Mustaqim Saja
Updated Jun 21, 2012, 6:04 PM
Mustaqim Sajalah
Use template

Cerito Kito

My Sister

Sisi Lain

Kerajaan Sriwijaya

Sriwijaya (atau juga disebut Srivijaya; Thai: ศรีวิชัย atau "Ṣ̄rī wichạy"). Dalam bahasa Sansekerta, sri berarti "bercahaya" atau "gemilang", dan wijaya berarti "kemenangan" atau "kejayaan", maka nama Sriwijaya bermakna "kemenangan yang gilang-gemilang". Berbagai penyebutan untuk Sriwijaya, Orang Tionghoa menyebutnya Shih-li-fo-shih atau San-fo-ts'i atau San Fo Qi. Dalam bahasa Sansekerta dan Pali, kerajaan Sriwijaya disebut Yavadesh dan Javadeh. Bangsa Arab menyebutnya Zabaj dan Khmer menyebutnya Malayu.

            Pada abad ke-7 yaitu seorang pendeta Tiongkok, I Tsing, menulis bahwa ia mengunjungi Sriwijaya tahun 671 dan tinggal selama 6 bulan. Ini membuktikan tentang adanya kerajaan Sriwijaya. Bukti lain yang menguatkan bahwa kerajaan Sriwijaya berpusat di Palembang adalah:

 

Prasasti yang paling tua mengenai Sriwijaya pada abad ke-7, yaitu prasasti Kedukan Bukit yang terletak di Palembang.

 

Prasasti Telaga Batu. Prasasti ini berbentuk batu lempeng mendekati segi lima, di atasnya ada tujuh kepala ular kobra, dengan sebentuk mangkuk kecil dengan cerat (mulut kecil tempat keluar air) di bawahnya. Menurut para arkeolog, prasasti ini digunakan untuk pelaksanaan upacara sumpah kesetiaan dan kepatuhan para calon pejabat. Dalam prosesi itu, pejabat yang disumpah meminum air yang dialirkan ke batu dan keluar melalui cerat tersebut. Sebagai sarana untuk upacara persumpahan, prasasti seperti itu biasanya ditempatkan di pusat kerajaan. Karena ditemukan di sekitar Palembang pada tahun 1918 M, maka diduga kuat Palembang merupakan pusat Kerajaan Sriwijaya. Prasasti Telaga Batu ditemukan pada tahun 1935 di Telaga Batu, Sabukingking 2 Ilir, Palembang. Terdiri dari 28 baris, dihiasi lambang negara Sriwijaya berupa naga berkepala tujuh. Kini tersimpan di Museum Pusat, Jakarta, dengan nomor D.155.

Prasasti ini untuk pertama kalinya diterbitkan oleh Prof. Dr. Johannes Gijsbertus de Casparis dalam buku: J.G. de Casparis, Prasasti Indonesia II: Selected Inscriptions from the 7th to the 9th Century A.D., Dinas Purbakala Republik Indonesia, Masa Baru, Bandung, 1956. Adanya prasasti persumpahan Telaga Batu di Palembang menyebabkan Prof. Dr. Sukmono menolak lokasi ibukota Sriwijaya di Palembang. Dalam tulisannya “Tentang Lokalisasi Sriwijaya”, Laporan Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional Pertama, Volume 5, Madjelis Ilmu Pengetahuan Indonesia, Djakarta, 1958, Sukmono mengajukan pertanyaan sebagai berikut (disesuaikan dengan EYD 1972): “Kalau Palembang memanglah ibukota Sriwijaya, dapatkah masuk akal bahwa kutukan-kutukan yang berupa ancaman sangat mengerikan itu justru diabadikan di ibukota? Mungkinkah warga ibukota sendiri diancam secara demikian oleh rajanya?”. Pertanyaan Prof. Sukmono ini perlu dijawab dengan pertanyaan juga: “Tidakkah masuk akal bahwa pemberontakan dapat terjadi di ibukota? Bukankah saat itu ibukota kosong tanpa kekuatan, lantaran tentara sedang dikerahkan untuk menyerbu Tanah Jawa?”
Pemberontakan di ibukota justru lebih berbahaya daripada pemberontakan di negeri-negeri bawahan, karena mungkin dilakukan oleh orang-orang yang dekat dengan Dapunta Hyang dan langsung menyangkut pusat pemerintahan. Dapunta Hyang tentu tidak mengabaikan adanya semacam kudeta dari “koalisi besar” para pejabat tinggi kerajaan. Itulah sebabnya dia memandang perlu untuk memberikan peringatan dan ancaman di ibukota Sriwijaya. Dalam sejarah banyak kita jumpai bahwa seorang penguasa ditikam oleh musuh dalam selimut, ketika penguasa itu sibuk memikirkan masalah “luar negeri”. Hal ini terjadi, misalnya, pada raja Kertanagara dari Kerajaan Singhasari abad ke-13. Kertanagara mengirimkan tentara Singhasari besar-besaran ke Malayu (Jambi) untuk mengantisipasi kemungkinan serangan tentara Mongol dari Cina ke Nusantara, tetapi dia lalai memperhatikan keamanan di Singhasari sendiri. Raja bawahannya, Jayakatwang dari Kediri, memanfaatkan situasi untuk menggulingkan Kertanagara dari tahta kerajaan. Inilah akibatnya jika seorang penguasa mengabaikan keamanan di ibukota.
Prasasti Telaga Batu justru membuktikan bahwa Kerajaan Sriwijaya memang beribukota di Palembang, sebab prasasti itu menyebutkan banyak jabatan dalam pemerintahan yang hanya mungkin terdapat di ibukota suatu negara. Isi prasasti Telaga Batu baris ketiga sampai kelima adalah sebagai berikut:

