Home‎ > ‎

DARURAT-APRIL

EKSPEDISI GUNUNG LUSI 20 APRIL 2012: KONDISI DARURAT LUSI


Berhasil pertama kalinya menjelajah jauh ke Lereng Atas, mendekati batas Kawah Luar, di sayap utara Gunung Lusi.

Dikontribusikan oleh: Hardi Prasetyo dan Budi

sebagai salah satu bagian Monitoring dan Evaluasi Kondisi Darurat Lusi secara menyeluruh.




Album ini merekam fakta Lusi mud volcano sebagai Keajaiban Dunia yang penuh misteri dan mempunyai daya tarik pesona alam serta salah satu tempat terbaik mempelajari lahir dan berkembangnya suatu mud volcano.


Aspek teknis adalah rekaman pemecahan rekor mendaki Gunung Lusi, berhasil masuk jauh ke Lereng Atas, mendekati Kawah Luar Gunung Lusi utara. Sebelumnya hanya pada batas Lereng Atas dan Bawah. 20 April 2012.



BAGIAN I:

LERENG ATAS P68 DAN LANGKAH MENJELAJAH KE BATAS KAWAH LUAR



Peta Rencana Lintasan yang dibuat pada 13 April 2012, digunakan sebagai implementasi penjelajahan pada kondisi darurat 20 April 2012. Lintasan penjelajahan di perpendek, landing di Osaka. Panah merah memperlihatkan arah Patahan geser P68 yang berlanjut ke selatan memotong tubuh prisma akrasi yang melingkar.


20 April 2012, melakukan pendakian sendiri (solo climbing) ke gunung Lusi utara, prisma akrasi membentuk punggungan melingkar yang baru berkembang 1 April 2012, dijadikan lokasi titik awal di puncak P68.

Pertumbuhan Prisma Akrasi yang radial relatif timur-barat  di titik P68 dikontrol oleh patahan Timurlaut-baratdaya. Diketemukan oleh Tim BPLS 1 April 2012.

Lusi Sulung diambil sekitar jam 06.30 wib dari Lereng Atas P68, permukaan lereng atas bergelombang dari ekspresi struktur punggunan radial, yang berekspansi ke batas Lereng Atas-Bawah.
Prisma akrasi di P68 timur, memperlihatkan dipengaruhi oleh Patahan P68-T (sebagai patahan regional), dapat diikuti di lapangan atau dari citra helikopter sampai di ujung Jebolan Tanggul P68-T.
Pandangan tubuh Prisma Akrasi P68 dengan arah timur-barat memperlihatkan pertumbuhan atau ekspansi kearah lereng bawah (utara). Dikejauhan terlihat Lusi Sulung.

Sebelum melanjutkan Ekspedisi Gunung Lusi ke arah barat, dan percobaan memecahkan rekor menjelajah bagian Lereng Atas yang berbatasan dengan Kawah Luar, saya sarapan roti. Di dalam tas hitam terdapat sejumlah minuman mineral yang nantinya akan disimpan di lubang pada puncak prisma akrasi.


Saya cukup kaget, saat masih berkabut melihat ada orang yang mendekat, karena sampai saat ini kecuali personal BPLS sebegitu jauh tidak ada warga yang tercatat telah naik ke sekitar kawah. Ternyata Budi yang pada skenario akan stand by di P70 tidak tahan ingin ikut menemani saya, yang saat itu masih di P68 (timur).


Sampai di titik tujuan 1 (prisma akrasi P68) peralatan dan perbekalan di bongkar, saat itu suasana masih sangat hening setelah matahari terbit.



Pengamatan rinci di timur prisma akrasi terlihat bahwa didepan yang merupakan bagian lereng atas condong ke selatan membentuk suatu daerah depresi, bahkan pada batas depan berkemang palung atau parit yang diisi air. Sebagai indikasi suatu proses deformasi yang umum pada rezim kompresif

Pada batas timur dari tubuh prisma akrasi dengan palung sempit di bagian depat, dipotong oleh struktur patahan geser yang relatif tegaklurus (timurlaut-baratdaya).

Zoom batas timur Prisma Akrasi yang dipotong oleh Patahan Geser. Perhatikan bagian lereng bawah yang condong ke arah prisma akrasi. Dan pada deformasi paling depan (deformation front) terlihat bagian lereng bawah yang terangkat membentuk akrasi.

Budi berdiri di depan Patahan Geser yang baru aktif beberapa hari ini (pada ekspedisi sebelumnya belum berkembang), merupakan batas timur dari perkembangan prisma akrasi P68-T.

Sangat jelas bahwa Patahan geser memotong tumbuh prisma akrasi.


