Tokoh-Tokoh PPME

Gus Dur (Abdurrahman Wahid), 
T. Razali, 
Moh Chaeron, 
A Hambali Maksum, 
Abdul Muiz Kaderi, 
Rais Mustafa, 
Moh Sayuti Suaib,
Ramhat Zitter, 
Amir Alhajri, 
Jus Muhtar, 
Abdul Wahid Kadungga, 
Ali Baba, 
A. Donny.








Syeikh Nawawi al-Bantani

Penghulu Para Ulama

Sayid ’Ulamail Hijaz adalah gelar yang disandangnya. Sayid adalah penghulu, sedangkan Hijaz wilayah Saudi sekarang, yang di dalamnya termasuk Mekah dan Madinah. Dialah Syekh Muhammad Nawawi, yang lebih dikenal orang Mekah sebagai Nawawi al-Bantani, atau Nawawi al-Jawi seperti tercantum dalam kitab-kitabnya.

Al-Bantani menunjukkan bahwa ia berasal dari Banten, sedangkan sebutan al-Jawi mengindikasikan musalnya yang Jawah, sebutan untuk para pendatang Nusantara karena nama Indonesia kala itu belum dikenal. Kalangan pesantren sekarang menyebut ulama yang juga digelari asy-Syaikh al-Fakih itu sebagai Nawawi Banten. Syeikh Nawawi al-Bantani


Muhammad Hasyim Asy'ari

Hadratus Syeikh Kiyai Haji Muhammad Hasyim Asy'ari (10 April 1875 (24 Dzulqaidah 1287H)–25 Juli 1947, dimakamkan di Tebuireng, Jombang) adalah pendiri Nahdlatul Ulama, organisasi Islam yang terbesar di Indonesia.

Di kalangan pesantren dan khususnya di kalangan NU jarang sekali orang menyebut nama K.H. Hasyim Asy’ari. Sebutan yang lazim ialah Hadlratus Syaikh, yang artinya yang mulia tuan guru. Hasyim Asy'ari

Tokoh-Tokoh Lainnya.

PROF Dr KH Ali Mustafa Yaqub, MA guru besar Hadis Institut Ilmu-Ilmu al Qur'an (IIQ) Jakarta. Alumnus Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Pndok Pesantren Lirboyo,Kediri,Jatim. Selengkapnya.




























Tokoh-Tokoh Nahdhatul Ulama

Nama                                                                 Wikipedia    Sumber Lainnya

1. Syeikh Nawawi al-Bantani,                                    ***  
2. Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari
3. Syeikh Sulaiman ar-Rasuli al-Minangkabawi
4. Syeikh Ahmad Khatib Sambas
5. Syeikhona Kholil Bangkalan
6. Kyai Abdullah Termas
7. KH. Hasyim As'ari
8. KH. Wahab Hasbullah
9. KH. Bisri Syamsuri
10. KH. Wahid Hasyim
11. KH. Ahmad Siddiq
12. KH. As'ad Syamsul Arifin
13. KH Saifuddin Zuhri
14. KH. Maksum Ali
15. KH. Zainul Arifin
16. KH TURAICHAN KUDUS
17. KH Agus Maksum Jauhari
18. KH. Bisri Mustafa
19. KH. Asnawi Kudus
20. KH. Abbas Djamil Bunte
t


Daftar Rais Aam NU
1 KH Mohammad Hasyim Asy'arie, 1926 1947, Ina
2 KH Abdul Wahab Chasbullah, 1947 1971, Ina
3 KH Bisri Syansuri, 1972 1980, Ina
4 KH Muhammad Ali Maksum ,1980 1984, Ina
5 KH Achmad Muhammad Hasan Siddiq, 1984 1991, Ina
KH Ali Yafie (pjs), 1991 1992, Ina
6 KH Mohammad Ilyas Ruhiat, 1992 1999, Ina
7 KH Mohammad Ahmad Sahal Mahfudz, Ina

