Makalah PAI

Bagaimana Strategi Pendidikan Islam
(Review Karya Hujair Ah. Sanaky)

 

 

Diantara cita-cita bangsa Indonesia diera reformasi adalah ingin membangun suatu masyarakat madani ala Indonesia yang disepadankan dengan civil society, upaya untuk mewujudkan cita-cita tersebut pendidikan Islam diasumsikan mempunyai peran strategi dengan membangun sistem pendidikan yang mampu mengembang sumber daya manusia berkualitas yang dilandasi dengan nilai-nilai illahiyah, insyaniyah, masyarakat, lingkungan dan berbudaya. Berbagai strategi yang harus ditempaht didalam pendidikan Islam, melalui Karya Hujair AH. Sanaky ini akan ditemukan pokok-pokok pikiran pembaharuan pendidikan yang dapat mengantarkan dalam membangun masyarakat madani Indonesia tersebut.

Adapun buku yang ditulis Hujair AH. Sanaky berjudul “Paradigma Pendidikan Islam: membangun masyarakat amadani Indonesia”. Buku ini semula adalah bagian tesis magisternya yang ditempuh di Universitas Islam Indonesia Yogyakarta sedang abgian tesis lainnya ditulis dalam buku lain berjudul “Sejarah Sosial Pendidikan Islam: Pergulatan Dalam Hegemoni Pemikiran”, kedua buku tersebut diterbitkan oleh penerbit Safiria Insania Press.

Penulisan karya ini terdorong adanya rasa keprihatinan terhadap kesiapan pendidikan Islam dalam menghadapi perubahan yang terjadi di era reformasi menuju masyarakat madani Indonesia, dengan memberikan berbagai gagasan baru, yang secara keseluruhan akan diuraikan dalam buku ini dan terbagi dalam tiga bab.

Bab pertama mengungkapkan berbagai persoalan danlnam tantangan yang dihadapi oleh pendidikan di Indonesia termasuk pendidikan Islam untuk menuju masyarakat madani Indonesia, diantaranya persoalan dikotomi pendidikan, kurikulum, sumber daya serta manajemen pendidikan islam, untuk itu pendidikan hendaknya didasarkan pada paradigma-paradigma baru yang bertujuan untuk membentuk suatu masyarakat madani yang demokratis, pendidikan hendaknya bertolak dari pengembangan manusia yang berbudaya, berperadaban, merdeka, bertaqwa, bermoral dan berakhlak, berpengetahuan dan berketrampilan, inovatif dan kompetitif. Menurut Hujair untuk menghadapi hal-hal tersebut diperlukan adanya pembaharuan pemikiran pendidikan islam secara mendasar melalui lima hal yaitu, pertama perlu pemikiran kembali konsep pendidikan islam yang betul-betul didasarkan pada asumsi dasar tentang manusia yaitu fitrah, kedua pendidikan islam harus menuju pada integritas antara ilmu agama dan ilmu umum agar tidak melahirkan jurang pemisah antara ilmu pengetahuan adalah satu berasal dari Allah SWT, ketiga pendidikan di desain menuju tercapainya sikap dan perilaku toleransi, keempat pendidikan Islam mampu menumbuhkan etos kerja, kelima pendidikan Islam perlu di desain untuk mampu menjawab tantangan masyarakat menuju masyarakat madani. (h. 3-10).

Bab kedua mengkaji konsep masyarakat madani. Pada bagian ini Hujair melacak sejarah perkembangan masyarakat madani atau civil society baik dari sisi etimologi juga asal-usul konsep masyarakat madani dengan mengemukakan pandangan pada ahli barat, para pemikir muslim serta para pakar di Indonesia, meski demikian istilah masyarakat madani masih diperdebatkan di kalangan para ahli. Di Indonesia istilah masyarakat madani pada umumnya disepadankan dengan masyarakat sipil (civil society). Yang proses perubahannya ada beberapa persyaratan yang harus terpenuhi menurut Hujair adalah adanya pemahaman yang sama (one standard) adanya keyakinan (confidence), saling percaya (social trust), satu kesatuan atau satu hati dan saling tergantung satu kesatuan atau satu hati tentang tujuan dan misi (h. 66-77).

Bab ketiga merupakan gagasan atau pemikiran pokok Hujair tentang pembaruan pendidikan Islam di awal dengan pembahasan pembaharuan paradigma pendidikan Islam karena adanya paradigma dualisme pendidikan Islam (h. 96) dan lainnya adapun arah perubahan paradigma ….

