Beranda

KE GERBANG MARKONAH   PROTESMALUTINGKAHLAKUCIANJUR


Mengenal Kabupaten CIANJUR
(Dari berbagai sumber)

Cianjur dikenal dan lekat dengan pameo ngaos, mamaos dan maenpo. Ngaos adalah tradisi mengaji sebagai salah satu pencerminan kegiatan keagamaan. Mamaos adalah pencerminan kehidupan budaya daerah dimana seni mamaos Tembang Sunda Cianjuran berbibit buit ( berasal )dari tatar Cianjur. Sedangkan maenpo adalah seni beladiri tempo dulu asli Cianjur yang sekarang lebih dikenal dengan seni beladiri Pencak Silat, namun sepertinya kini Cianjur berubah pameo menjadi ngais, teu amis dan rarempo.
Luas wilayah Kabupaten Cianjur 350.148 hektar dengan jumlah penduduk pada tahun 2005 sebanyak 2.098.644 jiwa.
Lapangan pekerjaan utama penduduk Kabupaten Cianjur di sektor pertanian yaitu sekitar 62,99 %. Sektor lainnya yang cukup banyak menyerap tenaga kerja adalah sektor perdagangan yaitu sekitar 14,60 %. Sektor pertanian merupakan penyumbang terbesar terhadap PDRB Kabupaten Cianjur yaitu sekitar 42,80 % disusul sektor perdagangan sekitar 24,62%. dari pesentase tersebut kenapa mall-mall banyak berdiri menjadi hutan kota dan merubah sikap masyakatnya menjadi konsumtif sedangkan Cianjur masih besar di sektor agraris.

Secara administratif Pemerintah kabupaten Cianjur terbagi dalam 30 Kecamatan, dengan batas-batas administratif :

  1. Sebelah utara berbatasan dengan wilayah Kabupaten Bogor dan Kabupaten Purwakarta.
  2. Sebelah barat berbatasan dengan wilayah Kabupaten Sukabumi.
  3. Sebelah Selatan berbatasan dengan Samudra Indonesia.
  4. Sebelah Timur berbatasan dengan wilayah Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut.

Secara geografis , Kabupaten Cianjur dapat dibedakan dalam tiga wilayah pembangunan yakni wilayah utara, tengah dan wilayah selatan.

  1. Wilayah Utara

    Meliputi 15 Kecamatan : Cianjur, Cilaku, Warungkondang,Gekbrong, Cibeber, Karangtengah, Sukaluyu, Ciranjang, Bojongpicung, Mande, Cikalongkulon, Cugenang , Sukaresmi, Cipanas dan Pacet.
  2. Wilayah Tengah

    Meliputi 9 Kecamatan : Sukanagara, Takokak, Campaka, Campaka Mulya, Tanggeung, Pagelaran, Leles, Cijati dan Kadupandak.
  3. Wilayah Selatan

    Meliputi 6 Kecamatan : Cibinong, Agrabinta, Sindangbarang, Cidaun , Naringgul dan Cikadu.

Sebagaimana daerah beriklim tropis, maka di wilayah Cianjur utara tumbuh subur tanaman sayuran, teh dan tanaman hias. Di wilayah Cianjur Tengah tumbuh dengan baik tanaman padi, kelapa dan buah-buahan. Sedangkan di wilayah Cianjur Selatan tumbuh tanaman palawija, perkebunan teh, karet, aren, cokelat, kelapa serta tanaman buah-buahan. Potensi lain di wilayah Cianjur Selatan antara lain obyek wisata pantai yang masih alami dan menantang investasi, namun lahan Cianjur utara kini menjadi lahan subur vila-vila dan menumbangkan hutan-hutan di sekitar gunung gede sebagai zona serapan air, dan wilayah Cianjur selatan tidak didukung oleh jalan tranportasi yang memadai bolong-bolong dan di buat seadanya , di jalan ke Cianjur selatan ini angka kecelakan dan kriminalitas menjadi tinggi.

