Jalur rempah merupakan jaringan niaga rempah-rempah warisan nenek moyang bangsa Indonesia sejak 4.500 tahun yang lalu yang menghubungkan belahan dunia barat dengan dunia timur. Pada periode kerajaan-kerajaan Hindu & Buddha, jalur rempah semakin berkembang pesat. Sumber-sumber tertulis dan bukti arkeologis menemukan jejak jalur rempah yang dapat dikelompokkan pada empat kerajaan klasik di Nusantara, yaitu: Sriwijaya, Mataram, Singasari, dan Majapahit.
Jalur Rempah Periode Kerajaan Sriwijaya
Gambar: Penemuan diduga pelabuhan Sriwijaya di Kota Kapur
Kerajaan Sriwijaya yang berdiri sekitara abad ke-7 sampai abad ke-15 M, merupakan suatu kerajaan maritim yang menguasai jalur perniagaan di selat Malaka dan sekitarnya. Letak kerajaan yang sangat strategis diantara samudra Hindia, Laut Tiongkok Selatan dan samudra Pasifik membuat Sriwijaya berada di tengah-tengah jalur pelayaran bangsa India dan Tiongkok. Kerajaan Sriwijaya juga memiliki komoditas dan hasil alam yang sangat bernilai tinggi seperti rempah (cengkih, pala, lada, kapulaga, pinang, kayu manis, dll) kayu gaharu, kayu cendana, kemenyan, kapur barus, besi, timah, perak, dan juga emas. Kerajaan Sriwijaya juga menjalin perdagangan dengan India, Arab, dan Tiongkok.
Menurut catatan Zhao Rugua (Chu-Ju-Kua) pada abad ke-13, komoditas di pasar internasional Sriwijaya dicatat secara lengkap termasuk beberapa tambahan seperti mutiara, air mawar, gading gajah, pisau, pedang, porselen, brokat sutra, kancing sutra, kasa sutra, gula, beras, lengkuas kering, dan samsu. Barang-barang tersebut merupakan komoditas yang oleh para saudagar India, Arab dan Tiongkok saling ditukarkan.
Kerajaan Sriwijaya memberlakukan hukum "paksaan penimbun barang", dengan mewajibkan setiap kapal yang melintas di wilayah maritim Sriwijaya untuk singgah dan membayar pungutan cukai di pelabuhan-pelabuhan yang dikuasainya. Untuk menjaga keutuhan wilayah dan kepentingan niaga, Sriwijaya membangun armada dan angkatan laut yang kuat. Sriwijaya juga merangkul para bajak laut dalam ikatan kerajaan sehingga mereka menjadi bagian dari organisasi perdagangan dan sekaligus menjadi pengaman di jalur-jalur perniagaan.
Jalur Rempah Periode Kerajaan Mataram
Gambar: Relief candi Borobudur yang menggambarkan aktivitas masyarakat meracik jamu
Bukti jalur rempah pada masa kerajaan Mataram dapat ditemukan dan dilihat pada relief candi Borobudur yang dibangun pada 770-825 M. Pada relief candi tersebut, terdapat setidaknya 63 spesies tanaman kuno. Selain itu, terdapat juga relief yang menggambarkan aktivitas masyarakat ketika meracik jamu. Relief perahu kuno (perahu bercadik) di candi Borobudur juga membuktikan bahwa pada masa itu nenek moyang bangsa Indonesia adalah pelaut yang memilki keterampilan membuat perahu dengan model yang berbeda-beda. Relief candi Borobudur juga menunjukan kemampuan nenek moyang bangsa Indonesia dalam penguasaan ilmu perbintangan yang memungkinkan para pelaut menentukan arah dalam pelayarannya.
Bukti lain dari jalur rempah pada masa kerajaan Mataram adalah penemuan cengkih era 900-1100 M dan lada hitam era 600-700 M di bekas pelabuhan kuno Mantai, Sri Lanka yang diduga telah memiliki hubungan jual beli rempah di Nusantara sejak era Kalingga hingga Mataram Kuno.
