Bekatul & Kesehatan


Artikel Baru

  • Rice Bran Oils dan Manfaatnya Untuk Kesehatan BEKATUL.NET - Walaupun bekatul tersedia melimpah di Indonesia—data BPS (2010) menyebutkan sebanyak 6,59 juta ton bekatul dengan—namun pemanfaatannya untuk konsumsi manusia sebagai sumber pangan dan gizi masih ...
    Posted Mar 10, 2011, 7:36 PM by Dwi Estika
  • Antikanker Bahan Aktif dari Bekatul BEKATUL.NET - Sebagian orang dipastikan pernah mendengar kata kanker atau penyakit kanker.  Penyakit ini paling ditakuti disebabkan jarang sekali ditemukan obatnya.  Seperti diketahui salah satu pemicu terjadinya kanker akibat pola ...
    Posted Feb 15, 2011, 7:10 PM by Dwi Estika
  • Mengenal Bekatul Lebih Jauh BEKATUL.NETBekatul atau rice bran adalah hasil samping penggilingan padi terdiri yang dari aleurone layerseed coat, dan germ (Gambar 1) Pada Gambar 1 juga ditampilkan alur proses ...
    Posted Feb 21, 2011, 7:59 PM by Dwi Estika
  • Bekatul Sumber Prebiotik BEKATUL.NET - Istilah probiotik dan prebiotik, maupun kombinasi keduanya (sinbiotik), sudah sangat sering kita dengar dalam beberapa produk makanan dan minuman.  Untuk beberapa produsen, istilah-istilah ini menjadi nilai jual ...
    Posted Oct 28, 2010, 7:00 PM by w p
  • Cantik dengan Bekatul BEKATUL.NET - Bekatul (rice bran) yaitu bagian luar dari beras yang terlepas menjadi serbuk halus pada proses penggilingan padi menjadi beras, selain mempunyai manfaat kesehatan, juga mempunyai manfaat yang besar ...
    Posted Sep 17, 2010, 9:55 PM by Heny Suhardiman
Showing posts 1 - 5 of 16. View more »

Rice Bran Oils dan Manfaatnya Untuk Kesehatan

posted Mar 7, 2011, 5:06 PM by Dwi Estika   [ updated Mar 10, 2011, 7:36 PM ]

BEKATUL.NET - Walaupun bekatul tersedia melimpah di Indonesia—data BPS (2010) menyebutkan sebanyak 6,59 juta ton bekatul dengan—namun pemanfaatannya untuk konsumsi manusia sebagai sumber pangan dan gizi masih terbatas. Sampai saat ini pemanfaatannya terbatas sebagai pakan ternak. Salah satu bentuk produk bekatul yang populer saat ini terutama di luar negeri adalah rice bran oil (RBO). 

 RBO dapat diperoleh dari bekatul awet sebanyak 15-25 persen—jika dikalkulasi dari angka 6,59 juta ton dapat dihasilkan 0,98-1,65 juta ton RBO. Jumlah bahan baku yang sangat besar jumlahnya, sehingga RBO sangat potensial dikembangkan di Indonesia sebagai bahan baku ingredien pangan atau non pangan. Beberapa laporan penelitian menyebutkan bahwa RBO mengandung komponen bioaktif pangan yang bermanfaat bagi kesehatan baik uji pada hewan ataupun manusia. 

 Permasalahan utama pengolahan bekatul menjadi RBO karena timbulnya aroma tengik dan rasa yang pahit setelah dilakukan penyimpanan. Kedua faktor tersebut sangat mempengaruhi kualitas RBO yang dihasilkan. Aroma tengik bekatul ditimbulkan oleh senyawa degradasi lipida seperti aldehida dan keton. Sedangkan rasa pahit ditimbulkan oleh senyawa peptida hidrofobik dengan berat molekul rendah hasil hidrolisis protein oleh enzim protease.

 

Tabel.1. Komposisi asam lemak RBO*

Asam Lemak

Jumlah (%)

1. Asam miristat (14:0)

0,7

2. Asam palmitat (16:0)

16,9

3. Asam stearat (18:0)

1.6

Total Saturated Fatty Acid (SFA)

19,2

1. Asam palmitoleat (16:1)

0,2

2. Asam oleat (18:1)

39,1

Total Monounsaturated Fatty Acid (MUFA)

39,3

1. Asam linoleat (18:2)

23,4

2. Asam linolenat (18:3)

1,6

Total Polyunsaturated Fatty Acid (PUFA)

35

* Sumber : Ausman et al. (2005)

Oleh sebab itu penginaktivan enzim lipase dan protease dengan perlakuan panas (optimasi suhu dan waktu tertentu) diketahui dapat mengawetkan bekatul dan meminimalkan kerusakan komponen bioaktif pada bekatul—termasuk RBO yang dihasilkan. Beberapa teknik stabilisasi bekatul menjadi bekatul awet telah dijelaskan pada tulisan sebelumnya (lihat tulisan dengan judul Stabilisasi dan Sifat Fungsional Bekatul).

Pada Tabel 1 terlihat bahwa hampir 74,3 persen kandungan asam lemak tidak jenuh minyak RBO terdiri dari mono dan poly (MUFA dan PUFA). Sementara itu sisanya terdiri dari asam lemak jenuh atau saturated fatty acid (SFA). Tingginya kandungan asam lemak tidak jenuh pada RBO akan memberikan efek positif bila kita mengkonsumsinya.

RBO menurunkan secara nyata kadar kolesterol darah, yaitu low density lipo-protein (LDL) cholesterol dan very low density lipo-prortein (VLDL) cholesterol dan dapat meningkatkan kadar high density lipo-protein (HDL) kolesterol darah (Wilson et al., 2007).  Penelitian yang dilakukan oleh Chuo et al. (2009) melaporkan bahwa RBO dapat memperbaiki metabolisme lemak, menurunkan indek atherosklerosis, dan menekan respon hiperinsulinemia pada ujicoba tikus yang diinduksi menggunakan streptozotocin/nicotinamide, dan dapat meningkatkan sekresi fecal neutral sterol dan metabolisme asam empedu.

Komponen g-Oryzanol merupakan bahan aktif yang harus terdapat pada RBO sebagai kriteria mutu yang RBO.  g-Oryzanol adalah campuran ester asam ferulat dari sterol dan triterpen alkokol dimana b-Sitosterol merupakan komponen tertinggi pada RBO

 (Gambar 1).

Gambar 1. Kandungan sterol dan triterpen pada RBO (Sugano dan Tsuji, 1997)

Penelitian yang dilakukan oleh Sugano dan Tsuji (1997) menyebutkan bahwa g-Oryzanol yang terdapat di RBO dapat menurunkan kadar kolesterol darah. Senyawa ini diketahui sangat efektif karena kemampuannya untuk menghambat kerja enzim 3-hydroxy-3-methylglutaryl CoA reductase (HMG-CoA reductase); suatu enzim yang bertanggung jawab dalam proses sintesis (pembentukan) kolesterol.

