News‎ > ‎News1‎ > ‎

Sejarah Qurban

posted 1 Nov 2011, 00:59 by PPME Netherlands   [ updated 2 Nov 2011, 06:28 ]

Hewan Qurban
Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan qurban, maka diterima salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): Aku pasti membuNûhmu!. Berkata Habil: Sesungguhnya Allâh hanya menerima (qurban) dari orangorang yang bertaqwa8.


Qurban dalam Sejarah, © Copyright 2008-2009 - Pendidikan Dalam Al-Qur`ân ww.pesantrenpajagalan.com. All rights reserved. 1

Sembelihan dalam Islam yang bertujuan mendekatkan diri
dan beribadah kepada Allâh, ada tiga: al-Hadyu
(Sembelihan), al-Udlhiyyah (Qurban), dan al-‘Aqiqah
(Aqiqah)1

QURBAN DALAM SEJARAH

Judul : Qurban Dalam Sejarah
Penulis : Drs. H. Dedeng Rosyidin, M.Ag
Penyunting : Asep Saepul Hakim
Layout : www.hakimtea.net
Hak publish : www.pesantrenpajagalan.com
Ebook ini dapat Anda sebarkan secara bebas untuk tujuan nonkomersil dengan syarat tidak mengurangi atau menambahkan isi kandungan di dalamnya. Tidak diperbolehkan melakukan penulisan ulang, kecuali mendapatkan ijin terlebih dahulu dari penulis.


1 Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah (selanjutnya disebut Ibn al-Qayyim), Zâd al-Ma’ad, II, Muassas Risalah,
Kuwait,1995, II:312.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------1
Qurban dalam Sejarah
© Copyright 2008-2009 - Pendidikan Dalam Al-Qur`ân www.pesantrenpajagalan.com. All rights reserved. 





A. Pengertian Udlhiyyah (Qurban)

Kata Udlhiyyah jama’nya al-Adlâhiy artinya, qurban, dalam hal ini al- Syaukani mengutip perkataan al-Jauhari yang menyebutkan ada empat lafaz untuk kata Udlhiyah, yaitu pertama Udlhiyyah (huruf hamzah didlomah, huruf Ya ditasydid),
kedua Idlhiyah (huruf hamzah dikasrah dan huruf Ya tidak ditasydid) jama’ dari kata yang pertama dan kedua ini adalah Adlâhiy, yang ketiga Dlahiyah jama’nya Adlâhiy, dan yang keempat Adlhât jama’nya Adlhâ, maka dari sanalah disebut Yauma al-Adlhâ dan al-Qadli, menyebutkan, disebut demikian karena dilakukan penyembelihan pada waktu dluha, yaitu waktu matahari terbit atau matahari naik2. Dan al-Nawawi dalam al-Syaukani, menyebutkan kata al-Adlhâ bisa dilihat dari dua bahasa, yaitu dipandang mudzakar (kelompok laki-laki), ini bahasa Quraisy, dan dipandang muannats (kelompok perempuan), ini dari bahasa Tamim. Berbeda dengan apa yang dikatakan Luwes Ma’luf, Kata Dlahiyah yang artinya waktu naiknya matahari, dimana pada waktu itu disembelih hewan qurban, jama’nya adalah Dlahâyâ 3 .
Sedangkan pada yang lainnya, sama yaitu Udlhiyah jama’nya Adlâhiy dan Adlhât jama’nya Adlhâ. Al-Sayyid Sabiq menjelaskan, al-Udlhiyah dan al-Dlahiyyah adalah suatu nama bagi sembelihan; unta, sapi dan kambing yang disembelih pada hari Nahar dan hari Tasyrik sebagai taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allâh Swt4.
Dengan memperhatikan uraian di atas maka dapat dikatakan, Udlhiyyah dan Dlahiyyah pada asalnya bermakna, waktu dluha yaitu, waktu matahari naik, antara jam tujuh pagi hingga jam sebelas siang. Kemudian dijadikan sebagai nama bagi
sembelihan qurban yang pelaksanaannya dianjurkan pada waktu dluha, pada hari ke sepuluh, sebelas, duabelas dan tigabelas bulan Zulhijjah.
Kata qurbân adalah bentuk masdar fa’lân seperti lafaz ‘udwân (permusuhan), dan khusrân (kerugian). Al-Thabari menyebutkan Ia dari fi’il qarraba-qurbânân (pendekatan). Dan bentuk jamanya qarâbîn lafadz ini dapat digunakan untuk
menunjukkan satu5, seperti pada Ali Imran 183,
    

(Yaitu) orang-orang (Yahudi) yang mengatakan: Sesungguhnya Allâh telah memerintahkan kepada kami, supaya kami jangan beriman kepada seseorang Rasûl, sebelum dia mendatangkan kepada kami qurban yang dimakan api. Katakanlah: Sesungguhnya telah datang kepada kamu beberapa orang Rasûl sebelumku, membawa keterangan-keterangan

----------------------------------------------------------------------------
2 Muhamad al-Syaukani (selanjutnya disebut al-Syaukani), Nail al-Authâr, V, Dâr al-Jail, Libanon, 1973, V:196.
3 Luwes Ma’luf, Al-Munjid Fi al-Lughah Wa al-Adab Wa al-Ulum, Katsulikiyah, Beirut, 1927, (1927:462)
4 Al-Sayyid Sabiq, Fiqh al-Sunnah, III, Dâr al-Firk, Libanon, 1983, III:274.
5 Al-Thabari, Op. Cit. III:197.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------2
Qurban dalam Sejarah
© Copyright 2008-2009 - Pendidikan Dalam Al-Qur`ân www.pesantrenpajagalan.com. All rights reserved. 


yang nyata dan membawa apa yang kamu sebutkan, maka mengapa kamu membuNûh mereka jika kamu orang-orang yang benar. 6.
Dan juga jamak seperti dalam al-Ahkaf 28, kalimat Qurbânan âlihah,

Maka mengapa yang mereka sembah selain Allâh sebagai Ilah untuk mendekatkan diri (kepada Allâh) tidak dapat menolong mereka. Bahkan ilah-ilah itu telah lenyap dari mereka Itulah akibat kebohongan mereka dan apa yang dahulu mereka ada-adakan7.
Dan juga untuk makna mutsanna (dua) seperti pada al-Maidah 27,



Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan qurban, maka diterima salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): Aku pasti membuNûhmu!. Berkata Habil: Sesungguhnya Allâh hanya menerima (qurban) dari orangorang yang bertaqwa8.
Para mufassir berbeda dalam memberi makna qurban, antara lain,
Al-Maraghi9 mendefinisikannya,
        ما يتَقرب بِهِ إِ َ لى اللهِ مِ  ن حيوانٍ  ونقْدٍ  و َ غيرِهِ  ما.
Ibnu al-Jauzi10, memberi makna,
ما تُقر  ب بِهِ إِ َ لى اللهِ مِ  ن َذبحٍ  و َ غيرِهِ.
Al-Shawi11, menyebutkan,
مايتَقرب بِهِ إِ َ لى اللهِ مِ  ن نعمٍ  و  عيرِ  ها.  و نِع م : إِبِ ٌ ل  وبَقر  و َ غن  م  و َ غير  ها مِثْلُ َأمتِعةٍ.
Al-Shabuni12, menyebutkan,

----------------------------------------------------------------------------
6 Qs. Ali Imran [3]:183.
7 Qs. Al-Ahqaf [46]:28. Al-Raghib al-Ashfahani (selanjutnya disebut al-Raghib), Mu’jam Mufradat Alfâdl al-
Qur’ân, Dâr al-Fikr, Libanon, tt, h. 415.
8 QS. Al-Maidah [5]:27.
9 Al-Maraghi, Op. Cit. II:145.
10 Al-Jauzi, Op. Cit. IV:116.
11 Shawi, Op. Cit. I:183.
12 Al-Shabuni, Op. Cit. I:168.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------3
Qurban dalam Sejarah
© Copyright 2008-2009 - Pendidikan Dalam Al-Qur`ân www.pesantrenpajagalan.com. All rights reserved. 



