Zuhud dan Tawakkal

diposkan pada tanggal 28 Nov 2010 19.32 oleh MM Munir
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
3. Membiasakan perilaku terpuji 3.1. Menjelaskan pengertian zuhud dan tawakkal
3.2. Menampilkan contoh perilaku zuhud dan tawakkal
3.3. Membiasakan perilaku zuhud dan tawakkal dalam kehidupan sehari-hari.

Bila kita amati kehidupan di sekitar kita, akan dapat kita lihat bahwa di antara mereka ada yang kaya dan ada yang miskin. Di dalam diri kita sendiri, suatu saat kita akan mengalami kesuksesan karena mampu menyelesaikan sesuatu, dan terkadang kita juga mengalami
kegagalan. Di dalam ajaran Islam, diajarkan bagaimana membawa diri saat hidup di dunia dengan berbagai kesenangan harta. Kita juga diajarkan bagaimana cara yang tepat dalam menyikapi kondisi sukses maupun saat gagal. Kaya, miskin, sukses, dan gagal itu semuanya
dapat menjadi bermakna apabila dapat menerapkan zuhud dan dan tawakal. Sebaliknya orang menjadi kaya, miskin, sukses maupun gagal tersebut bisa berakibat negatif jika seseorang salah dalam menyikapinya. Untuk itu pelajarilah pembahasan berikut ini dengan penuh
semangat!

A. ZUHUD
Pengertian Zuhud
Sikap zuhud merupakan salah satu akhlak mulia yang diajarkan oleh Islam. Zuhud mengandung arti melepaskan diri dari keterikatan kepada dunia atau melepaskan diri dari diperbudak oleh dunia. Dengan demikian zuhud bukan berarti melepaskan diri terhadap kebutuhan dunia, karena hidup tidak dapat dipisahkan dengan kebutuhan. Tidak ada orang yang hidup tanpa membutuhkan sesuatu. Namun janganlah menganggap bahwa dunia adalah segala-galanya, sehingga lupa akhirat.

Kebalikan dari sifat zuhud adalah sifat matrealistis. Orang yang mempunyai sifat ini menganggap bahwa dunia dan harta adalah segala-galanya. Kalau kecintaannya terhadap dunia semakin menjadi-jadi dan tidak terkendali, maka dia dapat melupakan Allah SWT dan
melupakan kehidupan akhirat.

Orang yang zuhud disebut zahid. Sikap zuhud menjadi penting untuk dimiliki oleh setiap orang muslim karena syaitan selalu membisikkan agar semakin banyak yang didapat manusia, maka semakin banyak pula keinginannya terhadap yang lain. Syaitan menghendaki
agar manusia menjadi makhluk yang matrealistis, serakah atau tamak, sudah memiliki satu ingin dua, setelah punya dua ingin empat, setelah punya empat ingin delapan dan seterusnya.

Kebanyakan orang karena terdorong nafsu syaitan maka kehidupannya hanya disibukkan untuk mencari kepuasan dunia. Dari hari kehari, bulan ke bulan dan seterusnya dari tahun ke tahun, sehingga hampir tidak ada lagi waktu mengingat Allah SWT dalam dirinya. Bahkan terkadang banyak orang menjadi lupa terhadap dirinya sendiri karena mengejar dan mencari kebutuhan hidup dan mendewakan harta atau materi. Orang seperti ini sudah terjebak dengan pola kehidupan yang matrealistis. Hadis Rasulullah :

Artinya : “Diriwayatkan dari Anas r.a katanya: Rasulullah s.a.w telah bersabda: Anak Adam menjadi semakin tua, tetapi ada dua perkara dari padanya yang akan menjadikannya semakin muda yaitu: Tamak (rakus) kepada harta dan tamak kepada umur.
( HR Bukhari dan Muslim )

Artinya : "Orang beriman makan dengan satut usus, sedang orang kafir makan dalam tujuh usus".
(H.R. Bukhari dan Muslim).

Maksudnya, orang kafir itu mempunyai tujuh usus (perut) sebagai kinayah/sindiran, bahwa mereka adalah orang-orang yang rakus.
Dengan demikian zuhud bukan berarti tidak butuh dunia, tetapi lebih menekan kepada hasrat menjauhkan diri dari kesenangan dunia untuk mencapai kesenangan akhirat. Kalaupun mendapat karunia rizki yang berlimpah, semuanya dijadikan sarana atau bekal untuk
beribadah, berderma, bersedekah, zakat, membahagiakan keluarga, berbagi dengan orang lain, dan tujuan-tujuan mulia yang lain.

