A. Potret Awal Lokasi Pendirian Pesantren (1987)
Di ujung selatan Provinsi Sulawesi Tenggara, di Kabupaten Konawe Selatan yang dulunya masih bernama Kabupaten Kendari, terdapat sebuah desa bernama Bima Maroa. Desa ini awalnya merupakan wilayah pemukiman baru hasil program transmigrasi. Mayoritas penduduknya adalah pendatang dari berbagai daerah, khususnya dari Pulau Jawa, Nusa Tenggara Barat, Bali dan wilayah lain di Sulawesi.
Sebagai daerah yang jauh dari pusat kota, Bima Maroa kala itu memiliki kondisi sosial ekonomi yang sederhana. Sebagian besar warganya bekerja sebagai petani dan pekebun. Sarana pendidikan sangat terbatas, bahkan untuk sekolah dasar saja jumlahnya sedikit dan jaraknya cukup jauh antarperkampungan.
Dari sisi keagamaan, kehidupan masyarakat Muslim Bima Maroa terbilang sederhana. Kegiatan keagamaan berjalan, namun belum terorganisir secara intensif. Masjid dan mushalla ada, tetapi pembinaan keagamaan untuk generasi muda belum terstruktur. Pendidikan agama lebih banyak disampaikan secara tradisional melalui pengajian rutin di rumah tokoh agama atau guru ngaji setempat.
Di tengah suasana demikian, tantangan lain mulai muncul ketika pendidikan berbasis non-Islam hadir di tengah masyarakat. Tahun 1987 berdirilah SMP Oikoumene, sekolah menengah berbasis Kristen, tepat di jantung Desa Bima Maroa. Bagi sebagian pihak, kehadiran sekolah ini dipandang sebagai kemajuan karena membuka akses pendidikan menengah di desa. Namun bagi tokoh-tokoh Islam, ini menjadi sinyal bahwa pendidikan Islam harus segera dibangun agar generasi muda tetap mendapatkan pembinaan agama yang kuat. (Sumber: Cerita Ekslusif Ibu Mutatik Atin, S.Ag., 30 Juni 2025)
B. Fase Awal Pendidikan Islam di Bima Maroa (1987–1989)
Kekhawatiran akan melemahnya pendidikan Islam membuat sejumlah tokoh agama setempat bergerak. Dua sosok penting, Kyai Sukarno dan Kyai Nur Hadi (Alm.), memimpin langkah awal ini. Dengan dukungan tokoh lain, mereka mendirikan Madrasah Tsanawiyah (MTs) Darunnajah di SP2 (Satuan Pemukiman 2), sebagai benteng awal pendidikan Islam tingkat menengah. (Sumber: Cerita Ekslusif Ibu Mutatik Atin, S.Ag., 30 Juni 2025).
Namun, perjalanan MTs Darunnajah tidak mudah. Sekolah ini harus bersaing dengan SMP Oikoumene yang memiliki fasilitas lebih baik dan tenaga pengajar yang lebih lengkap. Banyak orang tua memilih menyekolahkan anak mereka ke SMP Oikoumene karena dianggap lebih mapan secara fasilitas, meskipun berisiko dari sisi pembinaan agama.
Situasi ini menimbulkan kesadaran baru: diperlukan madrasah yang bukan hanya berdiri secara fisik, tetapi juga memiliki ikatan kuat dengan masyarakat setempat, lahir dari kebutuhan umat, dan dimiliki oleh umat sendiri. Dari pemikiran inilah, lahir ide pendirian madrasah baru yang lebih berakar pada masyarakat Bima Maroa.
C. Lahirnya MTs Darul Ulum (1989–1992)
Tahun 1989 menjadi babak baru. Berdirilah Madrasah Tsanawiyah Darul Ulum, di bawah naungan Yayasan Pendidikan Islam Darul Ulum. Madrasah ini menjadi simbol harapan baru bagi pendidikan Islam di Bima Maroa. Nama "Darul Ulum" yang berarti Rumah Ilmu dipilih untuk mencerminkan cita-cita mulia: menjadikan lembaga ini sebagai tempat menimba ilmu agama dan umum bagi generasi muda.
Pada awal berdirinya, MTs Darul Ulum cukup diminati. Jumlah siswa mencapai sekitar 40 orang, angka yang terbilang besar untuk ukuran desa pada masa itu. Bahkan, salah satu siswinya, Mutatik Atin, kelak menjadi guru Pendidikan Agama Islam di SMPN 54 Konawe Selatan.
Namun, perjalanan manis itu tidak berlangsung lama. Dalam beberapa tahun, jumlah siswa terus menurun. Faktor penyebabnya beragam: minimnya fasilitas, terbatasnya tenaga pendidik, dan persaingan dengan SMP Oikoumene. Meski demikian, MTs Darul Ulum tetap berusaha bertahan dengan segala keterbatasan.
D. Masa Krisis dan Tantangan (1992–1995)
Memasuki tahun 1992, situasi semakin sulit. Jumlah siswa di MTs Darul Ulum terus menyusut. Tahun itu hanya 17 siswa yang berhasil duduk di kelas III. Pada tahun 1995, kondisinya benar-benar memprihatinkan: kelas I hanya memiliki 1 orang siswa (Waluyo, putra tokoh agama Pak Mishari), kelas II berjumlah 4 orang, dan kelas III berjumlah 8 orang.
