PEMBERONTAKAN PKI 1926 DI KABUPATEN LEBAK* * * *

Oleh: Miftahul Falah, S. S.

 
Faham komunis mulai disebarkan di Indonesia oleh H. J. F. M. Sneevliet, anggota  Sociaal  Democratische  Arbeiderspartij,  pada  masa  sebelum  Perang Dunia  I.  Setibanya  di  Hindia  Belanda,  ia  bekerja  sebagai  staf  redaksi Soerabajasch  Handelsblad.  Pada  tahun  1913,  ia  pindah  ke  Semarang  menjadi Sekretaris  Semarangse  Handelsvereniging.  Setahun  kemudian,  tepatnya  9  Mei 1914, bersama-sama dengan  J. A. Brandsteder, H. W. Dekker, dan P. Bergsma, Sneevliet  berhasil  mendirikan  Indische  Sociaal-Democratische  Vereniging (ISDV). Dalam upayanya untuk menyebarluaskan faham sosialis/komunis, ISDV berusaha  untuk  membangun  jaringan  kerja  sama  dengan  organisasi  lain  yang memiliki anggota cukup banyak.

Pada  awalnya,  ISDV  bekerja  sama  dengan  Insulinde  yang  pada  tahun 1917 memiliki anggota sebanyak 6.000 orang. Akan  tetapi, kerja sama  ini hanya bertahan  satu  tahun,  karena  ISDV  tidak  berhasil  mewujudkan  tujuannya.  Oleh karena  itu,  “kerja  sama”  pun  dialihkan  ke  Sarekat  Islam  (SI).  Taktik  yang dipergunakan oleh Sneevliet untuk bisa bekerja sama dengan SI adalah  infiltrasi yang dikenal dengan nama “blok dari dalam”. Dalam infiltrasi ini, anggota ISDV dijadikan  anggota  SI  dan  anggota  SI  dijadikan  anggota  ISDV.  Taktik  ini  jauh
lebih  berhasil  dibandingkan  kerja  sama  dengan  Insulinde,  terbukti  hanya  dalam satu  tahun, Sneevliet  berhasil menanamkan  pengaruhnya  yang  kuat  di  tubuh SI.

Bahkan tokoh muda SI, yakni Alimin dan Darsono menjadi pemimpin ISDV. Pada bulan Mei 1920,  ISDV menyelenggarakan kongres yang ke-7 dan salah  satu  agendanya  adalah  perubahan  nama  ISDV  menjadi  Perserikatan Komunis  di  Hindia.  Perubahan  nama  ini  dilandasi  bahwa  dalam  rangka mengidentifikasikan  diri  dengan Komintern,  ISDV  perlu memiliki  identitas  dan organisasi yang akan membedakan dengan kelompok sosialis palsu. Pada tanggal 23 Mei 1920, kongres mengesahkan Partai Komunist Hindia  sebagai nama baru
ISDV.  Semua  cabang  menyetujui  perubahan  itu,  kecuali  cabang  Surabaya, Bandung,  dan  Ternate  yang  menentang  perubahan  itu.  Semaun  tampil  sebagai ketua,  Darsono  sebagai  wakil  ketua,  Bergsma  sebagai  sekretaris,  dan  Dekker
                                                 
Pada  bulan  Desember  1920,  namanya  diubah  lagi  menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). ISDV  tidak  pernah  membuka  cabang  di  Banten,  meskipun  dua  orang anggota  eksekutifnya yakni Hasan Djajdiningrat dan  J. C. Stam  tinggal di  sana. Awal mula  kemunculan  PKI  di Banten,  tidak  dapat  dilepaskan  dari  peran  yang
dimainkan  oleh R. Oesadiningrat,  seorang  karyawan  Stasiun Kereta Api  Tanah Abang yang dipecat oleh otoritas kolonial yang kemudian aktif di Sarekat Buruh Kereta  Api  (VSTP)  sebagai  pengurus  harian  penuh.

Dalam  kedudukannya sebagai pengurus VSTP, Oesadiningrat kemudian menggelar rapat akbar sebanyak
tiga  kali  yang  dihadiri  oleh  tokoh PKI  terkemuka. Pada bulan Agustus  1924,  ia kembali menggelar  rapat akbar di Pandeglang dengan  tujuan hendak mendirikan Sarekat Rakyat.

Pertumbuhan PKI di Banten terjadi begitu cepat karena pada tahun 1924 baru ada dua orang anggota PKI yang tinggal di Banten. Dalam jangka waktu dua belas bulan, anggota PKI di Banten berjumlah ribuan orang dan  terus bertambah pada  tahun 1926. Pertambahan  anggota PKI yang begitu pesat disebabkan  sejak tahun  1925,  perantau  dari  Banten  semakin  banyak  yang  kembali  ke  kampung halamannya dan di antara mereka telah ada yang menjadi anggota PKI. Beberapa perantau  ini  berkedudukan  sebagai  agen  propaganda  untuk  mendirikan  cabang PKI  di  Banten.  Salah  seorang  di  antara  mereka  adalah  Tubagus  Alipan  yang diminta  oleh  Darsono  untuk  mendirikan  PKI  Cabang  Banten.