ما يذْبح مِ  ن الأَنعامِ تَقربا إِ َ لى اللهِ.
Al-Ragghib13 menyebutkan,
ما يتَقرب بِهِ إِ َ لى اللهِ وصا  ر فيِ التعارفِ اِ  س  ما لِلنسِي َ كةِ الَّتِي هِ  ي َالذَّبِي  حة.
Dari definisi di atas, maka dapat kita tarik pengertian, bahwa qurban pada
dasarnya bermakna, sesuatu yang diniatkan untuk mendekatkan diri kepada Allâh
baik berupa penyembelihan binatang atau dengan yang lainnya, seperti shadaqah
harta benda atau barang-barang. Kemudian kata qurban digunakan dalam pergaulan
untuk suatu nama sembelihan, karena sembelihan tersebut mengandung niat untuk
mendekatkan diri kepada Allâh Swt.


B. Qurban syariat ummat terdahulu

Penyembelihan binatang sebagai pendekatan diri kepada Allâh Swt. bukanlah
sesuatu yang baru, atau khusus bagi satu ummat saja, akan tetapi telah ada sejak
umat terdahulu. Hal ini dijelaskan al-Qur’ân dalam al-Hajj 34,
 ولِكُلِّ أُمةٍ  جعْلنا من  س ً كا لِيذْكُروا اس  م اللَّهِ  عَلى ما  ر  زَق  هم من بهِي  مةِ اْلَأنعامِ َفإَِلهكُم إَِله
واحِ  د َفَله َأسلِموا  وب  شرِ الْمخبِتِ  ين.
Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (qurban), supaya mereka menyebut nama Allâh terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allâh kepada mereka, maka Ilahmu ialah Ilah Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allâh)14.

Dalam hal ini al-Maraghi menyebutkan bahwa Allâh telah mengsyariatkan bagi setiap agama dari ummat terdahulu sebelum ummat Muhammad Saw sembelihan yang mereka sembelih dan darah yang mereka cucurkan sebagai wujud dari
taqarrub (pendekatan diri) kepada Allâh Swt. Hal demikian disyariatkan untuk mereka menyebut nama Allâh ketika menyembelihnya, dan agar bersyukur terhadap nikmat yang diberikan kepada mereka15. Bisa jadi dalam cara ibadah bagi setiap ummat tidak sama atau berbeda caranya sesuai waktu dan tempat, akan tetapi maksud dari semuanya sama, yaitu ibadah hanya kepada Allâh yang satu dan tidak musyrik kepadanya. Kata Mansakân pada ayat di atas dijelaskan al-Suyuthi, pertama berarti ‘Îdân (hari raya). Ini Riwayat Ibnu ‘Abbas. Kedua Ihrâqu al-Dimâ`a (mencucurkan darah), ini dari Mujahid. Dan ketiga Dzabhân (sembelihan), ini dari riwayat Ikrimah16. Makna yang kedua dan ketiga di atas (penyembelihan dan mencucurkan darah) sejalan dengan penafsiran al-Thabari yang menyebutkan bahwa bagi setiap jama’ah ummat terdahulu dari ahli iman kepada Allâh, telah

----------------------------------------------------------------------------
13 Al-Raghib, Op. Cit. h. 414.
14 Qs. Al-Hajj [22]:34.
15 Al-Maraghi, Op. Cit. VI:112.
16 Al-Suyuthi, Op. Cit. VI:47.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------4
Qurban dalam Sejarah
© Copyright 2008-2009 - Pendidikan Dalam Al-Qur`ân www.pesantrenpajagalan.com. All rights reserved. 



disyariatkan penyembelihan dimana mereka mencucurkan darahnya17. Perbedaan dalam cara beribadah bagi setiap ummat, yang termasuk di dalamnya qurban, telah diisyaratkan al-Qur’ân dalam al-Hajj 67,
لِ ُ كلِّ أُمةٍ  جعْلنا من  س ً كا  ه  م ناسِ ُ كوه َفَلا ينازِعن  ك فِي الَْأمرِ واد  ع إَِلى  رب  ك إِن  ك َلعَلى  ه  دى
م  ستقِيمٍ
Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syarî’at tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syarî’at) ini dan serulah kepada (agama) Rabbmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus18.

Terhadap ayat ini al-Maraghi menafsirkan, bahwa Allâh telah menurunkan bagi
setiap agama samawi syarî’at yang khusus bagi mereka, mereka beramal dan
mengikuti ketentuan-ketentuannya. Menurutnya, Ummat yang hidup dari masa
Nabi Musa As diutus (menjadi Rasûl) hingga diutusnya ‘Isa As. Mansak-nya
(syarî’atnya) apa yang tercantum dalam Kitab al-Taurat. Ummat dari masa ‘Isa As
diutus sampai Muhammad Saw diutus menjadi Nabi dan Rasûl, mansak-nya, apa
yang terdapat dalam Kitab al-Injil. Dan ummat Muhammad mereka adalah yang ada
sejak Muhammad diutus sampai hari kiamat, dan mansak bagi ummat Muhammad
itu apa yang terdapat dalam al-Qur’ân19. Sejalan dengan keterangan di atas, apa yang
dikemukakan Ibnu ‘Abbas tentang mansakan. Kata mansakan, dalam al-Hajj 67
ditafsirkan Ibnu ‘Abbas, yang dikutif oleh al-Shabuni menunjukkan makna al-Syarî’at
wa al-Manhâj (syarî’at dan aturan)20. Dan pendapat ini yang dipilih oleh al-Razi. Asal
kata mansak dalam bahasa Arab, menurut al-Thabari, al-Maudhi’u al-Mu’tâdu yaitu
tempat yang dibiasakan21. Yang dimaksud ialah tempat yang biasa digunakan
manusia beramal, beraktifitas berulang-ulang baik untuk sesuatu yang baik atau
yang buruk. Dan disebut Manâsik al-Hajj karena manusia berulang-ulang pergi ke
tempat-tempat yang di sana dilakukan ibadah hajji dan Umrah. Pada kata mansak
terdapat dua bahasa; pertama dibaca mansik dan ini dari bahasa ahli Hijaj, sedangkan
yang kedua mansak, ini dari bahasa Asad‘.

