K.H.A.S.A.N.A.H.‎ > ‎

Tulisan Terbaru

Berbagai tulisan yang ada dalam Halaman ini, bisa berupa tulisan pribadi penulis atau berupa saduran dari beberapa tulisan yang ada di dunia maya.

Kecak , sebuah ritualisme Bali

diposkan pada tanggal 13 Apr 2010 21.55 oleh wing pandoe   [ diperbarui13 Apr 2010 22.14 ]

Kecak
(pronounced: "KEH-chahk", alternate spellings: Ketjak and Ketjack), a form of Balinese music drama, originated in the 1930s and is performed primarily by men. Also known as the Ramayana Monkey Chant, the piece, performed by a circle of 100 or more performers wearing checked cloth around their waists, percussively chanting "cak", and throwing up their arms, depicts a battle from the Ramayana where monkeys help Prince Rama fight the evil King Rvana. However, Kecak has roots in sanghjang a trance inducing exorcism dance.

In the 1930's Wayan Limbak worked with German painter Walter Spies to create the Kecak from movements and themes in the traditional sanghjang exorcism ritual and the portions of the Ramayana. This collaboration between artists worked to create a dance that was both authentic to Balinese traditions but also palatable to Western tourist's narrow tastes at the time. Wayan Limbak popularized the dance by traveling throughout the world with Balinese performance groups. These travels have helped to make the Kecak famous throughout the world.

Video of a Kecak performance is prominently featured in the 1992 film Baraka. Several audio recordings are commercially available.

Kecak (diucapkan: "Keh-chahk", ejaan alternatif: Ketjak dan Ketjack), suatu bentuk drama musik Bali, berasal dari tahun 1930-an dan terutama dilakukan oleh laki-laki.
Juga dikenal sebagai Ramayana Monkey Chant, lembaran, dilakukan oleh 100 atau lebih yang melingkar, penampil mengenakan kain khusus sekitar pinggang mereka, secara rythm perkusi meneriakkan "cak", dan menggerakkan lengan mereka, menggambarkan pertempuran dari Ramayana di mana monyet membantu Pangeran Rama melawan Raja Rahwana jahat. Namun demikian, Kecak memiliki akar dalam sanghjang, mendorong lahirnya tari eksorsisme.

Pada tahun 1930-an Wayan Limbak bekerja sama dengan pelukis Jerman Walter Spies menciptakan Kecak dari gerakan dan tema dalam ritual eksorsisme sanghjang tradisional dan bagian-bagian dari Ramayana. Ini kolaborasi para seniman bekerja untuk menciptakan sebuah tari yang otentik untuk tari tradisi Bali, tetapi juga cocok untuk konsumsi wisata Barat pada waktu itu. Wayan Limbak mempopulerkan tari dengan bepergian di seluruh dunia dengan kelompok-kelompok kinerja Bali. Perjalanan ini telah membantu untuk membuat Kecak yang terkenal di seluruh dunia.

Video dari kinerja Kecak secara jelas ditampilkan dalam film Baraka 1992. Beberapa rekaman audio tersedia secara komersial.

Wayang Kulit, Mahakarya Seni Pertunjukan Jawa

diposkan pada tanggal 13 Apr 2010 21.26 oleh wing pandoe

Budaya Jawa yang sangat lekat dengan Wayang.

Jogja (beberapa orang menyebutnya Yogyakarta, Jogjakarta, atau Yogya) adalah kota yang terkenal akan sejarah dan warisan budayanya. Jogja merupakan pusat kerajaan Mataram (1575-1640), dan sampai sekarang masih berdiri Kraton (Istana) yang masih berfungsi dalam arti yang sesungguhnya. Jogja dan daerah sekitarnya memiliki banyak candi berusia ribuan tahun yang merupakan peninggalan kerajaan-kerajaan besar jaman dahulu, di antaranya yang cukup dikenal adalah Candi Borobudur yang dibangun pada abad ke-9 oleh dinasti Syailendra, dan Candi Prambanan.

Selain warisan budaya, Jogja memiliki panorama alam yang indah. Hamparan sawah nan hijau menyelimuti daerah pinggiran dengan Gunung Merapi tampak sebagai latar belakangnya. Pantai-pantai yang masih alami dengan mudah ditemukan di sebelah selatan Jogja.

Masyarakat Jogja hidup damai dan dikenal memiliki keramahan. Jogja adalah salah satu tujuan wisata mancanegara. Di seputar kota masih banyak ditemui sepeda, becak, ataupun andong; Anda akan menemukan senyum yang tulus dan sapaan yang hangat di setiap sudut kota.

Atmosfir seni begitu terasa di Jogja. Malioboro, yang merupakan urat nadi Jogja, dibanjiri barang kerajinan dari segenap penjuru. Musisi jalanan pun selalu siap menghibur pengunjung warung-warung lesehan. Kota Jogja tidak salah jika disebut sebagai kota budaya.

Banyak orang yang pernah berkunjung ke Jogja mengatakan bahwa kota ini selalu bikin kangen. Malam di Yogyakarta akan terasa hidup jika anda melewatkannya dengan melihat wayang kulit. Irama gamelan yang rancak berpadu dengan suara merdu para sinden takkan membiarkan anda jatuh dalam kantuk. Cerita yang dibawakan sang dalang akan membawa anda larut seolah ikut masuk menjadi salah satu tokoh dalam kisah yang dibawakan. Anda pun dengan segera akan menyadari betapa agungnya budaya Jawa di masa lalu.

Wayang Kulit

Wayang kulit adalah seni pertunjukan yang telah berusia lebih dari setengah milenium. Kemunculannya memiliki cerita tersendiri, terkait dengan masuknya Islam Jawa. Salah satu anggota Wali Songo menciptakannya dengan mengadopsi Wayang Beber yang berkembang pada masa kejayaan Hindu-Budha. Adopsi itu dilakukan karena wayang terlanjur lekat dengan orang Jawa sehingga menjadi media yang tepat untuk dakwah menyebarkan Islam, sementara agama Islam melarang bentuk seni rupa. Alhasil, diciptakan wayang kulit dimana orang hanya bisa melihat bayangan.

Pagelaran wayang kulit dimainkan oleh seorang yang kiranya bisa disebut penghibur publik terhebat di dunia. Bagaimana tidak, selama semalam suntuk, sang dalang memainkan seluruh karakter aktor wayang kulit yang merupakan orang-orangan berbahan kulit kerbau dengan dihias motif hasil kerajinan tatah sungging (ukir kulit). Ia harus mengubah karakter suara, berganti intonasi, mengeluarkan guyonan dan bahkan menyanyi. Untuk menghidupkan suasana, dalang dibantu oleh musisi yang memainkan gamelan dan para sinden yang menyanyikan lagu-lagu Jawa.

Tokoh-tokoh dalam wayang keseluruhannya berjumlah ratusan. Orang-orangan yang sedang tak dimainkan diletakkan dalam batang pisang yang ada di dekat sang dalang. Saat dimainkan, orang-orangan akan tampak sebagai bayangan di layar putih yang ada di depan sang dalang. Bayangan itu bisa tercipta karena setiap pertunjukan wayang memakai lampu minyak sebagai pencahayaan yang membantu pemantulan orang-orangan yang sedang dimainkan.

