Tokoh‎ > ‎

Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA

posted 6 Jun 2011, 08:35 by PPME Netherlands   [ updated 26 Jun 2011, 10:06 ]

Imam Besar Masjid Istiqlal Prof Dr KH Ali Mustafa Yaqub, MA

PROF Dr KH Ali Mustafa Yaqub, MA guru besar Hadis Institut Ilmu-Ilmu al Qur'an (IIQ) Jakarta. Alumnus Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri Jawa Timur. Menyelesaikan master Jurusan Tafsir Hadis Universitas King Saud, Riyad, Arab Saudi (1985). Sedangkan gelar doktor diperoleh dari universitas di India. 

Disertasinya yang berjudul Kriteria halal-haram untuk pangan, obat dan kosmetika dalam perspektif al Qur`an dan Hadis, untuk memperoleh gelar Doktor dalam Hukum Islam dari Universitas Nizamia, Hyderabad India. 

Sidang Munaqasyah yang dilakukan tim penguji internasional, dipimpin Prof Dr M Hassan Hitou, Guru Besar Fiqh Islam dan Ushul Fiqh Universitas Kuwait yang juga Direktur Ilmu-ilmu Islam Frankfurt Jerman.

Para anggota penguji Prof Dr Taufiq Ramadhan Al Buti (Guru Besar dan Ketua Jurusan Fiqh dan Ushul Fiqh Universitas Damaskus, Suriah), Prof Dr Mohammed Khaja Sharief M. Shahabuddin (Guru Besar dan Ketua Jurusan Hadis Universitas Nizamia, Hyderabad, India) dan Prof Dr M Saifullah Mohammed Afsafullah (Guru Besar dan Ketua Jurusan Sastra Arab Universitas Nizamia). 

Sederet gelar itu sekaligus menjadikannya sebagai pakar pertama dalam bidang hadis di Indonesia. Sedikit dari ulama yang langka dari sosok ulama di tanah air. 

Selain aktif mengajar dan memberikan dakwah. Mendirikan Pondok Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus Sunnah, di Ciputat, Banten. Juga dipercaya menjadi Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta. 

Hadits merupakan sumber hukum kedua setelah al Qur'an dalam Islam. Hampir semua jumhur ulama, terutama dari kalangan sunni dan syi'ah mengakui hadits sebagai sumber hukum. Muslim Indonesia, yang mayoritas beraliran sunni, hadits menjadi sumber penting yang dijadikan sebagai sandaran utama. 

Upaya-upaya mengabaikan hadits di kalangan Muslim Indonesia dianggap sebagai upaya menghancurkan salah satu sendi Islam itu sendiri. 

Berbeda dengan al Qur'an yang metode periwayatannya dilakukan secara mutawatir. Al Qur'an ditulis sejak masa kenabian Muhammad Saw. Al Qur'an menjadi niscaya sebagai sumber hukum, tidak demikian halnya dengan hadis. 

Hadits ditulis akhir abad kedua Hijriyah dan periwayatannya yang tidak sem
uanya dilakukan secara mutawatir. Perlu penelitian lebih dulu sebelum bisa diamalkan. 

Ulama klasik mengembangkan sebuah metode hadis menjadi sumber hukum. Secara umum, ada dua besaran atau objek kajian dalam hadis, yaitu kegiatan mendapatkan, mengkaji, dan mempelajari materi hadits dan (ilmu riwayah al-hadits). Selain itu kajian status hadis dengan mengukur apakah ia bisa diterima atau ditolak (ilmu dirayah al-hadits). 

Mempelajari hadis, disiplin ilmu terakhirlah berkaitan dengan aktivitas mendapatkan hukum (istinbat al-hukm) dari hadis, yang darinya dikenal dua metode kritik hadis, yaitu metode kritik sanad (periwayatan), dan metode kritik matn (teks/ redaksi). 

Apa sesungguhnya tugas pokok Imam Besar Masjid Istiqlal? 

Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta memiliki tugas utama mengawasi, mengontrol syariah dan ibadah. Memberikan fatwa kepada orang-orang yang bertanya tentang banyak masalah dalam kehidupan sehari-hari.