C. Qurban Dalam Sejarah

1.Qurban di masa Nabi Adam As

Qurban adalah suatu sunnah yang telah lama, dilakukan pertama kali oleh dua
anak Adam Qâbîl dan Hâbîl. Ini dijelaskan Quran,
وات ُ ل  عَليهِم نبَأ ابن  ي آدم بِالْح  ق إِ ْ ذ َقربا ُق  ربانا َفتقُب َ ل مِن َأ  حدِهِ  ما  وَلم يتَقبلْ مِ  ن الآ  خرِ قَا َ ل
َلَأقْتَلن  ك قَا َ ل إِن  ما يتَقبلُ اللّه مِ  ن الْمتقِ  ين.
Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Hâbîl dan Qâbîl) menurut yang
sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan qurban, maka diterima salah seorang dari
mereka berdua (Hâbîl) dan tidak diterima dari yang lain (Qâbîl). Ia berkata (Qâbîl): Aku pasti

----------------------------------------------------------------------------
17 Al-Thabari, Op. Cit. X:160.
18 Qs. Al-Hajj [22]:67.
19 Al-Maraghi, Op. Cit. VI:139.
20 Al-Shabuni, Op. Cit. h. 204.
21 Al-Thabari, Op. Cit. X:198.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------5
Qurban dalam Sejarah
© Copyright 2008-2009 - Pendidikan Dalam Al-Qur`ân www.pesantrenpajagalan.com. All rights reserved. 


membuNûhmu!. Berkata Habil: Sesungguhnya Allâh hanya menerima (qurban) dari orangorang
yang bertaqwa22.

Al-Shawi dan Ibnu al-Jauzi menjelaskan tafsiran ayat di atas yaitu. Allâh
memerintah Adam agar mengawinkan Qâbîl dengan saudara perempuan kembar
Hâbîl yang tidak bagus rupa, dan mengawinkan Hâbîl dengan saudara perempuan
kembar Qâbîl yang cantik rupa. Pada saat itu Adam dilarang Allâh mengawinkan
perempuan kepada saudara laki-lakinya yang kembar. Namun Qâbîl menolak hal ini,
sementara Hâbîl menerima. Qâbîl ingin kawin dengan saudara perempuan
kembarnya sendiri yang cantik rupa. Maka Adam menyuruh kedua anaknya untuk
berqurban, siapa yang diterima qurbannya, itu yang menjadi suami bagi saudara
perempuan kembar Qâbîl yang cantik23. Menurut Shawi tanda diterimanya qurban
itu dengan datang api dari langit lalu membakarnya 24 . Sementara al-Maraghi
menyebutkan bahwa hal itu dari berita Isrâ’îliat25. Kemudian kedua anak Adam itu
berqurban, Hâbîl dengan Kibasy yang berwarna putih, matanya bundar dan
bertanduk mulus, dan berqurban dengan jiwa yang bersih. Ia adalah shahib al-Ganam.
Dan Qâbîl shahib al-Hatrs wa al-Zar’i, tukang bercocok tanam, Ia berqurban dengan
makanan yang jelek, dan niat yang tidak baik. Maka diterima qurbannya Hâbîl, dan
tidak diterima qurbannya Qâbîl. Shawi menjelaskan, api menyambar Kibasy
qurbannya Hâbîl, sebagai tanda diterima qurbannya. Melihat hal demikian Qâbîl
marah, dan membunuh saudaranya. Maka Qâbîl Huwa al-Qâtil dan Hâbîl Huwa al-
Maqtûl.
Dari ayat kisah di atas terkandung nilai-nilai pendidikan; antara lain;
a. Tidak semua orang yang berqurban diterima qurbannya, sekalipun sapinya
bersama, uangnya sama jumlah, tapi hasilnya di sisi Allâh belum tentu sama.
b. Diterima qurban seseorang tidak terukur karena jumlah dan besarnya yang
diqurbankan, tetapi terkait kuat dengan ketaqwaan, dan mendekat-kan dirinya
kepada Allâh.
c. Qurban pada masa Nabi Adam antara yang diterima dan yang tidak diterima
langsung dapat diketahui di dunia, hal ini berbeda dengan qurbannya ummat
Muhammad Saw yang dirinya (yang berqurban) tidak mengetahui pasti di
dunia apakah pengurbanannya itu diterima atau tidak.

2. Qurban di masa Nabi Idris As

Disunnahkan kepada kaum Nabi Idris As yang taat kepadanya antara lain;
beragama Allâh, bertauhid, ibadah kepada khaliq, membersihkan jiwa dari siksa
akhirat dengan cara beramal shalih di dunia, bersifat Zuhud, adil, saum pada hari
yang ditentukan pada tiap bulan, berjihad, berzakat dan sebagainya. Dan bagi kaum
Idris ditetapkan hari-hari raya pada waktu-waktu yang tertentu, serta berqurban; di
antaranya saat terbenam matahari ke upuk dan saat melihat hilal. Mereka diperintah
berqurban antara lain dengan al-Bakhûr (dupa atau wangi-wangian), al-Dzabâih
(sembelihan), al-Rayyâhîn (tumbuhan-tumbuhan yang harum baunya), di antaranya

----------------------------------------------------------------------------
22 Qs. Al-Maidah [5]:27.
23 Shawi, Op. Cit. I:369. dan al-Jauzi, Op. Cit. II:332.
24 Shawi, Op. Cit. I:369
25 Al-Maraghi, Op. Cit. II:98.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------6
Qurban dalam Sejarah
© Copyright 2008-2009 - Pendidikan Dalam Al-Qur`ân www.pesantrenpajagalan.com. All rights reserved. 



al-Wardu (bunga ros), dan al-hubûb biji-bijian, seperti al-Hinthah (biji gandum), dan
juga berqurban dengan al-Fawâkih (buah-buahan), seperti al-‘Inab (buah anggur)26.

3. Qurban di zaman Nabi Nûh As.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa berqurban dan mencucurkan

darah (penyembelihan) atas nama Allâh Swt disyarî’atkan pada semua millah, tidak
hanya pada satu millah tertentu27.
 ولِكُلِّ أُمةٍ  جعْلنا من  س ً كا لِيذْكُروا اس  م اللَّهِ  عَلى ما  ر  زَق  هم من بهِي  مةِ الْأَنعامِ َفإَِلهكُم إَِله
واحِ  د َفَله َأسلِموا  وب  شرِ الْمخبِتِ  ين.
Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (qurban), supaya mereka
menyebut nama Allâh terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allâh kepada mereka,
maka Ilahmu ialah Ilah Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan
berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allâh)28.

