Sejarah Awal Pertambangan Timah di Pulau Belitung

Nama John Francis Loudon - putra Alexander Loudon, marinir Skotlandia, Pendiri perusahaan Billiton Maatschappij, cikal bakal BHP Billiton yang sekarang ini dimiliki oleh Australia – yang namanya tertera dalam batu prasasti yang sekarang ini masih bisa dilihat di depan Museum Tanjungpandan, Belitung – sebagai pionir atau perintis pertambangan timah di Pulau Belitung.

Tahun 1849 keatas, dia banyak berhubungan dengan Baron van Tuyll atau nama lengkapnya adalah Vincent Gildemester Baron van Tuyll van Serooskersen yang banyak sekali mengatakan tentang Pulau Belitung.

Satu tahun kemudian atau tepatnya pada Oktober 1850, John Francis Loudon menerima surat dari Baron van Tuyll yang menerangkan bahwa atas nama Prins Hendrik mengusulkan untuk mengangkat John Francis Loudon sebagai kuasa penuh untuk memegang konsesi eksploitasi dan penambang timah di Pulau Belitung. Rencana eksploitasi ini dikarenkan bahwa Baron van Tuyll telah mendapatkan keterangan dari Dr. Baron van Hoevel bahwa di Museum Batavia ada tersimpan sepotong timah yang menurut keterangannya berasal dari Pulau Belitung.

Prins Hendrik dan Baron van Tuyll berusaha melalui jalur-jalur pemerintah supaya di Hindia Belanda diadakan penelitian tentang kandungan biji timah di Pulau Belitung dan penelitian tersebut ditugaskan kepada seorang ahli mengenai kekayaan mineral-mineral tanah. Ahli ini bernama Dr. Croockewit singkat kata, Dr. Croockewit ini tiba di Pulau Belitung pada tanggal 14 Oktober 1850.

Dikarenakan penelitian dari Dr. Croockewit pasti memakan waktu yang cukup lama, John Francis Loudon, Baron van Tuyll beserta rombongan memanfaatkan kesempatan tersebut sambil menunggu hasil penelitian dengan berangkat ke Cornwallis di Inggris sekitar Desember – 16 Januari 1851 untuk mempelajari cara pengolahan timah, peleburan dan lain sebagainya.

Tanggal 18 Januari 1851 rombongan John Francis Loudon dan Baron van Tuyll berangkat dari Southamton (Inggris) dengan kapal laut menuju Batavia dan tiba di Batavia tanggal 12 Maret 1851. Sewaktu rombongan tersebut di Singapore, rombongan ini menerima surat dari Z.D.H. Hertog van Saksen Wiemar, dimana isi surat tersebut menerangkan hasil penelitian dari Dr. Croockewit; yang menyatakan bahwa di Pulau Belitung tidak ada timah! Bisa kita banyangkan betapa sedihnya perasaan dari rombongan John Francis Loudon – Baron van Tuyll setelah mengetahui berita tersebut.

Bagi John Francis Loudon sendiri, hasil penelitian Dr. Croockewit tidak bisa diterimanya dan dengan bulat hati tetap akan datang ke Pulau Belitung dengan membawa seorang ahli. Sesampainya di Batavia, banyak kalangan yang menerima hasil penelitian Dr. Croockewit bahwa di Pulau Belitung tidak ada timah dan hanya sedikit yang tidak setuju. Salah satu diantara yang tidak setuju tersebut adalah Dr. C.A.L.M. Schwaner. Beliau ini merupakan orang yang mengenal banyak tentang Hindia Belanda dan juga merupakan seorang ahli yang berpengalaman serta menurutnya ‘merupakan suatu keanehan kalau di Pulau Belitung tidak ada timahnya’.

Kemudian diputuskan penelitian kedua yang rencananya akan dilaksanakan oleh Dr. C.A.L.M. Schwaner – dengan persetujuan lisan dari Gubernur Jenderal Rochussen – dengan catatan harus dilaksanakan sebelum tugasnya ke Borneo (Kalimantan). Namun penelitian ini tidak berjalan karena beberapa hari setelah instruksi tersebut Dr. C.A.L.M. Schwaner meninggal dunia karena demam!

Karena kejadian diatas, permohonan di buat kembali kepada pemerintah (Algemeen Sekretaris supaya dapat ditandatangani oleh seorang Administratur yang sudah berpengalaman, yaitu Tuan Heydeman, Adminsitratur di Sungaiselan, Pulau Bangka) supaya dimintakan izin untuk dapat ditugaskan dalam peneyelidikan yang selanjutkan kepada Insinyur tambang Corneelis de Groot dan tanggal 7 April 1851, surat resmi nomor : 960 dari Algemeen Sekretaris, permohonan untuk penyelidikan kedua akhirnya dapat disetujui.

