REFLEKSI RENUNGAN HARIAN

                                                             

                           oleh Sr.Tanti Yosepha,CP


 Prakata

 

Berbagi itu indah seindah rangkain kata-kata yang tulis dalam bentuk kata dan kalimat  yang tanpa mengajak orang,ia dengan sendirinya dapat  membuat orang tertawa, menangis, bersemangat, termenung, mengubah hidup, atas dasar pengalaman inilah saya meminta Sr.Yosepha untuk menyumbangkan tulisannya lewat refleksi renungan hariannya. Walaupun dianggap sedikit gombal  olehnya ia akhirnya mengabulkan juga permintaanku. Dan inilah hasil refleksinya yang dapat membawa kita pada suatu pengenalan yang berarti akan karya kasihNya yang agung. Suatu refleksi yang diangkat lebih banyak dari pengalaman-pengalaman  hidupnya sendiri  dikaitkan dengan bacaan-bacaan harian sehingga menjadi suatu adonan kasih yang indah yang dapat kita jadikan  juga refleksi hidup kita sendiri  sehingga semakin mengenal misteri keselamatan yang telah Ia kerjakan atas diri kita masing-masing. "Hidup rohani setiap orang adalah unik, pribadi dan mempunyai keindaan sert a keterbatasannya sendiri-sendiri. Meski demikian, hidup rohani seseorang dapat dibagikan dan bisa menjadi ispirasi bagi perkembangan hidup rohani  sesamanya" (Hidup dalam roh). Terima kasih kepada Sr.Yosepha yang telah menyumbangkan  pengalaman dan penghayatan hidup rohaninya.

 

Salam

Sr.Martina,CP

 

**************************************************************************************************************************************************

 

Senin, 20 April 2009

Bacaan: Yohanes 3:1-8

 

Lahir kembali

Seorang rekan suster yang berprofesi sebagai bidan pernah mensharingkan segelintir pengalamannya selama menjalani tugasnya sebagai bidan di sebuah Klinik bersalin. “Hampir semua bayi yang terlahir, disambut sang ibu dengan air mata haru, gembira dan bahagia.”

Dapat dipahami bila seorang ibu sangat gembira dan bahagia sebab bayi itu ke luar dari bagian tubuhnya sendiri. Lagi pula penantian lahirnya si jabang bayi terhitung secara medis dan normal sembilan bulan sepuluh hari bersemayam di dalam rahim sang ibu. Suatu masa yang cukup lama.

Bacaan hari ini menyentuh hati untuk mengingat kembali yang melahirkan kita, yaitu ibu. Nikodemus dalam kesempatan emasnya menemui Yesus Sang Guru, mempertanyakan: “Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?”

Pertanyaan Nikodemus ini sudah sangat cukup mewakili pemahaman sempit orang yang mengartikan lahir kembali sebagai ke luar dari rahim ibu. Saya termasuk salah seorang yang patut menaruh hormat pada seorang Farisi saleh ini karena ia telah mewakili untuk mengajukan pertanyaan sesuai pemahamannya. Dan Yesus sendiri memberikan jawaban sesuai ilmu pengetahuan yang digeluti Nikodemus.  Karenanya muncul pertanyaan dalam hati saya: Apa kiranya yang dapat dilihat orang-orang di sekitarku sehingga mereka berani dan tulus mengatakan “ia telah lahir kembali”. Lahir kembali telah saya pahami dengan baik. Namun adakah sesuatu yang lahir di dalam diriku? Sikap-sikap baru yang memajukan kehidupan rohaniku?

 

 

Selasa, 21 April 2009

Bacaan; Kis 4:32-37

 

Model hidup

“Dengan meneladan umat Kristen Gereja purba dan para saudari pertama, terorong oleh cinta kasih dan solidaritas, kita merelakan secara bersama harta benda materiil dan harta rohani, waktu, pekerjaan, bakat-bakat, kemampuan-kemampuan pribadi, perbuatan-perbuatan, dan jasa-jasa kita.............” (Bdk Konst. 2003,30).

Banyak orang Kristen bahkan banyak tarekat mengutip cara hidup jemaat perdana itu. Salah satu buktinya, Kongregasi Suster Pasionis menetapkannya di dalam konstitusi seperti yang telah dicantumkan dalam awal refleksi ini.

Seorang imam dalam kotbahnya menyinggung soal bacaan pertama hari mengatakan: “model atau teladan hidup jemaat perdana telah mengantar begitu banyak orang; entah itu Kristen, lebih-lebih para biarawan-biarawati, maupun bukan Kristen, untuk melakukan hal atau sikap baik yang mengembangkan serta membuat bahagia sesama. Seperti yang pernah saya saksikan sendiri, seorang suster di dalam komunitasnya melakukan tugasnya sebagai pelatih koor, dirigen, terlibat aktif dalam koor lingkungan, paduan suara di tingkat RT/RW, dst...........Seberapa kecil-besarnya sumbangannya, itu sangat berarti bagi kebutuhan bersama.”

Merenungkan pesan bacaan pertama ini, mengajak saya untuk melihat secara lebih dalam lagi makna dari kerja yang saya berikan kepada komunitas, lingkungan Gereja dan masyarakat. Tidak jarang yang dilakukan hanya formalitas dan kadang-kadang membutuhkan pujian dari orang lain.

 

Rabu, 22 April 2009

Bacaan; Yoh 3:16-21

 

Terang

Seorang suster dalam kesempatan renungan waktu doa adorasi mingguan komunitas mensharingkan refleksinya. “Tentang makna terang saya belajar dari beberapa perbuatan di antara kita anggota komunitas ini. Sebagai contoh: Sr. Kristina ketika gelisah melihat tanaman cabai layu dan mungkin akibat buahnya dipetik sebelum waktunya yang ditanam di vas kecil terletak di  samping tembok refter. Supaya tanaman itu hidup dan segar, maka beliau berusaha memindahkannya ke lokasi yang lebih terang disinari sinar matahari, dan tentunya dirawat dan dipupuk. Hasilnya? Tiga minggu berikut.....pohon cabai itu berbuah lebat.

Sr. Tanti setelah memandikan anjing-anjingnya, berusaha mengeringkannya dengan handuk khusus. Bila terlihat belum kering betul, beliau mengikat anjing-anjing itu di tiang yang tersiram sinar mentari. Contoh lainnya, Sr. Monica, setelah mencuci kain lap dan kain alat-alat rumah tangga lainnya, tidak cukup hanya mengeringkannya dengan mesin cuci, ia menejemurkannya di tali jemuran yang disinari sinar mentari. Sr. Nati, setelah tugas memasak di dapur yang lokasinya cukup jauh dari ruang  komunitas itu, akan segera menyelesaikan pekerjaannya sebelum matahari menenggelamkan sinarnya. Demikian sinar atau terang itu sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia.”

Renungan singkat rekan saya ini amat menarik. Ia mengungkapkannya dengan contoh konkrit menyangkut aktivitas harian hidup berkomunitas. Pertanyaan yang amat perlu direfleksikan: Adakah saya merindukan dan berusaha mendekati Terang Sejati-Kristus itu?

 

***********************************************************************

Minggu, 12 April 2009

Bacaan; Yoh 20:1-9

 

Lebih dahulu sampai

Kisah rohani yang dialami oleh dua murid dalam bacaan Hari Raya Paskah ini memiliki arti mendalam. Saya ingin mengutip ayat ini: “........Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat daripada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur....”

Saya pernah mendengar seorang romo mengungkapkan hasil refleksinya menyangkut ayat ini; murid yang lain itu berlari lebih cepat daripada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur. Siapakah murid yang lain itu? Menurut beliau yang pernah menempuh studi Filsafat dan teologi mengulas penafsiran tentang murid yang lain itu adalah penulis Injil yang dibacakan ini. Bila mempelajari kronologis usia para rasul, Yohanes jauh lebih muda usianya dari pada Petrus. Maka wajarlah bila Yohanes berlari lebih cepat dan kencang mendahului seniornya itu.

Dari segi lain dapat dimaknai berlari secara rohani. Mungkin saja, murid lain tadi-Yohanes- lebih dahulu sampai pada makna pemahamannya tentang Kebangkitan Sang Guru. Beberapa kejadian yang dapat dijadikan alasan, antara lain: Ketika Yesus ditangkap, Petrus menjauhkan diri, bahkan menyangkal Sang Guru hingga tiga kali. Sedangkan Yohanes mengikuti sampai ke halaman istana pengadilan bahkan hingga wafat Sang Guru di salib.

 

Senin, 13 April 2009

Bacaan; Mat 28:8-15

 

Teguh

Sikap teguh melatarbelakangi para wanita yang mengasihi Yesus untuk tetap berani bersaksi tentang kebangkitan Yesus. Hasil pewartaan mereka adalah kabar sejati yang kemudian berabad-abad hingga kini sangat diyakini oleh penganut Kristus. Di sisi lainnya, para penjaga kubur Yesus justru terpengaruh. Mereka dirasuki oleh ide para penguasa bangsa waktu itu. Hasil pewartaan mereka merupakan kebohongan yang mencemarkan kejadian sebenarnya.

Dari pesan Injil ini, kiranya mengajak saya untuk mengambil sikap, terutama sikap iman yang telah diteguhkan melalui janji baptis yang diperbaharui setiap malam Paskah.

Rekan suster di dalam biara pernah mengatakan tentang kesaksiannya: “Banyak orang juga saat ini yang berani bersaksi tentang kebangkitan Tuhan. Contoh konkrit, saya sedang bersaksi tentang kebangkitan itu karena saat ini sedang menghayati hidup religius saya melalui kaul-kaul yang saya ikrarkan.” Mendengar itu, saya bagaikan tersadar akan status saya sebagai suster saat ini. Suster yang juga menghayati kaul-kaul kebiaraan.

Apa kiranya yang dapat saya pakai untuk renungan hari ini? Yesus setiap saat mengajak untuk berani bersaksi dengan teguh tentang kebenaran hidup melalui karya dan situasi hidup sehari-hari.

  

Selasa, 14 April 2009

Bacaan; Yoh 20:11-18

 

Air Mata

“Terbukalah mata mereka, karena sebelumnya ada sesuatu yang menghalangi mata mereka sehingga mereka tidak mengenal Dia. Seperti Maria Magdalena menyangka Yesus seorang penjaga taman. Mata Maria Magdalena tertutup karena air mata, karena kesedihan, karena keliru mencari.” (Ed.no.13/PSY/1-6/2009)

Suster Provinsial memiliki renungan sangat mendalam untuk mengajak para anggotanya untuk tidak berhenti pada tangisan dan air mata. Sebab sikap itu tidak dapat menuntaskan masalah.

Dua sahabat pernah menungkapkan opininya mengenai air mata. Yang seorang mengatakan kepada begini : “air mata adalah pancaran kata-kata dari lubuk hati terdalam.” Yang lainnya menimpali : “Air mata terdiri dari air mata dukacita dan air mata sukacita.”

Teringat akan ungkapan dua sahabat ini, saya mengartikan air mata Maria Magdalena merupakan gabungan air mata dukacita dan air mata sukacita. Magdalena berdukacita karena Tuhan yang menjadi kebanggaannya telah mati dibunuh secara keji. Dan Magdalena bersukacita sebab Tuhan yang ia banggakan itu, telah kembali pada hakikatNya, yakni persatuan dengan Bapa Pencipta.

 

Rabu, 15 April 2009

Bacaan; Luk 24:13-35

 

Yesus membuka pikiran

Hal menarik dan indah dari perikop ini karena seperti tata perayaan ekaristi sebagaimana yang diadakan oleh Gereja setiap hari. Sesungguhnya Tata Perayaan Ekaristi yang diselenggarakan setiap hari berangkat dari peristiwa yang dialami oleh dua murid dalam perjalanan ke Emaus dalam bacaan liturgi hari ini.

Ayat yang menarik dan perlu dihayati yakni: “Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia, ........” (31).

Kiranya Yesus sendirilah yang membuka pikiran ke dua murid itu untuk mengerti pada peristiwa yang terjadi seperti yang tengah mereka bicarakan dalam perjalanannya.

Walaupun di tengah perjalanan dan susah payah menempuh perjalanan, dua murid toh saling berbicara satu dengan yang lain. Pembicaraan berbobot yang sanggup melahirkan diskusi menarik. Suatu perjalanan yang disela dengan sikap “berhenti dengan muka muram” memunculkan rasa kesal dari hati. Sikap yang sangat wajar, mengingat keputusan hukuman dan peristiwa penyaliban Seorang Maha Guru tersohor itu telah mengakibatkan pro dan kontra di kalangan bangsa Yahudi sendiri.

Muka muram mungkin saja menyebabkan sesorang tidak dapat berpikir jernih. Dan bila seseorang terbuka dan mau mendengarkan dan memberikan waktu bagi orang lain berbicara, niscaya Tuhan sendiri yang membuka pikiran dan hati untuk mengenal Dia yang sesungguhnya.

Untuk menutup renungan ini, saya mengutip surat edaran  provinsial suster Pasionis Indonesia yang dituangkan beliau dalam suratnya dan berinspirasikan perikop ini juga. Saudari-saudari yang terkasih, selama masa paskah ini saya ingin mengajak kita semua untuk merenungkan kisah perjalanan dua murid ke Emaus (Luk 24:13-35), karena saya merasa  kutipan ini sungguh bagus dan bermutu. Dalam kisah ini kita bisa melihat empat aspek pengalaman mendasar manusia dalam hidupnya yaitu: berjalan, hospitalitas (kesediaan menerima tamu, keramahtamahan), pemecahan roti dan membuka mata. Pengalaman ini juga pengalaman bersama Yesus yang telah bangkit.

Seluruh kisah berlangsung dalam satu perjalanan, yakni dalam pengalaman perjalanan, berjalan menuju satu tempat. Perjalanan adalah sejarah setiap orang. Kehidupan kita adalah satu dinamisme, suatu perjalanan menuju satu tujuan dan dalam situasi itulah Tuhan datang menjumpai kita untuk menemani kita dan berjalan bersama kita.

Hospitalitas yang diungkapkan dengan kata-kata yang mengagumkan: ”Tinggallah bersama-sama dengan kami”. Hospitalitas adalah satu bentuk pelayanan terutama di zaman ini di mana semakin banyak orang diasingkan, baik dalam keluarga/ rumah sendiri, dalam komunitas, dalam kelompok dsb. Hospitalitas adalah satu hal yang sangat penting, adalah satu cara menjadi manusia sejati: tahu menerima, menyambut siapa saja, pada waktu apa saja, tanpa merasa diganggu, mempersiapkan segalanya dengan gembira, ini semua adalah kewajiban luhur.

Ambil bagian pada roti yang satu dan sama merupakan sikap yang melebihi hospitalitas, adalah satu sikap berbagi dari satu meja yang membuat orang merasa diri bersaudara, berkomunio, satu upacara membangun persahabatan, persekutuan. Roti yang adalah ungkapan kebaikan dijadikan milik bersama, dinikmati bersama. Maka dari situlah dihasilkan persekutuan di antara kita. Berbagi adalah simbol umum manusia dan ini dipilih Yesus untuk menjadi simbol ekaristi, sebagai tanda anugerah hidup-Nya bagi manusia. Kita diajak untuk meneruskan sikap ini ke tengah dunia. (Ed.no.13/PSY/1-6/2009)

 

*********************************************************************************************************************

 

 

Senin, 6 April 2009

Bacaan: Yohanes 12:1-11

 

Enam hari menjelang Paskah

Dapat dipahami alasan Gereja menetapkan bacaan dalam Perayaan Ekaristi hari ini sebab terdapat kalimat: “Enam hari sebelum Paskah Yesusdatang ke Betania, ..........” (12,1).

Memang perhitungannya sangat tepat, mengingat enam hari lagi Gereja merayakan Pesta Paskah-Hari Raya Kebangkitan Tuhan. Kiranya apa yang dapat dipetik dari pesan injil hari ini?

Sejak Rabu Abu-permulaan Masa Pra Paskah, saya turut aktif bersama rekan-rekan komunitas mempersiapkan diri. Mulai dari yang fisik maupun yang rohani. Secara pribadi dan yang telah belasan tahun menghayati hidup bersaudara di Kongregasi Suster Pasionis, dari tahun ke tahun saya sangat bahagia dengan cara menghayati masa khusus tobat ini. Di dalam Konstitusi dan direktorium Suster Pasionis secara jelas menetapkan beberapa hal yang berkaitan dengan cara menghayati Masa tobat ini dan tentunya berciri khas kongregasi. Di tiap-tiap negara, bahkan komnitas, pemimpin rumah bersama anggota menentukan cara yang bervariasi dan dirasakan dapat menunjang tiap-tiap anggota untuk mengembangkan hidup rohaninya. Di dalam komunitasku untuk tahun ini, salah satunya yang disepakati menyisihkan uang belanja komunitas untuk dana APP-Paroki. Itu salah satu wujud fisiknya. Masih ada hal-hal rohani menyangkut hal pengendalian diri yang dimunculkan dari niat masing-masing pribadi.

Bacaan Injil hari ini di mana, Maria meminyaki kaki Yesus sebagai simbol hari Pemakaman dan kemuliaanNya mengangkat hati dan niat saya untuk menengok persiapanku selama 34 hari masa pesta tobat dan pengampunan ini. Manakah yang masih sangat kurang? Kiranya untuk hal mengampuni masih sangat sulit bila tidak disertai dengan kegembiraan dari dalam hati dan berdasarkan Kristus sendiri.

 

Selasa, 7 April 2009

Bacaan: Yohanes 13:21-33.36-38

 

Permulaan rencana jahat

Pekan suci ini menyajikan bacaan dalam perayaan ekaristi berkenaan dengan krononologis penderitaan Yesus. Perjalanan penderitaan Yesus bukan saja diawali dengan rencana Yudas-seorang dari rasulNya- menyerahkan DiriNya kepada imam-imam kepala dan ahli kitab bangsa Yahudi, tetapi sejak lahir Yesus telah menderita. Bila ditengok sejak Ia dilahirkan di Betlehem, Ia menumpang lahir di sebuah kandang hewan. Peristiwa demi peristiwa telah dihadapi Yesus ketika mengajar kebaikan, hampir setiap kali Ia ditentang baik langsung mau pun tidak langsung oleh bangsaNya sendiri. Dan selanjutnya, Ia menghadapi perlakuan rencana jahat dari rasulNya sendiri.

Bila membaca koran atau mengikuti berita melalui siaran televisi dan radio, sebuah kasus kriminal terjadi lebih besar terjadi karena memang telah direncanakan kepada korban oleh pelaku kejahatan. Dan hal senada telah berabad-abad telah terjadi. Dan itu dialami oleh Yesus, Sang Utusan Allah sendiri.

Bagaimana saya mengaplikasikan pesan bacaan hari ini?

Kiranya saya memperoleh peneguhan untuk setia dan sabar menghadapi masa-masa sulit dalam setiap peristiwa hidup yang kurang menyenangkan dan bahkan sakit sekali pun baik  di komunitas biara, Gereja maupun masyarakat umumnya.

  

Rabu, 8 April 2009

Bacaan: Matius 26:14-25

 

Rencana khianat.

“Siapa pun di antara manusia di dunia ini yang pernah mengalami perbuatan khianat, dapat dipastikan bahwa ia mengalami perasaan sakit dan terluka secara psikologis. Apalagi pelakunya adalah orang terdekat; seperti sahabat, saudara sekandung, keluarga dekat atau kerabat.............”

Ungkapan ini adalah kesimpulan dari seorang teman dalam kesempatan sharing hidup yang pernah menimpa dirinya.  

Berbicara tentang khianat, ratusan abad yang lalu telah dialami oleh seorang manusia. Tidak tanggung-tanggung Manusia yang utusan Allah yang diimani sebagai Penyelamat dan Penebus manusia. Kiranya kita mengerti DIA itulah Yesus yang menurut bacaan dalam Perayaan Ekaristi hari ini direnungkan kembali makna khianat itu.

Romo dalam homili singkatnya hari ini membagikan renungannya begini: “Sebagian orang pernah mengatakan opininya tentang intervensi Yudas Iskariot begini: seandainya Yudas Iskariot tidak melancarkan niatnya dengan menjual Sang Guru, mungkinkah Karya Penebusan itu akan terpenuhi? Kiranya opini itu salah. Sebab pada awal mula sejak manusia pertama jatuh ke dalam dosa, Allah telah menetapkan seorang Penebus untuk menanggung dosa-dosa manusia itu. Dan mengenai Utusannya itu telah digambarkan di dalam Kitab Suci Perjanjian lama dan telah dibacakan sebagai renungan selama masa Pra Paskah ini.”

Melalui renungan ini, saya mengalami sebagian kecil derita yang dihadapi sharing seorang teman yang telah saya dengarkan sebagaimana pada awal renungan ini tadi, dan sebagai suster Pasionis saya belajar menghayati derita  kecil dan besar dengan sukarela sebab yakin bahwa melalui semua itu Tuhan mendidik untuk belajar memikul karya peebusanNya.

 

 

Kamis, 9 April 2009

Bacaan: Yohanes 3:1-15

 

Berbagi

Dari empat penginjil, hanya Yohanes yang mencatat rangkaian upacara yang dirayakan bangsa Yahudi bertepatan dengan upacara makan Paskah. Mempelajari tradisi pembasuhan kaki oleh bangsa Yahudi, seorang romo dalam kotbahnya menerangkan seperti ini: “Membasuh atau mencuci kaki merupakan pekerjaan seorang hamba. Di jaman Yesus, tradisi ini juga diturunkan oleh kepada para penerusnya oleh nenek moyang bangsa mereka. Pembasuhan kami biiasanya dilakukan: pertama,  seorang hamba mencuci kaki tuannya/ majikannya setelah kembali dari bepergian. Kedua, hamba mencuci kaki para tamu dari tuannya yang akan turut datang di dalam perjamuan pesta majikannya. Yesus memahami dengan kesadaran tinggi tugas sebagai hamba ini. Untuk itu Ia rela melakukan upacara pembasuhan bukan kepada seorang yang dihormati sebagai majikan/ tuan, akan tetapi Ia melakukannya kepada para rasulNya sendiri. Ia memaknai perbuatan mencuci kaki sebagai tanda  untuk mengasihi tanpa membatasi jabatan. Lebih dari itu, melalui pembasuhan kaki, berbagi roti dan piala yang satu dan sama menyimpan makna terdalam bahwa Yesus mau berbagi bersama para rasulNya. Apa yang dibagikan? Kiranya melalui peristiwa berbagi itu, Yesus hendak berbagi tentang asal dan tujuan dari hidupnya, yakni Ia berasal dari Bapa dan tertuju kepada Bapa.”

Apa makna perayaan kasih ini bagiku sebagai umat beriman, secara khusus sebagai suster pasionis?

Pertama, dalam peristiwa perjamuan paskah yang setiap tahun dirayakan di dalam Gereja ini, saya diundang oleh Yesus untuk turut ambil bagian di dalam perjamuanNya: melakukan tugas untuk saling berbagi dalam karya penebusanNya.

Kedua, sebagai seorang Pasionis, saya diwajibkan untuk melaksanakan kasih persaudaraan tanpa batas sebagaimana disepakati di dalam direktorium suster Pasionis: “Kita saling mohon ampun untuk bertumbuh dalam kasih persaudaraan dan menghayati Misteri Ekaristi” (Bdk Direkt. 2003,  54).

 

 

Jumat, 10 April 2009

Bacaan: Yohanes 18:1-19;42

 

Kematian-awal kelahiran baru

Jumat Agung ditetapkan Gereja sebagai kenangan akan Wafat Kristus. Dari segi ajaran Gereja, dikatakan bahwa karena kematian Kristus merupakn sumber yang menyelamatkan, maka pada saat itulah Gereja lahir. Tanda kelahiran Gereja itu ditandai dengan air dan darah yang ke luar dari lambung Kristus ketika serdadu menikam lambungNya dengan tombak.

Sejarah hidup manusia umumnya, menorehkan peristiwa sedih ketika orang yang dikagumi, dicintai dan disayangkan meninggalkan dunia fana ini. Akan dapat disaksikan, ketika itu orang-orang yang mengagumi, mencintai dan menyayanginya tidak ragu-ragu meneteskan air mata kesedihan, bahkan keperihan yang menyatakan ungkapan gejolak lubuk hati terdalam.

Bila dimaknai dengan cara dewasa-kristiani, sebenarnya, kematian adalah awal dari kehidupan. Mengapa dikatakan demikian? Sebab dengan kematian seseorang, orang-orang yang mengenalnya akan menengok kembali sejarah dan atau kronologis hidupnya. Orang akan saling melengkapi untuk menceriterakan tentang kebaikan-kebaikan yang pernah dilakukannya. Bila ditemui yang baik, maka secara sadar atau pun tidak, itu akan dijadikan sebagai teladan bagi hidup mereka.

Sebagai seorang pasionis, tentu saja hari ini merupakan kesempatan untuk merenungkan sengsara dan wafat dari Sang Tersalib. Memoria Passionis yang dihayati ibu Pendiri-M.M.Frescobaldi sudah sangat cukup untuk dijadikan contoh yang tiada pernah usang oleh arus jaman.

Ketika menghayati sengsara Yesus yang diawali dengan kisah Yesus masuk taman Zaitun bersama tiga  muridNya, hingga saat ini pun Yesus mengundang semua orang untuk turut bersama dengan Dia berdoa bagi keselamatan dunia.  Keluarga suster Pasionis yang secara tradisionil mencintai ritus malam tuguran, terbukti hingga saat ini pun penuh semangat berdoa dan berjaga-jaga minimal satu jam di hadapan sakramen Maha Kudus yang ditakhtakan dari upacara Perayaan Ekaristi Kamis Putih. Para suster dengan sukarela mencintai bagian undian jam jaga untuk berdoa dan merenungkan Kasih Agung Kristus Tersalib yang tanpa batas memberikan DiriNya untuk semua orang yang mau ambil bagian di dalam PenebusanNya.

“Dengan merenungkan sengsara Sang Tersalib, seorang Pasionis akan sekolah pada Sang Guru Kasih, sebab dari sekolah itu dipelajari cara mengubah kehidupan dalam solidaritas dengan kaum tersingkir dan dengan demikian mengambil bagian bersama Dia pada penebusan umatmanusia.” (Bdk. Konst. 2003, 48).

Di bagian lain,

 

 

Sabtu, 11 April 2009

Bacaan: Matius 28: 1-10

 

Maria addolorata

“Kita mengambil bagian pada kesepian dan maksud hati Perawan Maria yang ikut serta bersama Yesus dalam karya penebusan sambil menantikan kebangkitan.” (Direkt. 2003, 59).