Sebagai daerah agraris yang pembangunananya bertumpu pada sektor pertanian, kabupaten Cianjur merupakan salah satu daerah swa-sembada padi. Produksi padi pertahun sekitar 625.000 ton dan dari jumlah sebesar itu telah dikurangi kebutuhan konsumsi lokal dan benih, masih memperoleh surplus padi sekitar 40 %. Produksi pertanian padi terdapat hampir di seluruh wilayah Cianjur.

Kecuali di Kecamatan Pacet dan Sukanagara. Di kedua Kecamatan ini, didominasi oleh tanaman sayuran dan tanaman hias. Dari wilayah ini pula setiap hari belasan ton sayur mayur dipasok ke Jabotabek.

Pengembangan usaha perikanan air tawar dan laut di Kabupaten Cianjur cukup potensial. Baik untuk usaha berskala kecil maupun besar. Beberapa faktor pendukungnya adalah : jumlah penduduk yang relatif besar serta tersedianya lahan budi daya ikan air tawar dan ikan laut. Usaha pertambakan ikan dan penagkapan ikan laut memiliki peluang besar di wilayah Cianjur selatan, khususnya di sepanjang pantai Cidaun hingga Agrabinta. Di wilayah ini, mulai dirintis dan di kembangkan pertambakan budi daya udang. Sedangkan budi daya ikan tawar terbuka luas di cianjur utara dan cianjur tengah. Di wilayah ini terdapat budi daya ikan hias, pembenihan ikan, mina padi, kolam air deras dan keramba serta usaha jaring terapung di danau Cirata, yang sekaligus merupakan salah satu obyek wisata yang mulai berkembang

Sementara itu , potensi perkebunan di Kabupaten Cianjur cukup besar dimana sekitar 19,4 % dari seluruh luas merupakan areal perkebunan . Selama in dikelola oleh Perkebunan Besar Negara (PBN) seluas 10.709 hektar, Perkebunan Besar Swasta (PBS) sekitar 20.174 hektar dan Perkebunan Rakyat (PR) seluas 37.167 hektar. Peningkatan produksi perkebunan, terutama komoditi teh cukup baik. Produktivitas teh rakyat mampu mencapai antara 1.400 - 1.500 kg teh kering per hektar. Sedangkan yang di kelola oleh perkebunan besar rata-rata mencapai di atas 2.000 kg per hektar.

situs resmi kabupaten Cianjur : http://cianjurkab.go.id/Ver.3.0/Buku_Tamu_Situs_Halaman_81.html



SEJARAH CIANJUR

Sejarah Kabupaten Cianjur sangat sedikit diketahui, akan tetapi menurut cerita-cerita dari orang tua, daerah Kabupaten Cianjur dahulunya adalah termasuk kedalam wilayah Kerajaan Pajajaran.
Hal ini dapat dilihat dari banyaknya kepercayaan masyarakat Cianjur yang sama dengan masyarakat pada jaman kerajaan pajajaran yang banyak mengenal kebudayaan hindu.

Asal usul Kabupaten Cianjur diketahui setelah masuk pengaruh Islam ke Cianjur dari Kesultanan Banten kira-kira abad XV.
Bupati pertama Cianjur bernama Wiratanu I yang memerintah kira-kira abad XVII berpusat di Cikidul-Cikalong Kulon 20km sebelah utara Kabupaten Cianjur sekarang. Kemudian dipindahkan oleh Bupati Wiratanu II ke tepi sungai dan jalan raya yang telah dibuat oleh Daendels antara Anyer - Panarukan yaitu Kota Cianjur sekarang.

Kota Cianjur menjadi Kota Keresidenan Priangan pada masa Raden Kusumah Diningrat dengan wilayah meliputi Pelabuhan Ratu sebelah barat, Sungai Citanduy dengan barisan Gunung Halimun, Mega Mendung, Tangkuban Perahu sebelah timur, dan Samudra Indonesia sebelah selatan.
Kemudian pada masa Bupati R.A.A Prawiradiredja wilayah Cianjur mengalami perubahan menjadi Cikole sebelah barat, Sukabumi sekarang, Bandung dan Tasikmalaya dengan Ibukota Keresidenan dipindahkan ke Bandung.

