Telur Jangkrik

Metode Penetasan telur Jangkrik
  • Dengan memakai kain kaos. Telur ditaruh pada kain kaos dan disemprot air dengan memakai sprayer. Usahakan air jangan sampai mengenai telur. Jarak penyemprotan kurang lebih satu lengan. Setelah disemprot, kemudian kain dilipat dalam empat lipatan. Selanjutnya ditaruh pada stoples plastik yang telah dibersihkan. Pada bagian atas diberi penutup dengan ventilasi decukupnya. Kelembapan udara di dalam stoples selalu dikontrol agar tidak terlaulu basah atau terlalu kering. Jika terlalu basah, akan memudahkan tumbuhnya jamur yang dapat merusak telur. Sebaliknya, apabila kelembapan udara di dalam stoples terlalu kering, telur tersebut menjadi gabuk, dan embrio tidak kuat memecah kulit telur tersebut, akibatnya bibit mati sebelum menetas. Telur jangkrik akan menetas sekitas 5-6 hari.
  • Dengan cara memakai media pasir yang sudah dilembapkan. Pasir yang sudah disterilkan dengan dijemur atau digoreng untuk mematikan hama yang mungkin terbawa dalam pasir. Selanjutnya pasir dibiarkan mendingin dengan sendirinya dan disemprot air dengan menggunakan sprayer agar lembap dan basah. Tuangkan pasir tersebut pada loyang atau tempat lain dengan ketebalan pasir sekitar dua sentimeter. Kemudian telur ditaburkan di atas pasir, setelah itu ditutup dengan pasir dengan ketebalan setengah sentimeter.
Setelah telur menetas menjadi nimfa clindo kecil, letakkan di ember plastik dan bagian atas diberi lakban agar clondo tidak keluar. Pada usia 7-10 hari, clondo dipindahkan dan diberi pakan misalnya gambas yang dipotong tipis-tipis dan makanan tambahan seperti pur 511 atau 521. atau tepung ramuan yang terdiri dari kacang hijau, kedelai, beras mentah, beras jagung, tepung ikan dan usfa mineral, yang digoreng sangrai (tidak menggunakan minyak) dan dihaluskan. Untuk nimfa yang usianya antara 20 sampai dengan 30 hari, menu pakannya ditambah dengan daun krokot, dan singkong, daun kacang, daun klobot, daun jagung muda, dan ubi atau wortel. Pada usia menjelang panen atau 30-40 hari diberikan jagung muda sebagai makanan tambahan. Untuk mempercepat pertumbuhan jangkrik, ditambahkan multivitamin.

Media kombong jangkrik. Kandang jangkrik terdiri dari beberapa ukuran, antara lain ukuran kecil yaitu 80x 120x30 cm, yang pada salah satu sisinya terbuat dari kawat kasa, bisa menampung untuk satu sendok telur. Sedangkan kandang besar biasanya berukuran 90x180x30 cm, yang bisa menampung dua sendok telur. Pada kandang yang terbuat dari triplek baru, hendaknya pada sisi dsalam dilapisi dengan tanah yang berfungsi sebagai pelapis terhadap bahan kimia pada lem triplek, sekaligus memberi kesan seperti lingkungan alami bagi jangkrik.

Media persembunyian. Karena jangkrik termasuk binatang kanibal/bisa memangsa binatang sejenisnya, maka tempat persembunyian harus dibuat dengan cara mengeringkan daun klaras, daun jati, daun ilalang, jerami atau daun sukun yang sudah dikeringkan dan disterilkan. Selanjutnya daun digulung kecil, semacam lorong, sehingga dapat digunakan sebagai tempat persembunyian.
Comments