“kamu wanyakmamu, rajaputra, prostara, bhupati, senapati, nayaka, pratyaya, hajipratyaya, dandanayaka, ....murddhaka, tuhaan watakwuruh, addhyaksi nijawarna, wasikarana, kumaramatya, çatabatha, adhikarana, karmma...., kayastha, sthapaka, puhawang, waniyaga, pratisara, kamu marsi haji, hulun haji, wanyakmamu urang, niwunuh sumpah dari mangmang kamu kadaci tida bhakti di aku”.

“Kamu semua: putra raja, menteri, bupati, panglima, pembesar, pegawai, pegawai istana, hakim, ....murddhaka, ketua buruh, pengawas rakyat jelata, ahli senjata, pengurus pemuda, olahragawan, petugas bangunan, karmma..., jurutulis, arsitek, nakhoda, pedagang, kepala pasukan, kamu pelayan istana, penghuni istana, semua orang, dibunuh sumpah dari mantra kamu manakala tidak berbakti kepadaku.”

Jabatan-jabatan di atas hanya tercantum pada prasasti Telaga Batu, dan tidak disinggung atau disebutkan pada prasasti-prasasti persumpahan yang lain. Oleh karena jabatan-jabatan itu merupakan jabatan tinggi dalam suatu pemerintahan, sudah tentu para pejabatnya tinggal di ibukota. Dengan sendirinya prasasti itu pasti dipasang pada lingkungan yang didiami para pejabat tersebut. Atas dasar itu dapatlah disimpulkan bahwa pusat pemerintahan Kerajaan Sriwijaya sangat mungkin berlokasi di sekitar daerah Telaga Batu, Palembang.

 

Prasasti Kota Kapur ditemukan pada tahun 1892 di Kota Kapur, Pangkal Mundo, pantai barat Pulau Bangka. Terdiri dari 10 baris, dan di Museum Pusat bernomor D.90. Prasasti ini pertama kali dibahas oleh Prof. Dr. Hendrik Kern dalam artikel: H. Kern, “De Inscriptie van Kota Kapur”, Bijdragen Koninklijk Instituut (BKI), deel 67, 1913.Pada baris terakhir prasasti Kota Kapur tercantum keterangan sebagai berikut:

“çakawarsatita 608 dim pratipada çuklapaksa wulan waiçakha, tatkalanya yang mangmang sumpah ini nipahat, di welanya yang wala çriwijaya kaliwat manapik yang bhumi jawa tida bhakti ka çriwijaya”.

“Tahun Saka berlalu 608 hari pertama paroterang bulan Waisaka (= 28 Februari 686), waktunya mantra sumpah ini dipahat, ketika tentara Sriwijaya berlewat menyerbu Tanah Jawa yang tidak berbakti kepada Sriwijaya.”

