Afiliasi

Pemilik situs

  • wing pandoe

MOGA music solutions

K.H.A.S.A.N.A.H.‎ > ‎Teater Etnik‎ > ‎

Teater Nusantara

W.a.y.a.n.g

diposkan pada tanggal 26 Mar 2011 20.11 oleh wing pandoe   [ diperbarui26 Mar 2011 20.29 ]

CUPLIKAN

“Dewi Kunti, permaisuri Prabu Pandu, sedang mengandung anaknya yang kedua. Ketika melahirkan, bayi itu masih utuh terbungkus dalam kantong bayi, dan tak ada senjata yang mampu merobeknya. Dengan sedih bayi dalam bungkus itu diletakkan di tengah hutan. Sampai bertahun-tahun bungkus itu tidak pecah, tidak busuk, malahan makin bertambah besar dan dapat berguling kemana-mana menghancurkan segala yang dilandanya. Kemudian datanglah seekor gajah, bernama Gajah Sena, mendekati bungkus besar itu dan memecahkan dengan gadingnya. Dan muncullah dari dalam bungkus itu bayi yang telah lama ditunggu-tunggu. Tetapi bayi itu sudah berupa anak remaja, gagah perkasa, dengan kuku panjang seperti pisau pada kedua ibu jarinya. Dengan kuku itulah menusuk gajah itu, dan gajah itu hilang berpadu dengan dirinya, sehingga ia berkekuatan luar biasa seperti gajah . Anak itu diberi nama Bratasena.

Pada waktu Bratasena dewasa, dinegara Pringgadani ada seorang putri raja berujud raksasa yang buruk parasnya, bernama Arimbi. Ia jatuh hati kepada Bratasena. Karena cintanya ditolak, ia mohon kepada dewa agar parasnya diubah menjadi cantik. Permohonan itu dikabulkan. Ia berubah menjadi putri cantik jelita, sehingga Bratasena bersedia memperistrinya. Dari perkawinan itu Arimbi melahirkan seorang bayi.

Alangkah sedih hati Bratasena dan Arimbi karena bayi itu berparas raksasa, dan lebih sedih lagi talu pusat bayi itu tak dapat dipotong dengan senjata apapun. Semua keluarga dikerahkan untuk mencari senjata yang dapat memotong tali pusar bayi. Akhirnya paman si bayi, Arjuna, mendapatkan sarung senjata. Justru dengan sarung senjata yang sama sekali tidak tajam itulah tali pusat bayi itu dapat dipotong. Tatkala itu datanglah Maharsi Narada, minta bayi untuk diangkat menjadi senapati di kahyangan yang sedang diserang oleh raksasa. Disana bayi itu direbus dalam belangan besar, bersama dengan senjata-senjata tajam. Satu demi satu senjata-senjata meresap ke dalam tubuh bayi, dan beberapa saat kemudian muncullah dari dalam belanga itu seorang anak muda yang gagah perkasa, berwajah tampan. Dan itulah Gatutkaca, yang dapat mengalahkan raksasa, musuh para dewa itu. …….” dst


Itulah salah satu cuplikan kisah yang terdapat pada dunia pewayangan, yakni dunia yang abstrak. Mengikuti cerita semacam itu, seolah-olah kita berada di alam khayal yang bukan main jauhnya dari kenyataan. Apalagi dengan situasi masyarakat masa kini, agaknya sulit menangkap hal-hal yang tidak nyata. 

Wayang merupakan salah satu kesenian yang paling unik. Di dalamnya mencakup media sastra , drama dan musik. Ki Nartosabdo, dalang terkenal dari Semarang, sanggup mempesoana penontonnya. Bila ia sedang melukiskan adegan percintaan antara seorang satria dengan seorang putri jelita, tidak mustahil para penonton ikut tersedu-sedu ketika masuk ke dalam adegan Dewi Kunthi menghanyutkan anak pertamanya ke ke begawan Jamuna.Dengan daya jangkau yang luas untuk mencapai hampir semua lapisan masyarakat, dan daya muatnya yang besar untuk mendukung bermacam-macam materi serta keluwesannya mengikuti perkembangan masyarakat, ia juga merupakan media penerangan dan pendidikan masyarakat yang efektif, disamping fungsi hiburan yang menyenangkan.


Wayang merupakan penggambaran dunia abstrak yang membentuk gagasan dan menyatakan angan-angan. Kalau pertunjukan wayang menampilkan kisah-kisah perjuangan raja dan satria, Pandawa melawan Kurawa, Rama melawan Rahwana, maka sesungguhnya persoalannya adalah kemanusiaan perjuangan abdi antara yang baik dengan yang buruk, antara keadilan dan ketidakadilan.

