Pemilik situs

  • Abdul Hajar Limi

Menu Utama

Perjuangan Menuju Mimpi Untuk Sebuah Cita-Cita

Cara Merek Mengapai Mimpi Bagaiakan Diantara Persimpangan


Aku Ingin Tetap Sekolah

diposkan pada tanggal 11 Feb 2012 22.51 oleh Abdul Hajar Limi   [ diperbarui11 Feb 2012 22.51 ]

KBR68H - Di Indonesia, ada 1,7 juta pekerja anak pada 2010. Ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara di dunia dengan jumlah pekerja anak tertinggi di dunia. Salah satu penyebabnya, kemiskinan. Kemiskinan pula yang membuat pendidikan jadi sebatas impian. Heriyanto tak mau begitu. Sempat putus sekolah dan harus bekerja jadi pemulung, tak menyurutkan cita-citanya. Bagaimana perjuangan Heriyanto untuk kembali bersekolah? Reporter KBR68H Rumondang Nainggolan bertemu dengan Heriyanto yang kini melanjutkan sekolah sambil berjualan telur asin.

Heriyanto dan telur asin

Heriyanto tengah mengajarkan cara pembuatan telur asin kepada sejumlah siswa di SMP gratis Ibu Pertiwi, Jakarta. “Pakai abu gosok, garam, lalu pakai air lagi. Lalu telurnya dibalut satu per satu dengan abu gosok, setelah itu didiamkan,” kata Heri.

Heri bukanlah sosok asing di sekolah ini. Ia baru tahun lalu lulus dari SMP gratis Ibu Pertiwi. Heri kini bersekolah di SMK Keluarga Widuri, fokus pada pelajaran tata boga.

Kemampuan Heri membuat telur asin bukan sekadar ilmu di kelas. Ini pula yang mampu membuatnya hidup lebih mandiri. Ia membuat dan menjual telur asin untuk menopang kebutuhan hidup sehari-hari. Sudah hampir dua tahun ini Heri dan adiknya hidup mandiri di sebuah kontrakan. Tak lagi jadi pemulung, seperti orangtua mereka.

Perjuangan

Bersekolah adalah perjuangan bagi Heriyanto. Selepas lulus SD di kampung, ia dijemput orangtuanya untuk tinggal di Jakarta. Dijanjikan bakal sekolah lagi. Tapi karena tak ada biaya, Heri diminta bekerja jadi pemulung. “Kan saya udah beberapa kali nanya sama orang tua, Pak kapan sih saya mau disekolahin SMP? Ntar ya Her ntar katanya. Udah beberapa kali saya nanya dan akhirnya jawaban terakhirnya, ya udah Her kamu bantuin Bapak mulung aja, bantu-bantu orang tua cari uang gitu.”

Heri lantas menjadi pemulung sekitar setahun. Sembari terus menyimpan keinginan untuk sekolah. “Tiap pagi pas mulungkan berangkat pagi kadang malam. Kalau berangkat pagi orang-orang berangkat sekolah, saya cuma berangkat mulung pake gerobak, bawa karung, bawa ganco. Saya juga sering ngeliatin anak-anak pulang sekolah, pergi sekolah, gimana senangnya mereka di perjalanan.”

Sampai akhirnya ia bertemu Ade Pujiati. Saat itu Ade tengah mencari murid untuk SMP gratis yang dibuatnya untuk pekerja anak di jalanan.

“Ketika saya sedang menempel-nempelkan brosur, pamflet tentang mau berdirinya sekolah ini saya masuk ke lapak di Pancoran dekat komplek Perdatam. Waktu itu saya ketemu Heri, seorang pemulung yang sedang lewat. Terus saya tanya, ‘Dek, dek, Anda sekolah enggak?’ Dia bilang ‘Enggak.’ Mau sekolah gak? Terus dia jawabnya ragu-ragu, ‘Saya tanya Bapak dulu ya’ katanya. Terus saya bilang saya cuma mau tanya kamu mau sekolah atau tidak? Oh mau tapi saya harus minta izin dulu. Kelihatannya anaknya pintar terus gak grogian.”

