2. Ki-shin-tai no toitsu & Ki musubi ~ ajaran penting GM Ueshiba Morihei yang diabaikan


AIKI

ki-shin-tai no toitsu

ki musubi

 

Terapan paduan ki musubi dan ki-shin-tai no toitsu dalam beladiri AIKI do (cara AIKI)


Hasil pelatihan terapan AIKI (oleh murid2 Chief Prawira, Surabaya)

“Dengan paduan ki musubi dan ki-shin-tai no toitsu  menetralisir kecepatan & kemantapan dua sabetan bokken, lalu membuat arah serang kedua pemegang bokken saling mengancam sendiri,  kemudian proses beladiri diselesaikan dengan waza spontan yang alami dan sesuai.”

(Novotel Hotel, Surabaya, 2003  –  Miss Elma  vs  Mr. Hijkoop  &  Mr. Pziwara)


Menurut guru kami, Chief Prawira, Grand Master Ueshiba Morihei pernah memberitahu beliau bahwa AIKI (ki-shin-tai no toitsu dan ki musubi) ada pada setiap aktivitas di alam semesta, termasuk aktivitas manusia.

Ki-shin-tai no toitsu kini juga disebut ki-shin-tai ichi yang berarti “kemanunggalan antara spirit - pikiran - tubuh”.

Ki musubi berarti “pernikahan ki” atau dalam bahasa yang sederhana “perpaduan antara dua niat yang berbeda”.

Ki-shin-tai no toitsu biasanya berlangsung saat orang istirahat atau tidur dengan rileks tanpa mimpi, atau saat orang duduk bermeditasi, baik yang model konsentrasi maupun yang model rileksasi.

Ki musubi biasanya berlangsung saat orang berjemur matahari. Jika sisi tubuh tertentu sudah terasa panas, dia pasti merubah posisi tubuh atau menutupi bagian tubuh yang sudah terasa panas tersebut.

Ki-shin-tai no toitsu dan ki musubi berlangsung secara bersamaan adalah ketika seseorang sedang melakukan sesuatu, misalkan menyanyi dengan iringan musik, merias wajah seseorang, belajar di sekolah, terutama saat berkendaraan di jalan yang ramai dan kacau.


Dalam Aikido, pelatihan ki-shin-tai no toitsu dan pelatihan ki musubi, jika paham, sebaiknya diajarkan atau dipelajari lebih dulu (sebelum mengajarkan atau minta diajari waza).

Bahkan, untuk anak-anak, lebih baik minta mereka diajari ki-shin-tai no toitsu, ki nagare, dan ki musubi saja.   Bukan waza!

Perlu diketahui, di organisasi Shinshintoitsu Aikido yang mengajarkan Aikido sesuai dengan aturan Hombu Dojo Shinshintoitsu Aikido, para peserta dewasa maupun anak-anak harus belajar shin-shin toitsu dan ki nagare sebelum diizinkan belajar waza.

Waza (teknik gerak) Aikido dapat menimbulkan:

  1. kemampuan palsu (karena kondisi fisik anak kalah dengan kondisi fisik orang dewasa)
  2. rasa percaya diri yang tidak dilandasi akal sehat (karena tidak dapat membedakan antara kondisi yang direkayasa saat latihan dengan kondisi nyata saat di luar dojo)
  3. rasa arogan (jika sering dipuji dan merasa “bisa”) yang dapat berubah menjadi mudah tersinggung / emosi
  4. cedera (akibat keliru gerak atau gerak yang tidak terkontrol)

Pelatihan ki-shin-tai no toitsu membosankan, tetapi dapat membuat seseorang lebih sabar, lebih berkemauan, dan mulai dapat melakukan ki nagare (mengalirkan dan mengarahkan ki) untuk menambah kemampuan fisik.

Pelatihan ki musubi cukup sulit dan perlu kecermatan yang baik, tetapi dapat membuat orang lebih terampil dan bijak dalam bertindak atau mengentas masalah.

 

Waza

Waza (teknik gerak) Aikido ada banyak macam.

Tiap aliran Aikido memakai nama, model, dan variasi gerak yang mungkin tidak sama.

Sebutan nama waza yang paling sederhana memakai urutan:

1.  “cara serang” - “nama solusi”
     Mis: Shomen uchi - ikkyo / ikkajo / ude osae.
     Mis: Katate tori - sankyo / sankajo / kote hineri.
2.  “sikap tubuh” - “alat serang” - “cara serang” - “solusi”
     Mis: Hanmi handachi - tanto tori - shomen uchi - ikkyo / ikkajo /  ude osae.

Waza Aikido yang diajarkan mempunyai kemiripan dengan waza Daitoryu Jujutsu (Daitoryu Aikijutsu / Daitoryu Aikijujutsu) karena memang diubah dari waza Daitoryu Jujutsu.

Waza Aikido hanya:

  1. terdiri dari cara membanting (nage waza) dan mengunci (katame waza).
  2. diajarkan untuk menghadapi cara serang dari belakang (ushiro), cara serang berupa sergapan (tori) atau pukulan (uchi atau tsuki).
  3. terhadap alat serang berupa pisau (tanto), tongkat (jo), atau pedang (tachi atau bokken).
  4. diajarkan untuk sikap duduk (zagi), berdiri (tachi), atau sikap duduk dan penyerang berdiri (hanmi handachi).

Waza dasar disebut kihon waza.

Waza variasi disebut henka waza.

Waza perlawanan (terhadap reaksi berupa gerakan yang masih berbentuk pegangan / tori) disebut kaeshi waza.


 

Alamat:

BALAI  Pelatihan PRAWIRA       

Rungkut Asri Barat 10 / 30, Surabaya

Telpon:  8700076

   

 

Comments