Pandangan ke arah Lereng Atas dan Kawah Luar memperlihatkan permukaan lumpur disusun oleh seri punggungan radial yang dibatasi oleh daerah depresi (palung).


Hamparan Prisma Akrasi P68 yang ekspansi ke utara, dan meluas ke arah barat, telah menutup hulu Kali P68-T, sehingga Kali P68 telah dinyatakan mati.


Pandangan dari arah timur memperlihatkan tubuh prisma akrasi telah menutup hulu Kali P68, terjadi akumulasi air yang terperangkap pada daerah depresi, selanjutnya mengalir ke barat, akan bersatu dengan hulu Kali P68-Barat.


Langkah demi langkah menjelajah ke selatan, masuk ke bagian Lereng Atas, ke arah Lereng Bawah. Terlihat akumulasi air lebih dominan ke arah barat. Catatan selama ini Ekspedisi Gunung Lusi terutama menjelajah batas Lereng Atas-Bawah. Lereng atas selalu dicirikan oleh lumpur yang lunak, basah, sehingga tidak bisa/layak diinjak.


Maju terus ke selatan melalui lumpur yang dibeberapa tempat masih lunak, sambil memperhatikan Patahan yang baru berkembang. Budi di belakang berjalan sambil mengabadikan penjelajahan sebagai tonggak sejarah, upaya mendekati Kawah Luar di sektor utara.


Saya dan Budi akhirnya sudah berhasil memecahkan rekor baru, mengikuti sungai kecil (Hulu P68-B) pada bagian Lereng Atas, menuju hulu di Kawah Luar (outter crater).


Aliran Hulu Kali P68-B du bagian Lereng Atas.


Pandangan dari selatan (Lereng Atas) pada muara kali P68-B di belakang tubuh prisma akrasi arah timur-barat.


Panorama yang sangat spektakuler di batas Kawah Luar dan Lusi Sulung, hulu sungai berbelok-belok, dangkal, berkembang pada lumpur yang lunak.



Panorama yang menakjubkan makin mendekati batas Lereng Atas dan Kawah Luar, dikejauhan terlihat hulu sungai dan Semburan Sulung.


Inilah pertama kalinya berhasil mengabadikan secara lebih dekat dan jelas batas Kawah Luar (dicirikan oleh hamparan tinggian radial ditutupi air dan pita punggungan radial), disebelah selatan adalah semburan uap dari Lusi Sulung.


Rekaman pemecahan rekor BPLS, mencapai lokasi terdekat pada Kawah Luar, dan masuk jauh ke zona Lereng Atas. Sejak pada Agustus 2010 berhasil menancapkan Bendera Merah Putih di zona P43,


Hulu sungai di batas Lereng Atas (utara) dan Kawah Luar (selatan), batas keduanya merupakan morpho-struktur (punggungan radial), sedangkan permukaan keduanya relatif datar. Mendukung bahwa morfologi Lusi saat ini didominasi oleh tipe perisai (tameng) dimana pada bagian Lereng Bawah bagian atas, Lereng Atas dan Kawah Luar relatif dengan gradien topografi yang kecil (datar).


Aliran hulu Kali P68-T di bagian Lereng Atas bagian atas (selatan), berkembang pada lumpur yang relatif lunak mulai mengering.


Berpose sejenak sebagai rekaman dokumentasi Pemecahan Rekor Ekspedisi ke Gunung Lusi, pada bagian selatan hulu Kali P68 di Lereng Atas, dekat dengan batas punggungan radial dari Kawah Luar.


Budi mengukuhkan Pemecahan Rekor menjelajah Lereng Atas, berdiri di atas lumpur lunak didepannya ada rembesaran lumpur (pool), di selatannya hulu Kali P68-B, Kawah Luar (bagian sayap utara Lusi mud volcano) dan Semburan uap Lusi Sulung.


Zoom Batas Kawah Luar dan Lereng Atas, dan hulu dari P68-B.



Rembesan ‘pool’ yang berkembang di lumpur lunak bagian Lereng Atas.


Kali P68-B di bagian Lereng Atas, menglami runtuhan, karena dinding sungai merupakan lumpur yang masih lunak.


Panorama yang mempesona di Lereng Atas Gunung Lusi, meander Kali P68-B, aliran sungai melalui tubuh punggungan lumpur yng lebih padu.


Akhir penjelajahan di Lereng Atas, Gunung Lusi sayap utara. Siap ke Barat.


SELANJUTNYA BAGIAN II;

EKSPANSI PRISMA AKRASI DI BATAS LERENG ATAS-BAWAH SEKTOR P69-70

Comments