Hasbi al-Shiddieqiy menyebutkan, sesudah terjadi taufan (banjir) Nûh, Nabi
Nûh As membuat tempat yang sengaja dan tertentu untuk meletakkan qurban, yang
nantinya qurban tersebut sesudah diletakkan di tempat tadi dibakar29. Apa yang
dijelaskan Hasbi Al-Shiddieqiy tersebut, tampaknya semakna dengan arti dari lafadz
Mansakân yaitu dari sisi tempat yang sengaja dan tertentu untuk qurban, karena arti
asal dari kata Mansakân, seperti yang dijelaskan al-Thabari yaitu,
م َ كانا يغشاه  ويأْلِفُه لِ  خيرٍ  و  شر.
Tempat yang didatangi dan dibiasakan untuk (melakukan) kebaikan atau kejelekan30.
Kemudian kata itu selanjutnya digunakan untuk arti Dzabhan (penyembelihan
hewan qurban)

4. Qurban di zaman Nabi Ibrâhîm As.

Telah dimaklumi banyak orang, qurban terjadi juga pada masa Nabi Ibrâhîm

As. Hasbi Al-Shiddiqiy menyebutkan, mula-mula Ibrâhîm melakukan qurban itu
dengan cara menshadaqahkan roti dan sebagainya, Kemudian beliau menyembelih
anak sapi, kambing dan biri-biri 31 . Dalam al-Qur’ân Allâh Swt mengkisahkan
qurbannya Ibrâhîm As untuk menyembelih anaknya Isma’îl As yang kemudian
diganti Allâh dengan seekor Kibasy,
َفَل  ما بَل َ غ معه ال  سع  ي قَا َ ل يابني إِني َأ  رى فِي الْمنامِ َأني َأذْبح  ك َفان ُ ظ  ر ماَذا ترى قَا َ ل ياَأبتِ
اْفع ْ ل ماتؤمر  ستجِ  دنِي إِن شآءَ اللهُ مِ  ن ال  صابِرِي  ن # َفَل  مآ َأسَل  م  وتلَّه لِلْ  جبِينِ #  وناديناه َأن

----------------------------------------------------------------------------
26 Al-Najari, Op. Cit. h. 26.
27 Isma’îl Bin Katsir (selanjutnya disebut Ibnu Katsir), Tafsir Ibn Katsir, Sulaiman Mar’i, Singpur, tt, II:220.
28 Qs. Al-Hajj [22]:34.
29 Hasbi al-Shiddiqiy, Tuntunan Qurban, Bulan Bintang, Jakarta, 1950, h. 2.
30 Al-Thabari, Loc. Cit.
31 Hasbi al-Shiddiqiy, Loc. Cit.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------7
Qurban dalam Sejarah
© Copyright 2008-2009 - Pendidikan Dalam Al-Qur`ân www.pesantrenpajagalan.com. All rights reserved. 



يآإِبراهِيم # َق  د  ص  دقْ  ت الرءْيآ إِنا َ ك َ ذلِ  ك ن  جزِي الْمحسِنِ  ين # إِنَّ  ه َ ذا َله  و اْلبلآ  ؤا الْمبِين #
 وَف  ديناه بِذِبحٍ عظِيمٍ.
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrâhîm,
Ibrâhîm berkata: Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku
menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu! Ia menjawab: Hai bapakku, kerjakanlah
apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allâh kamu akan mendapatiku termasuk orangorang
yang sabar. (.:) Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrâhîm membaringkan
anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya). (.:) Dan Kami panggillah dia: Hai
Ibrâhîm, (.:) sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah
Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (.:) Sesungguhnya ini benarbenar
suatu ujian yang nyata. (.:) Dan Kami tebus anak itu dengan dengan seekor sembelihan
yang besar32.

Allâh Swt menguji keimanan Nabi Ibrâhîm As dengan memerintah-kannya
untuk menyembelih anaknya yang dicintai Isma’îl As buat qurban. Ini memberi
pendidikan, qurban itu ujian bagi yang beriman antara cinta terhadap Allâh dan
cinta terhadap sesuatu yang dimiliki dan dicintai seperti uang, binatang dan
sebagainya. Pada suatu malam, yaitu malam kedelapan dari bulan Dzulhijjah,
Ibrâhîm bermimpi, bahwa Ia diperintahkan agar menyembelih anaknya Isma’îl,
Maka pada pagi hari itu Ibrâhîm berpikir, apakah mimpi itu dari Allâh atau dari
syaitan. Karena ragu terhadap kebenaran mimpinya itu, Ia tidak melaksanakan
perintah itu pada siang harinya. Oleh karena itu, malam kedelapan dari bulan
Dzulhijjah itu dinamai, malam tarwiyah artinya, malam berpikir, siang harinya
dinamai, hari tarwiyah. Selanjutnya pada malam yang kesembilan Ibrâhîm bermimpi
lagi. Dengan demikian mengertilah Ibrâhîm, bahwa mimpinya itu dari Allâh. Karena
itu hari kesembilan dinamai, hari ‘Arafâh, hari mengetahui (mengenal). Maka
berazamlah Ibrâhîm. Dan pada malam yang kesepuluh Ibrâhîm pun bermimpi lagi.
Maka pada waktu dluha hari yang kesepuluh itu, Ibrâhîm pun melaksanakan
perintah untuk menyembelih anaknya. Karena itu, hari yang kesepuluh dinamai, hari
nahar artinya hari penyembelihan. Ibnu al-Jauzi mengutip pendapat Ibnu ‘Abbas,
Qutaibah dan Ibnu al-Saib yang menyebutkan, Isma’îl saat itu sudah dapat bekerja,
pergi bersama ayahnya dan kira-kira usianya 13 tahun. Dan ini di antara tafsiran dari
kata, al-Sa’yâ. Menurut Ibnu al-Jauzi, saat Ibrâhîm akan menyembelih anaknya,
Isma’îl berkata pada ayahnya Ibrâhîm,
ُا  ش  د  د رِباطِ  ي  ح  تى َ لا َأ  ض َ طرِ  ب,  و ا ْ كُف  ف  ع  ن ثِيابِ  ك  ح  تى َ لا ينتضِ  ح  عَلي  ك مِ  ن دمِ  ي َفتراه ُأمي
َفت  حز ْ ن,  وَأ  سرِ  ع مر ال  سكِّينِ  عل  ى  حْلقِي لِي ُ ك  و َ ن َأ  ه  و ُ ن لِْل  م  وتِ  عَل  ي, َفإَِذا َأتي  ت ُأمي َفاْقرُأ  عَلي  ها
ال  س َ لام مِ  ني.
Kuatkanlah ikatanku hingga aku tidak dapat bergerak, Jauhkanlah bajumu hingga tidak
terpercik darahku lalu terlihat ibuku hingga ia nanti bersedih, dan cepatkanlah gesekan pisau
pada leherku hingga mati mudah bagiku, dan jika ayah datang pada ibu sampaikan salam
dariku.

----------------------------------------------------------------------------
32 Qs. Ash-Shafaat [37]:107.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------8
Qurban dalam Sejarah
© Copyright 2008-2009 - Pendidikan Dalam Al-Qur`ân www.pesantrenpajagalan.com. All rights reserved. 



Selanjutnya Ibrâhîm mendekati Isma’îl dan menciumnya Iapun menangis
sambil berkata pada anaknya,
نِع  م اْلع  و ُ ن َأن  ت يابني عل  ى َأمرِ اللهِ عز  و  جلَّ.
Berbahagialah wahai anakku berada dalam pertolongan serta perintah Allâh.
Kemudian Allâh menggantikan Isma’îl dengan seekor Kibasy 33 . Hasbi Al-
Shiddieqiy menyebutkan, tanduk Kibasy itu dipelihara baik-baik oleh Ibrâhîm
sebagai tanda dan digantungkan di Ka’bah 34 . Dari abad ke abad tanduk itu
tergantung di situ. Ketika Ka’bah terbakar pada masa al-Zubaer, barulah tanduk itu
lenyap, diperkirakan turut terbakar. Kemudian setiap tahun, pada tiap-tiap hari
yang kesepuluh dari Dzulhijjah, Ibrâhîm menyembelih qurban. Pekerjaan
menyembelih qurban dilanjutkan oleh anak-anak Ibrâhîm. Qurban-qurban itu
setelah disembelih, menurut Hasbi, lalu dibakar.

