Dalil Halal-Haram Mempelajari Ilmu Tenaga Dalam


      

Pernah suatu ketika seorang teman menolak ketika saya ajak untuk berlatih tenaga dalam dengan alasan Rasul Allah tidak memiliki tenaga dalam atau tidak pernah mempelajarinya.  Namun saya jawab sambiltersenyum, “Dulu Rasul Allah pergi ke suatu  tempat dengan jalan kaki atau menaiki unta  dan tidak pernah naik sedan!”.Bagaimana  dengan pendapat Anda? Bolehkah kita mempelajari tenaga dalam/ilmu hikmah/ilmu  ghaib menurut ajaran agama Islam? Untuk lebih jelasnya kita perhatikan penjelasan di bawah ini!

 

a.      White Magic

 

ﻭﻠﺳﻟﻳﻣﻥ ﺍﻠﺭﻴﺢ ﻋﺎ ﺼﻔﺔ  ﺗﺠﺭﻱ ﺒﺎ ﻤﺭﻩ ﺍﻠﻰ ﺍﻻﺮﺽ ﺍﻠﺗﻲ ﺒﺭﻜﻧﺎ ﻓﻳﻬﺎ ﻮﻜﻧﺎ ﺒﻛﻝ ﺷﻲﺀ ﻋﻟﻣﻳﻥ

 

ﻗﻟﻧﺎ ﻴﺎ ﻧﺎ ﺭﻜﻭﻧﻲ ﺒﺭﺪﺍ ﻮﺴﻟﻣﺎ ﻋﻟﻰ ﺍ ﺒﺭﻫﻳﻢ

 

ﻗﻞ ﺍﻟﺬﻱ ﻋﻧﺩﻩ ﻋﻟﻡ ﻤﻥ ﺍﻠﻜﺏ ﺍﻧﺎ ﺍ ﺗﻳﻚ ﺒﻪ  ﻗﺑﻝ ﺍ ﻥ ﻴﺭﺗﺩ ﺍﻠﻳﻚ  ﻄﺭﻓﻙ

 

“Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang Kami telah memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu” (Q.S.Al-Anbiya`[21]: 81)

“Kami berfirman: ‘Hai api menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim” (Q.S.Al-Anbiya`[21]: 69)

“Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari kitab: ‘Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip’...” (Q.S.Al-Naml [27]: 40)

 

Di dalam Al-Qur`an banyak kisah-kisah tentang orang yang diberi kelebihan oleh Allah, baik para Nabi dan Rasul yang disebut mu’jizat, bahkan orang-orang yang sholeh yang disebut dengan ilmu hikmah/hikmah saja.

Pada dasarnya ilmu hikmah (white magic) dan tenaga dalam itu sama, bedanya pada cara mendapatkannya. Kalau ilmu hikmah, kelebihan yang didapat langsung dari Allah, sedangkan tenaga dalam didapat dengan cara berlatih pernafasan/meditasi/tirakat/wirid/dsb, kedua-duanya adalah karunia yang diberikan-Nya kepada hamba-hamba yang ‘alim (memiliki ilmu). Terlepas dari bahasan ini saya mengajak diri saya pribadi dan para pembaca untuk selalu menuntut ilmu walau sampai ke negri China, seperti sabda Rasul Muhammad S.A.W dan orang yang berilmu (ilmu apa saja) itu ditinggikan beberapa derajat dari yang tidak berilmu, sedangkan ilmu Allah itu luas sekali, firman Allah dalam Q.S.Al-Kahfi [18]: 109, “Katakanlah: ‘Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)”.

Seluruh ilmu ghaib yang diperoleh dengan cara-cara yang baik termasuk ke dalam kategori white magic, karena pada hakekatnya ilmu-ilmu  tersebut bersifat netral, tinggal bagaimana kita menggunakannya, apabila untuk hal yang bersifat baik maka ilmu tersebut akan bernilai baik, dan apabila akan kita gunakan untuk sesuatu yang bersifat jelek/negative maka ia akan bernilai buruk, semua itu terserah kepada empunya.