Tokoh-Tokoh Muhammadiyah



1 KH Ahmad Dahlan ,1912 1923, Eng, Ina
2 KH Ibrahim ,1923 1932, Ina
3 KH Hisyam ,1932 1936, Ina
4 KH Mas Mansur ,1936 1942, Ina
5 Ki Bagoes Hadikoesoemo ,1942 1953, Ina
6 Buya AR Sutan Mansur ,1953 1959, Ina
7 KH M Yunus Anis ,1959 1962, Ina
8 KH Ahmad Badawi ,1962 1968, Ina
9 KH Faqih Usman ,1968 1971, Ina
10 KH AR Fachruddin ,1971 1990, Ina
11 KH A Azhar Basyir ,1990 1995, Ina
12 Prof Dr H Amien Rais ,1995 2000, ina
13 Prof Dr H Ahmad Syafi'i Ma'arif ,2000 2005, Ina
14 Prof Dr H Din Syamsuddin ,2005 2010, Ina


Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA

posted 6 Jun 2011, 08:35 by PPME Netherlands   [ updated 26 Jun 2011, 10:06 ]

Imam Besar Masjid Istiqlal Prof Dr KH Ali Mustafa Yaqub, MA

PROF Dr KH Ali Mustafa Yaqub, MA guru besar Hadis Institut Ilmu-Ilmu al Qur'an (IIQ) Jakarta. Alumnus Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri Jawa Timur. Menyelesaikan master Jurusan Tafsir Hadis Universitas King Saud, Riyad, Arab Saudi (1985). Sedangkan gelar doktor diperoleh dari universitas di India. 

Disertasinya yang berjudul Kriteria halal-haram untuk pangan, obat dan kosmetika dalam perspektif al Qur`an dan Hadis, untuk memperoleh gelar Doktor dalam Hukum Islam dari Universitas Nizamia, Hyderabad India. 

Sidang Munaqasyah yang dilakukan tim penguji internasional, dipimpin Prof Dr M Hassan Hitou, Guru Besar Fiqh Islam dan Ushul Fiqh Universitas Kuwait yang juga Direktur Ilmu-ilmu Islam Frankfurt Jerman.

Para anggota penguji Prof Dr Taufiq Ramadhan Al Buti (Guru Besar dan Ketua Jurusan Fiqh dan Ushul Fiqh Universitas Damaskus, Suriah), Prof Dr Mohammed Khaja Sharief M. Shahabuddin (Guru Besar dan Ketua Jurusan Hadis Universitas Nizamia, Hyderabad, India) dan Prof Dr M Saifullah Mohammed Afsafullah (Guru Besar dan Ketua Jurusan Sastra Arab Universitas Nizamia). 

Sederet gelar itu sekaligus menjadikannya sebagai pakar pertama dalam bidang hadis di Indonesia. Sedikit dari ulama yang langka dari sosok ulama di tanah air. 

Selain aktif mengajar dan memberikan dakwah. Mendirikan Pondok Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus Sunnah, di Ciputat, Banten. Juga dipercaya menjadi Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta. 

Hadits merupakan sumber hukum kedua setelah al Qur'an dalam Islam. Hampir semua jumhur ulama, terutama dari kalangan sunni dan syi'ah mengakui hadits sebagai sumber hukum. Muslim Indonesia, yang mayoritas beraliran sunni, hadits menjadi sumber penting yang dijadikan sebagai sandaran utama. 

Upaya-upaya mengabaikan hadits di kalangan Muslim Indonesia dianggap sebagai upaya menghancurkan salah satu sendi Islam itu sendiri. 

Berbeda dengan al Qur'an yang metode periwayatannya dilakukan secara mutawatir. Al Qur'an ditulis sejak masa kenabian Muhammad Saw. Al Qur'an menjadi niscaya sebagai sumber hukum, tidak demikian halnya dengan hadis. 

Hadits ditulis akhir abad kedua Hijriyah dan periwayatannya yang tidak sem
uanya dilakukan secara mutawatir. Perlu penelitian lebih dulu sebelum bisa diamalkan. 

Ulama klasik mengembangkan sebuah metode hadis menjadi sumber hukum. Secara umum, ada dua besaran atau objek kajian dalam hadis, yaitu kegiatan mendapatkan, mengkaji, dan mempelajari materi hadits dan (ilmu riwayah al-hadits). Selain itu kajian status hadis dengan mengukur apakah ia bisa diterima atau ditolak (ilmu dirayah al-hadits). 