Setiap pagelaran wayang menghadirkan kisah atau lakon yang berbeda. Ragam lakon terbagi menjadi 4 kategori yaitu lakon pakem, lakon carangan, lakon gubahan dan lakon karangan. Lakon pakem memiliki cerita yang seluruhnya bersumber pada perpustakaan wayang sedangkan pada lakon carangan hanya garis besarnya saja yang bersumber pada perpustakaan wayang. Lakon gubahan tidak bersumber pada cerita pewayangan tetapi memakai tempat-tempat yang sesuai pada perpustakaan wayang, sedangkan lakon karangan sepenuhnya bersifat lepas.

Cerita wayang bersumber pada beberapa kitab tua misalnya Ramayana, Mahabharata, Pustaka Raja Purwa dan Purwakanda. Kini, juga terdapat buku-buku yang memuat lakon gubahan dan karangan yang selama ratusan tahun telah disukai masyarakat Abimanyu kerem, Doraweca, Suryatmaja Maling dan sebagainya. Diantara semua kitab tua yang dipakai, Kitab Purwakanda adalah yang paling sering digunakan oleh dalang-dalang dari Kraton Yogyakarta. Pagelaran wayang kulit dimulai ketika sang dalang telah mengeluarkan gunungan. Sebuah pagelaran wayang semalam suntuk gaya Yogyakarta dibagi dalam 3 babak yang memiliki 7 jejeran (adegan) dan 7 adegan perang. Babak pertama, disebut pathet lasem, memiliki 3 jejeran dan 2 adegan perang yang diiringi gending-gending pathet lasem. Pathet Sanga yang menjadi babak kedua memiliki 2 jejeran dan 2 adegan perang, sementara Pathet Manyura yang menjadi babak ketiga mempunyai 2 jejeran dan 3 adegan perang. Salah satu bagian yang paling dinanti banyak orang pada setiap pagelaran wayang adalah gara-gara yang menyajikan guyonan-guyonan khas Jawa.

Pertunjukan wayang kulit telah diakui oleh UNESCO pada tanggal 7 November 2003, sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan berharga ( Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity ). Jika Wayang kulit lebih populer di Jawa bagian tengah dan timur, di Jawa Barat wayang golek lah yang lebih sering dimainkan.

Media dan Peralatan Pementasan Wayang Kulit.

Wayang kulit adalah seni tradisional Indonesia, yang terutama berkembang di Jawa dan di sebelah timur semenanjung Malaysia seperti di Kelantan dan Terengganu. Wayang kulit dimainkan oleh seorang dalang yang juga menjadi narator dialog tokoh-tokoh wayang, dengan diiringi oleh musik gamelan yang dimainkan sekelompok nayaga dan tembang yang dinyanyikan oleh para pesinden. Dalang memainkan wayang kulit di balik kelir, yaitu layar yang terbuat dari kain putih, sementara di belakangnya disorotkan lampu listrik atau lampu minyak (blencong), sehingga para penonton yang berada di sisi lain dari layar dapat melihat bayangan wayang yang jatuh ke kelir. Untuk dapat memahami cerita wayang(lakon), penonton harus memiliki pengetahuan akan tokoh-tokoh wayang yang bayangannya tampil di layar.

Secara umum wayang mengambil cerita dari naskah Mahabharata dan Ramayana, tetapi tak dibatasi hanya dengan pakem (standard) tersebut, ki dalang bisa juga memainkan lakon carangan (gubahan). Beberapa cerita diambil dari cerita Panji.

Para Dalang di balik Pertunjukan Wayang.

Dalang-dalang wayang kulit yang mencapai puncak kejayaan dan melegenda antara lain almarhum Ki Narto Sabdo (Semarang), almarhum Ki Surono (Banjarnegara), almarhum Ki Hadi Sugito (Kulonprogo, Jogjakarta), Ki Anom Suroto, Ki Mantep Sudarsono, Ki Enthus Susmono. Sedangkan Pesinden yang legendaris adalah almarhumah Nyi Tjondrolukito.

Pertunjukan Wayang di masa Sekarang.

Salah satu tempat di Yogyakarta dimana anda bisa melihat pertunjukan gamelan adalah Kraton Yogyakarta. Pada hari Kamis pukul 10.00 - 12.00 WIB digelar gamelan sebagai sebuah pertunjukan musik tersendiri. Hari Sabtu pada waktu yang sama digelar musik gamelan sebagai pengiring wayang kulit, sementara hari Minggu pada waktu yang sama digelar musik gamelan sebagai pengiring tari tradisional Jawa. Untuk melihat pertunjukannya, anda bisa menuju Bangsal Sri Maganti. Sementara untuk melihat perangkat gamelan tua, anda bisa menuju bangsal kraton lain yang terletak lebih ke belakang.

 

Isi tulisan disadur dari YogYES.COM


Filosofi Topeng Cirebon

diposkan pada tanggal 11 Apr 2010 04.29 oleh wing pandoe   [ diperbarui11 Apr 2010 05.09 ]

Oleh Prof. Drs. JAKOB SUMARDJO

 

SUDAH lama tari Topeng Cirebon mengundang tanda Tanya akibat daya pesonanya yang tinggi, tidak saja di Indonesia tetapi juga di luar negeri. Tari Panji, yang merupakan tarian pertama dalam rangkaian Topeng Cirebon, adalah sebuah misterium. Sampai sekarang belum ada koreografer Indonesia yang mampu menciptakan tarian serupa untuk menandinginya. Tarian Panji seolah-olah "tidak menari". Justru karena tariannya tidak spektakuler, maka ia merupakan sejatinya tarian, yakni perpaduan antara hakiki gerak dan hakiki diam.

Bagi mereka yang kurang peka dalam pengalaman seni, tarian ini akan membosankan. Tarian kok tidak banyak gerak? Bukankah hakikat tari itu memang gerak (tubuh)?

Inilah teka-teki Tarian Panji dalam Topeng Cirebon. Bagaimana penduduk desa mampu menciptakan tarian semacam itu? Penduduk desa yang tersebar di sekitar Cirebon hanyalah pewaris dan bukan penciptanya. Penduduk desa ini adalah juga penerus dari para penari Keraton Cirebon yang dahulu memeliharanya. Ketika Raja-raja Cirebon diberi status "pegawai" oleh Gubernur Jenderal Daendels, dan tidak diperkenankan memerintah secara otonom lagi, maka sumber dana untuk memelihara semua kesenian Keraton tidak dimungkinkan lagi. Para abdi dalem Keraton terpaksa dibatasi sampai yang amat diperlukan sesuai dengan "gaji" yang diterima Raja dari Pemerintah Hindia Belanda.