Lebih lanjut hasil penelitian yang dilakukan oleh Ismail et al. (2010), menyebutkan bahwa g-Oryzanol dari RBO sebagai bahan aktif yang dapat mengaktivasi gen-gen yang terkait status antioksidan dan stres oksidatif pada hati tikus yang mengalami stres.

RBO dipercaya menjadi salah satu sumber minyak pangan yang menyehatkan di negara-negara dimana konsumsi padi (beras) sebagai makanan utamanya seperti Jepang, India, Pakistan, Indonesia, Thailand, dan Vietnam. Pemanfaatan pada bidang pangan lainnya, digunakan sebagai ingredien pada produk snack, margarin, dan mayonais. Selain pemanfaatan pada bidang pangan, komponen bioaktif yang terdapat pada RBO juga telah disuplementasikan ke dalam produk-poduk non pangan, seperti pada produk-produk kecantikan. 

 

Penulis; Dr. Ardiansyah, Laboratory of Nutrition, Graduate School of Agricultural Science, Tohoku University-Sendai, Jepang dan Departemen Gizi Masyarakat, FEMA-IPB.

Antikanker Bahan Aktif dari Bekatul

posted Feb 15, 2011, 5:00 PM by Dwi Estika   [ updated Feb 15, 2011, 7:10 PM ]

BEKATUL.NET - Sebagian orang dipastikan pernah mendengar kata kanker atau penyakit kanker.  Penyakit ini paling ditakuti disebabkan jarang sekali ditemukan obatnya.  Seperti diketahui salah satu pemicu terjadinya kanker akibat pola mengkonsumsi makanan/pangan yang tidak tepat.  Namun sebaiknya anda juga harus mengetahui bahwa ada makanan atau pangan yang dapat mencegah atau menghambat terjadinya kanker. 

Selain sebagai sumber gizi utama, saat ini makanan/pangan dapat diandalkan sebagai pemelihara kesehatan dan kebugaran tubuh.  Bahkan bila dimungkinkan, pangan dapat berfungsi untuk mencegah atau menyembuhkan berbagai penyakit.  Dari sinilah kemudian lahir konsep pangan fungsional (functional foods), yang dalam 3 dekade terakhir ini sangat populer di kalangan masyarakat dunia.

Tahapan-tahapan yang diperlukan untuk pencarian bahan aktif sebagai antikanker, diantaranya adalah isolasi dan identifikasi bahan aktif antikanker, yang kemudian dilanjutkan dengan penelusuran mekanisme kerja bahan aktif baru tersebut.  Akhir-akhir ini peneliti di bidang pangan dan gizi telah banyak melakukan kajian atau penelitian sumber-sumber bahan alami untuk pencegahan kanker, salah satunya berasal dari bekatul (rice bran). 

Mekanisme kerja suatu bahan aktif dari bahan alami sangat penting diketahui untuk menjelaskan bagaimana cara kerjanya.  Mekanisme kerja beberapa bahan antikanker diantaranya adalah senyawa yang langsung bekerja pada target molekul DNA, terbentuknya senyawa metabolit lainnya yang dapat menghambat pathways metabolisme, dan penghambatan proses proliferasi sel (Mulyadi, 1998).

Penelusuran mekanisme lainnya yang diharapkan dapat memperbaiki sistem sel kanker adalah menginduksi proses apoptosis.  Apoptosis merupakan kematian sel yang terprogram; apoptosis memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan (homeostatis) perkembangan sel organisme pada tingkat seluler.  Meningkatnya apoptosis merupakan salah satu mekanisme kerja senyawa aktif yang berfungsi sebagai antikanker.

Penelitian yang dilakukan oleh Damayanthi (2002), menyebutkan bahwa minyak bekatul awet—minyak yang diperolah dari bekatul yang disiapkan dengan cara pemanasan menggunakan otoktaf pada suhu 121 oC selama 3 menit dan dilanjutkan dengan pengeringan menggunakan oven pada suhu 105 oC selama 60 menitdapat menghambat proliferasi sel kanker.  Kandungan g-oryzanol yang bersifat sitotoksik diketahui merupakan faktor utama terjadinya penghambatan sel kanker oleh minyak bekatul awet dan fraksi-fraksinya.  g-oryzanol adalah campuran ester asam ferulat dari sterol dan triterpen alkokol yang merupakan bahan aktif utama yang sering dilaporkan terdapat di dalam bekatul awet atau minyaknya; g-oryzanol diketahui luas sebagai senyawa yang dapat mempengaruhi gen-gen yang terkait status antioksidan dan stres oksidatif pada uji invivo.

Pada tahun 2008 El-Din melaporkan melaporkan hasil penelitian invivo menggunakan mencit spesies Swiss-albino di jurnal Nutrition and Cancer.  Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa MGN-3hemiselulosa olahan bekatul awet yang diperoleh dengan mereaksikannya secara enzimatik dengan enzim hemiselulosa yang berasal dari jamur Shiitakememiliki kemampuan sebagai senyawa antikanker dengan cara menginduksi apoptosis dan meningkatkan reaksi imun.  Bekatul awet yang diujicobakan tidak berpengaruh terhadap aktivitas mencit yang diuji, dimana mencit dalam keadaan normal pola konsumsinya (asupan makanan dan minuman).

Bahan aktif utama yang menyusun struktur MGN-3 adalah polimer arabinoxylan dengan xylose berada pada ikatan utama dan diikuti dengan arabinose pada ikatan lainnya.  Komposisi kimia MGN-3 lainnya dapat dilihat pada Tabel 1.

 

Tabel 1. Komposisi kimia MGN-3a

Parameter

MGN-3

Penampakan

Kadar air (%)

Kadar protein (%)

Kadar abu (%)

Kadar karbohidrat (by difference) (%)

Arsenik (sebagai As2O3) (ppm)

Logam berat (sebagai Pb) (ppm)

Total mikroba (koloni/gram)

Total koliform

Bubuk berwarna coklat

< 8,0

8 – 15

5 – 10

65 – 80

< 5,0

< 20,0

< 3,0 X 103

Negatif

a Sumber: El-Din et al., Nutrition and Cancer (2008) 60, 235 – 244

 

Penelitian Wang et al pada tahun 2009 yang diterbitkan di International Journal of Biological Macromolecules menemukan satu metode untuk memanipulasi defatted rice bran agar dapat dihasilkan komponen-komponen aktif dengan degrees of sulfation (DS) yang tinggi.  Teknik ini mereka sebut dengan nama teknik chlorosulfonic acid–pyridine (CSA–Pyr).  Teknik ini merupakan salah satu cara untuk meningkatkan bioaktivitas dari bahan-bahan berbasis polisakarida.  Senyawa sulfat dapat mengubah karakteristik bahan awal dengan berubahnya ikatan struktur bekatul.

