CONTROVERSY‎ > ‎

RINGKASAN




WAR-GAME DEBAT LUPSI PADA FORUM INTERNASIONAL AAPG                           DI CAPE TOWN, AFRIKA SELATAN

 

PETA JALAN LUPSI:

DARI SIDOARJO KE CAPE TOWN


POKOK-POKOK BAHASAN

  • ·        Latar Belakang
  • ·        Potret Kubu Gempa dan Kubu Pemboran saat ini
  • ·        Alur Pikir utama Debat Lupsi
  • ·        Konsep Rancangan (design concept)
  • ·        Skenario Solusi dalam Alur Pikir
  • ·        Isu Kritis sebagai Medan Pertempuran Debat Lupsi
  • ·        Simulasi War-game dari Kubu Pemboran
  • ·        Simulasi War-game Kubu Gempa
  • ·        Simulasi War-game Kubu Deformasi
  • ·        Korelasi dari Kubu Deformasi terhadap Kubu Gempa?
  • ·        Rincian Analisis posisi kedudukan masing-masing Kubu sebelum Debat Lupsi di forum Internasional AAPG
  • ·        Evaluasi terhadap pandangan apakah semburan Lupsi dapat dihentikan:
  • ·        Kesimpulan Penting:
  • ·        Saran-saran Utama terkait War-game:

WAR-GAME DEBAT LUPSI PADA FORUM INTERNASIONAL AAPG                           DI CAPE TOWN, AFRIKA SELATAN

 

PETA JALAN LUPSI:

DARI SIDOARJO KE CAPE TOWN


Latar Belakang

Gambar 1. Skematik diagram aktualisasi Penanggulangan Lumpur Panas Sidoarjo (Lupsi) terdiri dari tiga komponen: (1) Pengendali mekanisme bencana Lupsi (kiri), (2) dampak yang terjadi (tengah) dan (3) penanggulangan Lupsi.

Semburan Lumpur Panas Sidoarjo (selanjutnya disebut LUPSI) telah memasuki durasi bulan ke 28 sejak terjadinya awal semburan pada tanggal 29 Mei 2006. Saat ini semburan aktif (active eruption) masih terus berlanjut dengan kecepatan semburan (flow rate) rata-rata sekitar 100.000 m3/hari, temperatur di permukaan kawah (surface crater) sekitar 100o/C (Gambar 1).

Gambar 2: Dutabesar Kerajaan Inggris meninjau lapangan Lupsi, sangat terpesona dengan dahsyatnya semburan Lupsi dan memberikan apresiasi terhadap langkah dan upaya Penanggulangannya.

Pasca HUT Lupsi yang kedua, tanggal 28 Mei 2008 perhatian (concern) dari berbagai kalangan di dalam dan di luar negeri kembali meningkat sangat signifikan.

Perhatian masyarakat internasional terhadap Bencana Lupsi terus berlanjut, sebagai contoh aktual Dutabesar Kerajaan Inggris untuk Indonesia telah berkunjung ke lapangan termasuk ke Pusat Semburan (Gambar 2). Sebagai kesan dari kunjungan ini disampaikan bahwa ‘Ternyata semburan Lupsi yang langsung di lihat demikian dahsyat daripada yang diperlihatkan pada media masa, disamping itu Dutabesar juga telah menyaksikan secara langsung upaya-upaya nyata yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia (dalam hal ini Bapel BPLS) maupun Lapindo’. 

Gambar 3: Mud volcano Lusi sebagai salah satu fenomena alam semesta yang unik dibandingkan dengan pendaratan peralatan buatan manusia pada salah satu  kaldera di Planet Mars.

 

Isu aktual Lupsi yang menjadi daya pikat tersebut terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu:

1)     Misteri dibalik asal usulnya (origin) yang hingga kini masih menyelimutinya (Gambar 3);

2)     Penyebab (causing) dan pemicu (triggering) sejak kelahirannya hingga sekarang, masih terus menjadi hal kontroversi, Akhir-akhir ini intensitasnya meningkat dengan pesat. Sehingga hal tersebut menjadi inspirasi untuk menggelar Debat Internasional tentang penyebab dan pemicu Lupsi pada forum AAPG, 28 Oktober 2008 di Afrika Selatan; dan

3)     Bencana (disaster) yang ditimbulkan Lupsi bergerak secara perlahan (slow motion disastrous), seiring dampak sosial kemasyarakatan, lingkungan, dan infrastruktur yang terus berkembang.

War-game Debat Lupsi pada Forum Internasional American Association Petroleum Geologist (AAPG), di Cape Town, Afrika Selatan disusun dalam rangka proses monitoring, evaluasi, dan analisis terhadap wacana dan persepsi Lupsi yang berkembang dalam lingkup lokal (di sekitar Peta Area Terdampak), nasional, dan internasional. Guna mengantisipasi hal-hal yang mungkin berimplikasi negatif terhadap tatanan dan sistem Penanggulangan Lumpur Sidoarjo saat ini (gambar 4 dan 5).

Gambar 4: Peta perjalanan (Road Map) dari Yogyakarta ke Sidoarjo menyelimuti Misteri apakah Lupsi dipicu oleh Gempabumi Yogyakarta 27 Mei 2006 atau kegiatan pemboran sumur BJP-1.

Artikel utama dari para ahli kebumian (the Earth scientists) dan ahli pemboran perminyakan (the Petroleum expert) tentang Lupsi yang dipublikasikan di berbagai media akademik, professional tingkat internasional, dan disebarluaskan di cyber net, telah digunakan sebagai alat bantu yang bermakna (significant tool) untuk melakukan suatu War-game. Dengan menerapkan suatu pendekatan kajian bersifat komprehensif, integral dan holistik (comprehensive, integral and holistic approaches) terhadap isu aktual berdimensi strategis.

Makna dari suatu War-Game adalah simulasi sampai perkiraan keadaan dengan berbagai skenario terhadap ‘pertempuran’ konsep dan fakta yang dipertahankan oleh dua Kubu. Yang terlibat langsung pada kontroversi penyebab dan pemicu Lupsi yaitu Kubu Gempa (menganut Lupsi di picu gempabumi Yogyakarta), dan Kubu Pemboran (menganut Lupsi sebagai underground blow out).