Mempelajari hadis, disiplin ilmu terakhirlah berkaitan dengan aktivitas mendapatkan hukum (istinbat al-hukm) dari hadis, yang darinya dikenal dua metode kritik hadis, yaitu metode kritik sanad (periwayatan), dan metode kritik matn (teks/ redaksi). 

Apa sesungguhnya tugas pokok Imam Besar Masjid Istiqlal? 

Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta memiliki tugas utama mengawasi, mengontrol syariah dan ibadah. Memberikan fatwa kepada orang-orang yang bertanya tentang banyak masalah dalam kehidupan sehari-hari.

Apa saja yang umumnya menjadi pertanyaan masyarakat? 

Banyak pertanyaan yang datang dari masyarakat. Pertanyaan datang dari umat Islam seluruh Indonesia. Ada yang melalui surat, ada yang melalui e-mail. Ada juga yang datang langsung ke Masjid Istiqlal. 

Pertanyaan berkisar kehidupan sehari-hari. Mulai dari masalah waris, soal pernikahan dan kehidupan keluarga. Ada juga pertanyaan yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat aktual. Soal perbankan bahkan kaitannya dengan buaya yang hidup di masyarakat. 

Adakah pertanyaan yang paling berkesan? 

Ada pertanyaan yang aneh, bahkan cenderung lucu. Namun pertanyaan yang benar terjadi dari seorang ibu yang mengaku tidak tahan menjalani kehidupan. Setelah menjadi istri selama 35 tahun, merasa tidak betah dan ingin bercerai. Apa saran dari pak kyai dalam menghadapi kehidupan semacam ini. 

Saya sarankan untuk mempertahankan rumah tangga, sebab perceraian meskipun halal dilakukan namun perbuatan yang sangat dibenci. Setelah diusut, perceraian ingin dilakukan dengan satu syarat setelah mendapat calon suami yang sesuai dengan keinginanya. 

Ada yang lain lagi? 

Kejadian yang tidak pernah dapat dilupakan. Rombongan wartawan Amerika Serikat datang ke Indonesia, salah satunya ingin bertemu Imam Besar Masjid Istiqlal. Saya silahkan diatur saja waktunya. Dialog terjadi dan saya mendapat kesan, wartawan AS tidak memahami Islam. Kalaupun mengerti hanya sedikit dan sepotong saja. 

Hal itu terbukti dengan pernyataan mereka yang antara lain mengatakan Islam Indonesia berbeda dengan Islam mereka pahami. Setelah datang ke Indonesia, ternyata Islam Indonesia berbeda dengan kesan selama ini. Dari pertemuan itu lahir sebuah buku berjudul Islam di Amerika. 

Duta Besar AS di Jakarta, awal Ramadhan 1431 Hijriyah meminta bertemu Imam Besar Masjid Istiqlal. Silahkan saja, pertemuan berlangsung dalam suasana hangat. Kesan saya Duta Besar AS memperoleh gambaran yang utuh tentang Islam dan masyarakat muslim di Indonesia. 

Banyak obrolan yang menarik. Apa yang dilukiskan tentang umat Islam seperti teroris, di Indonesia berbeda. Mendengar pernyataan seperti itu, saya katakan kepada dubes mendengar seribu kali tidak lebih baik daripada melihat satu kali. 

Dari prespektif Hadis seperti apa kondisi umat muslim saat ini? 

Dalam konteks umat Islam Indonesia, banyak persamaan dengan masyarakat Madinah di zaman Nabi Muhammad SAW. Masyarakatnya majemuk, berasal dari berbagai suku dan latar belakang sosial budaya. 

Masyarakat Islam di Madinah ketika itu hidup berdampingan dengan penduduk yang beragama Yahudi, Nasrani, Majusi dan Animisme. Namun semuanya hidup rukun dan damai, tidak ada peperangan di antara penduduk yang terjadi karena latar belakang agama. 