Zuhud bukan berarti harus hidup miskin, orang yang berkecukupan bahkan orang yang kaya sekalipun tetap bisa menerapkan zuhud. Orang kaya dapat menerapkan zuhud dengan meyakini bahwa harta yang dimiliki merupakan karunia dari Allah SWT, sehingga dipergunakan untuk mencapai ridha Allah SWT, tidak untuk berfoya-foya. Demikian pula orang yang hidup kekurangan juga dapat menerapkan zuhud dengan meyakini bahwa seberapapun rizki yang didapat semua itu merupakan karunia Allah SWT yang harus disyukuri dan dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk lebih dekat kepada Allah SWT.

Orang yang zuhud meyakini bahwa kebahagiaan di akhirat jauh lebih berarti dan abadi bila dibandingkan dengan gemerlap dunia yang hanya sementara. Jadi, menjadi keliru jika zuhud dipahami sebagai sikap hidup dengan membenci dunia, menyingkirkan harta, mengasingkan diri dari keramaian, dan tinggal di daerah terpencil atau di mihrab-mihrab masjid sambil bertasbih dan bertahlil, sementara kewajiban menafkahi
keluarga terabaikan.

Ajaran Islam sebagai satu agama yang nilai-nilai ajarannya adalah akhlak atau moral, tidak membenarkan kehidupan seseorang yang hanya terpaku kepada materi dunia dan mengabaikan kehidupan akhirat. Oleh karena itu kita diajarkan untuk mencari harta di dunia ini dengan cara-cara yang halal agar mendapatkan ridho dari Allah SWT. Kita diajarkan untuk selamat dan bahagia di dunia dan sekaligus selamat dan bahagia di akhirat.

Ajaran Islam sangat menekankan terhadap pentingnya kehidupan akhirat, sehingga materi atau harta yang dimiliki merupakan rizki dan karunia dari Allah SWT yang dipergunakan untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Allah dan RasulNya mengajarkan kita untuk membuat keseimbangan antara kedua kehidupan, dunia-akhirat. Allah menegaskan hal tersebut dalam firmanNya :


Artinya :"Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu sebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) kehidupan duniawi. Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, serta janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Allah benar-benar tidak suka kepada orang yang membuat kerusakan",
(QS Al Qashash : 77)

Manfaat Zuhud
Dalam hal harta dan materi, maka terdapat orang yang tergolong kaya dan ada pula yang miskin. Sikap zuhud tidak hanya dapat diterapkan seseorang yang miskin saja atau diterapkan oleh orang yang kaya saja. Namun sikap zuhud dapat diterapkan oleh setiap muslim baik dalam keadaan kaya maupun miskin. Orang yang zuhud akan selalu berdampak positif dalam dirinya dalam keadaan bagaimanapun. Perhatikan tabel manfaat zuhud beriut ini!