Potret Kubu Gempa dan Kubu Pemboran saat ini

Potret terhadap Kontroversi Kubu Gempa dan Kubu Pemboran yang berkembang saat ini menunjukkan bahwa:

Kubu Pemboran telah melaksanakan sosialiasi dengan gencar (Gambar 6) untuk membangun wacana yang ditujukan pada berbagai lapisan sasaran (multi target).


Gambar 6. Contoh talkshow sosialisasi mengenai Lupsi yang gencar dan sistematis dilaksanakan oleh Kubu Pemboran, antara lain dengan judul yang menjurus yaitu Scientists say human error behind monster mud flow. Menampilkan Narasumber: Mark Tengay (Australia), Michael Mangan,   dan (USA) Robert Davies (UK),  


Namun sebaliknya, Kubu Gempa terkesan statis,

·        Hal tersebut telah memicu terjadinya trial by the press (pengadilan oleh media massa) dan dengan guilty by press, seolah-olah dipersepsikan Kubu Gempa (semburan Lupsi dipicu oleh gempabumi Yogyakarta) yang bersalah.

·        Sehingga War-game pra-Debat di AAPG, diasumsikan Kubu Pemboran akan lebih bersifat menyerang (offensive), sedangkan Kubu Gempa akan lebih bersifat mempertahankan diri (deffensive).

Alur Pikir utama Debat Lupsi 

 Gambar 7: Alur Pikir Utama War-Game Debat Lupsi, memperlihatkan rasionalisasi, pengelompokkan Kubu dan hasil terkait baseline upaya Penanggulangan Lupsi ke depan.

 

Alur Pikir utama yang dikembangkan adalah:

Ø        Sampai durasi bulan ke 28 semburan Lupsi masih berlangsung dengan dahsyat dan belum ada tanda-tanda yang signifikan bahwa semburan akan berhenti (Gambar 1). Sehingga masih berpotensi menimbulkan potensi ancaman terhadap keselamatan bagi masyarakat yang ada di sekitarnya Bencana Lupsi.

Ø        Sejak kelahirannya pada 29 Mei 2006, asal usul Lupsi sebagai suatu mud volcano masih diselimuti misteri (Gambar 3), dikaitkan dengan penyebab dan pemicunya. Kejelasan terhadap penyebab dan pemicu Lupsi diperlukan sebagai knowledge terhadap upaya Penanggulangan semburan Lupsi (menghentikan atau memperkecil flow rate).

Ø        Kristaliasi terhadap 2 alternatif hipotesis penyebab Lupsi adalah (Gambar 4 dan 7): 1) Gempabumi Yogyakarta 27 Mei 2006, dan 2) Pemboran sumur BJP-1 yang mengakibakan terjadinya Underground Blow Out (UGBO).

Ø        Mencermati demikian antusiasnya perhatian publik terhadap fenomena mud volcano Lupsi, disamping bencana yang ditimbulkannya telah merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat disekitarnya, termasuk korban meninggal dunia. Sehingga para pimpinan AAPG telah tergerak jiwa profesionalismenya, selanjutnya merencanakan untuk melaksanakan forum Debat dengan mengangkat tema mud volcano Lusi: dipicu gempabumi atau pemboran. Pada pertemuan internasioal 28 Oktober 2008 di Cape Town, Afrika Selatan (Gambar 5). Mekanisme debat Lupsi akan mempertemukan secara head to head antara 2 Kubu, yaitu: Kubu Gempa, dan Kubu Pemboran. Sedangkan pasca Debat tersebut  ditampilkan presentasi dari  aspek deformasi geologi (geological deformation) sebagai dampak berganda semburan Lupsi, disebut sebagai Kubu Deformasi.

Ø        Kemanfaatan lainnya yang diharapkan adalah dapat ditengkapnya knowledge dan pemikiran inovatif dan kreatif lainnya yang berhubungan lansung atau tidak dengan misi nasional (national mission) Penanggulangan Lumpur Sidarjo, adalah (Gambar 1): 1) Apakah Lupsi bisa berhenti/ tidak?; 2) berapa lama waktu hidup (life time)?; 3) Bila bisa dihentikan teknologi apa yang tepat guna?; 4) Bila tidak bisa dihentikan, skenario pengendalian semburan dan luapan yang bagaimana untuk mengantisipasi dinamika aktual, dimana saat ini kawah Lupsi terus tenggelam membentuk  suatu kaldera (daerah depresi) Lupsi  yang luas.

Konsep Rancangan (design concept)

 Theme 2: Lusi Mud Volcano: Earthquake Or Drilling Trigger

Chair: J. Gluyas

  • 13:45 Introductory Remarks
  • 13:50 A. Mazzini, H. Svensen, S. Planke, G. Akhmanov: Causes and Triggers of the Lusi Mud Volcano, Indonesia
  • 14:10 B. P. Istadi: East Java Mud Volcano (Lusi): Drilling Facts and Analysis
  • 14:30 M. Tingay, O. Heidbach, R. Davies, R. Swarbrick: The Lusi Mud Eruption of East Java
  • 14:50 R. Davies, M. Brumm, M. Manga, R. Swarbrick, R. Rubiandini, and M. Tingay: The East Java Mud Volcano (2006 to Present): An Earthquake or Drilling Trigger?
  • 15:10 H. Z. Abidin, R. Davies, M. A. Kusuma, P. Sumintadiredja, H. Andreas, M. Gamal: Deformation Due to Eruption of a Mud Volcano: The Lusi Mud Volcano (2006-Present), East Java

Gambar 8:  Ringkasan Sesi Teknis Debat Lupsi di Pertemuan Internasional AAPG di Afrika Selatan pada Theme 2: Lusi Mud Volcano: Earthquake Or Drilling Trigger

 