Adapun arah perubahan paradigma pendidikan lama ke paradigma baru terdapat berbagai aspek mendasar yaitu: pertama, paradigma lama lebih cenderung pada sentralistik, kebijakan lebih bersifat top down, orientasi pengembangan pendidikan lebih bersifat persial, peran pemerintah sangat dominan dalam kebijakan pendidikan. Sedangkan kedua paradigma baru orientasi pendidikan islam pada: desentralistik, kebijakan pendidikan berisafat bottom up, orientasi pengembangan pendidikan lebih bersifat holistic (115-116) sehingga kerangka acuan pemikiran dalam penataan dan pengembangan sistem pendidikan menuju masyarakat madani Indonesia harus mampu mengakomodasi berbagai pandangan secara selektif sehingga terdapat keterpaduan dalam konsep yaitu: pendidikan harus membangun prinsip kesetaraan antara sektor pendidikan dengan sektor-sektor lain, memelihara sumber yang berpengaruh seperti keluarga, sekolah, pemberdayaan institusi sosial, kemandirian, pendidikan yang cepat tanggap akan perubahan, rekonstruksi, berorientasi pada peserta didik, pendidikan kultural, prinsip global. (199)

Strategi perubahan dalam uraian berikutnya merupakan inti dari pemikiran atau gagasan Hujair A.H Sanaky yaitu strategi pendidikan islam dalam proses perubahan menuju masyarakat madani Indonesia yaitu perlu dilakukan pertama reorientasi kerangka dasar filosofis dan teoritis pendidikan yang mantap agar mempunyai arah yang pasti tidak terombang ambing dan tidak akan meniru-niru sistem, teori pendidikan lain, langkah awal yang harus dilakukan adalah merumuskan kerangka dasar filosofis pendidikan yang sesuai dengan ajaran Islam kemudian mengembangkan secara empiris prinsip-prinsip yang mendasari pelaksanaannya dalam konteks lingkungan (sosial-kultural), (127-135) merumuskan misi dan visi pendidikan harus didasarkan pada nilai-nilai ajaran Islam serta nilai-nilai budaya atau didasarkan pada core belief dan core values, maka lembaga-lembaga pendidikan Islam dituntut untuk menyusun misi dan visi baik tingkat makro atau tingkat mikro serta kebijakan strategi pelaksanaannya. Ketiga merumuskan strategi dasar pendidikan Islam yaitu untuk pemerataan kesempatan untuk memperoleh pendidikan, relevansi, pendidikan, peningkatan kualitas pendidikan serta efisiensi pendidikan. Keempat reorientasi tujuan pendidikan, karena tujuan pendidikan yang ada sekarang dirasakan tidak benar-benar diarahkan kepada tujuan positif, tetapi tujuan pendidikan Islam hanya diorientasikan pada kehidupan akhirat dan bersifat defensif. Upaya reorientasi tujuan pendidikan Islam agar tujuan pendidikan diharapkan lebih bersifat problematis, strategis, antisipatif menyentuh aspek aplikasi, menyentuh kebutuhan masyarakat dan pengguna lulusan artinya pendidikan Islam harus membangun manusia dan masyarakat secara utuh dan menyeluruh (insan kamil) dalam semua aspek kehidupan (h. 153-157) kelima reorientasi kurikulum pendidikan Islam, hendaknya materi pendidikan dapat terakomodasi dalam kurikulum yang menggambarkan standar kemampuan dasar yang dimiliki peserta didik pada masing-masing jenjang pendidikan, desain kurikulum harus tidak hanya mendasarkan pada potret masa kini saja tetap harus berorientasi masa depan (future oriental) mendesain kurikulum dengan menawarkan berbagai program pendidikan, latihan dan ketrampilan yang memiliki fleksibilitas tinggi, diversifikasi keahlian, adap table dengan kebutuhan peserta didik dengan tuntutan masyarakat karena selama ini kurikulum bersifat sentralistik. Berkaitan dengan kurikulum berbasis kompetensi maka desain program kurikulum diharapkan dapat diorientasikan pada learning competency yang mampu menghantarkan peserta didik untuk dapat memiliki, lima kompetensi dasar, yaitu kompetensi Islamiyah, knowledge, skills, ability dan kompetensi sosio kultural. (174-188) keenam reorientsi  metodologi pendidikan Islam, terlihat metodologi pendidikan Islam saat ini masih sebatas pada sosialisasi kilas dengan pendekatan hafalan, atas dasar ini proses belajar harus didasarkan pada prinsip belajar siswa aktif (student active learning), mengembangkan kemampuan belajar (learning ability) dengan mendasarkan pada learning competency sehingga diharapkan dapat membangun tiga pilar ketrampilan yaitu learning skills, thinking skills dan living skills (h. 1991-1999) ke tujuh reorientasi manajemen dan sumber daya pendidikan Islam Manajemen Pendidikan Islam selama ini pengaturannya dengan pusat sistem sentralisasi hampir seluruhnya ditetapkan oleh pemerintah pusat secara sentralistik dan ketat sehingga pengelola pendidikan kurang kreatif manajemen pendidikan menjadi kaku serta kurang berkembang.

