْأَنفِ وَالْأُذُنَ بِالْأُذُنِ وَالسِّنَّ بِالسِّنِّ وَالْجُرُوحَ قِصَاصٌ ۚ فَمَن تَصَدَّقَ بِهِ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَّهُ ۚ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada qishaashnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak qishaash)nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.  (Al-Maaidah:45)

وَقَفَّيْنَا عَلَىٰ آثَارِهِم بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ التَّوْرَاةِ ۖ وَآتَيْنَاهُ الْإِنجِيلَ فِيهِ هُدًى وَنُورٌ وَمُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ التَّوْرَاةِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةً لِّلْمُتَّقِينَ

Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi nabi Bani Israil) dengan Isa putera Maryam, membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang didalamnya (ada) petunjuk dan dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.  (Al-Maaidah:46)

وَلْيَحْكُمْ أَهْلُ الْإِنجِيلِ بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فِيهِ ۚ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah didalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik. (Al-Maaidah:47)

وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَاحْكُم بَيْنَهُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ ۚ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

Dan Kami  turunkan kepadamu(muhammad) kitab dengan Haq, membenarkan apa yang ada diatara kedua tangan mereka dari kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan sebagai batu ujian terhadapnya; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu, (Al-Maaidah: 48)

 وَأَنِ احْكُم بَيْنَهُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَن يَفْتِنُوكَ عَن بَعْضِ مَا أَنزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ فَإِن تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَن يُصِيبَهُم بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ ۗ وَإِنَّ كَثِيرًا مِّنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ

dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (Al-Maaidah: 49)

Demikianlah Allah menjadikan Al-quran sebagai kiblat sebagai petunjuk dan hakim dalam memutuskan segala perkara. Didalamnya ada masjidil haram, yaitu ketaatan yang harus ditunaikan agar mereka dapat membersihkan diri dan meraih petunjuk dari Allah.

Kiblat yang dimaksud didalam QS 2:144 diatas bukanlah kiblat dalam arti fisik atau suatu tempat geografis, ini diperjelas oleh ayat selanjutnya QS 2:145

 وَلَئِنْ أَتَيْتَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ بِكُلِّ آيَةٍ مَّا تَبِعُوا قِبْلَتَكَ ۚ وَمَا أَنتَ بِتَابِعٍ قِبْلَتَهُمْ ۚ وَمَا بَعْضُهُم بِتَابِعٍ قِبْلَةَ بَعْضٍ ۚ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُم مِّن بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ إِنَّكَ إِذًا لَّمِنَ الظَّالِمِينَ

Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang  yang diberi Al Kitab  setiap  ayat (keterangan), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamupun tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebahagian merekapun tidak akan mengikuti kiblat sebahagian yang lain. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu -- kalau begitu -- termasuk golongan orang-orang yang zalim (QS 2:145)

Seandainya kamu mendatangkan ayat2 ini (al-quran) kepada ahli kitab (yahudi maupun nasrani yang masing2 memegang kitab mereka masing2), mereka tidak akan mengikuti al-quran itu, begitu juga kamu tidak akan mengikuti kitab mereka setelah datang kepadamu keterangan dan petunjuk dari Allah, demikian juga diantara mereka tidak akan mengikuti selain apa yang ada ditangan mereka.

Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Berimanlah kepada Al Quran yang diturunkan Allah," mereka berkata: "Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami". Dan mereka kafir kepada Al Quran yang diturunkan sesudahnya, sedang Al Quran itu adalah (Kitab) yang hak; yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah: "Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman?" (QS 2:91)