Umat Islam yang tidak membayar zakat bahkan diperangi. Sementara penduduk nonmuslim di zaman nabi mendapat perlindungan dalam keamanan. Islam mengakui eksistensi masyarakat nonmuslim sebagai bagian dari dari kehidupan bersama dalam bermasyarakat dan berbangsa. 

Sebatas mana Islam mengakui keberadaan masyarakat nonmuslim? 

Sebagai sesama warga masyarakat, memiliki kedudukan yang sama. Pengakuan atas keberadaan masyarakat di luar Islam dibenarkan. Namun tidak berarti memberikan pembenaran terhadap akidahnya. 

Ada batas-batas yang jelas dalam al Qur’an dan al Hadis. Al Qur’an menegaskan, untukmu agamamu, untukku agamaku. Sedangkan dalam Hadis ada penegasan dalam Piagam Madinah, Yahudi Auf sebagai satu bangsa dengan orang-orang Islam. 

Orang nonmuslim didahulukan dan berhak menjalankan agamanya secara bebas. Orang Islam tidak boleh mengganggu, demikian sebaliknya orang nonmuslim juga tidak berhak mengganggu ibadah orang Islam. 

Dalam praktiknya seperti apa? 

Prinsip yang harus dipegang semua orang, saling memberikan penghormatan. Dalam prakteknya di Madinah dan Arab yang dipimpin Nabi Muhammad SAW, tidak pernah ada konflik antaragama. Tidak pernah ada peperangan yang terjadi karena faktor agama. Peperangan yang terjadi ketika itu karena faktor lain yang melatarbelakangi. 

Nabi Muhammad SAW orang yang sangat memahami ajaran Islam. Untuk iti hendaknya menjadi teladan bagi masyarakat muslim. Termasuk dalam menyikapi perbedaan, pluralitas dan kebersamaan dalam hidup bermasyarakat dan berbangsa. 

Orang Islam hendaknya lebih banyak membaca Hadis dan Sirah Nabawiyah sehingga memahami makna perbedaan dan pluralitas. Beda agama tidak boleh menjadi sebab saling membunuh. Nabi Muhammad SAW memiliki mertua Yahudi, beliau tetap menghormati dan membiarkan hidup sampai akhir hayatnya. 

Dalam praktik kehidupan berbangsa dan bernegara seperti apa? 

Bangsa Indonesia sangat menghargai keragaman dan kemajemukan. Hal itu diwujudkan dalam bentuk kongkrit, para pendahulu bangsa Indonesia mempraktikkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pembukaan Undang Undang Dasar 1945 dan peraturan perundang-undangan lain tegas menyebutkan adanya keragaman dan kemajemukan bangsa Indonesia. 

Dalam kehidupan sehari-hari bagaimnana? 

Praktik kehidupan beragama dapat ditunjukkan dalam bentuk fisik. Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral berdampingan. Secara filosofi masyarakat dan bangsa Indonesia mengakui adanya perbedaan. Hidup bersama sebagai warga bangsa yang bersatu. 

Dalam batas-batas yang dibenarkan menurut agama masing-masing, kerjasama menjadi bagian yang terjadi selama ini. Ketika umat Islam menyelenggarakan perayaan hari besar, gereja memfasilitasi dengan menjaga keamanan dan ketertiban bersama. Tidak ada protes dan tidak ada keberatan di antara masing-masing pihak. Sebaliknya ketika umat kristiani menyelenggarakan kebaktian, banyak mobil parkir di halaman Masjid Istiqlal. Masyarakat muslim tidak merasa keberatan dengan kejadian-kejadian semacam itu. 

Selain itu apakah masih ada lagi? 

Ketika masuk waktu shalat, Masjid Istiqlal mengumandangkan adzan terdengar sampai ke mana-mana. Gereja dan umat Kristiani memahami, tidak melakukan keberatan apapun. Sama halnya ketika tengah berlangsung shalat dzuhur, masyarakat muslim menunaikan di Masjid Istiqlal ketika khusuknya shalat terdengar bunyi lonceng dari gereja umat Islam terus saja menyelesaikan shalat. 

