Mrs Smith's Classroom

  • PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP DAN KREATIVITAS MATEMATIKA SISWA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PENCAPAIAN KONSEP PADA KELAS X SMU NEGERI 1 BATANG KUIS

Meet Your Teacher

Current Poll

PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP DAN KREATIVITAS MATEMATIKA SISWA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PENCAPAIAN KONSEP PADA KELAS X SMU NEGERI 1 BATANG KUIS

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.    Latar Belakang Masalah

Pendidikan adalah segala situasi hidup yang mempengaruhi pertumbuhan individu sebagai pengalaman belajar yang berlangsung dalam segalah lingkungan dan sepanjang hidup. Dalam arti sempit pendidikan adalah pengajaran yang diselenggarakan umumnya di lembaga pendidikan formal. Saat ini peningkatan mutu pendidikan di lembaga pendidikan formal di Indonesia, khususnya peningkatan mutu pendidikan matematika masih terus diupayakan baik itu mulai dari tingkat pra-sekolah sampai perguruan tinggi untuk menghadapi perkembangan teknologi yang semakin pesat, dan untuk menghadapinya dituntut sumber daya manusia yang handal, yang memiliki kemampuan dan keterampilan serta kreatifitas yang tinggi

Sekarang hampir setiap orang mulai dari orang awam, pemimpin lembaga pendidikan dan manajer perusahaan berbicara tentang pentingnya kreatifitas. Dalam kurikulum 2004, standar kompetensi (2003) menyebutkan bahwa untuk menghadapi tantanga perkembangan IPTEK diperlukan sumberdaya yang memiliki ketrampilan tinggi yang melibatkan pemikiran kritis, sistematis, logis, kreatif, dan kemampuan kerja sama yang efektif. Kreativitas dapat dipandang sebagai suatu produk dari berpikir kreatif, sedangkan berfikir kreatif merupakan suatu proses yang digunakanketika kita mendatangkan/memunculkan suatu ide baru yang dikendalikan atau ditentukan oleh kemampuan berfikir dalam proses pemecahan masalah, di mana untuk proses pemecahan masalah tersebut dibutuhkan pemahaman konsep yang cukup kuat (Shouksmith,1979).

Matematika sebagai salah satu mata pelajaran yang memegang peranan yang sangat penting dalam pendidikan, karena selain dapat mengembangkan pemikiran kritis, kreatif, sistematis, dan logis, matematika juga telah memberikan kontribusi dalam kehidupan sehari-hari mulai dari hal yang sederhana seperti perhitungan dasar (basic calculation) sampai hal yang kompleks dan abstrak seperti penerapan analisis numerik dalam bidang teknik dan sebagainy. Matematika juga merupakan pengetahuan yang esensial sebagai dasar untuk bekerja seumur hidup dalam abad globalisasi, karena itu penguasaan tingkat tertentu terhadap matematika diperlukan bagi semua peserta didik agar kelak dalam hidupnya memungkinkan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak karena abad globalisasi, tiada pekerjaan tanpa matematika. (Sinaga, 1999).

Namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar lulusan sekolah kurang mampu menyesuaikan diri dengan  perubahan maupun perkembangan teknologi, sulit untuk dilatih kembali, kurang bisa mengembangkan diri dan kurang dalam berkarya artinya tidak memiliki kreatifitas (Trianto, 2010). Bahkan untuk memasuki abad 21 keadaan sumber daya manusia Indonesia tidak kompetitif (Nurhadi dkk., 2004). Sampai saat ini, mutu pendidikan di Indonesia masih sangat rendah dibandingkan dengan negara yang lain.

Khusus untuk matematika Hasil survei trends in Mathematics and Sciences Study (TIMSS) tahun 1999 menempatkan Indonesia pada posisi ke-34 dari 48 negara dalam bidang matematika (Supriyoko, 2008). Hasil TIMMS tahun 2003 menempat kan indonesia pada posisi 34 dari 45 negara, dan lebih dari separuh pelajar Indonesia dikategorikan berada di bawah standar rata-rata skor Internasional (Kompas, 13 Maret 2006). Sedangkan menurut catatan Human Develompment Repot tahun 2003 versi UNDP bahwa peringkat HDI (Human Develompmen Index) bahwa kualitas sumber daya manusia Indonesia berada di urutan 112, Filipina 74, Malaysia 58, Brunai 31, Korea selatan 30, sigapura 28. Jika ditinjau dari prestasi yang dicapai oleh wakil Indonesia dalam Olimpiade Matematika Internasional dari tahun 1995 sampai tahun 2003 selalu dibawah median, misalnya pada tahun 2003 prestasi  Indonesia masih berada pada urutan 37 dari 82 Negara (Marpaung, 2006).