Perkebunan karet dan teh merupakan akibat dari sistem tanam paksa (cultur stelsel).
Perkebunan tersebut merupakan tempat hiburan akhir pekan bagi asisten residen dan orang-orang belanda yang tinggal di Cianjur dan cenderung membuat rumah didaerah Cipanas-Puncak.

GEOGRAFIS
Secara Geografis, Kabupaten Cianjur terletak pada 106. 25o -107. 25o Bujur Timur dan 6.21o - 7.32o Lintang Selatan dengan batas-batas administratif :

  • Sebelah Utara berbatasan dengan wilayah Kabupaten Bogor dan Kabupaten Purwakarta.
  • Sebelah Barat berbatasan dengan wilayah Kabupaten Sukabumi.
  • Sebelah Selatan berbatasan dengan Samudra Indonesia.
  • Sebelah Timur berbatasan dengan wilayah Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut.

Luas wilayah Kabupaten Cianjur +/- 3.501,48 km2 terbagi dengan ciri topografi sebagian besar berupa daerah pegunungan, berbukit-bukit dan sebagian merupakan dataran rendah, dengan ketinggian 0 s/d 2.962 meter diatas permukaan laut (Puncak Gunung Gede) dengan kemiringan antara 1% s/d 15%.

OBYEK WISATA

  1. Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Salahsatu dari 33 Taman Nasional di Indonesia yang memiliki keanekaragaman flora dan fauna dengan luas 15.196 Ha serta ketinggian Gunung Gede 2.958 mdpm dan Pangrango 3.019 mdpm.

Terdapat beberapa kawah ; kawah ratu, wadon, lanang dan baru. Lokasi di Kecamatan Pacet dengan jarak tempuh dari Jakarta sekitar 80km.

2. Kebun Raya Cibodas

Merupakan cagar alam yang memiliki 1001 jenis tanaman kaktus yang berusia lebih dari 100 tahun.

3. Istana Presiden Cipanas

Dibangun pada tahun 1740 oleh warga Belanda bernama Van Heuts diatas tanah 25 Ha. Didalam sekitar istana terdapat suatu bangunan yang dapat dikunjungi yaitu Gedung Bentol yang dulunya pernah dipakai Presiden Soekarno menyusun naskah kemerdekaan RI

4. Taman Bunga Nusantara

Taman seluas 23 Ha beriklim tropis yang benar-benar nyaman dan menyenangkan dengan berbagai jenis bunga dari berbagai negara di Asia, Amerika, Afrika, Australia dan Eropa. Lokasi di desa Kawung Luwuk Kecamatan Sukaresmi dengan jarak tempuh sekitar 90km dari Jakarta.

5. Perkebunan Teh Puncak

Pemandangan dengan latarbelakang kebun teh dapat dilihat di Puncak. Merupakan Agrowisata yang indah, sejuk dan nyaman yang sewaktu-waktu diselimuti kabut. Cocok untuk kegiatan ‘Tea Walk’ dan Terbang Layang.

6. Pusat Belanja Wisata

Sepanjang jalur Puncak-Cianjur terdapat banyak tempat menginap hotel berbintang maupun kelas melati, restoran yang menyajikan aneka ragam makanan khas, factory outlet, souvenir, buah-buahan segar, sayur mayur serta bunga/bonsai.

SENI TRADISIONAL

1. Seni Mamaos Cianjuran

Keistimewaannya adalah lagu-lagunya tidak berpatokan pada birama tertentu, sehingga banyak yang bilang bahwa Seni Cianjuran adalah termasuk Seni Jazz.

2. Kacapi Suling, Jaipongan (Ketuk Tilu) dan Calung

MAKANAN TRADISIONAL

1. Tauco

Makanan khas Cianjur yang berasal dari negeri Cina. Terbuat dari kacang kedelai pilihan, diproses secara tradisional.

