Afiliasi

Pemilik situs

  • wing pandoe

MOGA music solutions

K.H.A.S.A.N.A.H.‎ > ‎

Musik Etnik Nusantara


Tembang Sunda

diposkan pada tanggal 13 Apr 2010 21.36 oleh wing pandoe   [ diperbarui13 Apr 2010 22.21 ]

Tembang sunda or usually called as Seni Mamaos Cianjuran or just Cianjuran is a form of sung poetry which arose in the colonial-era Kabupaten of Cianjur. First known as an aristocratic art, Cianjuran composer was R.A.A Kusumahningrat ( Dalem Pancaniti ) ruler of Cianjur (1834 - 1862). the instrument of Cianjuran is Kacapi Indung, Kacapi rincik and suling or bamboo flute and Rebab for Salendro composition. The lyrics are typically sung in free verse, but a more modern version, panambih, is metrical. Cianjur is a city west of Bandung, the provincial capital of West Java, Indonesia. ...


Tembang sunda atau biasa disebut Seni Mamaos Cianjuran atau hanya Cianjuran adalah bentuk puisi dinyanyikan yang muncul di era kolonial-Kabupaten Cianjur.
Pertama kali dikenal sebagai seni aristokrat, komposer Cianjuran adalah RAA Kusumahningrat (Dalem Pancaniti) penguasa Cianjur (1834-1862). instrumen Kacapi Indung Cianjuran adalah, Kacapi rincik dan suling atau seruling bambu dan Rebab untuk komposisi Salendro. Lirik biasanya dinyanyikan dalam ayat bebas, tetapi versi yang lebih modern, panambih, adalah dangding.

Musik Suku Dayak

diposkan pada tanggal 11 Apr 2010 03.04 oleh wing pandoe   [ diperbarui11 Apr 2010 03.29 ]

Suku Dayak memiliki bermacam-macam alat musik, baik berupa alat musik petik, pukul dan tiup. Dalam kehidupan sehari-hari suku di pedalaman ini, musik juga merupakan sarana yang tidak kalah pentingnya untuk penyampaian maksud-maksud serta puja dan puji kepada yang berkuasa, baik terhadap roh-roh maupun manusia biasa. Selain itu musik alat-alat musik ini digunakan untuk mengiringi bermacam-macam tarian.

Seperti halnya dalam seni tari, pada seni musik pun mereka memiliki beberapa bentuk ritme, serta lagu-lagu tertentu untuk mengiringi suatu tarian dan upacara-upacara tertentu. Masing-masing suku memiliki kekhasannya sendiri-sendiri.

________________________________________






Alat Musik Suku Dayak

Gendang

Ada beberapa jenis Gendang yang dikenal oleh suku Dayak Tunjung:

  • Prahi
  • Gimar
  • Tuukng Tuat
  • Pampong

Genikng

Sebuah gong besar yang juga digantungkan pada sebuah standar (tempat gantungan) seperti halnya gong di Jawa.

Gong

Sama seperti gong di Jawa, dengan diameter 50-60 cm

Glunikng

Sejenis alat musik pukul yang bilah-bilahnya terbuat dari kayu ulin. Mirip alat musik saron di Jawa.

Jatung Tutup

Gendang besar dengan ukuran panjang 3 m dan diameter 50 cm

Jatung Utang

Sejenis alat musik pukul dari kayu yang berbentuk gambang. Memiliki 12 kunci, tergantung dari atas sampai bawah dan dimainkan dengan kedua belah tangan.

Kadire

Alat musik tiup yang terbuat dari pelepah batang pisang dan memiliki 5 buah pipa bambu yang dibunyikan dengan mempermainkan udara pada rongga mulut untuk menghasilkan suara dengung.

Klentangan

Alat musik pukul yang terdiri dari enam buah gong kecil tersusun menurut nada-nada tertentu pada sebuah tempat dudukan berbentuk semacam kotak persegi panjang (rancak). Bentuk alat musik ini mirip dengan bonang di Jawa. Gong-gong kecil terbuat dari logam sedangkan tempat dudukannya terbuat dari kayu.