Dari keterangan diatas, dapat kita nyatakan bahwa rendahnya mutu pendidikan di Indonesias ditinjau dari hasil belajar siswa yang masih sangat rendah. Ada empat kelemahan yang dimiliki oleh siswa sebagai penyebab rendahnya hasil belajar siswa antara lain, kurang memiliki pengetahuan materi prasyarat yang baik, kurang memiliki kemampuan untuk memahami srta mengenali konsep-konsep dasar matematika (seperti definisi, teorema, aksioma, dalil, kaidah) yang berkaitan dengan pokok bahasan yang sedang dibicarakan, kurang memiliki ketelitiaan dalam menyimak dan mengenali persoalan matematika yang berkaitan dengan pokok bahasan tertentu, kurang memiliki kemampuan untuk menyimak kembali sebuah jawaban yang diperoleh (apakah jawaban tersebut mungkin atau tidak), dan kurang memiliki kemampuan nalar yang logis dalam menyelesaiakan persoalan matematika (Wahyudin, 1999). Keempat kelemahan ini akan menghabat proses belajar bermakna, di mana belajar bermakna maksudnya, di samping materi yang disajikan harus disesuaikan dengan kemampuan siswa, juga harus relevan dengan struktur kognitif siswa, sehingga materi harus dikaitkan dengan konsep-konsep (pengetahuan) yang telah dimiliki siswa dan dikaitkan dengan bidang lain atau kehidupan sehari-hari siswa (Ausubel Hudojo, 1998). Lebih lanjut, Hudojo (1988) mengemukakan bahwa:

“konsep dapat dipahami melalui hubungan antara interaksinya dengan konsep lain, karena dalam proses belajar matematika, prinsip belajar harus terlebih dahulu dipilih, sehingga sewaktu mempelajari metematika dapat berlangsung dengan lancar, misalnya mempelajari konsep B yang mendasarkan pada konsep A, seseorang perlu memahami lebih dahulu konsep A. Tanpa memahami konsep A, tidak mungkin orang itu memahami konsep B. Ini berarti mempelajari matematika haruslah bertahap dan berurutan serta mendasarkan pada pengalaman belajar yang lalu”

Dalam menjelaskan konsep baru atau membuat kaitan antara materi yang telah dikuasai siswa dengan bahan yang disajikan dalam pelajaran matematika, akan membuat siswa siap mental untuk memasuki persolan-persoalan yang akan dibicarakan dan juga dapat meningkatkan minat dan prestasi siswa terhadap materi pelajaran matematika. Sehubungan dengan hal diatas, kegiatan belajar-mengajar matematika yang terputus-putus dapat mengganggu proses belajar-mengajar ini berarti proses belajar matematika akan terjadi dengan lancar bila belajar itu sendiri dilakukan secara kontiniu (Hudojo, 1988). Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa seseorang akan lebih mudah untuk mempelajari sesuatu apabila belajar didasari pada apa yang telah diketahui sebelumnya karena dalam mempelajari materi matematika yang baru, pengalaman sebelumnya akan mempengaruhi kelancaran proses belajar matematika.

Dari keterangan di atas, dapat kita nyatakan bahwa tingkat penguasaan konsep matematika yang rendah akan menghambat proses berfikir matematika dan  proses berfikir kreatif, dimana hal ini akan mengakibatkan proses pemecahan masalah matematika siswa akan rendah. Jika pemecahan masalah matematika siswa rendah, maka hasil belajar matematika siswa akan rendah juga. Salah satu contohnya adalah hasil olympiade matematika SMU tingkat nasional menunjukkan bahwa bidang studi matematika cenderung rendah dibandingkan dengan bidang studi lainnya. Hal ini disebabkan oleh lemahnya pemahaman konsep dasar matematika siswa dan siswa belum bisa memahami formulasi, generalisasi, dan kreativitas. Bahkan diperoleh keterangan 80% dari peserta memiliki penguasaan konsep dasar matematika sehingga kreativitas menjawab soal menjadi sangat lemah (Yahya dalam Situmorang A.S, 2006). Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan guru-guru di SMA Negeri 1 Batang Kuis bahwa hampir 90% siswa SMA Negeri 1 Batang Kuis takut dengan mata pelajaran matematik. Setelah diamati dari cara mereka menjawab soal matematika selama ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa ketakutan itu disebabkan oleh rendahnya penguasaan konsep matematika yang akhirnya berbuntut panjang dengan timbulnya ketakutan terhadap mata pelajaran matematika yang secara otomatis akan menghambat kreativitas siswa untuk menjawab soal.