Kenyataan ini berlangsung lama. Bukan saja terjadi di Jakarta, melainkan juga berlangsung di sejumlah daerah. Seperti masyarakat Islam dan Kristen di Maluku umumnya masih bersaudara masing-masing pihak melakukan kerjasama dalam kehidupan bermasyarakat. Pela Gandong menjadi wujud nyata dalam kehidupan bersama di tengah-tengah masyarakat. (dwidjo utomo)



Youtube/Video : Sabar 1, Sabar 2, Sabar 3, Sabar 4, Sabar 5
                        Kepalsuan Hadist Fadhilah Bulan Rajab 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10
                        Rangkaian ceramah Ramadhan oleh Bpk. KH Ali M Yaqub di Los Angeles, hari ke-1
            
Buku     :

                            Kiblat tak Perlu Diukur
                            Mengkritisi Riwayat Thala’ Al-Badr ‘Alaina

































posted 13 Apr 2011, 11:23 by PPME Netherlands

Artikel diambil dari:
http://ulama.blogspot.com/2005/03/syeikh-nawawi-al-bantani.html
SYEIKH NAWAWI AL-BANTANI

DIGELAR IMAM NAWAWI KEDUA
Oleh Wan Mohd. Shaghir Abdullah


NAMA Imam Nawawi tidak asing lagi bagi dunia Islam terutama dalam lingkungan ulama-ulama Syafi'iyah. Ulama ini sangat terkenal kerana banyak karangannya yang dikaji pada setiap zaman dari dahulu sampai sekarang. Pada penghujung abad ke-18 lahir pula seorang yang bernama Nawawi di Banten, Jawa Barat. Setelah dia menuntut ilmu yang sangat banyak, mensyarah kitab-kitab bahasa Arab dalam pelbagai disiplin ilmu yang sangat banyak pula, maka dia digelar Imam Nawawi ats-Tsani, ertinya Imam Nawawi Yang Kedua. Orang pertama memberi gelaran demikian ialah Syeikh Wan Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathani. Gelaran yang diungkapkan oleh Syeikh Ahmad al-Fathani dalam seuntai gubahan syairnya itu akhirnya diikuti oleh semua orang yang menulis riwayat ulama yang berasal dari Banten itu. Sekian banyak ulama dunia Islam sejak sesudah Imam Nawawi yang pertama (wafat 676 Hijrah/1277 Masehi) sampai sekarang ini belum ada orang lain yang mendapat gelaran Imam Nawawi ats-Tsani, kecuali Syeikh Nawawi, ulama kelahiran Banten yang dibicarakan ini. Rasanya gelaran demikian memang dipandang layak, tidak ada ulama sezaman dengannya mahupun sesudahnya yang mempertikai autoritinya dalam bidang ilmiah keislaman menurut metode tradisional yang telah wujud zaman berzaman dan berkesinambungan.
Sungguhpun Syeikh Nawawi ats-Tsani al-Bantani diakui alim dalam semua bidang ilmu keislaman, namun dalam dunia at-thariqah ash-shufiyah, gurunya Syeikh Ahmad Khathib Sambas tidak melantik beliau sebagai seorang mursyid Thariqat Qadiriyah-Naqsyabandiyah, tetapi yang dilantik ialah Syeikh Abdul Karim al-Bantani, iaitu ayah saudara kepada Syeikh Nawawi al-Bantani, yang sama-sama menerima thariqat itu kepada Syeikh Ahmad Khathib Sambas. Apakah sebabnya terjadi demikian hanya diketahui oleh Syeikh Ahmad Khathib Sambas dan Syeikh Nawawi al-Bantani. Syeikh Nawawi al-Bantani mematuhi peraturan yang diberikan itu, sehingga beliau tidak pernah mentawajuh/membai'ah seseorang muridnya walaupun memang ramai murid beliau yang menjadi ulama besar yang berminat dalam bidang keshufian.