Prinsip teknik ini adalah memodifikasi bekatul yang telah dihilangkan kandungan lemaknya dengan proses sulfatisasi.  Dengan perbandingan CSA: Pyr (1 : 4) pada suhu 70 oC selama dua jam, dapat dihasilkan fraksi dari defatted rice bran dengan kandungan karbohidrat sebanyak 78,58% dan nilai DS 1,29; fraksi ini memiliki kemampuan dalam menghambat proliferasi sel B16 and HeP-G2 secara invitro.

Secara garis beras teknik sulfatisasi yang dikembangkan oleh Wang et al (2009) adalah sebagai berikut, defatted rice bran dilarutkan dalam larutan anhydrous dimethyl formamide dan kemudian ditambahkan larutan sulfat (campuran CSA dan Pyr).  Setelah selesai reaksi, campuran bahan didinginkan pada suhu ruang.  Setelah itu dilakukan netralisasi dengan 2,5M NaOH, dan kemudian dipresipitasi dengan ethanol 95%.  Endapan yang diperoleh dilarutkan kembali dengan air dan didialisis dengan air mengalir biasa selama 2 hari kemudian dilanjutkan dengan air suling selama 1 hari.  Tujuan tahapan ini adalah untuk menghilangkan piridin, garam, dan bahan-bahan lainnya.  

Hasil beberapa penelitian yang disebutkan di atas dapat memberikan gambaran yang cukup jelas, bahwa pengembangan potensi bekatul awet dengan beberapa teknik modifikasi persiapannya—termasuk fraksi-fraksi bekatul dengan bahan aktifnyadapat diaplikasikan sebagai senyawa antikanker.  Sebagai salah negara terbesar penghasil sekaligus pengkonsumsi beras, temuan-temuan bekatul yang telah dipaparkan, dapat memberikan nilai tambah industri perberasan di tanah air.

 

*Dr. Ardiansyah, Laboratory of Nutrition, Graduate School of Agricultural Science, Tohoku University-Sendai, Jepang dan Departemen Gizi Masyarakat, FEMA-IPB.

Mengenal Bekatul Lebih Jauh

posted Jan 30, 2011, 5:03 PM by w p   [ updated Feb 21, 2011, 7:59 PM by Dwi Estika ]

BEKATUL.NETBekatul atau rice bran adalah hasil samping penggilingan padi terdiri yang dari aleurone layerseed coat, dan germ (Gambar 1) Pada Gambar 1 juga ditampilkan alur proses pengolahan padi menjadi beras dan pada saat yang sama juga akan dihasilkan bekatul.  Bekatul merupakan produk samping penggilingan beras yang terdiri dari 10 persen dari total produk (Shih, 2003).  Jumlah produksi bekatul berbanding lurus dengan produksi beras, artinya di Indonesia yang mayoritas penduduknya menjadikan beras sebagai pangan pokoknya, sudah jelas kebutuhan akan beras setiap tahunnya meningkat, sehingga hasil samping bekatul pun jumlahnya semakin besar.

 

Gambar 1. Diagram alir proses pengolahan beras dan bekatul

 

Sangat disayangkan, sampai saat ini pemanfaatan bekatul masih sangat terbatas, yaitu hanya sebagai pakan ternak.  Padahal, laporan penelitian menyebutkan bahwa bekatul mengandung komponen bioaktif pangan yang bermanfaat bagi kesehatan, sehingga bekatul sangat berpotensi untuk dikembangkan menjadi pangan fungsional yang bernilai gizi dan menyehatkan.


Kandungan dan manfaat dari bekatul

Komposisi kimia bekatul sangat bervariasi, tergantung kepada faktor agronomis padi, termasuk varietas padi, dan proses penggilingannya.  Bekatul kaya akan vitamin B komplek (B1, B2, B3, B5, dan B6), vitamin E (tocopherols dan tocotrienols), carotenoids, asam lemak esensial, dietary fiber, asam amino, g-oryzanolpolyphenols, mineral, dan phytosterols.  Komponen-komponen bioaktif bekatul banyak terdapat pada pada bagian seed coat dan aleurone layer.

Manfaat bekatul diantaranya adalah menurunkan secara nyata kadar kolesterol darah, yaitu low density lipo-protein (LDL) colesterol dan very low density lipo-prortein  (VLDL) colesterol, serta dapat meningka-tkan kadar high density lipo-protein (HDL) kolesterol darah.  Kemampuan bekatul dalam menurunkan kadar kolesterol disebabkan adanya kandungan g-oryzanol  dan kandungan asam lemak tidak jenuh.

Manfaat lain dari bekatul adalah memiliki kemampuan menurunkan tekanan darah dan meningkatkan metabolisme glukosa dengan menggunakan hewan percobaan, yang disebut stroke-prone spontaneously hypertensive rats (SHRSP); spesies tikus yang secara genetik mengalami hipertensi dan hiperlipidemia. Mekanisme penurunan tekanan darah melalui penghambatan kerja enzim angiotensin I-converting enzyme (ACE); suatu enzim yang bertanggung jawab terhadap peningkatan tekanan darah.

Di beberapa negara maju, khususnya di Jepang dan Amerika Serikat, kandungan asam amino yang terdapat pada bekatul telah disuplementasi ke dalam produk-produk kecantikan.  Produk-produk tersebut antara lain sabun mandi, pelembab dan pembersih kulit, serta pelembab muka.  Tujuan penggunannya adalah untuk menjaga dan meningkatkan kesehatan kulit.  Kandungan asam amino yang terdapat pada bekatul diketahui sangat sesuai untuk memberikan efek perlindungan kulit.

Bekatul juga mengandung asam ferulat (ferulic acid), yang telah diketahui secara luas sebagai antioksidan dan bahan fotoprotektif.  Asam ferulat  akan melindungi asam lemak melawan kerusakan oksidasi yang disebabkan oleh berbagai jenis polutan, peroksida, dan radikal bebas yang dibentuk selama proses meta-bolisme tubuh. 

 
Bagaimana mengetahui bekatul yang baik

Kandungan lemak pada bekatul mencapai 20 persen, hal ini dapat menyebabkan penurunan mutu pada bekatul, yaitu terjadinya ketengikan.  Kandungan air yang terdapat di dalam bekatul juga dapat menjadi faktor pemicu terjadinya proses hidrolisis lemak.  Oksidasi lemak pada bekatul dipercepat karena adanya aktivitas enzim lipase yang menghidrolisa lemak pada bekatul menjadi asam lemak bebas yang bersifat labil (mudah mengalami oksidasi).  Kemudian rasa pahit ditimbulkan oleh senyawa peptida hidrofobik dengan berat molekul rendah hasil hidrolisis protein oleh enzim protease.

Untuk bisa menjadikan bekatul sebagai pangan yang food grade dan bisa awet, maka komponen penyebab kerusakan dari bekatul harus dihilangkan dan/atau dihambat.  Tetapi tetap harus menjaga komponen bio-aktifnya, agar tidak hilang atau meminimalisasi kehilangan.