5. Qurban di zaman Nabi Musa As.

Penyembelihan qurban berlaku hingga zaman Musa As. Nabi Musa membagi

binatang yang disediakan untuk qurban kepada dua bagian, sebagian dilepaskan
saja, dan sebagian lagi disembelih. Dari sini menurut Hasbi, asal usulnya
melepaskan binatang, membiarkannya berkeliaran sesudah diberi tanda yang
diperlukan35.

6. Qurban Bani Israiel

Ada beberapa riwayat yang menjelaskan tentang qurbannya Bani Isrâ’îl,

antaralain, Riwayat dari ‘Atha, yang menyebutkan,
َ كا َ ن بن  و إِ  سرائِي َ ل ي ْ ذب  ح  و َ ن للهِ َفيْأ  خ ُ ذ  و َ ن َ طايِ  ب اللَّ  حمِ َفي  ضع  ون  ها فيِ  و  سطِ اْلبيتِ ت  ح  ت ال  س  ماءِ
َفيُق  وم النبِ  ي فيِ اْلبيتِ  ويناجِ  ي  ربه َفتنزِ ُ ل نار َفتْأ  خ ُ ذ َذلِ  ك اْلُق  ربا َ ن َفي  خر النبِ  ي  ساجِ  دا.
Bani Isrâ’îl mereka menyembelih sembelihan untuk (qurban) kepada Allâh, mereka ambil
daging binatang yang paling bagus, lalu mereka simpan di tengah rumah di bawah langit.
Seorang Nabi berdiri di dalam rumah memohon pada Tuhannya, lalu turun api membakar
qurban itu, lalu Nabi itu bersujud36.
Riwayat Ibn al-Mundzir dari Ibn al-Juraij yang dikutip al-Suyuthi, ia berkata,
Ummat dulu sebelum kita, jika seorang dari mereka berqurban, orang-orang keluar
menyaksikan apakah qurban mereka itu diterima atau tidak. Jika diterima datang api
putih (Baidhâ`u) dari langit membakar apa yang diqurbankan. Jika qurbannya tidak
diterima, api itu tidak muncul37. Menurut Shawi, api itu Lâ dukhâna lahâ wa lahâ
dawiyun (api yang tidak berasap dan berbunyi)38. Riwayat Ibn Jarir, yang dikutip Al-
Maraghi menyebutkan, seorang laki-laki dari mereka (Bani Isrâ’îl) bershadaqah, jika

----------------------------------------------------------------------------
33 Al-Jauzi, Op. Cit. VII:73.
34 Hasbi al-Shiddiqiy, Op. Cit. h. 4.
35 Ibid, h. 5.
36 Al-Jauzi, Op. Cit. I:516.
37 Al-Suyuthi, Op. Cit. II:398.
38 Shawi, Op. Cit. I:257.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------9
Qurban dalam Sejarah
© Copyright 2008-2009 - Pendidikan Dalam Al-Qur`ân www.pesantrenpajagalan.com. All rights reserved. 


diterima turun api dari langit, lalu membakar apa yang mereka shadaqahkan39. Pada
masa Nabi Muhammad orang Yahudi diantaranya Ka’ab bin al-Asyraf, Malik bin al-
Shaif datang pada Nabi, mereka berkata, Allâh telah memerintahkan pada kami
dalam Taurat jangan beriman kepada seorang Rasûl kecuali dapat berqurban yang
dibakar api40, untuk itu turun ayat Ali Imran 183,
الَّذِي  ن َقاُلوْا إِنَّ الّله  عهِ  د إَِلينا َألاَّ نؤمِ  ن لِر  سولٍ  حت  ى يْأتِينا بُِقربانٍ تأْكُلُه النا  ر ُق ْ ل َق  د  جاء ُ ك  م
 ر  س ٌ ل من َقبلِي بِاْلبيناتِ  وبِالَّذِي ُقْلت  م َفلِ  م َقتْلت  مو  ه  م إِن ُ كنت  م صادِقِ  ين
(Yaitu) orang-orang (Yahudi) yang mengatakan: Sesungguhnya Allâh telah
memerintahkan kepada kami, supaya kami jangan beriman kepada seseorang Rasûl, sebelum
dia mendatangkan kepada kami qurban yang dimakan api. Katakanlah: Sesungguhnya telah
datang kepada kamu beberapa orang Rasûl sebelumku, membawa keterangan-keterangan
yang nyata dan membawa apa yang kamu sebutkan, maka mengapa kamu membuNûh
mereka jika kamu orang-orang yang benar41.

Jawaban Rasûl terhadap mereka, Rasûl-Rasûl sebelum aku telah datang dengan
membawa al-Bayyinat. Menurut Shawi al-Bayyinat yaitu, al-Mu’jizât dan al-Ladzi
qultum (apa yang kamu sebutkan) 42 . Menurut Ibn Al-Jauzi, apa yang mereka
sebutkan itu adalah qurban43. Apa yang dikatakan Bani Israel itu, hanyalah mengadaada,
yang pada hakekatnya mereka tetap tidak akan beriman44, buktinya merekalah
yang membunuh Nabi mereka, yaitu Nabi Zakaria dan Nabi Yahya As padahal
keduanya telah membawa mu’jizat apa yang mereka katakan (Qurban)45

7. Qurban Nabi Zakaria dan Yahya As.

Zakaria dan Yahya As, diantara Nabi dan Rasûl dari Bani Isrâ’îl, pada keduanya

ada qurban. Menurut Shawi, qurbannya dengan binatang dan amti’atun (barangbarang)
lalu dibakar Api46.
َ كز َ كرِيا  وي  حيى َف  جا  ؤ  وا بُِقربانٍ  وَأ َ كَلته النا  ر.
Seperti Zakaria dan Yahya lalu mereka datang dengan qurban dan di bakar api.
Ibnu Abi Hatim menyebutkan,
َ كان  ت  ر  س ٌ ل تجِ ُ ئ بِاْلبيناتِ  و  ر  س ٌ ل  ع َ لامُة نب  وتِهِ َأ ْ ن ي  ض  ع َأ  ح  د  ه  م َل  ح  م اْلبَقرِ  عل  ى يدِهِ َفتجِ ُ ئ نار
مِ  ن ال  س  ماءِ َفتْأ ُ كُله.
Para Rasûl datang dengan membawa mu’jizat dan (sebagian) Rasûl dari tanda
kenabiannya, Ia letakkan daging sapi pada tangannya, (sebagai qurban) lalu datang api dari
langit dan membakarnya47.

