MATAKULIAH
Updated Apr 17, 2013, 2:56 AM
Situs ini dibuat untuk mempermudah mahasiswa mendapatkan bahan kuliahnya semoga dapat bermanfaat bagi pengunjung situs ini trimakasih gartika
Use template

PENELITIAN

GEOLOGI DAN STRUKTUR GEOLOGI DAERAH BAKONGAN

DAN SEKITARNYA, KABUPATEN ACEH SELATAN

DAERAH ISTIMEWA ACEH

Abstraks

 

Daerah penelitian terletak di Kecamatan Bakongan dan Kecamatan Trumon, Kabupaten Aceh Selatan, Propinsi Daerah Istimewa Aceh dengan luas daerah 319 km persegi. Penelitian ini dilakukan sejalan dengan kegiatan penyelidikan yang dilakukan P.T. Caltex Pascific Indonesia.

Morfologi daerah penelitian terdiri dari dataran yang terletak di selatan dan barat daya daerah penelitian, yang berubah menjadi perbukitan dan pegunungan  yang kearah utara morfologinya semakin terjal. Daerah penelitian terbagi menjadi 4 satuan geomorfologi terdiri dari Satuan Geomorfologi Dataran Banjir dan Rawa-rawa, Satuan Geomorfologi Aliran Breksi Volkanik, Satuan Geomorfologi Intrusi dan Satuan Geomorfologi Pegunungan Sesar. Pola aliran sungai yang berkembang rektangular dan dendritik.

Hasil analisa citra landsat didapat dua arah utama kelurusan yaitu: N 310o - 320o E dan N0o - 10o E. Kelurusan ini merupakan struktur geologi yang berkembang struktur sesar mendatar. sesar yang ada didaerah penelitian, berkembang struktur sesar. Tegasan yang berkembang terdapat tiga arah tegasan utama dan menghasilkan tiga tahap secara berurutan terbentuknya struktur sesar yang terjadi didaerah penelitian.

Tegasan tahap pertama berarah kompresi NNW-SSE, tegasan ini menghasilkan sesar Airkandis dan sesar Kualalatong dengan jenis pergerakan sesar geser menganan. Kedua sesar ini berarah NW-SE terbentuk pada zaman akhir Pliosen sampai awal Plistosen.

Tegasan tahap kedua berarah kompresi barat-timur. Tegasan barat-timur menghasilkan sesar Alurpinang I, sesar Alurpinang II dan sesar Lawebengkung. Sesar ketiga ini berarah NNE-SSW dengan pergerakan sesar geser menganan yang terjadi pada zaman  pertengahan Plistosen.

Tegasan tahap ketiga terjadi pada zaman akhir Plistosen sampai sekarang bearah  kompresi NNE-SSW. Tegasan NNE-SSW mengaktifkan kembali sesar-sesar sebelumnya khususnya sesar Airkandis sesar geser menganan. Tegasan ini juga menghasilkan sesar baru diantaranya sesar Belangdalam sesar geser mengiri, sesar Bateputih dan sesar Bukitgadeng sesar geser menganan.  



1 .  Latar Belakang Penelitian

Penelitian ini dilakukan sejalan dengan kegiatan penyelidikan yang dilakukan P.T. Caltex Pascific Indonesia pada tahun 1996.

Permasalahan yang akan dibahas meliputi aspek geologi yang terdapat pada daerah penelitian, khususnya masalah struktur geologi. Proses pembentukan cekungan sedimen tersier di sepanjang pantai barat Sumatra Utara. Sejauh mana pengaruh struktur dalam perkembangan cekungan tersier di sepanjang daerah pantai barat Sumatra Utara.


2.  Tujuan Penelitian

Tujuan akhir dari penelitian ini dalam memecahkan permasalahan di daerah penelitian adalah merekontruksi sejarah geologi diantaranya :

  • Memetakan daerah Bakongan dan sekitarnya
  •  Mencari batasan yang dapat membedakan antara formasi Sibolga dengan formasi Barus dilihat dari hubungan lapisan dan litologi yang dapat membedakannya
  •  Stratigrafi mengenai hubungan formasi Sibolga dan formasi Barus yang meliputi lingkungan pengendapan, umur batuan dan urutan-urutan sedimentasi
  • Sejarah perkembangan struktur geologi berupa arah-arah tegasan yang berkembang mempengaruhi daerah penelitian  dilihat dari struktur sesar, kekar dan lipatan.