Sampe

Sejenis gitar atau alat musik petik dengan dawai berjumlah 3 atau 4. Biasanya diberi hiasan atau ukiran khas suku Dayak.

Suliikng

Alat musik tiup yang terbuat dari bambu. Ada beberapa jenis suliikng:

  • Bangsi / Serunai
  • Suliikng Dewa
  • Kelaii
  • Tompong

Taraai

Sebuah gong kecil yang digantungkan pada sebuah standar (tempat gantungan). Alat pemukul terbuat dari kayu yang agak lunak.

Uding (Uring)

Sebuah kecapi yang terbuat dari bambu atau batang kelapa. Alat musik ini dikenal juga sebagai Genggong (Bali) atau Karinding (Jawa Barat).

Angklung

diposkan pada tanggal 7 Apr 2010 21.19 oleh wing pandoe   [ diperbarui7 Apr 2010 21.28 ]


Begitu angklung disebut, ingatan sebagian orang mungkin melayang ke Tanah Pasundan. Maklumlah, hampir setiap orang di Tanah Air pernah mendengar alunan bilah bambu yang disusun sedemikian rupa tersebut. Tepatnya, terdiri dari tabung-tabung bambu dengan panjang dan diameter berbeda. Alat musik tradisional yang seluruhnya terbuat dari bahan alami ciptaan Tuhan ini memang asyik didengar. Terutama bila dimainkan secara bersama-sama layaknya sebuah orkestra. Cara memainkan angklung pun mudah, yakni dengan digoyang atau digetarkan sehingga menghasilkan nada tertentu.

Kendati terlihat sederhana, ternyata mencari bambu untuk angklung tidaklah mudah. Seperti yang dilakukan Pak Wawan dan rekannya. Suatu hari, mereka berencana mencari bambu untuk bahan membuat angklung. Menebang bambu untuk angklung pun hanya dapat dilakukan setelah pukul 09.00 WIB hingga menjelang pukul 15.00 WIB. Syarat itu harus dipatuhi, bila ingin memperoleh bahan yang sempurna sehingga menghasilkan angklung berkualitas tinggi.

 


Bambu yang ideal untuk angklung haruslah yang kuat dan keras. Biasanya bambu seperti itu hanya ada di dataran tinggi yang memiliki tekstur tanah berkapur. Tanah yang berkapur dapat membuat batang-batang bambu menjadi keras. Akan tetapi, menemukan bambu di tanah berkapur kini sangat sulit. Apalagi di daerah Bandung, Jawa Barat, yang kondisi tanahnya cenderung liat.

Angklung dapat dibuat dari bambu jenis apa pun. Baik itu bambu kuning, hijau, cokelat maupun yang berwarna hitam. Bambu yang ditebang haruslah berumur sekitar empat sampai enam tahun. Jika umurnya terlalu muda, batang bambunya biasanya terlalu kecil dan lunak. Sedangkan bila lebih dari enam tahun, batang bambu cenderung besar dan tebal, sehingga sulit dibentuk menjadi angklung.

Kriteria semacam itu ternyata bukan kendala bagi Pak Wawan. Buat memastikan bambu yang akan ditebang sudah cukup umur atau belum, dia cukup mengetuk beberapa kali salah batang rumpun bambu pilihan. Jika suaranya terdengar nyaring, maka batang bambu itu siap ditebang.

Cara menebang bambu untuk angklung pun tak boleh sembarangan. Batang bambu dipotong dengan jarak dua jengkal dari akarnya. Selain untuk menumbuhkan bakal bambu lagi, cara ini dilakukan agar mendapatkan ruas yang sesuai untuk angklung.

Hanya, bambu yang telah ditebang tak serta-merta menjadi angklung. Ini barulah tahap awal. Bambu dengan ketinggian rata-rata tujuh hingga sepuluh meter itu harus dipotong dengan ukuran lebih kecil, yakni dua atau tiga meter.

Walaupun telah dipotong, batang-batang bambu tidak dapat langsung dibuat menjadi angklung. Batang-batang bambu itu harus melalui proses alam terlebih dahulu hingga menjadi kuat dan tahan terhadap rayap. Salah satu cara tradisionalnya adalah dengan mencelupkan bambu di sungai yang mengalir atau memasukan ke air berlumpur.