Pabrik tauco tertua adalah pabrik tauco cap meong, didirikan tahun 1880 di kota Cianjur.

2. Manisan

BUDAYA TRADISIONAL

1. Pengrajin Sangkar Burung
2. Pengrajin Lampu Kuning
3. Pengrajin Cinderamata Bambu dan Kayu

SENI BELADIRI TRADISIONAL
Pencak Silat / Maenpo

Tiga abad silam merupakan saat bersejarah bagi Cianjur. Karena berdasarkan sumber - sumber tertulis , sejak tahun 1614 daerah Gunung Gede dan Gunung Pangrango ada di bawah Kesultanan Mataram. Tersebutlah sekitar tanggal 12 Juli 1677, Raden Wiratanu putra R.A. Wangsa Goparana Dalem Sagara Herang mengemban tugas untuk mempertahankan daerah Cimapag dari kekuasaan kolonial Belanda yang mulai menanamkan kuku-kunya di tanah nusantara.Upaya Wiratanu untuk mempertahankan daerah ini juga erat kaitannya dengan desakan Belanda / VOC saat itu yang ingin mencoba menjalin kerjasama dengan Sultan Mataram Amangkurat I.

Namun sikap patriotik Amangkurat I yang tidak mau bekerjasama dengan Belanda / VOC mengakibatkan ia harus rela meninggalkan keraton tanggal 12 Juli 1677. Kejadian ini memberi arti bahwa setelah itu Mataram terlepas dari wilayah kekuasaannya.

Pada pertengahan abad ke 17 ada perpindahan rakyat dari Sagara Herang yang mencari tempat baru di pinggir sungai untuk bertani dan bermukim. Babakan atau kampoung mereka dinamakan menurut menurut nama sungai dimana pemukiman itu berada. Seiring dengan itu Raden Djajasasana putra Aria Wangsa Goparana dari Talaga keturunan Sunan Talaga, terpaksa meninggalkan Talaga karena masuk Agama Islam, sedangkan para Sunan Talaga waktu itu masih kuat memeluk agama Hindu.

Sebagaimana daerah beriklim tropis, maka di wilayah Cianjur utara tumbuh subur tanaman sayuran, teh dan tanaman hias. Di wilayah Cianjur Tengah tumbuh dengan baik tanaman padi, kelapa dan buah-buahan. Sedangkan di wilayah Cianjur Selatan tumbuh tanaman palawija, perkebunan teh, karet, aren, cokelat, kelapa serta tanaman buah-buahan. Potensi lain di wilayah Cianjur Selatan antara lain obyek wisata pantai yang masih alami dan menantang investasi.

Aria Wangsa Goparana kemudian mendirikan Nagari Sagara Herang dan menyebarkan Agama Islam ke daerah sekitarnya. Sementara itu Cikundul yang sebelumnya hanyalah merupakan sub nagari menjadi Ibu Nagari tempat pemukiman rakyat Djajasasana. Beberapa tahun sebelum tahun 1680 sub nagari tempat Raden Djajasasana disebut Cianjur (Tsitsanjoer-Tjiandjoer).