Orangtua Heri tak setuju. Mereka lebih memilih Heri bekerja jadi pemulung, menambah penghasilan keluarga. Justru adik Heri yang diizinkan untuk sekolah.

Ade akhirnya berhasil meyakinkan orangtua Heri soal pentingnya sekolah. Ia pun membawa kakak adik itu kembali ke bangku sekolah. Mereka menjadi dua murid pertama untuk SMP gratis Ibu Pertiwi. Tahun itu, total 27 anak pemulung dan pekerja jalanan yang bersekolah di sana.

Heri senang bisa kembali sekolah. Walau ia sudah lulus SD, bersekolah lagi membuat Heri seperti harus mulai segalanya dari awal. “Untuk tulisan bagus aja Ibu Ade nyuruh saya kayak anak kelas 1 lagi, nulis A sampai selembar, B selembar. Oh ternyata kayak gini sekolah SMP, saya baru tahu ya saya jalani aja. Awalnya sih saya banyak juga melakukan pelanggaran di sini karena belum tahu, kok aneh banget ya peraturan di sini. Ya akhirnya karena selama 3 tahun di sini, pas kelas 2 saya tahu seluk beluk aturan di sini dan berusaha menjalaninya.”

Belajar di SMP Ibu Pertiwi

SMP Ibu Pertiwi memang punya aturan yang ketat. Misalnya, sepatu dan sandal harus diletakkan rapi di tempatnya.

Di sini, Heri belajar juga aneka keterampilan dan wirausaha. Misalnya belajar membuat telur asin, tempat pensil dan anyaman keranjang sampah. Sepulang sekolah, Heri tetap membantu orangtuanya sebagai pemulung. Orangtua memaksa Heri berhenti sekolah.

“Kamu gak bisa bantu orang tua kamu sibuk dengan sekolah kamu saja, kamu gak bisa bantu orang tua sama sekali. Ya udah kamu berhenti aja, gak usah sekolah, mending bantu-bantu orang tua, ketahuan bapak ibu bisa kebantu sama kamu. Saya udah beberapa kali disuruh berhenti sama orang tua saya, sampai 5 kali. Sampai-sampai saya ngomong ke bu Ade, bu saya mau keluar disuruh orang tua saya tapi saya pengen tetap sekolah. Terus bu Ade juga terus support saya supaya tetap sekolah.”

Heri kabur dari rumah, tak tahan karena orangtua melulu memaksanya berhenti sekolah. Ia kabur dari rumah bersama adiknya, ketika Heri tengah menjalani pengobatan penyakit paru-paru, akibat terlalu sering memulung sampah di tengah malam.

“Satu saya pengen sekolah aja ntah bagaimana caranya. Yang membuat saya nekad keluar dari rumah karena saya udah punya bekal, udah bisa produksi telur asin, tempat tisu jadi saya yakin bisa hidup mandiri tanpa orang tua. Satu lagi saya pengen tetap sekolah, gimanapun caranya saya tetap harus sekolah, karena saya ingin membantu orang tua, pengen memutuskan tali kemiskinan yang ngikat keluarga saya.”

Orangtua Heri dengan marah mendatangi sekolah Ibu Pertiwi. Heri dan adiknya tak mau diajak pulang orangtuanya. Ade Pujiati, pendiri SMP Ibu Pertiwi, lantas memanggil polisi, menyerahkan masalah ini ke Komnas Anak. “Di situ dipisahin polisi. Polisi bilang gak bisa ambil Heri tapi harus ke Komnas Anak dulu. Besoknya saya antar ke Komnas Anak terus dimediasi oleh Komnas"

Emed, ayah Heri, merasa terpukul dengan kepergiaan kedua anaknya dari rumah. Ia sempat tak terima tudingan Komnas Anak, bahwa ia menghalangi niat anaknya untuk sekolah.