Begitulah penari-penari dan penabuh gamelan Keraton harus mencari sumber hidupnya di rakyat pedesaan. Topeng Cirebon yang semula berpusat di Keraton-keraton, kini tersebar di lingkungan rakyat petani pedesaan. Dan seperti umumnya kesenian rakyat, maka Topeng Cirebon juga dengan cepat mengalami transformasi-transformasi. Proses transformasi itu berakhir dengan keadaannya yang sekarang, yakni berkembangnya berbagai "gaya" Topeng Cirebon, seperti Losari, Selangit, Kreo, Palimanan dan lain-lain.

Untuk merekonstruksi kembali Topeng Cirebon yang baku, diperlukan studi perbandingan seni. Berbagai gaya Topeng Cirebon tadi harus diperbandingkan satu sama lain sehingga tercapai pola dan strukturnya yang mendasarinya. Dengan metode demikian, maka akan kita peroleh bentuk yang mendekati "aslinya". Namun metode ini tak dapat dilakukan tanpa berbekal dasar filosofi tariannya.

Dari mana filsafat tari Topeng Cirebon itu dapat dipastikan? Tentu saja dari serpihan-serpihan tarian yang sekarang ada dan dipadukan dengan konteks budaya munculnya tarian tersebut. Konteks budaya Topeng Cirebon tentu tidak dapat dikembalikan pada budaya Cirebon sendiri yang sekarang. Untuk itu diperlukan penelusuran historis terhadapnya.

Siapakah Empu pencipta tarian ini? Sampai kiamat pun kita tak akan mengetahuinya, lantaran masyarakat Indonesia lama tidak akrab dengan budaya tulis.Meskipun budaya tulis dikenal di Keraton-keraton Indonesia, tetapi tidak terdapat kebiasaan mencatat pencipta-pencipta kesenian, kecuali dalam beberapa karya sastranya saja.

Di zaman mana?

Kalau pencipta tidak dikenal, sekurang-kurangnya di zaman mana Topeng Cirebon ini telah ada? Kepastian tentang ini tidak ada. Namun ada dugaan bahwa di zaman Raja Majapahit, Hayam Wuruk, tarian ini sudah dikenal. Dalam Negarakertagama dan Pararaton dikisahkan raja ini menari topeng (kedok) yang terbuat dari emas. Hayam Wuruk menarikan topeng emas (atapel, anapuk) di lingkungan kaum perempuan istana Majapahit. Jadi Tari topeng Cirebon ini semula hanya ditarikan para raja dengan penonton perempuan (istri-istri raja, adik-adik perempuan raja, ipar-ipar perempuan raja, ibu mertua raja, ibunda raja).

Dengan demikian dapat diduga bahwa Topeng Cirebon ini sudah populer di zaman Majapahit antara tahun 1300 sampai 1400 tarikh Masehi. Mencari dasar filosofi tarian ini harus dikembalikan pada sistem kepercayaan Hindu-Budha-Jawa zaman Majapahit. Tetapi mengapa sampai di Keraton Cirebon? Setelah jatuhnya kerajaan Majapahit (1525), tarian ini rupanya dihidupkan oleh Sultan-sultan Demak yang mungkin mengagumi tarian ini atau memang dibutuhkan dalam kerangka konsep kekuasaan yang tetap spiritual. Dalam babad dikisahkan bahwa Raden Patah menari Klana di kaki Gunung Lawu di hadapan Raja Majapahit, Brawijaya. Ini justru membuktikan bahwa Topeng Cirebon erat hubungannya dengan konsep kekuasaan Jawa. Bahwa hanya Raja yang berkuasa dapat menarikan topeng ini, ditunjukkan oleh babad, yang berarti kekuasaan atas Jawa telah beralih kepada Raden Patah, dan Raja Majapahit hanya sebagai penonton.

Dari Demak tarian ini terbawa bersama penyebaran pengaruh politik Demak. Demak yang pesisir ini memperluas pengaruh kekuasaan dan Islamisasinya di seluruh daerah pesisir Jawa, yang ke arah barat sampai di Keraton Cirebon dan Keraton Banten. Inilah sebabnya berita-berita Belanda menyebutkan keberadaan tarian in di Istana Banten. Banten dan Cirebon, sedikit banyak membawa kebudayaan Jawa-Demak, terbukti dari penggunaan bahasa Jawa lamanya. Sedangkan Demak sendiri dilanjutkan oleh Pajang yang berada di pedalaman, kemudian digantikan oleh Mataram yang juga di pedalaman.

Topeng Majapahit ini, dengan demikian, hanya hidup di daerah pesisir Jawa Barat, sedangkan di Jawa pedalaman topeng tidak hidup kecuali bentuk dramatik lakon Panjinya. Kalau topeng tetap hidup dalam fungsi ritualnya, tentunya juga berkembang di kerajaan-kerajaan Islam Jawa pedalaman. Rupanya topeng dipelihara di Jawa Barat karena pesona seninya. Topeng sangat puitik dan kurang mengacu pada mitologi Panji yang hinduistik. Topeng lebih dilihat sebagai simbol yang mengacu pada realitas transenden. Inilah sebabnya sultan-sultan di Jawa Barat yang kuat Islamnya masih memelihara kesenian ini.

Topeng Cirebon adalah simbol penciptaan semesta yang berdasarkan sistem kepercayaan Indonesia purba dan Hindu-Budha-Majapahit. Paham kepercayaan asli, di mana pun di Indonesia, dalam hal penciptaan, adalah emanasi. Paham emanasi ini diperkaya dengan kepercayaan Hindu dan Budha. Paham emanasi tidak membedakan Pencipta dan ciptaan, karena ciptaan adalah bagian atau pancaran dari Sang Hyang Tunggal.

Siapakah Sang Hyang Tunggal itu? Dia adalah ketidak-berbedaan. Dalam diriNya adalah ketunggalan mutlak. Sedangkan semesta ini adalah keberbedaan. Semesta itu suatu aneka, keberagaman. Dan keanekan itu terdiri dari pasangan sifat-sifat yang saling bertentangan tetapi saling melengkapi. Pemahaman ini umum di seluruh Indonesia purba, bahkan di Asia Tenggara dan Pasifik. Dan filsuf-filsuf Yunani pra-Sokrates, filsuf-filsuf alam, juga mengenal pemahaman ini. Boleh dikatakan, pandangan bahwa segala sesuatu ini terdiri dari pasangan kembar yang saling bertentangan tetapi merupakan pasangan, adalah universal manusia purba.

Mengandung semua sifat ciptaan Sang Hyang Tunggal Indonesia purba ini mengandung semua sifat ciptaan. Karena semua sifat yang dikenal manusia itu saling bertentangan, maka dalam diri Sang Hyang Tunggal semua pasangan oposisi kembar tadi hadir dalam keseimbangan yang sempurna. Sifat-sifat positif melebur jadi satu dengan sifat-sifat negatif. Akibatnya semua sifat-sifat yang dikenal manusia berada secara seimbang dalam diriNya sehingga Sifat itu tidak dikenal manusia alias Kosong mutlak.