solusi dari masalah manajemen pendidikan menurut Hujair AH Sanaky dengan menawarkan perubahan manajemen pendidikan ke arah, pertama desentralisasi pengelolaan pendidikan islam adanya perubahan paradigma dari orientasi manajemen pemerintahan yang sarwa negara (state driven) menjadi berorientasi ke pasar, perubahan paradigma dari orientasi manajemen pemerintahan yang otoritarian menjadi berorientasi pada demokrasi, perubahan paradigma dari sentralisasi menjadi desentralisasi kewenangan, manajemen pemerintahan yang cenderung dipengaruhi oleh tata aturan global menjadi kebijakan dan aturan pemerintah harus mengakomodasi tata aturan global. Kedua, manajemen berbasis sekolah, apakah pendidikan Islam dapat menerapkan manajemen berbasis sekolah? Menurut Hujair AH Sanaky karena pendidikan Islam sebagai sub sistem pendidikan nasional maka harus menerapkan sistem ini meski ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam penerapannya yaitu kewajiban sekolah, kebijakan dan priotitas pemerintah, partisipasi masyarakat dan orang tua, peranan profesionalisme dan manajerial serta pengembangan profesi. Ketiga manajemen pendidikan tinggi adalah menekankan kemandirian lebih besar dalam pengelolaan atau otonomi, untuk dapat menyelenggarakan pengelolaan manajemen perguruan tinggi Islam yang baik perlu memperhatikan kualitas, otonomi, akuntabilitas (pertanggungjawaban), evaluasi dan akreditasi (h. 207-225). Problematika juga ada pada sumber daya pendidikan Islam, dengan rendahnya kualitas tenaga kependidikan padahal dituntut memiliki sumber daya pendidikan yang berkualitas dan profesional maka yang harus dilakukan oleh pendidikan Islam adalah adanya program peningkatan kemampuan sumber daya pendidikan berupa training for trainers (h. 226-227).

Aktualisasi pendidikan Islam dalam masyarakat madani di Indonesia, pada bagian ini Hujair AH Sanaky pembahasannya lebih difokuskan pada empat hal, pertama upaya pendidikan Islam bagi pemberdayaan manusia (proses humanisasi) dan masyarakat unggual, kedua upaya demokratisasi pendidikan Islam, ketiga model-model pendidikan Islam alternatif dan keempat peran pendidikan Islam dalam masyarakat madani Indonesia (228-229) pendidikan merupakan proses humanisasi, merupakan proses yang terbuka dimana manusia diberdayakan dan dioptimalkan potensi (fitrah) bawaannya maka dibutuhkan konsep pendidikan yang dapat memberi gambaran yang komprehensif dengan menekankan keharmonisan hubungan baik sesama manusia, masyarakat maupun lingkugan yang didasarkan pada nilai-nilai normatif illahiyah. Sedangkan manusia dan masyarakat yang unggul dalam masyarakat madani adalah manusia dalam menjalankan hidupnya merupakan pengabdian kepada Allah semata, cara terbaik untuk mendapatkan prestasi dalam hidup adalah dengan mempunyai ilmu dan memiliki etos kerja yang tinggi, serta berorientasi ke masa depan (h.230-236)

Demokratisi pendidikan di dalam masyarakat madani adalah bagaimana proses pendidikan Islam dapat menyiapkan peserta didik agar terbiasa bebas berbicara dan mengeluarkan pendapat secara bertanggung jawab dan turut bertanggung jawab, terbiasa mendengar dengan baik dan menghargai pendapat dan pandangan orang lain, menumbuhkan keberanian moral yang tinggi, dan mempelajari kehidupan masyarakat (237-250)

