Puasa dan Kejujuran

Oleh: Ustadz Agustianto, MA

Di era materialisme dewasa ini, kejujuran telah banyak dicampakkan dari
tata pergaulan sosial-ekonomi-politik dan disingkirkan dari bingkai
kehidupan manusia. Fenomena ketidak jujuran benar-benar telah menjadi
realitas sosial yang menggelisahkan. Drama ketidakjujuran saat ini telah
berlangsung sedemikian transparan dan telah menjadi semacam rahasia umum
yang merasuk ke berbagai wilayah kehidupan manusia.

Sosok manusia jujur telah menjadi makhluk langka di bumi ini. Kita lebih
mudah mencari orang-orang pintar daripada orang-orang jujur. Keserakahan
dan ketamakan kepada materi kebendaan, mengakibatkan manusia semakin  jauh
dari nilai-nilai kejujuran dan terhempas dalam kubangan materialisme dan
hedonisme  yang cendrung menghalalkan segala cara.

Pada masa sekarang, banyak manusia tidak mempedulikan jalan-jalan yang
halal dan haram  dalam mencari uang dan jabatan . Sehingga kita sering
mendengar ungkapan-ungkapan kaum materialis, “Mencari yang haram
saja sulit, apalagi yang halal”. Bahkan selalu diucapkan
orang,”kalau jujur akan terbujur”,”kalau lurus akan
kurus”,kalau ihklas akan tergilas”.

Ungkapan-ungkapan itu menunjukkan bahwa manusia zaman kini telah dilanda
penyakit mental yang luar biasa, yaitu penyakit korup dan ketidak jujuran.

Nabi muhammad Saw pernah memprediksi, bahwa suatu saat nanti, diakhir
zaman,manusia dalam mencari harta,tidak mempedulikan lagi mana yang halal
dan mana yang haram. (HR Muslim).

Ramalan Nabi pada masa kini telah menjadi realitas sosial yang mengerikan,
bahkan implikasinya telah menjadi patologi sosial yang parah, seperti
menjamurnya korupsi, pungli, suap, sogok,uang pelicin dsb. Banyak kita
temukan pencuri-pencuri berdasi melakukan penyimpangan-penyimpangan dalam
mengelola proyek. Manusia berlomba-lomba mengejar kekayaan dan kemewahan
dunia secara massif, tanpa mempedulikan garisan-garisan syariah dan
moralitas.

Era reformasi yang telah berlangsung lebih lebih sepuluh tahun, praktek
kolusi,korupsi dan suap menyuap masih saja menjadi kebiasaan masyarakat
kita . Untuk mengatasi dan mengurangi segala destruktip tersebut, puasa
merupakan ibadah yang paling ampuh dan efektif, asalkan pelaksanaan puasa
tersebut dilakukan dengan dasar iman yang mantap kepada Allah, dan ihtisab
(mawas diri), serta penghayatan yang mendalam tentang hikmat yang
terkandung di dalam puasa Ramadhan.