Pada Gambar 2 ditampilkan pohon industri pemanfaatan bekatul.  Dengan proses stabilisasi menggunakan suhu dan waktu tertentu (pemanasan) akan dapat dihasilkan fiber ingredient dan proses ekstraksi yang selanjutnya dapat menghasilkan minyak dan bahan non-minyak.  Penggunaan bekatul di luar negeri (misalnya di Jepang atau USA) secara komersil diperoleh dengan mengekstraksi bekatul menjadi minyak goreng.  Selain itu telah digunakan dalam industri pangan, dimana bekatul dimanfaatkan sebagai bahan baku industri farmasi dan industri kecantikan.

  

Gambar 2. Pohon Industri Pemanfaatan Rice Bran (Modifikasi dari Cosmetic Ingredient Review Expert Panel, 2006)

 
Cara penyimpanan bekatul

Setelah proses stabilisasi, penyimpanan bekatul-awet memegang peranan penting agar bekatul tidak mudah rusak.  Kerusakan bekatul-awet kemungkinan dapat disebabkan oleh ketengikan akibat terjadinya oksidasi atau hidrolisis kandungan lemak yang terdapat pada bekatul-awet. Dengan kandungan air berkisar antara 6-7 persen, bekatul-awet baik disimpan dalam tempat yang dingin dan kering, sehingga tidak mudah ditumbuhi oleh mikoorganisme perusak. Bekatul-awet dapat disimpan dalam kemasan plastik (contohnya polyethylene atau PE) agar memberi perlindungan terhadap terjadinya pencemaran, kerusakan fisik, dan dapat menahan perpindahan gas dan uap air.     


Cara mengkonsumsi bekatul

Tepung bekatul dapat digunakan sebagai bahan subtitusi roti, cookies, dan minuman berserat.  Untuk dija-dikan sebagai penganan, bekatul dapat dicampur dengan bahan lain pada pembuatan biskuit, kue, produk breakfast cereal, dan lain-lain. Substitusi 15 persen bekatul padi dalam tepung terigu, dilaporkan membe-rikan hasil yang optimal penerimaan konsumen pada produk kue kering dan roti manis.

Pemanfaatan bekatul menjadi produk minyak bekatul (rice bran oil atau RBO) telah lama dilakukan di bebe-rapa negara maju, khususnya di Jepang dan Amerika Serikat. RBO merupakan salah satu minyak yang telah dijual di masyarakat umum.  Dalam betuk RBO digunakan dalam sebagai ingredien bahan pangan, seperti pada produk snacks (makanan rigan), pengolahan margarin, dan pengolahan mayonais. 

*Penulis: Dr. Ardiansyah, Laboratory of Nutrition, Graduate School of Agricultural Science, Tohoku University-Sendai, Jepang dan Departemen Gizi Masyarakat, FEMA-IPB.


Copyright © BEKATUL.NET 2011

Bekatul Sumber Prebiotik

posted Oct 15, 2010, 9:28 PM by Heny Suhardiman   [ updated Oct 28, 2010, 7:00 PM by w p ]

BEKATUL.NET - Istilah probiotik dan prebiotik, maupun kombinasi keduanya (sinbiotik), sudah sangat sering kita dengar dalam beberapa produk makanan dan minuman.  Untuk beberapa produsen, istilah-istilah ini menjadi nilai jual, untuk menaikkan image dan menunjukkan pada konsumen bahwa produk mereka mempunyai keunggulan dibanding produk pesaingnya.  

Tulisan : “mengandung prebiotik” atau “dilengkapi dengan probiotik”, sering kita temui pada label kemasan beberapa produk makanan dan minuman.  Atau juga kita pasti pernah mendengar iklan salah satu produk susu fermentasi yang menganjurkan untuk : “saya minum dua”.  Hal ini menunjukkan bahwa prebiotik/probiotik/sinbiotik selain diharapkan dapat meningkatkan kualitas produk yang diproduksinya, juga menjadi alat promosi, yang dapat digunakan untuk strategi pemasaran dari produknya.

Konsep probiotik diperkenalkan oleh Fuller sejak tahun 1992, sedangkan konsep prebiotik diperkenalkan oleh Gib-son dan Robefroid pada tahun 1995. Pada saat yang sama, konsep sinbiotik, yaitu kombinasi prebiotik dan probiotik pada suatu produk, juga diperkenalkan. Bakteri asam laktat terutama dari kelompok bifidobakteria dan beberapa spesies laktobasili lainnya merupakan contoh-contoh mikrobiota yang telah digunakan sebagai sumber probiotik.

Definisi umum probiotik atau dikenal dengan mikroorganisme “baik” adalah preparat yang terdiri dari mikroba hidup yang dimasukkan ke dalam tubuh manusia atau hewan secara oral. Mikroba hidup itu diharapkan mampu memberikan pengaruh positif terhadap kesehatan manusia atau hewan dengan cara memperbaiki sifat-sifat yang dimiliki mikroba alami yang tinggal di dalam tubuh manusia atau hewan tersebut.  

Sedangkan prebiotik didefinisikan sebagai ingredien pangan yang tidak dapat dicerna dengan cara merangsang pertumbuhan dan aktivitas mikrobiota yang menguntungkan di dalam saluran pencernaan. Efek prebiotok dapat meningkatkan kesehatan pencernaan inang seperti dapat mencegah timbulnya kanker usus besar karena sifat prebiotik sebagai bahan anti-radang. Prebiotik difermentasi dalam saluran pencernaan sebagai sumber karbon dan sumber energi menjadi asam lemak rantai pendek (SCFAs) sehingga dapat digunakan mikrobiota untuk berkembang di dalam usus besar.

Suatu ingredien pangan dapat diklasifikasikan sebagai prebiotik bila memenuhi persyaratan berikut : (i) Tidak terhidrolisis atau terserap pada saluran pencernaan bagian atas, (ii) Secara selektif dapat menstimulir pertumbuhan bakteri yang menguntungkan pada kolon, dan (iii) Dapat menekan pertumbuhan bakteri patogen, sehingga secara sistemik dapat meningkatkan kesehatan.

Pada umumnya senyawa oligosakarida yang tidak tercerna seperti rafinosa, fruktooligosaka-rida, isomaltooligosakarida atau transgalakto-siloligosakarida (TOS), dan galaktosillaktosa diketahui dapat meningkatkan jumlah bifidobakteria indigenus dan bakteri asam laktat yang terdapat di dalam saluran pencernaan. Beberapa prebiotik seperti inulin dan oligosakarida dapat diisolasi dari sumber alami, seperti umbi-umbian. Umumnya umbi-umbian mengandung oligosakarida dalam bentuk rafinosa dalam jumlah tinggi.

Baru-baru ini grup peneliti yang diketuai oleh Komiyama et. al. dari perusahaan Kirin Co., Ltd.—perusahaan Farmasi di Jepang—mengembangkan sumber prebiotik baru yang berasal dari bekatul. Penelitian tersebut telah dipublikasikan di Scandinavian Journal of Gastroenterology edisi Agustus 2010. Produk tersebut mereka beri nama dengan enzyme-treated rice bran foodstuff (ERF) yang kaya dengan kandungan dietary fiber dan juga fraksi lemak.