Bersama-sama dengan  Puradisastra,  Tb. Alipan  kemudian melakukan  upaya  untuk mendirikan PKI  Cabang  Banten. Kedua  orang  agen  propaganda  PKI  ini  kemudian  dibantu oleh  Achmad  Bassaif  yang  fasih  berbahasa  Arab.  Mereka  bertiga  kemudian menjadikan Islam sebagai senjata propagandanya. Dalam propagandanya itu, pengertian komunis ditekankan sebagai usaha menentang  Belanda  dan  dipersamakan  dengan  perang  sabil.  Hal  tersebut kemudian dipertegas oleh Alimin dan Musso yang datang ke Pandeglang  sekitar tahun 1925. Di hadapan massa, kedua tokoh PKI ini menguraikan secara panjang lebar  soal-soal  perjuangan  bangsa  menghadapi  penjajahan  Belanda.  Dengan demikian,  dalam  usahanya  mendapatkan  dukungan  dari  rakyat  Banten,  para proganda  PKI  menghilangkan  pengertian  komunisme,  tetapi  kemudian  lebih mengedepankan  persamaan  perjuangan  antara  Islam  dan  PKI.  Oleh  karena  itu, para  ulama Banten  tidak menentang  kehadiran  PKI  di Banten  bahkan  di  antara para ulama itu kemudian ada yang menjadi pengurus PKI Cabang Banten.
 
Selain mendapat  dukungan  dari  para  ulama,  para  petani  di Banten  pun mendukung  terhadap  gerakan  PKI  karena  tertarik  terhadap  janji-janji  PKI.  PKI menjanjikan kepada para petani bahwa partainya akan membebaskan petani dari pajak  kepal/perorangan  (hoofdgeld).  Pajak  inilah  yang  membuat  resah  petani sehingga suatu saat akan meledak menjadi sebuah perlawan jika ada yang mampu menggerakkannya. PKI mampu membaca situasi itu sehingga mendapat dukungan penuh dari para petani Banten.

Awalnya,  aktivitas  PKI  dipusatkan  di  Kabupaten  Serang.  Akan  tetapi, sejak  bulan  Maret  1926,  aktivitas  mereka  dengan  cepat  menyebar  sampai  ke wilayah  Rangkasbitung,  Kabupaten  Lebak.  Aktivitas  itu  kemudian  tidak  hanya sekedar  menggelar  rapat  politik,  tetapi  juga  telah  bergeser  ke  arah  tindakan
kriminal. Oleh karena itu, tidaklah heran kalau situasi pada waktu itu digambarkan penuh  dengan  kegelisahan.  Tidak  jarang  para  anggota  PKI  ini  melakukan tindakan-tindakan anarkis seperti penganiayaan, pemboikatan, pengrusakkan, dan lain-lain.
 
Setelah  merasa  mendapat  dukungan  dari  masyarakat  Banten,  PKI kemudian  mulai  merencanakan  pemberontakan.  Langkah  awal  yang  diambil adalah mendirikan Dubbel Organisatie (DO) sebuah organisasi rahasia dan ilegal untuk  mematangkan  semangat  revolusioner  masyarakat  Banten.  Langkah berikutnya  adalah  melakukan  reorganisasi  setelah  perginya  Puradisastra  dan Bassaif ke Batavia. Mereka berdua kemudian menjadi penguhubung PKI Pusat di Batavia dengan PKI Cabang Banten. Pada bulan Mei diselenggarakan rapat yang menghasilkan  susunan  baru  PKI Cabang Banten  di  bawah  kepemimpinan  Ishak dan  H.  Mohammad  Noer.  Sementara  itu,  Hasanudin  dan  Soleiman  diangkat sebagai  pemimpin DO Banten. Adapun K. H. Achmad Chatib  ditunjuk  sebagai Presiden Agama PKI Seksi Banten.
 
Setelah  rapat  itu,  semangat  revolusioner semakin dan PKI Seksi Banten telah  menyatakan  kesiapannya  untuk  melancarkan  pemberontakan.  Dengan semakin meningkatnya aktivitas PKI Banten, antara bulan Juli – September 1926, pemerintah  Hindia  Belanda  melakukan  penangkapan  dan  penahanan  terhadap beberapa  pemimpin  PKI  Banten.  Di  Rangkasbitung,  empat  orang  tokoh  utama PKI,  yakni  Tjondroseputro,  Atjim,  Salihun,  dan  Thu  Tong  Hin  ditahan  oleh Pemerintah  Hindia  Belanda  pada  akhir  bulan  September  1926.