Apa saja yang umumnya menjadi pertanyaan masyarakat? 

Banyak pertanyaan yang datang dari masyarakat. Pertanyaan datang dari umat Islam seluruh Indonesia. Ada yang melalui surat, ada yang melalui e-mail. Ada juga yang datang langsung ke Masjid Istiqlal. 

Pertanyaan berkisar kehidupan sehari-hari. Mulai dari masalah waris, soal pernikahan dan kehidupan keluarga. Ada juga pertanyaan yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat aktual. Soal perbankan bahkan kaitannya dengan buaya yang hidup di masyarakat. 

Adakah pertanyaan yang paling berkesan? 

Ada pertanyaan yang aneh, bahkan cenderung lucu. Namun pertanyaan yang benar terjadi dari seorang ibu yang mengaku tidak tahan menjalani kehidupan. Setelah menjadi istri selama 35 tahun, merasa tidak betah dan ingin bercerai. Apa saran dari pak kyai dalam menghadapi kehidupan semacam ini. 

Saya sarankan untuk mempertahankan rumah tangga, sebab perceraian meskipun halal dilakukan namun perbuatan yang sangat dibenci. Setelah diusut, perceraian ingin dilakukan dengan satu syarat setelah mendapat calon suami yang sesuai dengan keinginanya. 

Ada yang lain lagi? 

Kejadian yang tidak pernah dapat dilupakan. Rombongan wartawan Amerika Serikat datang ke Indonesia, salah satunya ingin bertemu Imam Besar Masjid Istiqlal. Saya silahkan diatur saja waktunya. Dialog terjadi dan saya mendapat kesan, wartawan AS tidak memahami Islam. Kalaupun mengerti hanya sedikit dan sepotong saja. 

Hal itu terbukti dengan pernyataan mereka yang antara lain mengatakan Islam Indonesia berbeda dengan Islam mereka pahami. Setelah datang ke Indonesia, ternyata Islam Indonesia berbeda dengan kesan selama ini. Dari pertemuan itu lahir sebuah buku berjudul Islam di Amerika. 

Duta Besar AS di Jakarta, awal Ramadhan 1431 Hijriyah meminta bertemu Imam Besar Masjid Istiqlal. Silahkan saja, pertemuan berlangsung dalam suasana hangat. Kesan saya Duta Besar AS memperoleh gambaran yang utuh tentang Islam dan masyarakat muslim di Indonesia. 

Banyak obrolan yang menarik. Apa yang dilukiskan tentang umat Islam seperti teroris, di Indonesia berbeda. Mendengar pernyataan seperti itu, saya katakan kepada dubes mendengar seribu kali tidak lebih baik daripada melihat satu kali. 

Dari prespektif Hadis seperti apa kondisi umat muslim saat ini? 

Dalam konteks umat Islam Indonesia, banyak persamaan dengan masyarakat Madinah di zaman Nabi Muhammad SAW. Masyarakatnya majemuk, berasal dari berbagai suku dan latar belakang sosial budaya. 

Masyarakat Islam di Madinah ketika itu hidup berdampingan dengan penduduk yang beragama Yahudi, Nasrani, Majusi dan Animisme. Namun semuanya hidup rukun dan damai, tidak ada peperangan di antara penduduk yang terjadi karena latar belakang agama. 

Umat Islam yang tidak membayar zakat bahkan diperangi. Sementara penduduk nonmuslim di zaman nabi mendapat perlindungan dalam keamanan. Islam mengakui eksistensi masyarakat nonmuslim sebagai bagian dari dari kehidupan bersama dalam bermasyarakat dan berbangsa. 

Sebatas mana Islam mengakui keberadaan masyarakat nonmuslim? 

Sebagai sesama warga masyarakat, memiliki kedudukan yang sama. Pengakuan atas keberadaan masyarakat di luar Islam dibenarkan. Namun tidak berarti memberikan pembenaran terhadap akidahnya. 

Ada batas-batas yang jelas dalam al Qur’an dan al Hadis. Al Qur’an menegaskan, untukmu agamamu, untukku agamaku. Sedangkan dalam Hadis ada penegasan dalam Piagam Madinah, Yahudi Auf sebagai satu bangsa dengan orang-orang Islam. 