Pada pementasan wayang biasanya dibagi dalam tiga babak, yang setiap pergantian babak ditandai dengan pemunculan kayon atau gugunungan dan Pathet gamelan yang mengiringinya. Pembabakan adalah sebagai berikut :

Babak Pertama.(kayon condong ke kanan, gending pathet 6)

Bagian ini merupakan bagian pembukaan lakon, dimana cerita diawali dengan mengangkat keadaan atau suatu masalah di dalam kerajaan. Misalnya masalah keraton serta hubungannya dengan keraton lainnya, biasanya berupa konflik.

Babak Kedua.(kayon tegak lurus, gending pathet 9)

Bagian ini ditandai dengan adegan pertemuan seorang satria yang biasanya ditemani oleh punakawan dengan pendeta atau dewa untuk meminta petunjuk dan petuah yang berguna bagi kehidupan dunia dan akhirat. Pada bagian ini, biasanya terjadi pada tengah malam, Ki Dalang menggelarkan wejangan-wejangan ilmu luhur yang berhubungan dengan Ketuhanan, kemanusiaan, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan keluhuran budi dan keutamaan tingkah laku manusia melalui tokoh pendeta. Pada bagian ini pula untuk mengurangi rasa kantuk pada penonton, seorang dalang sering membuat adegan humor lewat tokoh punakawan. Setelah adegan ini selesai, dilanjutkan dengan adegan perang antara satria dengan kawanan raksasa. Adegan perang yang disebut perang kembang ini, intinya adalah menggambarkan perang antara sifat-sifat baik dengan sifat-sifat jahat yang tentunya dimenangkan oleh sifat baik.

Babak Ketiga .(Kayon condong ke kiri, gending pathet manyura)

Adegan pada babak terakhir ini merupakan bagian penyelesaian dari kerangka cerita seluruhnya. Hal-hal yang masih merupakan teka-teki dalam babak pertama dan kedua, menjadi jelas disini.

Kembali pada persoalan bentuk, wayang memiliki jenis yang cukup banyak, diantaranya :

  1. Wayang Purwa, wayang kulit yang bercerita Mahabarata, Ramayana.
  2. Wayang Madya, wayang kulit yang bercerita lakon Prabu Parikesit di Astina
  3. Wayang Gedog, wayang kulit bercerita lakon Panji dari sejarah Jenggala-Kediri.
  4. Wayang Suluh, wayang kulit yang bercerita lakon dari babad tanah Jawa, yakni Demak dan Mataram.
  5.  Wayang Kancil, wayang kulit berbentuk manusia biasa (kecil), bercerita tentang kejadian sehari-hari.
  6.  Wayang Kelitik atau Kurcil, terbuat dari kayu tipis, cerita Damarwulan atau Majapahit.
  7.  Wayang Menak, wayang dari boneka kayu,membawakan cerita-cerita menak.
  8.  Wayang Golek, wayang dari boneka kayu, cerita Mahabarata dan Ramayana, berbahasa Sunda.
  9.  Wayang Bali, wayang kulit, cerita Mahabarata dan Ramayana, berbahasa Bali.

 

Bentuk wayang-wayang di atas dimainkan oleh dalang. Di samping itu ada yang dilakukan oleh manusia , seperti wayang wong, wayang topeng, dan langendriya yang ditarikan oleh penari-penari wanita dengan membawakan cerita Damarwulan. Tidak dilakukan dialog, tetapi tembang. Wayang golek menak dilakukan oleh penari-penari dengan gaya kaku menirukan golek kayu, dan membawakan cerita-cerita menak.

L e n o n g - teater tradisi Betawi

diposkan pada tanggal 11 Apr 2010 03.47 oleh wing pandoe

Kesenian teater Lenong merupakan kesenian tradisional dari Betawi yang sampai sekarang masih hidup dan berkembang dilingkungan masyarakat pinggiran Jakarta. Jenis kesenian ini ada dua macam yaitu "Lenong Denes" dan "Lenong Preman". Perbedaannya: Lenong denes menceriterakan kerajaan atau lingkungan kaum bangsawan, dengan ditandai busana yang necis, penggunakan bahasa yang halus (bahasa melayu yang tinggi), sedang Lenong preman menggunakan ceritera yang disajikan tentang kehidupan sehari-hari dengan menggunakan bahasa sehari-hari pula. Penggunakan bahasa dalam teater ini menggunakan dialek betawi sehari-hari, sehingga sangat komonikatif dan akrab dengan penontonnya. Musik terdiri dari instrumen : Gambang, kromong (bonang) tehyan, kong ahyan, suling, sukoong, gendang, gong , kemor dan kecrek.

1-2 of 2