Al-Qur'an-Indonesia

SCRIB

TUITTER

Ulumul Qur'an

 

 

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَـبَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَىْءٍ وَهَدَى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِين

 

 



ULUMUL QUR'AN

diposkan pada tanggal 26 Mar 2012 20.09 oleh Drs. H.Muhammad Solihin   [ diperbarui4 Jun 2013 23.57 ]

 

 

 ULUMUL QUR'AN

Al-Qur’an adalah kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dengan perantara malaikat Jibril sebagai mu’jizat. Al-Qur’an adalah sumber ilmu bagi kaum muslimin yang merupakan dasar-dasar hukum yang mencakup segala hal.

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَـبَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَىْءٍ وَهَدَى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِين

Artinya  :   Kami turunkan kepadamu Al-Kitab untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (Q.S. An-Nahl : 89).

 

Mempelajari isi Al-Qur’an akan menambah perbendaharaan baru, memperluas pandangan dan pengetahuan, meningkatkan perspektif baru dan selalu menemui hal-hal yang selalu baru. Lebih jauh lagi, kita akan lebih yakin akan keunikan isinya yang menunjukkan Maha Besarnya Allah sebagai penciptanya.

 

Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab. Oleh karena itu, ada anggapan bahwa setiap orang yang mengerti bahasa Arab dapat mengerti isi Al-Qur’an. Lebih dari itu, ada orang yang merasa telah dapat memahami dan menafsirkan Al-Qur’an dengan bantuan terjemahnya, sekalipun tidak mengerti bahasa Arab. Padahal orang Arab sendiri banyak yang tidak mengerti kandungan Al-Qur’an. Maka dari itu, untuk dapat mengetahui isi kandungan Al-Qur’an diperlukanlah ilmu yang mempelajari bagaimana tata cara menafsiri Al-Qur’an yaitu Ulumul Qur’an dan juga terdapat faedah-faedahnya. Dengan adanya pembahasan ini, kita sebagai generasi islam supaya lebih mengenal Al-Qur’an, karena tak kenal maka tak sayang.

 

Arti Kata ‘Ulum

Secara etimologi, kata Ulumul Qur’an berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata, yaitu “Ulum” dan “Al-Qur’an”. Kata ulum adalah bentuk jamak dari kata “ilmu” yang berarti ilmu-ilmu. Kata ulum yang disandarkan pada kata Al-Qur’an telah memberikan pengertian bahwa ilmu ini merupakan kumpulan sejumlah ilmu yang berhubungan dengan Al-Qur’an, baik dari segi keberadaanya sebagai Al-Qur’an maupun dari segi pemahaman terhadap petunjuk yang terkandung di dalamnya. Untuk lebih memahami pengertian ilmu secara jelas, mari kita simak pendapat-pendapat di bawah ini :

 

Menurut para ahli filsafat, kata ilmu sebagai gambaran sesuatu yang terdapat dalam akal.

 

Menurut Abu Musa Al-Asy’ari, ilmu ialah sifat yang mewajibkan pemiliknya mampu membedakan dengan panca indranya.

 

Menurut Imam Ghazali, secara umum arti ilmu dalam istilah syara’ adalah ma’rifat Allah terhadap tanda-tanda kekuasaan, perbuatan, hamba-hamba dan makhluk-Nya.

 

Menurut Muhammad Abdul ‘Adzhim, ilmu menurut istilah adalah ma’lumat-ma’lumat yang dirumuskan dalam satu kesatuan judul atau tujuan.

Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa kata “ulum / ilmu” adalah masalah-masalah yang telah dirumuskan dalam satu disiplin pengetahuan yang terdapat dalam akal pikiran.

 

Arti Kata Al-Qur’an

Menurut bahasa, kata “Al-Qur’an” merupakan bentuk mashdar yang maknanya sama dengan kata “qira’ah” yaitu bacaan. Bentuk mashdar ini berasal dari fi’il madli “qoro’a” yang artinya membaca.

 

Menurut istilah, “Al-Qur’an” adalah firman Allah yang bersifat mu’jizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, yang tertulis dalam mushaf-mushaf, yang dinukil dengan jalan mutawatir dan yang membacanya merupakan ibadah. Untuk lebih memahami pengertian Al-Qur’an secara jelas, mari kita simak pendapat-pendapat di bawah ini :

 

Menurut Manna’ Al-Qathkan, Al-Qur’an adalah kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan orang yang membaca akan memperoleh pahala.

Menurut Al-Jurjani, Al-Qur’an adalah wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah yang ditulis dalam mushaf dan diriwayatkan secara mutawatir (berangsur-angsur).

 

Menurut kalangan pakar ushul fiqih, fiqih, dan bahasa Arab, Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi-Nya, lafadz-lafadznya mengandung mu’jizat, membacanya bernilai ibadah, diturunkan secara mutawatir dan ditulis dari surat Al-Fatihah sampai akhir surat yaitu An-Nas.

 

Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa kata “Al-Qur’an” adalah firman Allah yang bersifat mu’jizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dengan perantara malaikat Jibril yang tertulis dalam mushaf-mushaf yang dinukil kepada kita secara mutawatir, membacanya bernilai ibadah, yang diawali dengan surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat An-Nas.

Arti Kata Ulumul Qur’an

 

Setelah membahas kata “ulum” dan “Al-Qur’an” yang terdapat dalam kalimat “Ulumul Qur’an”, perlu kita ketahui bahwa tersusunnya kalimat tersebut mengisyaratkan bahwa adanya bermacam-macam ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan Al-Qur’an atau pembahasan-pembahasan yang berhubungan dengan Al-Qur’an, baik dari aspek keberadaannya sebagai Al-Qur’an maupun aspek pemahaman kandungannya sebagai pedoman dan petunjuk bagi manusia.