 

b.      Black Magic

 

Pada zaman Musa terkenal dengan para tukang sihirnya (black magic), salah satu kisahnya tertera dalam Q.S.Thaha [20]: 57-70. Black magic didapat dengan cara bersekutu dengan jin kafir (Q.S.Al-Jin [72]: 6, 8, 9, 10), dengan menggunakan syarat-syarat tertentu yang mengikat orang tersebut ke dalam perbuatan dosa. 

 

ﻋﻥ ﻋﺎﺋﺸﺔ ﺯﻭﺝ ﺍﻠﻧﺑﻰ ﺺ. ﻡ, ﺍﻧﻬﺎ ﺴﻣﻌﺕ ﺭﺴﻭﻞ ﺍﷲ ﺺ. ﻡ, ﻳﻘﻭﻝ ﺍﻥ ﺍﻠﻣﻼ ﺌﻜﺔ  ﺗﻧﺯﻞ  ﻓﻰ ﺍﻠﻌﻧﺎ ﻥ  ﻭﻫﻭ ﺍﻟﺳﺣﺎ ﺏ  ﻓﺗﺫ ﻜﺭ ﺍﻻﻤﺭ  ﻗﺿﻲ ﻓﻰﺍﻠﺳﻣﺎﺀ  ﻓﺗﺳﺗﺭﻕ  ﺍﻠﺷﻳﺎﻃﻳﻥ  ﺍﻠﺳﻣﻊ  ﻓﺗﺳﻣﻌﻪ  ﻓﺗﻭﺤﻳﻪ ﺍﻠﻰ ﺍﻠﻜﻬﺎ ﻥ ﻓﻳﻜﺫ ﺒﻭﻥ ﻤﻌﻬﺎ ﻤﺎﺌﺔ  ﻜﺫ ﺒﺔ  ﻤﻥ ﻋﻧﺪ ﺍ ﻧﻔﺴﻬﻢ (ﺼﺣﻳﺢ ﺍﻠﺒﺧﺎ ﺭﻯ)  

 

Dari ‘Aisyah r.a istri Nabi S.A.W ia mendengar Rasul Allah S.A.W bersabda: “Malaikat-malaikat turun ke awan lalu menyebutkan perintah yang diputuskan di langit, syaithan-syaithan dapat mencuri pendengaran, lalu didengarkannya dan ia terus membisikkan kepada peramal, lalu mereka memasukkan ke dalamnya seratus dusta atas kehendaknya sendiri” (Shahih Al-Bukhori)

 

Para peramal mendapat berita dari jin yang mencuri dengar berita langit, sehingga terkadang bisa mengetahui yang akan terjadi. Allah sengaja membiarkan hal itu untuk menguji manusia apakah manusia akan yakin dengan Allah atau dengan si peramal? Jika meyakini si peramal maka dia termasuk orang musyrik, begitulah syaithan-syaithan memperdaya manusia.

Berbicara ilmu hitam, maka tidak bisa lepas dari masalah santet. Santet/teluh/tenung yang dikirim oleh tukang tenung, biasanya menggunakan jin untuk memasukkan benda-benda seperti jarum, silet, paku, dsb ke dalam tubuh orang yang dikehendaki. Ada cara mudah untuk mengatasi hal ini, melihat dari cara pengiriman santet yang biasanya dengan salah satu cara di bawah ini:

-          Lewat atas/udara, santet jenis ini tidak dapat mencapai target di bawah 60 cm di atas permukaan tanah, dengan tidur di lantai (tanpa dipan) maka insya Allah aman dari santet jenis ini, biasanya jenis ini lebih banyak dipakai oleh para tukang tenung;

-          Lewat tanah, santet jenis ini tidak dapat mencapai target yang berada pada ketinggian 60 cm di atas tanah, dengan tidur di atas dipan pada ketinggian di atas ini insya Allah akan selamat, santet jenis ini jarang digunakan dan termasuk ilmu langka.

 

Namun yang menjadi kendala bagi orang awam adalah tidak mengetahui serangan santet tersebut menggunakan jenis apa. Maka perlu bagi kita memiliki benteng pertahanan yang tidak dapat ditembus dari arah mana saja, salah satunya dengan mempelajari ilmu ini sebagai bentuk ikhtiar kita kepada Allah sebab jika hanya mengandalkan keimanan saja (pasrah) belum cukup. Banyak kasus pak Haji dan pak kyai kena santet, jangankan mereka, Nabi Muhammad saja pernah disantet oleh orang yahudi.

