Navigation

Home‎ > ‎F‎ > ‎

Filsafat Indonesia

Filsafat Indonesia, sebagai sebuah istilah, memiliki tiga arti: (1) sebuah nama generik untuk tradisi berpikir yang memiliki perjalanan historis yang sangat panjang, terentang sejak kebudayaan neolitikum berkembang (sekitar tahun 3500 sampai 2500 Masehi) di mana komunitas manusia pribumi membentuk kesatuan suku-suku dan etnisitas, hingga kemunculan gerakan nasional di awal abad 20 Masehi, yang mempersatukan suku-suku pribumi ke dalam entitas baru yang dinamakan 'Negara Kesatuan Republik Indonesia' (NKRI), yang terus berlanjut hingga saat ini; (2) sebuah nama kajian baru dalam disiplin ilmu filsafat yang berkembang di Indonesia, dipelopori oleh Mohamad Nasroen (1907-1968), seorang Guru Besar Filsafat di Universitas Indonesia, yang berupaya menggali dan menemukan orisinalitas dan otentisitas dalam tradisi filosofis Indonesia; dan (3) segala produksi pemikiran yang dihasilkan oleh sarjana filsafat lulusan sekolah tinggi, universitas atau akademi jurusan Filsafat di Indonesia, yang banyak didirikan oleh pastor Katolik-Roma sejak awal abad 20 M.

 

Arti 2 muncul ketika Mohammad Nasroen memelopori kajian baru, ‘Filsafat Indonesia’. Kajian baru tersebut mencoba menggali unsur-unsur filosofis yang orisinal dalam tradisi kefilsafatan Indonesia. Menurut Nasroen, orisinalitas terdapat dalam tradisi filsafat etnis, yaitu 'filsafat' yang dikembangkan oleh suku-suku etnis asli Indonesia di era pra-NKRI. Untuk membahas filsafat etnis tersebut, beliau menulis tiga karya yang dewasa ini dianggap amat klasik: Dasar Falsafah Adat Minangkabau (1957), Falsafah Adat Minangkabau (1963), dan Falsafah Indonesia (1967). Dari karya ketiganya itulah istilah 'Filsafat Indonesia' berasal. Sejak itu, istilah 'Filsafat Indonesia' berarti tradisi filsafat etnis pribumi. 'Filsafat Indonesia' dalam arti 2 ini pun terus digunakan oleh filosof-filosof lainnya, seperti Sunoto (l. 1929), mantan Dekan Jurusan Filsafat Indonesia di UGM Yogyakarta, dan R. Parmono, mantan Sekjur Filsafat Indonesia di universitas yang sama, lalu Jakob Sumardjo (l.1939) , filsuf dan kolumnis di ITB Bandung. Sunoto menulis Selayang Pandang tentang Filsafat Indonesia (1981), Pemikiran tentang Kefilsafatan Indonesia (1983), dan Menuju Filsafat Indonesia: Negara-Negara di Jawa sebelum Proklamasi Kemerdekaan (1987). Sedangkan R. Parmono menulis Manusia Pendukung Pandangan Hidup: Pengantar Filsafat Anthropologi Indonesia, Beberapa Cabang Filsafat di Dalam Serat Wedhatama (1982-1983), Gambaran Manusia Seutuhnya di Dalam Serat WedhatamaMenggali Unsur-Unsur Filsafat Indonesia (1985). Jakob Sumardjo menulis Arkeologi Budaya Indonesia (2002) dan Mencari Sukma Indonesia (2003). Dalam karyanya Arkeologi Budaya Indonesia, Jakob membahas ‘Ringkasan Sejarah Kerohanian Indonesia’, yang secara kronologis memaparkan sejarah Filsafat Indonesia dari ‘era primordial’, ‘era kuno’, hingga ‘era madya’. Dengan berbekal hermeneutika strukturalist yang sangat dikuasainya, Jakob menelusuri medan-medan makna dari budaya material (lukisan, alat musik, pakaian, tarian, dan lain-lain) hingga budaya intelektual (cerita lisan, pantun, legenda rakyat, teks-teks kuno, dan lain-lain) yang merupakan warisan filosofis agung dari suku-suku etnis asli Indonesia. Dalam karyanya yang lain, Mencari Sukma Indonesia, Jakob pun menyinggung ‘Filsafat Indonesia Modern’, yang secara radikal amat berbeda ontologi, epistemologi, dan aksiologinya dari ‘Filsafat Indonesia Lama’. Definisinya tentang Filsafat Indonesia sama dengan pendahulu-pendahulunya, yakni, ‘…pemikiran primordial…’ atau ‘…pola pikir dasar yang menstruktur seluruh bangunan karya budaya…’ dari suatu kelompok etnik di Indonesia. Maka, jika disebut ‘Filsafat Etnik Jawa’, artinya ‘…filsafat [yang] terbaca dalam cara masyarakat Jawa menyusun gamelannya, menyusun tari-tariannya, menyusun mitos-mitosnya, cara memilih pemimpin-pemimpinnya, dari bentuk rumah Jawanya, dari buku-buku sejarah dan sastra yang ditulisnya…’ (J.Sumardjo 2003:116).