Rendahnya hasil belajar matematika disebabkan oleh penguasaan konsep dasar matematika dan kreativitas menjawab soal yang sangat lemah terus berkelanjutan sampai ke tingkat perguruan tinggi, salah satu contoh adalah pada mahasiswa FKIP Fisika Universitas Darma Agung Medan mata kuliah Matematika Dasar di semester I khususnya bahan ajar fungsi ditemukan rendahnya pemahaman konsep. Contohnya, ketika mahasiswa disuruh untuk menyelidiki apakah suatu relasi f : R ® R didefinisikan dengan  f(x) = x – 1 merupakan suatu fungsi atau tidak? mahasiswa menyatakan bahwa relasi tersebut merupakan suatu fungsi tetapi ketika ditanya apa alasannya mereka tidak bisa menjawab.

 

Jika mahasiswa memiliki pemahaman konsep fungsi, mahasiswa akan menjawab bahwa relasi tersebut merupakan fungasi sesuai dengan definisi:

Suatu fungsi  f  dari himpunan A ke himpunan B adalah suatu relasi yang memasangkan setiap elemen dari himpunan A dengan tepat satu anggota dari himpunan B.

Dinotasikan dengan:

f  : A ® B  « ("xÎA)($ y!ÎB) ' f(x) = y

sehingga, suatu relasi f : R ® R didefinisikan dengan  f(x) = x – 1 merupakan suatu fungsi karena  ("xÎR) ($ y! ÎR) ' f(x) = y.

Kesalahan yang sama juga terjadi, ketika ditanyakan apakah suatu pemetaan:

 f : [-5,5] ® [-5,5] didefinisikan dengan x2 + y2 = 25 merupakan  fungsi atau tidak? Mahasiswa menyatakan pemetaan tersebut merupakan suatu fungsi juga.

Kalau ditinjau sesuai dengan definisi fungsi yaitu:

Misalkan S = [-5,5] dan T = [-5,5] adalah himpunan.

Karena Fungsi merupakan suatu relasi yang memasangkan setiap anggota S dengan tepat satu anggota himpunan T yang dinotasikan dengan:

dimana :

S disebut daerah asal / domain

T disebut daerah  kawan / kodomain

Himpunan semua nilai fungsi  disebut daerah hasil (range)

Ternyata untuk suatu relasi f : [-5,5] ® [-5,5] didefinisikan dengan

x2 + y2 = 25

($ x = 3 Î [-5,5]) ' 32 + y2 = 25 Þ y1,2 = ± 4 dimana y1 = 4 Î[-5,5]  tetapi y2 = -4 Ï[-5,5]

\ hal ini bertentangan dengan

\ f : [-5,5] ® [-5,5] didefinisikan dengan x2 + y2 = 25 bukan fungsi.

Kesalahan seperti ini sering terjadi pada mahasiswa semester I di FKIP-UDA, di mana kesalahan ini disebabkan karena mahasiswa semester I pada awalnya belum menguasai betul konsep fungsi tersebut.

Beberapa hal yang diduga sebagai penyebab kurangnya penguasaan konsep materi matematika adalah (1) siswa sering belajar dengan cara mengahafal tanpa membentuk pengertian terhadap materi yang dipelajari. Hal ini akan menyebabkan rendahnya aktivitas siswa dalam belajar untuk menemukan sendiri konsep materi sehingga akan lebih cepat lupa.; (2) materi pelajaran yang diajarkan memiliki konsep mengambang, sehingga siswa tidak dapat menemukan kunci untuk mengerti materi yang dipelajari dan; (3) tenaga pengajar ( guru) mungkin kurang berhasil dalam menyampaikan kunci terhadap penguasaan konsep materi pelajaran yang sedang diajarkan, sehingga siswa tidak tertarik dalam belajar dan akan menimbulkan rendahnya penguasana konsep materi  (Lynch dan waters, 1980, Nakhleh, 1992, 1994).