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Rasul Allah S.A.W pernah mengalami sakit parah, maka datanglah kepada beliau dua malaikat, yang satu duduk di sebelah kepala beliau dan yang satu lagi di sebelah kaki beliau. Berkatalah malaikat yang duduk di sebelah kaki beliau kepada malaikat yang duduk di sebelah kaki beliau: “Apa yang engkau lihat?”, ia menjawab: “Beliau terkena guna-guna.”. Dia bertanya lagi: “Apa guna-guna itu?”, ia menjawab: “Guna-guna itu sihir!”. Dia bertanya lagi: “Siapa yang membuat sihirnya?”, ia menjawab: “Labid Bin Al-A`Sham Al-Yahudi, yang sihirnya berupa gulungan yang disimpan di dalam sumur keluarga si anu di bawah sebuah batu besar. Datanglah ke sumur itu, timbalah airnya dan angkat batunya, kemudian ambillah gulungannya dan bakarlah!”.

Pada pagi harinya Rasul Allah S.A.W mengutus `Ammar Bin Yasir dan kawan-kawannya. Setibanya di sumur itu, tampaklah airnya merah seperti air pacar. Air itu ditimbanya dan diangkat batunya serta dikeluarkan gulungannya, kemudin dibakar. Ternyata di dalam gulungan itu ada tali yang terdiri atas sebelas simpul. Peristiwa ini berkenaan dengan turunnya surat Al-Falaq dan Al-Nas, setiap kali Rasul Allah mengucap satu ayat terbukalah satu simpulnya (Al-Falaq: 5 ayat, Al-Nas: 6 ayat, total: 11 ayat). Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi di dalam kitab Dala-il Al-Nubuwwah dari kitab Al-Kalbi, dari Abu shalih yang bersumber dari Ibn `Abbas. Peristiwa ini terjadi untuk menegaskan kepada umat Islam bahwa Rasul Allah Muhammad S.A.W adalah manusia biasa yang juga punya kekurangan.

Selain santet, ilmu kedigdayaan yang merupakan ilmu hitam sangat banyak ragamnya, salah satunya adalah Rawa Rontek. Ilmu ini sangat aneh, orang yang memilikinya tidak dapat mati, bila ada bagian tubuhnya yang putus maka akan tersambung kembali. Konon, orang seperti ini hanya bisa mati jika dibunuh tanpa menyentuh tanah dan potongan kepala serta badannya dikubur secara terpisah, mengerikan bukan?

 lmu-ilmu yang diperoleh dari cara-cara yang tidak baik, maka ilmu itu akan bernilai buruk. Lalu pertanyaannya adalah bagaimana nilai ilmu tersebut jika digunakan untuk hal-hal yang baik? Hal ini sudah dijelaskan oleh Allah bahwa jika dasar sesuatu itu buruk maka apapun yang keluar darinya maka akan buruk pula. Maka dasar/pondasi adalah hal yang paling utama, selanjutnya terserah Anda.

 

Dari kedua jenis ilmu ghaib di atas, tinggal kita yang harus pandai-pandai memilih dan memilah serta pandai menjaga diri dari hal-hal yang berbau kemusyrikan dan yang berlabel haram, bisa jadi ilmu yang kita pelajari bernilai baik pada awalnya namun kemudian menjadi salah ketika terjadi penyimpangan dalam penggunaan (contohnya menggunakan hipnotis untuk merampok) sebab kita diberi af`idah (hati dan pikiran/akal) yang tentunya harus merujuk kepada Al-Qu`an dan Al-Hadits, kedua pegangan ini berperan sebagai ﺍﻠﻣﻘﺩﺍﺭﺍﻠﺤﻖ                    Al-Miqdar Al-Haqq (standar kebenaran). Satu hal yang  harus diingat bahwa yang benar/haq akan menjadi salah/bathal jika tidak tepat waktu, kondisi dan atau tidak pada tempatnya (misal hubungan suami-istri pada: siang hari di bulan puasa; saat istri sedang haid; tempat-tempat umum /terbuka).