Konsep rancangan (design concept) yang telah ditetapkan oleh AAPG agar kontroversi penyebab dan pemicu Lupsi dapat ditelaah secara professional dan tidak memihak adalah:

1)     Menampilkan masing-masing dua pembicara yang merepresentasikan substansi utama kontroversi (penulis sebut sebagai Kubu) yaitu gempabumi versus pemboran (underground blow out). Untuk memperlihatkan dampak berganda dari semburan Lupsi akan ditampilkan satu pembicara yang merepresentasikan deformasi geologi atau geohazard saat ini yang ditimbulkan oleh semburan dan genangan lupsi;

2)     Kubu Gempa menampilkan dua panelis A. Mazzini (Norwegia) dan B. Istadi (Indonesia), Kubu Pemboran menampilkan panelis R. Davies (UK) dan M. Tingay (Australia); dan

3)     Kubu Deformasi akan menampilkan panelis H. Abidin (Indonesia), setelah sesi debat dari 2 Kubu tersebut.

Gambar 9: Skemetik Alur Pikir presentasi dari Kubu Gempa, disebelah kiri A. Mazzini dkk., Sebelah kanan B. Istadi.

Skenario Solusi dalam Alur Pikir



Gambar 10: Alur Pikir War-Gama sampai Skenario Solusi (output)

 

Bila alur pikir umum war-game dikembangkan lebih lanjut maka perkiraan keadaan sebagai peta jalan menuju solusi yang mungkin terjadi adalah: 3 Skenario  Solusi:

1)       Skenario-1 Tidak diambil keputusan, diasumsikan forum AAPG hanya sampai pada pendalaman terhadap rasionalisasi serta pokok-pokok kontroversi dari dua Kubu (Gempa dan Pemboran) ditambah satu kondisi deformasi geologi (geohazard) sebagai dampak dari semburan Lupsi yang diperdebatkan tersebut;

2)       Skenario-2 diambil keputusan, forum melangkah lebih lanjut atau seolah-olah menghakimi kontroversi diantara kedua Kubu. Selanjutnya sesuai kriteria yang ditentukan, memutuskan memilih salah satu kubu yang dinilai lebih rasional. Terhadap skenario-2 ini, di satu sisi bisa mengakhiri kontroversi yang berkepanjangan. Namun di sisi lain dapat memberikan implikasi terhadap proses hukum yang sedang berjalan serta kebijakan nasional Penanggulangan Lupsi berdasarkan Perpres 14/2007 dan Perpres 48/2008 (Gambar 11);

Gambar 11. Diagram alur pikir Perpes 48/2008 tentang perubahan Perpres 14/2007 tentang BPLS, khususnya Pasal 15 (1-5) yang mengatur pembagian tanggungjawab (pembiayaan dan pelaksanaan) antara Pemerintah dan Lapindo.

 

1)       Skenario-3 Kombinasi, lebih mengambil titik kritis substansi yang belum dapat dipertemukan, dan mengambil keputusan untuk membentuk tim kecil untuk ditindaklanjuti pada pertemuan-pertemuan lebih teknis ke depan.

Isu Kritis sebagai Medan Pertempuran Debat Lupsi

Pada medan pertempuran (battle field) Debat Lupsi secara head to head diantara Kubu Gempa dan Kubu Pemboran akan terjadi penyerangan (offence) dan pertahanan (defense) terhadap sekurang-kurangnya terhadap 10 (sepuluh) isu aktual dan kritis utama (main actual and critical issues), yaitu:

Gambar 12. Diagram indikator gembabumi Yogyakarta 27 Mei 2008 dalam kaitan alternatif pemicu Lupsi yang akan digunakan oleh Kubu Gempa, sekaligus akan mendapatkan ujian dari Kubu Pemboran.

Gambar 13. Memperlihatkan salah satu Isu Kritis yang akan diperdebatkan apakah kemungkinan Erupsi Lupsi mencapai puncak flow rate 180.000 m3/h, atau rata-rata 100.000m/dt berhubungan dengan kegiatan pemboran sumur eksplorasi BJP-1 (Sumber Istadi 2007).


Gambar 14. Fakta geologi-tektonik antara lain Sistem Patahan Watukosek, pelengkungan rel kereta api dan struktur diapirism dan patahan di lokasi BJP-1 dari penafsiran seismic, diadobsi dari Mazzini dkk., 2007, dipresentasiksn Prasetyo (2008) membedah buku Basuki (2008).

 