----------------------------------------------------------------------------
39 Al-Maraghi, Op. Cit. II:149.
40 Al-Shabuni, Op. Cit. I:169.
41 Qs. Ali Imran [3]:183.
42 Shawi, Op. Cit. I:258.
43 Al-Jauzi, Loc. Cit.
44 Al-Maraghi, Loc. Cit.
45 Shawi, Loc. Cit.
46 Ibid.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------10
Qurban dalam Sejarah
© Copyright 2008-2009 - Pendidikan Dalam Al-Qur`ân www.pesantrenpajagalan.com. All rights reserved. 



8. Qurban Pada Bangsa Yahudi dan Nashrani
Bangsa Yahudi merupakan sebagian dari bani Isrâ’îl. Sementara Bani Isrâ’îl
adalah keturunan Nabi Ya’qub As. Nabi Ya’kub bergelar, Isrâ’îl. Pada bangsa Yahudi
terdapat qurban yang biasa mereka lakukan demikian juga pada bangsa Nashrani.
Al-Maraghi, menyebutkan qurban pada bangsa Yahudi dan bangsa Nashrani, yaitu:
a. Melakukan pengurbanan dengan membakar sebagai sesaji yang bertujuan
mengingat-ingat kesalahan, yaitu dengan menyembelih sapi dan kambing
jantan yang mulus tidak cacat.
b. Qurban dengan menghidangkan: tepung, minyak dan susu.
c. Qurban karena adanya ketentraman, sebagai rasa syukur kepada al-Rabb
ta’ala48.
Qurban pada bangsa Nashrani, antara lain:
Persembahan missa seorang Kahin berupa roti dan arak. Yang menurut
keyakinan pada mereka hakekatnya, roti dan arak yang mereka qurbankan ditukar
dengan daging dan darah al-Masih.

9. Qurban pada Bangsa Arab Jahiliyah

Bangsa Arab Jahiliyah juga suka berqurban. Qurban mereka dipersem-bahkan

untuk berhala-berhala yang mereka sembah. Qurbannya ada binatang yang
disembelih untuk berhala, dan ada binatang yang dilepas bebas berke-liaran, juga
untuk berhala. Al-Suyuthi mengutip riwayat Ibn Abi Hatim yang menjelaskan,
َ كا َ ن َأ  ه ُ ل اْل  جاهِلِيةِ ين  ض  ح  و َ ن اْلبي  ت بُِل  ح  ومِ الإِبِلِ وِدِمائِ  ها.
Cara qurban Arab Jahiliyah, yaitu mereka jika menyembelih binatang qurban, seperti
unta, mereka percikan daging dan darahnya pada al-baet (ka’bah)49.
Dalam riwayat lain dari Ibnu Jarir, dijelaskan al-Suyuthi,
َف َ كانوا إَِذا َذب  ح  وا ن  ضحوا ال  دم عل  ى ما َأقْب َ ل مِ  ن الْبيتِ  و  شرحوا اللَّح  م  و  جعلُوه عل  ى
الْحِجا  رةِ.
Arab Jahili jika mereka menyembelih binatang, memercikan darahnya pada permukaan
ka’bah, dan memotong-motong dagingnya lalu mereka simpan di atas batu.
Atas cara Jihili ini, Al-Qur’ân telah menjelaskan,
َلن ينا َ ل اللَّه ُل  حومها  وَلا دِما  ؤها  وَلكِن يناُله الت ْ ق  وى مِن ُ ك  م َ ك َ ذلِ  ك  س  خر  ها َل ُ ك  م لِت َ كبروا اللَّه  عَلى
ما  ه  دا ُ ك  م  وب  شرِ الْمحسِنِ  ين.
Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan)
Allâh, tetapi ketaqwan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allâh telah

----------------------------------------------------------------------------
47 Al-Suyuthi, Op. Cit. II:399.
48 Al-Maraghi, Op. Cit. II, 6::98.
49 Al-Suyuthi, Loc. Cit.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------11
Qurban dalam Sejarah
© Copyright 2008-2009 - Pendidikan Dalam Al-Qur`ân www.pesantrenpajagalan.com. All rights reserved. 



menundukkanya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allâh terhadap hidayah-Nya
kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik50.
Selain qurban yang disembelih, juga ada qurban Jahiliyah yang dilepas untuk
sembahan mereka, yaitu Bahîrah, sâibah, washîlah, hâm.
a. Bahîrah, ialah unta betina yang telah beranak lima kali, dibebaskan, tidak boleh
diganggu. Jika anak yang kelima jantan, mereka sembelih dan boleh dimakan
baik oleh laki-laki atau perempuan. Jika Betina dibelah telinganya, dan hanya
dapat diambil manfaatnya oleh laki-laki, tidak boleh oleh wanita. Jika betina itu
mati, halal, baik bagi laki-laki atau wanita. Ini Ibnu Abbas, dan Ibnu Qutaibah.
b. Sâibah, yaitu unta jantan yang dilepas tidak boleh diganggu karena dipakai
nazar pada Thaugut-thaugut mereka. Orang Arab Jahiliyyah jika mereka sakit
atau sesuatu yang hilang kembali lagi, mereka jadikan unta jantan saibah. Ini
dari Ibnu Qutaibah.
c. Washîlah, ialah domba betina jika melahirkan betina, mereka makan. Jika lahir
jantan dipersembahkan buat Tuhan mereka. Jika kembar, mereka tidak
menyembelih yang jantan karena buat Tuhan mereka. Ini pendapat al-Zujâj.
d. Hâm, ialah unta jantan yang telah dapat membuntingkan unta betina 10 kali,
tidak boleh diganggu-gugat lagi, untuk Tuhan mereka. Ini dari Ibnu Abbas51.
Untuk hal ini al-Qur’ân menjelaskan,
ما  جع َ ل اللّه مِن بحِ  يرةٍ  و َ لا سآئِبةٍ  و َ لا وصِيَلةٍ  و َ لا حامٍ وَلكِ  ن الَّذِي  ن َ كَفروْا يفْترو َ ن  عَلى الّلهِ
الْ َ كذِ  ب  وَأكَْثرهم َ لا يعقُِلو َ ن.
Allâh sekali-kali tidak pernah mensyari'atkan adanya Bahîrah, sâibah, washîlah, dan
hâm. Akan tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allâh, dan
kebanyakan mereka tidak mengerti52.
Menurut Hasbi, sembelihan Jahiliyyah itu terbagi tiga:
a. Untuk mendekatkan diri kepada sesuatu yang dipuja. Sembelihan untuk
maksud ini dibakar, mereka ambil kulitnya saja, dan mereka berikan kepada
Kahin.
b. Untuk meminta ampun. Untuk maksud ini, dibakar separuh, dan separuhnya
lagi diberikan kepada kahin.
c. Untuk memohon keselamatan. Untuk maksud ini mereka makan53.