Kongregasi memiliki alasan kuat untuk merumuskan dan menetapkan kalimat di atas sebagai perkataan yang selalu hidup. Setiap anggota komunitas pun menghayatinya melalui renungan bersamaan dengan terlebih dahulu menyiapkannya sesuai kreativitas masing-masing komunitas. Secara pribadi, saya semakin mencintai devosi khusus ini. Sebab melalui waktu yang tersedia itu, setiap suster pasionis diberi kesempatan dalam renungan dan keheningan agar turut mengambil bagian dalam kenangan akan sengsara Sang Tersalib dan duka-duka Maria. Usai ibadat Penghormatan Salib, masih banyak jam yang diberikan untuk bersama Maria menangisi dosa-dosa dan memohon kepada Bapa untuk bermurah hati mengampuni segala dosa. Dalam Gereja lokal tertentu, waktu pagi di hari Sabtu suci, sejumlah umat mengadakan ibadat yang disebut ibadat tujuh sabda Salib, yang bersumber dari seruan-seruan Yesus ketika tergantung di salib sebelum Ia wafat.  Tradisi kongregasi Pasionis, sejak bertahun-tahun telah mengajak untuk merenungkan tujuh duka Maria. Dalam ibadat ini pun, makna yang dapat dipetik terutama menyatukan penderitaan manusia dengan duka-duka yang pernah dilalui Maria ketika mengembara di dunia ini.

Gabriel Possenti atau lebih dikenal Santo Gabriel dell’Addolorata sangat mencintai devosi kepada Bunda Maria Berdukacita. Gabriel telah memberikan teladan yang baik akan kesetiaan penghayatan doanya. Beliau senior para Pasionis dalam mencapai tujuan kebersatuan dengan doa-doa Maria di kaki salib bersama penderitaan Sang Putera Tersalib.

Saya terkesan dengan renungan seorang petugas pembawa renungan (seorang novis suster CP) ketika membacakan renungannya dengan lilin menyala di tangan yang dibawakan ke depan lukisan perhentian ke .............. jalan salib yakni: Jenazah Yesus diturunkan dari salib. Terucap renungannya bernada ratap dan doa ini: “Puteraku, ketika di Betlehem, Engkau kudekap penuh kasih. Terdengar tangis halus dan manja dari bibir mungilmu. Waktu itu, kugendong tubuhMu dalam kesatuan jiwa dan raga. Raga yang masih bergerak tanda bernayawa. Waktu itu, BundaMu ini tersenyum mendengarnya. Tetapi......sebaliknya, saat ini..............di Golgota. TubuhMu kupangku juga. Namun TubuhMu tidak bernyawa lagi. TubuhMu bahkan tercabik-cabik akibat  deraan ungkapan murka orang-orang yang menolakMu. Betapa mendalam siksaan yang Engkau tanggung. Siksaan batin bahkan tidak terkatakan. Walau TubuhMu terbujur kaku dalam pangkuanku, aku dapat merasakan dan menyatukan hatiku yang menderita dengan penderitaan yang telah usai Engakau lalui. Puteraku, kuserahkan jasad tak bernyawa ke dalam makam yang telah disediakan orang yang menaruh kasih padaMu. Dari makam itu, aku percaya Engkau akan bangun dan itu pertanda kehidupan. Ya.............kehidupan kekal”.

**********************************************************************

Minggu, 1 Februari 2008

Bacaan, Mrk 1:21-28     

 Inovator

 

            Dalam Bacaan Injil hari ini, dikisahkan tentang Yesus mengajar di Bait Allah. Dalam pengajaranNya, Yesus dialami oleh pendengar di situ, sebagai Yang berkuasa. Pengalaman itu dinilai oleh mereka setelah mengalami pengajaran para ahli Taurat mereka.

            Di dalam kelompok masyarakat, entah di biara, di lembaga pendidikan formal dan non formal, atau pun di berbagai lembaga lainnya, seringkali tampil sosok pemimpin yang mengembankan tugasnya dengan karakter dan kharisma masing-masing. Tentang estafet kepemimpinan, pernah saya mengalami dua periode kepemimpian dengan pemimpin yang berbeda di salah satu komunitas biara. Ketika terjadi peralihan kepemimpinan, kami mengeluh dengan berbagai cara dan gaya baru yang diterapkan pemimpin di dalam melaksanakan pelayanan sehari-hari dari komunitas. Ada banyak hal yang telah diubah, seperti kebiasaan menerima tamu, memberi sedekah, terlibat aktif di lingkungan dan paroki dan masih ada banyak hal lain lagi. Yang sangat mengherankan, para anggota ikut saja dengan pemberian tugas tanpa berani menolak langsung di hadapan pemimpin. Hari demi hari, setelah terbiasa dengan melakukan ritme kehidupan baru itu, kami tidak lagi mengeluh dan mengomel atau pun memprotes kebijakan-kebijakan pemimpin kami yang baru itu. Seiring perjalanan waktu, saya memahami dan mengerti betapa sesuatu sikap baru dan tidak lazim hampir menjadi persoalan dan pertentangan. Dari segi positif saya sanggup menerimanya sebagai inovasi bagi terwujudnya visi dan misi suatu kelompok, dan tak luput komunitas biara.  Saat ini saya dapat menyebut mantan pemimpin biaraku itu sebagai innovator layaknya pengikut Yesus yang sanggup  membawa pembaharuan di dalam lingkungan dan komunitasNya.

            Pertanyaan yang patut direfleksikan: Bagaimanakah saya menyikapi perubahan yang terjadi di dalam lingkunganku, terutama di kehidupan komunitas biaraku?

 

 

Senin, 2 Februari 2008

Bacaan, Luk 2:22-40

 

Hidup Bakti

 

            Ketika mengikrarkan kaul-kaul religius, khususnya di dalam kongregasi Suster Pasionis, para suster mengikrarkan kaul-kaulnya sesuai rumusan yang terdapat di dalam konstitusi kongregasi. Salah satu kalimat yang termuat di akhir pengikraran kaul-kaul dikatakan: “…Semoga Maria Berdukacita, Santo Paulus dari Salib, Ibu Pendiri kita Maria Magdalena, cinta kasih saudari sekalian, menopang kelemahan saya. “ (Konst. 2003,22).

            Hari ini merupakan Pesta Kanak-kanak Yesus dipersembahkan kepada Tuhan. Suatu tradisi bangsa Yahudi yang dapat diketahui melalui beberapa referensi Kitab Suci. Empat puluh hari yang lalu, Gereja telah merayakan Natal  Tuhan. Dan melalui bacaan Injil hari ini, dapat dikenal tokoh-tokoh seperti: Maria ibu Yesus dan Yosef  pemeliharaNya, Simeon dan Hana. Para pencinta Bait Allah yang mempersembahkan seluruh hidupnya hanya bagi Allah.

            Di dalam perjalanan panggilan hidup religious, seperti dalam penghayatannya, saya mengalami hidup bersama yang saling menopang di saat-saat menghadapi kelemahan, kelesuan, dan kebimbangan. Terutama di tengah pekerjaan yang menuntut segenap kemampuan hidup religius saya. Di segi lain, tidak jarang juga menghadapi kelesuan di dalam menghayati dan menjalankan tugas pelayanan. Maka, semangat doa Simeon dan Hana sangat cocok dijadikan contoh kesetiaan mencintai Bait Allah-lambang kesatuan dengan Allah sendiri.

 

 

Selasa, 3 Februari 2009

Bacaan, Mrk 5:21-43

 

            Memohon

 

Dalam perayaan Ekaristi, seringkali disisipkan doa-doa khsusus untuk intensi dari yang memohonkannya. Tidak jarang pula intensi yang diajukan itu berupa memohon kesembuhan dalam berbagai penyakit.

            Injil hari ini mengingatkan saya untuk senantiasa mengerti keinginan atau permohonan yang diajukan kepada Tuhan. Dalam kesempatan merenungkan dan mengikuti tuntunan bacaan Injil ini, Yesus seakan-akan mengajarkan dua hal. Pertama, setiap orang yang membutuhkan kesembuhan entah untuk dirinya sendiri maupun bagi orang lain, ia harus dating dan memohonkannya. Kedua, Kesembuhan yang diminta kepada Tuhan hendaknya tidak dengan cara seakan-akan tahkyul dan sembunyi-sembunyi, namun dengan cara yang sungguh-sungguh percaya pada Tuhan.

            Pertanyaan yang dapat saya refleksikan: jenis penyakit manakah yang perlu saya mohonkan agar disembuhkan Tuhan? Dan bagaimana cara saya memohonkannnya?

 

 

Rabu,4 Februari 2009

Bacaan Mrk 6:1-6

 

            Apriori

 

            Dari manakah diperolehNya semua itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepadaNya? Dan mukjizat-mukjizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tanganNya? Bukankah ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudaraNya yang perempuan ada bersama kita?

            Terkesan sangat jelas semua dari pertanyaan itu bersifat apriori atau berprasangka terhadap seseorang. Dan berbagai pertanyaan beruntun itu diperuntukkan bagi Yesus. Selanjutnya, kehadiran Yesus pun ditolak di tempat itu asalNya sendiri.

            Lain lubuk, lain ikannya. Demikian peribahasa kuno kita. Dalam Krsitologi diajarkan, bahwa Yesus memang sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia. Saya sebagai manusia tulen dan mengalamai hidup bermasyarakat dan komunitas modern. Belajar dari pengalaman hidup Yesus, yang ditolak oleh masyarakat asalNya dan juga keluargaNya mengingatkankan saya akan setitik pengalaman hidup berkarya dan berbicara di antara saudara sekomunitas. Kadang-kadang menghadapi situasi komunitas di mana ada rekan yang mengomentari rasa tidak yakin dan sangsi akan kemampuan untuk berbuat sesuatu yang baik untuk mengembangkan komunitas dan kongregasi. Seringkali terdengar komentar: Ah…..masà sih dia bisa melakukannya? Memangnya dia sudah berubah tah? Bukankah dia dulu juga sering menunda-nunda tugas? Dari mana dia belajar cara berbicara seperti itu? Mengikuti kursus spesialis di mana? Dan pertanyaan sinis itu mengandung makna rasa tidak yakin akan kemampuan seseorang.

 

Kamis, 5 Februari 2009

Bacaan, Mrk 6:7-13

 

          Pergi berdua-dua

 

          Pernah terjadi dalam satu komunitas yang terdiri dari lima anggota suster berkaul kekal dan suster yunior. Di komunitas itu, para suster terlibat aktif melayani umat di paroki dan stasi-stasi. Bila bepergian, suster di dalam anggota komunitas itu jarang pergi sendirian. Karena memang telah disepakati untuk pergi berdua atau lebih. Mungkin pada waktu itu: maksud komunitas itu hendak mengamalkan perutusan Yesus bagi para murid sebagaimana direnungkan dalam Injil hari ini.

            Di luar dari maksud komunitas itu, saya melihat sisi fundamental dari komunitas, yaitu adanya kepercayaan dan kerjasama untuk terlibat di dalam perutusan. Berhasil-gagal perutusan itu, merupakan pelayanan komunitas. Maka setiap kali akan melaksanakan tugas, para suster mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam pelayanan sebaik-baiknya.

Maka perlu saya merefleksikan ini: bagaimanakah saya mewujudkan tugas pelayanan yang dipercayakan oleh komunitas dan tarekatku?

 

         

Jumat 6 Februari 2009

Bacaan, Ibr 13:1-8; Mrk 6:14-29

 

Contoh Iman

 

“Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka”.

Pesan dari bacaan kepada orang Ibrani di atas sepadan dengan perhatian Gereja hari yang memperingati kesetiaan iman Paulus Miki dan teman-temannya. Selain itu jauh sebelum perwujudan iman yang dihayati oleh imam Yesuit itu, di dalam injil hari ini, dibacakan tentang sikap Herodes, sang raja yang telah memenggal penghayatan kebenaran hidup Yohanes Pemandi, dan selanjutnya masih merasa was-was dengan munculnya Yesus yang ia kenal melalui ceritera orang lain. Oleh karena sikapnya melawan kemurnian hatinya sendiri, Herodes melihat Yesus sebagai  “Yohanes Pembaptis telah bangkit dari antara orang mati, dan Elia”.

            Merenungkan pesan bacaan liturgi hari ini, menggerakkan hati saya sebagai suster religius-Pasionis untuk menyikapi dan mewujudkan kebenaran berdasarkan iman Gereja sebagaimana para pendahulu yang setia hingga akhir hayatnya. Sejauh mana perjuangan imanku?

 

 

Sabtu, 7 Februari 2009

Bacaan, Ibr 13: 15-17.20-21

 

 Laporan Proyek pelayanan

 

            Di setiap organisasi, serikat, atau pun perkumpulan tentu ada semacam Proyek kerja/ Program dari suatu organisasi itu. Kita mengenal juga di dalam partai politik ada visi dan misi. Kiranya visi dan misi itu yang diwujudkan anggota dalam sebuah lembaga melalui karya dan pelayanan nyata mereka.

            Penulis surat kepada orang Ibrani mengajak: “Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang bertanggung jawabatasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu.”

Merenungkan pesan diatas, teringat olehku masa di mana melaksanakan program yang dipimpin oleh pemimpin biara, baik di tingkat komunitas maupun tingkat provinsi. Bila menghayati secara terbuka dengan adanya dialog dan ketulusan maka setiap tugas yang diberikan sanggup dilaksanakan dengan baik dan tulus. Kiranya itulah penghayatan ketaatan yang membawa kebahagian. Sebab pekerjaan mana pun bila dilakukan dengan dialog terbuka, pribadi yang melakukannya memiliki kebebasan batin.

            Sebagai pertanyaan refleksi: Sejauh mana saya menghayati kaul ketaatanku sehingga sanggup membawa ketaatan yang menebus?

 

********************************************************************************************************************************************************* 

 

Minggu, 11 Januari 2009 

Bacaan Markus, 1:7-11

 

            Diperbarui dalam Roh

 

            Kita mengenal istilah baptis berdiri dan baptis berbaring. Baptis berdiri dikenakan untuk orang dewasa dan anak-anak yang telah dapat berjalan. Sebaliknya Baptis berbaring dikenakan untuk bayi. Saya termasuk seorang Kristen yang baptis berbaring, sebab orangtua saya memberikan diri saya untuk dibaptis pada usia 10 hari.  Pilihan orangtua saya tidak pernah saya abaikan. Lebih dari itu, saya mensyukuri keputusan orangtua saya yang berperan mengantarkan saya pada persekutuan Gereja. Seiring bertambahnya waktu dan dibimbing oleh guru agama di sekolah serta buku-buku katekismus, saya mulai mengerti tentang macam-macam makna symbol dari baptis, antara lain yang utama yaitu, air. Bagaikan air bersih yang berfungsi menyucikan/ membersihkan, untuk minum, dan menyegarkan. Segenap makhluk di muka bumi pasti merindukan air, terutama air bersih.

            Hari ini adalah Hari Raya Pembaptisan Tuhan. Melalui Injil, diingatkan lagi betapa rahmat pembaptisan memiliki makna yang sangat dalam.  Saya sangat terkesan dengan rumusan katekismus Gereja yang mengatakan: Umat beriman “telah mengenakan Kristus [sebagai busana]” (Gal 3:27). Berkat Roh Kudus, Pembaptisan adalah permandian yang menyucikan, menguduskan dan membenarkan. (Lih. Katekismus Gereja Katolik Edisi Indonesia, 1995, art. 790).

            Teks yang termuat dalam ajaran Gereja Katolik ini hari ini juga mengantarkan saya untuk terus menerus merefleksikan makna sakramen baptis dan implikasinya dalam sikapku setiap hari.

 

 

Senin, 12 Januari 2009

Bacaan Markus 1: 14-20

 

            Tanpa tuntut imbalan

 

            Bagi orang tertentu berbicara tentang panggilan hidup selalu menarik. Lebih-lebih mengenai panggilan  khusus bagi orang-orang hidup selibat. Dalam kesempatan mendengarkan sharing seorang rekan suster berkaul kekal berkaitan sejarah panggilannya, ia menceriterakannya dengan penuh sukacita. Intisari dari sejarah panggilannya, saya ringkas lebih kurangnya ini : Sebut saja namanya suster Tia. Tia sendiri pada waktu pertama kali merasa dipanggil untuk hidup sebagai suster, ketika masih sekolah di tingkat SMA. Entah kebetulan atau tidak, pada waktu bertamu ke rumah seorang temannya, sambil menunggu, Tia membuka lembaran majalah HIDUP yang di simpan di ruang tamu. Di salah satu halaman, terdapat artikel dari salah satu tarekat yang dituliskan di sana, yakni tentang salah satu sudut kehidupan hidup membiara. Sejak itu dia sering merasa senang dan membayangkan suatu saat kelak dapat bergabung dengan tarekat itu. Maka ia berusaha mencari alamat lengkap supaya memperoleh penjelasan selanjutnya. Usahanya tidak sia-sia. Setelah lulus SMA, Tia langsung melamar untuk masuk biara. Selanjutnya, sampai pada tahap kaul kekal, Sr. Tia senantiasa bekerja tanpa pamrih, sekali pun menghadapi tantangan dan godaan hidup, beliau tidak pernah menggugat Yang memanggil.

            Sejarah panggilan setiap orang unik. Begitu yang terjadi pada Sr. Tia. Dalam Injil hari ini disampaikan tentang panggilan para murid: Simon Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes. Mereka ditemui dan diundang oleh Yesus, ketika sedang melakukan tugas bekerja. Dari bacaan Injil, terkesan bahwa para murid langsung mengikuti tanpa menanyakan imbalan.

            Melalui permenungan, saya terhibur dan dikuatkan untuk menghayati panggilan hidupku sebagai suster religius, secara khusus suster Kongregasi Pasionis. Satu pertanyaan refleksi: bagaimana saya menyikapi setiap tantangan dan godaan dalam menghayati panggilan hidupku? Adakah saya menuntut imbalan? Atau apakah saya hanya mengeluh kepada Tuhan dan menggugat Dia?

 

 

Selasa, 13 Januari 2009

Bacaan Markus 1: 21b-28

 

            Pengajaran penuh wibawa

 

            Dalam dunia Bimbingan dan Konseling, dikenal istilah shock therapy.  Konselor menggunakan salah satu cara di dalam mempraktekkan salah satu model konseling yang dipandang cocok untuk klien. Salah satu pengalaman atau dalam bahasa Bimbingan dan Konseling dikenal dengan sebutan Kasus : Rina murid kelas SMA kelas X yang sedang menempuh pendidikan di sebuah sekolah negeri. Dari hasil tes dan wawancara bimbingan pribadi, Rina mengalami depresi ringan. Penyebab utama, Rina sedang mengalami konflik dengan ayahnya. Sang ayah menerapkan sistem “diktator” di keluarganya. Seperti halnya yang sedang terjadi dengan dirinya, Rina sejak masuk SMA, telah dianjurkan ayahnya untuk memilih jurusan IPS. Rina sendiri sebenarnya lebih suka menekuni Bahasa, terutama Sastra Inggris. Rina yakin dengan kemampuan berbahasanya. Konflik ini tidak terbuka. Sebab Rina sendiri takut pada ayahnya. Terutama karena Rina takut bila ayahnya kecewa, beliau akan melampiaskan emosi tak karu-karuan. Konselor sekolah mengarahkan Rina supaya berani mengatakan keinginannya yang sebenarnya kepada ayahnya. Namun Rina tetap takut. Maka Konselor sekolahnya menggunakan metode shock teraphy. Hasilnya? Walaupun belum maksimal, sekurang-kurangnya Rina telah berani menghadap ayahnya.

            Dalam Injil hari ini diperlihatkan, akibat setan mengisi dan menguasai manusia, sehingga menyebabkan manusia itu sendiri berteriak-teriak. Suara teriakan itu mungkin saja menyeramkan sehingga menimbulkan ketakutan orang di sekitarnya.

Rina dalam pengalamannya, telah terbelenggu takut. Melalui konselornya, Rina sanggup keluar dari rasa takut yang mengahntui gerak hidupnya.

            Pesan Injil hari ini mengajak saya agar senantiasa  merefleksikan sumber-sumber ketakutan yang membelenggu gerak hidupku.  Selanjutnya, saya memohon pertolongan Yesus untuk menghardik kuasa kegelapan itu, supaya kuasa Tuhan yang mengisi hidupku.

           

 

 

Rabu, 14 Januari 2009

Bacaan Markus 1: 29-39

 

            Mutu Pelayanan

 

            Air mata bercampur perasaan haru. Biasanya itu terjadi ketika mengiringi peristiwa tertentu, seperti kesukseksan. Namun bila air mata atau tanpa air mata tetapi perasaan bagai figura tanpa lukisan, karena memang perasaan lara tak terlukiskan dengan rangkaian kata-kata dan lukisan, tetapi mata yang mewakili. Itu pertanda kesedihan mendalam. Pengalaman itu, pernah saya alami ketika saya dan seorang sahabat-rekan suster akan “berpisah” komunitas. Makna persahabatan sungguh saya rasakan ketika kami bersama-sama berkarya di satu komunitas untuk satu periode masa kepemimpinan Provinsi di Kongregasi Suster Pasionis. Tentang makna persahabatan tidak perlu saya uraikan di sini, sebab setiap orang dapat memaknai sesuai penghayatannya sendiri.

            Sekilas pengalaman di atas, mengingatkan saya akan makna mutu pelayanan Yesus. Melalui Injil hari ini, seperti tertulis : “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.” (Mrk 1:38)

Seolah-olah Yesus menyingkir untuk menghindari kerumunan, keramaian, dan sorotan orang banyak yang terus mengikutiNya.  Bisa dikatakan demikian: Sesungguhnya Yesus bersikap sangat profesional. Ia tidak melulu melayani di satu tempat dan atau melulu mendampingi beberapa orang atau orang tertentu saja. Ia sadar dan melakukan misiNya dan pergi ke tempat-tempat lain.

Pertanyaan yang perlu direfleksikan: Sejauh ini, bagaimanakah mutu pelayananku? Beranikah saya pergi ke tempat-tempat lain yang membutuhkan pelayananku?

 

 

Kamis, 15 Januari 2009

Bacaan Markus 1:40-45

 

            Ingatlah         

 

Peristiwa penyembuhan yang dilakukan Yesus disertai pesan khusus dari Yesus sendiri kepada si sakit setelah sembuh : “Ingatlah, jangan memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapa pun.” Dan apa yang diperingatkan Yesus, malah sebaliknya, si sakit justeru menyebarkan apa-apa tentang peristiwa yang dialaminya kepada yang ditemui. Setiap kali merenungkan ceritera penyembuhan dalam injil terutama peristiwa penyembuhan yang paralel, muncul pertanyaan di benak saya begini : Mengapa Yesus memperingatkan supaya mereka yang telah disembuhkanNya tidak memberitahukan peristiwa keselamatannya kepada orang lain?

Dalam permenunganku: Apakah si penderita sakit karena girangnya, lalu lupa pada pesan Yesus? Selain itu, saya bertanya: bukankah sesuatu yang baik, perlu disebarkan supaya orang lain mengalami hal yang sama?

 

 

           

Jumat, 16 Januari 2009

Bacaan Markus 2: 1-12

 

            Iman dan upaya

 

Kala itu 1998,  tahun ekonomi sulit akibat krisis moneter, krisis moral bangsa, dan berbagai kesulitan melanda bangsa Indonesia seakan-akan melengkapi penderitaan batin dan fisik banyak keluarga. Seorang ibu berprofesi guru PNS berusia 47 tahun, ia dan suaminya  memiliki 3 putera-puteri yang sudah cukup dewasa. Di tengah-tengah sulitnya menikmati makna dan nilai kasih nyata, sang ibu tergolek lemah di kamar pasien rumah sakit milik pemerintah. Telah enam bulan lamanya beliau bergulat dengan penyakit ginjal yang menderanya. Hampir 10 kali beliau masuk dan keluar ruang khusus untuk cuci darah. Setiap kali usai pengobatan, ia senantiasa terlihat menangis dengan wajah kuyu dan lesu. Betapa tidak! Ibu yang rajin dan aktif di dalam kegiatan organisasi Wanita Katolik ini menekuni persekutuan Doa Karismatik Katolik di Keuskupannya. Beliau beserta suaminya yakin akan mukjizat-mukjizat. Dengan segala upaya jalan medis, beliau dan suaminya tekun berdoa memohon kesembuhan dari Tuhan. Ungkapan itu senantiasa diucapkannya, manakala para sahabat, kenalan, dan keluarganya datang menghibur dan turut berdoa untuk kesembuhannya.

Kisah di atas sungguh-sungguh nyata terjadi pada seorang ibu yang saya kenal lebih kurang 6 tahun selama saya bertugas di salah satu komunitas yang letaknya di paroki si ibu yang sakit ginjal tadi bertempat tinggal. Merenungkan peristiwa kesembuhan si lumpuh yang diturunkan orang melalui atap yang sengaja dibuka untuk tujuan mengantar si lumpuh agar berhadapan langsung dengan Yesus, mengingatkan saya pada pengalaman 11 tahun silam di atas. Melalui dua pengalaman iman di atas mengingatkan saya untuk menyelaraskan iman dan usaha manusia. Seperti si ibu yang sakit ginjal berupaya bertahan di tengah guncangan kesulitan ekonomi dan sakit yang dideritanya, demikian imannya memulihkan keadaan kesehatan dan kesejahteraan keluarganya. Suatu pertanyaan refleksi: Sejauh mana saya menghayati imanku di tengah kesulitan dan godaan dunia?

 

Sabtu, 17 Januari 2009

Bacaan Markus 2:13-17

 

            Diubah

 

            Seorang suster medior pernah sharing pengalamannya pada saya tentang seorang suster yunior di tarekat suster pasionis. Intinya begini: Suster yunior itu pernah masuk tarekat lain hingga tahap novis tahun pertama. Ia mengundurkan diri dengan alasan tidak sanggup mengikuti segala peraturan hidup membiara yang sedang ia jalankan. Tahun berikutnya ia melamar ke tarekat suster Pasionis dan diterima sebagai aspiran dan tahap-tahap selanjutnya tanpa ada penundaan. Setelah mengikrarkan kaul pertama, ia bertugas di salah satu komunitas. Ketika itu suster medior dan senior ini bersama-sama bertugas di satu komunitas. Suatu waktu, seorang suster dari tarekat lain, di mana suster yunior itu pernah menempuh tahap pembinaan hingga novis tahun pertama, mengomentari tentang suster yunior itu: Suster itu pernah masuk di tarekat kami, karena alasan tidak jujur maka ia kami kembalikan ke keluarganya. Apakah di tarekat anda ia menjadi baik?

Suatu komentar bernada pesimis. Seakan-akan seorang manusia itu makhluk mati. Bagai tembok raksasa tak dapat dipindahkan secara utuh. Atau bagaikan batu karang tak tergoncangkan oleh sentuhan ombak. Suster medior tadi, sempat bertanya-tanya pada rekan suster lainnya: mengapa suster yunior itu bisa diterima? Alasan apa yang menyebabkan para pemimpin dan pembina bisa menerima dia?

