Petilasan Sri Aji Joyoboyo dan Sendang Tirtakamandanu

Petilasan Sri Aji Joyoboyo dan Sendang Tirtakamandanu

by mbah Subowo bin Sukaris

Sebuah sumber air berupa sumur yang menjadi bagian penting di area Sendang Tirtakamandanu berada di lingkungan petilasan pamuksan Joyoboyo di desa Menang, kab. Kediri. Kedua situs berjarak seribu meter itu berada di lingkungan persawahan penduduk. 
      Areal sendang Tirtakamandanu berbentuk persegi panjang seluas setengah hektar lebih itu penuh dengan bangunan berupa gerbang masuk yang terdiri dari tiga buah gapura. Gapura utama menjulang setinggi tujuh meter. Bangunan di bagian sebelah dalam di antaranya terdapat kolam renang yang berukuran empat kali delapan meter yang dilengkapi bilik berganti pakaian.
      Sesosok patung Ganesha atau gajah yang melambangkan ilmu pengetahuan dan kecerdasan, seolah tegak mengawasi dari suatu ketinggian. Arca yang halus buatannya ini mencolok sekali posisinya. Ukuran arca ini kurang lebih setinggi tiga meter yang diletakkan di ketinggian menghadap ke kolam renang yang diisi dengan sumber air berkhasiat yang terdapat di bagian lain berjarak enam meter. Uniknya patung Ganesha ini nempel dengan sebuah arca lainnya yang berbentuk sesosok manusia dewa menghadap ke arah bertentangan. Mereka seolah beradu punggung,  arca berbentuk sesosok manusia atau dewa ini menghadap tepat ke arah gerbang menyambut pendatang atau seolah mengawasi barang siapa yang memasuki gerbang situs sendang Tirtakamandanu ini.
      Di lihat dari pintu masuk, di samping sebelah kanan kolam renang yang memiliki bilik berganti pakaian. Sementara itu di balik dinding bilik berganti pakaian itu pada sisi sebelah luar atau tepat di belakang bilik terdapat lapangan kosong. Diperkirakan dulu areal lapangan ini dipergunakan untuk antrian para pengunjung yang hendak memasuki kolam yang diisi dari sumber yang dipercaya berkasiat menyembuhkan berbagai penyakit yang diderita oleh orang yang mengunjungi tempat itu.
      Lingkungan sendang Tirtakamandanu pada bagian depan antara gerbang luar yang belum selesai dengan gerbang dalam yang menjulang tinggi itu terdapat lapangan luas yang ditanami pepohonan besar dari berbagai jenis yang sangat bermanfaat bagi kesehatan sebagai tanaman obat. Para pengunjung biasanya menggelar tikar di bagian halaman ini, menikmati rindangan pohon besar di tengah teriknya mentari siang hari. Sementara itu lamat-lamat di kejauhan sana tampak sekilas pamuksan Sri Aji Joyoboyo yang dibatasi oleh sawah dan sebuah kuburan penduduk. Untuk menuju pamuksan Joyoboyo itu bisa ditempuh melalui jalan beraspal ke arah kanan atau berjalan kaki ke arah kiri melalui jalan tanah yang biasa dilalui para petani. Jalan tanah ini bisa menembul jalan aspal cukup lebar dan selanjutnya beberapa puluh meter lagi setelah memasuki jalan besar itu kembali memasuki areal sawah selama beberapa menit untuk mencapai pamuksan Sri Aji Joyoboyo.
     Suasana di Pamuksan Sri Aji Joyoboyo cukup terasa angker. Tak seorang pun lalu-lalang, kecuali para penunggu tetap yang sekaligus membersihkan dedaunan di halaman seputar bangunan inti pamuksan. 
     Dua buah anglo tempat membakar dupa teronggok masing-masing berada di dua bangunan yang terdapa di bagian dalam area pamuksan itu, pemandangan itulah yang membuat suasana menjadi seolah siapapun sedang berada di dunia lain, dunia magis.

*****