Challenge and Response Mbah Maridjan

Pendekatan Psychosociocultural


Tulisan ini pernah dimuat di harian KOMPAS 2 Mei 2007 Suplemen Yogyakarta rubrik Opini

 

Bagi kita yang menaruh perhatian pada situasi Gunung Merapi beberapa bulan atau tahun terakhir ini, pasti kenal siapa Mbah Maridjan dan bagaimana sepak terjangnya dalam menyikapi gejolak alam Gunung Merapi., yang teguh memegang keyakinan akan persahabatannya dengan sang gunung, menganggap Gunung Merapi adalah halaman tempatnya “bermain”. Maka dengan mantap bertahan di lereng Merapi yang oleh banyak orang dianggap berbahaya - dan memang berbahaya pada saat aktivitas gunung tersebut meningkat. Namanyapun  disebut-sebut oleh Sri Sultan Hamengku Bowono X dalam pisowanan agung sebagai orang yang patut diteladani.

Mengapa Mbah Maridjan sampai bersikap, berpendirian, dan berkeyakinan seperti itu? Penulis mencoba melihat dari sisi kebudayaan, di mana tinjauan tersebut nanti tidak terlepas dari sisi psikologis dan sosiologis. Ketiga sudut pandang tersebut diyakini saling terkait satu sama lain karena yang didalami adalah sama, yaitu manusia sebagai subyek dan obyek.

Seseorang bersikap, berpendirian, dan meyakini sesuatu tidak terlepas dari pengalamannya. Pengalaman seseorang yang bersifat empiris akan membangun image yang permanen, image terhadap sesuatu menjadi suatu keyakinan dan tertanam dalam diri seseorang akan mempengaruhi cara bersikap. Mbah Maridjan sebagai salah satu warga dari pedusunan di lereng Gunung Merapi mengalami banyak pengalaman dengan gunung tersebut sebagaimana pengalaman yang dimiliki oleh banyak orang disana. Masyarakat di lereng Gunung Merapi mengalami bahwa gunung tersebut memberi banyak berkah bagi kehidupan mereka. Kesuburan alam, pasir dan batu, keindahan alam, kesejukan udara, menjadi sandaran hidup penduduk disana. Namun mereka tidak mengingkari akan adanya bahaya yang sewaktu-waktu mengancam kehidupan mereka; gunung meletus, lahar dingin, wedus gembel, guguran lava. Fenomena-fenomena alam tersebut dipandang sebagai suatu kejadian sebab-akibat, sehingga perlu adanya interaksi aktif dan positif antara manusia dan alam. Alam bisa memberikan yang baik bagi manusia, dan bisa juga memberikan yang merugikan manusia, tergantung dari interaksi yang dilakukan. Interaksi dengan alam diwujudkan dengan adanya sesaji/larung pada suatu kekuatan yang diyakini ada dan menjaga Gunung Merapi. Sesaji/larung dimaksudkan sebagai tanda persahabatan manusia dengan sang penjaga alam, dan ungkapan terimakasih manusia karena sudah diberi banyak hal yang baik oleh alam dengan menyediakan hasil-hasil bumi. Dengan menjaga hubungan baik dengan penjaga alam, diharapkan  manusia mendapatkan keselamatan, terlepas dari bencana, yang diyakini sebagai wujud kemarahan penjaga alam.

Keyakinan seperti di atas tertanam dalam masyarakat yang menghuni sekitar lereng Gunung Merapi. Ada yang menyikapinya secara biasa-biasa saja, namun ada juga yang menyikapinya secara sangat konsisten, termasuk Mbah Maridjan. Ditambah dengan statusnya sebagai juru kunci Gunung Merapi yang dianugerahkan oleh Sri Sultan. Status tersebut membentuk konsep dalam diri Mbah Maridjan untuk memainkan perannya dalam lingkup hubungan sosialnya dengan alam. Beliau merasa bertanggungjawab untuk menjadi mediator antara masyarakat dan alam, hal itu ditunjukkan dengan memegang teguh tugasnya sebagai juru kunci.

Konsep diri yang tertanam dalam diri Mbah Maridjan yang notabene adalah seorang low profile-public figure membawa pengaruh dalam hubungan sosial masyarakat dan harmonisasinya. Aktivitas-aktivitas yang dilakukan merupakan refleksi sosial dari realitas masyarakat yang ingin mempertahankan eksistensinya. Individu atau sekelompok individu (masyarakat) agar tetap bertahan harus selalu terintegrasi dengan sistim sosialnya, dimana terkandung di dalamnya nilai-nilai dan keyakinan yang diyakini oleh kelompok tersebut. Dikatakan demikian karena tingkah laku individu tidak bisa lepas dari struktur sosial masyarakat, masyarakat terbangun pula dari para aktor-individu (Solidaritas Sosial, Emile Durkhein).