            Pertanyaan dan gunjingan di atas, hampir senada dengan pengalaman dan panggilan Lewi yang nama kerennya dalam bilangan para rasul dipanggil Matius. Urusan panggilan mengikuti Tuhan merupakan pengalaman dan perjalanan batin seseorang. Manusia tidak dapat menerka dengan pasti jalan Allah. Yang dinilai berdosa oleh manusia, jika Allah berkehendak, maka Ia dapat mengubahnya menjadi hampir setara denganNya, yakni kudus dan mulia. Lewi yang dianggap berdosa digunakan Yesus sebagai rekan kerja. Dari pihak Lewi, tidak ada penundaan ketika Yesus mengundang: “Ikutlah Aku”. Lewi langsung berdiri lalu mengikuti Dia.

Pertanyaan yang pantas direnungkan: Adakah saya terbuka dan mau berjalan mengikuti bimbingan Allah melalui orang-orang dan siapa saja yang ada di sekitarku?

==================================================================================================== 

Minggu, 4 Januari 2009

Bacaan Matius 2:1-12

 

            Bintang

 

            Bila membolak-balik beberapa tabloid, lokal dan nasional, sering tersedia kolom khusus untuk horoskop. Oleh pengasuh kolom ini, dimuat beberapa segi hidup manusia berkaitan dengan nasib-peruntungan seseorang. Terdapat sebuah anekdot tentang peruntungan seorang gadis (sebut saja Rina) yang saat itu sedang sendiri alias tidak punya pacar. Bintangnya meramalkan asmaranya: “hari sabtu, anda akan didatangi seorang laki-laki yang siap menyatakan cintanya pada anda.” Sejak pagi hari sabtu itu, Rina berdandan lebih rapi dan wangi. Sambil duduk santai di ruang tamu, sesekali Rina mengintip ke arah pintu masuk. Begitu terus….hingga menjelang senja. Yang dinantikan pun tak kunjung tiba. Maka Rina pun mulai mengomel pada sahabatnya dan mengatakan: “Dasar bintang sial! Katanya saya akan dikunjungi tamu special, tapi nyatanya hingga hampir malam, tamu itu tidak ada!” Sahabatnya hanya memandang sambil tersenyum kecil.

            Bacaan Injil hari ini khusus tentang bintang. Cahayanya sanggup membimbing tiga majus sehingga mereka rela meninggalkan negerinya dan melewati perjalanan berbahaya, namun karena keyakinan mereka akan kesaktian bintang itu, maka mereka sampai pada tempat dan Yang dicari, yakni Bayi Kecil yang baru lahir itu bersama Maria, ibu-Nya. Tiga majus itu memiliki sikap yakin akan suara hatinya, yang disimbolkan dengan bintang dan mimpi. Suara hari seringkali dikaitkan dengan suara atau peringatan dari Tuhan. Sekarang, bagaimana saya menyikapi tanda-tanda yang ditunjukkan Tuhan di dalam perjalanan hidupku?

 

Senin, 5 Januari 2009

Bacaan Matius 4:12-17

 

            Bagai Terang  terbit

 

            Antara tahun 1993-2001, waktu itu saya bertugas di dua komunitas yang letaknya di Kalimantan Barat. Kebetulan di dua paroki itu, Pastor Paroki melanjutkan kebiasaan baik dari para pioner yang terbiasa mengunjungi umatnya di stasi dan perkampungan.  Para suster terlibat dalam pelayanan ini. Medan yang ditempuh untuk menemui umat, kadangkala terasa sulit. Saya dan sebagian banyak suster tidak pernah mengeluh karena situasi alam dan umat setempat pada dasarnya adalah dunia nenek moyang kami. Biasanya bila telah kembali ke biara, kami menceritakan pengalaman kami kepada rekan-rekan suster pada kesempatan makan bersama. Pernah suatu kali, para suster tidak ikut serta di dalam jadwal rute pelayanan pastor paroki, lalu beberapa umat mulai menanyakan: “mengapa suster tidak datang?”  Pastor paroki langsung menangkap kerinduan umat akan kehadiran figur suster, yang walaupun perannya tidak sama dengan pastor, akan tetapi kehadirannya telah membawa wajah gembira bagi sebagian umat.

            Pada hari pertama setelah Hari Raya Penampakan Tuhan yang sering disebut Epifani ini, bacaan Injil menonjolkan terang Yesus melalui perbuatanNya menyembuhkan banyak orang sakit yang datang dan dibawa orang lain kepadaNya. Yesus tidak berdiam dalam singgasana ke-Allah-anNya, melainkan Ia berkeliling dengan membawa di dalam DiriNya kekayaan tersembunyi dan yang dapat dinikmati setiap orang yang percaya padaNya.

            Pada kesempatan refleksi dengan tuntunan pesan Injil ini saya mengatakan pada diri saya sendiri: “Kamu bukanlah Allah, namun kamu sanggup membawa Allah melalui kesaksian hidupmu yang serius sebagai pengikutNya.”

 

Selasa, 6 Januari 2009

Bacaan Markus 6: 34-44

 

            Roti hidup

 

            Sepuluh hari yang lalu, semua anggota suster Pasionis mulai dari aspiran sampai suster Provinsial berkumpul di suatu tempat untuk merayakan Pesta Keluarga Kudus. Tradisi ini telah berlangsung setiap tahun sejak lebih dari sepuluh tahun terkahir ini. Acaranya bervariasi: doa bersama, rekreasi terpimpin, bermain volley. Pada tengah hari selalu makan bersama.  Sumber makanan biasanya hasil dari pemberian setiap komunitas sesuai jumlah susternya, bisa diberikan kepada panitia kecil berupa uang tunai atau pun juga bahan makanan mentah dan makanan siap saji. Pada saat berkumpul semacam itu, saya merasakan kesatuan antar anggota sangatlah erat. Tidak terjadi kelompok komunitas si A makan sendiri, dan komunitas si B, C, D, dst.......makan sendiri-sendiri. Yang terjadi, bahwa semua anggota bebas duduk makan bersama siapa saja yang dikehendakinya. Juga tidak terjadi celoteh untuk mengkritik jenis makanan komunitas A, B, C,......kurang enak atau yang paling enak. Yang jelas, semua anggota merasakan dan menghayati citarasa kongregasi yang makan dari satu sumber.

            Hari ini Yesus menampakkan Diri sebagai Tukang Pengganda Roti. Melalui mukjizat ini, banyak orang menjadi penasaran dan senantiasa ingin mengikuti ke mana saja Ia pergi. Dan Yesus sendiri tahu motivasi mayoritas pengikutNya, maka kemudian dengan sindiran keras Yesus menegor mereka.

            Melalui permenunganku, satu hal yang patut direfleksikan, yakni : Sejauh mana saya menghayati motivasi murni dalam mengikuti kegiatan dan hidup berkomunitas?

 

 

Rabu, 7 Januari 2009

Bacaan Markus 6:45-52

 

            Berani

 

            Dalam suatu kesempatan bincang-bincang antar anggota komunitas, terungkap kata-kata takut. Perasaan takut itu manusiawi sekali. Yang kami bicarakan adalah perasaan takut bila sedang menumpang pesawat terbang. Suatu waktu terjadi musibah pada beberapa penerbangan domestik. Ada yang tergelincir waktu mulai take-off, ada yang tergelincir ketika baru mendarat, bahkan ada yang terjatuh sementara terbang di zona ketinggian udara. Seorang suster membuka perbincangan : “Para rekan suster, coba simak berita musibah kali ini.” Sambil meletakkan beberapa jarinya tepat di kolom koran yang memuat berita musibah pesawat. Inti berita itu dituliskan begini:

Jakarta, Kompas - Pesawat Boeing 737-400 milik Merpati Nusantara Airlines pecah ban saat melaju untuk tinggal landas di Bandar Udara Sultan Hasanuddin, Makassar, Senin (20/10). Adapun di Bandara Juanda, Surabaya, roda pesawat Wings Air terlepas menyusul pendaratan keras pada Senin siang. Akibat lepasnya dua roda utama sebelah kiri bagian dalam, para penumpang terguncang di tempat duduk meski tidak sampai terjatuh.

Kepala Perwakilan PT Merpati Nusantara Airlines (MNA) Wilayah Makassar Donny R Rurut menjelaskan, ketika pilot Capt Anthony Ajawaila membatalkan proses tinggal landas pesawat yang sudah melaju 400 meter, pilot belum tahu ban pesawat pecah. Pesawat kemudian dihentikan di ujung landasan pacu 31 dan 165 penumpang tujuan Timika, Papua, dilaporkan selamat.

”Saat pesawat melaju, pilot mendengar suara letupan. Karena merasa ada sesuatu yang tidak beres, pilot memutuskan membatalkan proses take-off. Ketika diperiksa, baru diketahui dua ban kiri pesawat pecah,” kata Donny. (Dikutip dari KOMPAS Selasa, 21 Oktober 2008 | 00:18 WIB)

            Usai mendengar berita itu, kami lalu berkelakar satu sama lain : “Bila malaikat pencabut nyawa datang untuk melaksanakan tugasnya, manusia tinggal berhadapan saja dengan si penjemput maut itu. Entah sedang tidur di kamar, entah sedang berdoa, entah sedang dalam perjalanan, dsb.......pokoknya suka-suka petugas saja.

            Hari ini Yesus dikisahkan  dalam sosok “Penguasa Bahari”, sebab dengan menghardik satu kali saja, amukan angin sakal segera reda. Para rasul telah berupaya dengan cara mereka sendiri, akan tetapi tidak membuahkan hasil. Mungkin saja rasul Petrus dan kawan-kawannya sungkan dan tidak mau merepotkan Sang Guru, sehingga mereka berjuang dengan segenap tenaga dan pengetahuan serta berbekalkan pengalaman beberapa rasul latar belakang hidupnya nelayan. Upaya telah tercurahkan, dan menyisakan kepekaan, lalu mereka berteriak-teriak ketika melihat Yesus yang tiba-tiba datang dibayangi kegelapan di tengah danau. Pertolongan segera didapatkan lantaran kemurahan hati Sang Guru sendiri. Ia yang tahu kecemasan, ketakutan, dan situasi para pengikutnya yang sedang dalam bahaya. Keselamatan terjadi ketika para rasul sanggup merasakan dan mengalami kehadiran Yesus, danYesus sendiri datang dengan mengatakan: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”  Lalu Yesus pun naik ke atas perahu, dan angin pun reda.

            Melalui renungan  ini saya merefleksikan beberapa hal. Yang pertama, bagaimana saya menyikapi segala kecemasan, ketakutan, dan berbagai bahaya di dalam diriku? Ke dua, kepada siapa saya meminta pertolongan utama? Bagaimana saya mengandalkan DIA?

 

Kamis, 8 Januari 2009

Bacaan Lukas 4:14-22a

 

            Hikmat

 

            Dalam dunia bermasyarakat umumnya, seringkali terdengar ungkapan yang mengandung pertanyaan di antara penganut Kristiani: “bukankah seorang nabi ditolak di tempat asalnya?”  Sebuah kalimat mengandung pertanyaan mendasar karena mendengar dan menyaksikan sendiri pengalaman orang lain yang tidak diterima baik di tempat asalnya. Sejak zaman masa muda Yesus, telah terjadi rasa penolakan akan hikmat yang dimiliki seseorang. Dan itu dialami seseorang di tengah kaumnya sendiri. Hingga zaman kini, pengalaman itu masih dirasakan oleh banyak orang yang sebenarnya memiliki pengaruh. Figur-figur yang berpengaruh seperti para pemimpin gereja lokal, para pejabat pemerintah daerah. Dalam kehidupan sosial masyarakat pasca pemerintahan orde baru, salah satu cara pemerintah mengembangkan suatu daerah diberlakukan sistem otonomi daerah. Maka di kalangan masyarakat daerah, ada sebutan pilkada (Pemilihan Kepala Daerah) yang diselenggarakan pemerintah daerah bagi masyarakat setempat dalam memilih sendiri calon pemimpinnya. Soal pilihan pada dasarnya bersifat bebas dan rahasia, sebab pada waktu penyelenggaraan pungutan suara, calon pemilih toh masuk ke ruang tertutup yang telah disediakan panitia. Soal calon pemimpin, diupayakan putera/puteri daerah yang dinilai memiliki kompetensi. Soal pilkada merupakan soal dunia politik hidup kemasyarakatan.

Lain lubuk, lain ikannya. Suatu pepatah kuno untuk menunjukkan dua dunia berbeda.

            Soal penolakan, merupakan soal umum dalam dunia manusia. Tidak luput di dalam hidup berkomunitas di biara. Seorang rekan suster (sebut saja Sr. Yuniora) cukup muda dan berpenampilan meyakinkan karena memang berlatarkan pendidikan sarjana. Dari segi itu ia juga dinilai memiliki wawasan cukup luas dan tinggi. Kriteria lainnya suster tersebut berpenampilan dewasa dan sanggup bertutur kata teratur dan jelas, sehingga terasa berwibawa. Beberapa bulan yang lalu, suster Yuniora setengah mengeluh menceriterakan sepenggal pengalamannya ketika menjalankan tugas untuk mensosialisasikan sebuah tugas dari pemimpin kepada rekan-rekannya. Reaksi yang diterima sudah cukup jelas, sebab teman-temannya berkata satu sama lain: “Ah......sekarang dia sok pinter ngomong, padahal kita mengenal dia selagi bersama-sama di pembentukan sebagai postulan dan novis. Ketika itu dia juga sering berbuat hal-hal yang aneh, seperti: cenderung berbohong, curang, lalai, yah.....pokoknya tak lebih dari kita deh......”

Dari perkataan-perkataan itu, dapat dimengerti, betapa rekan-rekannya kecewa dan belum bisa menerima Sr. Yuniora sebagai suster yang berhikmat, dari kurang baik menjadi baik, darikurang pintar menjadi pintar. Itulah hikmat Allah. Yang bodoh di depan manusia, dipakai Allah untuk mempermalukan orang-orang yang tak berhikmat.

 

 

Jumat, 9 desember 2009

Bacaan Lukas 5:12-16

 

            Menyembuhkan

 

            Indonesia, penyakit lepra atau kusta sering diidentikkan dengan penyakit kutukan, sangat menular dan mustahil disembuhkan. Akibatnya, tak jarang para penderita kusta dikucilkan baik secara sosial dan bahkan di tengah lingkungan keluarga sendiri. Padahal, selain dapat disembuhkan secara total, para penderita lepra juga dapat hidup normal di tengah masyarakat dan keluarga.

Demikian diungkapkan dr Handoko, Wakil Direktur Rumah Sakit Kusta Sitanala Tanggerang, dalam peluncuran Kampanye Peghapusan Diskriminasi dan Stigma Terhadap Penderita Kusta, di Jakarta, Rabu (11-06).

Dr Handoko mengatakan, selama belum menyerang syaraf, penderita kusta sesungguhnya dapat disembuhkan dan hidup secara normal berkat adanya obat yang disebut Multi Drug Therapy (MDT). Di Indonesia, obat pemberian WHO ini bahkan telah disalurkan secara gratis melalui puskesmas di seluruh provinsi.

Meski jumlah kasus lepra di
Indonesia tergolong tinggi, yaitu ketiga terbesar di dunia dan kedua di Asia, dr Handoko mengaku hingga kini penyebab pasti penyakit kusta belum diketahui. Gejala paling mudah mendeteksi penyakit ini adalah munculnya bercak di bagian tubuh tertentu yang tidak menimbulkan rasa apapun bila dicungkil atau diraba. (Kompas, Kamis, 12 Juni 2008, 11.00 WIB)

 

Secara pribadi, saya sendiri belum pernah bergaul dengan penderita penyakit ini. Akan tetapi saya pernah menemui eks penyandang sakit kusta ini di suatu tempat yang sengaja dibangun oleh yayasan tertentu untuk menampung dan merawat serta mendampingi mental mereka. Pernah juga saya mengenal seorang eks penyandang lepra ini ketika bertugas di salah satu komunitas dan kebetulan dia beserta keluarganya menempati salah satu rumah sederhana di pemukiman buruh pabrik. Tampilan fisiknya yang pernah digerogoti penyakit cukup berbahaya ini, tergambar ciri-ciri fisik yang tak menarik lagi: flek hitam, kerut-kerut kulit berbintik putih tak teratur, sorot mata penderita yang kurang berseri-seri, serta beberapa jari tangan yang sudah tidak normal lagi. Walau pun dari hasil pemeriksaan medis telah dinyatakan sembuh, namun masyarakat sekitar pun masih seringkali menjauhkan diri mereka supaya jangan sampai terjadi kontak fisik dengan si eks penderita. Saya pribadi, berusaha untuk kontak fisik normal dan wajar, walaupun sebenarnya di dalam hati juga, merasa kurang nyaman. Tetapi di sudut hati yang lain, saya memasrahkan kepada Tuhan, agar melalui Dia yang sumber kesembuhan segala penyakit melepaskan derita dari fisik anak-anaknya. Ini merupakan gambaran pengalaman minim saya tentang salah satu penderitaan sesama.  Seringkali saya membaca beberapa artikel yang kebetulan dimuat di koran atau majalah tertentu yang dituliskan untuk menyebarkan kasih mendampingi para penderita sakit kusta. Di kalangan Kristen tokoh-tokoh yang dikenal seperti Santo Fransiskus Asisi, Beato Damian, Para perawat dan karyawan di RS Lepra Beato Damian Lewoleba terutama dua srikandi Gisela Borowka dan Isabella Diaz Gonzales yang memang terkenal di Flores Timur. (Baca: HIDUP, 13 April 2008),

            Lebih dari itu, Yesus sendiri memberikan diri untuk menjumpai para penderita lepra yang diasingkan sesama. Ia membuat mereka bermartabat di mata sesama karena kesembuhan yang diberikan berkat iman kepercayaan pada perutusan Yesus sebagai Putera Bapa. 

            Melalui permenungan ini, saya mengambil makna terdalam dari pesan injil tentang penyakit yang ditakuti manusia ini. Mungkin jaman ini orang tidak perlu merasa kawatir berlebihan akan jenis penyakit ini, sebab dunia medis semakin canggih dibandingkan jaman Yesus dua ribu tahun lampau. Untuk itu saya menggali pertanyaan untuk melihat salah satu  jenis yang mungkin menyebabkan orang lain menjauhi diri saya.

 

Sabtu, 10 Januari 2009

Bacaan Yohanes 3:22-30

 

            Beri Kesempatan

 

            Seorang suster perawat yang ditugaskan tarekatnya untuk berkarya di sebuah Rumah sakit swasta dengan tugas kepala keperawatan. Delapan tahun silam, ia mengajukan kepada pemimpin tarekat agar tugasnya diserahkan kepada suster lain yang memang telah disiapkan atau dikaderkan untuk tugas tersebut. Beliau pernah menceriterakan kepada saya tentang pengalaman manis saat acara serah-terima jabatan itu bersama Ketua Yayasan, direktur rumah sakit, dan segenap karyawan rumah sakit. Dalam kata-kata sambutannya, beliau mengatakan demikian : “Bapak ketua yayasan, baak direktur, dan segenap karyawan rumah sakit yang saya hormati, sekarang waktu yang tepat bagi kita semua untuk melanjutkan pelayanan bagi para pasien di rumah sakit ini. Saya yakin setelah ini, rumah sakit akan lebih berkembang lagi baik dari segi finansial maupun dari segi pelayanannya. Secara terbuka saya katakan bahwa, ada banyak rekan yang mengatakan kepada saya mengenai kekawatiran mereka akan peralihan tugas ini. Namun saya menjawab secara tulus dan jujur bahwa, tidak perlu kawatir, sebab yang menggantikan posisi saya jauh lebih baik, bukankah kita menginginkan itu? Tepuk tangan hadirin sontak mengiringi kata-kata terakhir. Usai acara, ada banyak dokter dan karyawan yang menyalami saya dan mengucapkan : “Kata-kata yang suster ucapkan sungguh bagaikan kata-kata emas.”

Yohanes pembaptis yang mengakui identitas sejati dari Yesus dan menganjurkan para muridnya untuk mengatakan ini : “Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahuluiNy.” (Yoh 3: 28b)

Mengingat setiap tahun dan periode tertentu usia mendekati “puncak”, maka pengalaman nyata dari seorang suster perawat diatas yang senada dengan pilihan misi Yohanes Pembaptis, menguatkan saya untuk melakukan hal sama untuk perkembangan Tarekat dan Kerajaan Allah.

 

********************************************************************************************************************************* 

 

 

Minggu, 28 desember 2008

Bacaan Matius 2:13-15.19-23

 

            Cemas

 

            Hobi setiap manusia memang unik, termasuk juga menyukai hewan piaraan. Bila berkunjung ke biara-biara religius, seringkali secara tidak sengaja terlintas ada beberapa jenis hewan piaraan. Tujuannya pemeliharaannya pun bervariasi: ada yang ingin melestarikan jenis hewan tertentu lalu memasukkannya ke kurungan atau kerangkeng, yang lain lagi merasa senang memang karena binatang piaraannya dapat dijadikan “Obat” di kala jenuh, dsb…….Ini cerita ringkas salah satu sisi lain hidup sebuah biara yang termasuk memelihara binatang kesayangan. Di antara tujuh ekor anjing terdapat dua anjing kecil yang baru berusia 5 bulan dan sedang berperilaku lucu, nakal, dan cukup rajin belajar menyalak. Kadang-kadang agak berani menggonggong bila merasa terganggu keadaan sekitar. Ke dua binatang piaraan itu berjenis kelamin jantan. Anjing pertama memiliki bulu agak lebat, halus dan cukup panjang serta triwarna: marun, hitam dan putih, sehingga dinamakan Kiwi sebab permukaan warna dasar dari penutup kulitnya hampir menyerupai buah kiwi. Anjing kedua  memiliki bulu agak tipis berwarna hitam dan putih dan dinamakan Nezak. Biasanya dua anjing kecil itu bermain-main di pekarangan rumah biara. Baru-baru ini sekitar pertengahan desember 2008, menjelang magrib, ke dua anjing itu tidak terdengar kegaduhannya di pekarangan. Seorang suster (sebut saja: Sr.Kasih) yang memang senang memeliharanya mencari di sekeliling rumah, mulai dari pekarangan, hingga kebun, pun juga tempat-tempat yang biasanya sering digunakan untuk keduanya bermain-main. Namun hasilnya? Nihil. Sampai-sampai tiga tetangga pun didatangi untuk memperoleh informasi. Hasilnya? Sekali lagi, nihil. Suara sembahyangan magrib di Mesjid sudah tak terdengar lagi, namun Sr. Kasih tidak surut usahanya. Ia mengajak 4 suster untuk mencari di tempat berbeda. Bahkan 2 suster yang sekitar 2 jam sebelumnya ke luar rumah dan melalui pintu gerbang, ditelpon untuk dihimpun informasinya. Hasilnya? Seorang suster medior (juga penyayang anjing) yang dengan sukarela turut bergabung sebagai tim pencari anjing hilang mendapati dua anjing kecil itu sedang asyik mencari sisa-sisa makanan di tumpukan sampah yang letaknya di pinggir kebun milik biara.

            Sr. Kasih akhirnya mengatakan begini: “Pengalaman senja itu membimbing saya untuk dapat memahami dunia binatang, termasuk dua anjing kecil itu, pasti mereka merasa senang bila berhasil mendapat makanan dari pencariannya sendiri.”

            Anjing saja yang termasuk jenis binatang bila hilang, pemiliknya merasa cemas, apalagi bila itu terjadi pada seorang putera atau puteri dari pasangan ayah-ibu. Dari pengalaman di atas, pertanyaan yang dapat dijadikan refleksi:  Bagaimana saya bisa memahami posisi orang-orang di sekitarku sebagai figur yang berpengaruh dalam segala segi pendidikan?

 

 

Senin, 29 desember 2008

Bacaan Lukas 2:22-35

 

            Digerakkan Roh

 

            Sebuah pepatah tua mengatakan:

“Berakit-rakit ke hulu

berenang-renang ke tepian

Bersakit-sakit dahulu

Besenang-senang-senang kemudian.”

Di dalam hidup bermasyarakat umumnya, sering dijumpai seorang ayah atau ibu membuat pernyataan: “Saya tidak mau mati sebelum melihat anak-anakku berhasil”. Sebuah kalimat bernilai luhur dan mulia. Orangtua mana yang tidak bahagia bila menyaksikan anak-anaknya berhasil? Menikmati keberhasilan merupakan suatu kelahiran baru. Untuk memperoleh keberhasilan seseorang tidak jarang menghadapi dan melewati tantangan dan kesulitan. Itulah perjuangan yang membuahkan kebahagiaan.

Simeon bukanlah orangtua kanak-kanak Yesus. Dia datang bertepatan dengan pentahiran bayi mungil bernama Yesus. Kedatangannya itu diyakini karena digerakkan oleh Roh. Dikatakan di dalam Injil: “Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan.” (Luk 2:25-26).

Menyaksikan dan mendegar pengalaman-pengalaman orangtua yang sangat bertanggungjawab pada pendidikan dan masa depan anak-anaknya, menggerakkan hati saya untuk turut memikirkan dan bertindak bersama anggota kongregasi demi masa depannya. Perbuatan baik dan niat baik yang disikapi orangtua demi masa depan anak-anaknya itu berasal dari Allah, dan itu telah diyakini oleh Yohanes, rasul. “Barangsiapa berbuat baik, ia berasal dari Allah,….” (3Yohanes 11b). Muncul juga pertanyaan senada sebagai citarasa keanggotaan: Tarekat mana yang tidak bahagia bila anggota-anggotanya rukun dan sanggup menghadapi tantangan? Dan segala sesuatu yang baik Apa yang dapat dijadikan bahan permenungan? Sejauh mana usahaku dalam penantian untuk sesuatu yang bermanfaat bagi keselamatan sesama dan secara khusus untuk hidup bersama?

           

 

Selasa, 30 desember 2008

Bacaan Lukas 2:36-40

 

            Interaksi

 

Saya memiliki 9 saudara laki-laki dan perempuan dan telah berkeluarga serta tinggal jauh dari kampung halaman orangtua. Setiap tahun minimal satu kali mengunjungi orang tua dan menengok tanah kelahiran mereka. Salah satu dari saudara Lukas (nama samaran) saya sangat gembira bila dapat membawa serta isteri dan dua putera-puteri Dino dan Dini (juga nama samaran) mereka. Suatu kali ketika pesta emas pernikahan ayah dan ibu, kami berbincang-bincang ringan, lalu isteri Lukas mengatakan: “kami lebih suka berlibur ke kampung kakek-nenek dari Dino dan Dini, supaya mereka mengenal asal usul keluarganya serta mengalami kampung halaman ayah mereka.”