  1. Gempa bumi Yogyakarta 27 Mei 2006: kekuatan, lokasi pusat gempa apakah energinya cukup kuat sebagai pengendali utama (main driven) memicu semburan Lupsi (Gambar 12).
  2. Apakah dapat disimpulkan alternatif-1  terjadinya Underground  Blow Out yang menjurus pada pembentukan man made mud volcano atau alternatif-2 tidak terjadi (Gambar 13), sehingga menjurus pada natural phenomena mud volcano?
  3. Waktu kejadian (Time frame) reaktifasi Patahan Watukosek dengan alternatif paska terjadinya gempa bumi Yogyakarta 27 Mei 2006, atau empat bulan pasca terjadinya awal semburan Lupsi bersamaan dengan fenomena pembelokan rel kereta api (Gambar 14).
  4.  Apakah Formasi Kujung ditembus oleh BJP-1 atau tidak (Gambar 15), sehingga memegang peran penting (key role) sebagai penghubung langsung (direct connection) antara daerah sumber air dan gas (water & gas source area) dengan sumber lumpur (mud sources) yang telah dikonfirmasikan kedua Kubu yaitu dari Formasi Kalibeng Atas (Upper Kalibeng Formation)?.
  5. 5. Apakah sumber air formation (water formation) berasal dari transformasi mineral lempung (clay mineral transformation) di dalam Formasi Kalibeng dengan campuran berasal dari air permukaan (meteorit water), atau air dan gas terutama berasal dari akuifer yang sangat baik yaitu batugamping terumbu (reefal limestone) Formasi Kujung.
  6.  Apakah rekahan (fracture) yang berperan sebagai pendahulu saluran (conduit pioneer) mud volcano Lupsi, telah dipicu oleh reaktivasi struktur (structural reactivation) yang telah ada, yaitu Sistem Patahan Watukosek (Watukosek Fault System), atau disebabkan oleh rekahan hidrolika (hydraulic fractures) disebabkan oleh masalah pada kegiatan pemboran BJP-1 (UGBO) (Gambar 15)
  7. Apakah tidak dipasangnya selubung pipa (casing) pada lapisan di bagian bawah lubang bor (pemboran sampai saat ini diasumsikan menembus/tidak menembus Formasi Kujung) sebagai pengendali penting terjadinya rekahan hidrolika (Gambar 17)?
  8.  Apakah fenomena  Kick yang terjadi, dikombinasikan tidak terpasangnya casing pada pipa bor bagian bawah walaupun telah dapat diatasi selama langkah penyelamatan sumur eksplorasi, dapat menyebabkan terjadinya Underground blow out?
  9.  Apakah data ‘black box’ pemboran dan asumsi nilai tekanan pemboran (Gambar 18) yang diklaim oleh Kubu Pemboran dapat diklarifikasi, baik dari sisi keabsahan sumber data (due diligence), maupun implikasinya pada perhitungan tekanan di lobang bor. Hal ini merupakan hal yang sangat kritis (critical points) dalam pertimbangan sebagai pengendali yang signifikan bocornya Formasi (UGBO).
  10. 10.  dapat keluar dari lubang bor dengan diameter yang relatif kecil. Kelompok Gempa mempertanyakan suatu hal yang melemahkan adanya keterkaitan semburan Lupsi dengan pemboran secara normatif. Dengan rasionalisasi, adalah sangat tidak mungkin debit sebesar itu dapat keluar dari lubang bor yang berukuran sangat/relatif kecil.

Simulasi War-game dari Kubu Pemboran

War-game Kubu Pemboran diringkas sebagai berikut (Gambar 20):

Strategi:

Menyerang bahwa kekuatan Gempabumi Yogyakarta sangat kecil dan lokasi sangat jauh (> 250 km) untuk memicu Lupsi, Mempertahankan  terjadinya Kick yang signifikan memicu terjadinya Underground Blow Out.

Langkah-Langkah konseptual dalam menyerang dan mempertahankan pandangan dan pendirian, yaitu:

  •          Lupsi di picu oleh kesalahan pemboran BJP-1 (Underground Blow Out), Gempa Yogya sangat kecil dan lokasi sangat jauh.
  •          Terdapat gempa lain dalam catatan sejarah gempa yang lebih besar dan lokasi lebih dekat tidak memicu Lupsi atau mud volcano lainnya.
  •          Dalam penampang seismik memotong BJP-1 tidak ada bukti-bukti terdapatnya patahan aktif atau patahan dalam. 
  •          Disetujui keberadaan P. Watukosek, tapi reaktivasi terjadi 4 bulan pasca semburan, bukan pengendali awal semburan.
  •          Yakin bahwa pemboran menembus F. Kujung sebagai akuifer yang baik untuk air dan uap, rekahan hidrolik (hydraulic fractures) terbentuk dan berpropagasi ke permukaan.
  •          Yakin bahwa telah terjadi Kick yang signifikan pasca Lose circulation, akibat tidak terlindungnya sumur dengan casing.
  •          Yakin bahwa asumsi dari perhitungan tekanan membunyai rasio kebenaran yang tinggi dan dapat dipertanggung jawabkan.
  •          Sumber air dan panas tidak harus satu sumber dengan lumpur (Formasi Kalibeng), gas dan air melalui rekahan menembus seperti ‘jet steam’ mengerosi lumpur ke permukaan ‘big hole’ .
  •          Belum ada bukti yang kuat bahwa imbuhan air (water discharge) dan panas berasal dari komplek volkanik.
  •          Terbukti terjadinya UGBO antara lain disebabkan tidak digunakannya casing, tidak cukup kuat Gempa Yogya memicu Lupsi. Sudah lewat waktu untuk mematikan semburan, semburan akan berlangsung lama.

Simulasi War-game Kubu Gempa

War-game Kubu Gempa  diringkas sebagai berikut:

Strategi:

Mempertahankan (defense) bahwa bahwa kekuatan Gempabumi Yogyakarta, (6,3 Mw di pusat gempa dan sekitar 4,0-4,9Mw di stasiun Tretes), dan jeda waktu (time gap) waktu 2 hari saat terjadinya gempa Yogyakarta, dengan terjadinya semburan. Dimana gempa bumi telah memicu energi untuk mereaktivasikan struktur yang telah ada, selanjutnya membentuk rekahan diikuti aliran Lupsi ke permukaan.  Mempertahankan terjadinya lose circulation pasca gempa,  Kick tidak signifikan, pemasangan casing sesuai rencana, dan tidak terjadinya Underground Blow Out.

Kesimpulan penting (important conclussion) dari Kubu Gempa berdasarkan fakta dan hasil studi tidak mendukung hipotesis selama kegiatan pemboran BJP-1 terjadinya Underground Blow Out yang memicu semburan Lupsi, sebagaimana diusulkan oleh Kubu Pemboran.

Langkah-Langkah konseptual dalam Mempertahankan pandangan dan pendirian terhadap serangan dari Kubu Pemboran, yaitu:

           Gempa Yogyakarta 27 Mei, terekam menimbulkan loss di sumur BJP-1 sebagai sumber energy untuk memicu semburan Lupsi;

           Terdapat bukti-bukti ditempat lain bahwa gempa dapat memicu semburan mud volcano, dan tenggang waktu antara kejadian gempa dengan semburan suatu hal yang umum;

           Gempabumi telah mereaktifasikan struktur yang telah ada sistem Patahan Watukosek dan selanjutnya membentuk rekahan, sebagai media keluarnya air, lumpur dan gas dari lapisan bertekanan berlebih (overpressure layer) melalui rekahan berubah menjadi conduit Lupsi di permukaan.

