Ilmu Pengetahuan

ditulis saat masih muda 

Ilmu Pengetahuan bagaimanapun pintarnya para ilmuwan menyembunyikannya dari orang awam agar dianggap ilmiah menyisakan cacat besar yang tak terampunkan, yaitu pondasi dasarnya sama sekali tidak ilmiah. Hal ini berkaitan dengan falsafah yang dipegang para penguasa dunia dan para ilmuwan yang berpengaruh. Ilmu pengetahuan jika dipandang dari sudut deterministik (aliran filsafat ilmu Newton, Laplace, Descares, Euclid, dan Einstein) maka dengan mudah ditunjukkan ketidakilmiahannya.

Matematika yang merupakan dasar ilmu pengetahuan para determinis tidak ilmiah karena postulat dan aksioma yang mendasari setiap teori, teorema, hukum, asas, dan prinsip sama sekali tidak ilmiah karena tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Aksioma adalah sebuah pernyataan yang pasti benar tidak perlu dibuktikan lagi kebenarannya (sebenarnya tidak dapat dibuktikan kebenarannya). Contoh aksioma dalam ruang datar (geometri euclidian) menyatakan antara dua titik hanya dapat ditarik satu garis lurus. Postulat adalah pernyataan yang dibuat untuk mendukung sebuah teori tanpa dapat dibuktikan kebenarannya. Contohnya adalah postulat Einstein dalam relativitas khusus tentang kecepatan cahaya.

Kekurangan matematika selanjutnya adalah ketidakmampuannya bekerja dititik singular atau takhingga. Ini kekurangan yang sangat mengganggu karena banyak peristiwa yang tak teramalkan karena menemukan titik tak hingga dalam perhitungannya. Secara praktis matematika tak dapat menghandel data berjumlah sangat besar.

Fisika menyisakan tanda tanya besar bukan hanya soal dasarnya yang tidak ilmiah (seluruh teori, hukum, dan asas dalam fisika menggunakan postulat atau aksioma sebagai dasarnya) namun juga soal ketidakpastian, dan ketidakmampuan meramalkan. Asas ketidakpastian Heisenberg telah memporakporandakan kepercayaan para determinis terhadap kemampuan fisika meramalkan masa depan. Asas ini menyatakan bahwa tak mungkin bagi manusia untuk mengetahui apapun secara eksak karena kita tak bisa mendapatkan hasil pengukuran yang eksak. Jadi ketelitian pengukuran bukan hanya masalah instrumen, namun alam sendiri memang tidak deterministik sehingga membatasi tingkat ketelitian pengukuran.

Kekurangan fisika selanjutnya adalah berhubungan dengan masalah penerapan statistika dalam fisika terutama dalam mekanika. Tokoh yang berperan besar dalam penerapan statistika dalam fisika adalah Boltzman. Penerapan ini dimotivasi karena banyak sekali persoalan yang melibatkan data besar, yang mustahil untuk dipecahkan. Ilmu ini diciptakan bukan untuk memecahkan kekurangan matematika di titik tak hingga, statistika hanya menjawab sebagian kecil persoalan praktis yang melibatkan data dalam jumlah besar.

Statistika menjadi senjata yang ampuh untuk menerangkan beberapa sistem yang memiliki komponen penyusun sangat besar. Contoh penerapannya adalah pada kasus gas ideal di dalam ruangan tertutup. Penerapan statistika ini sedikit banyak mengurangi kerumitan perhitungan yang dihadapi jika harus menganalisis setiap komponen penyusun sebuah sistem. Dengan penerapan statistika ini para ilmuwan berharap dapat menerangkan seluruh sistem-sistem rumit yang besar. Misal sel-sel hidup. Usaha ini telah dirintis sejak pertengahan abad dua puluh hingga sekarang, tentunya dengan tetap mempertahankan keyakinan deterministik dan penggunaan persamaan-persamaan linear sebagai aproksimasi bagi sistem-sistem yang dianalisis yang sama sekali tidak linear. Baik analisis deterministik maupun aproksimasi linear menghasilkan dunia yang tidak indah karena apapun dimasa depan dapat diketahui dengan mempertimbangkan keadaan sekarang.

Sistem deterministik adalah sistem yang mengabaikan sifat tak teramalkan, sifat acak (misal gerakan brown), asas Ketidakpastian Heisenberg. pengabaian ini biasanya menghasilkan tingkat kesalahan yang tidak terlalu berarti - acceptable. Jadi mendeterminasi sistem selama tidak terjadi kuantum leap pada titik percabangan yang stabil namun jauh dari kesetimbangan termodinamik tidak ada masalah. Jika titik ini ditemukan metode determinasi tidak ada gunanya karena selain harus mengetahui state sistem secara lengkap analisis juga harus mempertimbangkan sejarah (perubahan state sistem sebelum sekarang sesuai dengan anak panah waktu termodinamik) sistem. Jika sejarah sistem telah dimasukkan dalam pertimbangan analisis maka cara menganalisisnya bersifat non-deterministik.

Lalu aproksimasi persamaan nonlinear (mungkin juga time-varying) menjadi LTI menghasilkan tingkat kesalahan yang acceptable dengan teknik atau algoritma tertentu. Namun aproksimasi ini tidak mampu berbicara pada situasi tertentu karena bagaimanapun juga persamaan nonlinear mengijinkan lebih dari satu pemecahan yang mungkin untuk persamaan yang sama, atau dengan kata lain sistem nonlinear mampu menghasilkan beberapa state yang mungkin dari state yang sama pada saat sekarang, sedangkan persamaan linear hanya akan bersifat menghasilkan sebuah state (hanya sebuah) dari state yang sama pada saat sekarang.

Pada awal tahun tujuh puluhan beberapa ilmuwan seperti Prigogine, Maturana, dan Varela menunjukkan suatu properti sistem yang sangat menarik sekaligus menghancurkan keyakinan para determinis tentang keampuhan metode analisis mereka. Properti ini muncul mendadak pada level kerumitan sistem yang lebih tinggi tanpa berhubungan dengan komponen-komponen penyusunnya. Atau dengan kata lain metode deterministik yang menganalisis sistem dengan mengandaikan seluruh properti sistem dapat direduksi pada level komponen penyusunnya menjadi tidak berarti. Tak ada cara lain untuk menganalisis sistem yang menunjukkan perilaku ini selain menganggap sistem tersebut sebagai suatu kesatuan yang tak tereduksi, jadi tak dapat dianalisis dengan menganalisis komponen-komponen penyusunnya. Sistem-sistem ini juga tidak dapat dianalisis dengan persamaan-persamaan linear karena mereka menunjukkan sifat kuantum leap pada titik titik tertentu yang stabil pada saat jauh dari keadaan setimbang termodinamik.

Padahal sejauh ini ilmu pengetahuan telah dibangun dengan asumsi bahwa seluruh sistem dapat diterangkan dengan persamaan linear, dan determinis atau seluruh properti sistem dapat dijelaskan pada level komponennya, Dengan penemuan ini maka para ilmuwan harus memikirkan ulang fondaasi ilmu pengetahuan sekali lagi.

Back to Homepage    Others Writings:   Anak Panah Waktu   Asumsi El-Naby   Kerangka Acuan