LAHIR DAN PENDIDIKAN

Nama lengkapnya adalah Syeikh Muhammad Nawawi bin Umar ibnu Arabi bin Ali al-Jawi al-Bantani. Beliau adalah anak sulung seorang ulama Banten, Jawa Barat, lahir pada tahun 1230 Hijrah/1814 Masehi di Banten dan wafat di Mekah tahun 1314 Hijrah/1897 Masehi. Ketika kecil, beliau sempat belajar kepada ayahnya sendiri, dan di Mekah belajar kepada beberapa ulama terkenal pada zaman itu, di antara mereka yang dapat dicatat adalah sebagai berikut: Syeikh Ahmad an-Nahrawi, Syeikh Ahmad ad-Dumyati, Syeikh Muhammad Khathib Duma al-Hanbali, Syeikh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Maliki, Syeikh Zainuddin Aceh, Syeikh Ahmad Khathib Sambas, Syeikh Syihabuddin, Syeikh Abdul Ghani Bima, Syeikh Abdul Hamid Daghastani, Syeikh Yusuf Sunbulawani, Syeikhah Fatimah binti Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani, Syeikh Yusuf bin Arsyad al-Banjari, Syeikh Abdus Shamad bin Abdur Rahman al-Falimbani, Syeikh Mahmud Kinan al-Falimbani, Syeikh Aqib bin Hasanuddin al-Falimbani. Demikian saja para gurunya yang dapat dicatat daripada berbagai-bagai sumber, dan berkemungkinan banyak yang belum dapat dicatat di sini.
Dipercayai beliau datang ke Mekah dalam usia 15 tahun dan selanjutnya setelah menerima pelbagai ilmu di Mekah, beliau meneruskan pelajarannya ke Syam (Syiria) dan Mesir. Setelah keluar dari Mekah kerana menuntut ilmu yang tidak diketahui berapa lamanya, lalu beliau kembali lagi ke Mekah. Keseluruhan masa beliau tinggal di Mekah dari mulai belajar, mengajar dan mengarang hingga sampai kemuncak kemasyhurannya lebih dari setengah abad lamanya. Diriwayatkan bahawa setiap kali beliau mengajar di Masjidil Haram sentiasa dikelilingi oleh pelajar yang tidak kurang daripada dua ratus orang. Kerana sangat terkenalnya beliau pernah diundang ke Universiti al-Azhar, Mesir untuk memberi ceramah atau fatwa-fatwa pada beberapa perkara yang tertentu.
Belum jelas tahun berapa beliau diundang oleh ahli akademik di Universiti al-Azhar itu, namun difahamkan bahawa beliau sempat bertemu dengan seorang ulama terkenal di al-Azhar (ketika itu sebagai Syeikhul Azhar), iaitu Syeikh Ibrahim al-Baijuri (wafat 1860 Masehi) yang sangat tua dan lumpuh kerana tuanya. Kemungkinan Syeikh Ibrahim al-Baijuri, Syeikhul Azhar yang terkenal itu termasuk salah seorang di antara guru kepada Syeikh Nawawi al-Bantani.

