Desa Ranolambot Kecamatan Kawangkoan Minahasa Sulut

ASAL LELUHUR DESA RANOLAMBOT


Pada waktu itu ada seorang pemuda keturunan dari Toar-Lumimuut merasa sudah dewasa dan tidak ingin tinggal dengan keluarga. Sang pemuda memilih tinggal dikaki gunung Klabat . Pemuda tersebut bernama Tole ( lelaki-gagah ) . Setiap pagi sebelum mengerjakan pekerjaannya sebagai petani ,dia selalu pergi batifar saguer ( ambil air pohon enau ).
yang letaknya dikaki gunung Soputan daerah di sekitar tempat tinggal dari orang tuanya.

Tole mempunyai seekor anjing yang setia bernama Korotei ( belang ), kemana saja dia pergi dengan setia sikorotei selalu menemani. Suatu hari Tole pergi batifar ditemani oleh korotei anjingnya. Selesai batifar Tole pulang tapi anjingnya tidak mengikutinya. Pikir Tole anjingnya mungkin sudah duluan berada dirumah. Tole melakukan pekerjaannya seperti biasa. Setelah sore hari Tole memanggil anjingnya untuk diberi makan namun tidak datang juga. Sepanjang malam Tole menunggu sikorotei tapi tidak kunjung pulang dan Tole memutuskan untuk mencari anjingnya besok hari.

Pada waktu itu didaerah tondano ada sebuah gunung yang paling tinggi di sulawesi utara sekarang sudah tidak ada karena sudah meletus dan bekasnya menjadi dataran cekung kemudian terisi air dan menjadi danau Tondano. Pagi-pagi Tole dengan membawa bekal mencari anjingnya menelusuri jalan dimana tiap hari dia pergi batifar. Setelah Tole tiba dikaki gunung tersebut ( sekarang Tondano ) dia melihat ada pohon we'tes ( beringin ) yang besar dan anjingnya sedang duduk dibawa pohon sedang memandang keatas . Tole melihat disekitar anjingnya ada banyak sisa makanan pikir Tole pantas saja anjingnya tidak pulang rupanya ada yang memberi makan. Tole mendekat sambil menengok keatas pohon dan mencari tahu apa yang ditatap oleh anjingnya.

Alangkah terkejutnya Tole ketika dia melihat ada rumah mungil diatas pohon dan disamping rumah ada seorang gadis yang sangat cantik sedang menatap kearahnya dari atas pohon. Sambil menarik napas untuk menghilangkan rasa terkajutnya Tole memberi salam kepada sigadis. Tole menceritakan maksud kedatangannya ialah untuk mengambil anjingnya yang tidak pulang kerumah. Tapi sang gadis yang bernama Keke ( senyum ) itu mengatakan bila anjing itu tidak mau pulang berarti anjing itu bukan milik Tole akan tetapi miliknya. Dengan tegas tole mengatakan itu anjingnya, sambil memanggil anjingnya untuk pulang. Namun demikian sang anjing tidak mau pulang ia hanya menggoyang ekornya. Sitole makin penasaran dan bermaksud akan mengikat anjingnya namun anjingnya selalu menghindar. Akhirnya Tole kehabisan akal dan berkata kepada Keke bahwa ia menitipkan anjingnya disini dan tiap hari Tole akan membawa makanan kesini untuk anjingnya. Dan mulai saat itu setiap Tole pergi batifar dia selalu singgah ketempat Keke untuk memberi makan anjingnya yang sudah tidak mau pulang. Singkat cerita Tole dan Keke akhirnya saling jatuh cinta dan mereka menikah.

Tahun berganti, musimpun berganti Tole dan Keke sudah mempunyai anak dan cucu. Mereka mendiami daerah dikaki gunung tersebut. Pada suatu waktu datang musim kemarau panjang. Keturunan Tole dan Keke yang mendiami daerah tersebut sudah kesulitan mencari air untuk keperluan makan dan minum. Mereka berdoa kepada Yang Maha Kuasa supaya hujan turun di daerah mereka, namun hujan belum juga turun. Karena kemarau yang berkepanjangan mereka berencana untuk berpindah tempat. Mereka mempunyai seekor ayam jantan yang berbulu bagus dan selalu diikat didepan rumah. Mereka kasihan dengan ayam tersebut yang sudah sangat kehausan. Akhirnya mereka memutuskan untuk melepas ayam tersebut supaya dia bisa mencari rumput atau daun untuk menghilangkan rasa hausnya.