Saya bisa mengatakan ini merupakan sebuah keputusan yang sangat bagus yang telah mereka buat untuk perkembangan dua anak mereka. Seiring, perkembangannya, sejauh saya perhatikan, bila Dino dan Dini sedang berlibur di rumah kakek-nenek mereka di kampung, mereka dapat berinteraksi baik dengan teman-teman sebaya dan bisa menyapa para tetangga tanpa mempertahankan kebiasaan hidup sehari-hari mereka di kota.

            Dalam injil misa harian hari ke-6 oktaf Natal ini, dibacakan tentang riwayat amat singkat masa kecil kanak-kanak Yesus setelah kelahiranNya di kota, lalu dibawa kembali ke desa oleh orangtuaNya.

            Apa yang dapat dijadikan permenungan hari ini? Dari mengenal riwayat singkat masa kecil Yesus yang diasuh sangat baik oleh Maria dan Yosef, juga pengalaman menarik dari Dino dan Dini yang mencintai suasana desa asal ayah mereka, menguatkan kecintaan saya berinteraksi dengan orang-orang kecil dan sederhana.

 

 

Rabu, 31 desember 2008

Bacaan Yohanes 1:1-18

 

        Penghujung Tahun

 

            Yohanes, rasul dan penginjil membukukan pengalamannya selama hidupnya bersama Yesus Sang Guru. Dalam semua tulisannya tertuang pengalaman-pengalaman mistik dan dalam tentang kehidupan Sang Guru dan yang oleh Yohanes seolah-olah hendak mengatakan Yesus Kasih. Dalam prolognya yang dibacakan dalam misa hari ini, Yohanes yang menuliskan Injil di masa tuanya ini, dan mengungkapka refleksinya akan pengenalannya pada Sang Guru yang sejak semula telah ada bersama-sama dengan Allah. Yohanes sanggup merefleksikan pengalamannya bersama Yesus yang walaupun singkat, akan tetapi menemukan proses inkarnasiNya. 

            Kalimat di atas, saya tulis berdasarkan hasil rekaman saya dari renungan singkat dari seorang pastor pada kesempatan mempersembahkan misa hari itu di kapel sebuah biara. Merenungkan perikop injil Yohanes ini bagi seorang awam termasuk saya, cukup sulit. Namun saya katakan bahwa, injil ini cocok dibacakan untuk menghantar saya pada refleksi untuk menutup hari di akhir tahun 2008 ini. Menengok perjalanan panggilan hidupku selama tahun 2008 ini, saya mengalami hanya karena rahmat Allah saja saya sanggup berjalan dengan dua kaki untuk berjalan tegak bersama para rekan suster di dalam kongregasiku. Kalau dapat dikatakan begini: “Terang yang dimaksudkan Yohanes, rasul dalam pesan Injil hari ini, selalu menerangi setiap manusia yang berusaha bekerjasama dengan rahmatNya. Dan karena rahmatNya saja saya diselamatkan bersama segenap umat manusia.”

 

Kamis, 1 Januari 2009

Bacaan Lukas 2:16-21

 

            Permulaan Tahun

           

            Detik-detik pergantian tahun dari penghujung 2008 menuju permulaan 2009, untuk waktu Indonesia bagian Barat dirayakan bersama rekan suster di lingkungan biara kami, bagi saya cukup menarik. Doa khusus tutup tahun bersama yang meninggalkan tugas untuk saling mendoakan rekan-rekan suster sekomunitas. Sambil menunggu detik-detik pergantian tahun, kami mengisinya dengan menikmati jagung bakar dan sate ayam yang diolah oleh rekan-rekan suster dan para calon. Tidak terlihat bahwa seorang pun yang bermuka muram. Saya tidak dapat dapat menyelami batin mereka. Namun sekurang-kurangnya dari tampilan fisik itu saya menyimpulkan: “semua anggota komunitas bergembira.”  Dan puncak yang dinantikan pun tiba.  Setiap anggota saling berjabat tangan dan berpelukan, menandakan peneguhan untuk bersama-sama menjalankan tahun 2009.  Melalaui sms  saya menerima berbagai ucapan juga peneguhan dan kata-kata reflektif. Salah satunya dituliskan begini: “waktu terus berputar, namun kasih dan kesetiaan Tuhan tak akan pernah berakhir. Selamat memasuki tahun yang baru yang masih putih dan bersih.”

Kalimat terakhir yang menggelitik hati saya untuk bertanya: “Benarkah putih dan bersih? Bukankan tahun 2008, menyisakan banyak persoalan, baik personal maupun interpersonal?”

            Dari bacaan Injil hari ini, dibacakan tentang kunjungan para gembala di Betlehem pada bayi yang baru lahir.  Para gembala tidak berdiam diri, melainkan bergerak dan pergi membicarakan pengalaman mereka kepada setiap orang yang dijumpai, dan semua yang mendengarnya menjadi percaya. Selain itu para gembala memuji dan memuliakan Allah karena pengalaman mereka menjadi nyata selaras pewartaan malaikat yang menjumpai mereka ketika sedang berada bersama rekan-rekannya di padang menggembalakan ternaknya.

            Apa yang dapat saya refleksikan untuk memulai tahun 2009 ini? Hidup di tengah masyarakat dan dunia, saya tidak dapat menutup mata dengan keadaan perekonomian negeri dan yang dialami masyarat global. Inilah fakta kehidupan masa depan yang merupakan peninggalan dari krisis ekonomi global tahun 2008. Hidup di dalam biara yang dikenal hampir kebutuhan tersedia, sekurang-kurangnya makan dan minum cukup terjamin, bagaimana peranku untuk solider dengan yang berkekurangan?

 

 

 

Jumat, 2 Januari 2009

Bacaan Yohanes 1:19-28

 

            Pejabat Sementara    

 

            Suster Leni (bukan nama sebenarnya) dari salah satu kongregasi yang pernah kukenal, menjabat sebagai pembimbing novis atau disebut juga magistra novis. Jabatan yang dilimpahkan kepadanya memang sementara karena magistra terpilih sedang menempuh kursus di luar negeri dalam waktu 2,5 tahun. Selama menjalankan tugasnya, suster Leni melanjutkan dan menyesuaikan program magistra sebelumnya. Semua tugas terlihat dilakukan dengan sepenuh hati. Para novis tidak pernah menyangkal perannya sebagai magistra. Tibalah waktu untuk serah-terima tugas sebagai magistra, para novis seperti terkejut karena tidak menyangka bahwa Sr. Leni memang ditugaskan menjabat sebagai magistra sementara.  Sikap Sr. Leni sudah menunjukkan kerendahan hati. Tugas yang dilimpahkan kepadanya, diperankan dengan sungguh-sungguh, sehingga tidak menimbulkan kesan sebagai pejabat sementara. Dan ketika tiba waktunya, Sr. Leni pun dengan ringan hati menyerahkan tugasnya kepada suster magistra terpilih.

            Yohanes Pembaptis telah meninggalkan kesan berani, transparan, dan rendah hati. Pertanyaan bertubi-tubi dari beberapa imam dan orang Lewi, dan orang Farisi dijawabnya secara tulus dan jujur. Jawaban Yohanes kepada orang Farisi sedikit mengutip pada kitab Nabi Yesaya (Bdk Yes 40:3). Jawaban ini merupakan kulminasi peran Yohanes Pembaptis sebagai perintis jalan Tuhan.  Setelah segalanya baik, Ia memberikan tempat utama bagi Yang dinantikan itu.

            Apa yang perlu saya renungkan dari pesan injil hari ini? Sejauh mana saya tekun untuk senantiasa belajar rendah hati? Sikap Sr. Leni telah nyata di depan mataku, dan saya senantiasa ingat akan pengalaman ini, dan telah berperan membantu saya berani mengambil sikap rendah hati sedikit demi sedikit……dst……..

 

Sabtu, 3 Januari 2009

Bacaan Yohanes 1:29-34

 

            Pioner

 

            Pertengahan tahun 1974, tiga suster misionaris Kongregasi Suster Pasionis masing-masing berasal dari Belgia, Italia, dan Spanyol memulai karya Kongregasi di Kalimanatan Barat. Sebagaimana misionaris lainnya, ketiga suster ini juga mengalami kesulitan dan tantangan di dalam mengembangkan karya di tempat yang baru.

Seiring perjalanan waktu, selain usia bertambah, penyakit pun menimpa, sehingga dua suster telah pergi kepada Sang Pencipta. Dengan demikian menyisakan seorang suster lagi yang beranjak usia senja dan telah kembali ke negeri asalnya-Belgia.

            Hari ini, melalui bacaan injil, dikisahkan sosok pioneer tangguh, tulus, jujur, dan tegas. Dia berhasil merintis jalan bagi Yang akan datang. Itu tugas utama Yohanes Pembaptis. Merenungkan sosok pioneer, saya senantiasa terigat para misionaris yang dengan susah payah merintis dan membangun fisik dan non fisik demi menyadari tugas yang diemban adalah berasal dari Allah.  Mengerjakan tugas dari Kongregasi tidak selalu yang berskala besar. Tugas sebagai misionaris domestik juga merupakan peranserta dan kehendak Allah.

            Sebagai bahan permenungan: sejauh mana saya dapat menerima berbagai bentuk tugas dari atasan sebagai tugas yang berasal dari Allah?

 

 

 ********************************************************************************************************************************************

 

Minggu, 21 desember 2008 

Bacaan, 2Sam 7:1-5.8b-12.14a.16; Rm 16:25-27; Luk 1:26-38

 

            Terserah Tuhan

 

            Bacaan injil hari ini telah dibacakan tanggal 20 desember yang lalu. Namun inti yang hendak disaring sebagai makna di dalam hidup senantiasa memiliki pesan tersendiri.

Tuhan percaya pada setiap orang. Dia berkehendak baik pada setiap pribadi. Hanya pribadi yang sanggup memaknai hidupnya, dialah yang menjawab untuk bekerjasama dengan kehendak Tuhan. Pribadi yang dapat bekerjasama telah memberikan seluruh dirinya pada pribadi yang menawarkan “proyek” kerjasama. Untuk memperoleh hasil “proyek” yang baik, kedua belah pihak selayaknya membuat dan mengindahkan semacam kontrak yang isinya saling menguntungkan. Zaman telah berubah. Ketika Maria ditawarkan oleh Allah melalui malaikatNya, tidak ada lembaran kontrak bermeterai yang harus dibubuhi tanda tangan. Tidak ada pula laporan tertulis melalui media cetak dan elektronik. Bila kabar sukacita itu digenapi zaman globalisasi ini, maka seluruh insan di bumi ini akan segera bereaksi. Dan reaksinya mungkin saja bervariasi. Juga dari sisi positif-negatif.

            Kali ini saya tergerak hati menulis secara singkat hasil sharing seorang sahabat (sebut saja Sr. Blandina) sesama suster religius. Di sebuah paroki, terdapat sekolah yang benaung di bawah yayasan tarekatnya. Konon sekolah itu, sangat diminati dan terkenal mutu akademiknya. Namun seiring perjalanan waktu, sekolah itu mengalami penurunan mutu yang mengakibatkan banyak siswa dengan dipelopori orangtua mereka, harus memutar kemudi menuju ke sekolah lain yang dianggap lebih bermutu. Tanpa mencari penyebab yang jelas, ketua yayasan, kepala sekolah dan beberapa guru dirotasikan tugasnya. Pemimpin tarekat menunjuk Sr. Blandina untuk mengisi bangku lowong kepala sekolah. Ketika ditanyakan : “Mengapa suster pemimpin menunjuk saya untuk memegang tugas ini?” Suster pemimpin dengan penuh keyakinan menjawab: “Suster dapat menangani semua persoalan yang terjadi di sana”. Jawaban singkat itu, menjadikan Sr. Blandina terus menerus bertanya di dalam hati: “Menangani persoalan? Persoalan apa? Apa yang telah terjadi? Bagaimana cara saya menanganinya? Dst……dst……….” Hari terus berlalu dan berganti hari yang baru lagi. Pertanyaan di benak Sr. Blandina satu per satu terjawab dan dapat ditangani dengan baik.

Dari pengalaman Maria, Perawan dari Nasaret dan Sr. Blandina, saya dapat mengambil saripati pesan Tuhan hari ini. Pertama, Tuhan memiliki rencana pada setap pribadi sesuai kemampuannya. Kedua, hanya pribadi bersahaja yang sanggup melihat kehendak Allah. Ketiga, membutuhkan perjalanan waktu untuk melihat dan mengerti rencana Allah. 

 

 

Senin, 22 desember 2008

Bacaan, 1 Samuel  1:24-28; Luk 1:46-56

 

            Nyanyian dari hati

 

            Para musisi menampakkan jiwa seni mereka melalui karya dengan merangkaikan kata-kata menjadi kalimat yang indah, sehingga sanggup menggugah dan mengubah hidup orang lain. Stefanus Pongki Tri Barata vocalis group Jikustik, dalam wawancaranya dengan seorang penulis dan dimuat di Majalah Hidup baru-baru ini mengakui: “Saat menulis lagu jatuh cinta, bukan saya yang menciptakan perasaan jatuh cinta. Saya hanya menemukan perasaan itu.  Atau, kalau saya menulis lagu tentang alam, bukan saya yang menciptakan alam. Saya hanya menemukan. „ (Baca: Majalah Hidup No.50, 14 Desember 2008).

            Dari bacaan pertama hari ini, Hana yang bertahun-tahun tekun berdoa di Bait Allah dan akhirnya menuai hasil kesetiaannya. Kelahiran Samuel bagi Hana merupakan kerinduan karya agung Tuhan baginya. Maka kalimat indah terangkai penuh pujian ditujukannya bagi Tuhan. (1 Sam 2:1-10). 

            Maria, Perawan dari Nasaret setelah menerima kabar melalui malaikat Tuhan, melambungkan rangkaian kalimat indah dan penuh makna. Kata-kata penuh pujian pun ditujukan Maria bagi Tuhan yang tengah melakukan karya besar di dalam dirinya.

            Puji-pujian Maria yang dikenal juga dengan magnificat itu, dipakai oleh Gereja sebagai doa. Banyak anggota tarekat religius dan umat beriman, termasuk saya mencintai kidung Maria ini. Walau pun setiap sore dilantunkan, namun tidak menyebabkan rasa bosan melantunkannya. Bahkan, Magnificat itu, telah banyak dibuatkan oleh para musisi sebagai nyanyian yang dapat dinyanyikan dalam beberapa versi. Saya setuju ungkapan Pongki yang  dengan kesadaran menemukan pengalaman Spiritualitas, maka ia berujar mantap:  “Tanpa spiritualitas, karya tak akan abadi. Karena, karya yang abadi adalah karya yang memiliki roh. „

 

Selasa, 23 desember 2008

Bacaan, Lukas 1:57-66

 

        Sukacita

 

        Pasangan Piyu seorang personel group Band Padi ketika baru menyongsong kelahiran puteri pertama mereka di akhir tahun 2006, sebagai ungkapan kebahagiaannya menciptakan lagu khusus buat puteri mereka. Saya mengutip wawancara yang termuat di Kapanlagi.com

 

Kapanlagi.com - Senin, 4 September lalu, salah satu punggawa grup band Padi, Piyu mendapat kegembiraan saat menerima momongan pertamanya. Anastasia, istri Piyu melahirkan seorang anak perempuan dengan berat 3240 gr dan panjang 33 cm. Bayi cantik ini lahir dengan proses persalinan normal di RS Pondok Indah. Saat ditemui, Rabu (6/9), kedua orang tua baru ini terlihat bahagia bersama Anastasia Mikaela Satriyo, putri pertama mereka.

 

"Itu merupakan gabungan nama saya dan istri, sementara Mikaela berarti keajaiban atau anugerah dari Tuhan," jelas Piyu. Dan untuk menyambut kedatangan Mikaela, Piyu bahkan rela membatalkan konser Padi di Kuala Lumpur yang dijadwalkan pada 2 September.

 

"Dan saya tidak rugi sampai membatalkan konser itu. Bagi saya anak merupakan segalanya," tandasnya. Diakui Piyu sendiri, sejak kelahiran Mikaela ada sedikit perubahan sikap yang dia rasakan. Salah satunya rasa kangen, ia merasa tidak betah walau sekejap untuk tidak melihat anaknya.

 

"Sebagai orang tua tentunya kami ingin memberikan yang terbaik bagi anak kami. Paling tidak kami punya standar sendiri untuk memberikan pendidikan yang baik dan mengajarkan kehidupan bersosialisasi yang baik. Demikian juga untuk kedepannya dia harus dia mengikuti jejak ayahnya untuk menjadi pemusik tapi paling tidak dia tahu akan apresiasi musik," papar Anastasia yang berencana akan mengurus Mikaela sendiri tanpa babysitter sampai 3 bulan.

 

Kehadiran seorang bayi hampir selalu menjadi pusat perhatian sehingga membawa suasana sukacita di mana pun ia berada. Tidak mengherankan bila mendengar pasangan suami isteri yang telah lama menantikan kelahiran sang bayi, dan di tengah penantian panjang mereka mengalami sukacita karena akhirnya dikaruniai keturunan dambaan mereka. Dan itulah yang dialami pasangan Zakaria-Elisabet yang di masa senja mereka  baru memperoleh keturunan.

Sukacita yang dialami pasangan ayah-ibu ketika putera-puteri mereka lahir mengantarkan saya untuk semakin mencintai orangtua yang telah menurunkan saya sebagai salah seorang anak untuk turut memaknai sukacita kelahiran. Pertanyaan yang patut menjadi bahan refleksi: sejauh manakah saya memaknai dan menyikapi perasaan sukacita orang tua yang telah melahirkan aku?


Rabu, 24 desember 2008

Bacaan, Yes 62:1-5; Mat 1:1-25 

 

    Sang Terang

 

            Setelah empat pekan dibimbing dan dibina oleh Sabda Allah untuk menantikan Yang dirindukan, sekarang waktu yang dinantikan itu sedang dirayakan.

Bila melihat dan menelusuri perjalanan Rencana Allah untuk kelahiran Sang Mesias melalui orang-orang pilihanNya, seolah-olah terjadi stagnasi. Pada pekan keempat masa adven dalam bacaan perayaan Ekaristi, dikisahkan kelahiran keturunan Mesias seperti: Simson, Samuel, Yohanes Pembaptis. Putera-putera itu merupakan bukti kerinduan yang lahir dari pasangan saleh yang tekun menantikan seorang Mesias. Itulah tanda bahwa Tuhan tidak mengenal jalan buntu untuk menyelamatkan umat-Nya. Malam ini merupakan malam Sinar-Terang. Sinar-Terang yang tidak menyilaukan dan tidak menyakitkan mata, tetapi yang menerangi dan merasuk sampai ke hati manusia. Itulah sebabnya para gembala setelah disinar Terang lalu bergegas menuju arah Sinar itu.

            Dalam Injil malam ini, pesan Injil juga mengajak untuk mengarahkan hati pada Maria dan Yosef. Mereka berangkat dari Nasaret ke kota Yudea untuk memenuhi peraturan pemerintah yang memerintahkan untuk mencatat seluruh rakyat sesuai dengan kota asalnya. Hasil sensus menunjukkan bahwa Putera yang dikandung Maria adalah keturunan Daud dari Yosef. Sebagai Putera sulung, Yesus memiliki hak istimewa memperoleh warisan yang dapat dibagikan secara bebas. Banyak kaum mendambakan keturunan Daud yang muncul sebagai figur raja yang penuh wibawa dan kuasa berpenampilan: membawa gada dan borgol untuk menghukum setiap manusia yang telah menguah dunia ini dalam situasi tidak aman.

            Rencana Allah bukanlah rencana manusia. Allah datang dalam rupa manusia lemah, nista dan tak berdaya di mata dunia. Ia mencinta manusia tanpa syarat. Dalam kesempatan malam Gembira dan Sukacita versi bacaan liturgi misa malam Natal ini, saya tergerak hati memandang kandang Natal di Kapel biara untuk menyatukan hati bersama para gembala yang penuh sukacita dan bergegas-gegas mengayunkan langkah kaki mereka menuju Sinar-Terang itu. 

 

Kamis, 25 desember 2008

Bacaan, Luk 2:1-14


Memandang kandang dengan mata hati


Mari menjadi seperti Maria

Dalam kontemplasi, memandang dengan penuh kasih Anak Yesus dan hatinya mampu menerima misteri Tuhan.

Mari menjadi seperti Yosef

dalam kesunyian menerima kehendak Tuhan.

Mari menjadi seperti malaikat:

dalam kegembiraan, menyanyikan glória di surga dan di bumi. “kabar gembira: seorang anak telah lahir bagi kita”

Mari menjadi seperti

Sapi dan keledai:

Karena mereka telah melaksanakan tugasnya dengan hati penuh. Itulah yang baik melaksanakan tugas dengan tanggung jawab.Selalu melayani... .

Mari menjadi seperti bintang

Perjalanannya di tengah malam, dengan cara cemerlang dan menyakinkan. Mewartakan... Kabar gembira menjadi besar dan menuju tempat.

Menjadi seperti tiga Raja

Dalam harapan, percaya! Perjalanan mengikuti bintang, percaya menurut hati.

Akhirnya, mari menjadi seperti Yesus:

Rendah hati, kecil, miskin dan sederhana. Dalam kesatuan dengan Sang Pencipta, satu YA dalam hidup. Inilah aku...

Saya datang untuk melaksanakan kehendakMu

            Sehari menjelang Hari Raya Natal, saya menerima refleksi di atas  yang dikirimkan oleh seorang saudariku sesama suster Pasionis dan kini tinggal di luar negeri dan pernah bertugas puluhan tahun di Indonesia. Ketika membaca untaian kalimat per kalimat, kesan pertama saya berkata dalam hati: hasil refleksi di atas bermakna dan menggelitik hati. Terutama ajakan untuk menjadi seperti bintang. Saya cukup lama merenungkan pesan ini dan pada akhirnya saya bertanya: “Bukankah sang bintang memang bertugas memancarkan sinarnya di malam hari?” Ya. Bintang gemintang pada dasarnya tetap mengitari bumi. Bila disimak, sinar bintang akan tampak sesudah sang surya terbenam, dan langit dalam keadaan bersih-tanpa terselimuti oleh awan hitam.

            Dari hasil renungan saya mengatakan pada diri sendiri: untuk menjadi seperti bintang, memang diperlukan kesetiaan menunaikan pengabdian. Setia dalam keadaan gelap gulita, cerah, mendung dan hujan. Sehingga pada saat yang diperlukan, bagai bintang yang bersinar lembut dan menerangi wajah bumi supaya makhluk dapat berjalan di tengah gelap gulita.


Jumat, 26 desember 2008

Bacaan, Kis 6:8-10; 7:54-59

 

        Saksi

 

    Pesta Natal Tuhan seolah-olah terganggu karena pesta seorang martir.  Seorang penganut kristen yang dengan gigih memperjuangkan kebenaran imannya melalui kesaksian nyata hidupnya hingga ajalnya tiba. Gereja menghormati Stefanus sebagai martir pertama. Kristus yang hari lahirNya dirayakan kemarin, diikutinya secara total. Karena penyerahannya yang total itu, maka Stefanus dapat menyerukan :“Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah. „ (Kis 7:56).

            Melalui kesaksian Stefanus, apa kiranya yang dapat saya petik sebagai bukti kesungguhanku mengikuti Kristus? Menjadi seorang martir di jaman sekarang kemungkinan berbeda dari jaman gereja perdana. Dan pernyataan ini beberapa kali saya simak dari perkataan pastor dalam kesempatan homili di Gereja dan dalam suatu kesempatan bina rohani melalui rekoleksi dan retret. Para martir mengorbankan tubuh dan nyawa mereka demi iman. 

Di jaman sekarang ini, menjadi seorang martir kemungkinan tidak sampai seperti mengorbankan tubuh dan nyawa. Menjadi martir jaman sekarang, kemungkinan karena tekun dan setia pada kebenaran dan keadilan, kemudian menyebabkan ia ditindas, dan batinnya mampu menerima siksaan itu sebagai persembahan bagi Allah.

Pertanyaan bagiku: Bagaimana saya membatinkan nilai-nilai dari sikap orang di sekitarku agar menjadi nilai-nilai yang mengarah pada sikap sebagai martir jaman kini?


Sabtu, 27 desember 2008

Bacaan,1Yoh 1: 1-4


         Menggunakan Kesempatan baik

 

        Yohanes, Rasul dan penginjil ini dihormati Gereja hari ini. Baik Injil mau pun surat-suratnya secara pribadi saya terkesan dengan gagasannya yang tinggi tentang inkarnasi Sang Putera. Bila mengikuti perjalanannya sebagai seorang rasul, Yohanes sangatlah istimewa. Seperti dikisahkan dalam injilnya, beberapa kesempatan Yohanes bersama dua murid lainnya diikutsertakan Sang Guru untuk mengalami hal-hal istimewa; peristiwa di Gunung Tabor dan di Taman Getsemani.  Pengalaman mistik Yohanes ini tidaklah beku. Sebab, melalui tulisannya, saya yakin banyak jiwa terselamatkan karena iman akan Sang Guru yang dikasihinya itu.Salah satu bukti bahwa Yohanes sangat mengasihi Sang Guru dikatakannya begini: “Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus.” (1Yoh 1:3).

 

Pernyataan Yohanes ini menggugah saya untuk melakukan lebih giat lagi citarasa keanggotaan di dalam komunitas provinsi dan kongregasi yang akhirnya dapat dibagikan kepada setiap pribadi yang dilayani. Secara kebetulan tahun 2009, merupakan tahun komunio untuk  Keuskupan Malang. Suatu kesempatan juga bagi setiap anggota tarekat religius dan anggota Gereja untuk merefleksikan diri dan membenahi cara hidup komunal di mana pun bertugas.

 

 

 @@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@

Minggu, 14 desember 2008

Bacaan Yes 61:1-2a.10-11; 1 Tes 5:16-24; Yoh 1:6-8.19-28

 

            Mimpi vs Putus harapan

 

            Setiap orang hampir pasti pernah mengalami mimpi di saat tidur. Bila seseorang mengalami mimpi bagus dan menyenangkan, ketika terjaga dan atau bangun tidur, maka ia tersenyum sambil mengingat mimpinya. Lain persoalan, jika seseorang mimpi buruk, apalagi bila disertai suara teriakan histeris, maka ketika terbangun ia akan berkata : “untung, hanya mimpi!” Sebagian orang mengatakan mimpi merupakan bunga tidur. Sebab ketika bermipi, seseorang sedang berada di alam bawah sadar.