 

Definisi Ulumul Qur’an

Secara terminologi terdapat berbagai pendapat para ulama’ terhadap definisi Ulumul Qur’an, antara lain :

 

Menurut As-Suyuthi dalam kitab Itmamu Al-Dirayah mengatakan bahwa Ulumul Qur’an adalah ilmu yang membahas tentang keadaan Al-Qur’an dari segi turunnya, sanadnya, adab makna-maknanya, baik yang berhubungan dengan lafadz-lafadznya maupun hukum-hukumnya.

Al-Zarqany dalam kitab Manahilul Itfan Fi Ulumil Qur’an mengatakan bahwa Ulumul Qur’an adalah beberapa pembahasan yang berhubungan dengan Al-Qur’an dari turunnya, urutannya, pengumpulannya, penulisannya, bacaannya, penafsirannya, kemu’jizatannya, nasikh mansukhnya, penolakan hal-hal yang bisa menimbulkan keraguan terhadapnya.

 

Ruang Lingkup Pembahasan Al-Qur’an

Para ulama’ berbeda pendapat mengenai ruang lingkup pembahasan Ulumul Qur’an, diantaranya adalah :

 

As-Suyuthi dalam kitab Al-Itqan menguraikan sebanyak 80 cabang ilmu. Dari tiap-tiap cabang terdapat beberapa macam cabang ilmu.

 

Abu Bakar Ibnu Al-Araby mengatakan bahwa Ulumul Qur’an terdiri dari 77.450 ilmu. Hal ini didasarkan pada jumlah kata yang terdapat dalam Al-Qur’an dengan dikalikan empat. Sebab setiap kata dalam Al-Qur’an mengandung makna dzhohir, bathin, terbatas dan tidak terbatas, serta dilihat dari sudut mufrodnya.

 

Sebagian jumhur ulama’ berpendapat, objek pembahasan Ulumul Qur’an yang mencakup berbagai segi kitab Al-Qur’an berkisar antara ilmu-ilmu bahasa Arab dan pengetahuan agama islam.

 

M. Hasbi Ash-Shiddiqy berpendapat, ruang lingkup pembahasan Ulumul Qur’an terdiri atas 6 hal pokok :

  1. Persoalan turunnya Al-Qur’an
  2. Persoalan sanadnya
  3. Persoalan qira’atnya
  4. Persoalan kata-kata Al-Qur’an
  5. Persoalan makna-makna Al-Qur’an yang berkaitan dengan hukum
  6. Persoalan makan Al-Qur’an yang berpautan dengan kata-kata Al-Qur’an

 

Pembagian dan Perincian Ulumul Qur’an

Secara garis besar, Ulumul Qur’an terbagi menjadi 2 pokok bahasan, yaitu :

Ilmu yang berhubungan dengan riwayat semata-mata, seperti ilmu yang membahas tentang macam-macam bacaan, tempat turun ayat-ayat Al-Qur’an, waktu-waktu turunnya dan sebab-sebabnya.

 

Ilmu yang berhubungan dengan dirayah, yaitu ilmu yang diperoleh dengan jalan penelaahan secara mendalam, seperti memahami lafadz yang ghorib (asing) serta mengetahui makna ayat-ayat yang berhubungan dengan hukum.

Segala macam pembahasan Ulumul Qur’an itu kembali pada beberapa pokok pembahasan saja, seperti :

 

Nuzul

Pembahasan ini menyangkut dengan ayat-ayat yang menunjukkan tempat dan waktu turunnya ayat AlQur’an, misalnya : Makkiyah, Madaniyah, Hadhariyah, Safariyah, Nahariyah, Lailiyah, Syita’iyah, Shaifiyah, Firasyiyah dan meliputi hal-hal yang menyangkut asbabun nuzul dan sebagainya.

 

Sanad

Pembahasan ini meliputi hal-hal yang menyangkut dengan sanad yang mutawatir, ahad, syadz, bentuk-bentuk qira’at Nabi, para periwayat dan penghafal Al-Qur’an dan cara tahammul (penerimaan riwayat).

 

Ada’ Al-Qira’ah

Pembahasan ini menyangkut tentang Waqaf, Ibtida’, Imalah, Mad, Takhfif hamzah dan Idghom.

 

Lafadz

Pembahasan ini menyangkut tentang Gharib, Mu’rab, Majaz, Musytarak, Muradif, Isti’arah dan Tasybih.

 

Makna

Pemabahasan makna Al-Qur’an yang berhubungan dengan hukum, yaitu ayat yang bermakna ‘Amm dan tetap dalam keumumannya, ‘Amm yang dimaksudkan khusus, ‘Amm yang dikhususkan oleh sunnah, Nash, Dzhahir, Mujmal, Mufashal, Manthuq, Mafhum, Mutlaq, Muqayyad, Muhkam, Mutasyabih, Musykil, Nasikh Mansukh, Muqaddam, Mu’akhar, Ma’mul pada waktu tertentu dan Ma’mul oleh seorang saja.

 

Pembahasan makna Al-Qur’an yang berhubungan dengan lafadz, yaitu Fashl, Washl, Ijaz, Ithnab, Musawah dan Qashar.

 

Contoh-contoh Ayat Ulumul Qur’an

Ayat yang menunjukkan tentang waktu turunnya Al-Qur’an :

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

Artinya  : “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda.” (Q.S. Al-Baqarah : 185)

 

Ayat yang menunjukkan tentang hukum khamr :

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِن نَّفْعِهِمَا

Artinya  : “Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah, pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya.” (Q.S. Al-Baqarah : 219)

 

Ayat yang menjelaskan tentang qira’ah ahad :

فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ

Artinya  : “Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu yang menyedapkan pandangan mata.” (Q.S. As-Sajdah : 17)

 

Ayat yang menjelaskan tentang mujmal :

أَوْ يَعْفُوَ الَّذِي بِيَدِهِ عُقْدَةُ النِّكَاحِ

Artinya  : “Atau dimaafkan oleh orang yang memegang ikatan nikah.” (Q.S. Al-Baqarah : 237)

