Sejarah                                                                 

 

 

 

Jawa Tengah jauh hari sebelum Indonesia merdeka … lima bruder dari Belanda datang karena undangan dari Mgr. Visser…


 

15 Oktober 1929 mereka tiba di Purworejo, sambutan “welkomslied” diberikan oleh anak-anak HIS dan Schakel School.
 

 

September 1931 tiga orang bruder yang dipimpin oleh Br. Micheas membuka biara baru di Purwokerto. Mereka bekerja di asrama sekolah, membuka kursus-kursus bahasa, tata buku, mendirikan perkumpulan kepanduan.
 

 

15 Agustus 1933, tiga orang calon bruder pribumi diterima menjadi postulan. Pada tgl 5 Januari 1934 mereka menerima jubah religius dari tangan Mgr. Visser …. bukan sebagai Bruder Karitas tetapi “Broeders van de Goddelijke Liefde … atau … Bruder Sihing Widi … “ Pada 6 Januari 1935, mereka mengucapkan kaul-kaul pertama mereka dan mulai berkarya … mengajar … mengawasi asrama …

Berjubah kelabu muda, skapulir hitam dan ikat pinggang dari kulit warna coklat dengan rosario besar di sebelah kiri. Tidak berkaos kaki dan tidak bersepatu, melainkan sandal … BRUDER-BRUDER SIHING WIDI ……

 

 

 3 Oktober 1934 pengurus pusat Bruder Karitas memutuskan untuk mendirikan biara baru di Tegal. Enam bruder di bawah pimpinan Br. Canisius yang sedang berlayar dari Belanda akan menempati biara tersebut. Kemudian mereka bekerja sama dengan Suster-suster PBHK dan Romo MSC membangun sekolah, membentuk perkumpulan sepakbola, kelompok koor “St. Paulus”.Tapi pada revolusi kemerdekaan semua bangunan dibumihanguskan sebagai strategi perang. Sesudah perang kemerdekaan tanah dikembalikan kepada Keuskupan, dan Sr. PBHK meneruskan karya mereka disana.

  

 

Setelah tentara Jepang merebut Jawa thn 1942, semua sekolah harus ditutup. Semua misionaris, baik Romo, Suster maupun Bruder ditahan. Bruder-bruder Karitas tersebar di beberapa kamp. Selama waktu tahanan mereka ikut merawat orang sakit disana. Rumah-rumah biara, tanah dan perabot rumah, sekolah dan asrama disita oleh tentara Jepang.

  

 

 

Tahun 1953 Bruder Karitas menerima tawaran dari Suster PMY untuk membuka lembaga anak tuli bagian putra di Wonosobo. Tanah diberikan secara cuma-cuma oleh Suster PMY. Tiga bruder baru datang dari Belanda. Akhir tahun 1955 mereka mulai menempati gedung baru … tanpa listrik … tanpa air leding …..
 
 
 

Tahun 1961, Uskup Agung Semarang Mgr. Soegiopranoto menyetujui rencana Bruder Karitas untuk membangun Biara di Nandan - Yogyakarta sebagai wisma bagi bruder-bruder yang akan belajar. Tahun 1963 Bruder Karitas mendirikan SD… kemudian TK…dan kemudian tahun 1969 mendirikan SMP.