Orang yang Zuhud Dalam keadaan kaya Dalam keadaan miskin
1. Tetap ingat kepada Allah SWT dan
selalu bersyukur karena dia meyakini
bahwa karunia kekayaan itu semata
pemberian Allah SWT
2. menjadi orang yang dermawan dan rajin
berbagi kepada orang lain yang
kekurangan.
3. Tidak merasa sombong karena harta
yang dimiliki semata-mata pemberian
Allah SWT yang tidak layak untuk
dijadikan alasan sombong.
1. Tetap menjadi sabar karena meyakini
bahwa walaupun hartanya sedikit, itulah
karunia Allah SWT yang harus
disyukuri.
2. Tidak ingin menjadi peminta-minta dan
tetap berusaha mencari rizki yang halal.
3. Tidak merasa rendah diri, karena dengan
usaha yang sungguh-sungguh maka bisa
jadi Allah SWT akan merubah nasibnya
di hari esok menjadi lebih baik.
Sebaliknya, orang yang matrealistis akan selalu berdampak negatif (buruk) baik dalam
keadaan kaya maupun miskin. Perhatikan tabel sikap berikut ini!
Orang yang Matrealistis
Dalam keadaan kaya Dalam keadaan miskin
1. Lupa kepada Allah SWT dan akhirat
karena dia sudah silau dengan gemerlap
harta.
2. Menjadi orang yang suka berfoya-foya
dan menghambur-hamburkan hartanya.
Dia lupa bahwa di sekelilingnya masih
banyak orang yang perlu dibantu.
3. Merasa sombong karena merasa dirirnya
sebagai orang yang paling berhasil dan
menganggap rendah orang lain yang
hartanya sedikit.
1. Menjadi orang yang putus asa, bahkan
bisa terjadi dia menjual agama dan
keyakinannya ketika ada yang
menawarkan harta namun harus
berpindah keyakinan.
2. Tidak lagi peduli bagaimana cara
mendapat harta walaupun harus dengan
cara yang tidak terpuji (menjadi pemintaminta)
atau dengan cara yang haram
(mencuri, merampok, korupsi, dan
sebagainya).
3. Merasa rendah diri, karena menganggap
yang bisa menjadikan dia percaya diri
hanyalah kalau dia kaya.
B. TAWAKAL
Pengertian Tawakal
Tawakal artinya berserah diri kepada Allah SWT atas hasil usaha kita setelah berusaha
dengan sungguh-sungguh dan berdoa. Misalnya, dalam menghadapi ulangan kamu sudah
belajar dengan sungguh-sugguh dan mengerjakan soal-soal dengan cermat dan teliti, setelah
itu kamu pasrah dan menyerahkan keputusan atas hasil usaha kamu kepada Allah SWT.
Contoh lain setelah seseorang bekerja mencari nafkah dengan sungguh-sungguh, maka
berapapun hasilnya nanti diserahkan kepada Allah SWT Yang Maha Pemberi Rizki, Maha
Pemurah, dan Maha Kaya.
Jadi, tawakal hasus disertai dengan usaha yang serius. Dikisahkan bahwa ada seorang
sahabat yang hendak pergi meninggalkan untanya begitu saja tanpa diikat. Ketika ditanya
oleh Rasulullah saw. mengapa dia membiarkannya untanya tanpa ikatan? Apakah tidak
khawatir kalau unta itu pergi begitu saja? Maka sahabat itu menjawab bahwa dia bertawakal
kepada Allah SWT. Penerapan tawakal oleh salah seorang sahabat tersebut tidak dibenarkan
oleh Rasul. Kemudian Rasul mengajarkan agar dia berusaha mengikat unta itu terlebih
dahulu, baru kemudian berserah diri kepada Allah SWT. Kalau sudah diikat sedemikian rupa
unta tersebut masih lepas atau hilang, maka memang hal itu sudah menjadi kehendak Allah
SWT.
Kepribadian tawakal ini merupakan salah satu akhlaq yang terpuji, karena dengan sikap
tawakal merupakan awal yang baik. Seandainya hasil yang diperoleh itu tidak memuaskan
maka dapat diterima dengan lapang dada dan penuh kesabaran. Sebaliknya jika hasil yang
diterima sangat memuaskan maka kita tidak merasa sombong dang angkuh, karena hal itu
semata-mata karunia dari Allah SWT . Ingat ! manusia hanya berkewajiban untuk berusaha,
sedangkan keputusan sepenuhnya di tangan Allah SWT yang memiliki sifat wajib Maha
Berkehendak (qudrah) dan Maha Kuasa (qudrah).
Perhatikan firman Allah SWT berikut ini :
ياَأي  ها الَّ  ذي  ن امنوا ا ْ ذ ُ كر  وا ِنع  مَة اللهِ  عَلي ُ ك  م ِإ ْ ذ ه  م قَوم َأ ْ ن يب  س ُ ط  وا ِإَلي ُ ك  م َأي  ديهم َف َ ك  ف
( َأي  ديهم  عن ُ ك  م  واتُقوا اللهَ  و  عَلى اللهِ َفلْيت  وكَّ ِ ل اْل  م  ؤمن  و َ ن (المائدة : 11
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kamu akan ni`mat Allah (yang diberikan-
Nya) kepadamu, di waktu suatu kaum bermaksud hendak menggerakkan tangannya
kepadamu (untuk berbuat jahat), maka Allah menahan tangan mereka dari kamu. Dan
bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang mu'min itu harus
bertawakkal.” (QS. Al Maidah : 11)
Manfaat Tawakal
Orang yang menyertakan tawakal dalam setiap tindakan dan usahanya, maka akan selalu
berakibat positif. Dampak positif ini tidak hanya ketika usahanya berhasil, walaupun tidak
berhasil orang yang tawakal tetap menanggapinya dengan positif.
1. Kalau usaha seseorang sukses, maka orang yang tawakal meyakini bahwa kesuksesan itu
merupakan karunia Allah SWT yang harus disyukuri dan tidak perlu menjadi tinggi hati.
2. Kalau usahanya tidak sukses, orang yang tawakal tidak berputus asa dan tetap berusaha.
Bahkan dia melakukan introspeksi diri mengapa usahanya tersebut belum berhasil.
Apakah ada sesuatu yang kurang. Orang yang tawakal tetap meyakini bahwa kegagalan
merupakan keberhasilan yang tertunda.
Comments