Penulis tidak akan melihat aktivitas yang dilakukan Mbah Maridjan dari ritualnya, yang dapat dengan mudah diartikan sebagai perwujudan budaya, tetapi lebih pada makna yang terkandung dalam aktivitasnya sehari-hari sebagai perwujudan nilai yang diyakini. Yang dilakukan oleh Mbah Maridjan bukanlah sekedar ekspresi diri sendiri atau untuk dirinya sendiri, tetapi merupakan nilai-nilai yang dibagikan kepada masyarakat, seperti yang ditulis diatas adalah sebuah refleksi dari nilai-nilai kolektif masyarakat. Persatuan dengan alam yang diwujudkan dengan menghargai dan selalu berinteraksi dengan alam adalah nilai-nilai yang diyakini bersama. Beliau bertahan di lereng gunung meskipun bahaya mengancam, karena pengalaman bertahun-tahun hidup dalam situasi tersebut, Mbah Maridjan belajar untuk mengenal alam, belajar memahami sifat-sifat alam, belajar bersama-sama dengan penduduk lainnya dalam kehidupan sehari-hari.

Keyakinan akan nilai-nilai yang dimiliki secara kolektif oleh masyarakat itu terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari mereka. Lereng gunung dan lembah, sungai berpasir dan batu-batu, adalah kehidupan mereka. Mereka menggantungkan hidupnya selama ini dalam situasi alam yang sudah mereka kenal dengan baik tersebut. Mereka bisa hidup karena kebaikan alam. Alam akan memberikan yang terbaik asal manusia juga memberikan yang terbaik pada alam. Alam dan manusia berinteraksi dan terintegrasi satu sama lain. Dari proses belajar, interaksi dan integrasi tersebut manusia akan terus menerus beradaptasi dengan lingkungannya. Kalau mau melihat dari ritual sesajen/larung yang dilakukan beliau sebagai juru kunci, maka itu juga menunjukkan suatu simbol persatuan dan hubungan sebab akibat antara kegiatan manusia dan alam.

Dari hal-hal di atas, tampak semakin jelas bahwa kebudayaan manusia adalah merupakan reaksi konfrontif terhadap lingkungannya. Tantangan-tantangan alam menumbuhkan dalam diri manusia – yang dalam tulisan ini diwakili oleh Mbah Maridjan – untuk bereaksi, mengalami tantangan dan menanggapi (challenge and response). Reaksi tersebut adalah untuk mempertahankan eksistensinya dan masyarakat yang diwakilinya. Keadaan alam dan status yang harus beliau perankan mendasari apa yang selama ini banyak mengundang perhatian masyarakat.

Satu ciri kebudayaan yang belum disebut diatas adalah bahwa kebudayaan bersifat dinamis, mengalami perubahan, ini berarti nilai-nilai yang diyakini oleh para agen budayapun tidak bebas dari perubahan yang mungkin terjadi. Perubahan akan terjadi sebagai akibat adanya interaksi antar budaya sebagai salah satu buah dari komunikasi. Semakin mudahnya akses komunikasi saat ini memberi peluang besar percepatan proses perubahan budaya, bahkan tanpa beranjak dari tempat dudukpun akan bisa terjadi interaksi budaya. Televisi, HP, radio, surat kabar, dan alat komunikasi lain menjadi media penghantar nilai-nilai budaya dari tempat satu ke tempat yang lain. Yang diharapkan saat ini adalah bahwa interaksi budaya tersebut tidak membawa akibat yang buruk bagi nilai-nilai yang baik dari budaya setempat, namun justru memperkaya khasanah nilai budaya. Juga bagi Mbah Maridjan yang saat ini sudah menjadi low profile-public figure, bertemu dengan banyak pejabat, diwawancarai oleh banyak media massa, menjadi bintang iklan, dan dipersiapkan menjadi duta budaya ke luar negeri, rupanya tantangan dalam perubahan nilai budaya cukup besar..


Hal-hal di atas memenuhi kriteria sebagai ciri-ciri kebudayaan. Apakah dengan demikian Mbah Maridjan dapat dikatakan sebagai agen budaya? Atau bahkan seorang budayawan? Kiranya demikian. Dukungan bagi Mbah Maridjan dari semua pihak kiranya menjadi relevan, agar beliau tetap dapat menjadi agen budaya lereng Merapi, agen budaya Sleman, agen budaya Yogyakarta, bahkan agen budaya Indonesia. Selamat Mbah!