Ini menandakan bahwa setiap mereka yaitu ahli kitab telah mempunyai kiblat mereka masing2. Jika kita beranggapan bahwa kiblat yang dimaksud diatas merupakan tempat geografis, maka kita dapat menanyakan kepada mereka, dimanakah tempat tersebut ?. Sedangkan kita tahu bahwa yahudi maupun nasrani tidaklah melakukan sembahyang yang diarahkan kepada tempat manapun. Nabi isa tidaklah sujud atau melakukan sembahyang kepada arah tertentu, begitu juga nabi musa. Al-quran tidak memberikan keterangan perihal tersebut dan didalam kitab mereka masing2(yahudi maupun nasrani) juga tidak mencantumkan hal yang demikian. Hanyalah umat muslim yang mengklaim mempunyai kiblat berupa tempat geografis berdasarkan al-quran, padahal jika kita teliti ,al-quran juga tidak menceritakan perihal kiblat berupa tempat fisik maupun geografis. Jika kita teruskan membaca kelanjutan ayat diatas, maka semakin jelas apa yang dimaksud kemudian semakin menafikkan maksud dari kiblat sebagai tempat geografis yang diklaim sebahagian besar muslim.

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ ۖ وَإِنَّ فَرِيقًا مِّنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Orang-orang  yang telah Kami beri Al Kitab  mengenalnya(nya=masjidil haram)  seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui. (QS 2:146)

Kutipan ayat sebelumnya ..................................sesungguhnya orang-orang yang diberi Al Kitab sungguh mengetahui, bahwa yang demikian itu adalah benar dari Tuhannya.................................................................... (QS 2:144) 

 Kemudian................................... Orang-orang  yang telah Kami beri Al Kitab  mengenalnya(nya=masjidil haram)  seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri......................................................................... (QS 2:146)

Mengetahui ia benar dari Allah bahkan mengetahuinya seperti mereka mengenal anaknya sendiri mengisyaratkan bahwa kiblat tempat memalingkan wajah yaitu masjidil haram adalah kiblat yang sudah mereka ketahui melalui kitab yang ada pada tangan mereka masing2, bahkan perintah itu telah mereka pelajari dan ikuti selama hidup mereka dalam keimanan kepada apa yang mereka pegang dan ikuti. Jikalah kiblat itu merupakan suatu tempat di mekkah, maka mekkah tidak mereka kenal didalam kitabnya sekaligus mereka tidak mengenalnya sebagaimana mereka mengenal anak mereka sendiri. Sehingga mengetahui bahwa mereka menyakini ia benar dari Allah tidak mempunyai jalan kepada pengetahuan itu.

Jika kita mengambil pemahaman ini, yaitu masjidil haram bukanlah suatu tempat geografis, maka ayat2 selanjutkan akan mengalir dengan sangat mudah kita pahami. Dan saya rasa tidak ada pertentangan lagi, selain pertentangan2 yang akan kita dapati apabila kita mengasumsikannya sebagai suatu tempat geografis. Dan pertentangan itu sangat mencolok, hingga membuat kita bertanya, bagaimana hal ini bisa luput dari kita

Sebagian mereka menyembunyikan kebenaran, padahal dengan jelas mereka mengetahui, bahwa hal yang sama telah turun kepada muhammad dan jangalah ada keraguan padanya

الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ ۖ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

(Itulah) K ebenaran  dari Tuhanmu, maka  janganlah  kamu termasuk orang-orang yang ragu. (QS 2:147)

وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Dan bagi tiap-tiap wajah(manusia, umat) ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS 2:148)

Allah telah memberikan kepada setiap manusia penjelasan mengenai syariat dan jalan yang terang agar mereka dapat membersihkan diri kemudian meraih petujuk kepada jalan2 Allah, yaitu melalui nabi yang turun besertanya kitab kemudian menjadi kiblat bagi setiap umatnya untuk menghadapkan wajah kepadanya, berikut ayat yang sama menjelaskan............tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang...... , (Al-Maaidah: 48).

Keterangan ini jauh dari kiblat yang berupa monumen kreasi manusia. Karena semenjak manusia diciptakan Allah tidak menghendaki adanya penyembahan2 kepada berhala yang dibuat-buat oleh tangan manusia, sebagai wakil-Nya ataupun sekedar menyandang atribut-Nya guna menghantarkan manusia kepada jalan-Nya. Kiblat adalah petunjuk dan ia ada dalam kitab yang diturunkan kepada setiap umat manusia. Tidak ada yang berubah dari sunnatullah maupun petunjuk-Nya. Dien yang diturunkan adalah sama. Yang berbeda adalah hanya nabi dan masanya, atau kepada generasi (umat) yang berbeda.

شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰ ۖ أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ ۚ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ ۚ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَن يُنِيبُ

Dia telah mensyari'atkan bagi kamu Dien sebagaimana  yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah Dien  dan janganlah kamu berpecah belah didalamnya. Amat berat bagi orang-orang penyembah berhala apa  yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada-Nya orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (Dien)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya). (Asy-Syuura: 13)

Maka bersegerah dalam kebaikan mengikuti petunjuk-Nya. Ikutilah masjidil haram, atau janganlah kamu melanggar batasan2-Nya, selama hidupmu agar kamu mendapat petunjuk.

 

وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۖ وَإِنَّهُ لَلْحَقُّ مِن رَّبِّكَ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

Dan dari mana saja kamu keluar (datang), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram, sesungguhnya  itu adalah  benar-benar sesuatu yang hak dari Tuhanmu. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan. (QS 2:149)

 

وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَيْكُمْ حُجَّةٌ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِي وَلِأُتِمَّ نِعْمَتِي عَلَيْكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Dan dari mana saja kamu (keluar), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim diantara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku (saja). Dan agar Ku-sempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk. (QS 2: 150)

Darimana saja kamu, akan kemana saja kamu dan dimana saja saat itu atau sekarang kamu berada hadapkanlah wajahmu kepada masjidil haram. Tidak ada keterangan waktu, tidak ada pengecualian tempat dan tidak ada pengecualian sedang apa kejadiaan saat itu atau saat ini.

Ini mengisyaratkan sepanjang kesadaranmu atau sepanjang hidupmu arahkanlah wajahmu kepadannya. Yaitu hadapkanlah wajahmu kepada batasan2 larangan dan perintah-Nya. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu perbuat. Sehingga berbuatlah menurut perintah dan larangan Allah.

Kontradiksi masjidil haram sebagai kiblat fisik dan tempat geografis akan semakin jelas. Bahwa sesuatu tempat fisik akan terkena ruang, sehingga menghadapkan wajahmu juga akan mengarahkanmu kepada tempat tersebut. Tidak akan ada kemungkinan didalm kehidupan kita untuk bisa mengarahkan wajah kepada mekkah disetiap saat, kecuali kita tidak bisa berbuat apa2. Karena didalam kehidupan ini kita bekerja dan berusaha bolak-balik dari arah satu kearah yang lain. Sehingga kemana dan darimana saja kamu menghadapkan wajah kepada mekkah adalah mustahil.

Pemahaman muslimin saat ini, Masjidil haram pun telah diikatkan kepada perintah sholat. Sholat juga telah dimaknakan dengan serangkaian kegiatan dan bacaan kemudian menghadap ke mekkah, atau yang diklaim sebagai masjidil haram. Sedangkan kita tahu, bahwa sembahyang tidak boleh didalam kamar mandi atau kamar kecil, ini menjadikan ada pengecualian tempat dimana tidak memungkinkan dimana dan kemana saja untuk menghadap masjidil haram, ini menjadikan ayat tersebut tidak bisa diamalkan.

Mengenail masalah waktu, maka keterangan waktu juga menghendaki kita untuk menghadap masjidil haram setiap waktu, sedangkan sembahyang hanya lima kali sehari, sehingga pun ayat ini tidak mungkin untuk diamalkan.

Jika ayat ini menceritakan perihal sembahyang dan ke menghadap masjidil haram yang berupa fisik. Maka kita juga tidak mempunyai patokan yang jelas apakah itu masjidil haram ? kemudian kemana arah menghadap kepadanya ?, ilustrasinya seperti gambar....