           Tidak setuju bahwa pemboran sumur BJP-1 telah menembus F. Kujung sebagai akuifer yang baik, selanjutnya berperan sebagai media utama untuk mengalirkannya melalui rekahan sambil mengerosi lapisan sumber lumpur di Formasi Kalibeng Atas. Dengan alternatif sumber air dan panas lebih dominan sebagai proses transformasi mineral lempung (cly mineral), dan kemungkinan percampuran dengan sumber air dari lapiasan yang dalam (deep seated).

           Peran gunung Pananggungan sebagai gunung magmatik (magmatic volcanoe), sedikit banyak mempengaruhi temperatur gradient (gradien temperature) yang tinggi, sehingga membentuk pola semburan tipe geyser dengan ciri-ciri sebagai quasy hydrothermal.

           Walaupun terekam terjadinya Lose circulation saat terjadinya gempabumi, dan tidak terpasangnya casing pada lapisan terbawah dari lubang bor. Namun tidak terjadi Kick yang sangat signifikan, dan sepatu pemboran di lapisan paling bawah masih tetap melekat (intake).

           Yakin bahwa asumsi tekanan lubang pemboran (well pressure) yang selama ini digunakan dari Kubu Pemboran, tidak berdasarkan kenyataan data dari kegiatan pemboran di lapangan. Sehingga menimbulkan hasil yang sulit untuk dipertanggungjawabkan.

           Tidak Terbukti terjadinya UGBO.


Simulasi War-game Kubu Deformasi

Isu Kritis:

Apapun penyebab dan pemicunya semburan Lupsi yang berlanjut dengan intensitas ~ 100.000 m3/hari, memberikan implikasi terhadap, deformasi yaitu penurunan dan pengangkatan tanah di pusat semburan dan sekitar PAT.

Langkah demi Langkah

         Tanpa mempersoalkan penyebab dan pemicunya Lupsi merupakan salah satu mud volcano yang paling aktif di dunia (the World’s most active mud volcano).

         Semburan dan Luapan Lupsi telah menimbulkan masalah sosial kemasyarakatan, infrastruktur, lingkungan termasuk kawasan pesisir dan pertambakan.

         Semburan Lupsi yang dahsyat dan berlanjut telah menyebabkan genangan Lupsi yang luas, tebal, pembebanan (loading), dikombinasikan dengan struktur geologi yang telah ada (existing structural) menimbulkan dampak berganda geohazard.

         Subsidence di sekitar pusat semburan sebagai implikasi langsung pembebanan Lupsi dan struktur runtuhan (collapse structure).

         Subsidence di daerah barat disebabkan kombinasi pembebanan (loading) Lupsi dan deplesi (depletion) lapangan gas Wunut pasca semburan. Daerah penangkatan (uplift) di timurlaut Pusat Semburan dikendalikan oleh mekanisme pergerakan Patahan Watukosek.

         Perhitungan subsidence vertikal dengan kecepatan 0,01-4 cm/hari dan sudden collapse 3 m/satu malam, untuk 3-10 tahun total 44-150m.

         Pembelokan rel kereta api, dipicu reaktivasi Patahan Watukosek, dan fenomena uplift di timurlaut pusat semburan ditentukan terjadi 4 bulan pasca semburan. Sehingga secara tidak langsung menyanggah Kubu Gempa, yang menentukan sistem Patahan Watukosek diaktifkan kembali pasca gempabumi Yogyakarta.

         Peningkatan subsidence horizontal dan vertikal ke barat laut menunjukkan arah sumber semburan berada dekat dari lokasi BJP-1.

         Patahan normal turun ke bawah (downthrough normal fault) menyebabkan collapse kawah Lupsi menjadi suatu depresi Kaldera.

Out come

Selama terjadi semburan Lupsi akan menimbulkan efek pembebanan, erosi batuan penutup, patahan ke bawah big hole, membentuk kaldera yang luas dan subsidence di sekitarnya.

Korelasi dari Kubu Deformasi terhadap Kubu Gempa?

Pada artikel terbaru H. Abidin (2008) berkolaborasi dengan R. Davies (co-Author), sehingga secara tidak langsung diasumsikan Kubu Deformasi mempunyai pola pikir atau landasan konsepsi yang sama dengan Kubu Pemboran, hanya kajiannya difokuskan pada deformasi geologi (subsidence dan uplift) sebagai dampak semburan Lumpsi.

Dari analisis War-Game Alur Pikir Kubu Deformasi, maka 3 (tiga) fakta yang akan melemahkan posisi Kubu Gempa yaitu:

1)     Disimpulkan bahwa pergerakan reaktifasi sistem Patahan Watukosek, sebagaimana yang bertanggungjawab menimbulkan pengangkatan di timurlaut pusat semburan. Namun, waktu kejadiannya sekitar 4 bulan dari saat kelahiran semburan Lupsi. Sehingga secara tidak langsung menyanggah bahwa sistem Patahan Watukosek tidak direaktifkan saat terjadinya gempa 27 Mei 2006. Selanjutnya membentuk rekahan rapture baru, terus berpropagasi ke permukaan.

 

Korelasi dari Kubu Deformasi terhadap Kubu Gempa?

Pada artikel terbaru H. Abidin (2008) berkolaborasi dengan R. Davies (co-Author), sehingga secara tidak langsung diasumsikan Kubu Deformasi mempunyai pola pikir atau landasan konsepsi yang sama dengan Kubu Pemboran, hanya kajiannya difokuskan pada deformasi geologi (subsidence dan uplift) sebagai dampak semburan Lumpsi.

Dari analisis War-Game Alur Pikir Kubu Deformasi, maka 3 (tiga) fakta yang akan melemahkan posisi Kubu Gempa yaitu:

1)     Disimpulkan bahwa pergerakan reaktifasi sistem Patahan Watukosek, sebagaimana yang bertanggungjawab menimbulkan pengangkatan di timurlaut pusat semburan. Namun, waktu kejadiannya sekitar 4 bulan dari saat kelahiran semburan Lupsi. Sehingga secara tidak langsung menyanggah bahwa sistem Patahan Watukosek tidak direaktifkan saat terjadinya gempa 27 Mei 2006. Selanjutnya membentuk rekahan rapture baru, terus berpropagasi ke permukaan.