Adapun model-model pendidikan Islam alternatif. Ada tiga pendekatan yang ditawarkan sebagai pola alternatif pendidikan Islam yaitu pendekatan sistematik (perubahan total) pendekatan suplementer yaitu dengan menambah sejumlah paket pendidikan yang bertujuan memperluas pemahaman, pendekatan komplementer yaitu dengan upaya mengubah kurikulum dengan sedikit radikal untuk disesuaikan secara terpadu sedangkan konsep pendidikannya adalah pendidikannya adalah pendidikan hitegralistik, humanistic, dan gerakan pada bendaya. Kemudian bari ditarik model pendidikan sila yang lebih operasional yaitu mendesain model pendidikan umum Islami, mendesain model pendidikan Islam yang tetap mengkhususkan pada desain pendidikan keagamaan, seperti yang ada sekarang, model pendidikan Islam yang tidak dilaksanakan di sekolah-sekolah  formal tetapi dilaksanakan di luar sekolah, artinya pendidikan agama dilaksanakan di rumah atau lingkungan keluarga, masjid, masyarakat (tempat kursus-kursus, pengajian-pengajian an kajian-kajian keagamaan serta mendesain model pendidikan diarahkan pada dua dimensi yaitu dimensi dialektika (horisontal) dan dimensi ketundukan vertikal (254-2607).

Bagaimana kontribusi dan peran pendidikan Islam dalam masyarakat madani dijelaskan oleh Hujair AH Sanaky dimaksudkan agar pendidikan Islam mempersiapkan dan mampu menghasilkan out put pendidikan yang unggul, maka lembaga-lembaga pendidikan Islam harus mampu melakukan pembenahan dan pembaharuan dengan cara: program lembaga-lembaga pendidikan Islam lebih diorentasikan kepada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pengembangan ketrampilan dengan meningkatkan kemampuan untuk menggunakan menggunakan berbagai teknologi elektrik, lembaga-lembaga pendidikan Islam harus mampu mengembangkan atau melakukan depresivikasi program-program bidang studi yang sesuai dengan kebutuhan tenaga dibidang-bidang tertentu atau sesuai dengan kurikulum dan silabi relevan dengan kompetensi mencakup spiritual, illahiyah, knowledge, skill, ability dan kultural-sosial yang diarahkan pada kebutuhan pasar. Diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas, manajemen dan organisasi yang efektif, sumber dana yang memadai dan efisien dengan memanfaatkan sarana yang tersedia. Sehingga eksistensi pendidikan Islam diharapkan mampu berkomunikasi dan berkompetisi dengan berbagai lembaga pendidikan lainnya dalam membangun manusia yang utuh (insan kamil) menuju masyarakat madani.

Bab keempat merupakan penutup dari seluruh uraian buku yang berupa kesimpulan atas pemikiran bagaimana pendidikan Islam mempunyai peran dalam membangun masyarakat madani di Indonesia.

Buku ini memiliki kontribusi dibidang pemikiran pendidikan Islam terutama pembaharuan paradigma pendidikan Islam dalam wacana masyarakat madani Indonesia atau civil society, sehingga buku ini menarik untuk dibaca, karena dalam buku ini mencakup penjelasan tentang akar sejarah masyarakat madani Indonesia serta membawa para pembaca untuk menelusuri peran strategis pendidikan Islam dalam mensosialisasikan dan mewujudkan cita-cita masyarakat madani Indonesia dengan berbagai reorientasi seluruh aspek pendidikan Islam.

Meskipun buku ini hanya terdiri dari tiga bab namun tidak mengurangi nilai penting karya ini dan kontribusi signifikan pemikiran Hujair dalam pembaharuan paradigma pendidikan Islam yang hendaknya ditindaklanjuti oleh para pemerhati pendidikan dalam bentuk praktik pendidikan Islam. Sebagaimana karya-karya lain, karya ini terbuka terhadap kritik dan saran dan para ahli dibidang pemikiran pendidikan Islam.

 

Biodata Penulis


Dra. Wiji Hidayati, M.Ag., lahir di Pati, 23 Mei 1965, adalah staf pengajar Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Gelar sarjana lengkap (S-1) dari Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga jurusan pendidikan Agama Islam (1989). Sedangkan Magister (S-2) diperoleh dari IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Program Studi Pendidikan Islam konsentrasi Pemikiran Pendidikan Islam (2003)