Pak Wawan pun berbagi tugas dengan rekan-rekannya. Ia meminta Agus, salah satu rekannya yang paling muda untuk membawa bambu ke sungai. Setelah berjalan sejauh satu kilometer, Agus pun sampai di sungai. Tanpa menunggu waktu lagi, ia langsung menenggelamkan batang-batang bambu. Agar tak terbawa arus sungai, batang-batang bambu ditahan dengan batu kali yang cukup besar.

Lain lagi yang dikerjakan Pak Wawan dan Udin. Dua lelaki ini membawa batangan bambu ke tempat berbeda. Kali ini bambu dibawa ke balong, sebuah kolam yang berisi lumpur padat. Tak berbeda dengan aliran sungai, balong pun berfungsi untuk memperkuat dan menghilangkan rayap di batang-batang bambu. Adapun proses perendaman berlangsung selama satu bulan lamanya. Waktu sebulan dianggap cukup untuk menghilangkan rayap bambu.

Setelah sebulan, Wawan dan sejumlah rekannya membawa potongan bambu itu ke Saung Angklung Udjo, sanggar sekaligus sentra pembuatan angklung yang didirikan almarhum Udjo Ngalagena atau Mang Udjo. Saung ini terletak di wilayah timur Kota Bandung, tepatnya di Jalan Padasuka Nomor 118. Mendiang Mang Udjo adalah seorang perajin sekaligus guru angklung buat ratusan bocah di sekitar tempat tinggalnya. Di sanalah mereka sering menggelar pentas musik angklung. Kini, pembuatan maupun pertunjukan musik angklung diteruskan anak-anaknya.

Di beberapa sudut Saung Angklung Udjo, sangat mudah ditemukan batangan bambu yang menjadi bahan dasar angklung. Bambu-bambu ini telah melalui proses perendaman. Namun sebelum dapat dibentuk menjadi angklung, batang-batang bambu harus diangin-anginkan di tempat yang teduh selama enam bulan lamanya.

Barulah setelah itu, bambu dianggap telah kering dan memiliki suara yang nyaring. Setelah dipilih bambu yang bagus, maka batangan bambu siap dipotong sesuai ukuran angklung yang akan dibuat. Bagi seorang perajin alat musik bambu, mengukur panjang sebuah angklung bukanlah sesuatu yang sulit. Setidaknya dibutuhkan lima orang untuk mengerjakan satu oktaf angklung. Pekerjaan paling sulit adalah menyelaraskan nada atau menyetem batangan angklung.

Tak semua orang dapat menyetem nada angklung. Hanya orang yang ahli dan tajam pendengarannya yang dapat menyesuaikan nada angklung menjadi nada diatonis. Salah satu ahlinya adalah Pak Rahmat. Pria separuh baya ini telah 30 tahun bergelut di dunia angklung. Dan, melalui keahliannya sebuah angklung memiliki nada yang berirama. Buat mengatur nada, Pak Rahmat dibantu dengan sebuah gending besi kuno. Tentunya, bila pendengaran sang ahli tidak bagus, tetap saja hasil angklungnya tak sesuai nada musik.

Dan, proses terakhir pembuatan angklung adalah memasukkannya ke dalam rangka. Setiap rangka biasanya berisi minimal satu oktaf atau delapan nada. Selanjutnya angklung pun siap dimainkan.

Awalnya, angklung adalah alat musik yang tidak memiliki nada suara. Angklung kuno tidak memiliki irama dan hanya berbunyi "gubrak". Lantaran itulah, dahulu kala, angklung yang tak memiliki nada disebut dengan angklung gubrak. Lain halnya dengan zaman sekarang. Angklung kini memiliki tangga nada diatonis yang berirama dan dapat dipadukan dengan alat musik modern. Semisal dengan biola, gitar, bahkan piano.

Angklung termasuk satu di antara alat musik tradisional yang mudah dimainkan dan tak mengenal batasan usia. Bahkan, baik orang dewasa maupun anak-anak dapat memainkan angklung hanya dalam hitungan menit. Seperti pada hari itu, puluhan anak mulai latihan angklung di Saung Angklung Udjo.