Dalem / Bupati Cianjur dari masa ke masa

1. R.A. Wira Tanu I (1677-1691)
2. R.A. Wira Tanu II (1691-1707)
3. R.A. Wira Tanu III (1707-1727)
4. R.A. Wira Tanu Datar IV (1927-1761)
5. R.A. Wira Tanu Datar V (1761-1776)
6. R.A. Wira Tanu Datar VI (1776-1813)
7. R.A.A. Prawiradiredja I (1813-1833)
8. R. Tumenggung Wiranagara (1833-1834)
9. R.A.A. Kusumahningrat (Dalem Pancaniti) (1834-1862)
10. R.A.A. Prawiradiredja II (1862-1910)
11. R. Demang Nata Kusumah (1910-1912)
12. R.A.A. Wiaratanatakusumah (1912-1920)
13. R.A.A. Suriadiningrat (1920-1932)
14. R. Sunarya (1932-1934)
15. R.A.A. Suria Nata Atmadja (1934-1943)
16. R. Adiwikarta (1943-1945)
17. R. Yasin Partadiredja (1945-1945)
18. R. Iyok Mohamad Sirodj (1945-1946)
19. R. Abas Wilagasomantri (1946-194 8)
20. R. Ateng Sanusi Natawiyoga (1948-1950)
21. R. Ahmad Suriadikusumah (1950-1952)
22. R. Akhyad Penna (1952-1956)
23. R. Holland Sukmadiningrat (1956-1957)
24. R. Muryani Nataatmadja (1957-1959)
25. R. Asep Adung Purawidjaja (1959-1966)
26. Letkol R. Rakhmat (1966-1966)
27. Letkol Sarmada (1966-1969)
28. R. Gadjali Gandawidura (1969-1970)
29. Drs. H. Ahmad Endang (1970-197 8)
30. Ir. H. Adjat Sudrajat Sudirahdja (1978-1983)
31. Ir. H. Arifin Yoesoef (1983-198 8)
32. Drs. H. Eddi Soekardi (1988-1966)
33. Drs. H. Harkat Handiamihardja (1996-2001)
34. Ir. H. Wasidi Swastomo, Msi (2001-2006))
35. Drs. H. Tjetjep Muchtar Soleh, MM (2006-2011)

Sumber : rivafauziah@yahoo.com



DONGENG AKI
(Versi bahasa sunda)

Rd Aria Wira Tanu I (lajengan)

Peperangan

Dina mangsa Aria Wira Tanu I Cianjur kantos ngalaman perang, dina sasih desember 1679 wadya balad Banten ngalangkung ka Maroberes (muara beres kaler Bogor sisi cisadane) total jalmina 800 urang dipingpin ku 3 hulubalang rek ngajugug ka Sumedang. Sasih januari 1680 wadya balad cianjur dipingpin ku Santaprana megat wadyabalad Banten, der perang compuh rongkah pisan. Santaparana jeung 1 lurah dipaehan ku urang Banten jeung rahayat umum di pagunungan heuteu kaitung, urang Banten leugiteun 47 urang.

Lian ti eta ngarampas 103 munding jeung sapi kajantenan ieu dina sasih Februari 1680. Lajeng Wira Tanu I mepek wadya balad, ayeuna wadyabalad Cianjur ditambih jeung Cikundul. Dina raraga ngayakeun panarajang balesan , Wira Tanu I the bade ngarebut deui cacah nu diboyong ku Banten. Dina ieu serang katingal pisan jiwa patriotsme sareng taktik bertempur Wira Tanu I senapati ing ngalaga.

Ku Senapati Wira Tanu I timbang taliti sareng asak pisan ngeunaan untung rugina, lajeng anheuna nganggo taktik meupeh-mabur hal ieu dianggo kumargi jumlah wadya balad Cianjur langkung alit tinimbang Banten, wadya balad Cianjur aya 400 urang, kitu oge upami dimobilisasi sadaya (katut awewe, orok, jeung nini-nini), jumlah nu jauh benten pisan. Lajeng maranehna nu ti Nagri Cianjur jeung Cikundul dipingpin langsung ku Wira Tanu I ngalawan urang Banten, sarta sanggeus urang Banten leungiten dua urang hulubalangna kapaksa urang Banten ieu kabur nyokot jalan mimiti ngaliwatan Tanjoulang (Cijulang) balik deui ka Banten sabab sieun diudag ku Wira Tanu I. Dina buktos ieu tetela sakumaha wawanen Wira Tanu I nu geus wani ngarebut deui boyongan sareng ghonimah ti pihak musuh, kalawan musuh mabur.
 

