DATABASE PARIWISATA

    Rekanan

    Ubrug Dalam Timbangan

    Oleh : Ali Faisal

    “Ahirnya ubrug di dokumentasikan, kami mengundang untuk hadir dalam launcing dan bedah buku UBRUG tontonan dan tuntunan....” inilah kira-kira isi pesan singkat yang lebih dari 3 kali masuk ke nomor ponsel saya, sms saya terima dari salah satu penulis buku ini yaitu “si rambut api” Mahdiduri orang setengah gila yang setiap bicaranya sulit untuk dibedakan mana yang serius mana yang guyon, tetapi kalau obrolannya sudah menyentuh pada imagi seorang seniman yang tidak terurus, yang tidak memiliki taman budaya, terpinggirkan, yang merasa tidak mempunyai lembaga yang dianggap leading sector dalam hal seni dan budaya, yang menggerutu karena rata-rata pejabat memaknai kebudayaan dengan tidak paripurna sehingga menimbulkan kesalahpahaman berujung pada anggapan seniman di sangkanya pedagang, dan saya baru tahu lewat ceritanya ternyata seniman juga punya dewan, yang menurutnya dewannya seniman tabiatnya tak ubahnya dengan dewan-dewan yang lainnya yang tumbuh subur di negeri ini, dan kawanku satu ini jika sudah bicara hal yang demikian, kelucuannya agak sedikit di sembunyikan, walaupun jelas-jelas bagiku tetap tidak bisa di kamuflase, ya tetap lucu dalam kemarahannya.


    Beberapa puluh orang berkumpul di ruangan sederhana kantor Perpustakaan daerah Provinsi Banten sebagaimana isi pesan singkat si rambut api tadi, tidak ada yang istimewa separti kebanyakan acara bedah buku dan diskusi, pesertanya dapat di hitung dengan jari tidak seperti suasana pada saat pengumuman lelang pra kualifikasi pada sebuah proyek pemerintah atau pembagian sembako menjelang kampanye pemilukada misalnya, tetapi bagi saya tetap mempunyai daya eksotik, apalagi ketika sang moderator memulai acara dengan ugal-ugalan, adalah Ibnu PS Meganada, seorang penyair sufi yang teramat cinta pada kendaraan vespa uzurnya, yang ia beri nama “kendaraan kawula alit” tatkala beliau menulis dalam sebuah artikel di koran lokal di Banten mengkritisi pembelian mobil dinas pejabat, “yang benar aja mas masa vespa butut di versuskan dengan mobil mewah pejabat?..”masih bicara soal sang moderator dalam diskusi bedah buku itu, tiba-tiba timbul kagum padanya, teringat pada suatu obrolan dia dengan saya yang menyatakan ”mas Ali, aku ini terbiasa tidak memegang banyak uang, suatu hari aku pernah punya uang yang menurutku agak banyak, lha aku ko pusing ya, untuk apa uang ini...” atau dalam obrolan yang lain ia bercerita bahwa pernah di tegur oleh kolega wartawannya yang katanya senior dalam sebuah liputan di pendopo Gubernur Banten lantaran Ibnu mengenakan celana yang agak robek, “Ibnu kamu kan wartawan masa celanaya sobek?..” dengan entengnya ia menjawab teguran itu “biarlah mas celana saya sobek asal jangan hati saya saja yang sobek” ending obrolan menjadi sedikit getir sebelum kedua wartawan beda generasi ini mencair.

    Kembali pada konten substansi bedah buku dimaksud, kelihatannya sang penulis berambisi mencuri perhatian pembacanya bahwa buku yang ia tulis tersebut adalah rangkaian serpihan fakta tentang suatu local wisdom yang pernah hidup dan berkembang di tatar banten, indikasi itu kuat terbukti manakala menghadirkan Mang Sarmani yang di daulat menjadi sebagai salah satu pelaku ubrug dari grup yang menamakan dirinya Cantel dari Walantaka. Mang Sarmani yang pada waktu itu mendapat giliran bicara di nomor tiga setelah dua pembicara sebelumnya Yadi Ahyadi dan Syuhada yang mengaitkan pagelaran rakyat dengan gerakan perlawanan rakyat terhadap penguasa dzolim. Terasa ada suasana batin yang amat mencolok tatkala Mang Sarmani mulai bicara memberikan testimoninya soal Ubrug, seakan menebarkan efek magis sehingga ruangan yang riuh rendah berubah menjadi hening nan khidmat, padahal tidak ada kata-kata istimewa, tersusun secara sistematis, dengan metoda deduksi atau induksi bahkan sama sekali tidak mengindahkan Ejaan yang disemprnakan.

    Mang Sarmani hanya mengucapkan salam, dilanjutkan permintaan maaf, jikalau nanti omongannya “keceplak-kecepluk” harap di ma’lum dikarenakan mang Sarmani merasa orang bodoh jangankan sarjana, SR (Sekolah Rakyat) saja tidak tamat” sekali lagi mang Sarmani meminta maaf...lalu ia menceritakan kisahnya bermain ubrug yang artinya “ngegebrug” (egaliter, manunggaling artis dan penggemar atau suatu kondisi sama rasa sama rata yang meniadakan dikotomi borjuis dan proletariat dan atau ningrat dan jelata), panggungya lepoan (beralas lantai), lightingnya godog (lampu minyak tanah dalam batang bambu) bahkan saking asiknya pernah suatu waktu badannya di injak-injak oleh anak-anak kecil yang sedang menyaksikannya, itulah ubrug dalam kisahnya. sekali lagi mang Sarmani meminta maaf kalau ngomongnya “keceplak-kecepluk”, tetapi semakin Mang Sarmani berulang meminta maaf ruangan diskusi semakin lembab dan hadirin semakin menggigil, keadaan semakin hening, semua antusias semua mendengarkan dengan segenap perasaan yang di miliki.