            Namun melalui bacaan pertama hari ini, Yesaya berani mengajak umatnya untuk bermimpi. Mimpi yang ditawarkan Yesaya seperti ini : “Orang-orang asing akan membangun tembokmu, dan raja-raja mereka, dan raja-raja mereka akan melayani engkau;sebab dalam murkaku Aku telah menghajar engkau, namun Aku telah berkenan mengasihani engkau.  Pintu-pintu gerbangmu akan terbuka senantiasa, baik siang maupun malam tidak akan tertutup, supaya orang dapat membawa kekayaan bangsa-bangsa kepadamu, sedang raja-raja mereka ikut digiring sebagai tawanan.” (Yes 61:10-11)

            Paulus, rasul mengajak bila tidur, supaya jangan seperti orang lain. Di waktu tidur agar tetap berjaga-jaga dan sadar. Lebih dari itu, di dalam bermimpi menurut Paulus, rasul ada tiga pokok yakni : pertama, sukacita dan ucap syukur. Dengan sikap bersukacita dan mampu mengucapkan syukur atas segala hal yang terjadi di dalam kehidupan merupakan suatu doa. Kedua, jangan padamkan Roh. Bila Roh senantiasa dibiarkan menyala di dalam diri seseorang, maka terangnya sanggup membias kegelapan sekitar. Dan Roh merupakan penggerak utama untuk melakukan segala sesuatu yang baik. Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.  Setelah melakukan segala sesuatu yang dianggap baik dan benar, ada baiknya membuat suatu tes agar sanggup melihat hasilnya. Bila ternyata hasilnya baik, hendaklah menjadi pegangan hidup. (Bdk. 1 Tes 5:16-24).

            Injil Yohanes mengukir kesaksian tulus dan jujur Yohanes Pembaptis, seorang perintis datangnya Mesias yang tengah dinantikan banyak orang. Perbuatan yang telah dilakukan Yohanes sudah mampu mengubah gaya hidup bangsa Yahudi waktu itu, maka tidak mengherankan bila ada utusan yang datang menanyakan kebenaran genapnya penantian bangsa Yahudi tentang figur Mesias. Mereka memimpikan Mesias yang akan datang seperti sosok nabi-nabi besar yang sanggup membebaskan penderitaan mereka.

            Pertanyaan yang perlu direfleksikan berkenaan dengan tiga bacaan hari. Beranikan aku bertindak untuk segala mimpi yang baik? Sebagai suster Pasionis, saya dapat bermimpi bersama sesama suster tentang makna yang terkandung di dalam Konstitusi dan yang harus dimanifestasikan di dalam hidup bersama. Perlu disadari juga bila sedang bermimpi, hendaklah dalam kesadaran manusiawi, sebab bila bermimpi terlalu tinggi menyebabkan kehidupan seperti di awang-awang dan tidak meletakkan kaki di dasar bumi. Untuk itu agar mimpi indah menjadi sesuatu yang real berkenaan dengan hidup bersama sebagai suster pasionis, saya harus melaksanakan tanggung jawabku sesuai program provinsi dan komunitas sebagaimana yang disepakati dan dimuat di dalam proyek komunitas masing-masing.  Itulah hal baik dan yang perlu saya teruskan sebagai pegangan hidup.

 

 

Senin, 15 desember 2008

Bacaan: Bilangan 24:2-7.15-17a; Matius 21 :23-27

 

            Tentang Kuasa

 

            Sementara mengajar di Bait Allah, para pemuka bangsa Yahudi tiba-tiba saja muncul dan menanyakan perolehan kuasa Yesus mengajar. Yesus menyikapinya dan mengadakan perundingan, dengan mengajukan pertanyaan yang apabila dapat dijawab dengan tepat maka Ia akan mengatakan juga kuasa yang diterimaNya untuk mengajar. Para pemuka bangsa Yahudi itu berterus terang mengakui tidak dapat menjawab pertanyaan Yesus. Itulah intisari Injil hari ini.

            Seorang suster yang bertugas sebagai Kepala Sekolah di sebuah sekolah pernah menceritakan satu pengalaman menarik berkenaan dengan Injil hari ini. Bapak Joni (nama samaran) adalah seorang guru baru  dan masih muda di sekolah itu. Sesuai dengan semangat mudanya, Pak Joni giat melaksanakan tugas sekolah yang diberikan kepadanya. Keunggulan Pak Joni terletak pada sikap inisiatif-proaktif-disiplin melakukan tanggung jawabnya sebagai guru seni tari dan seni suara.  Ibu Rena (nama samaran) adalah salah seorang rekan kerja Pak Joni di sekolah itu. Sepanjang sejarah Ibu Rena mengajar di sekolah tersebut, namanya terfavorit bagi murid-muridnya. Maklum saja, Bu Rena yang guru Bahasa Indonesia itu, sangat kreatif dan seringkali mengusung nama baik sekolah karena perolehan piagam dari berbagai perlombaan antar sekolah tingkat nasional. Dengan hadirnya Pak Joni, ketenaran Bu Rena seakan-akan memudar. Dapat ditebak, apa yang terjadi? Bu Rena mengajukan pertanyaan-pertanyaan seputar ijin Kepala Sekolah dan ijin orang tua murid untuk mengikuti kegiatan perlombaan. Pak Joni pun tidak kalah akal untu bertanya: “Kalau Bu Rena mengikut-sertakan murid pada setiap perlombaan, dari manakah ibu memperoleh ijin?” 

Ibu Rena pun berlalu meninggalkan Pak Joni tanpa mendengarkan jawaban pertanyaan.

            Sifat iri hati akan keberhasilan dan popularitas orang lain yang dianggapnya rival, tampaknya menjadi ancaman bagi para senior. Maka mereka tidak segan-segan mengajukan pertanyaan tentang hal-hal yang amat pribadi dan yang sebenarnya jawabannya sudah mereka mengerti.  Pertanyaan reflektif yang dapat saya renungkan : Adakah saya berani dan jujur mengakui keberhasilan orang lain?

 

Selasa, 16 desember 2008

Bacaan Zefanya 3:1-2.9-13, Mat 21: 28-32

 

            Dua sikap berbeda

 

            Persoalan singkat yang digambarkan Yesus untuk mengumpamakan disposisi batin seseorang melalui Injil hari ini mengingatkan saya pada 13 tahun silam. Waktu itu, saya bertugas mendampingi para siswi di asrama.  Sangat menarik mempelajari aneka sifat remaja putri bila diberikan tugas bekerja. Tugas yang sama biasanya akan diatur dan dijadwalkan secara bergiliran. Satu tugas yang paling dihindari banyak siswi yaitu membersihkan WC. Bukan rahasia umum lagi, WC umum yang tidak ada petugas khusus yang diupah, maka bila masuk ke dalamnya, calon pengguna bisa mual mendadak disebabkan bau tak sedap menyengat. Di asrama, siswi dilatih untuk membersihkan tempat mereka sehari-hari untuk termenung. Ada dua remaja putri : Yang pertama namanya Ria (bukan nama sebenarnya), ditugaskan membersihkan WC, dan ia menjawab: “Oke suster.” Lalu Ria mengerjakan tugasnya dengan seadanya. Ketika didapati hasl kerjanya belum beres dan kurang bersih, remaja putri itu tidak mau bersikap ramah terhadap suster pembimbingnya. Remaja putri yang ke dua namanya Ira (juga bukan nama sebenarnya), ditugaskan dengan tugas yang sama. Ia tidak menjawab dan sambil pergi Ira menggerutu. Namun ia nampaknya mengerjakan tugasnya dengan baik dan bersih. Lalu bersikap ramah terhadap suster pembimbingnya.

            Merenungkan pesan injil hari ini, muncul satu pertanyaan: bagaimanakah saya melakukan tugas dengan baik supaya dapat disebut tugas pelayanan?

 

Rabu, 17 desember 2008

Bacaan Kejadian 49:2.8-10; Matius 1:1-17

 

            Setia menunggu

           

            Dari sejumlah pengkotbah dan tafsir Kitab Suci mengenai perikop Kitab suci yang dibacakan hari ini, saya memahami intisari pesannya demikian: Sang Mesias yang dinantikan oleh semua bangsa itu lahir dari keturunan Daud. Sebagaimana diketahui bahwa Daud adalah seorang raja Israel besar dan termasyur. Ia termasyur oleh karena keahliannya dalam mengatur strategi perang, dan di masa mudanya gemar berburu sambil berprofesi sebagai gembala, dan sangat lihai menggunakan ali-ali untuk mengalahkan serangan binatang buas yang sewaktu-waktu dapat menerkam domba-dombanya. Yang paling dapat dinikmati oleh seluruh keturunannya yang taat beribadah, yakni jiwa seni Daud yang sanggup diapresiasikannya dalam bentuk syair dan tari. Dalam situasi krisis politik, krisis ekonomi global, krisis moral, dan berbagai krisis lainnya yang melanda negeri bahkan dunia seluruhnya, siapakah yang tidak merindukan sosok pemimpin seperti raja Daud?

            Setelah merenungkan tentang asal usul nenek moyang Sang Mesias itu, kiranya saya juga semakin mencintai asal usul tarekatku. Melalui jiwa pemimpin ibu Pendiri, saya telah menikmati perjuangan beliau yang berupaya mendirikan Kongregasi Suster Pasionis sehingga anggota-anggotanya dapat berlindung dan berkarya berkat perjuangan beliau. Keselamatan dari Tuhan bagi umatNya telah terjadi dua ribu tahun silam. Dengan bergulirnya sang waktu dari masa ke masa, manusia sesuai zamannya mencoba menjiwai karya keselamatan di dalam hidupnya. Gereja yang mengimani penuh karya keselamatan itu telah terpenuhi di dalam diri Yesus, bergerak membagikan warta keselamatan bagi sesama agar setiap orang terpanggil pada karya keselamatanNya. Memasuki hari hari pertama bagian kedua persiapan Natal ini, sejauh mana saya menyiapkan batinku untuk merayakan Natal Tuhan? Sebagai umat terpanggil di dalam persekutuan Gereja dan khususnya saya yang terpanggil di dalam persekutuan suster Pasionis, apa yang telah kusiapkan untuk menyambut Natal Tuhan? Setelah saya diberi kesempatan rekoleksi, misa harian, sharing pengalaman iman, bacaan rohani, pendalaman tema adven, dll……bagaimana saya menerjemahkan karya keselamatan di dalam sikap dan tanggung jawabku sehari-hari?

 

Kamis, 18 desember 2008

Bacaan Yeremia 23:5-8; Matius 1:18-24

 

            Discernment

 

            Merenungkan bacaan injil hari ini tentang keputusanYusuf  saya teringat ketika mengenal kata discernment.  Pertama kali saya mengenal istilah ini, ketika masih dalam pendidikan di novisiat. Discernment sangat cocok dipelajari dan dipakai sebagai jalan untuk mengambil suatu keputusan, sebab seseorang akan dibimbing oleh hati nuraninya sendiri. Ketika sedang dalam proses discernment itu, kadangkala seseorang didatangi mimpi berisi pesan penting yang menyangkut pergulatan yang sedang dihadapinya. Atau kata-kata berisi nasihat dari orang lain yang diyakini berasal dari malaikat. Dengan mengikuti langkah-langkah dan proses yang disertai dengan doa dan keheningan, dia dapat melihat dan menilai dengan jernih persoalan baik buruk yang sedang dihadapinya. Dengan demikian  bila mengambil keputusan sesuai hati nuraninya, hatinya akan bahagia dalam keputusannya. 

            Suster religius pasionis, dalam masa pembinanaan telah dilatih untuk mengambil setiap keputusan sesuai hati nuraninya. Hal-hal penting berkaitan dengan masa depannya yang panjang, seperti mengambil keputusan dari setiap tahap; tahap postulat, tahap novisiat, tahap yuniorat, bahkan medorat, seniorat sampai….. kembali kepada Yang Maha Kuasa. Pada dasarnya, setiap manusia perlu discernment atas perjalanan hidupnya, entah keputusan menyangkut persoalan kecil sekalipun, ia perlu bermenung sejenak agar memperoleh keputusan tepat.

            Dalam Injil hari ini, Yusuf  menjalani discernment. Yusuf dikenal karena sifat-sifatnya: tulus, lembut, taat, dan berbuat sesuai suara hati nurani. Oleh karena perpaduan potensi subur dan melakukan yang baik, maka kehendak Tuhan terlaksana di dalam dirinya yang pada akhirnya menyediakan jalan bagi peziarah menuju Bapa kekal.

            Berabad-abad sebelumnya, Yeremia telah meramalkan bahwa suatu saat Tuhan akan  menumbuhkan Tunas adil bagi Daud. Sesuai silsilah Yesus Kristus yang dicatat Matius dan dibacakan kemarin, telah ditemukan garis keturunan Yesus yang pada turun dari Daud. Tunas adil itulah yang diimani dan terpenuhi di dalam Yesus yang dilahirkan Maria sebagai isteri Yusuf.

            Apa saja yang perlu diambil dari pesan dari dua bacaan di atas? Pertama: Tuhan memberikan waktu bagi manusia untuk melakukan discernmen yakni saat mempertimbangkan perkara baik-buruk. Kedua: Manusia berinisiatif memutuskan perkara sesuai hati nuraninya sendiri. senantiasa menunggu saat yang tepat untuk

 

Jumat, 19 desember 2008

Bacaan ; Hak 13:2-7.24.25a; Luk 1:5-25

 

            Kerinduan

             

            Isteri Manoah dan Elisabet yang hidup dalam masa penantian akan dikaruniai anak, menyerahkan seluruh hidupnya pada Tuhan. Dua perempuan ini juga sama-sama korban system budaya bangsanya yang memandang perempuan mandul sebagai orang yang dikutuk Tuhan. Sebagaimana dituliskan dalam dua bacaan hari ini, isteri Manoah dan Elisabet sudah lanjut usia. Harapan untuk melahirkan keturunan sudah pupus. Lebih dari itu, harapan untuk melanjutkan garis keturunan Mesias tidak mungkin lagi. Akan tetapi dua pasangan ini pasrah total pada kehendak Allah. Maka, ketika dalam keadaan berpasrah diri itu, mereka dapat melihat kehendak Tuhan melalui malaikatNya yang kelak akan terjadi pada diri mereka. Ada dua perbedaan menyolok yang dapat dilihat tentang pemberitaan ini. Pertama, bila di dalam bacaan pertama, kita membaca tentang kabar gembira disampaikan malaikat secara langsung kepada isteri Manoah, maka melalui bacaan Injil, kita membaca malaikat Tuhan berbicara kepada Zakaria, suami Elisabet. Isteri Manoah langsung percaya, sebaliknya Zakaria masih ragu-ragu. Terlepas dari perbedaan itu, toh akhirnya penantian mereka menjadi berwujud dengan lahirnya Simson bagi Manoah dan isterinya, Yohanes (Pembaptis) bagi Zakaria dan Elisabet.

            Berdasarkan iman keluarga yang hidup dalam zaman purba kala itu, memunculkan semangat pengharapan bagi keturunan umat beriman selanjtnya. Harapan akan sesuatu yang dirindukan dengan sikap pasrah total pada kehendak Allah. Di zamn modern pun semangat penantian itu tetap aktual bagi orang yang menantikan penuh harap. Wujud penantian itu pernah dialami oleh sepasang suami-isteri. Bermula dari

Gina isteri Tino (bukan nama sebenarnya), memohon pada Tuhan agar mereka dikarunia keturunan. Tanpa sengaja, ketika saya akan menjalankan retret, saya kirim sms yang intinya sekedar memberi info saja bahwa saya akan retret tujuh hari dan menanyakan: “Gina, saya mau doakan kamu. Kamu minta apa?” Gina membalas sms saya: “Saya mau supaya Tuhan beri kami keturunan”. Selama retret, di dalam doa-doa, saya pun menyampaikan ujud itu bagi Grace dan suaminya. Itu terjadi 14 bulan yang lalu. Waktu pun berlalu. Tiga bulan berikutnya, saya menerima sms sukacita dari Grace yang mengabarkan dirinya sedang mengandung. Bulan demi bulan Grace sangat rajin menginformasikan perkembangan janinnya pada saya, hingga menjelang persalinan. Dan anak yang dinantikan itu memang lahir dan sehat. Kini telah berusia lima bulan.

            Melalui perbuatan nyata dari perhatian Allah ini, apa yang dapat dipetik sebagai bahan permenungan? Kiranya ada satu hal yang perlu direfleksikan: apa yang dapat menjadi kerinduanku supaya saya dapat mengandung dan melahirkan sesuatu yang berguna bagi sesama?

Seorang suster tidaklah bertugas untuk mengandung dan melahirkan layaknya perempuan pada umumnya. Namun, yang dapat dimohonkan kepada Tuhan agar di dalam rahim

Saya juga terkandung sifat-sifat seperti : sukacita, damai, adil, semangat berkorban, ugahari, dan segi-segi kebajikan lainnya agar dari padanya karya keselamatan Allah terpenuhi di muka bumi.

 

 

Sabtu, 20 desember 2008

Bacaan Luk 1:26-38

 

            Tradisi Gereja mendoakan doa Angelus atau doa malaikat Tuhan dan Doa Salam Maria mengingatkan saya juga, memiliki akar yang kuat. Dan bacaan Injil hari ini telah mengingatkan saya untuk merenungkan peristiwa awal sejarah keselamatan yang terjadi pada Perawan Maria.

            Berkenaan dengan jawaban “ya” perawan dari Nasaret itu, saya teringat pada sharing seorang pemimpin biara, ketika terpilih sebagai pemimpin. Saya akan mencatat ringakasan hasil sharing beliau. “Reaksi pertama yang muncul, rasa terkejut yang dibatinkan: “mengapa hal ini terjadi pada saya?” Suatu pertanyaan yang memiliki dasar, mengingat ada sekian banyak suster senior yang memang layak menerima tugas itu. Pertanyaan itu pun saya lontarkan pada pemimpin tertinggi. Sebagai jawaban, beliau justru memberikan kalimat demikian : “lihatlah.....betapa para saudarimu menginginkanmu untuk melanjutkan tugas ini. Bukankah suara mereka adalah wakil Allah?”  Dengan kata-kata bernada peneguhan ini memampukan saya menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai pemimpin, yang walaupun masih dalam pergulatan bagai rangkaian pertanyaan tak berujung. Melalui tugas ini, saya menerima kesempatan dari Allah untuk untuk menghayati kaul-kaul kebiaraan terutama kaul ketaatan. Beliau adalah seorang suster yang dikenal oleh rekan-rekannya berpenampilan sederhana bersahaja. Tampilan tutur kata, ide-ide, serta cara berkomunikasi dengan lawan bicara menunjukkan gaya simpel yang mengundang simpati mendalam.

            Melalui sharing itu saya memetik hal ini, bahwa ada kesamaan sikap Maria dan Suster pemimpin biara tadi, yakni sama-sama rendah hati dan senantiasa membatinkan tugas yang dipercayakan Allah. Sikap dua perempuan istimewa ini meneguhkan juga benih keibuan saya sebagai suster yang juga berstatus perempuan.

 

 

@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@

 

 

Minggu, 7 desember 2008

Bacaan Yes 40:1-5.9-11; 2 Petrus 3:8-13; Markus 1:1-8

 

            Tugas Mewartakan

 

            Dalam kitabnya, Yesaya mewartakan berita gembira yang bersumber dari Allah sendiri.  “……..lihat mereka yang menjadi upah jerih payah-Nya ada bersama-sama Dia,…….”(Yes 40,10). Pewartaan Yesaya ini dikhususkan bagi mereka yang di dalam pembuangan.

            Tentang pertobatan ini, rasul Petrus juga mengatakan demikian : “Tuhan tidak lalai menepati janjiNya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” (2 Ptr 3:9)

Setiap insan  pernah mengalami susah-senang. Dan tentang pengalamannya mewartakan pertobatan, Yesaya melewati susah dan derita, sebab dengan memberi berita pengharapan bagi orang-orang yang di pembuangan menuntut pertobatan terlebih dahulu dari si pewarta. Dan Yesaya sendiri telah disucikan oleh Allah (Bdk. Yes 6:6-7).

Injil hari ini juga menyerukan pertobatan yang diserukan oleh Yohanes Pembaptis sebagaimana dinubuatkan Yesaya (Bdk. Yes 40:3-4). Seruan Yesaya itu telah genap di dalam diri Yohanes Pembaptis yang menyerukan pertobatan sebagai tugas utamanya.

            Sebagaimana banyak pendengar Yesaya dan Yohanes pembaptis menjadi percaya dan dibaptis, apa yang dapat saya lakukan untuk pertobatanku? Kiranya melalui usaha setiap saat untuk memperbarui gaya hidup dan menyelaraskan sikap dengan tawaran Tuhan yang dituangkan dalam peristiwa setiap hari. Pertobatan yang sejati menuntut keuletan pribadi sebab pertobatan sejati itu sungguh-sungguh berangkat dari inisiatif diri sendiri. Untuk itu, Tuhan dengan sabar menunggu sampai pertobatan sejati itu dimulai dari seorang manusia, karena memang Ia tidak menghendaki seorang pun binasa.

 

 

Senin, 8 desember 2008

Bacaan Lukas 1:26-38

 

            Sukacita

           

            Hari Raya Maria dikandung tanpa dosa hari ini di dalam Injil, pesan yang disampaikan Tuhan melalui Gabriel merupakan kabar gembira dan berita akbar sehingga mengakibatkan Maria menjadi bertanya pada dirinya : “Bagaimana hal itu mungkin terjadi?...”

            Untuk berita akbar dan penuh sukacita yang terjadi di dalam diriku dapat saya sharingkan di sini berkenaan dengan penerimaan tugas baru oleh kongregasi. Salah satunya, ketika disampaikan oleh pemimpin bahwa saya dipercayakan untuk bertugas sebagai magistra postulan. Saat mendengar berita penugasan itu, saya terkejut, dan sambil bertanya dalam hati : Mengapa saya yang dimintai kesediaan? Apakah sudah tidak ada suster lain yang lebih mantap untuk posisi ini? Sejenak dan bahkan untuk beberapa waktu saya dan suster pemimpin berdialog dan seperti sedang terjadi tawar menawar tentang tugas itu. Nampaknya suster pemimpin mengerti akan segala kecemasanku, maka beliau memberikan kekuatan melalui kata-katanya: “tidak perlu suster takut dan cemas. Bila Tuhan berkenan akan tugasmu ini, Ia senantiasa menyertaimu dengan berkatNya. Dan yang terpenting, suster harus terbuka dan percaya akan Roh Kudus.” Mendengar kalimat bernada peneguhan itu, hati saya menjadi kuat. Pada akhir dari pembicaraan, saya dapat menjawab “ya” untuk tugas baru itu.  Seiring menjalankan tugas baru itu, saya senantiasa percaya akan penyertaan rahmat Tuhan sebagaimana dikukuhkan oleh suster pemimpin untuk bekal perjalanan tugasku.

            Sebagaimana hari ini melalui Injil Maria mengikrarkan “ya” untuk tugas besar dari Allah, kiranya mengukuhkan semangat “ya” saya dalam setiap tugas, entah tugas kecil maupun tugas besar.

 

Selasa, 9 desember 2008

Bacaan Yes 40:1-11; Mat 18:12-14

 

            Pemelihara Sejati

 

            Yesus dalam perumpamaan tentang domba yang hilang, mengisyaratkan tentang model seorang pemimpin ideal. Mungkin saja suara nyaring tanda protes dari 99 yang ia tinggalkan di padang itu memekkan telinga, tidak ia hiraukan. Yang terpenting baginya saat itu, ia mencari seekor yang tersesat itu. Setelah menemukannya, ia akan menuntunnya kembali ke padang untuk bersama-sama merumput dengan kawanannya.

            Sebelas tahun lalu pernah saya alami pengalaman ini. Seorang guru kelas, sebut saja Marta pernah datang pada saya untuk menyampaikan rasa jengkel mengenai kebijakan yang dilakukan direktur sekolahnya bagi Rudi, (nama samaran) seorang siswa di kelas ia mengajar. Padahal Rudi menurutnya siswa yang bobrok kelakuannya dibandingkan teman-teman sekelasnya. Rentetan argumen rapor perilaku Rudi yang bila dikategorikan dengan nilai rata-rata D, meluncur tanpa titik-koma dari bibir guru tersebut. Saya yang mendengarnya angguk-angguk kepala dan kadang-kadang geleng-geleng kepala. Dengan penuh kesadaran saya mengangguk-angguk dan menggelengkan kepala bukan pertanda setuju dan tidak setuju, melainkan karena saya dipaksakan harus senam tanpa irama. Dari litani perilaku jelek siswanya itu, dapat saya simpulkan, bahwa Marta meminta dukungan saya untuk ikut-ikutan menambahkan daftar kejelekan Rudi dengan maksud mengubah kebijakan direktur sekolah. Akhir dari pembincaraan  cas cis cus tadi, saya berujar : “Direktur pasti punya maksud baik bagi Rudi”.  Marta pun pergi masih tetap dengan kerutan kening pertanda tidak puas.

Belakangan baru saya mengerti alasan direktur sekolah, mengapa ia rela membela Rudi yang perilakunya bobrok. Tidak lain karena beliau ingin membimbing Rudi dari perilaku jelek berubah menjadi baik. Dan itu berhasil dilakukan. Sekarang saya kembali angguk-angguk kepala dan kali ini tentu saja penuh kesadaran karena saya setuju dengan kebijakan direktur sekolah itu. Beliau telah berusaha mencari domba yang sesat dan berhasil menuntunnya ke jalan yang benar dan domba itu bersatu dengan kawanannya.

 

 

Rabu, 10 desember 2008

Bacaan Matius 11: 28-30

 

            Rela menanggung

 

            Inti pesan Yesus hari ini yang pertama adalah beban. Dan yang kedua adalah tenang. Apa hubungan beban dan tenang? Saya teringat pada untaian pengalaman kasih seorang suster di dalam komunitas kecil. Sebut saja suster Puspitasari yang biasa di panggil Puspita. Suster ini berwatak lembut dan rendah hati. Tugas pokok suster Puspita di komunitas sebagai guru di sekolah paroki. Dengan tugasnya mengajar sebenarnya sudah cukup berat beban yang harus ditanggungnya. Disamping tugas mengajar, suster Puspita terlibat di dalam tugas pelayanan pastoral di paroki bersama suster-suster di sekomunitasnya. Belum lagi pekerjaan di rumah seperti piket memasak, membersihkan rumah dan pekarangan, dan mendampingi anak-anak yang dititipkan orang tua yang sibuk bekerja. Semuanya dikerjakan suster Puspita dengan rasa riang gembira. Suster Marga (lengkapnya Margawati) acap kali absen di dalam menjalankan tugasnya. Saya juga ikut-ikutan nakal menambahkan beban di pundak suster Puspita dengan bermanja-manja membuat dalih sibuk untuk urusan pribadi. Dan oleh pemimpin komunitas (piko), posisi lowong seringkali diisi suster Puspita. Bukan hanya kalau ditugaskan oleh piko atau dimintai oleh suster lain menggantikan tugasnya, namun atas inisiatif kerelaan hati suster Puspita menjalankan tugas komunitas. Singkat kata, suster Puspita selalu siap sedia. Hampir tiga tahun saya hidup bersama suster Puspita. Selama itu, belum pernah saya mendengar keluhan dari bibirnya, pun juga tiada kerut di wajahnya yang memberikan isyarat suster Puspita menolak segala perkara yang terjadi di dalam hidupnya. Mengalami hidup bersama suster Puspita yang lembut dan rendah hati, saya dengan penuh kesadaran tergerak mencontoh perilakunya. Pantas dan layaklah suster Puspita diberi nama Puspitasari sesuai arti namanya “bunga yang harum semerbak”. Dengan menanggung tugas-tugas komunitas, ia telah memikul kuk yang dipasang di pundaknya yang pada akhirnya mengharumkan nama komunitasnya sendiri.

