Blog Posts‎ > ‎

PhD Application Tips - Berburu Supervisor

posted 7 Aug 2017, 14:20 by Dimas Wisnu Adrianto
Mumpung banyak request untuk berbagi tips and trick melanjutkan studi ke jenjang S3, ijinkan saya menuangkan versi saya disini ya. Banyak sekali sebenernya, tapi kali ini saya ingin membatasi pada ulasan “berburu supervisor”. Walau ini langkah kecil, tapi akan sangat menentukan karena nggak bisa dipungkiri bahwa faktor supervisor-lah yang akan banyak mempola irama studi yang akan kita tempuh beberapa tahun kedepan.

Supervisor - dalam nomenklatur cucoklogi - terdiri dari 2 kata, super dan visor. Visor, menurut oxford dictionary, artinya “kaca film” sementara super direferensikan sebagai “sangat baik”. Lalu apa itu supervisor? Sederhananya, kaca film yang mutunya sangat baik – no joking. Walau secara teknis supervisor (baca: pembimbing) adalah tempat berguru, sehingga darinya-lah kita menggali banyak ilmu, namun ada peran lain yang dimainkan seorang supervisor yang menurut saya jauh lebih penting, yaitu pemberi sinyal untuk “berhenti belajar”. Manusia itu pada dasarnya diliputi dahaga yang tiada batas – dahaga harta, dahaga kedudukan, dahaga ilmu dan sebagainya – dan perlu diingatkan apabila melampaui batas. Dan melalui pendidikan, sesungguhnya kita belajar untuk menahan diri.

Kembali ke soal kaca film, pelapis kaca ini secara fungsional berperan untuk melindungi kita dari sinar yang menyilaukan. Ilmu yang seluas samudera ini akan tampak menyilaukan dan sangat berbahaya apabila kita tidak bisa mendeliniasi mana yang menjadi lingkup penelitian kita. Konon, gagalnya seseorang meraih gelar doktor bukan karena lemahnya daya kognitif, melainkan gagalnya menarik garis pembatas antara keinginan dengan kebutuhan. Penelitian menjadi tidak terarah, melebar dan melampaui kemampuan kita untuk menyelesaikannya dalam kerangka waktu yang relatif singkat. Untuk merampungkan mahakarya thesis dalam waktu 4 tahun (atau 5-6 tahun dalam kerangka kurikulum USA), memperdalam lingkup ilmu yang telah dipersempit adalah kunci utamanya. Dan disinilah seorang supervisor diharapkan memainkan peran pentingnya sebagai peniup pluit ketika segalanya berpotensi melampaui batas.

Sementara, untuk mendeliniasi / membatasi lingkup penelitian namun tetap menghasilkan karya yang berkelas perlu pendampingan dari supervisor yang memenuhi kriteria kejelian, perhitungan yang matang serta wisdom. Kejelian merujuk pada kemampuan untuk mengarahkan riset kita pada penemuan celah (gap) penelitian – ibarat menambal ban yang bocor, cukup melekatkan secuil lapisan karet maka ban tersebut bisa berfungsi kembali seperti semula, begitu juga dengan riset, lingkup penelitian yang sempit harus bisa menambal lobang yang kecil sehingga berdampak signifikan terhadap khasanah ilmu pengetahuan. Perhitungan yang matang menitikberatkan pada konteks efisiensi – mampukah kita melahap semua menu ilmu dalam batas waktu yang telah ditentukan? Dan wisdom diperlukan untuk membantu kita memfilter keinginan (untuk menjadi ahli masak sampai cuci piring) dengan kebutuhan (cukup menjadi ahli cuci piring aja).

Pada umumnya, semakin tinggi jam terbang, sitasi / reputasi dan produktivitas riset seorang supervisor, makin bisa pula mereka diandalkan untuk memandu perjalanan studi kita agar selamat sampai tujuan. Masalahnya, seseorang dengan reputasi setinggi itu biasanya sangat selektif memilih mahasiswa/i bimbingan. Mereka menerima bahkan sampai puluhan email setiap bulannya yang memohon kesediaan untuk membimbing. Dari puluhan email tersebut, hanya 2-3 yang dibaca dan hanya 1-2 proposal yang mereka nyatakan tertarik untuk membimbing dalam 1 tahun akademik (untuk kasus supervisor saya). Artinya, kalau kita kalkulasi secara kasar, dari  120 pengirim email selama 1 tahun, hanya 1-2 yang sukses. Namun, kita nggak perlu berkecil hati, karena ada tips and trick yang menurut saya efektif untuk membuat email dan proposal kita terbaca, sukur-sukur sampai menarik untuk di-iyakan sama calon supervisor. Berikut singkatnya:

  1. Display name / email address – Academicians tend to avoid reading emails from “gundala putra petir”, “jomblo perkasa” dan sebagainya. Dan kalau kita punya email yang terafiliasi dengan institusi tempat kita bekerja, make sure you use it!
  2. Email subject – Walau “requesting your supervision” dan sejenisnya banyak digunakan, namun peluang untuk email dengan judul seperti ini dibaca calon supervisor masih lebih tinggi dibanding “Hello” atau “greetings from Indonesia” dan sejenisnya. Jangan coba-coba mengirim email dengan subject “congratulations you’ve won a lottery”. 100% email ini akan dihapus atau masuk ke folder spam!
  3. Awali dengan perkenalan yang singkat namun efektif – Nama, institusi (jika ada), maksud mengirim email dan menyertakan judul proposal riset. Tidak perlu menuliskan umur, gender, zodiac, hobby dan sebagainya.
  4. Tuliskan secara singkat dan jelas, mengapa proposal ini dikirmkan kepada calon supervisor yang bersangkutan – Ini point paling penting. Dalam kasus saya, kebetulan saya telah mengikuti buku, jurnal serta publikasi lain dari supervisor saya selama 8 tahun terakhir dan karenanya saya merasa PhD saya akan sangat tepat apabila dibimbing beliau. Supervisor saya akhirnya berterus terang (setelah saya resmi memulai studi) kalau pengetahuan saya tentang publikasi dan project yang saat ini sedang dikerjakan oleh beliaulah menjadi kunci diiyakannya proposal saya.
  5. Sampaikan bersamaan dengan email tersebut, file proposal dan curriculum vitae singkat kita (preferably format pdf). Belum tentu calon supervisor punya waktu untuk membaca dokumen kita dalam email dan waktu yang terpisah.
  6. Sabar menanti – balasan email tidak datang dalam hitungan menit, jam dan hari. Bisa jadi 2 minggu sampai 1 bulan.
Selain tips dan trik mengirim email kepada calon supervisor, yang tidak kalah penting adalah memfilter kriteria supervisor berdasarkan kebutuhan kita. My own version would be like:

1.    Keselarasan topik penelitian dengan keahlian supervisor – Akademisi dari perguruan tinggi bereputasi cenderung sensitif dengan lingkup kepakaran. Melenceng sedikit, maka mereka tidak akan coba-coba untuk merambah wilayah “baru” ini, sekalipun menyerempet tipis. Sebagai contoh, di sebelah meja kerja saya ini adalah ruangan akademisi senior bersitasi lebih dari 90 ribu bernama Prof. Erik Swyngedouw – beliau pakar politik urbanisasi. Ketika saya tanyakan tentang peri-urbanisasi (urbanisasi di pinggiran kota) beliau lantang menjawab “sorry, I’m not an expert of that”, padahal saya yakin pemahaman beliau terkait peri-urbanisasi dibanding saya bagai langit dan dasar laut. Sehingga, pastikan bahwa riset kita sejalan dengan road map penelitian dan kepakaran supervisor.

2.    Semakin senior seorang supervisor, mereka cenderung tidak lagi mengejar kuantitas bimbingan. Reputasi akademik mereka tidak lagi dipengaruhi secara signifikan oleh jumlah dan kinerja bimbingannya. Sehingga, selain mereka juga super sibuk, kita cenderung dilepas dan oleh karenanya kemandirian kita dituntut setinggi-tingginya. Berbeda dengan supervisor yang relatif masih “junior”, mereka akan sangat care dengan bimbingannya karena mereka berada dalam masa membangun reputasi. Tinggal terserah sahabat2, lebih prefer dibimbing oleh akademisi di level yang mana. By the way, tidak semua senior / high level academicians cuek. Banyak juga yang masih care, terlebih kalau riset kita menjadi arena bagi teori/metode yang sedang dikembangkan oleh beliau.

That’s all for this time. Kalau ingin bertanya lebih banyak, silahkan comment atau email saya di dimas.adrianto@manchester.ac.uk

Good luck for your PhD application!

 

Jabat erat,

dimas

PhD Candidate - Planning and Environmental Management, Manchester Urban Institute - The University of Manchester, UK

Comments