3.  Lokasi Penelitian

Wilayah penelitian terletak kurang lebih 520 km dari Banda Aceh dan 75 km dari Tapaktuan ke arah Tenggara atau 165 km dari Sidikalang kearah WNW. Daerah penelitian secara administratif bagian dari Kecamatan Bakongan dan Kecamatan Trumon, Kabupaten Aceh Selatan, Propinsi Daerah Istimewa Aceh, tepatnya terletak di Desa Alurduamas - Desa Jambupapeon. Dan secara geografis daerah penelitian terletak pada koordinat : 97o30’00”BT - 97o42’00”BT  dan 02o52’25”LU - 03o00’00” LU.

            Luas daerah penelitian kurang lebih 318,9 km persegi dengan ukuran 14,3 km x 22,3 km.



Gambar 1. Peta indeks dan lokasi penelitian


4.  Metodologi Penelitian

Metoda penelitian  dilakukan  dengan  5 tahap  yaitu  tahap  persiapan,  tahap pengerjaan lapangan, tahap laboratorium, tahap studio dan tahap penyusuna laporan.

Persiapan (pra lapangan) meliputi studi pendahuluan guna memperoleh gambaran umum geologi dan permasalahan yang akan dihadapi di daerah penelitian. Kegiatan ini mencakup studi litelatur, interpretasi peta topografi, Foto Udara dan Citra satelit daerah penelitian.

 Tahap pengerjaan lapangan meliputi survei lapangan, perencanaan lintasan, pemetaan geologi lapangan dan pengambilan contoh batuan.

Tahap laboratorium berupa mengolah dan analisa data lapangan & contoh batuan. Tahap studio berupa penyajian data hasil penelitian dan Tahap akhir menyajikan dalam bentuk laporan penelitian.


5.  Geomorfologi

Morfologi daerah penelitian secara umum dicirikan oleh dataran, perbukitan, dan pegunungan. Morfologi ke arah utara semakin terjal hingga ketinngian mencapai 1059 m diatas permukaan laut.

Daerah dataran merupakan dataran aluvial, terletak dibagian selatan dan barat daya daerah penelitian. Daerah pegunungan terjal bagian utara, tersusun oleh metasedimen, batusabak, dan batuan konglomerat. Perbukitan terjal menengah bagian tengah tersusun oleh litologi batupasir dan batulempung.

Satuan morfologi daerah penelitian terbagi menjadi 4 satuan geomorfologi menurut klasifikasi van Zuidam, 1983 yaitu :

  •  Satuan Geomorfologi Dataran Banjir dan Rawa-rawa (Fluvial F5), dicirikan oleh morfologi landai sampai hampir landai, sudut lereng 0o-5o dan Sungai pada satuan ini berbentuk “È”. Satuan Geomorfologi ini terletak didaerah selatan dan barat daya daerah penelitian, meliputi luas kurang lebih 20% luas daerah penelitian (foto 1).
  •  Satuan Geomorfologi Breksi Vulkanik (V6), dicirikan oleh morfologi yang terjal, lembah-lembah sungai yang sempit, gawir curam dengan sudut lereng sekitar 20o - 40o dan bentuk lembah sungai berbentuk “V”. Satuan Geomorfologi V6 terletak dibagian selatan daerah penelitian dan meliputi luas kurang lebih 15% luas daerah penelitian (foto 2).
  •  Satuan Geomorfologi Intrusi (Satuan Geomorfologi Struktur S11), dicirikan oleh morfologi yang terjal, lembah sungai sempit, gawir curam dengan sudut lereng sekitar 25o – 40o. Proses erosi sudah mulai terlihat dan tidak ditemukan proses sedimentasi. Satuan Geomorfologi Intrusi terletak dibagian selatan dan bagian utara daerah penelitian, meliputi luas kurang lebih 10% luas daerah penelitian.
  •  Satuan Geomorfologi Pegunungan Sesar (Satuan Geomorfologi Struktur S12), dicirikan oleh morfologi yang terjal sampai sangat terjal, lembah sungai sempit, gawir curam dengan sudut lereng sekitar 20o – 50o. Bentuk lembah sungai yang umumnya berbentuk “V” dan dominan sungai pada satuan geomorfologi ini memiliki percepatan air yang tinggi, ditandai banyaknya dijumpai air terjun, selain terbentuknya oleh adanya sesar juga karena kontras kekerasan batuan. Air terjun menunjukan proses erosi vertikal lebih dominan dibandinkan proses erosi horisontal yang biasanya terdapat di hilir sungai. Proses erosi cukup tinggi dibandingkan proses pengendapan. Satuan Geomorfologi S12 terletak dibagian tengah sampai ke utara daerah penelitian dan meliputi luas kurang lebih 50% luas daerah penelitian (foto 3).