Langkah pertama untuk mendapatkan prebiotik dari bekatul adalah dengan cara : (i) Bekatul difermentasi dengan heat-resistant amylase untuk menghilangkan residu (sisa) fraksi pati, (ii) Fraksi tidak larut dari bekatul difermentasi lanjut dengan enzim hemiselulase dan protease pada suhu 50°C selama satu malam, dan (iii) Inaktivitas enzim dengan cara pemanasan, kemudian diperoleh residu yang kemudian disebut dengan ERF, komposisi kimia ERF disajikan pada Tabel 1.

 

Tabel 1. Komposisi kimia ERF*

Komposisi (%)

ERF

Protein

14,9

Lemak

12,5

Dietary fiber

Selulosa**

Hemiselulosa**

Lignin*

74,5

32,8

42,8

24,4

Abu

2,1

Air

3,6

*Sumber: Komiyama et. al., 2010 (Agustus, 24). Scandinavian Journal of Gastroenterology. [Epub ahead of print]

**Persentase dietary fiber

 

Perlakuan enzim sangat efektif untuk menurunkan kandungan protein dan kandungan pati pada bekatul. Selanjutnya perlakuan enzim sangat bermanfaat untuk meningkatkan kandungan dietary fiber karena rusaknya struktur dinding sel bekatul.  Pada Tabel 1 terlihat bahwa ERF yang dihasilkan mengandung dietary fiber sebanyak 70 persen—42,8 persen berasal dari hemiselulosa. Jumlah dietary fiber meningkat sebanyak 36,3 persen bila dibandingkan dengan bekatul awet yang digunakan sebagai bahan baku awal. Produk ERF memiliki nilai water holding capacity (WHC) sehingga ERF dapat berkontribusi untuk perbaikan metabolisme pencernaan terutama pada penderita diare kronis. 

Pada bagian akhir penelitian Komiyama et. al. menyebutkan bahwa ERF memiliki kemampuan sebagai bahan anti-inflamasi (anti-radang) pada colon (usus besar) yang uji menggunakan hewan percobaan. Komiyama et. al. menyimpulkan bahwa kemampuan ERF sebagai bahan anti-inflamasi disebabkan karena ERF memiliki kemampuannya dalam menghambat dysbiosis, menurunkan dan menekan pertumbuhan bakteri Clostridium sp. dan Eubacterium sp.—dua spesies bakteri patogen yang ada di dalam saluran pencernaan, meningkatkan jumlah SCFAs yang dapat berkontribusi kontribusi pada efek anti-inflamasi, dan respon beberapa fraksi lemak ERF yang dapat meningkatkan reaksi imun pada sel.

Hasil penelitian di atas sudah memberikan gambaran yang cukup jelas, bahwa pengembangan potensi bekatul sebagai sumber prebiotik sangat besar.  Hal ini juga sekaligus bisa menjadikan bekatul sebagai ingredien pangan yang dengan mudah dapat ditambahkan pada formulasi produk pangan lainnya.

Keunggulan bekatul sebagai sumber prebiotik, menambahkan deretan manfaat dari bekatul sebelumnya, yaitu bahan anti-hipertensi, anti-hiperlilidemia, bahan dasar kosmestik dan kecantikan.  Hal ini sudah cukup menjadi dasar yang kuat, untuk meningkatkan citra bekatul, dan mengembangkannya sebagai bahan baku ingredien dan/atau produk yang potensial. Peluang bagi kalangan industri/pengusaha, untuk segera ‘menangkapnya’, dan bersiap menjadi pioneer yang sukses bersama bekatul. Sebagai konsumen beras yang besar, bagi negeri ini penemuan akan keunggulan bekatul, diharapkan juga dapat meningkatkan nilai tambah industri perberasan di tanah air.


Penulis: Ardiansyah, Laboratory of Nutrition, Graduate School of Agricultural Science, Tohoku University-Sendai, Jepang dan Departemen Gizi Masyarakat, FEMA-IPB.


Copyright © BEKATUL.NET 2010

Cantik dengan Bekatul

posted Sep 17, 2010, 6:07 AM by Heny Suhardiman   [ updated Sep 17, 2010, 9:55 PM ]

BEKATUL.NET - Bekatul (rice bran) yaitu bagian luar dari beras yang terlepas menjadi serbuk halus pada proses penggilingan padi menjadi beras, selain mempunyai manfaat kesehatan, juga mempunyai manfaat yang besar untuk dunia kecantikan.  Saat ini memang belum banyak orang yang mengenal manfaat bekatul, selain hanya dikenal sebagai makanan (pakan) ternak.  Padahal di balik buliran putih beras tersebut, bekatul awet dan bahan aktifnya menyimpan manfaat yang besar untuk kecantikan, sebagai bahan tambahan dan ingredient produk kecantikan. Kandungan asam amino, g-Oryzanol, dan asam ferulat terdapat di dalam bekatul diketahui memiliki kemampuan sebagai pelindung kulit sehingga sesuai digunakan sebagai ingredient untuk industri kosmetik.

Senyawa fitokimia (phytos = tanaman, chemicals = zat kimia) menjadi topik penelitian penting akhir-akhir ini karena dapat memberikan fungsi-fungsi fisiologis terutama kaitannya dengan pencegahan berbagai penyakit.  Komposisi fitokimia bekatul sangat bervariasi, tergantung kepada faktor agronomis, varietas padi, dan proses penggilingannya (derajat sosoh). 

Hasil penelitian penulis menunjukkan bahwa fraksi Driselase (fraksi non-lemak) dari bekatul mengandung total asam amino esensial seperti asam glutamat, glisin, asam aspartat, arginin, lisin dengan jumlah masing-masing adalah 116, 72, 67, 48, 43 mmol/kg, serta beberapa asam amino esensial lainnya.  Selain itu dalam fraksi non-lemak bekatul tersebut juga terdapat asam ferulat (ferulic acid) sebanyak 0,2 mg/100 gram bahan. Dalam penelitian tersebut salah satu fraksi bekatul diperoleh dengan fermentasi menggunakan Driselase.  Driselase adalah nama produk enzim komersial untuk degradasi dinding sel tanaman yang terdiri dari selulase, silanase, dan laminarise.

Asam ferulat telah diketahui secara luas sebagai antioksidan dan bahan fotoprotektif (Saija et al., 1999).  Asam ferulat akan melindungi asam lemak melawan kerusakan oksidasi yang disebabkan oleh berbagai jenis polutan, peroksida, dan radikal bebas yang dibentuk selama proses metabolisme tubuh.  Asam ferulat juga dapat bekerja secara sinergis dengan komponen antioksidan lain, seperti asam kafeat, vitamin C, dan betakaroten, untuk menghilangkan radikal bebas, peroksida, dan zat berbahaya potensial lain.