10.Qurban bangsa Yunani dan Rumawi

Bangsa Yunani membagi-bagikan daging qurban kepada orang-orang yang

hadir, sedikit-sedikit buat dijadikan berkat. Dan dikala upacara penyembelihan,
pendeta memercikan madu dan air atas yang hadir. Kemudian madu dan air diganti
dengan air mawar. Adat memercikan air mawar ini, didapati dalam upacara qurban
hingga sekarang. Sebagian manusia tidak memandang cukup berqurban dengan

----------------------------------------------------------------------------
50 Qs. Al-Hajj [22]:37.
51 Al-Jauzi, Op. Cit. II:436.
52 Qs. Al-Maidah [5]:103.
53 Hasbi al-Shiddiqiy, Op. Cit. h. 5.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------12
Qurban dalam Sejarah
© Copyright 2008-2009 - Pendidikan Dalam Al-Qur`ân www.pesantrenpajagalan.com. All rights reserved. 


menyem-belih binatang, tetapi dengan menyem-belih manusia pula. Bangsa Finiki,

Persi, Rumawi dan bangsa Mesir, melakukan penyembelihan manusia untuk qurban.
Lama sekali adat ini berlaku di Benua Eropa. Pada tahun 657 M baru adat buruk ini
dilarang oleh majlis ketua-ketua agama. Dalam masa itu bangsa Jerman masih tetap
mengerjakannya. Menurut riwayat bangsa Mesir dulu pada tiap-tiap tahun
mempersembahkan seorang gadis kepada sungai Nil. Gadis itu setelah dihiasi,
ditenggelamkan ke dalam sungai Nil. Adat ini lama berjalan di Mesir, pada zaman
‘Amer bin ‘Ash baru adat ini dilenyapkan54. Berkaitan qurban dengan manusia ini,
ada riwayat dari Abd al-Razzaq yang bersumber dari Ibn Abbas, Dimana seorang
lelaki berkata pada Ibn Abbas, saya bernazar akan mengqurbankan diri saya.
(Nadzartu li`anharana nafsî) Ibn Abbas berkata, Laqad kâna lakum fî Rasûlillâh uswatun
hasanah. kemudian Ia membaca, Wa fadainaahu bidzabhin ‘adhzim lalu Ia perintahkan
qurban dengan Kibasy, maka laki-laki itu menyembelihnya55. Dalam riwayat al-
Thabrani, pada sumber yang sama Ibnu Abbas berkata,
م  ن ن َ ذ  ر َأ ْ ن ي ْ ذب  ح نْ ف  سه َفْلي ْ ذب  ح َ كب  شا ُث  م ت َ لا: َلَق  د َ كا َ ن َل ُ ك  م فيِ  ر  س  ولِ اللهِ ُأ  س  وٌة  ح  سنٌة.
Siapa yang bernadzar akan menyembelih dirinya sendiri maka hendaklah dia
menyembelih kabsyan, lalu ia (Ibnu Abbas) membaca, laqad kaana…56

11.Qurban Abdu al-Muthalib dan Nama Ibnu Dzabihain

Amin Duwaerad menjelaskan tentang qurbannya Abdu al-Muthalib yang antara

lain, Abd al-Muthalib bermimpi pada suatu malam ada suara yang memanggil, yang
ia tidak mengerti maknanya, yaitu, Ihfir Thayyibah!, lalu pada malam kedua
bermimpi lagi, Ihfir Barrah!, berikutnya bermimpi, Ihfir Madhmûnah! dan malam
keempat suara dalam mimpinya yaitu, Ihfir Zamzam!. Setelah itu baru ia mengerti
dan bermaksud untuk melaksanakan mimpinya itu, dengan disertai seorang
anaknya bernama al-Hârits. Ia pergi ke Ka’bah, di mana saat itu zamzam tertimbun,
yaitu pada masa Jurhum. Namun dihalangi orang-orang quraisy. Ia bernazar, jika
punya 10 orang anak dan dengan pertolongan anak-anaknya itu dapat
menyempurnakan mimpinya, maka Ia akan qurbankan salah seorang anaknya.
Setelah Abd al-Muthalib mempunyai 10 orang anak dan dengan bantuan mereka
dapat menyelesaikan penggalian zamzam, ia bermimpi agar memenuhi nazarnya
itu. Abdu al-Muthalib, mengemukakan kepada anaknya untuk memenuhi nazarnya,
dan mereka berlomba untuk terpilih menjadi orang yang diqurbankan. Ia beserta
anak-anaknya pergi ke Ka’bah dan melakukan undian dari 10 orang anaknya, dan
yang keluar itu yang diqurbankan yang keluar Abdullah (ayah Nabi). Namun ketika
itu orang-orang quraisy menolak dan menghalanginya. Hingga mereka mendatangi
seorang al-‘Arâfat yaitu kahin di Yatsrib. Kahin Yatsrib menghukumi mereka supaya
mengundi antara Abdullah dengan unta. Bila keluar unta, maka sembelih unta. Jika
yang keluar Abdullah maka setiap kali keluar diganti dengan 10 ekor unta. Lalu
mereka kembali ke Makkah, dan melakukan undian antara Abdullah dengan 10 ekor
unta. Undian pertama keluar Abdullah, lalu diganti dengan 10 ekor unta. Hal ini
sampai undian yang kesembilan yang keluar Abdullah, baru yang kesepuluh keluar
unta. Maka Abdu al-Muthalib mengganti dengan 100 ekor unta untuk berqurban.

----------------------------------------------------------------------------
54 Ibid, h. 6.
55 Al-Suyuthi, Op. Cit. VII:144.
56 HR. Al-Thabrani.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------13
Qurban dalam Sejarah
© Copyright 2008-2009 - Pendidikan Dalam Al-Qur`ân www.pesantrenpajagalan.com. All rights reserved. 



Namun Abdu al-Muthalib tidak yakin, Ia mengundi lagi hingga tiga kali, tapi dari
ketiganya yang keluar unta. Maka Ia berqurban dengan 100 ekor unta. qurban Abdu
al-Muthalib menjadi ‘hari raya’ bagi ahli mekah. Ia ingin menyempurnakan
kebahagiaan hari rayanya itu, lalu pergi pada Sayyid Bani Zahrah yaitu Wahab bin Abd
Manaf, melamar putrinya Aminah untuk anaknya Abdullah. Kemudian karena
peristiwa yang terjadi pada diri Isma’îl terjadi pula pada diri Abdullah, ayah Nabi
Muhammad, maka Nabi Saw, dinamai Ibnu Dzabîhaini (anak dari dua orang yang
disembelih)57.