“Kalau saya bukan gak boleh sekolah. Orang tua sama anak tuh pengennya nyekolahin tinggi cuma keadaannya bagaimana. Jangan melihat ke atas tapi melihat keadaan orang tua bagaimana, kan gak mampu, pengen nyekolahin anak. Cuma keadaannya begini, cari makan aja susah. Sebenernya orang tua tuh kepengen ngasih apa adanya cuma keadaannya begini.”

Ketua Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait ingat saat ia menangani kasus ini. Ia menilai ada unsur eksploitasi di sana, karena orang tua lebih memilih anak bekerja dibandingkan memberi anak kesempatan bersekolah.

“Oleh karena itu kita panggil orang tuanya, suami isteri kita panggil karena memang dari keluarga miskin kita jelaskan bahwa ini merupakan hak anak untuk mendapatkan pendidikan. Lalu kemudian adalah tindakan pidana mendorong anak untuk bekerja dalam konteks eksploitatif. Jadi kita undang ke sini, anaknya juga kita undang, bapak ibunya kita undang, karena diberi pengertian akhirnya bisa menerima anaknya untuk meneruskan sekolah."

Akhirnya Heri dan adiknya, Sepri, tinggal bersama salah satu guru SMP Ibu Pertiwi. Ketika Heri lulus dan melanjutkan sekolah di SMK, mereka mengontrak rumah dekat sekolah. Siswa jurusan Tata Boga di SMK ini duduk di peringkat 4 kelasnya, semester lalu. Fadhilah, wali kelasnya, bangga akan prestasi bekas pemulung ini.

“Nggak banyak bicara tapi mau kerja dan dia anak yang tidak mau atau HP aja tidak punya, Facebook aja tidak kenal. Karena dia tahu kemampuan dia, keuangan dia kalau HP itu harus pake uang beli pulsanya. Kalau Facebook harus ke internet, pokoknya ngeluarin duit kan. Sementara dengan berkecimpung dengan teman, anak jaman sekarang yang pengen HP, ganti HP, Facebook, motor, ia bisa menepis itu semua dan tetap maju. Nah itu kualitas anak sekarang seharusnya begitu tapi jaman sekarang susah.”

Anak: bekerja atau sekolah?

Sepri sempat takut ketika diajak kakaknya, Heri, meninggalkan rumah, demi tetap bersekolah.

“Pisah sama orang tua takutnya dianggap durhaka, ngelawan orang tua. Tapi saya dapat masukan dari guru-guru sebenarnya kalau demi kebaikan, pisah sama orang tua boleh-boleh aja asal jangan seperti ngelawan orang tua, keterlaluan. Inikan demi kebaikan keluarga juga kalau saya sama kakak saya udah maju, udah bisa sekolah tinggi itu jugakan bisa mengangkat derajat orang tua.”

Heri dan adiknya adalah bagian dari 1,7 juta anak di Indonesia yang jadi pekerja, sesuai data Organisasi Perburuhan Internasional tahun 2010. Mereka tak sekolah, tapi bekerja membantu orangtua, mencari nafkah untuk keluarga.

Ketua Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait mengatakan, ini banyak terjadi di masyarakat ekonomi rendah.

“Tetapi karena orang tua belum menganggap pendidikan itu bukan prioritas dalam keluarganya dan masih mengedepankan anak menjadi aset untuk menindaklanjuti kehidupan dari keluarga itu, itu yang dipilih. Akibatnya memang di situ terjadi praktek eksploitasi, mendorong anak atau menstop anak karena ketidakmampuan orang tua untuk tidak sekolah lalu mendorong menjadi pekerja baik di jalan maupun sektor formal dan non formal.”

Kemiskinan membuat orangtua Heri meminta sang anak berhenti sekolah dan kembali bekerja. Meski ada tawaran sekolah gratis di SMP Ibu Pertiwi, orangtua bergeming. Bagi ayah Heri, Emed, mengisi perut lebih penting ketimbang mengisi isi kepala.