Paradoksnya justru Kosong itu Kepenuhan sejati karena Dia mengandung semua sifat yang ada. Kosong itu Penuh, Penuh itu Kosong, itulah Sang Hyang Tunggal itu. Di dalamNya tiak ada perbedaan, tunggal mutlak. Di Cina purba, Sang Hyang Tunggal ini disebut Tao.

Topeng Cirebon menyimbolkan bagaimana asal mula Sang Hyang Tugngal ini memecahkan diriNya dalam pasangan-pasangan kembar saling bertentangan itu, seperti terang dan gelap, lelaki dan perempuan, daratan dan laut. Dalam tarian ini digambarkan lewat tari Panji, yakni tarian yang pertama. Tarian Panji ini merupakan masterpiece rangkaian lima tarian topeng Cirebon. Tarian Panji justru merupakan klimaks pertunjukan. Itulah peristiwa transformasi Sang Hyang Tunggal menjadi semesta. Dari yang tunggal belah menjadi yang aneka dalam pasangan-pasangan.

Inilah sebabnya kedok Panji tak dapat kita kenali secara pasti apakah itu perwujudan lelaki atau perempuan. Apakah gerak-geriknya lelaki atau perempuan. Kedoknya sama sekali putih bersih tanpa hiasan, itulah Kosong. Gerak-gerak tariannya amat minim, namun iringan gamelannya gemuruh. Itulah wujud paradoks antara gerak dan diam. Tarian Panji sepenuhnya sebuah paradoks. Inilah kegeniusan para empu purba itu, bagaimana menghadirkan Hyang Tunggal dalam transformasinya menjadi aneka, dari ketidakberbedaan menjadi perbedaan-perbedaan. Itulah puncak topeng Cirebon, yang lain hanyalah terjemahan dari proses pembedaan itu.

Empat tarian sisanya adalah perwujudan emanasi dari Hyang Tunggal tadi. Sang Hyang Tunggal membagi diriNya ke dalam dua pasangan yang saling bertentangan, yakni "Pamindo-Rumyang", dan "Patih-Klana". Inilah sebabnya kedok "Pamindo-Rumyang" berwarna cerah, sedangkan "Patih-Klana" berwarna gelap (merah tua).

Gerak tari "Pamindo-Rumyang" halus keperempuan-perempuanan, sedangkan Patih-Klana gagah kelaki-lakian. Pamindo-Rumyang menggambarkan pihak "dalam" (istri dan adik ipar Panji) dan Patih-Klana menggambarkan pihak "luar". Terang dapat berarti siang, gelap dapat berarti malam. Matahari dan bulan. Tetapi harus diingat bahwa semuanya itu adalah Panji sendiri, yang membelah dirinya menjadi dua pasangan saling bertentangan sifat-sifatnya. Inilah sebabnya keempat tarian setelah Panji mengandung unsur-unsur tarian Panji. Untuk hal ini orang-orang tari tentu lebih fasih menjelaskannya .

Topeng Panji menyimbolkan peristiwa besar universal, yakni terciptanya alam semesta beserta manusia ini pada awal mulanya. Topeng Panjing atau topeng Cirebon ini mengulangi peristiwa primordial umat manusia, bagaimana "penciptaan" terjadi. Tidak mengherankan kalau di zaman dahulu hanya ditarikan oleh para raja. Raja mewakili kehadiran Sang Hyang Tunggal itu sendiri, karena dalam paham kekuasaan Jawa, Raja adalah Dewa itu sendiri, yang dikenal dengan paham dewa-Raja.

Topeng Cirebon adalah gambaran sangat puitik tentang hadirnya alam semesta serta umat manusia. Sang Hyang Tunggal yang merupakan ketunggalan mutlak tanpa pembedaan, berubah menjadi keanekaan relatif yang sangat berbeda-beda sifatnya. Tari Panji adalah tarian Sang Hyang Tunggal itu sendiri, dan tarian-tarian lainnya yang empat adalah perwujudan dari emanasi diriNya menjadi pasangan-pasangan sifat yang saling bertentangan.

Topeng Cirebon adalah tarian ritual yang amat sakral. Tarian ini sama sekali bukan tontonan hiburan. Itulah sebabnya dalam kitab-kitab lama disebutkan, bahwa raja menarikan Panji dalam ruang terbatas yang disaksikan saudara-saudara perempuannya. Untuk menarikan topeng ini diperlukan laku puasa, pantang, semedi, yang sampai sekarang ini masih dipatuhi oleh para dalang topeng di daerah Cirebon.

Tarian juga harus didahului oleh persediaan sajian. Dan sajian itu bukan persembahan makanan untuk Sang Hyang Tunggal. Sajian adalah lambang-lambang dualisme dan pengesaan. Inilah sebabnya dalam sajian sering dijumpai bedak, sisir, cermin yang merupakan lambang perempuan, didampingi oleh cerutu atau rokok sebagai lambang lelaki. Bubur merah lambang dunia manusia, bubur putih lambang Dunia Atas. Cowek batu yang kasar sebagai lambang lelaki, dan uleg dari kayu yang halus sebagai lambang perempuan. Pisang lambang lelaki, buah jambu lambang perempuan. Air kopi lambang Dunia Bawah, air putih lambang Dunia Atas, air teh lambang Dunia Tengah. Sesajian adalah lambang keanekaan yang ditunggalkan.***

contoh lain dari tari topeng adalah tari Srimpi Topeng, Topeng Panji Kembar, Topeng Klaten, dan Topeng Jawa Timuran. Dua tari pertama adalah jenis tarian yang termasuk dalam wilayah tarian keraton sementara dua tari terakhir cenderung lebih dekat ke wilayah tarian rakyat.

Simponi Musik Jawa Bercita Rasa Keselarasan Hidup

diposkan pada tanggal 7 Apr 2010 20.18 oleh wing pandoe   [ diperbarui7 Apr 2010 20.25 ]


Untuk menata segala kehidupan menjadi selaras dalam kehidupan duniawi dan rohani/batin adalah pandangan hidup dan kesehari-harian masyarakat jawa pada umumnya, misalnya cara berbusana yang serasi (tidak kontras, tidak seronok, tidak selalu mencari perhatian), keselarasan dalam berbicara meskipun sedang dalam emosi batin yang meledak-ledak tetap berusaha santun dalam mengungkapkan isi hatinya. Ngono ya ngono nanging aja ngono (begitu ya begitu tapi jangan begitu) adalah peribahasa jawa dalam mengungkapkan keselarasan dapat menahan emosi.

Keselarasan berarti dirinya dapat mengatur keseimbangan emosi dan menata perilaku yang laras, harmonis dan tidak menimbulkan kegoncangan. Saling menjaga diri, saling menjaga cipta, rasa, karsa dan perilaku, adalah pandangan hidup dan realitas hidupnya walau terjadi ritme-ritme karena dinamika kehidupan masyarakat. Dari sini maka irama Gendhing/musik dari Gamelan termasuk tembang jawa itu disusun dan dibuat.