Silab (2002), melaporkan bahwa Hydrolyzed Rice Protein Product (Nutriskin) adalah suatu produk perawatan kulit dengan kandungan asam amino yang cukup beragam (Tabel 1).  Dalam kosmetika, “serum” merupakan bahan cair yang kandungannya sebagian besar asam amino, dan penggunaannya dioleskan langsung ke kulit.  Kandungan asam amino yang terdapat pada bekatul diketahui sangat sesuai untuk memberikan efek perlindungan kulit.

Tabel Komposisi Asam Amino pada Nutriskin*

 Asam amino
 Persentase
 Asam glutamat
 18,5
 Arginin 10,5
Leusin 9,2
 Tirosin 9,1
 Phenilalanin 8,1
 Asam aspartat
 8,0
 Serin 7,6
 Alanin 6,1
 Glisin 4,6
 Valin 4,6
 Lisin 4,0
 Threonin 3,3
 Histidin 3,0
Isoleusin
 2,0
 Methionin 1,1
Sumber: Silab (2002)

Di beberapa negara maju, khususnya di Jepang dan Amerika Serikat, bekatul awet dan beberapa komponen bioaktifnya telah disuplementasi sebagai ingredient pada produk-produk kecantikan.  Produk-produk tersebut antara lain sabun mandi,  shampo, pelembab dan pembersih kulit, serta pelembab muka.  Jumlah penggunaannya berkisar antara 0,1 sampai 2,0 persen.  Salah satu bahan yang yang dilaporkan yaitu g-Oryzanol diketahui memiliki kemampuan untuk melindungi kulit dari sengatan matahari (Ishibashi, 1994).  g-Oryzanol adalah campuran ester asam ferulat dari sterol dan triterpen alkokol yang terdapat di dalam bekatul.  g-Oryzanol diketahui bersifat antioksidan dengan mencegah terjadinya kerusakan dinding sel sehingga penting dalam menjaga kesehatan manusia. 

Hasil penelitian tersebut diatas, sudah cukup menunjukkan betapa nilai bekatul itu sangat besar, tak sekedar sebagai pakan, bekatul awet dan bahan-bahan aktif yang terkandung di dalamnya mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai ingredient industri kosmetik/kecantikan.  Potensi ini berkorelasi dengan produksi beras sebagai konsumsi utama masyarakat Indonesia. Pemanfaatan limbah penggilingan padi dapat diolah menjadi bekatul awet dan kemudian diolah lanjut sebagai ingredient industri kecantikan.

Peluang ini tentu sangat potensial untuk kalangan industri sebagai peluang usaha baru, bagi pemerintah, dan tentu bagi masyarakat luas.  Jumlah bekatul yang melimpah, karena negeri ini mayoritas menjadikan beras sebagai pangan pokoknya, menjadikan peluang ini semakin besar dan tak akan mendapat hambatan dalam penyediaan bahan baku.  Keberadaan industri baru ini nantinya, bisa menjadikan bekatul lebih bernilai, membuka peluang usaha baru, membuka lapangan pekerjaan baru, dan tentu akhirnya akan meningkatkan devisa negara, untuk menuju masyarakat kita yang lebih sejahtera.


Penulis: Ardiansyah, Laboratory of Nutrition, Graduate School of Agricultural Science, Tohoku University-Sendai, Jepang dan Departemen Gizi Masyarakat, FEMA-IPB.

 

Copyright © BEKATUL.NET 2010

Stabilisasi dan Sifat Fungsional Bekatul

posted Sep 1, 2010, 11:53 PM by Heny Suhardiman   [ updated Sep 17, 2010, 6:19 AM ]

BEKATUL.NET - Bekatul atau rice bran adalah bagian luar dari beras yang terlepas menjadi serbuk halus pada proses penggilingan padi menjadi beras. Jumlah bekatul berbanding lurus dengan produksi beras.  Semakin banyak produksi beras, maka bekatul yang dihasilkan pun semakin besar.  Produksi beras di Indonesia cukup besar, sehingga bekatul yang dihasilkan pun sangat melimpah.  Namun sampai saat ini pemanfaatannya masih sangat terbatas, hanya sebagai pakan ternak.  Padahal beberapa penelitian bahwa bekatul mengandung komponen bioaktif pangan yang bermanfaat bagi kesehatan, baik hasil uji pada hewan ataupun manusia. Sehingga bekatul sangat berpotensi untuk dikembangkan menjadi pangan yang bernilai gizi tinggi dan menyehatkan.

Persentase bekatul yang dihasilkan dari proses penggilingan padi cukup besar, yaitu sepuluh persen, yang terdiri dari lapisan aleurone beras (rice kernel), endosperm, dan germ (selengkapnya pada Gambar 1).

Gambar Produk samping penggilingan beras (Sumber: USA Rice Council dalam Shih, 2003).

Kandungan lemak pada bekatul mencapai 20 persen, hal ini dapat menyebabkan penurunan mutu pada bekatul, yaitu terjadinya ketengikan.  Selain itu kandungan air yang terdapat di dalam bekatul juga dapat menjadi faktor pemicu terjadinya proses hidrolisis lemak.  Oksidasi lemak pada bekatul dipercepat karena adanya aktivitas enzim lipase yang menghidrolisa lemak pada bekatul menjadi asam lemak bebas yang bersifat labil (mudah mengalami oksidasi).

Kadar lemak dan air, adalah faktor yang sangat berpengaruh terhadap penurunan mutu produk pangan pada umumnya.  Kandungan air dalam bahan pangan, selain mempengaruhi terjadinya perubahan kimia juga ikut menentukan kandungan mikroba pada pangan.  Selain kadar air, kerusakan produk pangan juga disebabkan oleh ketengikan akibat terjadinya oksidasi atau hidrolisis komponen bahan pangan.  Tingkat kerusakan tersebut dapat diketahui dengan melihat nilai free fatty acid (FFA) dan tiobarbituric acid (TBA). Kerusakan lemak selain menaikkan nilai peroksida juga meningkatkan kandungan malonaldehida (MDA), suatu bentuk aldehida yang berasal dari degradasi lemak.  MDA yang terkandung pada suatu bahan pangan diukur sebagai angka TBA.

Untuk bisa menjadikan bekatul sebagai pangan yang food grade dan bisa awet, maka komponen penyebab kerusakan dari bekatul harus dihilangkan dan/atau dihambat.  Tetapi tetap harus menjaga komponen bioaktifnya, agar tidak hilang atau meminimalisasi kehilangan.