    Satu diantara hadirin bergumam tanpa ada yang bertanya “inilah keajaiban itu, ketika Mang Sarmani bicara dengan kata-kata yang patah-patah semua kita terperangah, terpukau olehnya, mulut kita menganga pertanda takjub pada ketulusan hati dan kepolosan jiwanya”, padahal pada tempat lain ada suara merdu yang intonasinya telah diatur sedemikian rupa, kata-katanya tersususn ilmiah diatas berlembar-lembar kertas warna, dibacakan di atas podium, di tempat-tempat mewah oleh sosok yang katanya pejabat, orang kaya, pintar, yang sudah barang tentu di belakang namaya bertebar gelar dan tanda jasa, tetapi kita tidak mendengarkan apa yang sedang dikatakan pejabat itu, karena kita sadar bahwa semakin kita mendengar semakin pedih tercabik-cabik rasanya hati ini, karen janji adalah janji masih tetap menjadi janji, berujung dengan janji, katanya”

    Mang Sarmani pun tetap menjadi mang Sarmani dengan berbinar-binar matanya penuh misterius.

    Ubrug dalam Lintas Spiritulitas
    Tak bisa dipungkiri bahwa ubrug merupakan warisan luhur masyarakat Banten sebagai sebuah hasil cipta, rasa dan karsa yang pernah tumbuh dan berkembang secara kontemporer di jamannya, yang kemudian lambat laun mengecil, langka dan pada ahirnya punah, cerita kejayaan dan keruntuhan inilah rupanya yang mendorong penulis buku ini menggebu-gebu untuk menggali dan mencari tahu bahkan kalau mungkin ingin mengahdirkan kembali kejayaan dalam jilidnya yang kedua, tetapi sebagaimana di sampaikan dalam diskusi bahwa upaya mengahdirkan rekam jejak ”kemonesan” ubrug dimasa lalu lewat buku ini mengalami berbagai kendala, hal utamaya karena tidak ada dokumen tertulis yang dibuat dan di tinggalkan para pelakunya.

    Terahir kali penulis menyaksikan permainan ubrug sekitar tahun 1989 di suatu desa di Bojonegara yang menurut identifikasi masyarakat setempat desa itu di sebut dengan desa ”purba” desa yang mata pencaharian utamanya nelayan, kesadaran untuk sekolah sangat minim sekali jika tidak dikatakan nol, sanitasinya buruk, orang yang mondok di ”kobong” sangat langka walhasil berimbas pada angka melek huruf arab yang sangat minim, mengapa ada gambaran tempat dimana dahulu ubrug itu di pertunjukkan?...dikarenakan di tempat atau desa-desa seperti itulah ubrug di berikan ruang, mengapa demikian?..ini terkait pandangan ortodok kaum agama setempat dalam menafsirkan suatu yang dianggapnya haram dan halal, karena ada unsur pornografi, bahkan ada semacam justifikasi bahwa siapa yang berani hajatan nanggap ubrug di cap oleh ahli agama tersebut sebagai orang pembangkang terhadap ajaran agama, doktrin ini bagi sebagian orang kampung sama bobotnya seperti terlibat dalam gerakan PKI, walaupun sesungguhnya jika ada orang yang nyeleneh menanggap ubrug maka pada malam harinya terutama kaum leleki dengan menggunakan sarung berbondong-bondong untuk menyaksikan pertunjukan, hal demikian ini terjadi pula hampir merata di berbagai tempat di wilayah Banten.

    Akan tetapi jika di tilik lebih seksama ubrug adalah teater rakyat sebagai media informasi atau media pesan atas gambaran kenyataan kehidupan masyararakat, menyampaikan karakteristik masyarakat melalui medium lakon dalam miniatur heterogenitas, mempunyai konten, tujuan dan tentu saja hiburan, mengamati hal ini pikiran kita teringat akan kisah pewayangan, baik wayang golek di Jawa Barat maupun wayang kulit di luar Jawa Barat bukankah cikal bakal kebudayaan ini berasal dari hindu budha yang amat di gemari oleh masyarakat pada masanya, lalu setelah para sunan memasuki wilayah itu untuk menyebarkan agama Islam sang sunan tidak serta merta menghapus, mengharamkan, menghakimi dengan term halal-haram, baik-buruk, justeru kebudayaan yang telah ada, tetap diagungkan di pelihara dan dilestarikan dengan memanfaatkannya sebagai media dakwah yang efektif tanpa menciderai masyarakat budaya, jika sang sunan dalam rentang ratusan tahun yang lampau telah mampu mentransformasi nilai-nilai baru kedalam bentuk kebudayaan yang telah ajeg, barangkali kita seluruh stakeholder yang ada di provinsi Banten mestinya mampu mengambil pelajaran (ibroh) dari kisah islamisasi pewayangan, pun ubrug yang semangatnya telah di bangunkan oleh Yadi Ahyadi dan Mahdiduri ini di jadikan kontemplasi dan usaha massif untuk menghadirkannya kembali dalam ranah local wisdom menjadi cerita nyata, alat transformasi sekaligus tampilnya identitas kita sebagai entitas bangsa, sehingga lahirnya kembali (reborn) atau upaya menghidupkan kembali ubrug tidak sebatas menjadi tontonan tetapi tuntunan, Semoga...
    Comments