Foto 1.  Dataran Banjir dan Rawa-rawa yang ditumbuhi oleh pesawahan penduduk dan Perbukitan Sesar Lokasi daerah Bukitgadeng  ke arah tenggara.

 

Foto 2. Perbukitan Breksi Volkanik, Dataran Banjir dan Rawa-rawa yang ditumbuhi pesawahan penduduk, lokasi di daerah Seubadeh ke arah timurlaut.

 

Foto 3.  Dataran Banjir dan Rawa-rawa yang ditumbuhi tumbuhan rawa dan Pegunungan Sesar pada batuan Tersier. Lokasi di daerah Jambu Papeon ke arah utara.

 Sungai utama daerah penelitian terdiri dari sungai Air Kandis, sungai Naca, sungai Lawe Bengkung, sungai Kuala Latong, dan sungai sungai kecilnya terdiri dari sungai Belang Dalam, sungai Air Jereneh, sungai Selekat dan sungai Ujong Pulocut.

Pada sungai Air Kandis cabang-cabang sungainya hampir membentuk 90o, ini disebabkan dikontrolnya oleh struktur yang berkembang pada daerah tersebut. Pola aliran sungai pada sungai ini pola aliran sungai sub rektangular.

Sungai Naca, sunai Belangdalam dan sungai Lawe Bengkung berkembang pola aliran sungai dendritik. Daerah disekitar sungai ini dipengaruhi struktur juga tapi tidak dominan dalam pembentukan sungainya.

 

Gambar 2. Peta Geomorfologi daerah Penelitian Di Daerah Bakongan dan sekitarnya, Kabupaten Aceh Selatan.


6.  Struktur Geologi

Sumatra merupakan bagian dari lempeng benua daratan Sunda (Cameron, 1980). Alas Samudera Hindia (lempeng samudera) sekarang bergerak ke arah utara, menyusup di bawan Jawa dan Sumatra  (lempeng benua daratan sunda) dengan kecepatan sekitar 6 cm/tahun (Le Pichon, 1968). Granit Kapur terdapat di beberapa tempat di sepanjang Pegunungan Sumatra merupakan bukti sistim penunjaman zaman kapur yang berhimpitan dengan sistim penunjaman sekarang.

Unsur-unsur aktif di Pulau Sumatera berarah baratlaut sejajar dengan parit di lepas pantai, pematang busur luar, dan cekungan busur luar. Sistim sesar sumatera yang berarah baratlaut dengan panjang ± 1650 km merupakan sesar mendatar menganan seperti terlihat pada Gambar 3 (Cameron, 1980).

Cekungan sedimen di Sumatera menurut Werren Hamilton (1979) yterbagi menjadi tiga bagian, yaitu cekungan buur luar (berada dilepas pantai pantai bagian barat), Bukit Barisan (merupakan geaantiklin batuan tua yang menutupi batuan gunungapi busur magmatik aktif, dan cekungan muka daratan di bagian timurlaut. Daerah penelitian Bakongan terletak di pantai barat Sumatera dan merupakan bagian barat Bukit Barisan.

 

Gambar 3. Posisi Tektonik Regional Sumatera pada saat ini (Cameron, 1980).

