News & Article‎ > ‎

Pounds Menguat Setelah Inggris-Uni Eropa Sepakati Masa Transisi Brexit

posted Mar 20, 2018, 12:42 AM by Rizki Maulana   [ updated Mar 20, 2018, 12:43 AM ]

Seputarforex.com - Inggris berhasil mendapatkan persetujuan dari Uni Eropa untuk memulai masa transisi 21 bulan pada 29 Maret 2019 menjelang keluarnya negeri ini dari kesatuan sosial-politik terbesar dunia tersebut, sejalan dengan pesatnya kemajuan yang dicapai dalam kesepakatan Brexit. Karenanya, Poundsterling melonjak hingga ditutup pada 1.4025 terhadap Dolar AS kemarin, kemudian naik lagi ke kisaran 1.4035 pada awal sesi Asia hari Selasa ini (20/Maret). Pounds juga unggul versus Yen dengan GBP/JPYdiperdagangkan di kisaran tertinggi sepekan pada 148.96. Namun, masih ada sejumlah rincian yang perlu disoroti.

FirewoodFX

 

Inggris dan Uni Eropa Sepakati Masa Transisi Brexit

 

 

Kesepakatan Masa Transisi Brexit 

Sebagaimana dilansir oleh Bloomberg, untuk mencapai kesepakatan mengenai masa transisi Brexit, Inggris telah memberikan sejumlah konsesi bagi Uni Eropa. Diantaranya, mengizinkan warga Uni Eropa untuk terus menikmati hak-hak yang sama dengan sebelumnya di Inggris selama masa transisi. Sementara itu, para pejabat Inggris meyakini ada lima hal pokok perhatian yang telah "didengar" oleh Uni Eropa, yaitu:

  1. Izin eksplisit bahwa Inggris bisa melakukan negosiasi dan menandatangani kesepakatan dagangnya sendiri dengan negara lain selama masa transisi, tanpa memerlukan persetujuan Uni Eropa. Walaupun, kesepakatan tersebut baru mulai efektif setelah ada persetujuan. Dalam hubungan dengan negara-negara yang belum membuat kesepakatan baru dengan Inggris, Uni Eropa akan meminta agar Inggris diperlakukan layaknya masih menjadi bagian UE.
  2. Inggris tak lagi tercakup dalam keputusan kebijakan luar negeri UE sepanjang masa transisi.
  3. Jaminan bahwa Inggris akan mempertahankan akses yang sama ke sektor perikanan selama masa transisi, serta proses konsultansi untuk memastikan Inggris memahami semua keputusan di bidang ini.
  4. Kemampuan bagi Inggris untuk menetapkan kebijakan baru di bidang kehakiman dan keamanan selama masa transisi.
  5. Janji antara kedua belah pihak untuk bertindak dengan "itikad baik" dalam sebuah komite bersama untuk memantau kesepakatan.

Janji untuk bertindak dengan "itikad baik" ini menyiratkan bahwa Uni Eropa takkan merilis perundangan yang akan berdampak buruk bagi Inggris selama masa transisi, karena Inggris tak lagi memiliki hak suara dalam penetapan kebijakan UE. Poin ini telah lama menjadi salah satu pokok krusial bagi Inggris, sehingga hasil akhirnya melegakan banyak pihak. 

Terlepas dari kabar baik tersebut, masalah perbatasan Inggris-Irlandia masih menjadi ganjalan. Para pengusaha juga kurang puas akan kesepakatan transisi ini, karena kurangnya rincian yang jelas bagi korporasi untuk mengambil keputusan. Apalagi perjanjian transisi belum mengikat secara hukum sebelum kesepakatan Brexit final ditandatangani, kemungkinan pada tahun depan. Pimpinan negosiator Uni Eropa, Michel Barnier, mengingatkan pada wartawan pada hari Senin bahwa "tak ada yang disepakati hingga semuanya disepakati."

 

Tak Mengejutkan Poundsterling Melonjak Tajam

Kathy Lien dari BK Asset Management mencatat, "Sayangnya, tak ada persetujuan mengenai perbatasan Irlandia, yang telah menjadi masalah serius. Meski begitu, langkah maju ini merupakan perkembangan positif pertama yang kita dapatkan dalam negosiasi Brexit selama beberapa waktu belakangan, sehingga tak mengejutkan melihat Poundsterling diperdagangkan melonjak tajam." 

Lebih lanjut, Lien mengingatkan, "Ini adalah pekan penting bagi Pound Inggris, karena inflasi, ketenagakerjaan dan data penjualan ritel dijadwalkan untuk dirilis bersama dengan pengumuman kebijakan moneter Bank of England (BoE). Setelah menurun di bulan Januari, inflasi diekspektasikan rebound, dan jika memang demikian maka akan konsisten dengan nada hawkish dalam rapat kebijakan (BoE) terakhir, serta (bisa) mendorong kenaikan lebih lanjut bagi Sterling, khususnya terhadap Euro."