Prasasti ini pertama kali dianalisis oleh H. Kern, seorang ahli epigrafi bangsa Belanda yang bekerja pada Bataviaasch Genootschap di Batavia. Pada mulanya ia menganggap "Śrīwijaya" adalah nama seorang raja. George Coedes lah yang kemudian berjasa mengungkapkan bahwa Śrīwijaya adalah nama sebuah kerajaan besar di Sumatra pada abad ke-7 Masehi, yaitu kerajaan yang kuat dan pernah menguasai bagian barat Nusantara, Semenanjung Malaysia, dan Thailand bagian selatan.

Prasasti Kota Kapur adalah salah satu dari lima buah batu prasasti kutukan yang dibuat oleh Dapunta Hiyang, seorang penguasa dari kadātuan śrīwijaya. Inilah isi lengkap dari Prasasti Kota Kapur, seperti yang ditranskripsikan dan ditejemahkan oleh Coedes:

Naskah Asli

  1. Siddha titam hamba nvari i avai kandra kayet ni paihumpaan namuha ulu lavan tandrun luah makamatai tandrun luah vinunu paihumpaan hakairum muah kayet ni humpa unai tunai.
  2. Umentern bhakti ni ulun haraki. unai tunai kita savanakta devata mahardika sannidhana. manraksa yan kadatuan çrivijaya. kita tuvi tandrun luah vanakta devata mulana yan parsumpahan.
  3. paravis. kadadhi yan uran didalanna bhami paravis hanun. Samavuddhi lavan drohaka, manujari drohaka, niujari drohaka talu din drohaka. tida ya.
  4. Marppadah tida ya bhakti. tida yan tatvarjjawa diy aku. dngan diiyan nigalarku sanyasa datua. dhava vuathana uran inan nivunuh ya sumpah nisuruh tapik ya mulan parvvanda datu çriwi-
  5. jaya. Talu muah ya dnan gotrasantanana. tathapi savankna yan vuatna jahat. makalanit uran. makasuit. makagila. mantra gada visaprayoga. udu tuwa. tamval.
  6. Sarambat. kasihan. vacikarana.ityevamadi. janan muah ya sidha. pulan ka iya muah yan dosana vuatna jahat inan tathapi nivunuh yan sumpah talu muah ya mulam yam manu-
  7. ruh marjjahati. yan vatu nipratishta ini tuvi nivunuh ya sumpah talu, muah ya mulan. saranbhana uran drohaka tida bhakti tatvarjjava diy aku, dhava vua-
  8. tna niwunuh ya sumpah ini gran kadachi iya bhakti tatvjjava diy aku. dngan di yam nigalarku sanyasa dattua. çanti muah kavuatana. dngan gotrasantanana.
  9. Samrddha svasthi niroga nirupadrava subhiksa muah vanuana paravis chakravarsatita 608 din pratipada çuklapaksa vulan vaichaka. tatkalana
  10. Yan manman sumpah ini. nipahat di velana yan vala çrivijaya kalivat manapik yan bhumi java tida bhakti ka çrivijaya.

Terjemahan

  1. Keberhasilan ! (disertai mantra persumpahan yang tidak dipahami artinya)
  2. Wahai sekalian dewata yang berkuasa, yang sedang berkumpul dan melindungi Kadātuan Śrīwijaya ini; kamu sekalian dewa-dewa yang mengawali permulaan segala sumpah !
  3. Bilamana di pedalaman semua daerah yang berada di bawah Kadātuan ini akan ada orang yang memberon­tak yang bersekongkol dengan para pemberontak, yang berbicara dengan pemberontak, yang mendengarkan kata pemberontak;
  4. yang mengenal pemberontak, yang tidak berperilaku hormat, yang tidak takluk, yang tidak setia pada saya dan pada mereka yang oleh saya diangkat sebagai datu; biar orang-orang yang menjadi pelaku perbuatan-perbuatan tersebut mati kena kutuk biar sebuah ekspedisi untuk melawannya seketika di bawah pimpinan datu atau beberapa datu Śrīwijaya, dan biar mereka
  5. dihukum bersama marga dan keluarganya. Lagipula biar semua perbuatannya yang jahat; seperti meng­ganggu :ketenteraman jiwa orang, membuat orang sakit, membuat orang gila, menggunakan mantra, racun, memakai racun upas dan tuba, ganja,
  6. saramwat, pekasih, memaksakan kehendaknya pada orang lain dan sebagainya, semoga perbuatan-perbuatan itu tidak berhasil dan menghantam mereka yang bersalah melakukan perbuatan jahat itu; biar pula mereka mati kena kutuk. Tambahan pula biar mereka yang menghasut orang
  7. supaya merusak, yang merusak batu yang diletakkan di tempat ini, mati juga kena kutuk; dan dihukum langsung. Biar para pembunuh, pemberontak, mereka yang tak berbakti, yang tak setia pada saya, biar pelaku perbuatan tersebut
  8. mati kena kutuk. Akan tetapi jika orang takluk setia kepada saya dan kepada mereka yang oleh saya diangkat sebagai datu, maka moga-moga usaha mereka diberkahi, juga marga dan keluarganya
  9. dengan keberhasilan, kesentosaan, kesehatan, kebebas­an dari bencana, kelimpahan segala­nya untuk semua negeri mereka ! Tahun Śaka 608, hari pertama paruh terang bulan Waisakha (28 Februari 686 Masehi), pada saat itulah
  10. kutukan ini diucapkan; pemahatannya berlangsung ketika bala tentara Śrīwijaya baru berangkat untuk menyerang bhūmi jāwa yang tidak takluk kepada Śrīwijaya.