Setelah ayam dilepas, ayam tersebut berjalan kearah barat kemudian berhenti disebuah tempat dan mulai mengkais tanah dengan kakinya. Tak berapa lama kemudian ditempat ayam tersebut mengkais muncul mata air dan membasahi tanah yang yang ada disekitarnya. Dan tempat dimana muncul mata air tersebut mereka beri nama kinekas ( dikais oleh kaki ayam ). Sekarang daerah tersebut berganti nama menjadi Kakaskasen terletak di kota Tohohon Kabupaten Minahasa.

Pada abad ke 15 orang Eropah ( Spanyol dan Portugis ) sudah menginjakkan kakinya ditanah Minahasa. Sambil berdagang mereka juga menyebarkan adat istiadat dan agama mereka. Masyarakat pribumi mulai terpengaruh dan mengikuti kebiasaan mereka termasuk memberikan nama keluarga kepada anak keturunan mereka. Keturunan dari Tole dan Keke pada waktu itu sudah banyak dan ingin mencari daerah baru sebagai tempat tinggal. Para tua-tua adat /pemimpin kelompok keluarga ( tonaas ) sudah memikirkan bagaimana caranya membagi daerah tempat tinggal bagi penduduk Minahasa yang sudah mulai banyak. Agar tidak berebut tempat maka para tua-tua adat memutuskan bahwa setiap keluarga yang akan menetap didaerah baru harus ada persetujuan dari para tua-tua adat dan sebagai tempat pembagian daerah tempat tinggal ditetapkan satu tempat rapat yaitu tempat tinggal leluhur mereka yang sekarang daerah tersebut disebut Batu Pinabetengan ( watupinawetengan ). Konon pada waktu itu apabila ada kelompok keluarga yang akan menetap di daerah baru harus mengambil batu tumani ( batu tanda ) di watupinawetengan yang diberikan dan disetujui oleh para tua-tua adat untuk dibawa ketempat mereka yang baru sebagai tanda bahwa tempat tersebut adalah milik mereka.

Keluarga keturunan Tole dan Keke melakukan perjalanan kearah selatan mencari daerah tempat tinggal baru yang masih subur. Mereka mengambil satu batu tumani di watupinawetengan atas persetujuan para tua-tua adat. Dan mereka melakukan perjalanan kearah barat sampai mereka menemukan daerah tidak bertuan dan mereka menetap disitu. Salah satu dari mereka bernama ONSU (batu jimat) yang kemudian menggunakan namanya sebagai fam ( marga ) untuk keturunannya. Pada waktu itu mereka sudah mengikuti tata cara orang Eropa beribadat dan berkeluarga sehingga nama mereka dipakai sebagai fam untuk anak keturunan masing-masing. Onsu mempunyai anak laki-laki yang menetap ditempat itu namanya Lasyar Onsu. Mereka mengusahakan pertanian didaerah tersebut. Lasyar Onsu Mempunyai anak laki-laki yang bernama Wakari Onsu, Angkup Onsu Dan Estefanus Onsu .

Jaman dahulu orang Minahasa percaya bahwa ada beberapa jenis binatang yang dapat memberi tanda yang baik dan buruk. Yang paling mereka percaya adalah tanda dari burung  wala' ( manguni ). Mereka menganggap burung tersebut adalah burung yang bijaksana dan akan memberitahukan kepada mereka dengan tanda ( suara burung yang berbunyi beberapa kali ) apabila akan terjadi sesuatu. Ketika mereka akan melakukan pekerjaan atau perjalanan dan mendapat tanda yang baik ( manguni maka siow ) mereka lanjutkan pekerjaan atau perjalanan tersebut demikian juga sebaliknya bila mendapat tanda yang tidak baik dari burung tersebut mereka tunda perjalanan atau pekerjaan mereka.

Diperkirakan sekitar tahun 1700 Wakari Onsu Berkebun di daerah sebelah barat tempat tinggal mereka dan setelah mendengar tanda yang baik dari burung wala' ( manguni ) dia mengajak keluarganya pindah ketempat dia berkebun tetapi orang-orang tua dan perempuan tidak mau hanya para lelaki yang masih muda yang mau pindah. Tempat tinggal mereka yang pertama ( sekarang Tombasian Bawa ) mereka namakan wale ureh ( rumah lama ) dan tempat tinggal mereka yang baru mereka namakan wale weru ( rumah baru ). Sebagai tanda wale ureh dan wale weru bersaudara namun berpisah , batu tumani yang diletakkan di sebelah barat kampung terbelah menjadi dua. Angkup Onsu pergi ke daerah Basaan dan akhirnya kembali ke Ranolambot meninggalkan beberapa anak dan cucu di Basaan dan sekitarnya . Estefanus Onsu ke Tumaluntung terus ke Maliku dan Tumani ( menemukan tempat baru dan menetap ) disana.