 

 

Gambar 25: Bagian penting dari paparan Kubu Deformasi yang mempunyai pengaruh khususnya pada Kubu Gempa, dimodifikasi dan diintegrasikan dari Abidin. H. Dkk., (2008).

 

2)     Analisis pergerakan lateral dan vertikal memperlihatkan bahwa intensitas subsidence yang paling dominan 200-300 m kearah barat laut dari Pusat Semburan, dipicu oleh optimalnya proses erosi sumber lumpur, dan lokasi dimaksud dekat dari lokasi sumur Banjar Panji-1. Sehingga secara konseptual, seolah-oleh Lupsi ke luar dari sumber lumpur yang berada di bawah lokasi sumur BJP-1, sesuai dengan fenomena underground blowout.

3)     Penampang geologi memotong pusat semburan Lupsi (Gambar 25) memperlihatkan bahwa semburan keluar dari bawah sumur Banjar Panji-1, hal ini sebagaimana disimpulkan oleh Davies et al., (2008),

Rincian Analis posisi kedudukan masing-masing Kubu sebelum Debat Lupsi di forum Internasional AAPG

 

 

Gambar 26. Sosialisasi Pertemuan Internasional AAPG 2008, yang akan mengadakan acara Debat Lupsi: Earthquake or Drilling Triggers.

 

Indikator Sosalisasi dan membangun Wacana Publik

Matrik memperlihatkan Indikator, dan posisi Kubu Gempa dan Kubu Pemboran: 1) publikasi, 2) persepsi dan wacana public yang muncul alami dan terbangun, 3) Posisi pada debat di forum AAPG, dan 4) implikasi skenario kebijakan.


Indikator

Kubu Gempa

Kubu Pemboran

1.   Publikasi

Terbatas, terutama tahun 2007, konvensional (hanya paper ilmiah)

Lebih banyak, sampai tahun 2008, menggunakan berbagai media massa secara popular, integral dan berkalanjutan

2.   Persepsi publik baik alami atau dibangun

Ø    Seolah-olah dihakimi oleh media massa bersalah;

Ø    Seolah-oleh mempunyai perlihdungan hukum dan politik;

Ø    Seolah-oleh masih kurang optimal dalam melakukan penanganan sosial kemasyarakatan;

Ø    Cenderung dibenturkan dengan korban Lupsi.

Ø    Lebih tersosialisasikan;

Ø    Mengakomodasikan gerakan moral ‘Gerakan Penutupan Semburan Lusi’;

Ø    Pada artikel terbaru (2008) dibumbui tingkat kepercayaan yang tinggi (highly confidence) bahwa Lupsi dipicu oleh Underground blow out dan bukan gempa bumi.

 

Posisi pada Debat Lupsi di AAPG 2008

Ø    Telah dihakimi media massa bahwa Kubu Gempa seolah-olah bersalah (guilty by the press);

Ø    Akan menjadi pihak yang diserang dan memposisikan diri mempertahankan (defensive);

Ø    Punya beban psikologi cukup berat karena menghadapi persepsi public yang terbangun seolah-olah Kubu Gempa bersalah.

Ø    Akan merasa menang di atas angin sebelum bertempur karena telah berhasil membangun wacana dan persepsi publik, seolah-olah Kubu Gempa (Lapindo bersalah);

Ø    Efek psikologis, tidak ada beban dan nothing to loose;

Ø    Akan menggunakan senjata pamungkas dari hasil kajian baru oleh Tingay dan Manga bahwa ternyata Gempa Yogya tidak cukup kuat dan lokasinya terlalu jauh untuk dapat memicu semburan Lupsi;

Ø    Menggunakan data dan knowledge baru pemboran BJP-1 (bergabungnya R. Rubiandini) bahwa terjadi Kick dan underground blow out.

Implikasi Kebijakan Pemilihan Skenario

Kubu Gempa Terpilih/Unggul:

Ø     Bencana Lupsi merupakan fenomena alam;

Ø     Lupsi sebagai mud volcano disebabkan oleh fenomena alam dan dipicu oleh gempabumi;

Ø     Lapindo tidak bertanggung jawab terhadap Bencana Lupsi;

Ø     Pemerintah didorong untuk menetapkan Lupsi sebagai Bencana Alam;

Ø     Perpres 14/2007 dan Perpres 48/2008 harus direvisi;

Ø     Pemerintah harus melanjutkan mengambil alih Upaya Penanggulangan Semburan dan Penanganan Luapan Lupsi dari Pusat Semburan ke Kali Porong dan dari K. Porong membawa ke tempat pembuangan akhir di Laut.

 

Kubu Pemboran terpilih/lebih unggul:

Ø     Bencana Lupsi bukan fenomena alam tapi UGBO;

Ø     Lupsi sebagai man made mud volcano;

Ø     Lapindo bertanggung jawab keseluruhan Penanggulangan;

Ø     Bencana ‘industri’  termasuk: upaya semburan dan luapan Lupsi, sosial kemasyarakatan dan infrastruktur di dalam PAT!

Ø     Skenario terburuk Lapindo harus bertanggung jawab juga di luar PAT;

Ø     Konsekuensi harus ada perubahan Perpres 14/07 dan Perpres 48/2008.

 

Asummsi:

Bila Forum Debat Lupsi di AAPG mengambil luaran opsi ke 2 yaitu diambil keputusan dan pemilihan terhadap Kubu Gempa atau Kubu Pemboran, walaupun merupakan de facto dan bukan de jure, namun akan mempengaruhi tekanan Internasional (Komisi HAM) dan nasional (LSM, Parpol, DPR, dll.,) kepada Pemerintah, dan proses pengadilan di Jawa Timur. Yang pada akhirnya bisa sebagai pengendali bagi Pemerintah untuk merevisi dan atau mengaktualisasikan kebijkan nasional yang telah berlaku selama ini.