Puasa melatih kejujuran
Berbeda dengan sifat ibadah yang ada, puasa adalah ibadah sirriyah
(rahasia). Dikatakan sirriyah, karena yang mengetahui seseorang itu
berpuasa atau tidak, hanyalah orang yang berpuasa itu sendiri dan Allah
SWT.
      Dalam ibadah puasa, kita dilatih dan dituntut untuk berlaku jujur.
Kita dapat saja makan dan minum seenaknya di tempat sunyi yang tidak
terlihat seorangpun. Namun kita tidak akan mau makan atau minum,
karena kita sedang berpuasa. Padahal, tidak ada orang lain yang tahu
apakah kita  puasa atau tidak. Namun kita yakin, perbuatan kita itu
dilihat Allah swt..
      Orang yang sedang berpuasa juga dapat dengan leluasa berkumur sambil
menahan setetes air segar ke dalam kerongkongan, tanpa sedikitpun
diketahui orang lain. Perbuatan orang itu hanya diketahui oleh orang
yang bersangkutan. Hanya Allah dan diri si shaim itu saja yang
benar-benar mengetahui kejujuran atau kecurangan dalam menjalankan
ibadah puasa. Tetapi dengan ibadah puasa, kita tidak berani berbuat
seperti itu, takut puasa batal.
Orang yang berpuasa dilatih untuk menyadari kehadiran Tuhan. Ia dilatih
untuk menyadari bahwa segala aktifitasnya pasti diketahui dan diawasi oleh
Allah SWT.Apabila kesadaran ketuhanan ini telah menjelma dalam diri
seseorang  melalui training  dan didikan puasa, maka Insya Allah akan
terbangun sifat kejujuran.
Jika manusia jujur telah lahir, dan menempati setiap sektor dan instansi,
lembaga bisnis atau lembaga apa saja, maka tidak adalagi korupsi, pungli,
suap-menyuap dan penyimpangan-penyimpangan moral lainnya.
Kejujuran merupakan mozaik yang sangat mahal harganya. Bila pada diri
seorang manusia telah melekat sifat kejujuran, maka semua pekerjaan dan
kepercayaan yang diamanahkan kepadanya dapat di selesaikan dengan baik dan
terhindar dari penyelewengan-penyelewengan. Kejujuran juga menjamin
tegaknya keadilan dan kebenaran.
Secara psikologis, kejujuran mendatangkan ketentraman jiwa. Sebaliknya,
seorang yang tidak jujur akan tega menutup-nutupi kebenaran dan tega
melakukan kezaliman terhadap hak orang lain.Ketidakjujuran selalu
meresahkan masyarakat, yang pada gilirannnya  mengancam stabilitas sosial.
Ketidak jujuran selalu berimplikasi kepada ketidakadilan. Sebab orang yang
tidak jujur akan tega menginjak-injak keadilan demi keuntungan material
pribadi atau golongannya.
    Berlaku jujur, sungguh menjadi bermakna pada masa sekarang,, masa yang
penuh dengan kebohongan dan kepalsuan. Pentingnya kejujuran    telah banyak
disapaikan Rasulullah SAW. Diriwayatkat bahwa, Rasulullah pernah
didatangi oleh seorang pezina yang ingin taubat dengan sebenarnya.
Rasulullah menerimanya dengan satu syarat, yaitu,agar orang tersebut
berlaku jujur dan tidak bohong
Syarat yang kelihatan sangat ringan untuk sebuah pertaubatan besar, tetapi
penerapannya dalam segala aspek kehidupan sangat berat.Dan ternyata syarat
jujur tersebut sangat ampuh untuk menghentikan perbuatan zina. Jika ia
tetap berzina secara sembunyi-sembunyi, lalu bagaimana ia harus menjawab
jika Rasulullah menanyainya tentang apakah ia masih berzina atau
tidak.Untuk menghindari berbohong kepada Nabi, maka si pezina mengakhiri
prilakunya yang dusta itu dan kemudian benar-benar bertaubat dengan penuh
penghayatan.
Dari riwayat itu dapat ditarik kesimpulan, bahwa kejujuran sangat
signifikan dalam membersihkan prilaku menyimpang, seperti korupsi, kolusi,
penipuan, manipulasi, suap-menyuap dan sebagainya.
Dewasa ini kesadaran untuk menumbuhkan sifat kejujuran sebagai buah dari
ibadah puasa, kiranya  perlu mendapat perhatian serius. Pendidikan
kejujuran yang melekat pada ibadah puasa, perlu dikembangkan sebagai
bagian dari kehidupan riel dalam masyarakat. Sebab apabila kejujuran telah
disingkirkan, maka kondisi masyarakat akan runyam. Korupsi dan kolusi
terjadi di mana-mana, pungli merajalela, kemungkaran sengaja dibeking oleh
oknum-oknum tertentu demi mendapatkan setoran uang.
Fenomena kebohongan dan tersingkirnya sifat kejujuran, mengantarkan
masyarakat dan bangsa kita pada beberapa musibah nasional yang berlangsung
secara beruntun dan silih berganti tiada henti. Terjadinya malapetaka
berupa krisis ekonomi yang melanda bangsa Indonesia adalah cermin paling
jelas dari makin hilangnya sukma. kejujuran dan semakin mekarnya kepalsuan
dalam kehidupan bangsa kita.
Dalam menghadapi kasus-kasus yang gawat seperti itu, pesan-pesan profetik
keagamaan seperti pesan luhur ibadah puasa dapat ditransformasikan untuk
membongkar sangkar kepalsuan dan mem bangun kejujuran.
Ada yang secara pesimis berpendapat, bahwa  membangun kejujuran pada era
materialisme adalah suatu utopia (angan-angan) mengingat mengakarnya sifat
ketidak jujuran dalam masyarakat dan bangsa kita. Sebagai orang beriman
yang menyandang peringkat khairah ummah, sikap pesimis di atas harus
dibuang jauh-jauh.Sebab gerakan amarma’ruf nahi mungkar yang
dilandasi iman, harus tetap dilancarkan, agar konstelasi dunia ini tidak
semakin parah.

Realitas menunjukkan, bahwa kesemarakan ramadhan dari tahun ke tahun
semakin meningkat, namun ironisnya, bersamaan dengan itu penyimpangan dan
ketidakjujuran masih berjalan terus. Padahal, suatu bulan kita dilatih dan
didik untuk berlaku jujur, menjadi orang yang dapat dipercaya. Bila selama
satu bulan itu, orang-orang yang berpuasa benar-benar berlatih secara
serius dengan penuh penghayatan terhadap hikmah puasa, maka  pancaran
kejujuran  akan terpantul dari dalam jiwa mereka. Kalau puasa Ramadhan
yang dilakukan tidak melahirkan manusia-manusia jujur, berarti kualitas
puasa orang tersebut masih  sebatas lapar dan dahaga. Karena puasa yang
dilakukan tidak memantulkan refleksi  kejujuran. Kalau orang yang
berpuasa, masih mau menerima suap dari orang-orang yang mencari pekerjaan,
berarti kualitas ibadah orang tersebut masih sangat rendah. Kalau orang
yang berpuasa, masih mau melakukan mark up dalam proyek, korupsi dan
kolusi, berarti puasa yang dilakukan masih jauh dari  tujuan puasa.
Kalau pasca puasa Ramadhan, kejujuran semakin tipis atau
sirna,pungli,korupsi dan kolusi tetap menjadi kebiasaan, barang kali puasa
yang dilakukan tidak didasari iman, tetapi mungkin ia melakukan puasa
hanya karena mengikuti tradisi.  Untuk mewujudkan manusia jujur, perlu
peningkatan iman dan penghayatan kesadaran kehadiran Tuhan. Tanpa upaya
ini, kejujuran tak kan lahir dari orang yang berpuasa Cara awalnya ialah
dengan mengikuti Training ESQ atau Pesantren Qalbu. Hasilnya sudah
terbukti secara sifnifikan di mana-mana. Banyak BUMN omzetnya meningkat
secara signifikan setelah para direktur dan managernya ikut training ESQ
(Emosional Spitual Quentiont). yang dilaksanakan oleh Ary Ginanjar
Agustian.
Comments