Penelitian yang dilakukan oleh Amarasinghe dan Gangodavilage (2004), melaporkan bahwa metode pengukusan merupakan satu metode yang tepat untuk proses stabilisasi bekatul bila dibandingkan dengan metode-metode lainnya, seperti hot air drying, pendinginan (refrigeration), pengeringan di bawah sinar matahari (sun drying), fluidized bed drying, dan stabilisasi menggunakan bahan kimia.  Metode pengukusan yang diaplikasikan dapat mengontrol kadar FFA bekatul-bisa bertahan sampai dengan 90 hari dengan nilai FFA sebesar 9 persen.  Selanjutnya mereka merekomendasikan bahwa metode pengukusan sangat sesuai diterapkan untuk skala industri kecil, karena mudah diaplikasikan dan tidak memerlukan biaya yang terlalu besar.

Penelitian yang dilakukan oleh Swastika (2009), merekomendasikan bahwa kombinasi metode pengukusan dan pengeringan rak dapat dijadikan salah satu alternatif metode pengawetan bekatul.  Bekatul terstabilisasi yang dihasilkan dengan metode ini memiliki kadar air 5,6 persen dan nilai TBA 0,23 mg MDA/kg sampel.  Bila dibandingkan dengan bekatul segar yang memiliki kadar air 6,9 persen dan nilai TBA 0,68 mg MDA/kg sampel.

Lebih lanjut Swastika (2009), melaporkan bahwa proses pengeringan dapat memperbaiki sifat-sifat fungsional bekatul, diantaranya nilai kelarutan, persentase swelling power (SP), dan freeze thaw stability (FTS).  Nilai kelarutan yang kecil menunjukkan bahwa bekatul sulit larut dalam air.  Proses stabilisasi dapat meningkatkan kelarutan bekatul hingga mencapai 18,7-21,2 persen bila dibandingkan dengan nilai kelarutan sebelum proses stabilisasi yaitu sebesar 12 persen.  Proses stabilisasi juga dapat meningkatkan keporosan jaringan sehingga dapat mengikat air dalam jumlah besar.  Nilai SP bekatul segar sebesar 6 persen sedangkan bekatul awet berkisar antata 8,4-9,3 persen.  FTS merupakan indikator stabilitas bahan pangan untuk disimpan dalam kondisi beku dan dinyatakan sebagai persen sineresis.  Penurunan persentase sineresis produk bekatul awet (90,6-93,9 persen) dari bekatul segar (95,5 persen) menunjukkan perbaikan sifat fungsional bekatul dalam mengikat air.

Perlu dilakukan penelitian lanjutan, dalam skala pilot plant atau skala lebih besar, untuk menghasilkan bekatul dan/atau produk turunannya, dengan kualitas yang lebih baik.  Juga perlu dilakukan sosialisasi pada konsumen akan nilai gizi dari bekatul, sehingga produk akhirnya bisa diterima oleh konsumen.  Pada tahap awal diperlukan kolaborasi yang sinergi antara pemerintah, produsen dan konsumen, serta pihak-pihak lainnya yang terkait.  Sehingga jumlah produksi bekatul yang cukup besar di Indonesia, bisa dimanfaatkan dengan maksimal, dan menjadi alternatif diversifikasi pangan, serta dapat meningkatkan nilai gizi masyarakat.


Penulis: Ardiansyah, Ph.D., Laboratory of Nutrition, Graduate School of Agricultural Science, Tohoku
                  University-Sendai, Jepang dan Departemen Gizi Masyarakat, FEMA-IPB.


Copyright © BEKATUL.NET 2010

Bekatul bukan Dedak

posted Aug 16, 2010, 11:08 AM by Heny Suhardiman   [ updated Aug 23, 2010, 10:31 PM ]

Jangan ragu mengonsumsi bekatul, sebab bekatul ini bukan dedak yang dimakan unggas. Dijelaskan Bambang, bekatul dan dedak memang sama-sama bagian dari padi.

Dedak merupakan hasil penyosohan (penggilingan) padi yang pertama dan berwarna kekuningan serta agak kasar. Sedangkan bekatul, hasil penyosohan kedua yang berwarna putih dengan tekstur lebih halus.

“Kalau zaman dulu beras tidak terlalu putih karena penyosohannya kurang bersih. Tapi justru beras yang seperti itu memiliki nutrisi tinggi,“ jelas Bambang.


Manfaat bekatul ini semakin gencar dise


barkan sejak ditemukannya kandungan vitamin B1 di dalamnya, dan penelitian ini dilakukan oleh dr.Eijkman. Sejak itu, pemisahan antara bekatul dan dedak dilakukan untuk mendapatkan manfaat dari bekatul.


Dikutip dari Tabloid Cantiq edisi 148, 1 Juni 2010

Cara Mengonsumsi Bekatul

posted Aug 16, 2010, 11:03 AM by Heny Suhardiman   [ updated Aug 23, 2010, 10:32 PM ]

Bekatul berbentuk butiran yang tidak terlalu kasar dan memiliki aroma khas serta tidak berasa. Karenanya, agar enak dikonsumsi, bekatul harus diolah ato dicampur dengan bahan-bahan lainnya.

Berikut ini beberapa cara pengolahan bekatul agar lebih nikmati dikonsumsi:

1.   Dikukus dengan Daun Pisang

Aroma alami daun pisang bisa memberi cita rasa tersendiri untuk makanan. Karenanya, Bambang menyarankan agar pengolahan bekatul dengan dikukus menggunakan daun pisang.

Selain memberikan aroma khas, kandungan nutrisi pentingnya juga tidak akan rusak.

“Belum ada yang mengalahkan daun pisang, selain ada aroma khas, daun pisang ini juga melindungi nutrisi dalam bahan makanan tersebut tidak rusak sehingga manfaatnya tetap didapat,“ jelas Bambang.

2.   Sebagai Campuran Roti atau Makanan

Agar lebih bervariasi, bekatul juga dapat digunakan sebagai campuran roti atau makanan. Misalnya kue kering atau jajanan tradisional yang sudah familiar dengan lidah masyarakat Indonesia.

Soebagijo juga menegaskan bahwa campuran bekatul sebagai minuman atau makanan boleh dilakukan agar enak dikonsumsi.

“Boleh saja dimakan dengan buah-buahan atau sayuran, asalkan tidak sampai merusak kandungan nutrisinya,“ tambah dokter yang juga Staf Senior Departement Internist-Endokrin-Diabetes ini.

Senada dengan Soebagijo, Bambang juga menyarankan agar memperhatikan cara mengonsumsi bekatul. Misalnya jika digunakan untuk diet menurunkan berat badan, sebaiknya bekatul tidak dimakan bersama makanan yang memiliki nilai kalori tinggi.

3.   Ditambah Perasa

Jika ingin mengonsumsi bekatul tanpa makanan yang lain, Bambang menyarankan menambahkan flavour berasa apapun. Misalnya manis, asin atau asam agar enak dikonsumsi. “Tapi sekali lagi jangan sampai merusak nilai nutrisi atau menambahkan kalori ke dalamnya,“tegasnya.

4.   Dicampur Air Hangat

                        Untuk menjaga stamina, bekatul bisa dikonsumsi dengan melarutkannya dalam air hangat                                    kuku sebanyak satu sendok makan di pagi dan sore hari.