Melalui refleksi hidup bersama suster Puspita ini, telah terjadi hubungan antara beban dan tenang. Suster Puspita telah rela menanggung beban, komunitas yang menikmati ketenangan. Lebih dari itu masih ada sesama suster dan orang lain yang meniru kebajikannya itu.

 

Kamis, 11 desember 2008

Bacaan Matius 11:11-15

 

            Memuji

 

            Aku berkata kepadamu: “Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis, namun yang lebih kecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya….” (Mat 11:11). Kalimat bernada pujian ini dilontarkan Yesus bagi Yohanes Pembaptis bukan tanpa alas an. Alasan utama karena mengingat segala sesuatu yang telah dikerjakan Yohanes sebagai persiapan menerima Kerajaan Allah. Berbicara tentang Kerajaan Allah ini dari sudut Kitab Suci dan teologi bagi saya pribadi bukanlah persoalan gampang, sebab dengan menyadari belum pernah kuliah di jalur ini. Walau demikian ada baiknya bila saya membagikan hasil permenungan diri dari hasil refleksi pengolahan hidup. Atas arahan pembimbing, saya menjalankan pengolahan hidup. Langkah pertama hingga langkah ke lima saya mengikuti tahap demi tahap. Walau semuanya selesai saya kerjakan, bukan berarti saya sudah selesai mengolah diri. Dalam perjalanan waktu nyatanya saya perlu mengolah diri terus menerus, sebab dari pengalaman yang dilalui, tidak semuanya berhasil. Setelah sampai pada langkah ke lima, saya menemukan dan mengolah aspek vulnerable (rapuh) dan aspek germinatif (mendukung/subur) di dalam diri saya. Beberapa aspek vulnerable yang berhasil saya olah dan beberapa aspek germinatif yang berhasil saya kembangkan, lalu saya mampu bagikan kepada komunitas, saya merasa sangat bahagia. Pada saat itulah saya mampu melihat intervensi Allah dan saya dapat berucap : “Kerajaan Allah terjadi pada diriku”.

            Berangkat dari pengalaman di atas, saya beralasan memuji Pembimbing saya yang telah menyiapkan jalan untuk saya mengembangkan diri demi masa depan yang abadi berjalan sesuai jalur pilihan hidup, sebagai suster religius pasionis.

 

 

Jumat, 12 desember 2008

Bacaan Matius 11:16-19

 

            Serba salah

 

            Pernah saya membaca sebuah karya tulisan (penulisnya: anonym) dalam kolom curhat yang dimuat di berita paroki sebuah keuskupan. Intinya tentang litani kesalahan pastor. Seingat saya kalimat-kalimatnya seperti ini: Kalau pastornya ganteng, dikomentari : Ah….sayanglah tidak kawin, sehingga tidak punya keturunan. Kalau pastornya jelek dikomentari : “Memang pantas pilihan hidupnya menjadi selibat, biar habis keturunan jeleknya”. Kalau pastornya ramah dikomentari : “Tuh….pastornya SKSD (Sok Kenal Sok Dekat)”. Kalau pastornya pendiam dikomentari : “Walah……..pastornya kuper alias kurang gaul”. Dan masih banyak lagi rentetan kalimat kekurangan pastornya.

            Injil hari ini seakan-akan menggambarkan litani serba salah yang ditujukan kepada Yesus oleh orang Yahudi dan kaum Farisi. Yesus mengumpamakan mereka seperti anak-anak yang duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung (bdk Mat 11:16-17). Kalau dalam bahasa anak muda dapat diumpamakan nggak nyambung. Atau yang ditanyakan A jawabannya B.

            Pesan Injil ini mengingatkan saya lagi-lagi pada pola hidup bersama di dalam komunitas. Sebagai bentuk kebersamaan dan yang ideal adanya saling melayani. Namun yang terjadi kadang-kadang, adanya kata-kata serupa litani serba salah yang ditujukan bagi yang lain. Apa yang dapat dipetik dari pesan injil hari ini? Saya diwajibkan untuk melihat segi hidup bersama sebagaimana tuntutan hidup bersama suster religius pasionis.

 

 

 

Sabtu, 13 desember 2008

Bacaan Matius 17:10-13

 

            Membandingkan

           

            Rangkaian pesan Injil kemarin dan hari ini berkaitan dengan dua nama yakni Elia dan Yohanes Pembaptis. Bila membaca 1 Raja 17- 19 dan 2 Raja 1-2  yang mengisahkan sukses  seorang tokoh ternama yakni Elia. Dengan berbagai perbuatan baik yang telah dilakukannya, termasuk juga mukjizat merupakan pelayanan yang menjanjikan bagi masa depan bangsanya. Dan itulah salah satu kerinduan bangsa Yahudi. Maka tidak mengherankan bila para murid pun bertanya tentang kedatangan Elia baru demi kesejahteraan bangsanya. Para murid pun berani menanyakan hal itu setelah mereka menyaksikan kemuliaan Yesus yang ditampakkan sedang berbicara dengan dua nabi besar Musa dan Elia.

            Merenungkan pesan Injil hari ini, saya teringat pada kejadian sekitar lima tahun yang lalu. Dalam sharing di suatu pertemuan kelompok religius saat rekoleksi biarawan-biarawati di Keuskupan Malang, diceritakan oleh seorang suster dalam tubuh salah satu tarekat, telah terjadi konflik intern akibat peralihan kepemimpinan. Banyak anggota mengeluh pada sosok pemimpin baru. Inti keluhan karena merasa tidak puas pada kebijakan-kebijakan yang dilakukan pemimpin baru yang menyebabkan sebagian anggota merasa dirugikan.  Karenanya kelompok yang merasa dirugikan terkenang akan sosok pemimpin terdahulu yang bagi mereka seorang pemimpin ideal dengan semangat injili dan bersumber pada konstitusi. Pada zaman itu, setiap anggota merasa diperlakukan adil dan bijaksana, bahkan pemimpinnya sanggup menyapa dari kedalaman hati setiap anggotanya.

            Mengingat sharing itu, hari ini saya pada posisi sebagai anggota tarekat religius. Agar tujuan hidup bersama sebagaimana cita-cita bersama di dalam Konstitusi tercapai, maka perlu memperhatikan pertanyaan reflektif ini: Apa yang dapat saya lakukan untuk menggenapi kerinduanku dan sesama suster dalam tarekat suster Pasionis? Saya dapat mengawali perbuatan baik dengan melaksanakan tugas-tugas harian di dalam komunitas.  Kiranya itulah kontribusiku sebagai bentuk dukungan bagi kepemimpinan atasanku.

 

 **************************************************************************************

Minggu, 30 nopember 2008

Bacaan Markus 13 : 33-37

 

            Berjaga-jaga

 

            Mengawali minggu adven pertama ini, gereja mengarahkan segenap perhatian pada kata berjaga-jaga. Kata tersebut seolah-olah memperingatkan. Dan yang diperingatkan itu bisa dikenakan kepada lawan bicara atau di kenakan untuk diri sendiri. Untuk berjaga-jaga diperlukan waktu, dan waktu yang dibutuhkan ada yang ditentukan dan ada yang tidak ditentukan, sebab tergantung dari yang memperingatkan.

            Pengalaman berjaga-jaga secara manusiawi pernah saya alami medio 2006. Ketika itu, ada seorang rekan yang harus dirawat inap di rumah sakit. Penyakit yang dideritanya sewaktu-waktu mengganggu istirahatnya. Saya dan seorang rekan suster Pasionis lainnya dengan sukarela menjaganya. Sepanjang malam kami tidak dapat memejamkan mata, sebab hampir setiap 15 menit pasien tersebut  merintih karena  menahan sakitnya. Biar pun kelopak mataku sangat berat bagai diduduki beban satu kilogram, sehingga terkadang saya menutupnya rapat-rapat, namun hati dan pikiranku tetap berjaga. Kesiagaan hatiku teruji karena setiap kali ia bergerak, saya dan rekan suster senantiasa meresponsnya, menanyakan apa yang ia rasakan dan memenuhi permintaanya sedapat mungkin. Bila berurusan dengan perawat, maka kami tinggal memencet tombol bell saja.

            Pengalaman saya di atas menghantar saya  untuk memahami sikap berjaga-jaga secara rohani. Gambaran sikap supaya berjaga-jaga telah diumpamakan oleh Yesus sendiri sebagaimana ditulis oleh Markus. Yesus memperingatkan untuk tetap berjaga-jaga, supaya bila yang memberi peringatan datang, jangan sampai didapati sedang tertidur. Bila sedang diserang rasa kantuk berat, godaan untuk menutup mata, setiap saat bisa terjadi. Namun bila hati yang berjaga, akan mempermudah untuk membuka kelopak mata bila sewaktu-waktu si pengunjung tiba-tiba saja muncul. Saya senang dengan masa adven ini, bersama komunitas  dan umat gereja lokal menggunakan kesempatan ini untuk memaknai adven dengan secara lebih manusiawi dan akhirnya menuju ke yang Ilahi.

 

 

Senin, 1 desember 2008

Bacaan Matius  8:5-11

 

            Menanti

           

            Selain berjaga-jaga ada kata berikutnya yang berkaitan erat dengan adven yaitu menanti. Suatu penantian panjang disertai harapan tidak menjadi persoalan bagi yang menantikan. Seorang pastor memberikan makna dari menanti seperti ini : “Orang yang menanti seolah-olah dia sedang berjalan sambil membawa di dalam hatinya suatu harapan bahwa di tengah ujung perjalan atau di ujung perjalanannya kelak, dia berjumpa dengan yang dinantikan. Jadi, menanti tidak hanya tinggal diam terpekur, akan tetapi proaktif untuk mencari supaya dia memperoleh yang didambakannya. Kaitannya dengan pesan injil hari ini tentang seorang perwira yang menjumpai Yesus di tengah-tengah karyaNya, penuh harapan supaya Yesus mengatakan sepatah kata saja untuk memohon kesembuhan bagi hambanya.”

            Hari kedua masa adven ini saya melanjutkan menantikan makna keselamatan bagi diriku dan sesama. Apa kiranya yang sedang saya nantikan? Bagaimanakah sikapku dalam proses penantian ini? Muncul di dalam batinku, rasa syukur atas rahmat panggilan hidup religius yang di anugerahkan Tuhan bagi saya. Dengan tergabung di dalam salah satu tarekat biara, saya mengenal dan memiliki waktu untuk memaknai adven. Terlebih dari setiap kesempatan lingkaran tahun liturgi Gereja, di mana bacaan-bacaan yang direnungkan dikondisikan dengan gaya seorang Kristen menantikan Sang Raja Adil-Sang Raja Damai. Melalui sarana-sarana hidup sebagai suster pasionis, saya memiliki kesempatan untuk menata kehidupan rohaniku sambil berharap melaksanakan tugas-tugas sebagai anggota tarekat membangun kehidupan penuh harapan. Dengan suasana refleksi dan silensium di dalam biara telah merupakan sarana positif kesempatan untuk merenungkan proses penantian. Dan hanya melalui ketenangan batin saya dapat menemukan makna menanti untuk harapan hidup rohaniku.

 

 

Selasa, 2 desember 2008

Bacaan Yes 11:1-10

 

            Kenal sesama-Tuhan

 

            Para teroris sering memberikan pernyataan-pernyataan mereka dan tanpa ragu-ragu menyertakan agama dalam mewujudkan misi mereka. Pernyataan-pernyataan mereka dapat diketahui melalui slogan dan hasil interpretasi setelah berhasil diwawancarai oleh pihak berwajib. Mereka mengumbarkan kepada dunia bahwa mereka mengenal Allah dan bila mungkin memusnahkan segala sesuatu dan diri manusia demi nama Allah.

            Perbuatan teroris ini bertolak belakang dengan bacaan hari ini melalui nabi Yesaya digambarkan bagaimana sebenarnya manusia yang mengenal Allah; “Serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil akan menggiringnya.  Lembu dan beruang akan sama-sama makan rumput  dan anaknya akan sama-sama berbaring, sedang singa akan makan jerami seperti lembu. Anak yang menyusu akan bermain-main dekat liang ular tedung dan anak yang akan cerai susu akan mengulurkan tangannya ke sarang ular beludak. Tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk di seluruh gunung-Ku yang kudus, sebab seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan TUHAN, seperti air laut yang  menutupi dasarnya.” (Yes 11:6-9)

            Teringat lagi oleh saya perkataan Yohanes, rasul : Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak megasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yangtidak dilihatnya. (1 Yoh 4:20)

Hidup berkomunitas di dalam biara terjadi  karena adanya individu-individu. Setiap individu memiliki karakter unik yang memungkinkan terjadinya perselisihan dan bila tidak diolah secara baik dan benar akan berakibatkan pada perbuatan buruk yang merugikan komunitas dan lingkungan sekitar. Suatu nasehat dari para pembimbing rohani dan kata-kata bijak yang penulisnya anonim seringkali menggerakkan perbuatan saya yang bunyinya : “Agar komunitas hidup rukun dan damai sejati, mulailah menciptakannya dari dirimu sendiri”.  Kalimat singkat yang seringkali seakan-akan menampar wajah saya sendiri karena pernah suatu ketika ingin mengubah perilaku rekan suster yang menurut penilaian pribadi saya tidak cocok hidup berkomunitas, dan ingin mengadili dia menurut ukuran manusia  belaka. Sadar dengan panggilan hidup bersama dengan pengaruh hidup modern, maka sangat tepat bila memperhatikan selalu kerinduan mengenal Allah dalam sikap mengasihi sesama.

 

Rabu, 3 desember 2008

Bacaan Markus 15: 16-20; 1 Kor 9:16-19.22-23

 

            Semangat missioner

 

            Hari ini, Gereja bergembira sambil mengenangkan kisah perjalanan hidup seorang kudus, Santo Fransiskus Xaverius. Figur imam yang mencintai tugasnya. Saya sepaham dengan Gereja yang dengan rapi memikirkan dan memutuskan Santo Fransiskus Xaverius sebagai pelindung karya misi. Nama beliau sudah sangat terkenal di kalangan Asia Tenggara karena bukti pelayanan kasih yang memiliki jejak, yakni dengan merangkul banyak orang ke dalam pangkuan Gereja. Sejak usia SD saya dengan bimbingan katekis bersama teman-teman seusia seringkali mengikuti Misa harian di Gereja dan menyanyikan lagu khusus pada pesta santo dari Serikat Jesuit ini. Satu bait dalam nyanyian untuk mengenangkan kekudusan Santo ini yakni :“Negri dan keluargamu rela kau tinggalkan. Terdorong cinta berkobar akan sesamamu...... „

            Pelayanan imam saleh ini mengingatkan saya pada karya pelayanan seorang imam abad ini yang saya kenal perjuangannya melalui buku dengan judul : “Berjalan di Air Pasang Surut” – Penerbit PT Cahaya Pineleng – dan ditulis oleh imam itu sendiri. Buku tersebut merekam kisah nyata beliau sewaktu berkarya di suatu paroki terpencil. Pergulatan dan perjuangan diarungi oleh romo dengan penuh kasih. Setelah saya membaca perjuangan demi perjuangan yang warna warni itu membuktikan suatu pelayanan seorang misionaris domestik yang handal. Walau pun tidak mengarungi lautan dan menjelajahi berbagai benua seperti yang dilakukan Fransiskus Xaverius, namun dengan menjelajahi wilayah paroki yang digembalakannya, beliau telah menampakkan jiwa misionernya.

            Hari ini saya dapat memetik semangat misioner dari tiga tokoh besar yaitu: pertama, Yesus sendiri yang selama hidupnya telah menjelajahi laut dan darat sehinga dapat memberi amanat : “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil ke segala makhluk…..(Mrk 16:5). Kedua, Rasul Paulus yang melalui suratnya berisi pengalaman-pengalaman penuh perjuangan yang ia tuangkan dan salah satu kalimatya ini : “…..Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil” (1 Kor 9:16). Ketiga, Fransiskus Xaverius, sosok  Imam Kudus yang hari ini Gereja mengarahkan segenap jiwa raganya memohon berkat dan doanya dari takhta Surga. Kiranya ketiga misoner inilah yang patut menjadi tiang

 

 

Kamis, 4 desember 2008

Bacaan Yes 26: 1-6; Mat 7:34-26

 

            Tiang Iman 

            Insan yang mengatakan: “Aku kenal Tuhan” tidak cukup berpuas diri sampai pada tahap kenal. Lebih dari itu Tuhan menghendaki agar umat yang disayanginya itu menggenapinya dalam perbuatan terhadap sesama. Selain itu, iman tidak hanya berhenti pada tahap ilmu pengetahuan belaka, melainkan akan menjadi lebih indah bila dinikmati oleh sesama. Itulah inti pesan Injil hari ini yang dapat kumengerti.

Iman berkaitan erat dengan Tuhan. Maka apa pun yang saya lakukan ada kaitannya dengan Tuhan, dapat dikatakan beriman. Bagaimanakah dapat melihat keindahan iman itu? Perumpamaan Yesus tentang dua macam dasar telah mewakili pengalaman kekokohan iman seseorang. Selanjutnya seiring perjalanan hidup ini, yang diperlukan dari saya hanyalah perbuatan konkret terus menerus guna menggenapinya dalam sikap.

 

Jumat, 5 desember 2008

Bacaan  Mat 9:27-31

 

            Mata Iman

 

            Hari raya Paskah 2006, saya berkenalan dengan Sumaryanto (bukan nama sebenarnya), pemuda yang usianya 28 tahun. Dia seorang penyandang  cacat, sejak lahir. Sejak kami berbincang-bincang sinar wajahnya tak henti-henti memunculkan rasa sukacita dan obrolan ringan yang menimbulkan tawa.  Setiap tutur kata yang dikeluarkannya saya terkesan akan kepolosan seorang anak yang menemukan makna terdalam di dalam hidupnya. Sekilas dari riwayat singkat hidupnya yang ia sendiri ceriterakan seperti ini: “Sejak bayi saya dititipkan pada sebuah biara. Mungkin alasan orang tua saya menitipkan karena tidak sanggup memelihara saya. Lagi pula saya buta sejak lahir. Selama saya dirawat di dalam biara, pernah beberapa kali orang tua dan saudara-saudara saya datang berkunjung. Dan perlu diketahui keluarga saya semuanya non Kristen. Dari hari ke hari, saya menerima kasih sayang dari para suster dan umat sekitar, pun dengan penuh kesadaran setelah saya berusia 12 tahun, saya minta dibaptis. Permohonan saya dikabulkan. Sejak usia 20 tahun saya diantarkan oleh suster di biara yang menampung saya sejak awal ke Panti Asuhan – letaknya di luar pulau – yang dikhususkan merawat dan membina orang seperti : tunagrahita, tunanetra, tunarungu, dan tunadaksa. Di Panti tersebut, saya menerima banyak pembinaan khusus untuk orang-orang cacat seperti saya, dan tentu saja saya dikelompokkan dalam kelompok tunanetra. Selang lima tahun dalam masa pembinaan, saya semakin paham untuk mengerti untuk berkomunikasi dengan orang lain dan sesama penyandang cacat hingga suatu hari karena alasan yang masuk akal, saya dipindahkan di Panti Asuhan milik pemerintah. Di tempat yang baru, saya sendiri yang penganut Katolik. Walau demikian saya diijinkan untuk pergi ke Gereja untuk beribadah. Mengenai ke luar rumah, perlu diketahui bahwa kami sudah sering melakukannya. Juga untuk menggunakan telepon. Kami diberi pelajaran khusus untuk melakukannya.”

Dari kisah singkat di atas, saya terkagum-kagum akan si pemuda itu, karena waktu kami saling berkenalan, usai misa hari Minggu, dan dia datang seorang diri dengan menumpang angkot (angkutan kota). Saya sempat menanyakan, bagaimana dia begitu berani bepergian seorang diri. Tanpa ragu dia menjawab: “kan ada Tuhan yang membimbing”. Dari jawabannya dapat saya pahami bahwa Sumaryanto percaya penuh pada Tuhan, sehingga dapat melakukan perjalanan dengan baik bagaikan orang pada umumnya yang dapat memfungsikan matanya dengan baik. Sumaryanto punya mata hati yang menyelamatkannya yaitu percaya yang mengarah pada iman.

            Apa hubungannya dengan injil hari ini? Dalam injil di ceriterakan ada dua orang buta yang menjawab : “Ya Tuhan, kami percaya” (Bdk Mat 9:27-28). Ada kesamaan antara Sumaryanto dalam kisah di atas dan dua orang buta dalam injil, yakni buta dan percaya.

 

Sabtu, 6 desember 2008

Bacaan  Mat 9:35-10:1.6-8

 

            Pemberian kuasa

 

            Seringkali saya mendengar dan menyaksikan penyembuhan berbagai penyakit yang dilakukan orang tertentu secara non medis. Mereka menyembuhkan dengan melalui doa menurut keyakinannya. Mereka bisa dikategorikan sebagai paranormal. Saya pernah menyaksikan seorang paranormal agama katolik melakukan penyembuhan. Ia memulai dengan mendaraskan doa dan bersumber pada beberapa ayat Kitab Suci yang berkaitan dengan mukjizat penyembuhan serta berdoa dalam Nama Yesus. Dengan semangat besar dan keyakinan, kemudian si sakit menjadi pulih kesehatannya. Selain itu pernah juga terjadi penyembuhan bagi seseorang yang mengalami gangguan jiwa. Setelah didoakan berkali-kali akhirnya si sakit sembuh.

            Injil hari ini mengingatkan saya untuk menggunakan hak dan kewajiban untuk disembuhkan dan menyembuhkan. Berkaitan dengan penyembuhan, saya sendiri bukanlah kelompok paranormal. Maka apa yang dapat saya perbuat untuk suatu kesembuhan? Terhadap penyakit fisik, saya belum pernah melihatnya secara langsung. Akan tetapi terhadap gangguan pikiran, keresahan yang menimpa diri seseorang, pernah saya saksikan walaupun itu tidak terjadi seperti sesuatu yang spektakuler. Kesembuhan itu asal dilakukan dengan bersungguh-sungguh dan penuh keyakinan dan kemauan menyertakan segenap jiwa raga bersama Tuhan.  Terhadap ini, satu hal saya perlu tulis di sini. Seorang teman sesama suster mensharingkan pengalaman kesembuhannya: Dulu pernah ada kebiasaan buruk terjadi pada saya, yakni sulit mendengarkan orang membicarakan topik yang serius untuk didengarkan. Betapa bosannya mendengarkan pembicaraan tentang topik yang sama dan terus diulang-ulang… Kebiasaan yang terungkap dari mulut saya, sebagai respons : “ah……itu sudah sering kamu bicarakan”. Dan lawan bicara pun seringkali mengatakan: “Aduh! Coba dengarkan dulu saya berbicara!” Lambat laun kebiasaan sulit mendengarkan itu, mengakibatkan diri saya tidak menghargai lawan bicara dan saya sendiri merasa jenuh berkomunikasi dengan lawan bicara yang membahas topik yang berulang-ulang. Suatu waktu, ketika mengikuti program pengolahan hidup (walau sebenarnya sudah pernah dijalankan waktu novisiat), saya menyadari hal ini masuk dalam vulnerable (kerapuhan). Dan bila tidak diolah dengan baik mengakibatkan perilaku menyimpang (psikologi bimbingan memandangnya demikian). Selanjutnya dengan melakukan pengolahan yang disertai doa penuh keyakinan, sehingga tidak pernah lagi saya merasakan kebiasaan jenuh mendengarkan orang lain berbicara. Tidak pernah juga saya mendengarkan cetusan protes dari mulut lawan bicara. Puji Tuhan!

            Hari ini saya menyadari betapa pengalaman di atas termasuk juga perbuatan kuasa penyembuhan, suatu kegenapan datangnya Kerajaan Allah di dunia yang terjadi pada diri manusia, sebab membawa keselamatan bagi banyak orang.

 ---------------------------------------------------------------------------------------

Minggu, 23 Nopember 2008  

Bacaan Matius 25: 31-46  

 

            Integritas  

 

Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam yang dirayakan hari ini memberikan peluang yang tepat untuk selalu mengalami Tuhan yang merajai hati jagad raya.

Saya tertarik dengan kotbah seorang romo pada kesempatan misa di gereja hari ini. Menurut beliau ada 2 dimensi yang perlu dicermati untuk menghayati Perayaan ini; Pertama dimensi iman. Kedua, dimensi eskatologis.

Manakah maksud dimensi iman melalui bacaan Injil hari ini?  Jawaban Yesus demikian: “Sebab sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku”. Manakah segi eskatologis melalui bacaan Injil hari ini? “Apabila Anak Manusia dalam kemuliaanNya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia …………..Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kananNya dan kambing-kambing di sebelah kiriNya.” (Bdk Mat 25: 31-34).

Manakah dimensi eskatologisnya? Satu contoh kecil, bila saya mampu memberikan kesaksian yang baik dan benar sebagai seorang katolik dan pada akhirnya dapat membawa banyak umat mengakui: “Yesus merajai hatiku”.

            Merenungkan makna pesan injil hari ini bagi diriku, sebagai suster Pasionis apa yang telah saya lakukan? Saya mencoba untuk menghayati hidup bersama penuh persaudaraan di dalam komunitas. Walau terjadi perselisihan, namun karena percaya Tuhan yang memimpin setiap perkataan dan perbuatan yang benar, maka setiap nasehat dan peringatan-peringatan dari para saudari sesama suster merupakan wakil dari perkataan Tuhan sendiri. Saat itulah Tuhan merajai diriku.

   

Senin, 24 Nopember 2008

Bacaan Luk 21:1-4

 

            Persembahan

 

            Kita mengenal ada banyak penderma memberi dari hasil yang dimilikinya. Ada yang memberi dari hasil kelebihan kebutuhannya, ada pula yang justru memberi dari kekurangannya. Melalui injil hari ini saya teringat sharing singkat seorang romo dalam suatu kesempatan Misa di sebuah Gereja. Beliau baru saja ditinggal pergi oleh ibunya. Menurut beliau, sang ibu sering mengikuti misa harian di parokinya. Bila ibunya mendengar injil hari ini dibacakan yakni kisah persembahan si janda miskin, ibunya mengatakan: “setiap kali saya mendengar kisah tentang si janda miskin, hatiku selalu tersentuh.” Beliau mengatakan itu sambil berurai air mata.

