ARTI ZIARAH

1.    Menurut Bp/Ibu melakukan ziarah, bagi kita umat kristiani hukumnya wajib atau tidak ?

Bagi umat Kristiani, datang ke tempat ziarah tidaklah wajib hukumnya, tidak seperti saudara muslim yang melakukan ibadah haji

sebagai hukum ke 5 yang diwajibkan.

2.    kalau tidak wajib, mengapa Bp/Ibu bersusah payah melakukan ziarah ? apa yang bapak/ibu inginkan dengan melakukan ziarah ini ?

Bagi umat Kristiani, ziarah dapat dipandang sebagai upaya untuk mencari dan mendekatkan diri dengan Tuhan atau dapat dikatakan

juga sebagai upaya untuk terciptanya manunggaling kawula Gusti., maka untuk dapat berziarah juga harus ada tantangan yang dilewati,

bahkan harus ada usaha-usaha yang dilakukan untuk dapat melakukan ziarah tersebut.

Ziarah ini sebetulnya juga merupakan sesuatu yang menjadi jawaban dari iman kita agar bisa lebih dekat dengan Tuhan walaupun hal tersebut tidak diwajibkan. Sehingga Ziarah bisa diartikan sebagai suatu pencarian atau perjalanan menuju sang Pencipta agar bisa manunggal dengan Gusti. kalau dilihat dari bentuk kata dasarnya, ziarah adalah kata kerja, maka ziarah mengandalkan keaktifan dari seseorang yang hendak berziarah. Tak mungkin seorang yang hendak pergi berziarah hanya diam ditempat saja atau pasif.

Seperti Zakheus, untuk melihat Tuhan, dia perlu berlari mendahului orang-orang, lalu memanjat pohon (Luk 19 : 4). Dari atas pohon itu,

Zakheus bisa melihat Yesus. Seorang peziarah melakukan hal yang sama dengan Zakheus. Untuk melihat Tuhan, peziarah perlu "memanjat" dalam arti meluangkan waktu untuk lepas dari kesibukannya sehari-hari, meninggalkan rasa aman di dalam lingkungannya sendiri dan pergi untuk mengalami dan melihat Tuhan. Tentu saja peziarah harus juga mengalami sentuhan untuk berani melakukan hal seperti Zakheus,

Sentuhan inilah yang disebut sebagai "panggilan".. Jadi tidak hanya uang dan kesempatan saja yang membuat seseorang bisa berziarah tetapi juga perlu adanya panggilan dari hati yang dalam yang datang dari Tuhan. "Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah" (Mazmur 85:5). Dalam kitab suci juga disebutkan bahwa Yesus juga berziarah 3 x dalam 1 tahun ke Jerusalem yaitu pada hari raya Paskah, Pantekosta dan Pondok Daun. Jika ditanyakan, bagi umat Kristiani apa dasar hukum gerejawinya untuk berziarah,

secara explisit tidak ada. Namun dalam salah satu butir dari Konsili Vatikan ke II, menyinggung hal tentang ziarah, yaitu sangat menganjurkan dan mendukung kegiatan untuk berziarah.

Namun yang menjadi pertanyaan sekali lagi adalah jika memang ziarah tidak diwajibkan, mengapa sejak zaman Kristen awal hal ini

sudah dilakukan? Bahkan tetap dilakukan di saat kondisi dan situasi yang tidak mudah bagi para peziarah itu sendiri untuk datang ke

tempat ziarah. Jawabannya adalah karena kesadaran dari setiap umat manusia tersebut untuk dapat berjumpa dan dekat dengan Tuhan serta mencari Tuhan. Jadi dalam hal ini bukanlah masalah KEWAJIBAN, akan tetapi masalah KESADARAN untuk dapat bertemu dan dekat dengan Tuhan.  Jadi jangan pernah berharap bahwa :

1.    dengan berziarah lalu kita mendapatkan sesuatu pahala dari Tuhan,

2.    dengan berziarah kita mendapatkan pengampunan dari Tuhan,

3.    dengan beriziarah kita mendapatkan kemungkinan lebih besar untuk masuk surga.

Karena jika Tuhan Yesus membatasi umatnya dengan kewajiban seperti ini, maka Tuhan Yesus kita adalah Tuhan yang tidak adil

(karena belum tentu setiap orang punya kesempatan untuk berziarah).

Jadi dalam iman Kristiani sekali lagi ditekankan bahwa berziarah dapat diandaikan sebagai jawaban dari iman kita kepada Tuhan, untuk mencari serta lebih dekat kepada Tuhan Kita, sehingga hal ini sangatlah dianjurkan....

Bagi yang belum mempunyai kesempatan untuk melakukan ziarah tidak perlu berkecil hati, karena untuk mencari dan mendekatkan diri

dengan Tuhan, agar tercipta manunggaling kawula Gusti tidak hanya dilakukan dengan ziarah, tapi dapat dilakukan juga dengan cara :

1.    Sendiko dawuh pada perintah/ajaran Tuhan Yesus. dalam arti  

         selalu ,meng "iya"kan dan setia pada perintahnya serta tidak  

         diikuti dengan kata tetapi.

2.    Selalu nyuwun dawuh atau mohon perintah, dengan jalan rajin  

     mendengarkan dan memahami sabda Tuhan. jangan kebalik  

     kita yang bersabda pada Tuhan. (jagalah keluargaku selalu,  

     berkatilah makanan ini, jagalah rumahku, jauhkanlah kami dari   

    kemalangan dll) memangnya kita ini Bos dan Tuhan itu  

    karyawan / jongos kita.

3.    Sumeleh atau pasrah segalanya pada Tuhan. Didalam Injil  

     Markus 12:10 ; “Kasihlah Tuhan Allahmu dengan   
     segenap  hatimu, jiwa ragamu, akal  budimu, 
     kekuatanmu”. Itulah  yang disebut sumeleh
4.  Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara (Manusia
     hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan,
     kebahagiaan  kedamaian dan kesejahteraan; serta
     memberantas sifat  angkara murka, serakah dan tamak).
Comments