Wakari Onsu ingin menjadikan tempat tinggalnya yang baru diakui oleh para tua-tua adat Minahasa ( Tonaas ) maka ia mengajak dua orang saudaranya Lukas Belung dan Apolos Lumempow pergi ke watu pinawetengan untuk mengambil batu tumani untuk ditempatkan ditempat tinggal mereka yang baru. Saat itu di watupinawetengan sudah banyak para utusan keluarga yang akan mengambil batu tumani yang sudah disediakan oleh para tua-tua adat. Wakari Onsu dan saudaranya mempersilakan utusan keluarga lain mangambil batu duluan karena mereka merasa lebih muda usianya dari para utusan keluarga yang lain. Alangkah terkejutnya mereka bertiga setelah melihat batu yang tersisa besarnya tiga kali sapi dewasa. Mereka pikir dapatkah batu itu mereka bawa sejauh kurang lebih 10 km ( jarak Batu Pinabetengan ke Ranolambot ). Namun demikian mereka tidak kehilangan semangat. Setelah berdoa kepada Yang Maha Kuasa Wakari Onsu mengatakan kepada dua orang saudaranya supaya batu itu diletakkan dipunggungnya dan mereka berdua menahannya dikiri dan kanan. Dengan susah paya akhirnya batu itu sampai juga ditempat tinggal mereka yang baru dan meletakkannya di sebelah utara kampung ( sampai saat ini masih ada ditempatnya ). Akhirnya sekarang wale weru berganti nama menjadi Desa Ranolambot.

Mengapa nama wale weru menjadi Ranolambot ?
Konon pada waktu itu orang kampung biasanya mandi di mata air yang diberi pancuran. Ada seorang nenek mandi di air pancuran pada mata air yang ada di sebelah timur kampung. Ketika sedang mandi cincinnya jatuh dan dia segara mencarinya. Setelah dicari sekian lama tidak ketemu nenek tersebut pulang kerumah dan menceritakan kejadian tersebut kepada keluarganya. Besoknya si nenek tidak mau lagi mandi di tempat tersebut tapi pindah mandi dipancuran sebelah utara kampung meskipun letaknya agak jauh dari tempat tinggalnya. Pada waktu dia sedang mandi dia melihat cincinnya ada di air dekat kakinya. Nenek tesebut sangat senang dan segera mengambilnya. Selesai mandi nenek tersebut segera pulang menemui keluarganya serta memberi tahu bahwa cincinnya sudah ketemu di mata air sebelah utara kampung.
Sejak saat itu orang kampung mengatakan mata air yang ada disebelah timur kampung terhubung dengan mata air yang ada disebelah utara kampung airnya panjang. Bahasa Tontemboan ( air=rano , panjang=lambot ) dan karena kata Rano-lambot sering disebut-sebut orang maka kata tersebut menjadi nama kampung ( desa ) Ranolambot.

Nama-nama Hukum Tua / Kepala Desa Ranolambot s/d 1999

1.    Lonan 1850-1860
2.    Johanis Belung1860-1890
3.    Andrias Onsu 1890-1920
4.    Benyamin Onsu 1920-1950
5.    Ruben Onsu 1950-1963
6.    H.F.Walangitan 1963-1967
7.    B.R.Lumempow 1967-1968
8.    Ruben Onsu 1968-1970
9.    L.A.Ruru 1970-1975
10. H.F.Walangitan 1975
11. J.S.Weol 1975-1981
12. L.A.Ruru 1981-1985
13. Jance Onsu 1985-1987
14. D.J.Belung  1987-1998
15. D.Runtuwarow  1998
16. K.Onsu 1999

Sumber :
1. Ruben Onsu Kepala Desa Ranolambot 1950-1963 , 1968-1970
2. Beret Onsu
3. S.H.S Lumempow
4. Jance Onsu Kepala Desa Ranolambot 1985-1987
5. Lenci Onsu
6. Juliana ASSA
7. Bens Lumempow
8. K.E.Runtuwene




                                   Watu Pinawetengan



                Batu Tumani yang terbelah dua di Desa Tombasian bawah













































Batu Tumani ( batu tanda )  watu tuama di Ranolambot yang dibawa oleh Wakari Onsu dari Watu Pinawetengan sekitar tahun 1700



                                                                                                     written by R.L.Onsu
Comments