 

Ayat yang menunjukkan tentang ‘amm :

وَالْعَصْرِ(1) إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ

Artinya  : “Demi masa_ Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian.” (Q.S. Al-’Asr : 1-2)

 

Ayat tentang perumpamaan orang-orang musyrik :

مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاء كَمَثَلِ الْعَنكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتًا وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنكَبُوتِ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Artinya  : “Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.” (Q.S. Al-Ankabut: 41)

 

Sejarah Perkembangan Ulumul Qur’an

Sebagai ilmu yang terdiri dari berbagai cabang dan macamnya, Ulumul Qur’an tidak lahir sekaligus. Ulumul Qur’an menjelma menjadi suatu disiplin ilmu melaui proses pertumbuhan dan perkembangan sesuai dengan kebutuhan dan kesempatan untuk membenahi Al-Qur’an dari segi keberadaanya dan segi pemahamannya.

 

Di masa Rasul SAW dan para shahabat, Ulumul Qur’an belum dikenal sebagai suatu ilmu yang berdiri sendiri dan tertulis. Para shahabat adalah orang-orang Arab asli yang dapat merasakan struktur bahasa Arab yang tinggi dan memahami apa yang diturunkan kepada Rasul dan bila menemukan kesulitan dalam memahami ayat-ayat tertentu, mereka dapat menanyakan langsung kepada Rasul SAW.

 

Di zaman Khulafaur Rasyidin sampai Dinasti Umayyah, wilayah islam bertambah luas sehingga terjadi pembaruan antara orang Arab dan bangsa-bangsa yang tidak mengetahui bahasa Arab. Keadaan demikian menimbulkan kekhawatiran shahabat akan tercemarnya keistimewaan bahasa Arab, bahkan dikhawatirkan tentang bacaan Al-Qur’an yang menjadi sebuah standar bacaan mereka. Untuk mencegah kekhawatiran itu, disalinlah dari tulisan-tulisan asli Al-Qur’an yang disebut dengan Mushaf Imam. Dan dari salinan inilah suatu dasar Ulumul Qur’an disebut Al-Rasm Al-Utsmani.

 

Kemudian Ulumul Qur’an memasuki masa pembukuannya pada abad ke-2 H. Para ulama’ memberikan prioritas perhatian mereka terhadap ilmu tafsir karena fungsinya sebagai umm al-ulum al-qur’aniyyah. Sampai saat ini bersamaan dengan masa kebangkitan modern dalam perkembangan ilmu-ilmu agama, para ulama’ masih memperhatikan akan ilmu Qur’an ini. Sehingga tokoh-tokoh ahli tafsir (Qur’an) masih banyak hingga saat ini di seluruh dunia.

 

Faedah-faedah Ulumul Qur’an

Adapun faedah-faedah mempelajari Ulumul Qur’an antara lain :

  1. Mampu menguasai berbagai ilmu pendukung dalam rangka memahami makna yang terkandung dalam Al-Qur’an.
  2. Membekali diri dengan persenjataan ilmu pengetahuan yang lengkap dalam rangka membela Al-Qur’an dari berbagai tuduhan dan fitnah yang muncul dari pihak lain.
  3. Seorang penafsir (mufassir) akan lebih mudah dalam mengartikan Al-Qur’an dan mengimplementasikan dalam kehidupan nyata.
  4. Membentuk kepribadian muslim yang seimbang.
  5. Menanamkan iman yang kuat
  6. Memberi arahan untuk dapat memanfaatkan potensi yang dimiliki dan sumber-sumber kebaikan yang ada di dunia.
  7. Menetapkan undang-undang agar setiap muslim mampu memberikan sumbangsih dan kreatif untuk mencapai kemajuan.
  8. Membentuk masyarakat muslim yang betul-betul Qur’ani.
  9. Membimbing umat dalam memerangi kejahiliyahan.

 

Tokoh-tokoh Ahli Tafsir

  • Syu’bah Ibn Al-Hajjaj
  • Sufyan Ibn Uyaynah
  • Wali Ibn Al-Jarrah
  • Ibn Jarir At-Thabari
  • Jalaluddin Al-Bulqini
  • Jalaluddin As-Suyuthi
  • Abdullah Ibn Abbas
  • Mujahid Ibn Jabr
  • At-Thobari
  • Ibnu Katsir
  • Fakhruddin Ar-Rozi

 

Kesimpulan

Dari pembahasan yang telah disebutkan dapat disimpulkan bahwa secara terminologi, Ulumul Qur’an adalah kumpulan sejumlah ilmu yang berhubungan dengan Al-Qur’an yang mempunyai ruang lingkup pembahasan yang luas. Pertumbuhan dan perkembangan Ulumul Qur’an menjelma menjadi suatu disiplin ilmu melalui proses secara bertahap dan sesuai dengan kebutuhan dan kesempatan untuk membenahi Al-Qur’an dari segi keberadaan dan pemahamannya. Jadi, Al-Qur’an adalah pedoman hidup bagi manusia yang disajikan dengan status sastra yang tinggi. Kitab suci ini sangat berpengaruh terhadap kehidupan manusia semenjak Al-Qur’an diturunkan, terutama terhadap ilmu pengetahuan, peradaban serta akhlak manusia.

 

Saran

Demikianlah tugas penyusunan makalah ini kami persembahkan. Harapan kami dengan adanya tulisan ini bisa menjadikan kita untuk lebih menyadari bahwa agama islam memiliki khazanah keilmuan yang sangat dalam untuk mengembangkan potensi yang ada di alam ini dan merupakan langkah awal untuk membuka cakrawala keilmuan kita, agar kita menjadi seorang muslim yang bijak sekaligus intelek. Serta dengan harapan dapat bermanfaat dan bisa difahami oleh para pembaca. Kritik dan saran sangat kami harapkan dari para pembaca, khususnya dari dewan guru yang telah membimbing kami dan para siswa demi kesempurnaan makalah ini. Apabila ada kekurangan dalam penyusunan makalah ini, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.


