home‎ > ‎

renungan warta

Bersahabat Dengan Firman [Mazmur 119, 33-40]

 

Sdr. Kekasih, berkali-kali dalam kitab suci dituliskan bahwa manusia memang memerlukan firman Tuhan sebagai sumber kehidupannya. Manusia harus mendengarkan firman Tuhan untuk mendapatkan bijaksana membedakan manakah kehendak dan yang berkenan kepada Tuhan Allah. Itulah sebabnya sebagaimana kerinduan pemazmur ini, kita diingatkan tentang kehidupan dan kebahagiaan karena mendapatkan kekuatan dari firman Tuhan itu. Tuhan Yesus juga berkata bahwa manusia harus hidup dari setiap firman yang keluar dari mulut Tuhan Allah [Matius 4 dan Lukas 4]. Bahkan firman Tuhan itu disebutkan kitab Ibrani sebagai yang kuat dan hidup, dan itulah yang sungguh-sungguh menghidupkan manusia.

Oleh sebab itu bersahabat dengan firman , ibarat makan makanan pokok setiap hari. Kita membutuhkan dan membutuhkannya agar kehidupan dapat tetap berlangsung. Bahwa kita harus memakan, mengunyah berarti membaca, merenungkan atau merindukannya untuk melakukannya itu berarti kita tidak boleh membuat firman mengikuti kita. Kita-lah yang harus menyesuaikan hidup kita, kelakuan dan fikiran kita dengan firman Tuhan. Kita yang menyelaraskan ritme hidup kita dengan firman Tuhan, menjadikannya patokan dalam kehidupan kita. Ia ibarat “sahabat sejati” yang ada pada kita saat suka dan duka.

**

Dalam konsultasi CU & CUM HKBP yang diselenggarakan Departemen Diakonia HKBP di Pematangsiantar kemarin, 20-21 Februari 2014 ada pesan yang penting untuk kebersamaan kita. Dalam pertemuan itu tersirat keinginan dan kerinduan bersama dari seluruh peserta untuk bergandengan tangan dalam usaha meningkatkan pelayanan melalui kehadiran HKBP yang bukan lagi berorientasi pada masalah, tetapi berorientasi pada solusi. Selama ini HKBP terlalu banyak bergelut dengan orientasi di masalah yang ada, sebab itu semangat orientasi pada solusi menjadi penting. Jangan hanya melihat masalah, problem atau kritik sebagai yang tidak membangun. Kini waktunya kita bersama-sama melihat solusi di depan yang selalu harus diusahakan, dihadirkan disini, di jemaat kita.

Hal ini berhubungan dengan program pemerintah yang mengusahakan proses percepatan pembangunan di Indonesia hingga 2025. Pada beberapa paparan jelas untuk mencapai target PM3I itu Pemerintah mencanangkan juga semangat kolaborasi. Kolaborasi itu mengikutsertakan semua potensi  SDA yang berlimpah di nusantara, juga SDM yang tidak terbatas dan semakin terampil dan bekerja dengan cerdas. Kita bangga sebagai warga negara Indonesia yang memiliki kelimpahan seperti itu yang dikaruniakan Tuhan kepada bangsa ini. Maka kita juga harus ikut menyukseskan program ini, terutama dengan mempersiapkan generasi muda gereja kita yang belajar dan bekerja bukan hanya dengan bersungguh-sungguh, setia tetapi juga smart.

Kepada kaum remaja dan pemuda, untuk memilih teman, pintar-pintarlah! Belakangan ini ada orang yang terseret pada kasus narkotika karena pergaulan yang salah. Seseorang yang dapat memilih kawan yang baik adalah seorang bijaksana. Orang ideal tidak mempunyai banyak kawan, tetapi hanya berkawan kepada yang jujur dan tekun.

Kawan yang betul-betul akrab di hati saya tidak banyak. Saya menghargai mereka yang jujur, yang sungguh-sungguh dan tegas. Orang bijak berkata, “Persahabatan yang sejati seperti air yang tawar, tetapi mempunyai rasa yang nikmat dan tidak membosankan”. Air tawar, bersifat paling tahan lama, sebaliknya minuman-minuman manis cepat membosankan. Hati-hati dengan mereka yang terlalu cepat bermanis-manis, terlalu cepat memaki-maki, terlalu cepat janji, atau terlalu cepat menyetujui Saudara. Orang yang tenang, tekun dan berani mengatakan setiap kalimat dengan kejujuran itulah yang berhak menjadi kawan kita. Tapi untuk memilih kawan yang baik, kita juga harus bersedia untuk menjadi orang yang jujur untuk menjadi berkat bagi orang lain. Di mana Saudara berada, jadilah berkat bagi orang lain; dan di manapun Saudara tinggal, siaplah selalu untuk melayani orang lain. Dunia ini perlu banyak orang yang membagi-bagikan diri demi orang lain.

Comments