Pada tanggal 12 Juni 1851 barulah rombongan yang terdiri dari John Francis Loudon, Baron van Tuyll, de Groot Huguenin berangkat dengan kapal perang bertenaga uap “ETNA” menuju Muntok untuk urusan menghubungi Residen untuk mendapatkan seorang Administratur sebagai salah seorang yang termasuk anggota komisi.

Akan tetapi Tuan Heydeman tidak dapat ikut ke Belitung dan untuk membantu rombongan Loudon mencari timah di Belitung, Van Bloemen Waanders, administratur distrik Jebus akhirnya membantu rombongan Loudon dengan ditemani oleh dua orang Cina untuk membantu pencarian timah di Belitung.

Satu-satunya keterangan bahwa ada timah di Pulau Belitung didapatkan dari dari seorang pensiunan berpangkat Kapten bernama Kuhn yang pernah berada di Pulau Belitung pada tahun 1824-1826. Dari Kapten Kuhn di dapatkan keterangan sewaktu bertugas ia memeriksa orang-orang Cina dia melihat bekas penggalian-penggalian timah dan peleburannya dan juga memegang timah murni. Dan lokasi ini terletak di Barat Daya Pulau Belitung!

Keterangan selanjutnya tentang Pulau Belitung – khususnya timah – adalah dari bekas Klerk bernama Den Dekker. Semasa menjabat sebagai Klerk ia banyak berkenalan dengan yang ada di Belitung dan dari pedagang-pedagang tersebut didapat kepastian tentang adanya timah di Pulau Belitung. Namun saat itu Belitung dipimpin oleh seseorang yang bergelar “Depati”, dimana depati tersebut akan kedatangan orang Eropa/ Belanda yang akan menduduki Pulau Belitung, maka mengenai keberadaan timah di Pulau Belitung dengan berbagai cara sangat dirahasiakan.

Den Dekker merupakan orang yang telah banyak mengabdikan dirinya dengan sepenuh hati terhadap perusahaan Billiton Maatschappij, pengabdiannya kurang lebih 30 tahun. Adalah kenyataan bahwa perusahaan Billiton Mij dan Den Dekker-lah yang PERTAMA KALI MENEMUKAN TIMAH DI PULAU BELITUNG. Den Dekker jugalah yang mengendalikan tambang timah yang pertama kalinya di buka di Belitung dan selanjutnya penggalian tambang-tambang disemua distrik-distrik yang ada di Belitung.

Saat itu Belitung dibagi dalam 6 Distrik; dimana ada dua distrik yang diperintah oleh Depati sedangkan empat lainnya diperintah oleh Ngabehi:
  1. Tanjong Pandan (Tanjungpandan), dipimpin oleh Depati Tjakra di Ningrat
  2. Sijook (= Sijuk) dipimpin oleh Ngabehi Jienal
  3. Buding, dipimpin oleh Ngabehi Awang
  4. Badau, dipimpin oleh Ngabehi Rachhim
  5. Blantoe (Belantu), dipimpin oleh Ngabehi Draip
  6. Lingan (mungkin maksudnya adalah Lenggang) juga dipimpin oleh seoarang Depati seperti Tanjong Pandan dan sebagai wakilnya diangkat adiknya yaitu Ki Agoes Loesooh! 

Kedudukan Ngabehi berada di bawah Depati. Ngabehi diangkat oleh Depati dengan persetujuan pemerintah Hindia Belanda di Bangka. Singkat cerita, tanggal 27 Juni 1851, rombongan John Francis Loudon – Baron van Tuyll tiba diperairan Belitung (Tanjungpandan) dan Loudon mencatat rombongannya berjumlah 6 orang, yaitu:
  • John Francis Loudon sendiri;
  • Baron van Tuyll;
  • de Groot;
  • van Bloemen Waanders;
  • Den Dekker;
  • Huguenin.
Dengan mendaratnya rombongan tersebut, maka dimulailah penelitian tentang kandungan timah yang ada di Belitung. Sehingga dengan penjelajahan hampir seluruh pelosok Pulau Belitung, John Francis Loudon dkk mengambil kesimpulan bahwa hampir seluruh Pulau Belitung meiliki kandungan biji timah dan pada akhirnya Belitung penuh lubang keroak, kolong-kolong yang masih bisa anda saksikan hingga detik ini!

Catatan kaki:
  • Artikel diatas sedikit banyaknya bersumber dari buku: “De eerste jaren der Billiton-onderneming”; Pengarang: John Francis Loudon;
  • Artikel ini mulanya saya letakkan di Blog Dasril Iteza, sempat saya repost di blog saya www.billitonisland.com, namun akhirnya saya publikasi ulang ke Blog www.dasril.com ini.
  • Saya sedikit berpikir, misalkan saja Loudon saat itu mempercayai keterangan hasil penelitian Dr. Croockewit, kemungkinan besar Pulau Belitung tidak akan seperti yang kita saksikan sekarang ini.

Comments