DAFTAR PUSTAKA

Abdul Wahid Ramli, Drs.2002.Ulumul Qur’an. Jakarta : Raja Grafindo Persada

Abdul, Halim M.1999. Memahami Al-Qur’an. Bandung : Marja’

Anwar, Rosihan.2006.Ulumul Qur’an. Bandung : Pustaka Setia

Nata, Abuddin.1992.Al-Qur’an dan Hadits. Jakarta : Raja Grafindo Persada

Shaleh, K.H.1992. Asbabun Nuzul. Bandung : C.V Diponegoro

Zuhdi, Masfuk.1997. Pengantar Ulumul Qur’an. Surabaya : Karya Abditama

 

 

 

Pengertian Ulumul Qur’an

diposkan pada tanggal 26 Mar 2012 19.44 oleh Drs. H.Muhammad Solihin


 

 

 ULUMUL QUR’AN

Pengertian Ulumul Qur’an

Kalimat Ulumul Qur’an terdiri dari dua kata, ulum (bentuk jamak dari kata ilmun) danAl-Qur’an, merupakan Kitab Suci umat Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw untuk menjadi pedoman hidup manusia.

secara bahasa, ulumul Qur’an berarti “ilmu-ilmu al-Qur’an”.

Secara istilah adalah sekumpulan ilmu yang berhubungan dengan Al-Qur’an, baik dari segi keberadaannya maupun dari segi pemahaman terhadap petunjuk yang terkandung di dalamnya.

Menurut M. Abd. Azim al-Zarqani, Ulumul Qur’an adalah beberapa pembahasan yang berhubungan dengan Al-Qur’an dari segi turunnya, urut-urutannya, pengumpulannya, penulisannya, bacaannya, penafsirannya, kemukjizatannya, nasikh dan mansukh, penolakan terhadap hal-hal yang bisa menimbulkan keraguan terhadapnya, dan sebagainya.

Ruang Lingkup Pembahasan Ulumul Qur’an      

Adapun pembahasan Al-Qur’an mencakup segala macam ilmu yang berhubungan dengan Al-Qur’an. Bahkan Al-Suyuthi memperluasnya dengan memasukkan astronomi, ilmu ukur, kedokteran, dan sebagainya dalam pembahasan ulumul qur’an.

 

Namun demikian menurut Hasbi ash-Shiddiqiey pokok pembahasan ulumul qur’an mencakup beberapa persoalan saja; di antaranya: pertama, persoalan nuzul. Kedua, persoalan sanad. Ketiga, ada’ul qira’ah (cara membaca Al-Qur’an). Keempat, lafal Al-Qur’an. Kelima, makna Al-Qur’an yang berhubungan dengan hukum. Keenam, makna Al-Qur’an yang berhubungan dengan lafal.

Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangannya

Pada masa Nabi dan Sahabat, ulumul qur’an belum dikenal sebagai ilmu yang berdiri sendiri dan dibukukan, sebab:

1.      Para sahabat adalah orang Arab asli yang tahu betul struktur bahasa Arab yang tinggi dan apabila belum memahami Rasul akan menjelaskan maksudnya.

2.      Para Sahabat sedikit sekali yang pandai  menulis.

3.      Adanya larangan menulis dari Rasul selain Al-Qur’an.

Pada masa khalifah Abu Bakar dan Umar, Al-Qur’an disampaikan melalui lisan. Pada masa Khalifah Utsman, dilakukan kodifikasi dalam satu mushaf Imam. Sehingga Utsman dianggap meletakkan dasar ilmu rasmul qur’an atau ilmu rasmil utsmani. Pada masa Khalifah Ali, terjadi penyeragaman bacaan Al-Qur’an, sehingga Ali dianggap perintis lahirnya ilmu nahwu dan I’rabul Qur’an.

Pada abad ke-2 H, ulumul qur’an memasuki masa pembukuannya. Para ulama menekankan perhatian kepada ilmu tafsir. Tokohnya, Syu’bah Ibn Al-Hajjaj (w.160 H), Sofyan Ibn Uyainah (w. 198 H), Waki’ Ibn Jarrah (w. 197 H).

Pada Abad ke-3 H, Ali bin al-Madany menulis tentang kitab tentang Asbabun Nuzul. Abu Ubaid al-Qasim bin Salam menulis tentang nasikh mansukh, qira’ah, fadla’ilul qur’an. Muhammad ibn Ayyub al-Dharis menulis tentang ilmu ma Nuzzila bi Makkata wa ma Nuzzila bil Madinati. Muhammad ibn Khallaf ibn al-Mirzaban menulis kitab al-Hawi fi Ulumil Qur’an.

Pada abad ke-4 H, lahirlah ilmu gharibil qur’an dan beberapa kitab tentang ulumul qur’an. Abu Bakar Muhammad ibn al-Qasim al-Anbari menulis kitab tentang Ajaibul Ulumil Qur’an. Abu hasan al-Asy’ari menulis tentang al-Mukhtazan fi Ulumil Qur’an. Abu Bakar al-Sijistani menulis Gharibul Qur’an. Abu Muhammad al-Qashab Muhammad ibn Ali al-Karkhi menulis Nuqatul Qur’an ad-Dalalatu alal Bayani fi Anwa’i Ulumi wal Ahkamil Munbiati an Ikhtilafil Anam. Muhammad ibn Ali al-Adfawi menulis tentang al-Istighna’ fi Ulumil Qur’an.

Pada abad ke-5 H,muncul beberapa tokoh yang ahli dalam ilmu qiraat. Ali ibn Ibrahim ibn Sa’id al-Hufi menulis kitab al-Burhan fi Ulumil Qur’an dan I’rabul Qur’an. Abu Amr al-Dani menulis kitab at-Taisir fil Qiraatis Sab’i dan al-Muhkamu fin Nuqath. Di samping itu juga lahir ilmu amtsalul qur’an antara lain yang dikarang al-Mawardi.