MURID MURID

Diriwayatkan bahawa Syeikh Nawawi al-Bantani mengajar di Masjidil Haram menggunakan bahasa Jawa dan Sunda ketika memberi keterangan terjemahan kitab-kitab bahasa Arab. Barangkali ulama Banten yang terkenal itu kurang menguasai bahasa Melayu yang lebih umum dan luas digunakan pada zaman itu. Oleh sebab kurang menguasai bahasa Melayu, maka tidak berapa ramai muridnya yang berasal dari luar pulau Jawa (seperti Sumatera dan Semenanjung Tanah Melayu dan Patani). Tetapi Tok Kelaba al-Fathani menyebut bahawa beliau menerima satu amalan wirid daripada Syeikh Abdul Qadir bin Mustafa al-Fathani, dan Syeikh Abdul Qadir itu menerimanya daripada Syeikh Nawawi al-Bantani. Syeikh Abdul Qadir al-Fathani (Tok Bendang Daya II) sebenarnya bukan peringkat murid kepada Syeikh Nawawi al-Bantani tetapi adalah peringkat sahabatnya. Syeikh Nawawi al-Bantani (1230 Hijrah/1814 Masehi) lebih tua sekitar empat tahun saja daripada Syeikh Abdul Qadir al-Fathani (Tok Bendang Daya II, 1234 Hijrah/1817 Masehi). Adapun murid Syeikh Nawawi al-Bantani di pulau Jawa yang menjadi ulama yang terkenal sangat ramai, di antara mereka ialah, Kiyai Haji Hasyim Asy'ari, Pengasas Pondok Pesantren Tebuireng, Jawa Timur, bahkan beliau ini dianggap sebagai bapa ulama Jawa dan termasuk pengasas Nahdhatul Ulama. Murid Syeikh Nawawi al-Bantani yang terkenal pula ialah Kiyai Haji Raden Asnawi di Kudus, Jawa Tengah, Kiyai Haji Tubagus Muhammad Asnawi di Caringin, Purwokerto, Jawa Barat, Syeikh Muhammad Zainuddin bin Badawi as-Sumbawi, Syeikh Abdus Satar bin Abdul Wahhab as-Shidqi al-Makki, Sayid Ali bin Ali al-Habsyi al-Madani dan ramai lagi.
Salah seorang cucunya, yang juga mendapat pendidikan sepenuhnya daripada beliau ialah Syeikh Abdul Haq bin Abdul Hannan al-Jawi al-Bantani (1285 Hijrah/1868 Masehi - 1324 Hijrah/1906 Masehi). Pada halaman pertama Al-Aqwalul Mulhaqat, Syeikh Abdul Haq al-Bantani menyebut bahawa Syeikh Nawawi al-Bantani adalah orang tuanya (Syeikhnya), orang yang memberi petunjuk dan pembimbingnya. Pada bahagian kulit kitab pula beliau menulis bahawa beliau adalah `sibthun' (cucu) an-Nawawi Tsani. Selain orang-orang yang tersebut di atas, sangat ramai murid Syeikh Nawawi al-Bantani yang memimpin secara langsung barisan jihad di Celegon melawan penjajahan Belanda pada tahun 1888 Masehi. Di antara mereka yang dianggap sebagai pemimpin pemberontak Celegon ialah: Haji Wasit, Haji Abdur Rahman, Haji Haris, Haji Arsyad Thawil, Haji Arsyad Qasir, Haji Aqib dan Tubagus Haji Ismail. Semua mereka adalah murid Syeikh Nawawi al-Bantani yang dikaderkan di Mekah.