Orang nonmuslim didahulukan dan berhak menjalankan agamanya secara bebas. Orang Islam tidak boleh mengganggu, demikian sebaliknya orang nonmuslim juga tidak berhak mengganggu ibadah orang Islam. 

Dalam praktiknya seperti apa? 

Prinsip yang harus dipegang semua orang, saling memberikan penghormatan. Dalam prakteknya di Madinah dan Arab yang dipimpin Nabi Muhammad SAW, tidak pernah ada konflik antaragama. Tidak pernah ada peperangan yang terjadi karena faktor agama. Peperangan yang terjadi ketika itu karena faktor lain yang melatarbelakangi. 

Nabi Muhammad SAW orang yang sangat memahami ajaran Islam. Untuk iti hendaknya menjadi teladan bagi masyarakat muslim. Termasuk dalam menyikapi perbedaan, pluralitas dan kebersamaan dalam hidup bermasyarakat dan berbangsa. 

Orang Islam hendaknya lebih banyak membaca Hadis dan Sirah Nabawiyah sehingga memahami makna perbedaan dan pluralitas. Beda agama tidak boleh menjadi sebab saling membunuh. Nabi Muhammad SAW memiliki mertua Yahudi, beliau tetap menghormati dan membiarkan hidup sampai akhir hayatnya. 

Dalam praktik kehidupan berbangsa dan bernegara seperti apa? 

Bangsa Indonesia sangat menghargai keragaman dan kemajemukan. Hal itu diwujudkan dalam bentuk kongkrit, para pendahulu bangsa Indonesia mempraktikkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pembukaan Undang Undang Dasar 1945 dan peraturan perundang-undangan lain tegas menyebutkan adanya keragaman dan kemajemukan bangsa Indonesia. 

Dalam kehidupan sehari-hari bagaimnana? 

Praktik kehidupan beragama dapat ditunjukkan dalam bentuk fisik. Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral berdampingan. Secara filosofi masyarakat dan bangsa Indonesia mengakui adanya perbedaan. Hidup bersama sebagai warga bangsa yang bersatu. 

Dalam batas-batas yang dibenarkan menurut agama masing-masing, kerjasama menjadi bagian yang terjadi selama ini. Ketika umat Islam menyelenggarakan perayaan hari besar, gereja memfasilitasi dengan menjaga keamanan dan ketertiban bersama. Tidak ada protes dan tidak ada keberatan di antara masing-masing pihak. Sebaliknya ketika umat kristiani menyelenggarakan kebaktian, banyak mobil parkir di halaman Masjid Istiqlal. Masyarakat muslim tidak merasa keberatan dengan kejadian-kejadian semacam itu. 

Selain itu apakah masih ada lagi? 

Ketika masuk waktu shalat, Masjid Istiqlal mengumandangkan adzan terdengar sampai ke mana-mana. Gereja dan umat Kristiani memahami, tidak melakukan keberatan apapun. Sama halnya ketika tengah berlangsung shalat dzuhur, masyarakat muslim menunaikan di Masjid Istiqlal ketika khusuknya shalat terdengar bunyi lonceng dari gereja umat Islam terus saja menyelesaikan shalat. 

Kenyataan ini berlangsung lama. Bukan saja terjadi di Jakarta, melainkan juga berlangsung di sejumlah daerah. Seperti masyarakat Islam dan Kristen di Maluku umumnya masih bersaudara masing-masing pihak melakukan kerjasama dalam kehidupan bermasyarakat. Pela Gandong menjadi wujud nyata dalam kehidupan bersama di tengah-tengah masyarakat. (dwidjo utomo)



Youtube/Video : Sabar 1, Sabar 2, Sabar 3, Sabar 4, Sabar 5
                        Kepalsuan Hadist Fadhilah Bulan Rajab 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10
                        Rangkaian ceramah Ramadhan oleh Bpk. KH Ali M Yaqub di Los Angeles, hari ke-1
            
Buku     :

                            Kiblat tak Perlu Diukur
                            Mengkritisi Riwayat Thala’ Al-Badr ‘Alaina

































Comments