Pada abad ke-6 H, lahir ilmu mubhamatul qur’an yang dikarang oleh Abu al-Qasim Abd Rahman al-Suhaili. Sedangkan Ibn al-jauzi menulis kitab Fununul Afnan fi ‘Ajaibi Ulumil Qur’andan al-Mujtaba fi Ulumin Tata’allaqu bil Qur’an.

Pada abad ke-7 H, Ibn Abd Salam yang dikenal dengan “al-Izz” mengarang kitabMajazul Qur’an. Alamuddin al-Sakhawi menulis kitab Hidayatul Murtab fil Mutasyabihi, yang dikenal dengan al-Sakhawiah. Abu Syamah Abd Rahman ibn Ismail al-Maqdisi menulis kitab al-Mursyidul Wajiz fi ma Yata’allaqu bil Qur’anil Aziz.

Pada abad ke-8 H, Ibn Abi al-Ishba’ menulis tentang Badail  Qur’an. Ibn Qayyim menulis tentang Aqsamul Qur’an. Najmuddin at-Tufi menulis Hujajul Qur’an. Badruddin Zarkasyi menyusun kitab al-Burhan fi Ulumil Qur’an.

Pada abad ke-9 H, Jalaluddin al-Bulqini mengarang kitab Mawaqiul Ulumi min Mawaqi’in Nujumi. Muhammad Ibn Sulaiman al-Kafiaji menulis tentang At-Tafsir fi Qawaidit Tafsir. Jalaluddin as-Suyuthi menulis kitab At-Tahbir fi Ulumit Tafsir dan al-Itqan fi Ululmil Qur’an. Setelah lahirnya karya monumental as-Suyuthi perkembangan ulumul qur’an mengalami kefakuman hingga abad 13.

Pada abad ke-13 H, perhatian ulama terhadap ulumul qur’an bangkit kembali seiring dengan kebangkitan perkembangan ilmu-ilmu agama lainnya.

Lahirnya Istilah Ulumul Qur’an

Terdapat tiga pendapat tentang sejarah lahirnya istilah ulumul qur’an:

1.            Istilah ulumul qur’an digunakan pertama kali pada abad ke-7 H.

2.            Menurut al-Zarqani berpendapat lahirnya istilah ulumul qur’an seiring dengan dikarangnya kitab al-Burhan fi Ulumil Qur’an karya Ali ibn Ibrahim ibn Sa’id yang dikenal dengan sebutan al-Hufi. Berdasarkan ini istilah ulumul qur’an lahir pada abad ke-5 H.

3.            Menurut Subhi as-Salih, orang yang pertama kali menggunakan istilah ulumul qur’an adalah Ibn al-Mirzaban. Pendapat ini berdasarkan kajiannya tentang kitab-kitab yang menggunakan istilah ulumul qur’an. Menurutnya yang paling tua adalah kitab yang dikarang Ibn al-Mirzaban pada abad ke-3 H.

 

Urgensi Mempelajari Ulumul Qur’an:

1.           Untuk dapat memahami kalam Allah, sejalan dengan penjelasan Rasulullah saw, serta pendapat yang dikutip sahabat, dan tabi’in dari Nabi tentang kandungan al-Qur’an.

2.           Untuk dapat mengetahui cara dan gaya yang digunakan para mufassir dalam menafsirkan al-Qur’an disertai penjelasan dari ahli tafsir ternama serta kelebihan-kelebihannya.

3.           Untuk mengetahui persyaratan dalam menafsirkan al-Qur’an. 

Apabila anda membaca Al-Qur’an, maknanya akan jelas di hadapan anda. Tetapi bila anda membacanya sekali lagi, akan anda temukan pula makna-makna lain yang berbeda dengan makna-makna sebelumnya. Demikian seterusnya, sampai-sampai anda menemukan kalimat atau kata yang mempunyai arti bermacam-macam, semuanya benar atau mungkin benar. Ayat-ayat Al-Qur’an bagaikan intan, setiap sudutnya memancarkan cahaya yang berbeda dengan apa yang terpancar dari sudut-sudut lain. Dan tidak mustahil, jika anda mempersilahkan orang lain memandangnya, maka ia akan melihat lebih banyak ketimbang apa yang anda lihat. (Abdullah Darraz dalam al-Naba’ al-Azhim)

Al-Qur’an memberikan kemungkinan arti yang tidak terbatas … kesan yang diberikannya mengenai pemikiran dan penjelasan berada pada tingkat wujud mutlak… dengan demikian, ayat-ayatnya selalu terbuka (untuk interpretasi baru), tidak pernah pasti dan tertutup dalam interpretasi tunggal, demikian kata Mohammed Arkoun.

 

 

ULUMUL QUR'AN

diposkan pada tanggal 26 Mar 2012 18.33 oleh Drs. H.Muhammad Solihin


 

 

ULUMUL QUR'AN

Kajian tentang Al-Qur’an memerlukan banyak ragam ilmu, yang disebut sebagai ‘ulumul Qur’an (Ilmu-ilmu Al-Qur’an). Menghormati adanya ilmu-ilmu tersebut dan para ahlinya sangatlah penting agar kita tidak terjatuh kedalam kesalahan dan bahkan penyimpangan ketika berusaha memahami ayat-ayat Al-Qur’an. Ini sangat penting teutama di zaman sekarang ini dimana pemahaman kebanyakan masyarakat muslim, bahkan yang biasa disebut sebagai kalangan terpelajar, terhadap agamanya sangatlah lemah. Bahkan dalam hal-hal yang sangat mendasar dan aksiomatik telah terjadi penjungkirbalikan pemahaman dari yang semestinya.