Evaluasi terhadap pandangan apakah semburan Lupsi dapat dihentikan:

War-game Lupsi juga menangkap pernyataan terkait penanganan semburan Lupsi kedepan, sebagai berikut:

1)     Davies (2008) sebagai Pemimpin (Kubu Pemboran) walaupun sangat menggebu-gebu atau sangat agresif untuk menyerang Kubu Gempa, namun ia realistis bahwa waktunya telah usai untuk menghentikan semburan. Semburan Lupsi akan berlangsung puluhan, bahkan ratusan tahun ke depan;

2)     Tingway, juga memposisikan diri seperti Davies, ia realistis bahwa semburan Lupsi tidak dapat diakhiri dalam waktu dekat ini. Ia memberikan analogi, bahwa mud volcano di lepas pantai Brunei (Champion Field) yang disebabkan oleh underground blowout, memerlukan waktu dua puluh tahunan untuk menghentikannya dengang menggunakan 23 Relief Well.

Kesimpulan Penting:

 

Gambar 27: Perbedaan hasil perhitungan tekanan yang merupakan salah satu kontroversi aspek operasi pemboran BJP1.

 

1.       Debat mud volcano Lupsi di forum internasional AAPG dirancang dengan memperhatikan bahwa kontroversi tentang penyebab (causing) dan pemicu (triggering) Lupsi yang berlangsung sejak dilahirkannya 29 Mei 2006, sampai sekarang di Indonesia sendiri belum bisa mengkristal, bahkan terkesan semakin mengemuka.

2.       Kepastian tentang penyebab dan pemicu Lupsi menjadi bagian penting sebagai landasan knowledge dan konsep rancangan upaya Penanggulangan semburan Lupsi ke depan.

3.       Simulasi War game terhadap 3 Kubu menunjukkan bahwa Kubu Gempa mengalami tekanan psikologi sebelum bertempur (psychologic aspect before the war), karena diwacanakan seolah-olah oleh media massa mereka telah bersalah. Sebagai implikasi pemahaman publik yang terbangun dan menjadi lebih populer adalah  Lupsi dipicu underground blow out.

4.       Kubu Deformasi (Abidin, H. Davies., dkk.,) walaupun tidak secara  head to head berhadapan dengan Kubu Gempa, namun tiga indikator dari pendapatnya yaitu: 1) time frame reaktivasi patahan Watukosek, 2) meningkatnya percepatan intensitas penurunan (subsidence intensity)  ke arah sekitar lokasi Sumur BJP-1, dan 3) penampang model geologi bahwa Lupsi keluar dari bawah Sumur BJP-1. Menjadikan indikator bahwa serangan Kubu Pemboran pada kubu Gempa secara langsung atau tidak akan diperkuat oleh Kubu Deformasi  akan sangat dahsyat. Baik untuk mematahkan konsep pengendali mekanisme gempabumi, atau memperkuat bukti baru bahwa Lupsi merupakan man made volcano yang dipicu oleh underground blowout.

5.  Pertempuraan yang sangat relevan di forum AAPG adalah penggunaan asumsi dan data tekanan pemboran, yang selama ini menjadi titik perbedaan pandangan atau pemicu kontroversi yang sulit dipertemukan (Gambar 27).

6.  Bila Skenario-2 yaitu forum AAPG memutuskan atau memilih salah satu Kubu akan diambil, walaupun hal tersebut bersifat de facto dan bukan de jure. Namun pilihan atau keputusan tersebut bisa menjadi bola liar (disorder). Sehingga pada skenario terburuk (the worst scenario) sedikit banyak, langsung atau tidak langsung dapat memberikan implikasi yang cukup signifikan baik pada proses hukum yang sedang berlangsung di Jatim. Maupun kebijakan dan implementasi Penanggulangan Lumpur Sidoarjo dilandasi Perpres 14/2007 tentang Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo dan Perpres 48/2008 tentang perubahan Perpres 14/2007.

 

 Saran-saran Utama terkait War-game:

1.       Pemerintah dalam hal ini termasuk BPLS diharapkan dapat melakukan pengamatan langsung (direct monitoring) terhadap pelaksanaan Debat Lupsi di forum internasional AAPG, untuk mendapatkan informasi tangan pertama baik terhadap jalannya perdebatan, maupun hasil-hasil yang dicapai tersebut.

2.      Dengan pra-kondisi yang sangat tidak seimbang terutama pada aspek nonteknis dimana analisis secara komprehensif dan holistik telah memperlihatkan bahwa kondisi psikologis (psychologic condition) yang sangat menguntungkan berada pada Kubu Pemboran (Davies dkk. 2007 dan 2008). Sehingga diharapkan agar terbangun suatu debat antara Kubu Gempa dan Kubu Pemboran dalam titik awal yang setara (apple to apple), dan seimbang, dan terbangun azas keadilan (fair play), maka realitas di atas harus digunakan sebagai early warning pada Kubu Gempa (Mazzini dan Istadi), dkk..

3.       Hasil data informasi dan knowledge dari semua pakar yang terlibat terkait isu apakah semburan Lupsi dapat dihentikan/tidak dan implikasinya, digunakan sebagai baseline untuk penyusunan konsep rancangan (design concept) pengendalian semburan dan luapan Lupsi ke depan.

4.       Dihubungkan dengan realitas bahwa kawah Lupsi telah mengalami perulangan interval ke 3 runtuh total, sehingga saat ini kawah Lupsi di pusat semburan telah tenggelam di bawah kawahnya sendiri dan membentuk suatu daerah kaldera, merupakan topografi depresi yang luas disertai makin meningkatnya deformasi (patahan, rekahan, bubble, grypons). Maka dipandang perlu adanya perubahan paradigma diikuti aktualisasi strategi dan upaya nyata dan pengendalian semburan dan luapan Lupsi ke depan. Dimana sebelumnya diasumsikan bahwa pusat semburan di utara akan dibangun menjadi suatu daerah kawah tipe kerucut (cone crater) dengan elevasi maksimum mencapai 21m dan daerah selatan merupakan daerah depresi, sehingga akan terjadi pengaliran dengan daya dorong adanya perbedaan topografi semburan-intake. Namun, dengan dinamika yang sekarang, maka diperkirakan pusat semburan akan terus mengalalami sag-like subsidence sampai sudden collapse, sehingga cenderung menuju berkembang menjadi suatu daerah kaldera yang luas.