Rendahnya prestasi belajar siswa tidak hanya disebabkan oleh kelemahan belajar peserta didik, tetapi dapat disebabkan oleh faktor lain yaitu (1) sistem pengajaran yang kurang membangkitkan gairah belajar pada peserta didik, (2) rencana pengajaran yang kurang menarik minat peserta didik dalam belajar (Purba, J. dkk., 2009). Faktor kecil yang dapat mempengaruhi rendahnya hasil belajar siswa adalah karena pengajaran disajikan masih dalam bentuk yang kurang menarik, sehingga terkesan angker, sulit, dan menakutkan sehingga siswa sering tidak menguasai konsep dasar yang terkandung dalam materi pelajaran matematika yang dapat menghambat kreativitas siswa dalam menjawab soal, yang akhirnya hasil belajar siswa menjadi rendah (Situmorang A.S. 2007). Hal ini sesuai dengan pernyataan Fisher (dalam Utari, dkk., 1999) yang menyatakan bahwa faktor eksternal juga  dapat mempengaruhi perkembangan kognitif siswa, salah satu faktor eksternal tersebut adalah guru. Dengan kata lain, guru mempunyai peran dalam meningkatkan hasil belajar siswa sehingga guru perlu menciptakan atau mendesain suatu strtegi pembelajaran yang dapat memberikan banyak kesempatan kepada siswa untuk berpartisipasi secara aktif dalam proses belajar mengajar, sehingga muncul motivasi intrinsik pada diri siswa dalam belajar (Dahlan J.A., 2003). Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Slameto (1987) yaitu, guru memegang peranan penting dalam peningkatan kualitas siswa dalam belajar matematika dan guru harus benar-benar memperhatikan, memikirkan dan sekaligus merencakan proses belajar mengajar yang menarik bagi siswa, agar siswa berminat dan semangat belajar dan mau terlibat dalam proses belajar mengajar, sehingga pengajaran tersebut menjadi efektif.

Dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan, maka diperlukan berbagai terobosan, baik dalam pengembangan kurikulum, inovasi pembelajaran, dan pemenuhan sarana dan prasarana pendidikan agar siswa tertarik dan tertantang untuk belajar dalam menemukan konsep dasar suatu ilmu berdasarkan hipotesis sendiri, (Situmorang, M., 2004). Proses belajar seperti ini akan lebih berkesan dan bermakna sehingga konsep dasar dari ilmu ini tidak akan cepat hilang. Agar pembelajaran lebih optimal, model pembelajaran dan media pembelajaran harus efektif dan selektif sesuai dengan pokok bahasan yang diajarkan di dalam meningkatkan prestasi belajar siswa (Situmorang, M., 2004).

Diatas telah diutarakan bahwa untuk mengembangkan kreativitas siswa diperlukan penguasaan konsep. Untuk penguasaan konsep yang baik dibutuhkan komitmen siswa dalam memilih belajar sebagai suatu yang bermakna, lebih dari hanya menghafal, yaitu memebutuhkan kemauan siswa mencari hubungan konseptual antara pengetahuan yang dimiliki dengan yang sedang dipelajari di dalam kelas (Dahar 1989). Salah satu cara yang dapat mendorong siswa untuk belajar secara bermakna adalah dengan penggunaan model pencapaian konsep (Joyce, 2009). Pada prinsipnya model pembelajaran pencapaian konsep adalah suatu model mengajar yang menggunakan data untuk mengajarkan konsep kepada siswa, dimana guru mengawali pengajaran dengan menyajikan data atau contoh, kemudian guru meminta siswa untuk mengamati data tersebut. Model ini membantu siswa pada semua usia dalam memahami tentang konsep dan latihan pengujian hipotesis.