Jalur Rempah Periode Kerajaan Singasari
Gambar: Penemuan kapal dagang di Pantai Houzhu (1973) yang diperkirakan tenggelam pada era Singasari
Jejak jalur rempah masa kerajaan Singasari dapat dilihat dengan jelas pada masa pemerintahan Kertanagara (berkuasa 1268-1292 M). Di bawah pemerintahannya, Singasari menguasai dan memiliki pengaruh pada wilayah Jawa, Madura, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Melayu, dan Semenanjung Melayu. Hal tersebut merupakan hasil dari visi politik "Cakrawala Mandala Dwipantara" yang dapat diartikan sebagai perluaasan wilayah dengan menyatukan kerajaan-kerajaan Nusantara di bawah payung Singasari. Singasari menjalin hubungan dagang dengan banyak bangsa asing terutama Tiongkok masa Dinasti Yuan. Komoditas Singasari diantaranya seperti beras, emas, dan rempah-rempah akan ditukarkan dengan sutra dan porselen dari Tiongkok. Perdagangan berlangsung melalui pelabuhan utama Tuban, Gresik, dan Sedayu di pesisir utara Jawa.
Bukti arkeologis lain yang menunjukan adanya hubungan dagang Singasari dengan Tiongkok adalah penemuan kapal kargo Tiongkok di Pantai Houzhu pada tahun 1973. Menurut Chee-Beng-Tan (seorang guru besar Universitas Sun Yat-Sen), kapal tersebut tenggelam pada 1271 M (era Singasari) dengan dimensi ukuran panjang 24 meter dan lebar 9 meter yang mengangkut berbagai komoditas seperti lada, kacang areca, ambar, cangkang kura-kura, kayu laka, dan kayu gaaru.
Jalur Rempah Periode Kerajaan Majapahit
Gambar: Gambaran ekspedisi Cheng Ho (1405 - 1433 M) yang melakukan kontak dengan kerajaan Majapahit
Pada masa kerajaan Majapahit, aktivitas maritim dan perdagangan mengalami kemajuan yang cukup pesat. Kerajaan Majapahit diyakini mewarisi visi Cakrawala Mandala Dwipantara dari raja Kertanagara Singasari. Majapahit mampu menguasai dan memberikan pengaruh yang kuat di kawasan Asia Tenggara. Kejayaan tersebut tidak terlepas dari kekuatan 2.800 kapal armada laut Majapahit yang dikisahkan begitu digdaya sehingga kerajaan ini disebut sebagai talasokrasi atau kemaharajaan bahari. Empu Prapanca (1365 M) menyebutkan bahwa armada laut Majapahit (jalandhi) dipersiapkan lebih kuat dan dalam jumlah besar dibandingkan kesatuan lain, serta diperlakukan lebih istimewa.
Aktivitas perdagangan Majapahit terpusat pada dua pelabuhan utama yaitu Changku dan Bubat. Selain itu terdapat juga pelabuhan lain yang turut mendukung aktivitas niaga Majapahit seperti pelabuhan di kota-kota pesisir, Lasem, Surabaya, Gresik, Sedayu, Tuban, Kalimas, Pasuruan, dan Bali, yang kesemua itu terhubung juga dengan jalur rempah di kawasan Malaka hingga Maluku.
Penguasaan banyak wilayah, komoditas rempah, serta jalur pelayaran yang strategis mendatangkan kemakmuran bagi Majapahit. Salah satu contoh yang menunjukan kemakmuran tersebut adalah dibangunnya Kolam Segaran yang menurut ceritanya kolam tersebut digunakan untuk menjamu tamu-tamu kerajaan. Cerita rakyat mengungkapkan bahwa seusai menikmati perjamuan, piring-piring yang sudah digunakan tidak dicuci melainkan langsung dibuang ke Kolam Segaran.