Arti 3 mulai digunakan sejak Finngeir Hiorth meneliti tradisi kefilsafatan di Indonesia dari sejarah kemunculannya. Dalam dua karyanya, Filosofi i Indonesia (1981) dan Philosophers in Indonesia: South East Asian Monograph Series No.12(1983), Hiorth menegaskan bahwa tradisi kefilsafatan di Indonesia muncul manakala seminari-seminari atau lembaga pendidikan tinggi Katolik-Roma banyak didirikan di Indonesia pada awal abad 20 M. Lembaga pendidikan tinggi tersebut didirikan oleh pastor-pastor asing dari Eropa, yang sekaligus mengajarkan teologi dan filsafat dari tradisi Barat. Sekolah ini banyak meluluskan sarjana filsafat, yang nantinya semua pemikiran mereka mengisi tradisi kefilsafatan di Indonesia. Kata 'filsafat' itu sendiri memang berasal dari tradisi Barat-Modern, tepatnya dari bahasa Belanda 'philosophie'. Yang dipelajari pun adalah 'Filsafat Barat Klasik', 'Filsafat Barat-Kristiani (Abad Tengah)', dan 'Filsafat Barat Modern'. Masuknya kata asing itu ke dalam khazanah Bahasa Indonesia berarti menandakan kemunculan tradisi 'filsafat' di Indonesia. Arti 3 ini pula yang digunakan oleh webmaster sebuah situs yang menamakan-diri sebagai 'Situs Filsafat Indonesia', di http://filsafatkita.f2g.net/  

Arti 1 mau menjembatani 'jurang generasi' yang dimunculkan oleh dua kelompok peneliti tradisi filsafat di Indonesia tadi. Kelompok filosof yang memegang arti 2 terlalu mementingkan tradisi filsafat etnis dan mengabaikan tradisi filsafat yang muncul ketika kesatuan etnis melebur ke dalam kesatuan Republik (NKRI). Sedangkan kelompok filosof yang memegang arti 3 cenderung menafikan keberadaan tradisi filsafat etnis pribumi dan mengutamakan tradisi filsafat yang dikembangkan pastor-pastor Katolik Roma yang kebarat-baratan. Arti 1 mencoba untuk merangkul semua pengertian yang dipahami oleh baik kelompok yang memegang arti 2 maupun yang memegang arti 3. Arti 1 dikembangkan oleh Ferry Hidayat, seorang filosof individual yang mempopulerkan kembali kajian yang pernah dipelopori oleh Mohammad Nasroen di tahun 50an. Sejak tahun 2004 hingga sekarang, Ferry giat mempopulerkan kembali kajian 'Filsafat Indonesia' ke banyak media publikasi, terutama Internet dan jurnal ilmiah. Dalam situs pribadinya, http://indonesianphilosophy.blogspot.com, Ferry menerbitkan semua karyanya yang dimuat di jurnal-jurnal ilmiah dan di Wikipedia secara gratis untuk umum, termasuk dua bukunya yang berjudul Sketsa Sejarah Filsafat Indonesia (2004) dan Pengantar Menuju Filsafat Indonesia (2005).

   

BIBLIOGRAFI

 

Buku pengantar klasik yang membahas secara umum tentang Filsafat Indonesia adalah buku Mohammad Nasroen, Falsafah Indonesia (Jakarta, 1967); juga karangan Ferry Hidayat, Pengantar Menuju Filsafat Indonesia (http://indonesianphilosophy.blogspot.com). Karangan Jakob Sumardjo, Arkeologi Budaya Indonesia: Pelacakan Hermeneutis-Historis terhadap Artefak-Artefak Kebudayaan Indonesia (Yogyakarta, 2002) membahas secara umum tradisi filsafat spiritual di Indonesia; dan karangan Ferry Hidayat, Sketsa Sejarah Filsafat Indonesia (http://indonesianphilosophy.blogspot.com) adalah sketsa historis tentang tradisi kefilsafatan di Indonesia.