            Prasasti ini dipahatkan pada sebuah batu yang berbentuk tugu bersegi-segi dengan ukuran tinggi 177 cm, lebar 32 cm pada bagian dasar, dan 19 cm pada bagian puncak.

Petunjuk lain yang menyatakan bahwa Palembang merupakan pusat kerajaan juga diperoleh dari hasil temuan barang-barang keramik dan tembikar di situs Talang Kikim, Tanjung Rawa, Bukit Siguntang dan Kambang Unglen, semuanya di daerah Palembang. Keramik dan tembikar tersebut merupakan alat yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Temuan ini menunjukkan bahwa, pada masa dulu, di Palembang terdapat pemukiman kuno. Dugaan ini semakin kuat dengan hasil interpretasi foto udara di daerah sebelah barat Kota Palembang, yang menggambarkan bentuk-bentuk kolam dan kanal. Kolam dan kanal-kanal yang bentuknya teratur itu kemungkinan besar buatan manusia, bukan hasil dari proses alami. Dari hasil temuan keramik dan kanal-kanal ini, maka dugaan para arkeolog bahwa Palembang merupakan pusat kerajaan semakin kuat.

            Dari prasasti-prasasti persumpahan di atas, hanya satu yang berangka tahun, yaitu prasasti Kota Kapur yang dipahat pada tahun 608 Saka (686 Masehi). Oleh karena isi prasasti-prasasti ini hampir sama, maka sangat mungkin semua prasasti persumpahan tersebut dipahat pada tahun yang sama. Siapakah raja Sriwijaya yang mengeluarkan prasasti-prasasti persumpahan itu? Marilah kita lihat isi prasasti Talang Tuwo yang dipahat dua tahun sebelumnya. Prasasti Talang Tuwo diawali dengan kalimat:

swasti çri. çakawarsatita 606 dim dwitiya çuklapaksa wulan caitra, sana tatkalanya parlak çriksetra ini niparwuat, parwan dapunta hyang çri jayanaça.


Terjemahan dalam bahasa sekarang:

“Bahagia, sukses. Tahun Saka berlalu 606 hari kedua paroterang bulan Caitra (= 23 Maret 684), itu waktunya taman Sriksetra ini diperbuat, titah Dapunta Hyang Sri Jayanasa.”

            Di sini kita memperoleh nama lengkap raja Sriwijaya: Dapunta Hyang Sri Jayanasa. Jika antara tahun 684 dan 686 tidak ada pergantian raja, maka kiranya dia itulah yang mengeluarkan prasasti-prasasti persumpahan. Keterangan di atas menunjukkan latar belakang dan motivasi pengeluaran prasasti-prasasti persumpahan oleh raja Sriwijaya. Rupanya Dapunta Hyang Sri Jayanasa kuatir kalau-kalau timbul pemberontakan dalam wilayah kekuasaan Sriwijaya pada saat tentara Sriwijaya sedang dikerahkan menyerbu Pulau Jawa. Sebagai tindakan preventif, Dapunta Hyang mengeluarkan peringatan tegas di seantero wilayah kekuasaannya, sebagaimana dapat kita baca pada semua prasasti persumpahan:

kadaci yang urang di dalamnya bhumi ajnyanya kadatuan ini parawis, drohaka wangun, samawuddhi lawan drohaka, mangujari drohaka, niujari drohaka, tahu dim drohaka, tida ya marpadah, tida ya bhakti, tida ya tatwarjawa di aku dangan di yang nigalarku sanyasa datua, dhawa wuatnya urang inan, niwunuh ya sumpah, nisuruh tapik ya mulang parwandan datu çriwijaya, talu muah ya dangan gotrasantananya.