 


 

Theme 2: Lusi Mud Volcano: Earthquake Or Drilling Trigger

 

Chair: J. Gluyas

 

  • 13:45 Introductory Remarks

 

  • 13:50 A. Mazzini, H. Svensen, S. Planke, G. Akhmanov: Causes and Triggers of the Lusi Mud Volcano, Indonesia
  • 14:10 B. P. Istadi: East Java Mud Volcano (Lusi): Drilling Facts and Analysis
  • 14:30 M. Tingay, O. Heidbach, R. Davies, R. Swarbrick: The Lusi Mud Eruption of East Java
  • 14:50 R. Davies, M. Brumm, M. Manga, R. Swarbrick, R. Rubiandini, and M. Tingay: The East Java Mud Volcano (2006 to Present): An Earthquake or Drilling Trigger?
  • 15:10 H. Z. Abidin, R. Davies, M. A. Kusuma, P. Sumintadiredja, H. Andreas, M. Gamal: Deformation Due to Eruption of a Mud Volcano: The Lusi Mud Volcano (2006-Present), East Java

  

12 Artikel dalam KAPETA SELEKTA ARTIKEL KUNCI TERPILIH (SELECTED ARTICLES) TERKAIT DEBAT MUD VOLCANO LUPSI  DI FORUM INTERNASIONAL AAPG 28 OKTOBER 2008, terutama terdiri dari 8 (delapan) artikel utama dari 5 pakar kebumian yang telah ditunjuk AAPG sebagai panelis, sedangkan 4 (empat)  artikel pendukung (complement papers), yaitu:

1.     Lahirnya suatu Mud Volcano (Sejarah dan Dampak dari Bencana Mud Volcano di Jawa Timur) (LUSI-Birth of a Mud Volcano: (History and impact of Mud Volcano disaster in East Java)., Bambang Istadi,  Lapindo Brantas Inc. Juni 2007; Sumber Cybernet:

2.     Pemicu dan Dinamika Evolusi gunung lumpur Sidoarjo (LUSI): (Triggering and dynamic evolution of the LUSI mud volcano, Indonesia): Mazzini, A., Svensen, H., Akhmanov, G.G.,  Aloisi, G., Planke S.,  Malthe-Sørenssen, A., and Istadi, B. Juli 2007.

3.     Mud volcano yang berfluktuatif dan menyerupai hidrotermal pada Lusi, Indonesi (Pulsating and quasi-hydrothermal mud volcanism at LUSI, Indonesia); A. Mazzini, H. Svensen , G.G. Akhmanov , B. Istadi and S. Planke; Geophysical Research Abstracts, Vol. 9, 09677, 2007; SRef-ID: 1607-7962/gra/EGU2007-A-09677; European Geosciences Union 2007.

4.     Mud Volcano Jawa Timur (2006-Sekarang): Dipicu Gempabumi atau Pemboran (The East Java Mud Volcano 2006 to Present: An Earthquake or Drilling Trigger)., Richard J. Davies, Maria Brumm, Michael Manga, Rudi Rubiandini, Richard Swarbrick, and Mark Tingay., 2008.

5.     Lahirnya gunung lumpur: Jawa Timur, 29 Mei 2006 (Birth of a mud volcano: East Java, 29 May 2006)., Richard J. Davies, Richard E. Swarbrickb, Robert J. Evans Mads Huused; GSA Today, 2007.

6.     Pemicu semburan Lusi:  Gempabumi versus inisiasi pemboran (Triggering of the Lusi mud eruption: Earthquake versus drilling initiation)., Mark Tingay, Oliver Heidbach, Richard Davies and Richard Swarbrick., Geology; August 2008; v. 36; no. 8; p. 639-642: DOI:10.1130/G246974A.

7.     Ilmiah dibelakang Luapan Lumpur di Jawa Timur (Lusi): (The Sciences Behind The East Jawa Mud Flow (‘Lusi’): Mark Tingay, The University of Adelaide, Australia., 2007.

8.     Penurunan dan Pengangkatan Sidoarjo (Jawa Timur): Sebagai hasil semburan mud volcano Lusi 2006-Sekarang (Subsidence and uplift of Sidoarjo  (East Java) due to the eruption of the Lusi mud volcano (2006–present)., H. Z. Abidin (&) M. A. Kusuma H. Andreas ., R. J. Davies and Deguchi, 2008.

 

MAKALAH PENDUKUNG SEBAGAI CONTOH NYATA SOSIALISASI DI MEDIA ELEKTRONIS TENGANG LUPSI YANG DIPERSEPSIKAN DIPICU OLEH PEMBORAN SUMUR BANJAR PANJI-1

9.     Perusahaan Pertambangan tampaknya di tuduh untuk penyebab volcano yang mematikan (Mining company 'likely to blame' for deadly volcano).,  Wawancara Siaran ABC, Dengan Dr. Mark Tangay, 2008

10.      Peneliti mengatakan bahwa terjadi kesalahan manusia di belakang setan luapan lumpur (Scientists say human error behind monster mud flow)., Transcript talk show mengenai Lusi di Lokal Radio ABC; dengan narasumber M. Tangay, M. Manga, dan R. Davies., 2008

11.      A Wound in the Earth; Majalah Time, Edisi 28 Februari 2008; By Peter Ritter/Porong.

12.      Wawancara Ilmiah Chris Smith dengan Prof. Davies mencakup mud volcano Lupsi, Tema wawancara pada topik Nature atau fenomena Alam, di dalamnya termasuk mud volcanoes dan gempa bumi di dalam magma http://www. thenakedscientists. com/ HTML/ content/ interviews/ nature/



 

Comments