Saban petang, sanggar yang berciri bangunan tradisional etnis Sunda ini selalu menampilkan pertunjukan tradisional khas Tanah Pasundan. Biasanya, setelah latihan angklung, anak-anak bersiap-siap mementaskan sejumlah atraksi seni tradisional seperti tari umbul-umbul dan khitanan. Meski bernuansa tradisional, anak-anak yang seluruhnya masih duduk di bangku sekolah ini menyajikan pertunjukan musik angklung secara profesional.

Hampir di setiap pementasan di Saung Angklung Udjo, alat musik bambu itu selalu ditampilkan. Tapi seiring perkembangan zaman, penampilan angklung pun dikolaborasikan dengan alat musik tradisional lainnya seperti gendang, gending, bahkan gong. Perpaduan ini ternyata dapat menghasilkan alunan suara yang meriah dan asyik didengar.

Satu di antara penampilan yang paling ditunggu-tunggu para penonton adalah atraksi belajar angklung. Sang pengajar, tak lain adalah salah satu putra mendiang Mang Udjo, yakni Yayan Udjo. Para penonton yang sebagian besar adalah turis mancanegara ini sangat menikmati pelajaran angklung dari Pak Yayan.

Boleh dibilang, tak ada cara khusus untuk bermain angklung. Pemain biasanya hanya cukup memegang angklung di satu tangan. Sementara tangan lainnya menggoyangkan kerangka angklung. Hasilnya, dalam waktu singkat angklung pun mengeluarkan bunyi yang berirama. Terlebih, angklung adalah alat musik yang lebih bagus bila dimainkan secara bersama-sama. Semakin banyak pemainnya, maka kian bagus kualitas suara yang dihasilkan.

Tak butuh waktu lama bagi Pak Yayan untuk melatih. Dalam waktu sekejap, penonton pun dapat menyanyikan lagu Burung Kakak Tua. Dan, terdengarlah suatu alunan irama nan merdu. Tak kalah merdu ketimbang alat musik modern yang jauh lebih mahal harganya.(ANS/Lita Hariyani dan Bondan Wicaksono)


Sumber : www.liputan6.com.

SASANDO

diposkan pada tanggal 7 Apr 2010 21.10 oleh wing pandoe

Sasando. Tidak salah lagi, Pulau Rote-lah yang memiliki alat musik petik yang ruang resonansinya terbuat dari haik, bentuk setengah lingkaran yang dibuat dari daun lontar.  Tim Lintas Timur-Barat seharian menyisir pulau mencari pembuat dan pemain sasando. Hasilnya tidak begitu menggembirakan. Pemain dan pembuat sasando ternyata mulai langka.

Menyusuri Nusa Tenggara Timur serasa belum lengkap jika tidak menyambangi Pulau Rote Kabupaten Rote Ndao. Rote layak dikunjungi bukan semata karena pulau terluar Indonesia paling selatan, namun juga karena budayanya yang unik. Di pulau ini sasando adalah puncak pencapaian seni musik yang ditemukan sejak abad ke-15.

Hanokh Panie, warga Rote yang menjadi pemandu sukarela tanpa mau dibayar membawa tim kepada Yusuf Nggebu, pemain dan pembuat sasando ternama di pulau itu. Hampir semua orang Rote mengenal Yusuf Nggebu (82). Namun, kini pemilik nama besar itu tidak lagi aktif bermain karena usianya yang sudah lanjut.

Ketika dikunjungi, Nggebu masih bersemangat membahas nasib sasando yang saat ini hampir kolaps. Di mata Nggebu, sasando bukan sekadar alat musik tradisional, namun lebih dari itu, sasando telah menjadi identitas Rote.

Nggebu menceritakan hikayat asal-usul sasando yang penuh dengan ”warna”. Sasando berasal dari kata sari (petik) dan sando (bergetar) yang diyakini diciptakan Sanggu Ana pada abad ke-15 di pulau kecil dekat Pulau Rote, yaitu Pulau Dana, yang waktu itu dikuasai Raja Taka La’a. Sanggu adalah warga Nusa Ti’i di Pulau Rote Barat Daya. Dia ditahan Raja Dana saat terdampar di pulau itu ketika mencari ikan bersama kawannya, Mankoa. Selain seorang nelayan, Sanggu juga seorang seniman.