 

Dalam  mengkaji makna ayat-ayat Al-Qur’an, kita harus merujuk pada kitab-kitab tafsir yang telah diakui, sehingga kita akan mendapakan pemahaman yang benar dan tidak terjatuh kedalam kesalahan dan penyimpangan pemahaman. Sebaliknya, kita juga tidak boleh jatuh kedalam fobia atau ketakutan yang berlebihan intuk dekat dengan Al-Qur’an dan senantiasa berusaha untuk memahaminya, sehingga tidak berusaha untuk mempelajari kendungannya yang amat luas dan dalam kecuali sekedar membacanya saja.

 

1.       Ilmu Tajwid dan Tilawah

2.      Ilmu Tafsir :

§  Sejarah perkembangan ilmu tafsir

§  Macam-macam atau jenis-jenis tafsir

§  Metodologi/ kaidah-kaidah dan rambu-rambu dalam menafsirkan Al-Qur’an

§  Syarat-syarat seorang mufassir

§  Para ulama tafsir

§  Kitab-kitab tafsir

3.      Ilmu Sejarah Al-Qur’an

4.      Ilmu Qiro’at (versi-versi bacaan Al-Qur’an)

5.      Ilmu Asbabun Nuzul (latar belakang turunnya ayat-ayat Al-Qur’an)

6.      Ilmu Nasikh dan Mansukh

7.      Ilmu Muhkam dan Mutasyabih

8.     Ilmu ‘Am dan Khash

9.      Ilmu Muthlaq dan Muqayyad

10.  Ilmu Manthuq dan Mafhum

11.   Ilmu Makki dan Madani

12.  Ilmu I’jaz Al-Qur’an  (kemukjizatan Al-Qur’an)

13.  Ilmu Amtsal Al-Qur’an  (perumpamaan-perumpamaan dalam Al-Qur’an)

14.  Ilmu Aqsam Al-Qur’an  (sumpah-sumpah dalam Al-Qur’an)

15.   Ilmu Jadal Al-Qur’an (perdebatan-perdebatan dalam Al-Qur’an)

16.  Ilmu Qashash Al-Qur’an (kisah-kisah dalam Al-Qur’an)

17.   Ilmu Terjemah Al-Qur’an

Ditulis oleh : Ust. Ahmad Mudzoffar Jufri, MA

 

 

 

Ulumul Qur’an

diposkan pada tanggal 26 Mar 2012 09.09 oleh Drs. H.Muhammad Solihin   [ diperbarui26 Mar 2012 18.40 ]


 

 

 Ulumul Qur’an adalah sebuah metode yang lengkap dan menyeluruh untuk membuka pintu awal dari kedalaman kandungan Al Quran. Karenanya, umat Islam secara umum, ataupun secara khusus bagi mahasiswa muslim yang merindukan interaksi lebih mendalam dengan Al Quran, secara otomatis akan dituntut untuk mempelajari Ulumul Quran.

Buku ini merupakan ringkasan dari sebuah Kitab Ulumul Qur’an yang terkenal di dunia akademisi di Timur Tengah, yaitu Mabahits fii Ulumul Qur’an karya Syeikh Manna’ul Qatthan.

Pokok-pokok materi dalam Buku Ulumul Quran ini:

Pengantar Ulumul Quran

  • Arti Ulumul Quran
  • Sejarah dan Latar Belakang
  • Perkembangan Ulumul Quran
  • Objek Pembahasan Ulumul Quran

Tentang Al Quran

  • Makna Al Quran
  • Nama dan Sifat-sifat Al Quran
  • Perbedaan Al Quran dengan Hadits Nabawi dan Hadits Qudsi
  • Karakteristik Al Quran

Mukjizat Al Quran

  • Pengertian I’jaz dan Mukjizat
  • Pembagian Jenis Mukjizat
  • Perbedaan Al Quran dengan Mukjizat Lainnya
  • Sisi Mukjizat Al Quran

Tentang Wahyu

  • Pengertian Wahyu
  • Proses turunnya wahyu Allah pada Rasul-Nya
  • Proses turunnya wahyu melalui Jibril as
  • Tuduhan orientalis seputar wahyu dan bantahannya

Turunnya Al Quran

  • Tahapan turunnya Al Quran

Ayat Mekah dan Madinah

  • Pengertian dan Perbedaan
  • Kekhususan dan ciri-ciri ayat Makkiyah & Madaniyah

Ayat Pertama dan Terakhir turun dari Al Quran

  • Ayat yang pertama turun dan perbedaan pendapat
  • Ayat yang terakhir turun dan perbedaan pendapat

Asbabun Nuzuul

  • Pengertian asbabun nuzul
  • Metode mengetahui asbabun nuzul

Pengumpulan Al Quran

  • Pengertian Jam’ul Quran
  • Tiga Tahapan Pengumpulan Al Quran
  • Penertiban Ayat dan Surat

Turunnya Al Quran dengan Tujuh Huruf

  • Latar Belakang Pembahasan
  • Dalil diturunkannya Al Quran dengan tujuh huruf
  • Perbedaan pendapat ulama seputar pengertian tujuh huruf

Qiroat (Tata Baca) Al Quran dan para Ahlinya

  • Pengertian Qiroat
  • Sejarah & Perkembangan lmu Qiroat
  • Macam-macam Tata Baca, Qiroat, Al Quran
  • Profil Tujuh Qurro’ yang Masyhur

Tajwid dan Adab Tilawah

  • Pengantar Singkat lmu Tajwid
  • Kesalahan dalam Praktek Tajwid
  • Keutamaan Tilawah
  • Adab Tilawah

Download Buku Ulumul Quran

 

 


Hidayatus Sibyan ( Nadzaman Ilmu Tajwidz)

diposkan pada tanggal 25 Mar 2012 10.33 oleh Drs. H.Muhammad Solihin   [ diperbarui26 Mar 2012 19.19 ]


 

 

 Kitab Hidayatus Sibyan adalah kitab nadzamanberisi tentang dasar-dasar Ilmu Tajwid. Kitab ini wajib dihafalkan oleh santri Pondok Pesantren ummul Qura tingkat dasar. Nadzaman ini berisi 40 (empat puluh) bait dan telah diterjemahkan dalam bentuk syair pula oleh Bapak KH. Syarif Rahmat RA, SQ, MA untuk memepermudah santri dalam menghafalkannya sebagai landasan benar membaca Al Qur'an.

