Artikel‎ > ‎

ISO/ASA

Dalam dunia fotografi, tentu kita mengenal istilah ISO atau dulunya kita kenal dengan istilah ASA.
ISO yang merupakan singkatan dari International Standard Organization menyatakan standar kepekaan sebuah film pada kamera analog dan CCD pada kamera digital. Fungsinya adalah untuk mengatur sensivitas kamera pada cahaya.

Bilangan ISO sesungguhnya adalah angka yang mengindikasikan seberapa besar kepekaan film atau CCD pada kamera digital terhadap cahaya. Makin kecil angka ISO semakin rendah kepekaannya terhadap cahaya, sebaliknya makin tinggi ISO semakin peka terhadap cahaya.

Karena itu memilih dan menentukan ISO untuk memotret menjadi suatu hal yang sangat penting serta memerlukan perhitungan yang baik. Pemilihan ISO itu bukan hanya berdasarkan atas kondisi suatu pencahayaan yang ada tetapi juga memperhitungkan pencapaian suatu efek tertentu dalam pemotretan dan tujuan melakukan pemotretan.

ISO di dalam fotografi analog, semestinya juga digital ada empat kelompok yang dapat dipilih dan digunakan, yaitu :

1. Slow atau kecepatan lambat (ISO 25 - 64). Dalam kelompok ini bila digunakan untuk memotret akan menghasilkan butiran atau permukaan cetakan yang halus dan berkontras rendah. Biasanya dipilih dan digunakan oleh pemotret profesional untuk memotret arsitektur atau stilllife, pemotretan benda-benda mati.

2. Medium atau kecepatan sedang (ISO 100 - 200). Kelompok ini adalah kelompok kepekaan yang paling banyak digunakan karena itu merupakan kelompok yang paling popular. ISO ini sangat ideal digunakan untuk pemotretan di alam terbuka dalam cuaca terang.

Menghasilkan cetakan yang tajam dengan butiran-butirannya yang masih tetap halus. Biasanya ISO ini banyak digunakan untuk pemotretan panorama, perjalanan wisata dan foto-foto dokumentasi keluarga.

3. Fast atau cepat. (ISO 400 - 800). Film ini memiliki kemampuan yang baik untuk mengatasi suatu keadaan dalam pemotretan yang agak kurang cahaya. Menggunakan film jenis ini akan menghasilkan foto dengan cetakan yang menampakkan butiran agar kasar. Tetapi dengan menggunakannya memungkinkan memotret benda-benda yang bergerak cepat dengan baik dan tajam. Pemotret lebih leluasa dalam mengatur penggunaan diafragma, misalnya bukaan diafragma f:2,8 yang mampu mengaburkan latar belakang. Umumnya foto-foto yang diambil dengan menggunakan cahaya alami atau natural light akan memberikan hasil yang lebih baik dan menarik.

4. Ultra fast atau sangat cepat (ISO 1000 - ke atas). Dirancang untuk mengatasi suatu keadaan pemotretan di mana cahaya yang ada saat pemotretan sangat rendah atau memotret dengan menggunakan cahaya seadanya. Menghasilkan cetakan dengan butir-butiran yang tampak kasar, terlebih bila dicetak besar. Namun dalam perkembangannya apakah cepat atau sangat cepat dapat diperbaiki sehingga mampu menghasilkan mutu yang tak kalah dengan yang sedang. Dengan ISO ini bukan hanya ditujukan untuk pemotretan yang cahayanya rendah, tetapi juga untuk pemotretan yang mengandung gerak sangat cepat, sehingga mampu membekukan gerakan seperti gerakan-gerakan dalam olahraga serta menawarkan sejumlah pemikiran kreatif dengan sengaja menampilkan efek butiran atau pecahnya sebagai suatu efek yang dianggap mengandung seni.

Meskipun pemilihan ISO sering kali tidak dipedulikan atau tidak menjadikan masalah, khususnya bagi wartawan foto tetapi hendaknya tetap menjadi suatu perhatian khusus terutama bagi pemotret yang berkeinginan menghasilkan suatu hasil cetak yang baik dan berbutir halus. Karena itu pembagian ISO seperti di atas selayaknya harus diketahuinya dengan baik, sehingga sebelum melakukan pemotretan dapat dengan mudah menentukan atau memilih film yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan yang akan dicapai, karena sesungguhnya keberhasilan suatu foto juga sering tak lepas dengan kemampuan pemotret dalam menentukan pilihan penggunaan ISO.

Dari Suara Pembaruan

Comments