Saat itu Raja Dana memiliki putri. ”Tidak disebutkan siapa nama putri ini,” kata Nggebu.

Putri jatuh cinta kepada Sanggu. Kepada Sanggu, putri menyampaikan permintaannya untuk memiliki alat musik baru yang diciptakan Sanggu dan bisa menghibur rakyat. Putri memang suka membuat hiburan rakyat saat purnama tiba.

Sanggu kemudian menciptakan sari sando yang artinya bergetar saat dipetik. Saat itu dengan tujuh tali yang terbuat dari serat kulit kayu atau akar-akaran. Hubungan putri dengan Sanggu itu ketahuan Raja Dana. Sang Raja Taka La’a marah besar dan menghukum mati Sanggu.

Kawan Sanggu yang sempat melarikan diri, Mankoa, melaporkan kejadian itu ke Nusa Ti’i. Anak Sanggu di Ti’i, Nale Sanggu, marah mendengar ayahnya tewas. Nale balas dendam bersama 25 kesatria Ti’i. Seisi Pulau Dana dimusnahkan, hanya anak-anak dan alat musik sasando warisan ayahnya yang diselamatkan ke Ti’i.

Di Ti’i sasando dimodifikasi, talinya menjadi sembilan. ”Musiknya sudah bisa lima not terdiri dari mi, sol, la, do, re. Si dan fa tidak ada,” jelas Nggebu.

Pada zaman Belanda, abad ke-18, jumlah tali ditambah menjadi 10 tali. Sesudah merdeka kembali mengalami perubahan dengan menambahkan tali menjadi 11 tali. Pada abad ke-19, sasando sasando haik itu dimodifikasi menjadi sasando biola oleh putra Ti’i bernama Kornelis Frans. Disebut sasando biola karena saat membuat nadanya disesuaikan nada biola.

Jumlah tali menjadi 39 buah dan nada pokok menjadi tujuh not. Cara mamainkan sasando adalah dengan cara dipetik. Kepada Tim Lintas Timur-Barat, Nggebu menunjukkan sasando biola miliknya yang sudah dimodifikasi. Ruang resonansinya tak lagi menggunakan haik, namun diganti kotak kayu dan dihubungkan amplifier agar suaranya nyaring.

bahkan sekarang pulau ini, warga pulau Rote dan kerajaan-kerajaannya terbagi-bagi, mengikuti tradisi kuno menjadi 2 daerah kekuasaan. Yaitu “Sunrise” dan “Sunset”. Daerah kekuasaan dikuasai/ dikendalikan oleh seorang raja, seorang ratu dan beberapa penasihat, mewakili suku-suku dalam daerah kekuasaan itu. Tiap suku yang mempunyai perayaan, memiliki ritual saat melakukan perayaan tahunan, sebuah festival tradisional menyambut tahun baru. Di perayaan tersebut, warga laki-laki pulau Rote memakai topi unik tuk persembahan kepada leluhur suku dan warga perempuannya menari diiringi sasando, giter pulau Rote.

 

Sumber : www.kompas.co.id,

www.nusa-tenggara.com

Gamelan, musik orkestra ritmik

diposkan pada tanggal 7 Apr 2010 20.12 oleh wing pandoe   [ diperbarui7 Apr 2010 20.15 ]

Intro.

Gamelan adalah sebuah musik orkestra perkusi yang mungkin lebih mengarah kepada musik yang berkembang di pulau Jawa dan Bali. Gamelan digunakan untuk mengiringi pertunjukan wayang atau tarian. Kata “gamelan” berasal dari bahasa jawa “gamel” yang berarti alat musik atau alat yang dipukul dan “gangsa” yaitu sejenis logam campuran tembaga dan rejasa atau timah. Di Jawa khususnya, musik daerah ini disebut karawitan yang punya arti kehalusan yang diwujudkan dalam seni gamelan. Ada beberapa seni yang erat hubungannya dengan karawitan antara lain:

Seni suara, seni secara vokal pada gamelan diantaranya sinden, bawa, gerong, sendon dan celuk.