 

اَلْحَمْدُ للهِ وَصَلَّى رَبُّنَا  # عَلَى النَّبِيِّ الْمُصْطَفى حَبِيْبَنَا 1

Puji bagi Allah dan shalawat Tuhan

kepada Nabi terkasih dan pilihan

وَألِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ قَرَى # وَهَاكَ فِى التَجْوِيْدِ نَظْمًا حُرِّرَا 2

Keluarga sahabat pembaca al-Qur'an

ini nadzom tajwid telah dibersihkan ·

سَمَّيْتُهُ هِدَايَةَ الصِّبْيَانِ # اَرْجُوالِهِ غَايَةَ الرِّضْوَانِ 3

Ku namakan kitab Hidayatussibyan

ku mohon Allah curahkan keridhoan

حْكَامُ التَنُوْيِنِ وَنُوْنٍ # تَسْكُنُ عِنْدَالْهِجَاءِ خَمْسَةٌ تُبَيَّنُ 4

Hukum tanwin dan nun mati berhadapan

huruf hijaiyah lima di jelaskan ·

اِظْهَرُاِدْغَامٌ مَعَ الْغُنَّةِ اَوْ بِغَيْرِ # هَاوَالْقَلب وَاْلأِخْفَاء رَوَوا 5

Idzhar Idzghom ma'al gunnah yang berdengung

Bila Gunnah Iqlab Ikhfa jangan bingung.

فَظْهِر لَذَى حَمْزٍ فَهَاءٍ حاء # وَالْعَيْنِ ثُمَّ الْغَيْنِ ثُمَّ الِخَاءِ 6

Pada huruf hamzah Ha ha ain serta

ghoin dan ho Idzhar dibacanya nyata ·

وَادْغِمْ بِغُنَّةٍ بِيَنُّو لاَاِذَا # كَانَ بِكِلْمَةٍ كَدُنْيَا فَامْبِذَا 7

Idzghom Bigunnah ya nun mim serta wau

bila disatu kalimah Idzhar kama.

وَادْ غِمْ بِلاَ عُنَّهِّ فِى لاَمِ وَرَا # فَالْقَلْبُ عِنْدَ الْبَاءِ مِيْمَا ذُكِرَ 8

Lam dan ra bila gunnah hukumnya

Iqlab P huruf ber mim dibacanya! ·

وَاَخْفِبَنِّ عِنْدَ بَاقِى الأَحْرُفِ # جُمْلَتُهَا خَمْسَةُ عَشْرٍ فَاعْرِفِ 9

Bacalah ikhfa pada sisa hurufnya

15 hafalkanlah semuanya.

وْغُنَّةٌ قَدْاوَجَبُوْهَا اَبَدَا # فِى المِيْمِ وَالنُّوْنِ إِذَا مَاشُدِّدَا 10

Para ulama semua mewajibkan

gunah pada mim dan nun yang di tasjidkan

وَالْمِيْمُ إِنْ تَسْكُنُ لَدَ الْبَاتُخْتَفَى # نَحْوُعْتَصِمْ بِااللهِ تَلْقُ الشَّرَفَ 11

Bacalah ikhfa mim sukun yang bertemu ba

seperti I'tasum billah kamu coba

وَادْ غِمْ مَعَ الْغُنَّةِ عِنْدَ مِثْلِهَا # وَاظْهِر لَدَى بَقِى الْحُرُوفِ كُلِّهَا 12

Bila menghadap mim bigunnah namanya

Idhar pada sisa huruf semuanya.

وَاحُرْصْ عَلَى اْلأِظْهَارِ عِنْدَ الفَاءِ # وَالْوَاوِ وَاحْذَرْدَا عيَ الإِخْفَاءِ 13

Idzhar safawi pada pa serta wawu

hindarilah jangan sampai Ikhfa kamu

إِدْغُامُ كُلِّ سَاكِنِ قَدْ وَجَبَا # فِى مِثْلِهِ كَقَوْلِهِ إِذْدَ هَبَا 14

Huruf sukun bertemu serupa coba

Idghomkan seperti lafadz Idzhahaba

وَقِسْ عَلَى هدَاسِوَا وَاوٍ تَلاَ # ضَمًّاوَيَاءِ بَعْدَكَسْرِ يُجْتَلى 15

Kiasan semua selain wau yang

bertemu dommah ya dengan kasiah terang

مِنْ نَحُوِ فِى يَوْمٍ لِيَاءِ اَظْهَرُوا # وَالوَاوِ مِنْ نَحْوِاصْبِرُوْا وَصَابِرَو 16

Semisal kata yaumin idzharkan

kata asbuu wasobiru samakan

وَالتَّاءُ فِىدَالٍ وَطَاءِ اَسْبَتُوا # اِدْغَامَهَانَحْوُ اُجِيْبَتْ دَعْوَةُ 17

Ta berhadapan dah dan tho pun begitu

umpama kalimat ujibat da'watu ·

وَامَنَتْ طَائِفَةُ وَاَدْغَمُوا # الدَّالَ فِى الظَّاءِبِنَحْوِاذْظَلَمُوْا 18

Amanat tha upayatun juga masukan

dzal dalam dho idzalamu dimisalkan

وَالدَّالَ فِى الثَاءِ بِلاَ مْتِرَاءِ # وَلاَمَهَل وَبَلْ وَقُلْ فِىْ الرَّءِ 19

Idzghomkan dal ke dalam la dan yakinkan

lam mati ke dalam ro coba praktekan

مِثْلُ لَقَدْ تَابَ وَ قُلْ رَبِّ احُكُمِ # وَالْكُلُّ جَاءَبَا تِّفَا قِ فَاعْلَمِ 20