 

Interpretasi pola-pola kelurusan geologi daerah penelitian dari analisa citra landsat dapat dilihat pada gambar 4.1, Analisa ini menghasilkan diagram frekwensi roset dan didapat arah utama yaitu: N 310o - 320o E dan N0o - 10o (gambar 4.2). Arah utama kelurusan dari diagram roset diinterpreta-sikan sebagai kecenderungan kelurusan sesar yang terdapat di daerah penelitian.


Gambar 4.1. Analisa Citra Landsat daerah Bakongan dan sekitarnya, Kabupaten Aceh Selatan.


Gambar 4.2. Diagram frekwensi roset hasil dari analisa citra landsat di daerah Bakongan

 

Daerah penelitian memiliki arah kemiringan lapisan batuan yang relatif sama kearah selatan (monoklin), besar kemiringan pada umumnya memiliki kemiringan yang besar dan perubahan kemirinan yang menghasilkan suatu perlipatan tidak dijumpai dalam skala besar.

Struktur sesar yang ada didaerah penelitian, berkembang struktur sesar geser dengan tiga arah sesar utama yaitu sesar berarah NW-SE (N310o-330oE), sesar berarah NNE-SSW (N005o – 025oE) dan sesar berarah ENE-WSW (N060o-070oE).

Penarikan arah jurus sesar didapat dari tiga sumber yaitu hasil penarikan pola kelurusan dari analisa citra landsat, kelurusan morfologi yang diamati dari Peta Topografi, dan dari kelurusan tebing bidang sesar yang ditemukan dilapangan.

Struktur sesar yang berkembang di daerah penelitian meliputi (Gambar 4) :

  • Sesar Airkandis

Sesar Airkandis merupakan sesar utama, merupakan bagian dari sesar Sumatra yang berarah N 330o E. Tegasan yang mempengaruhi sesar ini tegasan yang berarah hampir utara-selatan. Kombinasi antara tegasan hasil analisa data kekar gerus dan cermin sesar dengan kelurusan sesar hasil analisa kelurusan citra landsat, sesar airkandis merupakan sesar geser menganan.

  • Sesar Kualalatong

Sesar Kualalatong sesar yang berarah NW-SE, tepatnya memiliki jurus N 315o E. Sesar Kualalatong terbentuk akibat pergerakan sesar Airkandis yang terbentuk sesara berulang-ulang. Tegasan yang mempengaruhi sesar ini hampir sama dengan tegasan yang mempengaruhi sesar airkandis. Kombinasi unsur-unsur struktur yang didapat dilapangan dengan kelurusan sesar dari kelurusan morfologi (kelurusan lembah) diamati dari peta topografi, sesar kualalatong merupakan sesar geser menganan.

  • Sesar Belangdalam

Sesar Belangdalam sesar yang berarah ENE-WSW, memiliki jurus N 065o E. Sesar Belangdalam memotong sesar Kualalatong menandakan bahwa sesar Belangdalam lebih muda dari pada sesar Kuala-latong. Tegasan yang mempengaruhi sesar ini berarah utara-selatan sampai NNE-SSW. Kombinasi antara data kelurusan, cermin sesar, goresgaris dan data kekar gerus menghasilkan beberapa analisa dari pergerakan sesar tersebut dan hasilnya sama bahwa sesar Belangdalam merupakan sesar geser mengiri.


Gambar 5. Peta Struktur daerah Penelitian di daerah Bakongan dan sekitarnya, Kabupaten Aceh Selatan.

 

  • Sesar Bateputih

Sesar Bateputih sesar yang berarah NNE-SSW, dari diagram roset pengolahan kelurusan morfologi lembah dan bukit pada peta topografi didapat jurus sesar Bateputih N 005o E. Tegasan hasil pengolohan data gores-garis dilapangan menghasilkan tegasan utama barat-timur, hasil analisa sesar Bateputih didapat sesar geser menganan (obliq relatif sesar turun) dan tegasan hasil pengolahan data kekar dilapangan menghasilkan tegasan utama N 015o E (NNE-SSW), hasil analisa sesar Bateputih didapat sesar geser menganan (obliq relatif sesar naik). Pengolahan dua data diatas menghasilkan analisa sesar yang sama yaitu sesar menganan dan arah bidang sesar yang hampir sama yaitu N 185o E / 650 atau N 185o / 61o.