“Manakala ada orang di dalam daerah kekuasaan kerajaan ini seluruhnya, membangun kedurhakaan (pemberontakan), kerjasama dengan pendurhaka, menegur pendurhaka, ditegur pendurhaka, sepaham dengan pendurhaka, dia tidak patuh, dia tidak berbakti, dia tidak setia kepadaku dengan kepada yang kugelari pemimpin wilayah, jahatlah perbuatan orang itu, dia akan dibunuh sumpah, dia akan disuruh gempur atas perintah raja Sriwijaya, akan ditumpas dia dengan segenap keluarganya.”

            Membaca isi prasasti persumpahan di atas, dapatlah dibayangkan bahwa Dapunta Hyang merupakan seorang politikus ulung. Sebelum dia melancarkan perluasan wilayah ke mancanegara, stabilitas dalam negeri sangat diperhatikannya. Sudah tentu prasasti-prasasti persumpahan itu ditempatkan di negeri-negeri yang memungkinkan timbulnya pemberontakan. Sampai saat ini prasasti persumpahan baru ditemukan di Palembang, Bangka, Jambi, dan Lampung. Hal ini menunjukkan bahwa pada tahun 686 kekuasaan Sriwijaya sekurang-kurangnya sudah meliputi daerah-daerah tersebut. Kemudian prasasti lain Sriwijaya yaitu :

Prasasti Karang Berahi ditemukan pada tahun 1904 di daerah Karang Birahi Jambi. Terdiri dari 16 baris, mula-mula ditranskripsikan oleh Prof. Dr. Nicholaas Johannes Krom dalam artikel: N.J. Krom, “De Inscriptie van Karang Brahi”, Tijdschrift Bataviaasch Genootschap (TBG), deel 59, 1920.

Prasasti Palas Pasemah ditemukan pada tahun 1957 di Palas Pasemah, daerah Kalianda, Lampung. Terdiri dari 13 baris, namun baris ke-1 sampai ke-3 hilang. Isi prasasti mula-mula dibahas oleh Prof. Dr. Buchari dalam artikel: Buchari, “An Old Malay Inscription of Srivijaya at Palas Pasemah (South Lampung)”, Pra Seminar Penelitian Sriwijaya, Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional, Jakarta, 1979.

Prasasti Talang Tuo yang bertarikh 684 M, disebutkan mengenai pembangunan taman oleh Dapunta Hyang Sri Jayanasa untuk semua makhluk, yang diberi nama Sriksetra. Dalam taman tersebut, terdapat pohon-pohon yang buahnya dapat dimakan.

Prasasti Karang Berahi, Prasasti berangka tahun 686 M itu ditemukan di daerah pedalaman Jambi, yang menunjukan penguasaan Sriwijaya atas daerah itu.

Prasasti Ligor, Prasasti berangka tahun 775 M itu menyebutkan tentang ibu kota Ligor dengan tujuan untuk mengawasi pelayaran perdagangan di Selat Malaka.

Prasasti Nalanda, Prasasti ini menyebutkan Raja Balaputra Dewa sebagai Raja terakhir dari Dinasti Syailendra yang terusir dari Jawa Tengah akibat kekalahannya melawan Kerajaan Mataram dari Dinasti Sanjaya. Dalam prasasti itu, Balaputra Dewa meminta kepada Raja Nalanda agar mengakui haknya atas Kerajaan Syailendra. Di samping itu, prasasti ini juga menyebutkan bahwa Raja Dewa Paladewa berkenan membebaskan 5 buah desa dari pajak untuk membiayai para mahasiswa Sriwijaya yang belajar di Nalanda.

