News & Article‎ > ‎

USD/JPY Menyelam Kian Dalam, Aso: Ini Sangat Memprihatinkan

posted May 1, 2016, 11:42 PM by Rizki Maulana   [ updated May 1, 2016, 11:43 PM ]

2 May 2016 09:21    By: N Sabila   

Yen Jepang menyentuh level tertingginya dalam 18 bulan terakhir terhadap Greenback di sesi perdagangan Senin (02/05) pagi ini, menguji "kesabaran" para pejabat Jepang dalam menghadapi penguatan mata uangnya yang berpotensi melemahkan sektor ekspor dan pasar saham. Menteri Keuangan Taro Aso mengatakan pada media Jepang pada akhir pekan lalu bahwa pihaknya "tidak senang" dengan kekuatan Yen saat ini, dengan menyebutnya sebagai "sangat memprihatinkan".

yen
Setelah libur nasional di Jumat kemarin, USD/JPY dibuka jatuh pada sesi perdagangan Asia pagi ini hingga 106.14 yen, menembus level rendah hari Jumat pada 106.27. Pair ini telah merosot hingga 5 persen sepanjang pekan lalu dan mencatat kemerosotan terparah sejak tahun 2008 akibat langkah Bank of Japan yang enggan menambah stimulus moneter. Sementara itu, Euro terpantau lebih stabil di level 122.00 yen namun masih sedikit lebih tinggi daripada level 121.66 yang tercapai di hari Jumat lalu.


Jepang Masuk Dalam "Daftar Monitoring" DepKeu AS

Dalam laporannya pada kongres, Departemen Keuangan AS mengatakan bahwa mereka sedang menciptakan sebuah "Daftar Pengawasan" baru yang melibatkan China, Jepang, Korea, Taiwan, dan Jerman untuk diawasi secara lebih dekat serta melakukan penilaian tren ekonomi dan kebijakan valuta asing perekonomian negara-negara tersebut.

Departemen Keuangan AS juga mencatat kondisi USD/JPY saat ini dalam pasar forex masih dapat dikatakan dalam kondisi yang tertib. Sedangkan, hanya sedikit tanggapan mereka terhadap survei sektor manufaktur China yang dirilis pada hari Minggu kemarin. Laporan tersebut hanya menunjukkan bahwa aktivitas manufaktur China yang berekspansi dalam dua bulan berturut-turut hingga April namun tak begitu banyak.


Akan Sulit Intervensi Karena...

"Dalam pandangan kami, akan sulit bagi BoJ untuk menyesuaikan intervensi pasar forex demi melemahkan JPY, khususnya setelah Menteri Keuangan AS menempatkan Jepang dalam 'daftar baru' pengawasan valuta asing," kata Elias Haddad, Ahli Strategi di Commonwealthbank Australia.

"Namun, bilapun BoJ tetap mengintervensi untuk melemahkan JPY, USD/JPY tampaknya akan tertahan di level tinggi dikarenakan oleh surplus besar yang terdapat dalam neraca berjalan Jepang," kata Haddad.