KARYA KARYA

Berapa banyakkah karya Syeikh Nawawi ats-Tsani al-Bantani yang sebenarnya belum diketahui dengan pasti. Barangkali masih banyak yang belum masuk dalam senarai yang ditulis oleh penulis-penulis sebelum ini. Saya telah memiliki karya ulama Banten ini sebanyak 30 judul. Judul yang telah saya masukkan dalam buku berjudul Katalog Besar Persuratan Melayu, sebanyak 44 judul. Semua karya Syeikh Nawawi al-Bantani ditulis dalam bahasa Arab dan merupakan syarahan daripada karya orang lain. Belum ditemui walau sebuah pun karyanya yang diciptakan sendiri. Juga belum ditemui karyanya dalam bahasa Melayu, Jawa ataupun Sunda. Oleh sebab kekurangan ruangan di antara 44 judul di bawah ini saya catat sekadarnya saja, ialah:
1. Targhibul Musytaqin, selesai Jumaat, 13 Jamadilakhir 1284 Hijrah/1867 Masehi. Cetakan awal Mathba'ah al-Miriyah al-Kainah, Mekah, 1311 Hijrah.
2. Fat-hus Shamadil `Alim, selesai awal Jamadilawal 1286 Hijrah/1869 Masehi. Dicetak oleh Mathba'ah Daril Kutubil Arabiyah al-Kubra, Mesir 1328 Hijrah.
3. Syarah Miraqil `Ubudiyah, selesai 13 Zulkaedah 1289 Hijrah/1872 Masehi. Cetakan pertama Mathba'ah al-Azhariyah al-Mashriyah, Mesir 1308 Hijrah.
4. Madarijus Su'ud ila Iktisa'il Burud, mulai menulis 18 Rabiulawal 1293 Hijrah/1876 Masehi. Dicetak oleh Mathba'ah Mustafa al-Baby al-Halaby, Mesir, akhir Zulkaedah 1327 Hijrah.
5. Hidayatul Azkiya' ila Thariqil Auliya', mulai menulis 22 Rabiulakhir 1293 Hijrah/1876 Masehi, selesai 13 Jamadilakhir 1293 Hijrah/1876 Masehi. Diterbitkan oleh Mathba'ah Ahmad bin Sa'ad bin Nabhan, Surabaya, tanpa menyebut tahun penerbitan.
6. Fat-hul Majid fi Syarhi Durril Farid, selesai 7 Ramadan 1294 Hijrah/1877 Masehi. Cetakan pertama oleh Mathba'ah al-Miriyah al-Kainah, Mekah, 1304 Hijrah.
7. Bughyatul `Awam fi Syarhi Maulidi Saiyidil Anam, selesai 17 Safar 1294 Hijrah/1877 Masehi. Dicetak oleh Mathba'ah al-Jadidah al-'Amirah, Mesir, 1297 Hijrah.
8. Syarah Tijanud Darari, selesai 7 Rabiulawal 1297 Hijrah/1879 Masehi. Cetakan pertama oleh Mathba'ah `Abdul Hamid Ahmad Hanafi, Mesir, 1369 Masehi.
9. Syarah Mishbahu Zhulmi `alan Nahjil Atammi, selesai Jamadilawal 1305 Hijrah/1887 Masehi. Cetakan pertama oleh Mathba'ah al-Miriyah al-Kainah, Mekah, 1314 Hijrah atas biaya saudara kandung pengarang, iaitu Syeikh Abdullah al-Bantani.
10. Nasha-ihul `Ibad, selesai 21 Safar 1311 Hijrah/1893 Masehi. Cetakan kedua oleh Mathba'ah al-Miriyah al-Kainah, Mekah, 1323 Hijrah.
11. Al-Futuhatul Madaniyah fisy Syu'bil Imaniyah, tanpa tarikh. Dicetak di bahagian tepi kitab nombor 10, oleh Mathba'ah al-Miriyah al-Kainah, Mekah, 1323 Hijrah.
12. Hilyatus Shibyan Syarhu Fat-hir Rahman fi Tajwidil Quran, tanpa tarikh. Dicetak oleh Mathba'ah al-Miriyah, Mekah, 1332 Hijrah.
13. Qatrul Ghaits fi Syarhi Masaili Abil Laits, tanpa tarikh. Dicetak oleh Mathba'ah al-Miriyah, Mekah, 1321 Hijrah.
14. Mirqatu Su'udi Tashdiq Syarhu Sulamit Taufiq, tanpa tarikh. Cetakan pertama oleh Mathba'ah al-Miriyah, Mekah 1304 Hijrah.
15. Ats-Tsimarul Yani'ah fir Riyadhil Badi'ah, tanpa tarikh. Cetakan pertama oleh Mathba'ah al-Bahiyah, Mesir, Syaaban 1299 Hijrah. Dicetak juga oleh Mathba'ah Mustafa al-Baby al-Halaby, Mesir, 1342 Hijrah.
16. Tanqihul Qaulil Hatsits fi Syarhi Lubabil Hadits, tanpa tarikh. Dicetak oleh Mathba'ah Dar Ihya' al-Kutub al-'Arabiyah, Mesir, tanpa tarikh.
17.Bahjatul Wasail bi Syarhi Masail, tanpa tarikh. Dicetak oleh Mathba'ah al-Haramain, Singapura-Jeddah, tanpa tarikh.
18. Fat-hul Mujib Syarhu Manasik al- 'Allamah al-Khatib, tanpa tarikh. Dicetak oleh Mathba'ah at-Taraqqil Majidiyah, Mekah, 1328 Hijrah.
19. Nihayatuz Zain Irsyadil Mubtadi-in, tanpa tarikh. Diterbitkan oleh Syarikat al-Ma'arif, Bandung, Indonesia, tanpa tarikh.
20. Al-Fushushul Yaqutiyah `alar Raudhatil Bahiyah fi Abwabit Tashrifiyah, tanpa tarikh. Dicetak oleh Mathba'ah al-Bahiyah, Mesir, awal Syaaban 1299 Hijrah.

Untitled Post

posted 6 Apr 2011, 22:35 by PPME Netherlands   [ updated 6 Apr 2011, 22:35 ]


1-3 of 3