Anda bisa memperhatikan urut-urutan dari alat gamelan ketika dibunyikan dalam sebuah irama Gending. Perhatikan saja tarikan dari tali rebab, disusul bunyi suara dari bilah-bilah logam kuningan yang disebut slentem, lalu bunyi saron, kendhang, kenong, gambang, dan lain-lainnya, yang selalu diakhiri suara gong di penghujung bait irama gendhing. Disini, muncul keselarasan jiwa dan rasa. Namun, jika ditanyakan sejak kapan dan siapa yang awalnya membuat, sulit untuk dilacak. Yang jelas sudah sangat tua, dimana Anda dapat melihat pada relief Candi Borobudur (abad VIII).

Boleh jadi perkembangannya dimulai dari kenthongan, tepukan tangan, pukulan ke mulut, gesekan pada tali/bambu tipis, dsbnya. Lalu alat musik jawa itu berkembang dalam bentuk bilahan kayu, bambu atau lempengan besi, lembaran kulit dan bambu yang dilubangi.

Setelah menjadi seperangkat alat musik kemudian dinamai Gamelan,  mula-mula untuk mengiringi tarian, dan semakin semarak karena di dukung lagu (tembang) oleh penyanyi (swarawati/wiraswara). Kemudian berfungsi pula untuk menyemarakkan upacara-upacara Namun yang paling intensif ialah untuk mengiringi pagelaran wayang atau tari dan seni panggung (kethoprak atau sendratari).Gamelan akan bersuara merdu, mantap dan tidak sember/fals, tergantung dari bahannya. Yang paling baik jika dibuat dari bahan perunggu berlapis kuningan, tapi biayanya sangat mahal. Atau bisa juga dari besi kualitas unggul, walau suaranya tentu kurang merdu, kurang mantap dan kemlonthong. Gamelan/Gongso/"Pradonggo"(Kawi) berasal dari kata: temba ga + raja sa adalah bahan logam yang dicampur menjadi instrumen Gamelan: "gasa" diper luwes menjadi Gongso. Secara keseluruhan instrumental komplit Gamelan selain dari bahan logam, ada yang berbahan kayu, misalnya: gambang, demung, barung, peking, slentem, ditambah alat tiup suling dan alat gebuk kendang dan bedug , alat gesek rebab dan alat petik siter.

Di Solo misalnya, upacara Kirab Gunungan Sekaten pada bulan Maulid untuk menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW, dari Karaton Kasunanan Surakarta ke Mesjid Agung di Alun-alun Utara juga diiringi irama Gendhing Carabalen dari perangkat Gamelan yang terdiri dari saron, centhe, keprak, kenong. Selama sepekan, maka Gamelan yang terdiri dari Kyai Guntursaroi dan Gunturmadu dikumandangkan oleh para niyaga (penabuh/pemusik) Karaton dari Bangsal Pradangga di halaman Masjid Agung.

Di Karaton Kasunanan Surakarta dan Pura Mangkunagaran maupun Kasultanan Yogyakarta dan Pakualaman terdapat perangkat Gamelan peninggalan para leluhurnya. Sebagai contoh adalah perangkat Gamelan yang ada di Kasunanan Surakarta yang merupakan warisan pusaka dari masa Kerajaan Majapahit dengan keunggulan kualitas suara yang merdu, mantap dan lembut (perangkat Udan Riris, Kanyut Manis untuk pengiring upacara).

Ketika Sultan Agung Hanyakrakusuma memimpin Mataram juga membuat perangkat Gamelan dan Gendhing-gendhing. Gendhing Ketawang Ageng yang digunakan untuk mengiringiupacara peringatan Jumenengan sang raja trah Mataram merupakan karya besar dari pakar seni karawitan di Karaton yang ilhamnya dari penghayatan terhadap alam lingkungan.

Di Kasultanan Yogyakarta dibuat duplikat perangkat Gamelan Sekaten yang menjadi pelengkap dari sisa Gamelan Sekaten warisan Majapahit, yang kemudian disebut Kyai Nagailaga. Duplikat gamelan Sekaten juga telah dibuat oleh Akademi Seni Karawitan Indonesia Surakarta ketika masih bertempat di Sasanamulya, yang pengecoran logam sampai dengan jadinya digarap oleh pengrajin Gamelan di desa Wirun - Bekonang Sukaharjo.


Riwayat Gamelan

tahun jaywaha, suryasangkala katingal pangrasaning janma (162)

masa palguna, candrasangkala swara karengeng jagad (167),

sri paduka maharaja dewabuda membuat gamelan 'lokananta'

berwujud wilahan terbuat dari gangsa,

yang di masa kini disebut demung

suryasengkala bagahaning swara angrenggani swarga (269), tahun tarha

candrasengkala  swara matenggeng karna (287), masa kartika,

hyang endra membuat alat bunyi-bunyian yang dinamai 'surendra'

berwujud gending (kini disebut 'rebab'), kala (kendang), sangka (gong),

pamatut (kethuk), dan sauran (kenong)

suryasengkala karengeng karna tri (326) tahun wakdaniya

candrasengkala karenggeng gunakaton muluk (336), masa palguna

hyang endra mengutus batara citrasena ke negeri purwacarita

membawa gamelan 'surendra' untuk diberikan pada maharaja kano

bahwa semua bunyi-bunyian tersebut boleh dipakai oleh manusia di dunia

sri maharaja kano menambahkan dengan salundi (kempul) dan garantang (gambang)

dan menyebarkannya ke masyarakat untuk ditiru dan dikembangkan

dengan berjalannya waktu, surendra  menjadi lebih dikenal sebagai surendro atau salendro

tahun pramadi, suryasangkala kaswareng karnaguna  maletik (327)

masa wisaka, candrasengkala gora tri katon tawang (337)

srimaharaja kano menciptakan dan menyebarluaskan lagu-lagu dari tembang ageng

inilah asal muasal gending

tahun wikrama, suryasengkala naga kacaksuh ing rana (328)

masa manggakala, candrasengkala madyaning rana tri (338)

berdasarkan alat bunyi-bunyian dari negeri ajam, yahudi, dan hindu

srimaharaja kano menciptakan bunyi-bunyian tanda perang: mardangga,

yang terdiri dari :

kalakendang, sangka gong, egong, gubar (bende yang tidak ber-pencu),

bahiri (beri yang memakai sanding keliling), puksur (rebana yang dipukul dengan kayu),

gurnang (kenong digantung), tong-tong (kendang dari gangsa, alat pemukul dari kayu),

grit (rebana yang dipukul dengan kayu), tetek, bedug,

maguru gangsa (kemodong yang digantung)

lama kelamaan nama 'mardangga' berubah menjadi 'pradangga'

tahun pilapawa, suryasangkala trusta bojaning marga (529)

masa wisaka, candrasengkala tataning pakarti wisaya sirna (545)