“Saya dulu sering ribut dengan dua anak itu namanya juga kesusahan, orang susah gimana sih bu. Perasaan saya dulu itu susah banget, kalau gak dibantu anak sulit dah cari makan.

Orang yang mempekerjakan anak juga punya andil, tambah Arist.

“Corporate atau perusahaan, orang yang mempekerjakan pembantu rumah tangga sudah tahu anak-anak masih juga mempekerjakan, industri juga sudah tahu dilarang tetap mempekerjakan. Kenapa? Karena lebih menguntungkan dari orang dewasa, kalau di industri gajinya lebih kecil dari orang dewasa biasa, tidak masuk organisasi dan seterusnya, gampang diatur. Jadi artinya mempekerjakan anak faktanya lebih menguntungkan, baik pembantu rumah tangga, sektor formal dan non formal.”

Heri dan masa depan

Kini kondisi sudah lebih baik untuk Heri. Orangtua akhirnya mengizinkan Heri dan adiknya untuk terus sekolah. SMP Ibu Pertiwi memberikan beasiswa biaya hidup sehari-hari, 550 ribu rupiah per bulan. Pendiri SMP Ibu Pertiwi Ade Pujiati menilai, Heri dan adiknya berhak mendapatkan beasiswa tersebut.

“Satu karena perjuangan mereka mempertahankan sekolah. Kedua, anaknya bandel tapi masih wajar lah, akhlaknya masih oke. Jadi kita kasih karena dia berjuang mati-matian untuk mempertahankan sekolahnya, kedua berjuang keras untuk ikuti aturan dan itu susah sekali. Bisa dibayangkan orang yang tidak terbiasa dengan aturan, seumur hidupnya suka-suka tiba-tiba masuk ke tempat yang penuh aturan.”

Begitu masuk ke SMK Keluarga Widuri, Heri pun mendapatkan beasiswa SPP sampai tamat sekolah.

Heri dan adiknya menyambung hidup dengan berjualan telur asin, sambil terus bersekolah. Mereka menjualnya ke guru di sekolah, tetangga dan warteg dekat kontrakan. Heri punya tips khusus untuk meyakinkan calon pembeli akan kualitas telur asin buatannya. “Suruh cobain terus gimana enak gak. Udah gitu saya terangin cara pembuatannya, kualitasnya, terus telurnya juga ada jaminannya dari saya, kalau busuk pas dibeli dari saya itu boleh dikembalikan lagi.”

Guru-guru di SMK Keluarga Widuri jadi pelanggan tetap telur asin buatan Heri. Guru Kewirausahaan Badriah mengakui kualitas telur asin Heri, sehingga jadi favorit keluarganya. “Bedanya, asinnya pas, kuningnya juga berminyak itukan yang enak. Kalau yang biasa kadang-kadang suka bau dan kuningnya gak terlalu kuning, dia agak putih. Terus yang inikan gede-gede jadi lumayan, kalau yang biasa kecil-kecil.”

Mandiri

Pembina Osis SMK Keluarga Widuri, Kurtubi menilai Heri tumbuh menjadi sosok pekerja keras dan penuh semangat karena dipicu dari kekurangan yang dialaminya. Heri juga aktif sebagai pengurus OSIS di sekolahnya. “Di satu sisi dia punya kekurangan tapi di sisi lain itu menjadi pemicu dia jadi lebih semangat dan memang oleh orang tua asuhnya didorong untuk itu. Untuk lebih semangat menjadi hal yang kurang untuk ditutupi dengan segala macam cara tentunya dengan hal yang baik termasuk untuk menutupi kekurangan ongkos hidup.”