Didieu sim abdi bingung kunaon sami Sunda jeung Islam tiasa paketrok ?, hal ieu ngingetkeun kana kajadian runtagna Padjajaran ku Banten. Kantos janten bahan perdebatan di milis ieu ngenaan runtagna Padjajaran ku Banten, sim abdi kantos nanggapi mung 1 kali kumargi harita ego pribadi tos muncul, sanes ngagunakeun akal sehat janten teu aya guna upami neraskeun diskusi. Aya anggota milist nu satuju aya oge anu heunteu dupi alesannana :

Anu Satuju, kumargi ieu dina nanjerkeun Islam (jihad), kumargi Padjajaran the najan dulur nanging agamana masih Hindu.

Anu Teu Satuju, kumargi najan kumaha Padjajaran the masih luluhur urang Sunda kaasup Banten jeung Cirebon.

Aya prakiraan kunaon Banten ngaruntagkeun Padjajaran :

Kanggo nyebarkeun agama Islam di Pasundan

Raja Padjajaran keur mangsa harita geus teu bener dina ngajalankeun kakuasaanana saperti mabok, maen awewe, judi, nindes rahayat.

Motivasi pulitik ti Banten, kumargi Padjajaran najan geus ditinggal lila ku Maharaja Ing Pasundan Sri Baduga Prabu Siliwangi, sareng seueur daerah nu dicaplok ku Cirebon atanapi Banten, tetep hiji karajaan nu kuat di Pasundan tangtuna ieu nu nyieun sieun pihak Banten.

Ayana pihak gegeden (pejabat) Padjajaran nu nyeri hate ka Raja.

Upami maca sajarah Sumedang, nalika Padjajaran bade runtuh, Kandaga Lante ti Padjajaran (senapati ?), ngintun mahkota Binokasih ka Prabu Geusan Ulum hal ieu nandakeun yen Sumedang the penerus Padjajaran. Padahal Sumedang keur mangsa harita geus Islam, kitu deui Kandage Lante (Jaya Prakosa) Padjajaran. Ningali ieu buktos, tiasa janten di lingkungan rahayat tur karaton Padjajaran tos seeur nu ngagem Islam.

Punten sim abdi kaluar jalur bade nerangkeun perkawis runtagna Padjajaran, sim abdi langkung condong runtagna Padjajaran the ku point no 4 di luhur kumargi dumasar kana versi sajarah nu dicutat dina babad Banten kieu :

“Mangsa aya gulang-galang Padjajaran anu ngarasa nyeri hate, teras biluk ka Banten, wastana Ki Jungju sareng adina Ki Jongjo. Ki Jungju ngadeheus ka Sultan Banten nerangkeun sanggem narajang dayeuh Padjajaran asal dibahanan ku ratusan prajurit nu tumpak kuda sareng manehna hulubalangna. Wanci tengah wengi Ki Jungju sareng prajurit lebet ka jero benteng kumargi anjeuna urang jero tos apal kana kaayaan eta tempat, perang rongkah pisan, urang Padjajaran bobor karahayuan.

“Sampuning palastra nanging warnaen ika, ratu oakuan ini apan sami sayaga, lan para ponggawa, yen ana musuh prapti geger wong pakuan tan karuhan idepnya polahe wus borak barik. Adan kocapa mangke wus tengah wengi iyata ki jungju adan manjing jeroning kuta wayahe tengah wengi, geger wong jero kuta, tan koningan lebatnya ki jungju kuwat ngamuki sarewangina wong ngatusan ngoeni. Ramening prang gusraken tunjang tinunjang angrebut anak rabi ingkang gasik ngalas kang katut tan pejah. Kocapa ratu nita neki Sang Seda lan Pucuk Umum malih.

Prabu Seda anglengleng lan kakleng ika sami musna tan kikas yen ujaro ika ingaran ngahyang ilang wa kakawarni. Kocapa bala ing sakatahe kang kari lan kinen amandang kalimah kalih sahadat saweneh karsa pribadi mangke kaswna panembahan nireki. Panembahan lungguh ing pakuan”

Hartosna kieu :

Saparantos sayaga rupi rupi ratu pakuan oge sami sayaga sareng para ponggawa yen aya musuh tarapti gegger urang pakuan teu kantenan pikiranan polahna geus kaweur lajeng kakocapkeun engke parantos tengah wengi nyaeta ki jungju teras lebet ka jero kuta wayahna tengah wengi gehger jalmi jero kuta, ki jungu ngamuk. Ramena perang tanding silih sedek ngarebut anak pamajikan. Enggal ka leweung di bawa pisah.

