CT SCAN DAN MRI SEBAGAI UPAYA PENEGAKAN DIAGNOSIS TERKINI

posted Aug 14, 2012, 11:30 PM by Rumah Sakit JIH

CT-Scan adalah test diagnostik yang memberikan informasi luas dengan akurasi yang tinggi. CT-Scan mulai dipergunakan sejak tahun 1970 sebagai alat bantu dalam proses diagnosa dan pengobatan pada pasien neurologis.  Gambaran CT-Scan adalah hasil rekonstruksi komputer terhadap gambar X-Ray. Gambaran dari berbagai lapisan secara multiple dilakukan dengan cara mengukur densitas dari substansi yang dilalui oleh sinar X. Data yang dihasilkan akan memperlihatkan densitas dari berbagai lapisan. Jumlah radiasi yang diabsorbsi akan tergantung pada densitas jaringan yang dilaluinya. CT-Scan dapat memberikan gambaran akurat pada abnormalitas yang sangat kecil. CT-Scan digunakan di dunia kedokteran sebagai alat diagnostik dan sebagai pemandu untuk prosedur intervensi.

 

Penggunaan material kontras juga dapat membantu ke arah memperoleh informasi fungsional tentang jaringan/tisu. Peningkatan teknologi CT-Scan adalah menurunkan dosis radiasi yang diberikan, menurunkan lamanya waktu dalam pelaksanaan scaning dan peningkatan kemampuan merekonstruksi gambar. Meski demikian, dosis radiasi dari CT beberapa kali lebih tinggi dibandingkan penyinaran konvensional.

 

Aplikasi CT-Scan terutama untuk menegakkan diagnosa dari cerebrovascular accidents dan intracranial hemorrhage,  deteksi tumor, deteksi peningkatan intracranial pressure sebelum dilakukan lumbar puncture atau evaluasi fungsi ventriculoperitoneal shunt, evaluasi fraktur wajah atau cranial dll. CT scanning juga sering digunakan pada rencana operasi bagi deformitas kraniofasial dan dentofasial dan evaluasi tumor sinus, nasal,orbital, dan rencana rekonstruksi implant dental, pada dada,  mendeteksi perubahan akut ataupun kronik parenklim paru,  evaluasi proses intrestitial kronik (emfisema, fibrosis), evaluasi mediatinum dan limfadenopati menggunakan kontrast per IV, metode pemeriksaan utama pada emboli paru, dan disecsi aorta menggunakan kontras IV. Pada abdomen dan pelvic, CT- Scan dipakai untuk mendiagnosa batu ginjal, apendisitis, pankreatitis, diverkulitis, anerisma aorta abdomen, obstruksi usus pilihan pertama mendeteksi trauma menelan benda solid. Pada Ekstremitas, CT Scan  digunakan pada fraktur kompleks.

 

Pelaksanaan CT-Scan sendiri tidak memiliki bahaya yang fatal kecuali pada dosis radiasi yang tinggi atau telah terakumulasi. Sedangkan bahaya sesungguhnya dapat terjadi pada penggunaan kontras. Diagnosa yang dapat muncul adalah resiko trauma iritasi dan alergi akibat pemberian benda kontras. Sebagai sebuah alat yang asing maka CT-Scan juga dapat memunculkan rasa cemas pada pasien.

 

MRI adalah sebuah metode pemeriksaan diagnostik yang mulai digunakan sejak tahun 1980. Gambar yang dihasilkan juga merupakan hasil rekonstruksi komputer. Namun berbeda dengan CT-Scan, MRI tidak menggunakan radiasi ion melainkan menggunakan medan magnet dan radiofrekuensi. MRI merupakan studi pilihan bagi evaluasi pada sebagian besar lesi pada otak dan spinal. MRI melakukan scan terhadap nukleus hidrogen yang merupakan atom terbanyak ditubuh manusia. Alat yang digunakan akan menghasilkan medan magnet dengan kekuatan 3000 kali dari medan magnet bumi. Medan magnet yang dihasilkan oleh alat ini akan memberikan instruksi kepada proton yang ada dinukleus hidrogen. Pada keadaan normal proton akan berada dalam arah atau letak yang acak. Namun saat diberikan medan magnet maka proton akan menempatkan diri pada kutub medan magnet. Kemudian akan dikirimkan radiofrekuensi yang akan menyebabkan vibrasi dari proton. Sinyal radio yang dihasilkan akan direkan dan direkonstruksi menjadi gambaran jaringan. Gambar yang dihasilkan oleh MRI berlawanan dari CT scan. Tulang akan terlihat hitam pada MRI. Penggunaan kontras dapat digunakan untuk memperkuat gambar.

 

Keuntungan penggunaan MRI diantaranya pasien tidak terpapar radiasi, diferensiasi yang lebih baik antara abu-abu dan putih sehingga sangat baik pada diagnosa MS dan infrark lakunar, gambaran lebih baik pada fossa posterior dan medula spinal, visualisasi lebih baik secara noninvasif menggunakan MR angiografi. Aplikasi klinis MRI digunakan untuk membedakan antara jaringan normal dengan patologis seperti tumor otak. Selain itu alat ini menyebabkan pasien tidak terpapar radiasi yang meningkatkan resiko malignansi terutama pada fetus. Selain penggunaan dalam diagnosa konvensional ada berapa penggunaan alternatif antara lain: MRI fungsional : penggunaan MRI untuk memperlihatkan aktifitas otak, MRI Intraoperatif: pada operasi neurologis, aman dan tidak menghasilkan komplikasi. Sebagai alat pemeriksaaan diagnostik pada sistem neurologis, alat ini dipergunakan untuk memeriksa sebagian besar lesi pada otak dan spinal. Selain itu alat ini juga memiliki kemampuan membedakaan struktur berwarna abu-abu dengan putih sehingga dapat dipergunakan pada multiple sklerosis dan infark lakunar. MRI tidak menggunakan sinar X, sehingga pasien tidak terpapar radiasi. Namun dalam pemeriksaan pasien harus berada dalam alat sekitar 30 menit sehingga memerlukan waktu yang cukup lama. Kadang dibutuhkan obat penenang dan penjelasan yang baik untuk mengatasi kecemasan pasien.


Oleh:

Amal Fadholah, M.Si., Apt


Comments