Umpama Qod taba wagulrobikumi

semua Idghomkan semoga kau ma'lumi

وَاَظْهِرَنَّ لاَمَ تَعْرِفِ لَذَى # ارَبْعَةٍ مِنْ بَعْدِ عَشْرٍ تُوْجَدَ 21

Terhadap lam ta'rip haruskan Idharkan

pada 14 huruf perhatikan

فِى اَبُغِ حَجَتَكَ وَخَمْ عَقِيْمَةَ # وَفِى سَوَاهَامِنْ حُرُوْفٍ اَدْغِمَة 22

Pada abgi hazzaka wakop awimah

sedang yang lainnya Idghom jangan salah

وَلاَفِعِل اَظْهِرَنَّ مُطْلَقَا # فِيْمَا سِوَى لاَمٍ وَرَاءِ كَاالتَقَى 23

Selain pada lam dan baca Idzhar

Lam pi'il cara utago jangan gusar

وَاُلتَمِسُوْا وَقَلْ نَعَمْ وَقُلْنَا # وَاظْهِرْ لِحَرُفِ الْحَلْقِ كَاصْفَحْ عَنَّا 24

Kata utamisu qulnaam dan qulna

Idzharkan huruf halaq Ispa'ana

مَالَمْ يَكُنْ مَعُ مِثْلِهِ وَالْيُدْ غَمَ # فِى مَثْلِهِ حَتْمًا كَمَا تَقَدَّ مَا 25

Bila hurufnya berbeda tapi jika

serupa Idgomkan seperti dimuka

وَاَحْرُفُ التَفُخِيْمِ سَبْعُ تُحْصَرُ # فِىخُصَّ ضَفْطٍ قِطْ يعُلْ تُشَهَرُ 26

Tafkhim atau istilah 7 hurufnya

qusho dagthin Qidz uslah rumusnya

قَلْقَلَةٌ يَجْمَعُهَاقَظْبُ جَقِ # بَيَّنِ لَذَى وَقْفٍ وَسَكْنٍ تَرْشُدِ 27

Pada qotba juddin qolqolah di himpun

baca jelas pada waqof atau sukun

وَاَحْرُفُ الْمَدِّتَلاَثُ صُتُّوصَفُ # اَلُوَاوُ ثُمَّ الْيَاءُ ثُمَّ اْلأَلِفُ 28

Hurup tanda panjang tiga semuanya

alip wau dan uyaya uulah namanya

وَشَرْطُهَا اسِكَانْ وَاوٍ بَعْدَ ضَمْ # وَسَكْنُ يَاءٍ بَعْدَكَسْرٍ مُلْتَزَمْ 29

Saratnya sukun wau setelah domah

dan ya sukun yang dayang setelah kasroh.

وَألِفُ مِنْ بَعْدٍ فَتْحٍ وَقَعَ # وَلَفْظُ نُوْ حِيْهَا لِكَُلِّ جَمَعَا 30

Bila alip di belakang harkat pathah

lapadz Nuhiha merangkum semua sudah

فَاِنْ فَقَدْتَ بَعْدَ حَرْفِيْهِ اليُّكُوْنِ # وَالْهَمْزُ فَاالْمَدِّ طَبِيْعِىْ يَكُنْ 31

Bila setelahnya tiada tanda mati

dan hamzah itu namanya mad tabi'i

وِإِنْ تَلاَهُ الْهَمْزُ فِى كَلِمَتِهِ # فَوَجِبٌ مُتَصِلٌ كَجَائَتِه 32

Ja'a mad wajib muttasilnya adalah

karena hamzah ada di satu kalimah

وَاِنْ تَلاَهُ وَبَأُخْرَةَ صَلَ # فَجَائِزٌ مُنْفَصِلٌ كَلاَإِلَى 33

Jaiz munfasil lapadz laila itu karena

hamzah bukan di kalimat satu

وَإِنْ يَكُنْ مَنْ يَعْدَهُ مُشَدَّدَا # فَلاَزِمٌ مُطَوَالٌ كَحَآدَّا 34

Apabila setelah mad tasjid ada

mad lazim mutawal seperti hadda

كَذَاكَ كُلَّ سَاكِنٍ تَأَصَّلَ # مُخَفَفا يَكُوْنُ اَوْمُثَقَلاَ 35

Begitupun setiap sukun yang asal

murawal mukhapap atau musaghol

وَمِنْهُ مَايَأتِى فَوَا تَحِّ السَّوَار # وَفِى ثَمَانِ مِنْ حُرُوْفِيْهَاظَهَر 36

Di antaranya hurup pembuka surat

jumlahnya 8 dapat kamu lihat.

فِي كَمْ عَسَلْ نَقَصَ حَصْ هَاعُرِف # وَمَا سِوَاهَا فَطَبِيْعِ لاَأَلِف 37

Lam asal Nagoso telah diketahui

sisanya alip mad tobi'i

وِإِنْيَكُنْ قَدْ عَرَضَ السُّكُوْنُ # وَقْفًا فَعَارِضُ كَنَسْتَعِيْنُ 38

Kalau terpaksa sukun karena berhenti

semisal papad nastain mad aridi

 وَاخْتِمُ بِحَمْدِاللهِ وَالصَّلاَةِ # عَلَى النَّبِىِّ طَيِّبِ الصِّفَاتِ 39

Akhiri memuji Allah dan sholawat

pada nabi pemilik sebaik sifat

وَاْلأَلِ وَالصَّحْبِ مَعَ السَّلاَمْ # اَبِيَتُهَااَرْبَعُوْنَ بْاالتَّمَامِ 40

Keluarga shahabat dan limpah salam

kitab ini 40 bait khatam

 

Disusun Oleh : KH. Syarif Rahmat RA, SQ, MA

Nadzaman Wajib Santri Pondok Pesantren Ummul Qura

 

 


1-5 of 5