Panah didalam gambar adalah arah yang benar menghadap ke masjidil haram. Terlihat dari luar masjidil haram menghadap kearahnya didalam sembahyang  memang sesuai dengan perilaku sembahyang. Namun ketika berada didalam masjidil haram, maka perilaku sembahyang umat muslim bukan menghadap masjidil haram, tetapi menghadap ka’bah. Ka’bah tidak ada didalam al-quran yang memerintahkan umat muslim untuk menghadap kepadanya......Diatas adalah satu kontradiksi diantara banyak permasalahan yang akan dihadapi jika kita mengambil keterangan Masjidil haram sebagai penamaan suatu bangunan fisik.

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ نَزَّلَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ ۗ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِي الْكِتَابِ لَفِي شِقَاقٍ بَعِيدٍ

Demikianlah dengan sesungguhnya Allah telah menurunkan Al Kitab dengan Haq dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih tentang (kebenaran) Al Kitab itu, benar-benar dalam penyimpangan yang jauh (dari kebenaran)(QS 2 : 177)

Masjidil haram bukanlah merupakan tempat fisik atau ruang yang terkena koordinat. Memalingkan wajah atau berkiblat yang dimaksud bukanlah arah mata angin, melainkan mengarahkan kesadaran kita kepada larangan2 dan perintah Allah.


لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ
وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا ۖ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

Tidaklah kebajikan memalingkan/mengarahkan wajahmu ketimur maupun kebarat, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa(QS 2 : 178)

Tidaklah merupakan perintah ataupun anjuran apalagi dihitung sebagai ketaatan kepada Allah mengarahkan wajah/muka-mu ke mekkah ataupun ke tempat lain. Karena kemana saja engkah mengarahkan wajahmu, disana ada Allah dan milik-Nya timur dan barat. Namun kebajikan itu adalah........... diteruskan oleh ayat itu pada keterangan berikutnya.......... Yaitu beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa............ Inilah yang dimaksud perintah dan larangan2 Allah agar kamu mendapat petunjuk, atau masjid2 Allah.

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

Tidaklah kebajikan memalingkan/mengarahkan wajahmu ketimur maupun kebarat........ berkiblat قبلة dimana pada ayat disana tambahan hurf tha-ة adlah timur dan barat, mengartikan bahwa kiblat itu bukanlah tempat fisik, atau barat dan timur. Namun kiblat قبلة yang dimaksud adalah……….bunyi ayat selanjutnya.


Masjid tempat mensucikan diri

Masjidil haram bukanlah penamaan (proper name) kepada benda fisik, selain akan membawa kontradiksi2 yang sulit untuk didamaikan.......

Lanjutan ayat QS 2:150  mengenai masjidil haram adalah...........

كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِّنكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُم مَّا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ

Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. (QS 2:151)

Yang demikian itu Allah tetapkan kepadamu agar kamu dapat mensucikan dirimu dan mengajarkan kitab dan al-hikmah serta akan menunjukkan kepadamu apa saja yang belum kamu ketahui.

Setiap manusia dapat membaca al-quran, mempelajarinya serta mengikat pemahaman atasnya, hatta seorang kafir dan ingkar-pun dapat mempelajarinya. Namun tidak semua orang mendapat petunjuk dan jalan yang terang oleh-nya. Berapa banyak para orientalis mempergunakan al-quran sebagai senjata untuk melemahkan kalimat Allah dan memadamkan api yang mereka sangka dapat menyentuhnya. Mereka tidak lain hanyalah mendapatkan pengertian2 yang keliru dan mengikat pemahaman atas dasar dzon mereka, sesuai dengan keadaan jiwa mereka menangkap cahaya yang diterbitkan oleh bacaan yang mulia ini (al-quran).

Petunjuk dan jalan yang terang adalah rahmat bagi setiap manusia didalam keadaan keduniaan (materialist) ini. Menyingkap kedunguan diantara belantara benda dan kesenagan2 dari apa yang diberikan Allah atas keberadaan mereka beserta dunia yang mengelilinginya. Mereka berhenti dan terhijab pada kesenagan2 kemudian terhalang dari kesenangan dan kebahagian haqiqi dibalik keberadaan itu sendiri. Manusia cendrung kepada hal2 singkat maupun yang terdekat (dunia) dan melupakan hal2 yang jauh (akhirat) yang sebenarnya berada tidak jauh, yaitu ada dibalik dunia ini, tetapi dari cara pandang yg sedikit berbeda.