Heri berhasil hidup mandiri. Mendapatkan penghasilan sekitar 300 ribu per bulan, jauh lebih besar ketimbang jadi pemulung seperti dulu. Semangat Heri bersekolah tak pelak membuat ibunya, Yatmini, bangga. “Ya saya sudah sangat bahagia. Kalau lihat dari orang tua gak mampu udah dapat bantuan ya alhamdulilah gitu. Saya benar-benar bahagia, benar-benar bangga sama anak saya. Katanya di sekolah SMK juga denger-denger rankingnya juga bagus, nilainya bagus. Mudah-mudahan jangan sampai mengecewakan orang tua.”

Masa depan Heri sudah lebih jelas sekarang. Bersekolah di SMK, berjualan telur asin, juga mengajar anak jalanan dan putus sekolah di SMP Ibu Pertiwi. Kelak, Heri ingin punya restoran sendiri.

“Seorang pengusaha itu bisa membuka lapangan pekerjaan. Sekarangkan banyak pengangguran jadi saya ingin membuka lapangan pekerjaan bagi pengangguran itu. Apalagi sekarang susah cari kerja untuk tamatan SD, SMP, SMA pun sekarang susah. Jadi saya ingin buka usaha. Pingin usaha restoran, sesuai jurusan saya sekarang, tata boga. Insya Allah bisa tercapai."

Sumber : http://www.kbr68h.com

Mereka Menantang Maut Menuju Sekolah

diposkan pada tanggal 6 Feb 2012 10.19 oleh Abdul Hajar Limi

Mereka Menantang Maut Menuju Sekolah
Murid-murid SD Negeri Pasir Tanjung terpaksa bergelantungan melewati jembatan gantung yang rusak berat, saat menyeberangi Sungai Ciberang yang berarus deras mematikan, menuju ke sekolah di Desa Sangiangtanjung, Kecamatan Kalanganyar, Kabupaten Lebak, Banten, Kamis (19/1/2012). Setiap hari, mereka bertaruh dengan maut demi masa depan yang lebih cerah. (Foto:JPNN)

BANTEN (RP) - Ini adalah realitas lain di tengah riuhnya pembelian kursi impor di ruangan banggar dan biaya renovasi toilet gedung DPR yang menelan biaya miliaran rupiah.

Anak-anak sekolah di Desa Sangiang Tanjung, Lebak, Banten, harus menempuh titian maut saat hendak masuk sekolah.

Merayap bergelantungan di atas sungai berarus deras sambil memegangi bentangan tali kawat sisa-sisa jembatan yang rusak karena banjir.

Meski di bawah ancaman maut, siswa sekolah dasar (SD) dan SMP di Kampung Ciwaru, Desa Sangiang Tanjung, Kecamatan Kalanganyar, Kabupaten Lebak, terpaksa bergelantungan di jembatan gantung yang rusak diterjang hujan dan angin.

Mereka harus melewati jembatan tersebut karena merupakan satu-satunya akses untuk bisa sampai ke sekolah mereka dengan cepat.

Memang ada jalan lain untuk menghindari jembatan maut yang kalau di kota-kota besar banyak dipakai untuk menantang adrenalin seperti yang disediakan di tempat-tempat outbound tersebut.

Namun, bila tak sanggup melintasi jembatan, para siswa harus berjalan kaki memutar untuk bisa sampai ke sekolah mereka. Jalan kaki sebagai lintas alternatif itu akan memakan waktu tempuh lebih lama karena jauhnya.

Jalur jalan kaki untuk sampai ke sekolah mereka di Rangkasbitung, yakni melintasi Kampung Pariuk, Desa Sukamekarsari, kemudian melintasi Kota Rangkasbitung, akan memakan waktu lebih dari sejam.

Jembatan gantung yang membentang di atas Sungai Ciberang yang berarus deras yang

menghubungkan Desa Sangiang Tanjung dengan Desa Pasir Tanjung, Kecamatan Rangkasbitung, terakhir diperbaiki pada 2010. Kini pascabanjir dan hujan angin seminggu lalu, setiap hari warga dua desa tersebut memanfaatkan jembatan itu sebagai satu-satunya jalur transportasi yang paling cepat dan murah.