Model pencapaian konsep ini banyak menggunakan contoh dan non contoh. Ada tiga cara yang dapat dilakukan oleh guru dalam membimbing aktifitas siswa yaitu: (a) Guru mendorong siswa untuk menyatakan pemikiran mereka dalam bentuk  hipotesa, bukan dalam bentuk observasi ;(b) Guru menuntun jalan pikiran siswa ketika mereka menetapkan apakah suatu hipotesis diterima atau tidak; (c) Guru meminta siswa untuk menjelaskan mengapa mereka menerima atau menolak suatu hipotesis. Untuk melihat apakah model pencapaian konsep efektif digunakan dalam pembelajaran matematika untuk meningkatkan pemahaman konsep matematika siswa di kelas X SMA, maka perlu diadakan suatu penelitian “Meningkatkan Pemahaman Konsep dan Kreativitas Siswa SMA kelas X Negeri 1 Batang Kuis melalui Model Pencaian Konsep”.

1.2.  Identifikasi Masalah

              Berdasarkan uraian latar belakang masalah yang di atas, dapat diidentifikasi beberapa permasalahan sebagai berikut :

1.        Prestasi belajar matematika siswa masih rendah.

2.        Banyak siswa belum memahami konsep dasar matematika yang menimbulkan rasa takut terhadap matematika dan akhirnya menghalangi munculnya kreativitas menjawab soal matematika.

3.        Proses belajar masih bersifat konvensional, sehingga proses belajar mengajar tidak bermakna dan kurang berkesan bagi siswa, karena kemampuan guru mengelola pembelajaran belum sesuai harapan.

4.        Siswa tidak tertantang mencari sendiri konsep matematika dan lebih cenderung pakum dan menerima bulat-bulat apa yang disampaikan oleh guru sehingga mudah lupa.

5.       Aktivitas serta kreativitas siswa dalam proses belajar mengajar, khususnya pada materi matematika tidak nampak.

1.3.  Batasan Masalah

Berbagai masalah yang teridentifikasi di atas merupakan masalah yang cukup luas dan kompleks, serta cakupan materi matematika yang sangat banyak. Agar penelitian ini lebih fokus, maka masalah yang akan diteliti  apada penelitian ini fokus pada kemampuan pemahaman konsep dan kreativitas siswa SMA kelas X Negeri 1 Batang Kuis melalui model pencaian konsep sebagai kelas eksperimen dan kemampuan pemahaman konsep dan kreativitas siswa SMA kelas X Negeri 1 Batang Kuis menggunakan pembelajaran konvensional sebagai kelas kontrol dalam penelitian ini, dengan meneliti permasalahan berikut :

1.      Kemampuan pemahaman konsep siswa masih rendah

2.      Kemampuan kreativitas matematika siswa masih rendah

3.      Aktifitas siswa selama pembelajaran masih rendah.

1.4.  Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan masalah di atas, yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1.    Apakah peningkatan pemahaman konsep matematika siswa yang diajarkan dengan model pencapaian konsep lebih tinggi dari pada pemahaman konsep matematika siswa yang diajarkan dengan?

2.    Apakah peningkatan kemampuan kreativitas matematika siswa yang diajarkan dengan model pencapaian konsep lebih tinggi dari pada kreativitas matematika siswa yang diajarkan dengan pembelajaran konvensional?

3.    Apakah ada interaksi antara model pembelajaran dengan tingkat kemampuan matematika siswa terhadap peningkatan kemampuan pemahaman konsep matematika siswa?

4.    Apakah ada interaksi antara model pembelajaran dengan  tingkat kemampuan matematika siswa terhadap pembelajaran konvensional peningkatan kemampuan kreativitas matematika siswa?

5.    Bagaimanakah aktivitas siswa selama proses pembelajaran model pencapaian konsep berlangsung?”


1.5.  Tujuan Penelitian.

Sesuai dengan rumusan masalah dan pertanyaan penelitian di atas, yang menjadi tujuan penelitian ini adalah:

1.        Mengetahui apakah  peningkatan kemampuan pemahaman konsep matematika siswa yang diajar dengan model pencapaian konsep lebih tinggi dari siswa yang diajar dengan pembelajaran konvensional

2.        Mengetahui apakah  peningkatan kemampuan kreativitas matematika siswa yang diajar dengan model pencapaian konsep lebih tinggi dari siswa yang diajar dengan pembelajaran konvensional

3.        Mengetahui apakah ada interaksi antara pendekatan pembelajaran dengan tingkat kemampuan matematika siswa terhadap peningkatan kemampuan pemahaman konsep matematika siswa?