Seni pedalangan, ada bermacam-macam diantaranya wayang purwa, wayang klithik, wayang gedog,wayang golek, wayang beber, wayang suluh(wayang perjuangan) dan wayang wahyu (tentang perjanjian lama/baru).

Seni tari, ada bermacam-macam diantaranya ada yang bermakna yaitu tari Srimpi, Bedayan, Golek,Wireng (Yogya), Pethilan ( dari Solo artinya tari yang diambil sebagian saja)


Seperangkat gamelan terdiri dari bermacam-macam alat musik. Seperangkat kecil biasanya terdiri dari tiga belas alat musik, sedangkan yang besar biasanya terdiri dari empat belas sampai dua puluh satu. Berikut ini adalah nama-nama gamelan standar :

1. Rebab (bentuknya seperti biola bertali dua)

2. Gender barung (besar)

3. Gender penerus (kecil)

4. Gambang (terbuat dari kayu)

5. Suling

6. Siter

7. Clempung (di Sunda disebut kecapi)

8. Kendang (terdiri dari kendang besar, ciblon dan ketipung)

9. Bonang barung

10. Bonang penerus (kecil)

11. Slenthem (kecil)

12. Demung (besar seperti slenthem)

13. Saron barung (ada 2 besar)

14. Saron penerus/peking (kecil)

15. Kenong (besar)

16. Kethuk (seperti kenong tetapi kecil)

17. Japan (seperti kenong tetapi lebih besar)

18. Kempyang (seperti kethuk dan ada 2)

19. Kempul

20. Gong ageng

21. Gong suwukan

Gamelan non standar:

1. Kemanak, bentuknya seperti pisang /kentongan

2. Kecer

3. Terbang, khusus dipakai dalam gamelan Larasmaya

4. Bedug

Jenis Gamelan:

Gamelan Klenengan (daerah Klaten dan Solo) Uyon-uyon (daaerah Jogjakarta), terdiri dari instrumen, penyanyi/waranggana, gerong tetapi tidak ada tarian.

Gamelan untuk gending Bonang (Solo) atau gending Soran (Jogjakarta), untuk jenis gamelan ini hanya ada beberapa instrumen yang tidak dimainkan seperti rebab.

Gamelan Sekaten, jenis gamelan ini lebih besar daripada gending Soran dan dimainkan pada waktu penutupan sekaten.

Gamelan Perang, dipakai oleh para prajurit Kraton, adapun instrumen yan dipakai adalah: kendang, gong, gubar, gurnan/gurni, bahri/beri, tambur, suling, puksur, tong-tong, maguru gangsa.

Gamelan yang merupakan warisan nenek moyang ini sangat indah dan tidak kalah dengan perangkat musik lainnya. Sayang kalau ditinggalkan atau dilupakan begitu saja. . Karena itu mudah-mudahan hati kita sekalian tergerak untuk mengenal dan belajar memainkannya. Bagaimana?, tertarik?. Jawabannya ada di benak kita masing-masing…..mangga (bahasa Jawa) yang berarti silakan…mencoba.

Kehidupan Keraton akan tidak terbayangkan tanpa adanya Gamelan. Gamelan adalah alat musik tradisional Jawa, yang berbeda dengan musik yang lain. Tangga nada yang digunakan adalah 5-nada Slendro atau 7-nada Pelog. Dalam suatu Gamelan alat musiknya dapat berjumlah 70 alat musik atau lebih. Kebanyakan adalah musik pukul atau perkusi.

Koleksi Gamelan yang dimiliki oleh Keraton Yogyakarta meliputi berbagai jenis, seperti Gamelan Sekati (Kyai Gunturmadu-Nagawilaga), Gamelan Monggang (Kyai Kebonganggang), Gamelan Slendro-Pelog (Kyai Siratmadu-Madukentir, Kyai Surak-Kancilbelik, Kyai Harjamulya-Harjanegara), dan lain-lain, kesemuanya berjumlah 18 perangkat (pangkon), tersebar di beberapa tempat, Bangsal Srimanganti, Gedhong Gangsa, dan Pracimasana.


GAMELAN BALI.