            Sriwijaya adalah kerajaan maritim yg kuat di pulau Sumatera dan berpengaruh di Nusantara. Daerah kekuasaan Sriwijaya meliputi Kamboja Thailand Semenanjung Malaya Sumatera Jawa Kalimantan dan Sulawesi. Sriwijaya menjadi simbol kebesaran Sumatera awal dan kerajaan besar Nusantara selain Majapahit di Jawa Timur. Pada abad ke-20 kedua kerajaan tersebut menjadi referensi oleh kaum nasionalis untuk menunjukkan bahwa Indonesia merupakan satu kesatuan negara sebelelum kolonialisme Belanda.

            Yang perlu kita garis bawahi adalah Bahan utama yang dipakai untuk membuat bangunan di pusat kota Sriwijaya adalah kayu atau bambu yang mudah didapatkan di sekitarnya. Oleh karena bahan itu mudah rusak termakan zaman, maka tidak ada sisa bangunan yang dapat ditemukan lagi. Kalaupun ada, sisa pemukiman dengan konstruksi kayu tersebut hanya dapat ditemukan di daerah rawa atau tepian sungai yang terendam air, bukan di pusat kota, seperti di situs Ujung Plancu, Kabupaten Batanghari, Jambi. Memang ada bangunan yang dibuat dari bahan bata atau batu, tapi hanya bangunan sakral (keagamaan), seperti yang ditemukan di Palembang, di situs Gedingsuro, Candi Angsoka, dan Bukit Siguntang, yang terbuat dari bata. Sayang sekali, sisa bangunan yang ditemukan tersebut hanya bagian pondasinya saja.

            Berdasarkan Hikayat Melayu pendiri Kesultanan Malaka mengaku sebagai pangeran Palembang keturunan keluarga bangsawan Palembang dari trah Sriwijaya. Hal ini menunjukkan bahwa pada abad ke-15 keagungan gengsi dan prestise Sriwijaya tetap dihormati dan dijadikan sebagai sumber legitimasi politik bagi penguasa di kawasan ini.

            Di Indonesia, nama Sriwijaya telah digunakan dan diabadikan sebagai nama jalan di berbagai kota, dan nama ini juga digunakan oleh Universitas Sriwijaya yang didirikan tahun 1960 di Palembang. Demikian pula Kodam II Sriwijaya (unit komando militer), PT Pupuk Sriwijaya (Perusahaan Pupuk di Sumatera Selatan), Sriwijaya Post (Surat kabar harian di Palembang), Sriwijaya TV, Sriwijaya Air (maskapai penerbangan), Stadion Gelora Sriwijaya, dan Sriwijaya Football Club (Klub sepak bola Palembang), semua dinamakan demikian untuk menghormati, memuliakan, dan merayakan kemaharajaan Sriwijaya yang gemilang. Bagi penduduk Palembang keluhuran Sriwijaya telah menjadi inspirasi seni budaya seperti lagu dan tarian tradisional Gending Sriwijaya.


Antara Ilmu dan Amal

posted Oct 15, 2009, 1:24 AM by mustaqim nda   [ updated Jun 15, 2012, 8:01 PM ]

Memberi ilmu kepada murid mudah, mengajak murid mengamalkan ilmu amat susah

Membanyakkan ilmu mudah, membanyakkan amalan susah sekali

Ahli ilmu ramai, ahli amal tidak ramai

Ramai para guru dapat memandaikan murid-muridnya

Tapi ramai para guru gagal mengajak muridnya beramal

Kalau ahli-ahli ilmu ghairah beramal tidak sempat hendak menbincangkan tentang ilmu kecuali sedikit sekali dengan tujuan beramal

Orang yang kurang ilmu tapi beramal dari amalannya itu akan mendapat ilmu atau menambah ilmu

Ahli ilmu yang tidak beramal, ilmunya itu akan bertambah berkurang

Ilmu apabila diamalkan baru dapat faedah

Bahkan adakalanya faedahnya melimpah ruah kepada orang ramai

Hari ini ahli ilmu disanjung orang

Tapi ahli amal tidak dipeduli orang bahkan adakalanya tidak pun disebut-sebut namanya

Kebanyakan di institusi ilmu tidak begitu mengambil berat di dalam latihan-latihan beramal

Ramai di kalangan yang bukan ahli ilmu lebih maju dan berjaya dari pakar-pakar ilmu

Terutama di bidang ekonomi yang tidak ada sijil ekonomi lebih berjaya daripada mereka yang ada kelulusan

Ramai orang bercakap tentang ilmu, tapi kurang yang bercakap tentang amal

Ahli ilmu adakalanya dihormati orang, tapi ahli amal ilmu adakalanya didengki orang

Ilmu semata-mata tidak akan melahirkan kemajuan yang lahir selagi tidak diamalkan.

