Kegiatan situs terkini

Mengenal Penyakit ATR

Anak Anda menderita ATR? Semoga tidak. Namun kalaupun ada di antara Anda yang memiliki anak, saudara, teman atau Anda sendiri yang menderita gangguan ginjal Asidosis Tubulus Renalis (ATR) atau Renal Tubular Acidosis (RTA), tak usah berputus asa ataupun berkecil hati, karena Anda tidak sendirian.

 

Menurut sejumlah literatur ilmiah bidang kesehatan, penyakit ATR ini memang tergolong penyakit langka, alias jarang terjadi, dengan manifestasi klinis yang tidak spesifik, sehingga diagnosis sering terlambat. Namun berdasarkan pengalaman kami mengantar si kecil berobat di rumah sakit, khususnya di RSCM Jakarta, ternyata penderitanya tidak sedikit juga.

 

Menurut Dr. dr. Damayanti Sjarif, dokter spesial gizi dan metabolik anak pada Departemen Anak di RSCM Jakarta, pasien penyakit ATR yang tengah ditangani pada tahun 2005  ada sekitar 20-an orang anak. Kini jumlah tersebut terus bertambah.

 

Penyakit apakah ATR itu?

 

Asidosis Tubulus Renalis (ATR) atau Renal Tubular Acidosis (RTA) adalah suatu penyakit ginjal (rhenal) khususnya pada bagian tubulus-nya.

 


sumber gambar:

http://free.vlsm.org/v12/sponsor/Sponsor-Pendamping/Praweda/Biologi/Image/2-7b-3.jpg

Dalam keadaan normal, tubulus ginjal membuang asam sisa metabolisme dari darah ke dalam urin serta menyerap kembali bikarbonat hasil metabolisme untuk dimasukkan ke dalam darah.

 

Pada penderita penyakit ini, tubulus ginjal tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya, sehingga terjadi gangguan dalam proses reabsorbsi (penyerapan kembali) bikarbonat pada tubulus ginjal atau dalam proses ekskresi (membuang) asam ke dalam urin, atau kedua proses tersebut sekaligus. Akibatnya terjadi penimbunan asam dalam darah, yang mengakibatkan terjadinya asidosis, yakni tingkat keasamannya menjadi di atas ambang normal .

 

Apa akibatnya jika penyakit ini dibiarkan?

Penyakit asidosis jika dibiarkan bisa menimbulkan dampak berikut:

-  Rendahnya kadar kalium dalam darah. Jika kadar kalium darah rendah, maka terjadi kelainan neurologis seperti kelemahan otot, penurunan refleks dan bahkan kelumpuhan.

 

- Pengendapan kalsium di dalam ginjal yang dapat mengakibatkan pembentukan batu ginjal. Jika itu terjadi maka bisa terjadi  kerusakan pada sel-sel ginjal dan gagal ginjal kronis.

 

- Kecenderungan terjadinya dehidrasi (kekurangan cairan)

 

- Pelunakan dan pembengkokan tulang yang menimbulkan rasa nyeri (osteomalasia atau rakitis).

 

- Gangguan motorik tungkai bawah merupakan keluhan utama yang sering ditemukan, sehingga anak mengalami keterlambatan untuk dapat duduk, merangkak, dan berjalan.

 

- Kecenderungan gangguan pencernaan, karena kelebihan asam dalam lambung dan usus, sehingga pasien mengalami gangguan penyerapan zat gizi dari usus ke dalam darah. Akibat selanjutnya pasien mengalami keterlambatan tumbuh kembang (delayed development)  dan berat badan kurang.

Apakah penyebabnya?

 

Dunia kedokteran belum dapat memastikan penyebab ATR. Namun diduga penyakit ini disebabkan faktor keturunan atau bisa timbul akibat obat-obatan, keracunan logam berat atau penyakit autoimun (misalnya lupus eritematosus sistemik atau sindroma Sjögren).

 

Apakah penyakit ini bisa disembuhkan?

 

Sejauh ini dunia kedokteran belum menemukan obat atau terapi untuk menyembuhkannya, karena penyakit ini tergolong sebagai kerusakan organ tubuh, seperti penyakit diabetes mellitus (akibat kerusakan kelenjar insulin).

 

Sementara ini penanganan ATR baru sebatas terapi untuk mengontrol  tingkat keasaman darah, yaitu dengan memberikan obat yang mengandung zat bersifat basa (alkalin) secara berkala (periodik), sehingga tercapai tingkat keasaman netral, seperti pada orang normal. Zat basa ini mengandung bahan aktif Natrium bicarbonat (bicnat).

 

Dilihat dari bentuknya, sedikitnya ada tiga jenis bicnat di pasaran Indonesia: tablet, bubuk, dan cairan.


 

Meylon, salah satu jenis bicnat cair

dalam kemasan botol ampul plastik 25 ml.




Salah satu contoh bicnat cair 

dalam kemasan botol 100 ml.