Keber-ada-an atau ke-exis-an itu sendiri adalah nikmat dan rahmat yang tidak terkira, namun keberadaan itu sendiri tidak tergantung dari alat2 (indra) pendeteksi keberadaan itu atau bahkan dengan melanggengkan kesenangan2 yang membuat kita merasa hidup atau lebih mengukuhkan keadaan kita. Ataupun menjauhi penderitaan atau kesakitan yang memusnahkan rasa keberadaan itu dan berputus asa atas rahmat (penciptaan) manusia.

Mengetahui siapa dan apa keberadaan kita-lah yang menghantarkan kita kepada rahmat dan kebahagian tersebut. Mengetahuinya dan memahaminya itulah sumber wujud, sekaligus mengenal sang wujud haqiqi, itulah kebahagian abadi. Jalan itu ditempuh dengan mengikuti rambu2 serta tanda (ayat) dari-Nya, dan itu diraih dengan membersihkan diri dalam rangka menerima cahaya pengetahuan.

 Al-quran tidak semata-mata petunjuk, tetapi juga memberikan jalan atau cara dalam meraih petunjuk, dan al-quran hanya berfaedah bagi mereka yang mau membersihkan diri. Jalan untuk membersihkan diri ada didalam masjid2 Allah.

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَن يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

Sesungguhnya  mereka yang menghidupkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, memberikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS 9:18)

لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا ۚ لَّمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَن تَقُومَ فِيهِ ۚ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَن يَتَطَهَّرُوا ۚ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ

Janganlah kamu berada didalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya mesjid  didirikan atas dasar takwa , sejak hari pertama adalah lebih patut kamu berada di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.  (QS 9:108) 

Penciptaan itu sendiri adalah cahaya, cahaya adalah pengetahuan. Seseorang itu exis karena ia mengetahui, perkataan bijak mengatakan “ Aku ada karena aku mengetahui”. Penciptaan itu sendiri identik dengan akal, apapun dikatakan tidak exis selama ia tidak mengetahui (blank or No mind/soul), atau ia diketahui oleh yang lain darinya, karena itulah yang lain darinya adalah exis. Jika kita tidak pernah sadar (mengetahui) keberadaan kita, maka selamanya kita telah terhijab dari keberadaan itu sendiri, sebagaimana batu serta segala benda2 dunia ini. Intensitas cahaya adalah itensitas kesadaran dan alhikmah serta kedekatan kita kepada tuhan yang Maha ada. Itulah mereka yang bertaqwa dan mendapat rahmat disisi-Nya

™وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا

dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). (QS 91:7

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا  

Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. (QS 91:8)

Petunjuk adalah ilham yg terbit didalam jiwa itu sendiri, sebagaimana juga kesesatan adalah juga ilham, apabila membersihkan diri maka akan diilhamkan kepadanya petunjuk2, dan apabila ia mengotorinya maka akan datang kepadanya ilham2 kesesatan

ô‰قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا—  

Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, (QS 91:9)

Šوَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا

dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (QS 91:10)

Petunjuk akan diraih bagi mereka yang membersihkan diri, dan tidak mendapatkan apa2 bagi mereka yang bergelimang dosa, setiap orang dapat membaca dan hanya mereka yang bersih mendapatkan petunjuk.

إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ  

Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia, (QS 56:77)

فِي كِتَابٍ مَّكْنُونٍ  

Pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), (QS 56:78)

لَّا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ   

Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. (QS 56:79)

Semoga Allah memberikan petunjuk-Nya, dan senantiasa menjaga diri kita dari kebersihan jiwa. Ya Allah , mudahkanlah bagi kami dalam mentaati setiap perintah dan larangan-Mu

Allahualam

Comments