Jauh sebelum bangsa Eropa datang, nenek moyang kita telah menjalin hubungan perdagangan dengan berbagai wilayah di Asia dan bahkan mungkin lebih jauh lagi. Rempah-rempah seperti lada, pala, cengkih, dan kayu manis menjadi komoditas berharga yang diperdagangkan melalui jalur laut yang menghubungkan Nusantara dengan India, Tiongkok, dan wilayah lainnya. Jalur perdagangan ini bukan hanya sekadar aktivitas ekonomi, tetapi juga menjadi media pertukaran budaya, teknologi, dan pengetahuan antara berbagai masyarakat. Jaringan ini lah yang kemudian kita kenal dengan Jalur Rempah Nusantara.
Jalur rempah (Spicy routes) adalah jaringan niaga perdagangan rempah-rempah yang menghubungkan antara belahan barat dan timur dunia. Jalur rempah merupakan jaringan tertua dalam peradaban manusia yang diperkirakan sudah ada sejak 4.500 tahun yang lalu. Jalur ini ada sebelum munculnya jalur sutera. Pada masa Praaksara, wilayah yang dilintasi jalur rempah membentang sampai Sri Lanka, India, Afrika dan Madagaskar. Nenek moyang kita juga membawa rempah ke Asia Tenggara, termasuk ke Campa (Vietnam dan Kamboja sekarang). Sayangnya, karena terbatasnya sumber tertulis pada masa praaksara, pemahaman kita mengenai Jalur Rempah pada periode ini masih bersifat rekonstruksi berdasarkan temuan arkeologi, analisis genetik, dan kajian linguistik.
Berikut ini beberapa bukti arkeologis yang berkaitan dengan Jalur Rempah periode Praaksara
Gambar perahu layar di situs Liang Kacamata (Kalimantan Selatan) Diperkirakan dibuat 4.500 - 5000 tahun yang lalu.
Lukisan perahu serta lukisan penari dan gendang logam di situs Here Sorot Entapa, Kisar, Maluku. Diperkirakan dibuat 2.500 tahun yang lalu (Zaman Logam).
Hunian manusia praaksara di situs Gua Pawon dan temuan fosil biji kemiri sang manusia gua.
Lukisan ekspedisi kapal besar Ratu Hatshepsut (berkuasa 1503-1482 SM) di Mesir. Terdapat huruf Hieroglif yang menjelaskan bahwa ekspedisi kapal itu membawa pulang berbagai jenis tanaman dan wewangian untuk pemujaan
Jambangan berisi cengkih di gudang dapur rumah sederhana situs kuno Mesopotamia (1721 SM)
Lada hitam di lubang hidung Firaun Ramses II (1224 SM). Selain itu terdapat juga cengkih yang menjadi bahan mumifikasi, diduga berasal dari Nusantara.
Selain itu terdapat juga beberapa bukti tertulis yang berkaitan dengan Jalur Rempah periode Praaksara
Kitab Petunjuk Pelaut ke Lautan Erythrea (Samudra Hindia)
Kitab Ramayana (Tahun 200 M) menyebutkan bahwa sumber kayu gaharu dan cendana berada di daerah Timur Nusantara
Catatan perjalanan Gaius Plinius Secundus atau Pliny the Elder (Tahun 24 - 79 M)
Peta "Guide to Geography" buatan Alexandria (Mesir), Cladius Ptolomaeus (abad ke-1 M)
Kitab Raghuvamsa yang dutulis Kalidasa sekitar tahun 400 M menyebutkan bahwa lavanga (cengkih) di wilayah Dvipantara (Nusantara)
Catatan dan berita tiongkok yang menyebutkan cengkih (chi shelting hsiang) dari mo wu (Maluku)
Terdapat juga catatan perjalanan Yeh-po-ti/She-po ke Jawa