Karya-karya yang membahas tradisi filsafat etnik pribumi secara umum adalah karangan Mohammad Nasroen, Falsafah Indonesia (Jakarta, 1967); karangan Sunoto, Selayang Pandang tentang Filsafat Indonesia (Yogyakarta, 1981); karangan R. Parmono, Manusia Pendukung Pandangan Hidup: Pengantar Filsafat Anthropologi Indonesia (Yogyakarta, tth.) dan Menggali Unsur-Unsur Filsafat Indonesia (Yogyakarta, 1985); dan juga Jakob Sumardjo, Arkeologi Budaya Indonesia: Pelacakan Hermeneutis-Historis terhadap Artefak-Artefak Kebudayaan Indonesia (Yogyakarta, 2002); karangan Ferry Hidayat, Adat Sebenar Adat: Respiritualisasi Adat Nusantara (http://indonesianphilosophy.blogspot.com).   Ada pula karangan-karangan yang membahas secara khusus tentang filsafat etnik tertentu. Yang membahas khusus filsafat etnik Jawa ialah karangan Sunoto, Pemikiran tentang Kefilsafatan Indonesia (Yogyakarta, 1983), dan Menuju Filsafat Indonesia: Negara-Negara di Jawa sebelum Proklamasi Kemerdekaan (Yogyakarta, 1987); dan karangan R. Parmono, Beberapa Cabang Filsafat di Dalam Serat Wedhatama (Yogyakarta, 1982-1983) dan Gambaran Manusia Seutuhnya di Dalam Serat Wedhatama (Yogyakarta, 1983-1984); karangan Jan Mrلzek, Phenomenology of a puppet theatre. Contemplations on the art of Javanese wayang kulit (Leiden, 2005); dan karangan P.J. Zoetmulder, Pantheism and monism in Javanese Suluk literature : Islamic and Indian mysticism in an Indonesian setting (Leiden, 1995).      Yang khusus membahas filsafat etnik Minangkabau ialah karangan Mohammad Nasroen, Dasar Falsafah Adat Minangkabau (Jakarta, 1957), dan Falsafah Adat Minangkabau (Jakarta, 1963); juga karangan Frederick Karl Errington, Manners and Meaning in West Sumatra: The Social Context of Consciousness (New Haven, 1984).   Yang khusus membahas filsafat etnik Bali ialah karangan Stephen Lansing, Three Worlds of Bali, (Westport, 1983); karangan Fred B. Eiseman Jr, Bali Sekala & Niskala: Vol. 1. Essays on Religion, Ritual, and Art, (Berkeley & Singapore, 1989); dan karangan Unni Wikan, Managing Turbulent Hearts: a Balinese Formula for Living (Chicago, 1990).   Yang khusus membahas filsafat etnik Batak ialah karangan Harry Parkin, Batak Fruit of Hindu (Madras, 1978); dan yang membahas khusus filsafat etnik Sulawesi Utara ialah karangan Roger Tol et.al, Authority and Enterprise among the Peoples of North Sulawesi (Leiden, 2000).    Yang khusus membahas Filsafat Indonesia Modern ialah karangan Mudji Sutrisno et.al., Sejarah Filsafat Nusantara: Alam Pikiran Indonesia, (Yogyakarta, 2005); karangan Finngeir Hiorth, Filosofi i Indonesia (Oslo, 1981) dan Philosophers in Indonesia: South East Asian Monograph Series No.12 (Australia, 1983); karangan Herbert Feith, The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia (Ithaca, 1962); karangan Herbert Feith dan Lance Castles (eds.), Indonesian Political Thinking, 1945-1955 (Ithaca, 1970); dan karangan Arnold C. Brackman, Indonesian Communism: A History  (Westport, 1976).  

Yang khusus membahas kontribusi kaum peranakan Cina dalam tradisi Filsafat Indonesia Modern ialah Mary F. Somer Heidhues, Peranakan Chinese Politics in Indonesia (New York dan Ithaca, 1964); karangan-karangan Leo Suryadinata yang berturut-turut berjudul Peranakan Chinese Politics in JavaThe Political Thinking of The Indonesian Chinese 1900-1995 (Singapore, 1997) dan Mencari Identitas Nasional: Dari Tjoe Bou San sampai Yap Thiam Hien (Jakarta, 1990). (Singapore, 1976),

Yang khusus membahas Filsafat Indonesia Pascamodernisme adalah artikel Ferry Hidayat, “Paskamodernisme dalam Sejarah Filsafat Indonesia” (http://indonesianphilosophy.blogspot.com).     

                                                                                                                                                                        FERRY HIDAYAT

Comments