dewi sugandi, putri prabu basukesti raja negeri wirata, melahirkan dewi basuwati

raja mengundang para brahmana, tapa, resi, dan sewasogata

untuk memuji syukur agar sang bayi senantiasa sehat tak kurang suatu apa

para rohaniwan ada yang membawa bunyi-bunyian rebana atau terbang angklung,

genta, kekeleng, bende, dan kentongan

bunyi-bunyian tersebut mengiringi nyanyian permohonan pada dewata

sepulang para rohaniwan raja memerintahkan membuat tiruan alat-alat tersebut

yang berbentuk rebana dan berbagai angklung

ditujukan agar bisa dimainkan seperti surendra

tahun kalayuda, suryasangkala guna makarti tata (543)

masa srawana, candrasengkala trusta marganing gati ((559)

prabu basukesti raja negeri wirata membuat tiruan dari gangsa lokananta

berwujud demung dan gender

yang kemudian juga disebarkan ke masyarakat luas

dan dikenal sebagai gangsa surendra

tahun sadaruna, suryasangkala anrus lenging naga (899)

masa . . . .  , candrasangkala karenga ing karna nrus wiyat (926)

resi kano dari negeri ngadirejo, cilacap, berniat melawan prabu ajipamasa di kediri

prabu narada, raja ngadirejo segera mengutus waktra dan barlu mengawasi resi kano

waktra dan baru menyamar sebagai pemain jantur

membawa seruling buatan sendiri dari bambu wratsari dan empat ekor burung merak

bunyi seruling dibuat bernada-dasar menirukan suara-suara burung merak

sepulang ke ngadirejo seruling menjadi kelengkapan gangsa surendra

ditambah dengan bunyi dasar yang cocok dengan suara dasar gangsa salendro

timbullah laras 'manyura' untuk pengingat suara burung merak : 'nya-ngung-ngong'

tahun tadu, suryasangkala (1107) karengeng maletik atmajaji

candrasengkala karsa tri nunggal janma, 1136

prabu lembu amiluhur berputra raden panji ino kartapati

yang juga dikenal sebagai raden panji kasatrian, ahli segala ilmu pengetahuan

yang menambahkan alat berwujud bonang dan saron

serta menambah dasar-dasar nada atau laras

saudara-saudara beliau ikut membantu dalam mencipta alat

raden kartala mengayunkan palu besar raden andaga palu sedang

penyelesaiannya pun dikerjakan se-kadang sendiri

selesai gamelan tersebut, diciptakan seperangkat 'laras miring' atau disebut 'pelog'

jumlah dan jenis alat bunyian sama dengan gamelan surendro

akhirnya gamelan surendro disebut salendro dan pelog

pada masa pemerintahan prabu mundingsari dari kerajaan pajajaran

dibuat dua macam gamelan lagi seperti ayahnya dari jenggala

'sorogan untuk laras pelog' untuk mardangga yang disebut 'laras barang'

meniru laras bunyi-bunyian cina atau siyam

kini ada bermacam-macam kenong dan wilahan

dari demung lokananta yang konon hanya berjumlah delapan

gender duabelas dan gambang juga duabelas

Mareme gegindingane ngaurip

Angembani gegayuhne jalmi

Swanten rebaing asebab

Nunggal karo getering gender

Imbuh ngelangut raosing suling

Nyadong marem bathos lan pikir

"Oncor lapa jampine tamba

 

Menggali Kearifan Budaya Lokal, Mengangkat Martabat Bangsa

diposkan pada tanggal 31 Mar 2010 09.11 oleh wing pandoe   [ diperbarui5 Apr 2010 17.36 ]

Sumber : Pikiran Rakyat


“SAYA kadang-kadang merasa pesimis dalam melaksanakan tugas-tugas sebagai pendidik. Barangkali ini juga dosa saya kepada Tuhan dan bangsa ini, karena semakin banyak master dan doktor yang kita hasilkan, tapi bangsa ini semakin lama semakin terpuruk,” ujar Guru Besar Antropologi Unpad, Prof. Kusnaka Adimihardja, Rabu (8/6), saat mengawali pembicaraan mengenai bukunya Berkarya di Belantara Budaya: Dinamika Budaya Lokal, Partisipasi dan Pembangunan yang disunting oleh M. Didi Turmudzi, Asep Kartiwa, dan Gunawan Undang. Buku itu diterbitkan untuk memperingati ulang tahun ke-65 Kusnaka pada 18 Juni mendatang.

Beban perasaan itulah yang mendorongnya untuk terus mencari apa yang menjadi penyebab keterpurukan bangsa ini. Muncul sebuah pertanyaan di dalam benaknya, “Barangkali ada sesuatu yang salah dalam upaya kita untuk mencerdaskan bangsa ini.”

Kusnaka kemudian melihat salah satu akar persoalannya, bahwa sistem pendidikan di negeri ini terjebak di dalam pola-pola kapitalistik. Pola-pola yang dijiplak dari peradaban Barat itulah, yang menurutnya, membuat kita tidak lagi membicarakan secara intens dan mendalam, mengenai apa yang harus dilakukan di dalam proses pembudayaan bangsa ini melalui pendidikan.

“Kita telah terjebak ke dalam hal-hal seperti gedung yang bagus, laboratorium yang lengkap, gaya mengajar yang harus pakai jas, dasi, dan macam-macam. Sementara kita tidak pernah mendiskusikan, apakah yang diajarkan guru dan dosen itu bermanfaat atau tidak, bagi pencerdasan dan pembudayaan anak bangsa,” ujarnya.

**

Pencarian jawaban atas pertanyaannya itu, mendorong Kusnaka untuk mencari nilai-nilai “baru” dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang mungkin tidak populer di kalangan generasi muda, dengan menggali kembali akar-akar budaya yang dimiliki bangsa ini.

Langkah Kusnaka bukan tanpa alasan. Ia memandang, ilmu pengetahuan dan teknologi yang muncul dari kebudayaan Barat sifatnya mengeksploitasi, destruktif, dan tidak manusiawi. Disebut eksploitatif karena kita melihat kenyataan sekarang betapa teknologi yang dikenalkan oleh kebudayaan Barat terbukti merusak lingkungan. Tidak manusiawi karena pada akhirnya justru kita yang dikendalikan dan dikuasai oleh teknologi itu.

“Contohnya, kita tidak perlu mesin cuci di rumah, tapi karena kita dibius oleh iklan, kita membelinya. Teknologi sudah demikian mendikte kita, sehingga membuat kita kehilangan nilai-nilai kemanusiaan,” ujarnya.

Ilmu pengetahuan dan teknologi yang kembali ke akar kebudayaan lokal, ujar Kusnaka, sebenarnya sudah lama dilakukan oleh orang Barat. Namun karena mereka berhasil mengemasnya dengan baik, seringkali kita yang di Timur menganggap konsep itu sebagai hal yang baru. Kusnaka mengakui, orang Barat memang memiliki kekuatan di research and development yang hebat, sehingga nilai-nilai kebudayaan lokal bisa dikemas dan dikonsep dengan sangat baik.

“Konsep semacam sustainable development, sebenarnya sama dengan apa yang dilakukan oleh orang Baduy. Atau tentang pendekatan daerah aliran sungai, orang Bali dari dulu sudah begitu. Kita selalu silau dengan apa yang ada di Barat, sehingga selalu mengacu ke sana. Sampai ada yang menulis buku tentang Asian Paradox, yang isinya mengatakan, pada saat orang Barat melihat ke Timur, orang Timur tetap saja silau dengan produk Barat,” ujarnya.