Menurut cerita pada tahun 1.000 SM ada sebuah mantera  untuk mengobati sakit gigi, oleh orang Assiri malah dikira sebagai penyebab sakit gigi, yang bunyinya:

 

Dan sesudah Anu menciptakan langit

Dan langit menciptakan bumi

Dan bumi menciptakan sungai

Dan sungai menciptakan kanal

Dan kanal menciptakan rawa

Dan rawa menciptakan cacing

Dan cacing pergi menghadap Shamash, sambil menangis

Air matanya bercucuran di depan Ea:

“Apa yang akan Tuan berikan untuk makananku,

Apa yang akan Tuan berikan untuk minumanku?”

“Aku akan memberi kau buah ara yang kering dan aprikot.”

“Apa artinya semua itu bagiku? Buah ara yang kering dan aprikot!

Angkatlah aku dan di antara gigi dan gusi, biarkan aku tinggal….”

Karena kau sudah mengatakan ini, O cacing,

Semoga Ea menghantam engkau dengan kekuatan tangannya!

 

Mantera ini dibaca tiga kali pada bir mutu kelas dua dicampur minyak, kemudian dioleskan di atas gigi. Begitulah orang-orang zaman itu mengobati sakit gigi dengan menggunakan  nama dewa-dewa (Anu, Shamash, dan Ea), ini menandakan magic sudah ada sejak zaman dahulu.

Pada saat saya masih SLTA, seorang teman satu kelas yang pernah mondok di pesantren tradisional, mengerjai pengawas ujian (guru wanita) dengan menggunakan merica, sehingga mengeluarkan cairan dari kemaluannya dengan maksud agar sang pengawas keluar dan ia leluasa membuka buku. Setelah selesai ujian ketika saya tanyakan ilmu dari mana dia bilang dari kyai pondoknya. Kalau kita pikir kok seorang kyai pondok pesantren mengajarkan hal yang dilarang agama dan sebenarnya cara-cara tersebut pernah juga saya baca dalam sebuah buku tentang ilmu ghaib dengan sub judul yang seronok dan tanpa penjelasan maksud yang sesungguhnya. Kemungkinan tujuan awal dari ilmu itu adalah untuk para istri yang frigiditas (dingin sex) namun kemudian disalahgunakan, atau salah dalam penyampaian dari sang kyai sehingga tidak dipahami santri-santrinya dan dibuat main-main.

 Hal-hal semacam itulah yang terkadang menjadikan orang memandang salah sampai men-vonis haram untuk semua jenis tenaga dalam/ilmu ghaib. Ini yang harus diluruskan, jangan sampai “karena nila setitik rusak susu sebelanga”. Dan jadikanlah dalam belajar tenaga dalam sebagai media dakwah dan memberikan contoh-contoh yang baik sehingga akan terkikis habis citra buruknya di mata masyarakat.

          

        Kalau kita melihat dari segi manfaat dalam kesehatan, latihan tenaga dalam  pernafasan, sangatlah  baik untuk kesehatan bahkan untuk terapi pengobatan, dan yang  namanya  sehat sangat dianjurkan oleh siapapun serta tidak ada satu dalilpun yang melarang. Dari segi beladiripun Rasul Allah pernah bersabda, “Ajarilah anak-anakmu memanah, bergulat, berkuda dan berenang” sebab Allah menyukai muslim yang kuat dan tangguh. 

  

        Demikianlah konsep halal-haramnya mempelajari tenaga dalam, Pada intinya sesuatu yang berawal dari kesesatan maka akan menghasilkan ilmu sesat pula dan hukumnya haram, sekalipun digunakan untuk tujuan kebaikan, dan segala sesuatu yang berawal dari kebaikan maka akan menghasilkan ilmu yang baik  dan hukumnya halal, tinggal si empunya ilmu bias menggunakannya untuk tujuan  kebaikan atau tidak, jika disalahgunakan maka hukumnyapun menjadi haram. 

 


 

 

 

 




Comments