Sayyid Sabiq menjelaskan, disyarî’atkan qurban atas dasar,
إِنا َأعطَينا  ك الْ َ كوَثر # َف  صلِّ لِرب  ك  وان  ح  ر # إِنَّ شانَِئ  ك ه  و اْلَأبتر.
Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. (.:) Maka
dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan berqurbanlah. (.:) Sesungguhnya orang-orang yang
membeci kamu dialah yang terputus58.
Terhadap kalimat Fashali lirabbika wanhar, al-Thabari menafsirkan, Jadikanlah
shalat kamu seluruhnya hanya karena Allâh bukan karena yang lain, dan jadikanlah
qurbanmu hanya karena Allâh bukan karena berhala, sebagai rasa syukur terhadap
Allâh 59 . Secara khusus shalat dan nahar disebut, karena shalat itu tempat
berkumpulnya ibadah-ibadah dan tiang agama. Sementara nahar padanya ada
pemberian makanan yang merupakan haq bagi hamba. Maka keduanya itu untuk
melakukan hak terhadap Allâh dan haq terhadap hamba Allâh 60 . Al-Suyuthi
mengutip riwayat dari Anas yang menyebutkan,
َ كا َ ن النبِ  ي ص ين  حر َقب َ ل َأ ْ ن ي  صلِّ  ي َفُامِر َأ ْ ن ي  صلِّ  ي ُث  م ن  حر.
Adalah Nabi Saw beliau berqurban sebelum shalat lalu beliau diperintah untuk shalat
dulu lalu kemudian berqurban61.
Menurut Shawi ada riwayat, bahwa Nabi Saw. menyembelih 100 Budnah
(unta/sapi) pada haji wada’ di Mina. 70 oleh tangannya sendiri dan 30 oleh Ali ra62.
Dan ayat lain dasar syarî’at qurban Nabi Muhammad, al-Hajj 36,
 واْلب  د َ ن  جعْلنا  ها َل ُ كم من شعائِرِ اللَّهِ َل ُ ك  م فِي  ها خير فَاذْ ُ كروا اس  م اللَّهِ  عَلي  ها صوا  ف َفإَِذا  و  جبت
 جنوبها َفكُلُوا مِن  ها  وَأطْعِموا الْقَانِ  ع  واْل  م  عتر َ ك َ ذلِ  ك  س  خرناها َل ُ ك  م َلعلَّكُم تش ُ كرو َ ن.
Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syiar Allâh, kamu
memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allâh ketika kamu
menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh
(mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang

----------------------------------------------------------------------------
57 Amin Duwairad, Shuwar Min Hayati al-Rasûl, Dâr al-Ma’arif, Makkah, 1953, h. 27-36.
58 Sayyid Sabiq, Op. Cit. III:274. Qs. Al-Kautsar [108]:1-3.
59 Al-Thabari, Op. Cit. XV:328.
60 Shawi, Op. Cit. IV:487.
61 Al-Suyuthi, Op. Cit. VII:651.
62 Shawi, Op. Cit. IV:486.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------14
Qurban dalam Sejarah
© Copyright 2008-2009 - Pendidikan Dalam Al-Qur`ân www.pesantrenpajagalan.com. All rights reserved. 



ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah
menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur63.
Ayat ini menjelaskan binatang yang dijadikan qurban, tujuan qurban, cara
menyembelih hewan qurban, kapan memakan daging qurban, siapa yang dapat
memakan daging qurban. Binatang qurban, yaitu al-Budnu, Ibnu al-Jauzi
menjelaskan, asal dari al-Budnu dalam bahasa ialah nama yang khusus bagi unta64.
Sedangkan sapi dipandang sama menempati tempat unta dalam hukumnya karena
Nabi Saw berkata,
 جع َ ل اْلب  د ََ ن  ع  ن  سبعةٍ  واْلبَقر  ع  ن  سبعةٍ.
Unta dijadikan dalam tujuh (bentuk) dan sapi merupakan bagian dari ketujuh bentuk
itu65.
Selanjutnya, al-Budnu adalah al-Ibil wa al-Baqar. Dalam ayat lain, al-Hajj 34
binatang qurban itu disebut juga Bahîmat al-‘An’am. Al-Thabari menyebutkan disebut
Bahîmat al-‘An’am karena dari bahaîm ada yang tidak termasuk kepada al-‘An’am,
seperti al-Khail (kuda) al-Bighâl, dan al-Hamîr (himar). Disebut bahaîm karena Lâ
Tatakallam (tidak bicara, bisu, gagu)66. Kata al-‘An’am menurut al-Raghib bentuk
jama’ dari al-na’amu, Dan kata al-na’amu khusus untuk unta, hal ini karena unta pada
bangsa Arab dipandang nikmat yang besar. Kemudian al-‘An’am digunakan untuk
unta, sapi dan kambing67. Tujuan qurban tercermin pada kalimat Sya’âirillâh, dan
cara menyembelihnya terdapat pada fâdzkurûsmallâh ‘alaihâ, dan kata Shawâf ini
kembali pada al-Budnu karena unta menurut Ibnu al-Jauzi disembelih sambil berdiri,
sedangkan binatang sapi dan kambing tidak disembelih sambil berdiri68. Kapan
daging qurban bisa dimakan, tercermin pada faidzâ wajabat junûbuhâ yaitu jika sudah
benar-benar mati. Dan siapa yang boleh memakan daging qurban, terdapat pada
kalimat fakulû minhâ wa ath’imu al-Qâni’a wa al-Mu’tar yaitu; orang yang
berqurbannya, al-Qâni’a (orang miskin yang menjauhkan diri), juga orang
disekeliling kita (tetangga dekat) sekalipun ia orang kaya69 dan al-Mu’tar ialah orang
miskin yang datang dan meminta-minta. Ketika ada perintah qurban, ada seorang
yang bertanya pada Nabi karena kemiskinannya. Hal ini dijelaskan a-Suyuthi70,
َأخر  ج َأب  و داود والنسائِ  ي  والحَاكِم  و  ص  ح  حه  ع  ن  عبدِ اللهِ بنِ  عمرٍٍ: َأنَّ  رج ً لا َأتى  رسو َ ل
اللهِ فَقَا َ ل َله  رسولُ: أُمِرت بِعِيدِ الآ  ض  حى  جعَله اللهُ لِ هذِهِ الأُمةِ. قَا َ ل الر  ج ُ ل: َفإِنْ َل  م نجِد
إِلاَّ َذبِي  حًة ُأنَثى َأ  و شاًة َأ  عَلي َ ذ ادبح  ها؟ قَا َ ل: َ لا,  وَلكِن َقلِّ  م َأظْفَا  ر  ك وُقص شارِب  ك  وا  حلِ  ق
عانت  ك فَذَالِ  ك تمام أُضحِيتِ  ك عِن  د اللهِ.

----------------------------------------------------------------------------
63 Qs. Al-Hajj [22]:36.
64 Al-Jauzi, Op. Cit. V:432.
65 HR. Muslim.
66 Al-Thabari, Op. Cit. X:60.
67 Al-Raghib, Op. Cit. h. 520.
68 Al-Jauzi, Loc. Cit.
69 Ibid, V:433.
70 Al-Suyuthi, Op. Cit. VI:47.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------15
Qurban dalam Sejarah
© Copyright 2008-2009 - Pendidikan Dalam Al-Qur`ân www.pesantrenpajagalan.com. All rights reserved. 



Makna yang terkandung dalam keterangan di atas tampaknya dapat dipahami,
bahwa antara qurban dan memotong kuku, menggunting kumis, mencukur rambut
kemaluan, ada persamaan yaitu merupakan bagian dari Millah Ibrâhîm As. Tidak
berarti bahwa penyembelihan hewan qurban itu dapat diganti oleh itu semua. Dapat
dipahami dari hadits itu, bahwa memotong kuku, menggunting kumis dan
mencukur rambut kemaluan itu sama-sama melakukan Millah Ibrâhîm As.


***



----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------16
Qurban dalam Sejarah
© Copyright 2008-2009 - Pendidikan Dalam Al-Qur`ân www.pesantrenpajagalan.com. All rights reserved. 



Comments