Sajak dari :
ABUYA SYEIKH IMAM ASHAARI MUHAMMAD AT TAMIMI

Berbuat dahulu baru bercakap

posted Oct 13, 2009, 12:58 AM by mustaqim nda   [ updated Jun 15, 2012, 8:04 PM ]

Berbuatlah lebih dahulu baru bercakap

Kerana buah ilmu itu adalah amalan yang sudah dibuat

Janganlah bercakap dahulu baru berbuat

Lebih-lebih lagi bercakap langsung tidak berbuat

Ilmu yang tidak diamalkan macam senjata tidak digunakan

Ia akan berkarat

Apa ertinya simpan senjata sebanyak-banyaknya tidak digunakan

Ia akan menjadi bebanan

Begitulah ilmu yang banyak tidak diamalkan ia akan jadi beban di Akhirat

Orang yang berilmu tidak mengamalkan ilmu, masuk Neraka lebih dahulu daripada orang kafir

Ilmu adalah panduan jalan kehidupan

Atau penyuluh jalan kehidupan untuk menuju matlamat

Alangkah anehnya orang yang ada lampu suluh di tangan

Berjalan di waktu malam lampu suluh tidak digunakan

Ertinya walaupun ada lampu di tangan tapi dia masih di dalam bahaya

Berjalan di dalam gelap tidak menggunakan lampu

Padahal lampu ada di tangan

Lampu itu semata-mata hendak ditunjuk kepada orang

Begitulah ahli ilmu yang tidak beramal, padahal ilmu diperkatakan

Itu tentulah semata-mata hendak tunjuk pandai kepada orang ramai

Bermegah-megah dengan ilmu, tidak ghairah beramal

Sajak dari :
ABUYA SYEIKH IMAM ASHAARI MUHAMMAD AT TAMIMI

Dunia Dan Nikmatnya Bukan Untuk Dicintai

posted Oct 13, 2009, 12:58 AM by mustaqim nda   [ updated Jun 15, 2012, 8:06 PM ]

Dunia dan nikmatnya bukan untuk dicintai

Ia usaha dibuat untuk kehidupan dan kemajuan di dunia untuk sesama manusia

Dunia dan nikmatnya akan senasib dengan kita

Kita akan mati, ia juga fana’ dan binasa

Perkara-perkara untuk kehidupan, selain untuk kita, ia untuk diagih-agihkan

di kalangan manusia

Memberi dan mengagih-agihkan nikmat dunia untuk keredhaan Tuhan pencipta dunia

Jika ia kita cintai, amat susah untuk diagih-agihkan sesama

Mengagihkan nikmat dunia akan lahir kasih sayang sesama manusia

Dari kasih sayang lahirlah perpaduan

Kasih sayang dan perpaduan semua orang memerlukan

Kerana ia boleh membawa keamanan dan kemajuan

Tidak ada kasih sayang, tidak ada keamanan, tidak ada perpaduan,

tidak ada kekuatan dan kemajuan

Oleh itu berusahalah  mencari kekayaan dunia untuk sendiri dan diagih-agihkan

Bukan untuk dicintai, untuk dicintai itu adalah Tuhan

Mengapa kita cintai nikmat dunia yang tidak kekal dan ditinggalkan

Ia akan senasib dengan kita yang berhadapan dengan kematian dan kebinasaan

Sepatutnya yang kita cintai itu yang kekal abadi iaitu Tuhan

Mengapa kita cintai sesuatu  yang tidak berkekalan

Mencintai sesuatu yang tidak kekal, cinta sekerat jalan

Mencintai yang tidak kekal, mencintai sesuatu yang mengecewakan

Tuhan kekal abadi, mencintai Tuhan cinta berkekalan

Rupanya selama ini kita telah salah meletakkan kecintaan

Cinta barang murahan, kemudian meninggalkan cintakan Tuhan yang maha mahal


Sajak dari :
ABUYA SYEIKH IMAM ASHAARI MUHAMMAD AT TAMIMI

1-3 of 3