Penahanan  ini mengakibatkan  pimpinan  PKI  berada  di  bawah  tangan  para  ulama  dan  jawara. Golongan  inilah  yang  kemudian  memimpin  para  petani  melancarkan pemberontakan  pada  bulan  November  1926.  Target  utama  pemberontakan  ini adalah kaum priyayi dan dipilih secara selektif. Mereka yang akan dibunuh adalah kaum  priyayi  bukan  asli Banten  dan  suka melakukan  kekerasan  kepada  rakyat. Selain  itu, yang menjadi  sasaran  adalah mereka yang  telah dianggap mencemari nama  baik  Banten.  Sementara  orang  Cina  tidak  menjadi  sasaran  karena  ada indikasi  keterlibatan  secara  tidak  langsung  dalam  pemberontakan  tersebut. Sebagian  masyarakat  Cina  di  Labuan  dan  Menes  telah  menjual  senjata  dan amunisi  kepada  kaum  pemberontak.  Selain  itu,  ada  juga  orang Cina  yang  telah menjadi  pemimpin  terkemuka  PKI  Banten,  salah  satunya  adalah  Tju  Tong Hin yang bergabung dengan PKI Rangkasbitung.
 
Pada  tanggal  6  November  1926,  pecahlah  pemberontakan  PKI  yang ditandai dengan penyerbuan kota Labuan pada  tengah malam oleh  ratusan orang bersenjata. Dalam  serangan  itu, Mas Wiriadikoesoema dan keluarganya berhasil di  tawan  oleh  pemberontak.  Selain  itu, massa  pun  kemudian menuju  ke  rumah Mas  Mohammad  Dahlan,  seorang  pegawai  yang  membocorkan  kegiatan  PKI kepada pemerintah Hindia Belanda. Dalam serangan  itu, Dahlan mengalami  luka yang  cukup parah. Pada malam yang  sama, di daerah Menes pun  terjadi  sebuah insiden  berdarah  yang  meinta  korban  lebih  banyak  lagi.  Target  utama  para pemberontak  adalah  Wedana  R.  Partadiningrat,  Benyamins  (Pengawas  Kereta Api), dan polisi. Serangan ke  arah  rumah wedanan dilakukan  sekitar pukul  satu malam  yang  dilakukan  oleh  sekitar  400  orang.  Dalam  serangan  itu,  R. Partadiningrat  dan  Benyamin,  satu-satunya  orang  Belanda  yang  tinggal Menes, tewas terbunuh.
 
Pemerintah  Hindia  Belanda  segera  melakukan  tindakan  terhadap  para pemberontak.  Pada  tanggal  13  November  1926,  pemerintah  kolonial  telah melakukan penangkapan di berbagai tempat di Banten, di antaranya enam kali di Kabupaten  Lebak.  Sehari  kemudian,  pemberontakan  PKI  Banten  berhasil dipadamkan  oleh  pemerintah  kolonial  dan  sampai  bulan  Desember  1926, pemerintah  kolonial  masih  melakukan  penangkapan  kepada  para  pelaku pemberontakan. Para pemberontak yang berhasil ditangkap kemudian dibuang ke Boven Digul sebanyak 99 orang, dihukum penjara di wilayah Banten sebanyak orang,  dan  dihukum  mati  sebanyak  4  orang.  Hampir  setiap  distrik  di  Banten masuk dalam daftar  para  interniran Boven Digul,  kecuali Kabupaten Lebak dan
Pandeglang Selatan karena penduduknya masih  jarang.

Dari Kabupaten Lebak, para pelaku pemberontakan yang dibuang ke Boven Digul  adalah
Tju Tong Hin (Promotor PKI dalam masyarakat Cina di Rangkasbitung),
Tjodroseputro  (Ketua PKI  Subseksi  Rangkasbitung), 
Tubagus  Mohammad  Hasjim  alias  Entjim (Komisaris  PKI  Subseksi  Rangkasbitung),  dan 
Salihun  (Agen  Propaganda  PKI Subseksi Rangkasbitung).
 
 
Catatan
1 Poesponegoro dan Notosusanto, 19905: 202.
2 McVey, 1965: 146-154.
3 Williams, 2003: 16.
4McVey, 1965: 332.
5 Salim, 1970: 7.
6 Williams, 2003: 56.
7 Williams, 2003: 67.
8 De Banten Bode, 25 September 1926.
9 Williams, 2003: 109.
10 Williams, 2003: 93.
11 Williams, 2003: 116.
12 Williams, 2003: 156; 158.
 
DAFTAR PUSTAKA
 
McVey, Ruth T. The Rise of  Indonesian Communism. Ithaca: Cornell University
Press.
Poesponegoro,  Marwati  Djoened  dan  Nugroho  Notosusanto.  1990.  Sejarah
Nasional Indonesia. Jilid V. Jakarta: Balai Pustaka.
Salim, Makmun.  1970.  Suatu  Tinjauan  Tentang  Peranan  Adjaran  Islam  dalam
Pemberontakan  Nopember  1926  di  Banten.  Makalah  yang
Dipresentasikan  dalam  Seminar  Sedjarah Nasional  II,  26  –  29 Agustus
1970 di Yogyakarta.
William, Michael C. 2003. Arit dan Bulan Sabit; Pemberontakan Komunis 1926
di Banten. Terj. Yogyakarta: Syarikat.
De Banten Bode, 25 September 1926.
 
 
 
 

Comments