4.        Mengetahui apakah ada interaksi antara pendekatan pembelajaran dengan tingkat kemampuan matematika siswa terhadap peningkatan kemampuan kreativitas matematika siswa?

5.        Mendeskripsikan aktivitas siswa selama pembelajaran menggunakan model pencapaian konsep.

1.6.  Manfaat Penelitian.

Dengan tercapainya tujuan penelitian di atas dapat diperoleh manfaat penelitian  sebagai berikut:

1.        Apabila pembelajaran Model Pencapaian Konsep dalam penelitian ini berpengaruh positif terhadap hasil belajar siswa, maka pembelajaran model pencapaian konsep dapat dijadikan sebagai alternatif salah satu strategi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran matematika, dan secara khusus memperbaiki hasil belajar matematika siswa.

2.        Sebagai alternatif pembelajaran yang diharapkan dapat membuat siswa lebih aktif dalam penemuan sendiri akan konsep-konsep matematika dan  mengoptimalkan pemahaman dan meningkatkan kreativitas dan Sebagai bahan informasi dalam mendesain bahan ajar matematika yang berorientasi matematika yang berorientasi pada aktifitas siswa.

3.        Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan acuan bagi guru-guru  dalam pembelajaran jika menggunakan pembelajaran model pencapaian konsep serta dapat berguna bagi pengembang kurikulum matematika.

4.        Sebagai sumber informasi bagi sekolah perlunya merancang sistem pembelajaran  model pencapaian konsep sebagai upaya mengatasi kesulitan belajar siswa guna meningkatkan hasil belajar matematika siswa.

Homework For Week Of October 25th

posted Oct 15, 2009, 1:24 AM by Adisuarman Situmorang Parsitahuru

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. In tincidunt nisl felis. Praesent laoreet mollis justo id ornare. Curabitur congue, odio vel faucibus interdum, felis magna euismod ante, id dignissim lectus libero id nisl. Nunc justo arcu, eleifend in congue id, tempus et lorem. In ultricies tincidunt posuere. Duis ut commodo urna. Vestibulum tellus felis, faucibus eget blandit eu, egestas eu mi. Proin posuere adipiscing mollis. Nam sit amet neque erat. Nulla ac fringilla est. Suspendisse lacinia cursus imperdiet. Maecenas id ultricies eros. Mauris lacinia nibh et nunc porta laoreet facilisis ipsum consequat. Praesent id felis in ligula vestibulum hendrerit. Suspendisse tincidunt velit ut mi bibendum nec commodo sem consequat.

Homework For Week Of October 18th

posted Oct 13, 2009, 12:58 AM by Adisuarman Situmorang Parsitahuru

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. In tincidunt nisl felis. Praesent laoreet mollis justo id ornare. Curabitur congue, odio vel faucibus interdum, felis magna euismod ante, id dignissim lectus libero id nisl. Nunc justo arcu, eleifend in congue id, tempus et lorem. In ultricies tincidunt posuere. Duis ut commodo urna. Vestibulum tellus felis, faucibus eget blandit eu, egestas eu mi. Proin posuere adipiscing mollis. Nam sit amet neque erat. Nulla ac fringilla est. Suspendisse lacinia cursus imperdiet. Maecenas id ultricies eros. Mauris lacinia nibh et nunc porta laoreet facilisis ipsum consequat. Praesent id felis in ligula vestibulum hendrerit. Suspendisse tincidunt velit ut mi bibendum nec commodo sem consequat.

Homework For Week of October 11th

posted Oct 13, 2009, 12:58 AM by Adisuarman Situmorang Parsitahuru

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. In tincidunt nisl felis. Praesent laoreet mollis justo id ornare. Curabitur congue, odio vel faucibus interdum, felis magna euismod ante, id dignissim lectus libero id nisl. Nunc justo arcu, eleifend in congue id, tempus et lorem. In ultricies tincidunt posuere. Duis ut commodo urna. Vestibulum tellus felis, faucibus eget blandit eu, egestas eu mi. Proin posuere adipiscing mollis. Nam sit amet neque erat. Nulla ac fringilla est. Suspendisse lacinia cursus imperdiet. Maecenas id ultricies eros. Mauris lacinia nibh et nunc porta laoreet facilisis ipsum consequat. Praesent id felis in ligula vestibulum hendrerit. Suspendisse tincidunt velit ut mi bibendum nec commodo sem consequat.

1-3 of 3