Tentu tidak semua bangsa Asia terus silau terhadap produk Barat. Sekarang, ujar Kusnaka, negara-negara seperti Jepang, India, dan Thailand sudah mulai kembali ke nilai-nilai lokal mereka. Tapi yang cukup mengherankan, Indonesia masih belum juga menggali nilai-nilai kebudayaannya sendiri.

Untuk mengangkat dan mengenalkan akar kebudayaan lokal Indonesia, Kusnaka ikut terlibat dalam pembentukan laboratorium yang disebutnya sebagai Indonesian Resource Center for Indigenous Knowledge, yang sampai sekarang sudah berjalan selama 20 tahun. Di laboratorium ini diteliti dan dikembangkan berabagai kearifan lokal Indonesia, yang diharapkan dan digunakan sebagai landasan pembangunan nasional di masa mendatang.

“Mudah-mudahan kita bisa melakukan pembangunan yang lebih manusiawi dan melibatkan masyarakat secara utuh,” ujarnya.

**

Kusnaka Adimihardja lahir di Kampung Ciembe, Desa Panawangan, Kab. Ciamis dari pasangan R. Toyib Adimihardja dan R. Hj. Ratna Suhaemi. Sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi, diselesaikannya di Kota Bandung. Kusnaka sering disebut sebagai kuncen Gunung Halimun karena penelitiannya yang mendalam tentang komunitas adat yang tinggal di gunung tersebut. Dari penelitiannya di Gunung Halimun, Kusnaka berhasil meraih gelar master di The Australian National University dengan tesis berjudul “Ki Ardjo: A Wandering Spiritual Leader and His Followers in West Java”. Kusnaka juga berhasil meraih gelar doktor dari Universiti Kebangsaan Malaysia, juga melalui penelitian terhadap komunitas Ki Ardjo tersebut, dengan disertasi berjudul “Manusia Sunda dan Alam Lingkungannya: Suatu Kajian Mengenai Kehidupan Sosiobudaya dan Ekologi Komuniti Kasepuhan Desa Sinarasa, Jawa Barat”. Dari aktivitas akademisnya Kusnaka pun mulai melanglangbuana dan berhasil meraih berbagai penghargaan nasional dan internasional.(Zaky/”PR”)***

Kembali kepada Filosofi Sunda Baheula

diposkan pada tanggal 31 Mar 2010 09.01 oleh wing pandoe   [ diperbarui5 Apr 2010 17.38 ]

Sumber : Galamedia., 11 Oktober 2009

 

 

TRAUMA atas gempa bumi berkekuatan 7,3 skala Richter yang melanda sebagian wilayah Jawa Barat, awal September lalu, belum hilang dari masyarakat Indonesia, khususnya Jabar. Kenangan pahit itu ditambah dengan gempa bumi yang melanda Sumatra Barat, Jambi, dan Bengkulu. Akibat musibah tersebut, ratusan orang tewas dan hilang, serta ribuan orang kehilangan tempat tinggal.

Ribuan rumah mengalami kerusakan, baik rusak parah, sedang, maupun ringan. Umumnya rumah yang mengalami kerusakan adalah yang dibangun dengan menggunakan bahan baku semen, bata, batu, dan pasir atau lebih dikenal dengan tembok dan beton. Sedangkan rumah yang dibangun dengan menggunakan bahan baku kayu dan bambu hampir tidak mengalami kerusakan, bahkan tidak ada sama sekali.

Kebanyakan rumah yang terbuat dari bahan alami tersebut terdapat di kampung-kampung adat, seperti di Kp. Naga Tasikmalaya, Kp. Dukuh Kab. Garut, Kp. Cikondang Kab. Bandung, dll. Percaya atau tidak, sebagian besar rumah yang ada di kampung adat tidak mengalami kerusakan berarti. Padahal, gempa yang melanda wilayah Jabar sangatlah besar.

Timbul banyak pertanyaan, kenapa bangunan rumah yang ada di kampung adat tidak mengalami kerusakan? Sebagai bukti, rumah adat Cikondang yang terletak di RT 003/RW 03 Kp. Cikondang, Desa Lamajang, Kec. Pangalengan, Kab. Bandung masih berdiri kokoh, kendati daerah tersebut tak lepas dari dampak gempa berkekuatan 7,3 SR. Kearifan lokal yang mencuat dari bangunan berwarna cokelat yang sederhana itu, seakan ingin menjawab tantangan, tak goyah diterjang gempa.

Umumnya, bangunan rumah di kampung adat, termasuk di Cikondang, berupa rumah panggung dengan konstruksi dari bambu dan kayu serta berdinding gedek (bilik bambu). Sementara bagian atapnya terbuat dari ijuk (injuk) atau pelepah daun nira atau rumbia. Atap rumah dari bahan alami ini sangat ringan, sehingga bebannya terhadap konstruksi rumah sangat kecil.

Dalam pembuatan konstruksi rumah, satu tiang dengan tiang lain tidak menggunakan paku atau material logam lainnya. Melainkan menggunakan material yang sudah ada di alam, seperti tali ijuk maupun paseuk (patok yang terbuat dari bambu) atau disebut juga sistem ikat dan paseuk. Paku atau material logam lainnya tidak tabu digunakan, namun barang tersebut akan menambah beban sehingga menjadi berat. Sederhana memang, namun itu menggambarkan masyarakat Sunda yang sederhana, tetapi mudah beradaptasi.

Menurut Bah Ilin Dahsya (74), sesepuh Kampung Adat Cikondang, masyarakat Sunda dulu dalam membangun rumah sangat memperhitungkan segala sesuatunya, termasuk gempa bumi. Salah satunya adalah bangunan rumah tidak boleh menempel langsung ke tanah. Pun demikian dengan atap rumah, tidak boleh terbuat dari tanah (genting). "Tidak boleh menempel langsung ke tanah atau bumi, karena menurut filosofi orang Sunda, bumi adalah tempat manusia kembali atau dikubur. Demikian pula dengan genting, masa orang hidup sudah ditutup tanah (genting) atau dikubur," ujarnya.

Karenanya, secara umum rumah orang Sunda memiliki kolong dan bertumpu pada batu tatapakan dengan tinggi sekitar 40-60 cm dan diletakkan pada sudut-sudut tumpuan beban rumah, sehingga berbentuk panggung. Maksudnya, kolong tersebut untuk sirkulasi udara serta memudahkan membuang kotoran rumah ketika dibersihkan.

Bah Ilin menyebutkan, orang Sunda pun sangat memperhatikan sirkulasi udara dan cahaya. "Kedua aspek ini sangat penting dalam kehidupan masyarakat Sunda," katanya.

Peran cahaya dalam masyarakat Sunda adalah perwujudan kehidupan.