Kemarin kondisi jembatan dengan panjang lebih dari seratus meter itu sangat mengkhawatirkan bagi siapa pun yang melintasi. Sebab, tempat berpijak yang semestinya datar merata kini berubah miring seperti tebing labil yang bergoyang-goyang saat dilewati.

Fisik jembatan tinggal menyisakan sling (tali kawat penyangga) dan tempat pijakan terdiri atas potongan-potongan papan kecil yang sudah rusak.

Untuk bisa melintasi jembatan tersebut, para siswa yang di punggungnya menggantung tas ransel berisi buku-buku pelajaran itu harus ekstra hati-hati.

Mereka harus berpegangan kuat-kuat ke tali kawat jika tidak ingin jatuh dan hanyut terbawa arus Sungai Ciberang yang deras.

Karena itu, telapak tangan anak-anak yang sebagian besar murid sekolah dasar tersebut terlihat memar kemerahan karena harus berpegangan tali jembatan kuat-kuat sambil merambat.

‘’Kami minta pemerintah segera memperbaiki jembatan ini. Sebab, jembatan ini satu-satunya jembatan penghubung menuju sekolah kami di Ona Rangkasbitung,’’ ujar Roni, siswa kelas satu SMPN 6 Rangkasbitung, saat ditemui.

Meski sangat membahayakan keselamatan jiwa, Roni bersama teman-teman lain memberanikan diri bergelantungan di sling agar sampai ke sekolah.

‘’Kadang kami terlambat datang ke sekolah karena terlalu lama menyeberangi jembatan gantung ini. Sebenarnya bisa saja tidak melalui jembatan ini, tapi harus memutar dan jarak tempuhnya cukup jauh hingga lebih dari sejam. Belum lagi, biaya transpornya (ongkos naik angkutan, red) cukup mahal,’’ ungkapnya.

Hal senada dikatakan warga lain, Ny Iyah (50). Dia mengungkapkan, karena rusaknya jembatan gantung, warga setempat tidak berani menyeberang. Warga menempuh jalan lain dengan jarak lebih jauh.

‘’Sebenarnya kami tidak tega melihat anak-anak pergi ke sekolah dengan bergelayutan berpegangan sling. Itu sangat membahayakan,’’ ujarnya.

Sekretaris Desa (Sekdes) Sangiang Tanjung Hasanudin saat ditemui menyatakan, jembatan gantung yang ambruk diterjang banjir pada Sabtu (14/1) lalu itu merupakan jembatan gantung penghubung antara warga Kampung Cikiray, Desa Sangiang Tanjung, Kecamatan Kalanganyar, dan Desa Pasir Tanjung.

‘’Kami berharap pemerintah secepatnya memperbaiki jembatan gantung ini,’’ katanya.

Ditemui di tempat terpisah, Camat Kalanganyar Sehabudin menjelaskan, pascabanjir yang merendam ratusan rumah di Kecamatan Kalanganyar, sedikitnya tiga jembatan gantung rusak diterjang banjir.

Ketiganya adalah jembatan gantung Cirende Ranca Garut, Cilangkap-Tambak Baya, dan jembatan gantung Pasir Tanjung. ‘’Sudah saya laporkan ke Pemkab Lebak,’’ ungkapnya.

Sementara itu, menurut Bupati Mulyadi Jayabaya, sebagai tindakan tanggap darurat, jembatan gantung tersebut akan diperbaiki dalam tiga hari ke depan agar secepatnya bisa dilalui warga.

‘’Saya telah perintahkan Dinas Bina Marga untuk membuat langkah-langkah antisipatif darurat di jembatan gantung Sabagi-Ciwaru itu. Apa pun langkahnya, yang penting anak-anak tidak lagi bergelantungan di jembatan saat berangkat ke sekolah lantaran sangat berbahaya,’’ tegasnya.