Kocapkeun raja sareng prameswari Prabu Sada sareng Pucuk Umum deuih. Prabu Seda kalintang ewedna, nya kitu deui nu kadeuheus ka anjeuna. Nanging teu lami aranjeuna sami musna tanpa aya tilasna bejana kasebut ngahiang leungit teu katingali. Kocapkeun balarea anu kantun ngucapkeun dua kalimah sahadat kalayan kahayang pribadi sanes pamaksa penembahan. Panembahan lami calik di Pakuan.

Sumedang kantos oge diserang ku Banten nalika ngajalankeun shalat Idul Fitri dina dinten Jum’ah, kumargi kitu dugi ayeuna di Sumedang aya Sasakala upami aya lebaran dina dinten jum’ah sok aya upacara tertentu.

Mung aya heran nyaeta Pakuan the tos diruntagkeun ku Banten nanging Pakuan (Bogor) teu lebet kana kasultanan Banten hal ieu dibuktoskeun yen 100 taun langkung sabada Padjajaran runtag Pakuan janten leuweung teu aya pendudukna dumasar laporan ti salah saurang Walanda nu nalungtik Padjajaran taun 1600-an. Kadua di Bogor teu aya paninggalan ti kasultanan Banten. Jakarta tilas bagean kasultanan Banten rea pisan titingalna boh masjid atanapi makam, sapertos di Jatinegara Kaum, Tb Angke, Mangga dua, jrrd. Panginten Bogor teu lebet kasultanan banten kanggo kahormatan ti Sultan Banten ka karuhun nu di Pakuan.

Bogor nembe dibuka deui nalika turunan sumedang nyaeta Ngabehi Tanu Wijaya anu pernahna di Kampung Baru kitu oge turunan Cikundul ngiring ngabuka Bogor (Sukaraja). Janten urang Bogor nu ayeuna aya nempatan eta wilayah panginten sanes asli ? (panginten)

Balik deui kana sajarah Cianjur di luhur disebat yen Wira Tanu I katingal pisan gede wawanen tur ahli perang. Saparantos ieu kajantenan cianjur aman teu aya gangguan naon-naon ti musuh sareng Wira Tanu I mulih ka Cianjur ngabimbing pasantren tur janten kasepuhan dugi ka tilar dunyana, sementawis pamarentahan dipasrahkeun ka putrana nyaeta Wiramenggala nu gaduh gelar Wira Tanu II.

  • Rd Wira Tanu I pupus antawis taun 1681-1691, anapon anjeuna gaduh putra nyaeta :
  • Rd Suryakecana di gunung gede (ti bangsa jin)
  • Rd Endang Sukaesih di gunung ciremai (ti bangsa jin)
  • Rd Andaka Wirusajagat di gunung kumbang (ti bangsa jin)
  • Rd Aria Wiramanggala (Wiratanu II), dalem Tarekolot di pamoyanan
  • Rd Aria Martayuda di sarampad
  • Rd Aria Tirta di Karawang
  • Rd Aria Natadimenggala (Aria Kidul) di Pasir hayam
  • Rd Wiradimenggala (Aria Cikondang) di Cibeber
  • Rd Aria Suradiwangsa di Panembong
  • Nyi Mas Kaluntar di dukuh caringin
  • Nyi Mas Karangan di bayabang
  • Nyi Mas Bogem teu aya nu terang
  • Nyi Mas Kara teu aya nu terang
  • Nyi Mas Jenggot teu aya nu terang

Sumber : http://opickumis.multiply.com/journal/item/27




KE GERBANG MARKONAH



  



Comments