 

Sejarah Gamelan (Musik Bali)

Musik Gamelan merupakan gabungan pengaruh seni luar negeri yang beraneka ragam. Kaitan not nada dari Cina, instrumen musik dari Asia Tenggara, drum band dan gerakkan musik dari India, bowed string dari daerah Timur Tengah, bahkan style militer Eropa yang kita dengar pada musik tradisional Jawa dan Bali sekarang ini.

Tinjauan Musik Bali

Interaksi komponen yang sarat dengan melodi, irama dan warna suara mempertahankan kejayaan musik orkes Gamelan Bali. Pilar-pilar musik ini menyatukan berbagai karakter komunitas pedesaan Bali yang menjadi tatanan musik khas yang merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Jenis Gamelan Bali :

Gamelan Gong Kebyar

Gamelan Gong Kebyar telah menjadi wadah utama dalam membahas berbagai instrumen musik dan berbagai masalah teknis karena orkes inilah yang paling sering digunakan dalam berbagai pertunjukkan untuk para turis, dan merupakan jenis gamelan yang paling ingin diketahui oleh komunitas Bali.

Gamelan Angklung

Pada festival-festival Pura, keriangan melodi 4-nada gamelan angklung dimainkan dengan alunan kontras dan sakral dengan komposisi lelambatan yang seringkali terdengar dimainkan terus menerus.

Gender Wayang

Banyak wisatawan datang ke Bali yang pada awalnya mendengarkan musik Bali dimainkan dengan gender wayang secara berpasangan atau kuartet, yang diletakkan dibagian sisi lobi hotel. Dimainkan dengan suara background pengiring merupakan ciri khas gamelan elit ini. Tetapi para pemainnya, setelah beberapa generasi, melampiaskan emosi mereka dengan tatanan teknis tinggi dan paling kompleks dari seluruh musik Bali.

Gamelan Jegog

Komoditas bambu di Bali bagian barat mencapai kuantitas yang begitu besar dan ini tidak terdapat dibagian lain dari daerah ini. Sumber daya alam ini dimanfaatkan oleh para musisi lokal dengan menciptakan gamelan jegog, maka merekapun menamakan kelompok musisi ini jegogan.

Struktur Musik Gamelan Bali.

Kotekan

Salah satu elemen yang menonjol dari musik gamelan Bali – khususnya orkes gong kebyar – adalah kotekan, irama interlocking cepat yang memungkinkan hampir semua komposisi kebyar. Kotekan menciptakan suara yang unik: satu kelompok gangsa (bronze metallophones) yang dipukul dengan stik kayu menghasilkan nuansa suara dengan nada yang lebih tinggi dari instrumen lain; reong, serangkaian gong-gong kecil yang dimainkan oleh empat musisi, menghasilkan nada tinggi tapi lembut (kompleks) dan warna suara khusus, dan instrumen-instrumen ini dituntun oleh sepasang drumer yang memainkan figurasi interlocking yang berbeda.

Kotekan Telu

Sementara dua jenis kotekan yang diterangkan diatas menggunakan teknik yang relatif sederhana untuk membagi sebuah figurasi – yaitu dengan mengisi kekosongan antar ketukan (nyong cag) atau mengalihkan sebuah nada dan nada tinggi setelah nada tersebut (nyok cok) – kotekan telu memungkinkan kombinasi yang lebih beragam, baik dalam irama ataupun melodi. Disini, secara literal, teknik aplikasi nada antara sangsih dan polo menjadi sangat penting.

Kotekan Empat

Dalam kotekan empat, para musisi akan lebih mampu melakukan penggabungan bagian polo dan sangsih menjadi figurasi kompleks. Disini, jarak figurasi adalah empat nada, dimana polo biasanya memainkan dua nada rendah dan sangsih memainkan dua nada tinggi.

Struktur Kotekan

Dalam pembahasan berikut ini tentang teknik-teknik khusus yang digunakan dalam kotekan, prinsip eloborasi melodi yang digambarkan diatas perlu diingat. Hal ini dimaksudkan agar hubungan figurasi melodi jelas, melodi tersebut selalu tampil bersama, dengan melodi pokok dinotasikan dibawah kotekan.

 

1-5 of 5