Sementara itu, Kasubid Pembangunan Jalan Bina Marga Dodi menyatakan, dalam hal penanganan prasarana transportasi penduduk di Kampung Ciwaru, Desa Pasir Tanjung, Kecamatan Kalanganyar, karena rusaknya jembatan gantung, pihaknya tengah merumuskan beberapa alternatif. Salah satunya adalah pembangunan kembali jembatan gantung.

‘’Untuk tanggap darurat, mungkin kami akan melakukan perbaikan lantaran ada warga yang masih menggunakan jembatan gantung. Rencananya hari ini (Jumat, red) ada pejabat dari Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) yang meninjau,’’ ujarnya.(lk/ila)

Jalan rusak, siswa jalan kaki 6 km ke sekolah

diposkan pada tanggal 6 Feb 2012 10.17 oleh Abdul Hajar Limi

Sindonews.com - Akibat jalan desa rusak parah dan terbatasnya akses menuju ke sekolah, para siswa Sekolah Dasar (SD) di Desa Siobon, Mandailing Natal, Sumatera Utara, berjibaku harus berjalan kaki sejauh 6 kilometer lebih menuju sekolah mereka.

Rasa lelah dan ancaman keselamatan tentunya menghantui para siswa ini. Tayangan potret suram kehidupan warga di daerah terpencil ini setidaknya diharapkan mampu membuka mata hati pemimpin bangsa ini untuk lebih peka terhadap rakyatnya, dengan mengesampingkan kepentingan pribadi.
 
Zaman dahulu ketika akses jalan terbatas dan minimnya kendaraan, berjalan kaki ke sekolah sejauh berkilometer mungkin hal yang biasa dilakukan. Namun bagaimana jika hal tersebut masih dijumpai di zaman seperti sekarang ini, setelah lebih dari setengah abad Indonesia merdeka. Tentunya, sudah merupakan peristiwa yang langka terjadi bukan?
 
Hal tersebut justru masih menimpa para generasi penerus bangsa ini di Desa Siobon, Mandailing Natal, Sumatera Utara, yang merupakan salah satu wilayah terpencil dan jarang diperhatikan pemerintah.
 
Lihatlah perjuangan para siswa SD ini menuju sekolah mereka harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki sejauh 6 kilometer lebih, karena tak satupun angkutan desa seperti mobil yang melintasi desa mereka akibat jalan rusak parah.
 
Berharap menggunakan kenderaan roda dua seperti sepeda motor ataupun sepeda angin masih menjadi angan angan, karena para siswa ini berasal dari keluarga ekonomi lemah. Mau tak mau demi masa depan, para siswa ini harus berjalan kaki meski tak jarang mereka kerap beristirahat sejenak menghilangkan rasa lelah.
 
Ada pula sebagian siswa yang harus melewati sungai dan hutan dari rumah mereka menuju sekolah, karena praktis tak ada akses jalan lain yang bisa dilalui. Salah satunya yang dialami Azhari Nasution, dia terpaksa berangkat ke sekolah sejak subuh agar tak terlambat.

Risiko bahaya seperti gigitan binatang buas kerap menghantui siswa yang duduk di kelas 6 ini. "Ya, saya harus berangkat sekolah subuh-subuh agar tak terlambat," ucapnya, Rabu (25/1/2012).
 
Hal ini tentunya mengundang keprihatinan termasuk datang dari Kepala Desa Siobon Mishar. "Saya telah berulangkali mengusulkan perbaikan jalan kepada pemerintah daerah setempat," ungkapnya. Sayangnya, kata dia, hingga saat ini permintaan tersebut tak direspons. "Hingga kini permintaan perbaikan jalan tak pernah direalisasikan," ujarnya.

Ya, sungguh ironis para siswa SD seperti di Desa Siobon ini yang juga merupakan generasi penerus bangsa. Bagaimana mereka mau maju kalau pergi ke sekolah saja harus berjibaku seperti itu, menempuh perjalanan yang jauh penuh risiko.
 