Produksi PT Finusolprima Farma Indonesia


Jika pasien yang ditangani masih anak-anak, maka kalau kita menggunakan obat dalam bentuk tablet, tablet tersebut harus digerus terlebih dulu sebelum digunakan. Setelah itu dicampur dengan air matang, lalu diberikan kepada pasien. Sedangkan jika menggunakan bentuk bubuk dan cairan, tinggal dicampur air matang lalu diberikan kepada pasien, sesuai dengan dosis yang ditentukan dokter.

 

Berapa dosis bicnat yang diberikan?

Untuk menentukan berapa dosis bicnat yang harus diberikan, dokter akan menyuruh pasien menjalani tes darah, yakni tes analisis gas darah (AGD) di laboratorium klinik. Dari hasil tes itu dokter akan menentukan dosis bicnat bagi pasien.

 

Beratkah menangani penderita ATR pada usia anak-anak?

 

Yang terberat bagi orangtua pasien, biasanya bicnat harus diberikan delapan kali sehari, atau tiga jam sekali selama 24 jam. Artinya, pada malam hari pun orangtua harus bangun tiga jam sekali untuk memberikan obat. Dan orangtua juga harus membangunkan anaknya tiga jam sekali untuk meminumkan obat bicnat tersebut.

 

Karena penyakit ini belum ditemukan obat untuk menyembuhkannya, sebagaimana disebut di atas, maka pemberian bicnat akan berlangsung dalam jangka waktu yang sangat panjang. Bahkan mungkin hingga seumur hidupnya.

 

Perlukah si kecil dipasangi sonde?

 

Tergantung dari kondisi pasien. Jika pasien dapat menelan obat delapan kali sehari, maka pemberian cukup melalui mulut (oral). Namun pada pasien di bawah usia lima tahun, terlebih lagi di bawah tiga tahun, pemberian melalui mulut sangatlah sulit. Biasanya anak seusia itu tidak mau menelan obat bicnat, meskipun sudah digerus hingga berbentuk bubuk (puyer), karena rasanya yang tidak enak. Terlebih lagi untuk pemberian obat di tengah malam, amat sangat sulit, karena harus membangunkan si kecil. Akibatnya jumlah obat yang diberikan seringkali tidak mencapai target yang ditetapkan dokter.

 



Untuk mengatasi kendala ini biasanya dokter merekomendasikan pemakaian sonde atau selang nasogastrik (NGT) yang dimasukkan ke dalam lubang hidung pasien, masuk ke rongga hidung, lalu ke tenggorokan, hingga berujung di dalam lambung.

 

Pada ujung luar sonde terdapat katup untuk membuka-menutup jalan masuk obat. Orangtua tinggal memasukkan obat melalui sonde tersebut dengan bantuan spuit (alat suntik).

 

Sakitkah dipasangi sonde?

 

Tentu saja. Setiap anak akan menangis sekeras-kerasnya setiap dipasangi sonde. Sehingga hampir semua orangtua pada mulanya menolak jika anaknya harus dipasang sonde. Ini wajar, karena tidak tega melihat anaknya disakiti dengan dimasukkan sonde ke dalam lubang hidungnya yang kecil itu. Apalagi ketika mengetahui bahwa selang tersebut harus diganti sepekan sekali. Alangkah menderitanya si kecil kita!

 

Namun setelah melihat manfaatnya, antara lain membaiknya kondisi kesehatan si kecil, si kecil tidak lagi rewel, terjadi peningkatan berat badan anaknya, biasanya orangtua jadi "berubah pikiran". Meski tetap dengan berat hati, akhirnya para orangtua mulai bisa "mematikan perasaannya" membiarkan si kecil dipasang sonde. Karena semua itu demi kepentingan si buah hati.

 

Sebagian orangtua ada yang merasa tidak tahan melihat penderitaan si kecil saat dipasangi sonde, sehingga memutuskan untuk tidak menggunakannya lagi. Namun jika kondisi si kecil sendiri belum siap untuk lepas dari sonde, dia tidak bisa dibangunkan pada malam hari untuk meminum bicnat langsung dari mulutnya. Akibatnya kondisi badannya kembali drop.

 

Kondisi ini memang dilematis bagi orangtua. Namun sampai saat ini belum ada alternatif yang lebih baik daripada pemasangan sonde bagi penderita asidosis berusia di bawah lima tahun.

 

Selain penderita asidosis, anak-anak yang mengalami problem berat badan kurang atau anak-anak penderita alergi susu sapi dan/atau susu kedelai, biasanya juga menggunakan sonde untuk memasukkan susu penggantinya (seperti Pepti Junior atau Neocate).



Related Link:

1. Milis penyakit metabolik
http://health.groups.yahoo.com/group/metabolic-care/

2. Tentang ATR/RTA di Wikipedia
http://id.wikipedia.org/wiki/Asidosis_tubulus_renalis

3. Situs tentang penyakit metabolik
http://metabolic.care.googlepages.com/home

4. Situs tentang penyakit ATR/RTA
http://metabolic.care.googlepages.com/rta


5. RTA di English Wikipedia

http://en.wikipedia.org/wiki/Renal_tubular_acidosis


Comments