Kampung Cikondang merupakan kampung adat yang terletak di kaki Gunung Tilu. Rumah adat Cikondang merupakan peninggalan leluhur bernama Ma Empuh yang hidup di abad ke-16. Keberadaan kampung ini dilindungi Undang-undang (UU) No. 5 Tahun 1992 tentang Situs dan Benda Cagar Budaya. Hingga 1942, jumlah rumah adat beratap ijuk di kampung ini ada 60 unit. Namun, kebakaran besar tahun itu telah menghanguskan 59 rumah adat lainnya. Hanya satu yang tersisa dan bertahan hingga kini.

Selain rumah adat di Kp Cikondang, rumah-rumah adat yang ada di Kampung Naga pun masih kokoh berdiri walaupun diterjang gempa 7,3 SR, beberapa waktu lalu. Padahal, Kampung Naga yang berada di lereng bukit adalah salah satu lokasi rawan gempa yang harus dihindari, selain lokasi rawan gempa lainnya, yaitu di bibir sungai.

Karena posisi Kampung Naga yang kurang aman, bisa dibayangkan saat terjadi gempa di Tasikmalaya dengan kekuatan 7,3 SR, daerah ini diyakini digoyang lebih kuat dan lebih besar dibanding daerah sekitarnya karena posisinya di lereng bukit yang riskan jika terjadi gempa bumi.

Tidak panik

Alasan tidak terjadinya kerusakan pada bangunan rumah penduduk Kampung Naga, kata Ade, karena struktur dan fondasi bangunan didesain dengan filosofi adat Sunda yang hanya terbuat dari bambu dan kayu beratap ijuk.

"Rumahnya juga tidak pakai genting. Saat gempa bumi besar seperti yang pernah terjadi pada tahun 1979 di Kampung Naga, juga tidak terjadi kerusakan apa-apa. Padahal, wilayah Garut, Tasikmalaya, dan sekitarnya pada saat itu banyak yang rusak berat," tutur Ade Suherlin, kuncen Kampung Naga.

Rumah warga Kampung Naga berjumlah 113 unit, di antaranya bale tempat perkumpulan dan masjid. Penduduk yang berjumlah 316 jiwa tidak panik ketika gempa terjadi. Mereka berkumpul di masjid sambil membaca salawat dan berdoa untuk saudara-saudaranya di tempat lain yang rumahnya rusak akibat gempa bumi. (kiki kurnia/"GM")**

 


10 Filosofi Hidup Orang Jawa

diposkan pada tanggal 31 Mar 2010 08.50 oleh wing pandoe   [ diperbarui7 Apr 2010 18.50 ]

 


Saduran dari Blog SUMBANG TERPADU, 28 Januari 2010













  1. Urip Iku Urup (Hidup itu Nyala, Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain disekitar kita, semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentu akan lebih baik, tapi sekecil apapun manfaat yang dapat kita berikan, jangan sampai kita menjadi orang yang meresahkan masyarakat).
  2. Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara (Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak).
  3. Sura Dira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti (segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar)
  4. Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Sekti Tanpa Aji-Aji, Sugih Tanpa Bandha (Berjuang tanpa perlu membawa massa; Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan; Berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan, kekuatan; kekayaan atau keturunan; Kaya tanpa didasari kebendaan)
  5. Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan (Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri; Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu).
  6. Aja Gumunan, Aja Getunan, Aja Kagetan, Aja Aleman (Jangan mudah terheran-heran; Jangan mudah menyesal; Jangan mudah terkejut-kejut; Jangan mudah kolokan atau manja).
  7. Aja Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman (Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi).
  8. Aja Kuminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mundak Cilaka (Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah;Jjangan suka berbuat curang agar tidak celaka).
  9. Aja Milik Barang Kang Melok, Aja Mangro Mundak Kendo (Jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, indah; Jangan berfikir mendua agar tidak kendor niat dan kendor semangat).
  10. Aja Adigang, Adigung, Adiguna (Jangan sok kuasa, sok besar, sok sakti).
    
http://djonkjava.blogspot.com/2009/03/10-filosofi-hidup-orang-jawa.html

Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional

diposkan pada tanggal 21 Mar 2010 00.18 oleh wing pandoe

Sejak tahun 2008, sebuah kebijakan pemerintah, dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional menggulirkan sebuah ajang kompetisi seni bagi kalangan siswa, yakni Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N). FLS2N boleh disebut juga Olimpiade Seni, setara dengan Olimpiade Mata Pelajaran, seperti OSN dan OOSN yang sudah lebih dahulu diselenggarakan.

Gallery FLS2N 2009

Hasil Lomba FLS2N Kota Bandung - 2010
INFO FLS2N 2010

Menggagas Pembelajaran Kreatif

diposkan pada tanggal 20 Mar 2010 22.51 oleh wing pandoe   [ diperbarui25 Mar 2010 00.13 ]

Pendidikan Seni atau Seni Budaya bukanlah sebuah mata pelajaran yang bisa dipersamakan dengan mata pelajaran lain. Ada sesuatu yang membedakan dari bidang pembelajaran ini. Bila dikaitkan dengan teori belajar manusia, adalah belahan otak kanan menjadi sasaran pembelajaran. Jaman sudah berbeda. Sudah seharusnya para pendidik seni lebih memperdalam tentang segala yang berhubungan dengan seni. Tiga tujuan yang harus dicapai adalah APRESIASITIF, SENSIFITAS,dan KREATIVITAS. Buku-buku teks hanya sebagai referensi, seperti juga kebanyakan yang berada di internet.

Beberapa hal yang menjadi sebuah baromemeter pembelajaran guru seni agar pembelajaran dikatakan berhasil.
  • Mendesain pembelajaran sesuai dengan kebutuhan yang dibutuhkan siswa.
  • Menciptakan pembelajaran yang membangkitkan empati para siswa untuk berkesenian.
  • Menciptakan ruang-ruang apresiasi dengan memperbanyak mendengar, melihat, merasakan, serta memberi tanggapan.
Kalimat ajakan akan sesering mungkin keluar dari seorang guru seni. Rasakan, lakukan, kembangkan, ciptakan, dst... adalah bahasa shari-hari. Jadi dengan demikian seorang guru seni harus menjadi teman anak-anak siswa didik. Sebagai motivator yang baik untuk mendorong siswa didik dekat dan merasakan pengalaman-pengalaman indah.



Sebuah permasalahan yang memang banyak diungkapkan dari berbagi guru-guru seni diantaranya kurangnya sumber informasi. Apalagi, maaf... yang berada di daerah yang jauh dari perolehan buku atau referensi lain. Yang kedua adalah sarana pendukung.

Dalam sebuah konteks KREATIF, sebenarnya segala hal tersebut seharusnya bisa di atasi. Kreatif tidak tergantung apapun selain kekuatan imajinasi dan kemauan seseorang. Asal semua esensi kesenian dapat dicapai, apapun bentuknya sah-sah saja. Lingkungan tempat kita berada adalah inspirasinya. Itu tidak bisa disuguhi ada begitu saja. Tetapi terus menerus harus dieksplorasi.

Selamat berjuang kawan.....
Salam dari Bandung

1-9 of 9