Dikutip dari Tabloid Cantiq edisi 148, 1 Juni 2010

Manfaat Bekatul

posted Aug 16, 2010, 10:56 AM by Heny Suhardiman   [ updated Aug 23, 2010, 10:33 PM ]

Dari kandungan mikronutrien yang ada di dalam bekatul, bekatul tentu kaya manfaat. Terutama yang berhubungan dengan kesehatan. Manfaat itu di antaranya:

1.   Memperbaiki Sistem Pencernaan

Kandungan serat yang terdapat pada bekatul sangat baik untuk pencernaan manusia. Sebab, bekatul tergolong serat yang tidak larut sehingga mampu menggelontor lemak-lemak yang menempel pada usus.

Hal ini dipertegas dr Soebagijo Adi SpPD KEMD yang menyatakan konsumsi bekatul sangat berpengaruh pada kelancaran BAB (buang air besar) seseorang.

”Waktu transit makanan di usus yang terlalu lama bisa jadi masalah tersendiri. Tetapi bekatul mampu melancarkan BAB sehingga waktu transitnya tidak terlalu lama,“ ungkap konsultan Endokrin, Metabolik dan Diabetes yang ditemui Cantiq di RSU dr Soetomo Surabaya ini.

Selain itu, bekatul juga baik untuk penderita maag, sebab serat bekatul juga berfungsi pada pengenceran asam-asam atau garam-garam empedu, sterol serta beberapa zat makanan.

2.   Mencegah Proses Oksidasi

Vitamin E, B15 dan oryzanol merupakan antioksidan yang sangat baik untuk mencegah proses oksidasi akibat radikal bebas pada sel-sel tubuh. Antioksidan ini akan bereaksi dengan oksidan untuk menghambat oksidasi dan stres oksidatif pada sel-sel tubuh.

Jika asupan ini terpenuhi dengan baik, tubuh tidak sekadar memiliki perlindungan  terhadap radikal bebas tapi juga melakukan perbaikan yang melindungi akumulasi molekul yang rusak secara oksidatif.


3.   Mengurangi Risiko Nyeri Saraf

Tidak hanya bermanfaat untuk melancarkan pencernaan yang berimbas pada penurunan berat badan, nutrisi dalam bekatul juga bisa mengurangi risiko nyeri saraf. Dijelaskan Bambang, konsumsi bekatul dalam jangka panjang bisa menjauhkan gangguan sendi. “Sebab, vitamin B1 dan B2 dalam bekatul dapat menghindarkan risiko nyeri saraf atau neuritis,“ papar Bambang.

4.   Menurunkan Berat Badan

Dengan kandungan nutrisi yang ada di dalam bekatul serta manfaatnya, tentu tidak salah jika bahan makan ini sangat cocok untuk menurunkan berat badan.

Tidak sekadar berkurang, tapi juga sehat. Sebab, banyak nutrisi yang penting bagi tubuh yang terkandung dalam bekatul.

“Jadi, meski berat badan turun, tetap sehat. Dan usahakan untuk konsisten pada penurunan setengah kilogram setiap minggunya agar tidak mempengaruhi kerja tubuh,“ kata Bambang.

Hanya saja Bambang menegaskan bahwa bekatul ini bukanlah makanan utama, melainkan hanya pendamping. “Jadi, hanya suplemen yang bisa dikonsumsi pada selang waktu antara makan pagi dan siang atau makan siang dan malam,“ tambahnya.

Untuk takaran sekali makannya sendiri, Bambang tidak memberi ukuran khusus. “Ini bergantung pada selera masing-masing orang yang tidak sama,“ imbuh pria yang dikenal ramah dan murah senyum ini.


Dikutip dari Tabloid Cantiq edisi 148, 1 Juni 2010

Langsing Lebih Cepat dengan Bekatul

posted Aug 16, 2010, 6:52 AM by Heny Suhardiman   [ updated Sep 2, 2010, 3:06 AM ]

Bekatul selama ini dikenal sebagai makanan ayam, tapi ternyata manfaatnya luar biasa untuk melangsingkan tubuh. Apa saja yang terkandung di dalamnya?

Sebagai negara dengan mayoritas penduduk mengonsumsi nasi, sebenarnya masyarakt Indonesia cukup familiar dengan bekatul. Pasalnya,  bekatul adalah kulit ari padi yang terlepas ketika proses penggilingan. Bekatul berwarna krem atau kecokelatan dan berbentuk serbuk.

Sayangnya, selama ini bekatul justru lebih dikenal sebagai pakan ternak. Bukan bahan makanan untuk manusia. Padahal, manfaat dan kandungan nutrisi bekatul cukup banyak, salah satunya bisa melangsingkan tubuh.

Dikatakan Prof dr Bambang Wirjatmadi MS MCN PhD SpGK (Nutritionist), bekatul sangat baik untuk melangsingkan tubuh karena mengandung banyak serat dan vitamin yang memberikan efek kenyang cukup lama. Akibatnya, setelah mengonsumsi bekatul tidak ada keinginan untuk ngemil. Dan, tidak hanya kaya serat, bekatul juga rendah kalori, sehingga tidak akan menambah persentase asupan kalori dalam tubuh.


Kandungan

Mengapa bekatul sangat baik untuk melangsingkan tubuh? Hal ini tentu terkait dengan kandungan nutrisi yang ada di dalamnya.

Dijelaskan Bambang, kandungan nutrisi bekatul justru lebih banyak ketimbang beras. Kandungannya antara lain:

  1. Serat

Serat merupakan kandungan nutrisi tertinggi dalam bekatul selain riboflavin dan thiamin.

”Kandungan serat tertinggi dari bekatul inilah yang sangat baik untuk pencernaan,“ lanjut ahli nutrisi yang juga pengajar di Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga Surabaya.

Namun, serat, riboflavin atau vitamin B2 dan thiamin atau B1, bukanlah satu-satunya keistimewaan bekatul. Masih banyak kandungan gizi lainnya seperti protein, sumber asam lemak tak jenuh esensial dan beragam vitamin lainnya, seperti B3, B5, B6 dan tokoferol.

  1. Komponen Bioaktif

Komponen bioaktif pangan yang terdapat dalam bekatul adalah antioksidan tokoferol (vitamin E), tokotriol, oryzanol dan pangamic acid atau vitamin B15/

Senyawa itu merupakan lemak dari bekatul yang sangat berharga untuk manusia. Sebab, bahan ini dapat menurunkan kadar kolesterol dalam darah, mencegah terjadinya kanker dan melancarkan sekresi hormonal.

       2. Sumber Mineral yang Baik

Bahan-bahan mineral yang cukup tinggi dalam bekatul antara lain kalsium, magnesium, niacin dan fosfor. Semua bahan ini sangat dibutuhkan tubuh untuk menguatkan tulang serta memproduksi sel-sel darah merah.

Dikutip dari Tabloid Cantiq edisi 148, 1 Juni 2010

1-10 of 16