  • Sesar Alurpinang

Sesar Alurpinang sesar yang berarah NNE-SSW, dari diagram roset pengolahan kelurusan morfologi lembah dan bukit pada peta topografi didapat jurus sesar Bateputih N 025o E. Tegasan hasil pengolohan data gores-garis dilapangan menghasilkan tegasan utama 52o, N 037o E (NE-SW), hasil analisa sesar Alurpinang didapat sesar geser menganan (obliq relatif sesar turun) dengan Net slip 11o, N 004o E dan bidang sesar N 205o E / 29o.

  • Sesar Bukitgadeng

Sesar Kualalatong sesar yang berarah NW-SE, tepatnya memiliki jurus N 330o E dilihat dari diagram roset analisa kelurusan Citra Landsat, kelurusan sesar ditemukan juga dilapangan berupa tebing sesar yang berarah N 339o E. Tebing sesar yang ditemukan dilapangan pada lokasi BGD-07 dipenuhi dengan tanda-tanda hasil pergerakan batuan berupa gores-garis. Bidang sesar N 339o E / 80o net slip 12o, N 157o E, sesar menanan oblig relatip naik.


7.  Kesimpulan

Berdasarkan analisa stratigrafi dan struktur geologi pada daerah penelitian maka dapat disimpulkan.

Struktur sesar yang ada didaerah penelitian, berkembang struktur sesar geser dengan tiga arah sesar utama yaitu sesar berarah NW-SE (N310o-330oE), sesar berarah NNE-SSW (N005o – 025oE) dan sesar berarah ENE-WSW (N060o-070oE).

Struktur yang berkembang di daerah Bakongan terdiri dari sesar berarah NW-SE (sesar Airkandis, sesar Kualalatong, sesar Bukitgadeng), sesar berarah NNE-SSW (sesar Bateputih, sesar Alurpinang I, sesar Alurpi-nang II dan sesar Lawebengkung,) dan sesar berarah ENE-WSW (sesar Belangdalam).


8.  Daftar Pustaka

Aldiss, D.T., Whandoyo, R., Sjaefudin, A.G. dan Kusjono, 1983 Geologi Lembar Sidikalang, Sumatra, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung.

Bemmelen, R.W. van, 1970. The Geology of Indonesia (Marinus Nijhoff, The Hague) 2nd. Ed.Vol.1A.

Cameron, N.R., dkk. 1980 The Geological Evolution of Northern Sumatra,Proceedings Indonesia Petroleum Association, hal 149-187

Davies, P.R., 1984. Tertiary Struktural Evolution and Related Hydrocarbon Occurrences,  North Sumatra Basin; Proceeding 13th I.P.A. Convention (1984).

Davis G. H., 1984, Structural Geology of Rocks and Regions, by John Wiley & Sons, Inc. Printed in Singapore

Hamilton, W., 1978. Tectonics of The Indonesian Region, Geol. Survey Prof. Pepers US Govt. print. Off. Washington DC

Kerr, P.F., 1959, Opticaal Mineralogi, Third Edition, McGraw-Hill Book Company, New York

Magetsari,A., Harsolumakso, A.H., dan Abdullah,C.I., Pedoman Praktikum Geologi Struktur, Laboratorium Geologi Dinamik, Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknologi Mineral ITB, tidak diterbitkan

Pulunggono, A., Haryo, A.S., Kusuma, C.G., 1992, Pre-Tertiary and Tertiary Fault System as a Framework of the South Sumatra Besin, A Study of SAR-Maps, Proc. I  P A, 12th, Jakarta, hal107-124

Van Zuidam, R.A.,1985, Aerial Photo-Interpretation in Terrain Analysis and Geomorphologic mapping, Smith Publisher, The Hague, Netherlands

Walker, R.G., 1984, Facies Models, Second Edition, Geological Association of Canada, Ontario

Wiliam, H., Turner, F.J. dan Gilbert, C.M. 1954, Petrography; An Introduction to the Study of Rocks in Thin Section, W.H. Freeman and Company, San Francisco




Subpages (1): PLN MEUKE TAPAKTUAN
Comments