Setidaknya para pemimpin bangsa termasuk wakil rakyat di DPR lebih membuka mata memikirkan nasib warga kecil di daerah terpencil, ketimbang memikirkan egoisme untuk bermewah-mewah dengan menghamburkan uang rakyat.

Sumber : http://www.sindonews.com/

Jembatan Roboh, 200 KK Terisolir-Siswa Tak Bisa Sekolah, Ekonomi dan Transportasi Lumpu

diposkan pada tanggal 6 Feb 2012 10.11 oleh Abdul Hajar Limi


Warga melintasi jembatan gantung Rawayan yang roboh di Desa Gelarpawitan, Kecamatan Cidaun, Cianjur Selatan, kemarin.

CIANJUR – Sedikitnya 200 kepala keluarga (KK) di Desa Gelarpawitan, Kecamatan Cidaun, Cianjur Selatan terisolir akibat jembatan gantung Rawayan roboh. Warga sekitar pun sulit beraktivitas. Jembatan gantung Rawayan yang melintasi Sungai Cimaragang merupakan satu-satunya akses perlintasan warga. Tiang penyangga jembatan tersebut ambruk pada Rabu (4/1) lalu.

Selain warga, banyak siswa tidak bisa mengikuti pelajaran di sekolah. Sebab, menuju SDN Cisarakan dan SMPN 3 Cidaun hanya bisa melalui jembatan itu. Kepala SDN Gobangkancana Tarso, 41, mengatakan, jembatan gantung Rawayan sangat penting sebagai akses warga untuk kegiatan ekonomi. Ambruknya jembatan juga menyebabkan terhambatnya akses transportasi ke sekolah.

“Banyak sekali warga yang terisolir. Bila dihitung per KK,kurang lebih ada 200 KK. Selain itu ada sekitar 170 siswa di dua sekolah,”jelasnya,kemarin. Wakil Kepala SMPN 3 Cidaun Entang Rohandi, 52, membenarkan banyak siswa menjadi jarang masuk sekolah setelah ambruknya jembatan gantung Rawayan. Pihak sekolah terpaksa memaklumi bila para siswanya absen tidak masuk sekolah.

“Belakangan ini memang sedang musim hujan, selain itu air di Sungai Cimaragang selalu meluap, sehingga anak-anak tidak bisa menyeberang bila jembatannya roboh dan air sungai meluap deras. Kalaupun bisa memutar, itu pun jaraknya jauh sekali,bisa mencapai belasan kilometer,” ujarnya. Pihaknya berharap Pemkab Cianjur membantu dan kembali membangun jembatan tersebut. Sebab, jalan tersebut adalah satu-satunya akses bagi warga setempat.

“Sampai saat ini belum ada kepedulian dari Pemkab Cianjur untuk mengucurkan biaya pembangunan, padahal jembatan ini sebagai akses pendidikan SDN Cisarakan dan SMPN 3 Cidaun,” kata Entang. Kepala Desa Neglasari,Kecamatan Cidaun, Karmin, 40, mengaku telah menyampaikan permohonan bantuan perbaikan jembatan gantung Rawayan ke Pemkab Cianjur.Menurut dia,perbaikan jembatan tersebut hanya membutuhkan dana sebesar Rp100 juta.

“Kami sudah sampaikan ke pemerintah daerah melalui Kecamatan Cidaun.Tapi,sampai sekarang belum ada konfirmasi lagi bagaimana kelanjutannya,” ucapnya. Diketahui, jembatan rusak parah juga terjadi di Sanghiang, Lebak, Banten.Para siswa SDN 02 Sanghiang Tanjung terpaksa melintasi jembatan tidak layak tersebut menuju sekolah, karena hanya jembatan itu satu-satunya akses yang paling cepat. Jika mereka tidak hati-hati pasti akan tercebur ke Sungai Ciberang, Lebak, yang airnya deras. ricky susan

1-4 of 4