Mengingat sharing singkat itu, saya sendiri menafsirkan persembahan yang dimaksud sang ibu mungkin tentang keadaan beliau saat itu. Dengan ditinggal pergi oleh suaminya, sang ibu  memasrahkan kepada Tuhan segala rencana baik yang Tuhan kerjakan di dalam dirinya. Itulah suatu persembahan berharga.

Sebagai seorang suster Pasionis, apa yang saya persembahkan bagi Tuhan?  Suatu pengalaman mengenai penempatan kerja dari pemimpin tarekat. Saya pernah diminta untuk mengajar di sebuah sekolah. Ketika itu saya masih suster yunior. Rekan kerjaku semuanya usia di atas saya. Sedangkan posisi saya dituntut untuk menjadi yang tertua di sekolah itu. Ketika mendengar penugasan itu, muncul pemikiran spontan. Saya merasa minim pengalaman, tidak punya bekal yang banyak, yah…..serba kuranglah. Walau dengan berat hati, toh akhirnya tugas itu saya emban juga. Seiring waktu saya berkata di dalam hati: “inilah persembahan diriku”. Karena aku telah memberi dari kekuranganku, tapi dengan pengorbanan yang tulus, maka selanjutnya pengalaman itu memberikan saya bekal untuk terus melangkah.”  

 

Selasa, 25 Nopember 2008

Bacaan Luk 21: 5-11

 

            Saat membuka mata

            Dalam suatu perjumpaan spontan dengan beberapa umat di salah satu paroki di Jawa Timur, kami membicarakan topik yang berkaitan gerakan Mesianisme yang mencoba menafsirkan dan menghayati keyakinan pada sang penyelamat. Untuk ini, saya perlu mengutip pendapat seorang penulis yang studi gerakan sekte di Jawa: “Gerakan sosial tradisional lainnya kerusuhan-kerusuhan mesianistis di Jawa merupakan peristiwa pergolakan yang pendek umumnya dan terbatas tempatnya, misalnya pada sebuah desa atau suatu kelompok persekutuan hidup. Gerakan itu umumnya berasal dari seseorang yang menerima peranan sebagai pemimpin agama, nabi atau juru selamat, dan yang diikuti oleh segolongan orang-orang yang percaya kepadanya. Gerakan ini selalu bersandar pada segi-segi gaib dan umumnya menjelma dalam segi-segi eksatologisa dan mesianistis. Memang gerakan itu haruslah dipandang sebagai gerakan yang bersifat revolusionisme dalam pengertian bahwa gerakan itu menghendaki suatu perubahan mutlak. Secara singkat gerakan itu menghendaki munculnya suatu millennium, yaitu harapan terhadap datangnya jaman keemasan yang tidak mengenal penderitaan rakyat dan semua ketegangan serta ketidakadilan telah lenyap.” (Moroturu, 03 Juni 2008).

Selanjutnya pembicaraan kami meningkat ke penganut Saksi Yehowah. Sebenarnya saya sendiri tidak tahu banyak tentang pandangan ini. Akan tetapi saya pernah membaca sebuah artikel baru-baru ini yang ditulis seorang imam dengan judul : “Saksi Yehowah di Pintu Anda”.

Dalam tulisannya disebutkan asal mula munculnya saksi Yehowah demikian: “Pendiri kelompok ini ialah seorang berkebangsaan Amerika yang bernama Charles Taze Russell (1852-1916). Ia dilahirkan dan dibesarkan di Pittsburgh sebagai seorang Protestan dari aliran Kongregasionalis. Pada usia tujuh belas tahun ia mencoba mempertobatkan seorang ateis. Yang terjadi justru sebaliknya, ia yang menjadi ateis, atau lebih tepat, agnostik (aliran ini percaya akan adanya Tuhan pencipta, tetapi tidak percaya bahwa Tuhan tersebut peduli dengan manusia). Beberapa tahun kemudian, ia pergi ke suatu pertemuan dalam gereja Adventis. Mendengar khotbah dari pendetanya tentang Yesus yang akan segera datang, ia kembali tertarik pada kekristenan dan Kitab Suci.”

            Melalui diskusi singkat kami dan sepenggal pengetahuan saya ini, muncul refleksi yang perlu direnungkan merujuk pada perkataan Yesus dalam injil hari ini. “Waspadalah, supaya kamu jangan disesatkan. Sebab banyak orang akan datang dengan memakai namaKu dan berkata: Akulah Dia, dan: Saatnya sudah dekat. Janganlah kamu mengikuti mereka” (Luk 21:9). Apa yang perlu saya perhatikan untuk menanggapi bila suatu hari berhadapan dengan umat katolik dan saya sendiri yang bingung tentang pandangan-pandangan baru tentang mesias? Sebagai langkah pertama saya sendiri melalui diskusi singkat kami mengatakan begini: Ada baiknya kita memperhatikan ajaran iman katolik sendiri dengan memperdalam Kitab Suci secara benar, misalkan membaca literatur ajaran iman Katolik

 

Rabu, 26 Nopember 2008

Bacaan Luk 21: 12-19

 

            Kesaksian mini          

 

Pertengahan tahun 1997 ketika mengikuti suatu kegiatan kampus, kami menginap 10 hari di rumah yang telah disiapkan oleh masyarakat di satu daerah terpencil.  Bersama 25 teman sesama mahasiswa kami melaksanakan program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Di saat lowong, kami biasanya bercengkerama bersama di satu ruangan sambil menikmati mamiri (makan-minum ringan).  Pada  suatu malam kami mamiri, seorang dosen pendamping yang nota bene non Kristiani – dan  menurut saya beliau amat fanatik dengan agamanya – secara tidak langsung bersoal jawab dengan saya seputar status hidup saya sebagai biarawati selibat. Setiap pertanyaan saya coba menjawab dengan tenang. Sang dosen pendamping pun tampak sudah kehabisan pertanyaan untuk dijadikan materi yang ingin diketahuinya. Ketika tiba hari berikutnya, saya menerima kata-kata pujian dan peneguhan dari  teman-teman saya termasuk juga yang non Kristiani dan kurang paham juga soal hidup selibat itu. Sebetulnya saya sendiri kaget akan kata-kata yang keluar dari bibir saya sendiri. Hati saya pun terasa bahagia yang tanpa menyontek dari cara orang lain pun dapat mewakili kesaksian hidup sebagai seorang Kristen yang menghayati iman kepercayaannya akan Kristus. Saya menamai pengalamanku yang tak terlupakan itu sebagai kesaksian mini.

Ketika suatu hari saya tergelitik dengan pesan injil hari yang mengatakan: “….tetapkanlah di dalam hatimu, supaya kamu jangan memikirkan terlebih dahulu pembelaanmu. Sebab Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu.”(Luk 21:14-15).

            Sesudah pengalaman itu, bila menghadapi kesulitan  dalam bersoal jawab dengan permasalahan serius dan terasa memojokkan, saya mengingat pengalaman tahun itu. Saya percaya saya ditolong Tuhan. Dia sendiri yang meletakkan kata-kata tepat pada bibirku.

  

Kamis, 27 Nopember 2008

Bacaan Luk 21: 20-28

 

            Merasul dengan doa

 

            Tanda-tanda alam disertai dengan gempa bumi, gunung meletus, banjir, sewaktu-waktu dapat menimpa suatu tempat. Kuasa alam yang terjadi di dalam negeri dan di luar negeri; seperti bencana Lumpur di Porong-Sidoarjo akibat PT Lapindo sejak 2006 yang hingga kini pun masih meresahkan warga sekitar, Badai yang terjadi di Amerika Serikat dan Daratan China dan berbagai bencana alam lainnya di tahun 2008 ini seperti memutar ulang bencana serupa di tahun-tahun sebelumnya. Saya tidak bermaksud memutarkan semacam “kaleidoskop” sejarah pahit hidup manusia. Namun secara tidak sengaja saya merenungkan peristiwa alam yang merupakan sapaan dari alam sesama ciptaan Tuhan. Selain itu saya merasa tersentuh oleh pencarian makna hidup bagi diriku yang hendak kubagikan pada sesama. Bertepatan dengan bacaan injil hari ini, di mana diperingatkan oleh Tuhan, tentang masa depan manusia yakni menuju ke alam baka. Persekutuan dengan Sang Pencipta. Mendengar berita dengan perantaraan atau alat elektronik dan media cetak, secara pribadi saya tidak terjun langsung ke lapangan bertemu dan menolong korban. Lalu apa yang bias saya lakukan? Sebagai suster religius di dalam diriku ditanam sikap kerasulan doa. Maka melalui doa-doa, saya menyatukan diriku dengan penderitaan sesama.

            Bumi tempat saya dan sesama berpijak, hanyalah sementara. Walaupun sementara, saya wajib mengusahakan karya yang positif untuk perkembangan karya ciptaanNya. Dengan memilih cara hidup selibat dan masuk tarekat Suster Pasionis, saya meleburkan diri secara sukarela untuk bekerjasama menyalurkan potensi-potensi yang ada di dalam diriku. Kiranya itu persembahan kecilku untuk tarekat.

  

Jumat, 28 Nopember 2008

Bacaan Luk 21: 29-33

 

            Membina diri

 

            “Setiap orang  Kristen memiliki sarana untuk membina diri. Kesempatan itu salah satunya  diperoleh melalui Perayaan Ekaristi. Sebab dalam Perayaan Ekaristi memiliki tujuan yakni: pertama mendengarkan Sabda Tuhan. Kedua mencoba menghayati dialog dalam doa yang didaraskan antara imam dan umat. Misalkan setelah mendoakan rumus doa damai.

Imam: Damai Tuhan bersamamu.

Umat: Dan bersama rohmu.

Pada saat mengikuti Perayaan Ekaristi itu, mungkin seorang Kristen itu belum mengalami damai di dalam hatinya. Akan tetapi, ia memiliki harapan akan memperolehnya di kemudian hari. Itulah ciri khas seorang Kristen bahwa ia memiliki pengharapan di dalam Kristus”.

            Kalimat di atas merupakan suatu intisari dari renungan dalam misa harian oleh seorang romo yang memang menggeluti bidang katekese. Yang beliau sampaikan itu mengenai iman seorang Kristen. Lebih dari itu, saya menengok imanku sebagai suster Pasionis. Dalam Konstitusi 2003, 24 dikatakan : “Bersatu dengan Kristus, kita melibatkan diri untuk memberikan silih atas penghinaan yang ditimpakan kepada Allah, memohon demi keselamatan umat manusia dan merayakan kecuma-cumaan kasih Ilahi.”

Ibu pendiri Maria Magdalena telah menghayati pengharapannya dalam Kristus, kini ia berbahagia bersatu dengan Sang Tersalib yang dicintainya.  Dengan dijiwai semangat pengharapan untuk bersatu dengan Sang Tersalib, maka sebagai pengikutnya kiranya dengan memberikan silih merupakan salah satu sarana untuk menghayati sikap batin Sang Tersalib. Suatu pengalaman kecil dalam hidup persaudaraan. Suster A mengeluh karena tidak sanggup menerima suster B bersikap kasar dan semau gue. Suster A tidak berani untuk berterus terang berhadapan dengan suster B, maka saya yang dirasakan sebagai teman sharing, dan ia menyampaikan uneg-unegnya seolah-olah sedang berhadapan dengan suster B. Sebagai penghayatannya saya mendengarkan dengan baik sampai suster A merasa lega. Kiranya dengan sikap mendengarkan dan menerima dengan baik, sudah mewakili, menggantikan, dan  menyilih suster B sebagai sasaran kejengkelan suster A. Walaupun selanjutnya saya dapat mengambil langkah untuk memberikan anjuran supaya suster A lebih baik bertatap muka dan duduk bersama untuk saling membahas persoalannya. Pengalaman itu pernah saya saksikan di dalam hidup komunitas persaudaraan. Maka setelah menyaksikan pengalaman suster B yang seolah-olah menghidupi Kristus Sang Tersalib, saya dikuatkan dan diubah untuk mengenakan sikap batin Sang Tersalib sekurang-kurangnya sesuai kemampuan saya.

  

Sabtu, 29 Nopember 2008

Bacaan Why 22:1-7

 

            Yerusalem Baru, komunitasku

 

            Dua hari yang lalu saya dan seorang saudariku sekomunitas dalam waktu yang sama menuju pintu ke luar rumah. Kami berbincang-bincang spontan mengenai suasana rumah kami yang saat itu memang gelap, sebab lampu rumah semuanya padam. Tanpa mencari alasan pihak PLN mematikan mesin listrik, kami tetap dapat menikmati perbincangan ringan sambil bersama-sama nongkrong di samping pintu gerbang dekat pintu masuk. Dalam suasana remang-remang itu, kami dapat menikmati satu bintang terang di langit yang kebetulan malam itu agak bersih dari awan gelap. Selang lima menit setelah kami nongkrong di luar, mesin genset milik suster Pasionis telah dinyalakan oleh seorang karyawan, lalu kami masuk kembali ke dalam rumah.

Ketika membaca kitab Wahyu 22:1-7 ini, terlintas dalam benakku suasana malam itu. Di saat gelap, saya dapat melihat sinar cahaya bintang nan indah, walau jaraknya dengan bumi saya tidak dapat mengukur kira-kira seberapa juta mil jauhnya, namun kedua bola mataku dapat menerima biasnya. Melalui refleksiku hari ini, saya menemukan pesan penulis kitab wahyu ini yang intinya menyemangati panggilan kristiani terlebih sebagai suster religius pasionis dalam menempuh perziarahan menuju tanah air surgawi. Saya menyadari untuk menikmati kebahagiaan itu, diperlukan perjuangan bersama-sama dengan para saudara lainnya, dan dapat saya mulai di dalam komunitas biaraku. Melalui pelayanan yang penuh kasih, melaksanakan jadwal harian yang telah disepakati bersama namun fleksibel, saya seringkali mengalami keindahan bersama saat-saat rekreasi penuh persaudaraan, berbagi pelayanan saat menderita sakit, dan keindahan bersama saat-saat pesta kongregasi. Bagiku itulah permulaan menikmati Yerusalem Baru, suatu suasana bahagia.

 

                                  *****************************************************

 

Minggu, 16 nopember 2008

        Bacaan: Mat 25: 14-30

 

            You Raise Me Up

 

Dalam perumpamaan tentang talenta yang dipaparkan Yesus melalui bacaan Injil hari ini, mengingatkan saya pada beberapa tahun lalu.  Talenta biasanya disamakan dengan potensi, bakat. Sekitar tahun 2001, ketika memulai suatu tugas baru, saya belum terbiasa dengan apa yang wajib dan apa yang fakultatif saya selesaikan. Dari hari ke hari saya mempelajari dan menghayati tugas-tugas baru saya itu, dan selanjutnya malah menikmatinya, bahkan larut di dalamnya. Dari sisi lain, satu kegiatan yang hampir saja saya abaikan yakni bermain musik organ gereja. Walaupun bukan tingkat mahir, namun saya cukup terbiasa mengiringi perayaan-perayaan setingkat misa komunitas.  Mengiringi koor bukanlah perkara mudah bagiku. Apalagi bila penyakit demam panggung kumat. Saya memilih tidak tampil (dari pada semaput……begitu pikirku). Kesempatan itu sering saya tolak dan lebih memberikan tugas kepada orang lain, mumpung ada yang lebih biasa dari padaku, kenapa nggak? Nah……………kebiasaan itu berlangsung cukup lama. Kurang lebih 1 tahun. Ketika suatu hari saya bersenda gurau bersama para suster sekomunitasku. Kesempatan ber-ha ha…hi hi…itu beralih saat satu suster membicarakan tentang organis komunitas. Dan semua teman-teman suster senada memberikan suara: “ayo……….Tan, kamu kapan lagi memakai talentamu. Awas ya, kalau nggak dipakai, nanti diambil Tuhan lho…!

Waktu itu saya jawab seenaknya saja: “Ah……….kalau diambil bagus dong! Biar saya menekuni tugas yang lain”.

Lambat laun kata-kata emas teman-temanku itu menggelitik telinga hatiku. Dan ketika suatu saat saya mengakui you raise me up dari tidurku. Sejak itu saya menekuni lagi talentaku itu. Saya seolah-olah belajar dari nol lagi, ketika menekan tuts-tuts organ jari jemariku seolah-olah kaku. Aku seperti menekan tumpukan bebatuan tajam. Berkat support teman-teman suster dan ketekunanku, sampai saat ini saya menyenangi dan mempersembahkan talentaku ini bagi Tuhan dan sesama. Apa yang menjadi bahan permenungan hari ini? Saya melihat lagi, apa yang telah saya bagikan kepada sesama untuk kemuliaan Tuhan? Berapa banyak yang telah saya persembahkan? Dan apakah persembahanku itu sungguh-sungguh murni untuk kemudahan bersama?

  

Senin, 17 nopember 2008

Bacaan: Luk 18: 35-43

 

            Penghalang

 

            Saya pernah mendengarkan sharing pribadi seorang calon frater mengenai situasi yang ia alami berkenaan dengan dimensi hidup bersama dalam panggilan religiusnya. Ia mengatakan demikian : Suster, saya saat ini amat bingung dengan situasi pribadi saya. Saya seakan-akan tengah berada di persimpangan jalan. Di satu jalan saya yakin sanggup memenuhi panggilan hidup religius. Di satu jalan, saya ragu-ragu. Keraguan saya ini dengan alasan ini: hampir setiap hari saya mendengar pernyataan-pernyataan dari satu bruder senior yang dengan nada suara tajam menanggapi situasi dan pertanyaan-pertanyaan kami para calon. Satu contoh: Suatu kali ketika makan, kami berbicara tentang kesulitan kami membagikan antara waktu berdoa, belajar, dan bekerja. Kami baru, tidak lebih dari 10 bulan beradaptasi dengan hidup kebiaraan. Lalu bruder itu mengomentari : “Eh, saudara, yang kamu alami itu sudah pernah kami alami.” Di lain kesempatan ketika saya dan teman-teman lain mengungkapkan isi hati dan semacam curhat yang kebetulan didengar oleh bruder itu, komentarnya semacam refren saja, sebab mengulangi kalimat yang sama. Yang menjadikan hati saya kesal dan jengkel, bruder itu hanya mengomentari dengan kalimat pendek dan keras, tetapi tidak memberikan kalimat yang memberikan solusi. Juga tidak memberikan teladan nyata layaknya religius yang serius menghayati panggilannya. Kami menjuluki dia bruder preman.

Dari sharing bruder tadi saya dapat memahami begitu sulitnya membangun hidup bersama yang harmonis dalam waktu singkat. Kebetulan bruder yang dijuluki preman tadi, saya kenal. Mungkin saja dijuluki preman sebab di tubuhnya ada tato dan perawakannya macho seperti atlet binaraga terkenal asal Bali, Ade Ray. Parasnya sebetulnya cakep, dengan dihiasi kumis melintang tertata rapi dan memiliki warna kulit kuning langsat. Hanya saja wajahnya terlihat seram karena ia sangat pelit mengembangkan bibirnya. Warna bibirnya kehitam-hitaman dan bulu kumisnya agak kekuning-kuningan akibat asap rokok yang dihisapnya entah berapa batang jumlahnya dalam sehari. Sebetulnya soal fisik/ tampang nggak masalah. Walau teman sekomunitas dari segi tampang buruk rupa, tapi hatinya emas, sangat dibutuhkan menjadi teman yang baik dalam menapaki perjalanan panggilan hidup membiara. Pertanyaan yang patut direnungkan; Apakah saya seringkali menjadi penghalang bagi orang-orang yang ingin menemui Tuhan? Apakah aku berani memberikan jalan bagi mereka yang ingin datang kepada Yesus?

  

Selasa, 18 nopember 2008

Bacaan: Luk 19: 1-10

 

            Upaya

 

            Ketika masih mengajar di sekolah salah satu cara untuk menghafalkan murid yakni mulai dari nama dan ukuran fisiknya. Biasanya saya lebih mudah menyimpan di dalam “memory” saya murid yang dengan ukuran tinggi dan rendah dari rata-rata ukuran murid lainnya. Murid yang fisiknya lebih tinggi, ditempatkan di bangku paling belakang. Sebaliknya murid yang ukuran fisiknya rendah, ditempatkan di bangku bagian terdepan. Hal ini untuk mempermudah proses pembelajaran di kelas. Sepanjang pengalaman hidup, saya banyak mengenal orang-orang yang memiliki ukuran fisik rendah (eh…..termasuk saya juga lho…..ssst......tapi ternyata masih ada yang lebih rendah juga koq dari saya) yang tidak kehabisan akal untuk menggapai sesuatu yang tinggi dari pada ukuran fisiknya. Saya terkesan ketika menonton pertandingan bulu tangkis pada Olimpiade 2004 di Athena. Pada pertandingan perempat final Taufik Hidayat (Indonesia) vs Peter Gade (Denmark) sampai pada pertandingan akhir/ partai final bulutangkis tunggal putra di ajang olimpiade itu, tercatat Taufik Hidayat yang memperoleh medali emas di ajang kompetisi itu. Dilihat dari segi postur tubuh, Taufik rendah dari pada Gade. Tapi dari segi taktis, Taufik memiliki dan menggunakan potensinya untuk mengandaskan rivalnya. Di lain kesempatan saya seringkali terkagum-kagum menyaksikan orang-orang dan para suster yang berbadan rendah waktu bermain bola volley. Mereka mampu menghujamkan bola dengan “tajam” ke dasar lapangan melalui jaring atas. Ada banyak suster lain yang berbadan tinggi, tapi membiarkan saja bola volley itu meluncur deras tanpa dapat mem-block bola itu. Satu contoh lain lagi: Mantan petenis nomor wahid asal Belgia Justine Henin ketika bertanding menghadapi para rivalnya yang semuanya berpostur tinggi dibandingkan dirinya. Sebut saja. Dari hasil catatan World Tennis Associaton (WTA) Justine Henin lebih banyak mengantongi juara dibandingkan petenis-petenis jangkung lainnya.

            Apa yang hendak dipetik dari hikmah perbandingan di atas? Saya hanya ingin merefleksikan bahwa postur bukanlah semata-mata menetukan hasil akhir. Usaha dan kemauan harus diwujud-nyatakan seperti Zakeus yang berbadan kerdil dalam bacaan injil hari ini toh akhirnya berhasil menjumpai Yesus karena kehendaknya. Tanpa diundang pun Yesus mau bertamu di rumahnya. Dan Zakeus berhasil mengambil keputusan tepat di dalam hidupnya. 

            Bagaimana dengan diriku? Saya memiliki kehendak untuk selalu setia menghadapi berbagai situasi yang mesti saya hadapi. Sebagai suster Pasionis, saya turut berjuang di dalam berbagai keprihatinan kongregasi. Dengan melalui tugas yang dipercayakan saya diberi peluang untuk menyatukan perjuanganku dan kongregasi. Saya yakin seburuk apa pun sikapku, dan segala dosaku Tuhan memberikan kesempatan bagiku untuk bertobat. Kiranya usaha perlu diwujudkan dengan berbuat.

  

Rabu, 19 nopember 2008

Bacaan: Luk 19: 11-28

 

            Selera Humor

 

Pesan Injil hari ini hampir mirip dengan Bacaan Injil hari minggu, 16 Nopember yang lalu. Kemiripannya terletak pada intisari pesan yang hendak Tuhan inginkan dari insan yang diberikanNya kepercayaan. Sebagaimana telah saya singgung perihal talenta yang sering disejajarkan dengan potensi seseorang, maka perumpamaan tentang mina juga hendak menyelaraskan potensi seseorang. Tanggal 16 nopember lalu saya telah membagikan satu pengalaman kecil yang telah mengubah saya untuk dapat mengatakan: “kamu telah membangunkan saya” dari tidur nikmat. Suatu jangka waktu satu tahun yang telah saya sia-siakan. Hal talenta digaris-bawahi juga di dalam konst. 2003, 64 demikian : “Kita masing-masing mewajibkan diri untuk menghayati persatuan dalam perbedaan, menerima dialog sebagai sarana yang menumbuhkan dan mematangkan kemampuan pertukaran, berbagi kebersamaan talenta-talenta.”

Sekarang kita beralih dari kata-kata talenta dan mina ke inti pesan yakni kemampuan mengelola dan mengembangkan potensi yang dimiliki. Dalam dimensi hidup bersama di biara, saya hampir selalu mengalami hidup bersama seorang suster yang pintar mencerahkan suasana. Gambarannya begini : Sebut saja namanya Sr. Bella (bukan nama sebenarnya) di komunitas sangat  pandai membawa diri, beradaptasi dengan suster yunior, suster medior, dan suster senior. Kehadirannya selalu menjadikan suasana komunitas gembira, sebab hasil perbuatannya dapat diterima dan masuk akal. Ia membagikan selera humor yang tinggi bagi semua anggota komunitas. Ia juga seringkali mengubah suasana kaku-beku bak batu es berubah menjadi cair dan normal bagaikan air minum yang siap menawarkan dahaga. Taktik yang dikeluarkannya untuk mengubah suasana sangat jitu. Lebih-lebih pada kesempatan bertemu saat makan bersama dan rekreasi. Bila dia tidak hadir, seolah-olah ada yang kurang. Dan biasanya dia juga rela dijadikan santapan empuk bagi suster yang lain. Santapan yang saya maksudkan itu karena Sr. Bella mau jadi sasaran ejekan bagi yang lainnya. Yah……..tentu saja ejekan bernada guyonan ala suster-suster di biara (he…..he……). Sikap pandai membawa diri inilah yang merupakan salah satu bakat/ kemampuan yang dimiliki. Bakatnya itu tidak dibiarkannya tenggelam, melainkan dia salurkan untuk komunitas, demi kegembiraan dan kebahagiaan hidup bersama di dalam komunitas.

Bakat apakah yang menjadi peluang bagi komunitasku? Bagaimanakah aku mengembangkannya?

 

Kamis, 20 nopember 2008

Bacaan: Luk 19: 41-44

 

Untaian kata

 

Salah satu perbuatan dosa adalah akibat dari kata-kata jahat yang dikeluarkan mulut. Apalagi bila kata-kata itu disertai dengan nada tinggi dan  keras bagaikan ledakan petir (ihh……………serammmmmm). Lalu apa kaitan kata-kata jahat dengan isi bacaan hari ini? Dalam permenungan, saya merefleksikan kata-kata berisi nasehat yang pernah saya terima dari orang lain. Pernah nasihat berupa kata-kata keras, pernah juga nasihat berupa kata-kata lembut.  Kata-kata yang keras dan lembut bila dengan tujuan baik lambat laun akan mendatangkan hasil yang baik. Melalui bacaan hari ini ditulis oleh penginjil, tentang Yesus menangisi kota Yerusalem. Saat Ia menangisinya, kota itu ada dalam keadaan baik-baik. Yang ditangisi Yesus ternyata yang akan terjadi kemudian. Yesus tidak menangisi yang sedang terjadi atau yang sudah terjadi. Kata-kata berupa ratap dan tangis mampu menimbulkan kepiluan yang mendengarnya.

Saya teringat ketika mendampingi para formandi beberapa tahun lalu,  istilah “tensi” oleh mereka dipakai untuk mengingatkan rekan-rekannya bila berbicara agak keras dan tidak pada tempatnya. Istilah tersebut ternyata digunakan turun temurun dalam periode enam tahun selama saya bertugas bersama mereka. Dari hasil pengamatan saya selama mengalami kebersamaan seiring mendengar kata “tensi” tadi, pada kenyataannya ada sisi baik dan buruknya. Demikian halnya, kata-kata yang keluar dari mulut seseorang mampu mengubah perilaku seseorang dari kurang baik menjadi baik oleh  kata-kata yang keluar dari mulut orang lain. Entah kata-kata itu bernada keras, entah kata-kata itu bernada lembut (toh dalam lagu tertentu para komposer dan musisi juga meletakkan tanda-tanda forte dan mezzoforte, piano dan pianissimo). Yang terpenting maksud dari penyampaian seseorang perlu diperhatikan. Nah, kata diper-hati-kan ini yang sangat menarik. Sebab dengan memerhatikan, berarti saya menyimak dengan hati. Selain itu melalui pengalaman hidup bersama di dalam komunitas, terjadwal waktu-waktu yang ditentukan dengan maksud untuk mengatur hidup bersama sebagai uraian nyata dari bagian Konstitusi dan direktorium sebuah tarekat hidup bakti. Ada waktu rekreasi, makan pagi-siang-sore, istirahat, dsb. Ada pertemuan komunitas bulanan, triwulan, caturwulan, semester, dsb. Ada kesempatan untuk koreksi persaudaraan (corectio fraterna). Yang disebutkan terakhir itu merupakan kesempatan bagi semua anggota untuk saling menasihati. Di sini saya memakai kata nasihat sebab lebih luhur artinya dari pada tegur. Kesempatan ini lebih nampak, karena mendengarkan perkataan  langsung  dari orang lain, dan waktu telah dialokasikan, dan mungkin saja telah dikondisikan, sehingga setiap anggota lebih leluasa untuk berbicara. Tidak jarang juga saya mengalami di dalam hidup bersama, ketika komunitas mengalami kemalangan akibat ulah “si anu” dan “si anu” dinasihati serta ditegur secara pribadi. Kalau setelah langkah itu tidak menampakkan hasil, maka dipakai cara dibicarakan bersama di dalam komunitas. Saya meyakini dengan melalui cara nasihat yang entah secara pribadi maupun saat koreksi persaudaraan, Tuhan menyampaikan sesuatu lewat rekan-rekan, demi masa yang akan datang. Tidak menutup kemungkinan pula, Tuhan berbicara melalui siapa saja yang dijumpai, melalui alam sekitar. Pertanyaan yang patut direnungkan: “Bersediakah saya terbuka mendengarkan Tuhan menasihati, lebih-lebih pada kesempatan hidup bersama?”

  

Jumat, 21 nopember 2008

Bacaan Lukas 19:45-48

 

            Pembaharuan Kaul Kebiaraan

 

            Hari ini Gereja memperingati Peringatan Wajib Maria dipersembahkan kepada Allah. Gereja memilih bacaan mengenai  perhatian Yesus akan Bait Allah. Dalam Kongregasi Suster Pasionis, tanggal 21 nopember ditetapkan untuk memperbaharui kaul-kaul secara bersama (bdk Kons.2003.60.2.a).  Di dalam komunitasku, kami mempersiapkan diri dengan mengadakan triduum  dan rekoleksi komunitas sehari menjelang pembaharuan kaul. Perhatian secara khusus ditujukan kepada Maria. Apa pun alasan yang dipilih para suster pendahulu untuk menetapkan hari ini sebagai  hari istimewa, secara pribadi saya menyetujuinya. Saya sendiri melihat segi khusus dari peristiwa ini, di mana Maria, yang kelak dipilih Allah menjadi Bunda Penebus. Hari ini diperingati persembahan dirinya. Mengingatkan saya akan hari istimewa pengikraran kaul sementara dan kaul kekal kebiaraan pada Kongregasi Suster-Suster Pasionis St. Paulus dari Salib. Secara istimewa pula, sebelum mengambil keputusan defenitif, kami para suster dalam satu kelompok yang akan mengikrarkan kaul seperti para suster sebelumnya diberikan oleh kongregasi suatu kesempatan persiapan secara khusus. Para pendamping biasanya terdiri dari narasumber dari keluarga Pasionis itu sendiri, karena tema yang digali nantinya berciri khas Pasionis.  Kecuali pendamping retret kami waktu itu seorang Yesuit Indonesia. Dalam sharing dan evaluasi khusus di dalam kelompok kami itu, semua suster mengungkapkan rasa senang atas bimbingan beliau.

            Saya sendiri terkesan akan kalimat yang beliau ungkapkan dalam salah satu sesi konferensi. Intinya begini: “Pada saat kalian mengikrarkan kaul, memang kalian merasa bahagia, seakan-akan tidak ada permasalahan hidup di dalam biara. Kalian tinggal bak di dalam istana. Makan minum tiada henti, Tuhan yang memberi (beliau mengutip syair lagu dari buku Madah Bakti nomor 282). Selain itu, kalian seolah-olah berada di “gunung Tabor” bersama Yesus.  Setelah turun dari “gunung Tabor” itu, kalian diutus untuk melaksanakan misi tarekat, mewujudkan kaul-kaul, demi Kerajaan Allah. Saat kalian mengalami tantangan, pencobaan, rintangan, kesulitan, dan berbagai jenis pengalaman hidup yang menuntut pengorbanan, pada saat itulah kesempatan kalian mempersembahkan diri kepada Tuhan. Karena saat itu Tuhan menuntut kaul-kaulmu”.

Kalimat di atas, sampai saat ini pun aktual untuk kurenungkan. Betapa tidak. Hari-hari yang dilalui saya berhadapan dan bersama dengan sesama manusia. Manusia dengan mobilitasnya. Perangai, watak, ide, kegemaran yang berbeda-beda. Contoh kecil namun bernilai bagiku: Suatu kali, saat latihan koor bersama di komunitas, peran saya waktu itu sebagai pelatih (amatiran saja), seorang anggota koor menyela untuk memprotes cara membawakan/ menyanyikan lagu itu versinya yang agak berbeda dengan biasanya. Saya ngotot dengan argumenku. Demikian juga dia. Setelah adu argumen dan tidak ada yang mau mengalah, saya teringat: kesempatan ini kupergunakan untuk menyerahkan diri pada Tuhan. Dengan rendah hati saya mengalah boleh saya katakana saat itu saya  mengikrarkan kaul. Ada rasa bahagia sesudahnya sewaktu memberikan kesempatan kepada orang lain untuk tampil, dan saya menikmati rahmat Tuhan di dalam diri sesama.

  

Sabtu, 22 nopember 2008

Bacaan: Luk 20: 27-40

 

            Allah Orang Hidup

 

Seringkali saya menjumpai orang yang mungkin karena tidak tahu sama sekali, tidak mengerti setengah-setengah, pura-pura tidak tahu, atau karena penasaran menanyai perihal status seorang biarawan-biarawati. Pertanyaannya seputar ini: “Mengapa anda memilih untuk tidak kawin?” “Apakah anda yakin akan memperoleh imbalan kelak?” Bahkan ada yang mengeluarkan pendapat begini: “Rugi lho anda tidak kawin, anda tidak punya keturunan”. Menanggapi pertanyaan-pertanyaan ini, saya menyikapinya: Pertama, saya mengenal dulu siapa si penanya itu; kira-kira agamanya apa, orang yang telah dikenal atau sama sekali orang kebetulan teman dalam suatu perjalan (pesawat, bis, kereta api, kapal laut). Kedua saya mempelajari gaya bicaranya, sekedar iseng atau serius. Terhadap si penanya yang serius dan telah saya kenal, saya selalu mengatakan begini: “Sudah sekian tahun lamanya saya menghayati hidup selibat, dan tidak membangkitkan keturunan. Akan tetapi saya masih dipelihara Tuhan, sebab saya yakin model hidupku ini disenangi Tuhan” Pernah juga suatu kali saya ditanyai seorang katolik: “Apakah suster yakin akan janji Yesus melalui penjelasanNya dalam Luk 20:27-40?” Saya jawab dengan penuh keyakinan: ya, sangat yakin. Tanpa mengulangi pertanyaan, umat tersebut, terdiam sejenak, dan mengucapkan: “selamat, suster yakin akan pilihan suster”.

Ketika merenungkan Injil hari ini, saya teringat akan jawaban terakhir untuk menjawab pertanyaan seorang umat katolik. Waktu itu, saya dengan suara tegas, disertai raut wajah meyakinkan menjawab: yakin. Konsekuensi pilihan menjadi selibat, ya memang tidak kawin dan tidak dikawinkan. Dari waktu ke waktu sepanjang hidup, telah banyak hal yang telah diperbuat, telah banyak tempat yang dikunjungi, telah banyak jalan yang dilalui, telah banyak hal yang dipelajari dan dilakukan. Semua itu menunjukkan gerak. Saya bergerak berarti saya hidup. Dengan hidup saya mengabdi Allah dalam diri sesame dan alam sekitar. Maka saya yakin Allah menyukai saya yang juga makhluk ciptaanNya, sebab memang Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup.

 

 

 

 

Pengantar

 

Paulus, rasul merupakan figur pekerja Tuhan yang ulet, tangguh, cakap, dan berbagai predikat bagus lainnya yang layak diberikan kepadanya. Ia pantas disebut pemimpin ideal jemaat. Itu terbukti dari hasil pekerjaan yang tertuang melalui surat-suratnya. Sebagai umat Kristiani saya boleh berbangga hati mengidolakan sosok rasul Kristus ini. Karena rasa kagum, saya menulis refleksi saya ini berdasarkan bacaan Kitab suci pada misa harian tanggal 10 – 15 Nopember dan kesimpulan renungan misa harian dari Romo Antonius Deni Firmanto, Pr yang pada minggu itu bertugas mempersembahkan misa harian di Kapel Susteran Pasionis.

Dalam renungannya, romo Deni menguraikan dengan sangat baik. Metode panduan beliau dapat dikatakan metode mengajar di kelas Sekolah. Ada kesinambungan dari bacaan hari Senin hingga hari Sabtu. Pun juga bahasanya dapat dipahami dengan baik, mulai dari calon suster (aspiran, postulant, novis) sampai para suster yang sudah terbiasa di bangku kuliah dan berprofesi sebagai guru. Sejak hari pertama, saya tergerak hati untuk mengulas isi permenungan sepanjang minggu itu, bahkan bila ada kesempatan saya akan merangkaikannya dalam suatu catatan  yang dapat saya bagikan kepada semua.Untuk itu  melalui blog ini saya ingin membagikannya dengan anda. Mudah-mudahan berguna.

Senin, 10 nopember 2008

Bacaan Tit 1:1-9

 

            Kriteria seorang pemimpin Jemaat.

Paulus, rasul menuturkan melalui suratnya kepada Titus, tentang kriteria seorang pemimpin jemaat antara lain: “tidak bercacat, tidak angkuh, bukan pemberang, bukan peminum, bukan pemarah, tidak serakah, suka memberi tumpangan, suka akan yang baik, bijaksana, adil, saleh, dapat menguasai diri, dan berpegang pada perkataan yang benar yang sesuai ajaran sehat” (bdk Tit 1: 7-8).

Sebagai seorang biarawati, apa kiranya yang dapat dipetik dari permenungan ini? Pertama-tama, saya mencoba untuk menyadari status hidup sebagai seorang suster. Di mata umat, seorang suster juga figur jemaat. Sesuai pengalaman, saya pernah ditugaskan oleh suster pemimpin untuk mendampingi anak-anak Sekolah minggu atau Minggu Gembira yang di tempat tertentu disebut juga Pembinaan Iman Anak (PIA), atau di tempat lain menyebutnya Bina Iman Anak Katolik (BIAK). Selain itu pernah juga sebagai pendamping muda-mudi Katolik (mudika) atau remaja katolik (remaka). Pernah juga mengajar agama Katolik di sekolah formal, mendampingi katekumen, bahkan sebagai pemimpin Asrama Putri……….yang jelas sederet tugas itu menunjukkan bahwa posisi itu adalah sebagai pemimpin.  Kriteria atau tolok ukur berhasil atau tidaknya kepemimpinan saya, dapat diukur dari untaian kriteria menurut Paulus, rasul di atas. Dan biasanya yang mampu mengukur atau menilainya itu adalah mereka yang dipimpin atau mereka yang dibimbing.

 

Selasa, 11 nopember 2008

Bacaan Tit 2:1-8.11-14

 

            Regula/ Konstitusi Hidup

Dalam petuahnya, Paulus rasul menuturkan bagaimana seharusnya sikap sebagai seorang pemimpin. Baik itu laki-laki atau perempuan. Khusus sebagai pemimpin perempuan ia menyebutkan: “Demikian juga perempuan-perempuan yang tua hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang beribadah, jangan memfitnah, jangan menjadi hamba anggur, tetapi cakap mengajarkan hal-hal yang baik, dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda, ………..” (Tit 2:3-4).

Apa yang dapat saya petik sebagai buah permenungan hari ini?  Di setiap biara terdapat hukum yang mengatur tata hidup bersama, yang dikenal dengan sebutan regula atau Konstitusi. Di dalam konstitusi itu sendiri tertuang cita-cita dari masing-masing pendiri suatu ordo/tarekat/kongregasi. Cita-cita atau visi itu akan menjadi kaku dan mati bila tidak disesuaikan atau tidak diaplikasikan dengan situasi jaman. Sebagai anggota Kongregasi Suster-Suster Pasionis, saya mengenal visi awal Ibu Pendiri: “Tujuan tarekat ini ialah membentuk jiwa-jiwa yang mengikuti teladan Tuhan Tersalib dan Bunda Maria yang Berdukacita.” (Konst. 1830, 11-12)

Mengikuti teladan Tuhan Tersalib dan Bunda Maria yang berdukacita berarti bersedia menderita bersama mereka. Apa kiranya yang dapat kutanggung dalam keikutsertaanku di dalam penderitaan itu? Tidak lain melalui kehidupan sehari-hari. Dalam tugas pelayanan di komunitas, gereja lokal dan masyarakat. Melalui pekerjaan-pekerjaan sulit dan tidak dimengerti, juga pekerjaan-pekerjaan yang membosankan. Dengan menerima dan melaksanakan itu dengan hati gembira kiranya menjadi suatu persembahan dan partisipasi atas permenungan pada penderitaan Tuhan Tersalib dan Bunda Maria Berdukacita.  Pertanyaan selanjutnya: Apakah cukup hanya mengikuti teladan Tuhan Tersalib dan Bunda Maria yang Berdukacita? Ternyata tidak berhenti sampai penderitaan. Toh Tuhan Tersalib itu Bangkit sesudah mengalami penderitaan. Saya sangat terkesan dengan kalimat yang dituangkan dalam pembaruan Konstitusi suster-suster Pasionis tahun 2003 yang berbunyi: “Kenangan hidup dan bersyukur akan sengsara, wafat dan kebangkitan Tuhan Tersalib, ……” (Konst. 2003, 3).

Bagaimana saya mengaplikasikan kebangkitan Tuhan Tersalib itu? Saya menyadari di dalam sikap pelayanan, saya menemukan aneka tantangan, rintangan, kesulitan yang datangnya bersifat internal dan eksternal telah turut membentuk bangunan rohani hidup saya. Dari rasa putus asa, saya menjadi bertekun. Dari rasa tidak percaya diri, saya menjadi cukup berani dan percaya diri. Dari sikap hidup yang boros waktu, saya berusaha menggunakan waktu dengan hal-hal yang positif. Kiranya itulah usaha yang saya tempuh yang walaupun dengan rasa menderita, akan tetapi setelahnya saya merasa bahagia. Itulah kebangkitan.

 

Rabu, 12 nopember 2008

Bacaan Tit 3:1-7

 

            Rekonstruksi

Surat kepada Titus yang ditulis Paulus pada bagian penutup, mengingatkan mereka yang percaya akan Juruselamat, Yesus Kristus agar melakukan segala pekerjaan dengan memerhatikan pemerintah dan orang-orang yang berkuasa (bdk Tit 3:1). Pokok permenungan yang ingin disampaikan Paulus di sini supaya semua jemaat Kristiani berpedoman pada suatu hukum atau norma yang berlaku di mana pun mereka bermasyarakat. Sejak hari pertama pekan ini (Senin, 10 Nopember 2008), telah disinggung soal hukum, yang dalam hidup kebiaraan dikenal dengan regula atau Konstitusi. Menyinggung soal terjemahan penyampaian Konstitusi, sangatlah cocok apabila ditampilkan kalimat rekonstruksi dan rekonsiliasi. Dua kalimat inti yang diambil dari Konst. 2003,4  selengkapnya dikutip demikian: “Kita menyatukan diri pada tindakan penyilihan Yesus dan mengambil bagian bersama Dia pada karya rekonstruksi dan rekonsiliasi, dari pribadi yang telah dilukai oleh dosa, yang merupakan penghinaan terhadap Allah dan martabat manusia.” (Bdk Kol 1: 24).

Bertanya tentang aplikasi rekonstruksi dan rekonsiliasi ini, saya merasa masih belum sanggup melakukannya secara sempurna. Akan tetapi bila menunggu kemampuan untuk mencapai tindakan sempurna itu, saya tidak akan pernah melakukannya. Saya teringat ketika bertugas sebagai Pembina postulan beberapa tahun lalu. Sejak masa Postulat, para postulant telah diarahkan untuk mengolah diri. Salah satu cara yang diprogramkan yaitu Pengolahan Hidup Rohani (PHR) dengan panduan dari diktat PENGOLAHAN HIDUP BERIMAN oleh Romo F.Mardi Prasetyo, SJ (1995). Dalam PHR itu terdapat lima langkah yang harus dilalui. Langkah Pertama dimulai dari menggali sejarah hidup sejak kecil hingga saat mengikuti program PHR itu. Langkah kedua, ketiga, keempat, hingga langkah kelima yang menggali soal-soal vulnerable dan geminatif.

Seiring dengan kesempatan mendampingi para Postulan, saya juga mengolah diri saya sendiri, karena ketika masih novis, kami pun pernah dibimbing dengan program yang sama. Hanya saja, pada waktu itu, usia saya masih muda. Selain itu tingkat pemahaman juga berbeda. Satu hal lagi, berbagai pengalaman juga semakin berkembang. Yang hendak saya bagikan di sini, dalam PHR,  klien harus mampu menemukan sendiri cacat pusakanya, yang mengakibatkan kecenderungan-kecenderungan yang mengarah kepada tindak dosa. Sebagai contoh: dalam Hidup Bersama, saya sengaja mendiamkan teman. Seolah-olah dia tidak ada bersama saya. Dengan sikap sengaja mendiamkan itu, lambat laun akan mengarah kepada kecenderungan dosa seperti: membenci, jengkel yang dapat menimbulkan perbuatan emosi fatal yang tidak terkontrolkan melalui kata-kata kasar yang menjauhkan dari kasih kepada sesama dan Allah. Apa yang harus saya lakukan? Saya harus berbicara dengan dia. Berbicara dengan hati. Meminta maaf. Memulai menata kembali perilaku kearah yang lebih baik. Kiranya itulah perbuatan sederhana rekonstruktif dan rekonsiliasi.

 

 

Kamis, 13 nopember 2008

Bacaan Flm 7-20

 

            Nasihat

Bila seseorang menyadari akhir hidupnya, dia akan merefleksikan perjalanan hidupnya. Apa yang telah ia kerjakan selagi masih aktif bekerja. Pernah saya mendengar kalimat ini: “Masa muda foya-foya, kalau mati masuk neraka! Masa tua rukun doa, kalau mati masuk surga!” Pertanyaannya: Apakah muda dan tua dilihat dari segi kronologis usia? Kalau boleh saya mengartikannya, muda dan tua di sini, soal sikap, perilaku, hasil suatu perbuatan yang terlihat dan dapat dipahami orang lain. Walau pun ia dari segi usia tergolong muda, namun kebijakannya dalam sikap dan perilakunya adalah dewasa, maka ia menjadi orang tua. Orang tua yang jadi panutan. Sebaliknya bila seseorang dari segi usia terbilang tua, namun hasil perbuatannya menunjukkan ia gemar mengenakan sikap anak muda, penampilan up to date dan modis-khas  anak muda, maka ia bisa disamakan masih muda.

            Merujuk pada permenungan sebelumnya, Paulus dalam surat-suratnya hampir selalu menyertakan kalimat-kalimat bernada nasihat. Dan itu ditujukannya untuk semua kaum: anak-anak, orang muda, orang tua, dan lanjut usia, masing-masing dengan penuturan yang sesuai dengan kemampuan mereka. Sebagai seorang suster, apa yang telah saya kerjakan di dalam tugas sebagai pemimpin, minimal memimpin diri sendiri? Adakah aku menginkorporasikan tugasku dengan tarekatku?

           

 

Jumat, 14 nopember 2008

Bacaan 2 Yoh 4-9

 

            Evaluasi Karya Pelayanan

Yohanes, rasul Yesus Kristus dalam tulisannya yang kedua menuturkan sikap seorang Kristen yang layak. Sebagai ibu, ia telah diberi kodrat untuk melahirkan. Relevansinya dalam karya pelayanan religius dapat disamakan dengan suatu unit karya, entah itu karya di bidang pendidikan, karya social karitatif, karya pelayanan kesehatan, maupun karya kerasulan. Suatu tarekat aktif-kontemplatif harus mampu melahirkan suatu bidang karya pelayanan. Pernah suatu ketika di dalam sharing kelompok biarawati aktif-kontemplatif, seorang suster memaparkan hasil permenungannya tentang situasi tarekatnya saat itu. Kira-kira kalimatnya begini: “Mengapa ya, akhir-akhir ini kog di dalam tarekat kita seringkali terjadi bencana? Ada suster muda yang sakit karena penyakit parah, lalu meninggal. Di lain hari lagi, ada suster yang mengalami gangguan jiwa, stress lalu dan keadaannya labil. Di lain permasalahan, tarekat terpaksa mengambil keputusan untuk menutup suatu karya disebabkan karya tersebut tidak mendatangkan hasil finansial. Padahal unit karya itu dikhususkan bagi orang-orang kecil dan miskin”. Mencermati sharing tadi, dapat ditarik kesimpulan, bahwa ternyata dari hasil evaluasi suatu karya yang dibicarakan adalah untung dan rugi. Bila suatu karya mengalami keuntungan, maka karya itu diteruskan, bahkan dikembangkan. Akan tetapi, bila suatu karya mengalami pailit, maka karya itu dirasakan layak untuk ditutup.

            Sebagai suster kontemplatif-aktif apakah melalui karya pelayanan, yang diperhitungkan selalu perihal untung dan rugi dari segi manusiawi/insani belaka, tanpa memperhitungkan dari segi yang Ilahi yakni kehendak Allah sendiri?

Apa yang dapat kita ambil sebagai bahan permenungan ? Adakah saya dalam tugas pelayanan senantiasa menyertakan kehendak Allah di dalam sikap  dan keputusan-keputusanku? Bila saya melibatkan kehendak Allah, maka karya itu adalah karya bersama Allah. Sebaliknya bila saya bekerja berdasarkan kemauan sendiri, maka dengan sendirinya saya tidak melibatkan intervensi Allah. Selanjutnya, apa yang dapat saya lakukan bila merasa gagal bekerjasama dengan Allah dalam karya pelayananku? Jawabannya: Pertama, saya harus memulai bertobat. Kedua, saya harus bertobat. Ketiga, saya harus bertobat lagi.

 

 

Sabtu, 15 nopember 2008

Bacaan: 3 Yoh 5-8

 

Ucapan Syukur

 

Ucapan Syukur biasanya dilakukan oleh kebanyakan orang bila mereka mengalami kesuksesan, keberhasilan, kegembiraan, ……Ucapan syukur karena sukses, berhasil, gembira mungkin karena melewati masa-masa sulit mengembankan karya, studi, tugas-tugas pekerjaan, atau pun gembira karena memperoleh rezeki tak terduga. Ada pun bentuk ucapan syukur juga bervariasi. Ada yang mewujudkannya dengan pesta. Yang lain lagi  mengadakan doa bersama di rumah. Ada lagi yang memasangkan ucapan syukur dalam bentuk tulisan yang dipajang pada Koran atau majalah. Segelintir orang memilih cara lain lagi, yakni dengan mengubah pola hidupnya, di mana sebelumnya ia merasa bertingkah laku tidak sesuai dengan norma atau aturan setempat, akan tetapi kemudian ia memulai menata dan menyelaraskan pola hidupnya sesuai tatanan hidup masyarakat setempat. Pernah juga ada berani dan rela membaktikan dirinya demi orang lain. Misalkan bekerja atau melayani tanpa mau diberi imbalan.

            Kalau kita kembali bertanya sekali lagi: benarkah ucapan syukur itu dilakukan hanya kalau mengalami kesuksesan saja? Kiranya ada baiknya memerhatikan 4 unsur sebagai tanda ucapan syukur sehari-hari.

1.      Syukur karena saya mengalami hidup dari Allah

Bukankah setiap hari saya senantiasa menikmati nafas kehidupan?

2.      Syukur karena pengenalan akan Yesus Kristus

Melalui sakramen Permandian, saya telah diterima ke dalam kumpulan umat Allah, yakni Gereja.

3.      Syukur karena hidup sebagai orang Kristen

Banyak saudara dan saudari yang mengenyam pendidikan sekolah di Sekolah Katolik, akan tetapi tidak mau menggumuli hidup sebagai orang Kristen.

4.      Syukur karena boleh ikut serta dalam karya-karya pelayanan Gereja

Bentuk karya pelayanan sekecil apa pun peranku (Koster, Pemazmur, anggota koor, pemain aneka musik liturgi gereja, ketua lingkungan, among tamu waktu Perayaan Ekaristi, dll) baik keikutsertaanku melalui tarekat maupun keterlibatanku secara langsung untuk kemajuan Gereja. Yang paling penting partisipasi aktifku.

 

            Sebagai pokok permenungan ada baiknya bertanya diri. Adakah aku terlibat aktif dalam kegiatan pelayanan Gereja? Sejauh mana aku telah melakukannya? Aku bekerja melayani apakah dengan menyertakan nama tarekat dan Gereja atau semata-mata demi kesenanganku saja?