Kepala MTs berganti-ganti, antara lain:
Pak Munsarif (1989-1996)
Kyai Jumiroh, QH., S.Sos.I (1996-1998)
Pak Imam Bukhari, B.A (Alm.) (1998-2003)
Pak Khairuddin, S.Pd (Alm.) (2003-2004)
Pak Imam Kurosi, S.Ag (alm.) (2004-2022)
Ustadzah Baiq Saidah Har, QH., S.Sos.I., M.Pd.I. (2022-Sekarang (2025))
E. Harapan dari Pancor dan Tim Safari Ramadhan (1995)
Bermula dari komunikasi antar tokoh di desa Bima Maroa, terdapat keluhan dari Kepala MTs. Darul Ulum (Pak Munsharif) mengenai kondisi MTs. Darul Ulum yang sangat memprihatinkan saat itu. Sebagai upaya mengatasi permasalahan tentang kondisi yang dihadapi, Kepala MTs. Darul Ulum melakukan konsultasi dengan tokoh agama yakni H. Djunaidi. Dalam hal tersebut, H. Djunaidi memberikan Solusi. Atas saran dan inisiatif beliau, dipertemukanlah kepala MTs. Darul Ulum dengan Ustadz Jumiroh, QH., S.Sos.I dari Buke. Maka disepakatilah untuk menghidupkan kembali MTs. Darul Ulum yang hampir mati, yang menghasilkan dua kesepakatan, yakni:
1. MTs. Darul Ulum bernaung di organisasi Nahdlatul Wathan, dan
2. Tambahan tenaga pengajar (Ustadz Jumiroh, QH., Nasri, Bariyatul Hamdi dan Muhammad Said).
Di tengah situasi nyaris padam, cahaya harapan datang pada bulan Ramadhan tahun 1995. Dua pemuda, Al-Ustadz Jamhuri Karim dan Al-Ustadz Sam’an Husni, yang kala itu masih menjadi mahasiswa tingkat 3 (semester 6) di Ma’had Darul Qur’an wal Hadits (MDQH) Al-Majidiyyah As-Syafi’iyyah NW Pancor, Nusa Tenggara Barat, datang ke KB4 sebagai lokasi tujuan awal safari ramadhan. Tokoh-tokoh agama di KB4 (Desa Tirto Martani) seperti pak Musta’am dan pak Muhammad Said menceritakan mengenai adanya madrasah di KB5 (Desa Bima Maroa) yang sudah diserahkan ke Nahdlatul Wathan (NW). Mendengar cerita itu, ustadz Jamhuri Karim dan ustadz Sam’an Husni merasa terpanggil untuk meninjau langsung madrasah tersebut. Maka berangkatlah beliau berdua bersama beberapa tokoh ke KB5 (Desa Bima Maroa). Kedatangan mereka diterima oleh Tokoh Agama KB5 (Pak Munsharif, H. Djunaidi, Pak Bahri, Ahmad Muzhar dan tokoh lain).
Kedatangan mereka sebagai Tim Safari Ramadhan disambut penuh harapan oleh masyarakat. Bukan sekadar sebagai imam tarawih atau penceramah, mereka dianggap sebagai calon penyelamat pendidikan Islam di desa Bima Maroa. Masyarakat menitipkan pesan yang sarat makna:
"Jika engkau kelak tamat, kembalilah. Bangkitkan kembali madrasah ini. Hidupkan ruh pendidikan di desa kami."
F. Kedatangan Enam Mutakharrijin dan Proses Kebangkitan (1996)
Doa dan harapan masyarakat dijawab pada bulan 2 Juli 1996. Pusat Perguruan Nahdlatul Wathan NTB mengirimkan enam orang mutakharrijin terbaik dari MDQH NW Pancor untuk mengabdi di Bima Maroa:
Al-Ustadz Jamhuri Karim, QH.
Al-Ustadz Taufal Bakri, QH.
Al-Ustadz Azhar Harif, QH.
Al-Ustadz Syarbini Al-Artawi, QH.
Al-Ustadz Muslihan, QH.
Al-Ustadzah Baiq Saidah Har, QH.
Mereka datang bukan membawa modal materi, melainkan modal spiritual: ilmu agama, semangat dakwah, dan keikhlasan untuk membangun pendidikan dari nol. Fokus pertama mereka adalah menghidupkan kembali MTs Darul Ulum dan memperkuat pembinaan agama masyarakat.
G. Resmi Berdirinya Pondok Pesantren (1996)
Tanggal 1 September 1996 menjadi tonggak sejarah penting. Pada hari itu, Pondok Pesantren Darul Ulum Nahdlatul Wathan resmi berdiri di Desa Bima Maroa. Pesantren ini memadukan sistem pendidikan formal dan nonformal, mengajarkan ilmu agama melalui kajian kitab kuning sekaligus memberikan pendidikan umum sesuai kurikulum nasional.
Di bawah kepemimpinan pendirinya, Al-Ustadz Jamhuri Karim, QH., S.Sos.I, pesantren mulai berkembang. Santri tidak hanya berasal dari Bima Maroa, tetapi juga dari desa-desa sekitar bahkan dari luar Kabupaten Konawe Selatan.
H. Perkembangan Pesantren dari Masa ke Masa
Seiring berjalannya waktu, PONDOK PESANTREN DARUL ULUM NAHDLATUL WATHAN mendirikan berbagai unit pendidikan:
RA Halimatussa’diyah NW – pendidikan anak usia dini.
MI Hamzanwadi NW – pendidikan dasar.
MTs Darul Ulum NW – pendidikan menengah pertama.
MA Nahdlatul Wathan – pendidikan menengah atas.
Jumlah santri terus bertambah hingga mencapai 409 santri (201 putra, 209 putri) dengan 14 tenaga pendidik. Program unggulan pesantren antara lain Takhassus Tafaqquh Fiddin, Tahfizhul Qur’an, dan pembinaan akhlak.
I. Kontribusi Sosial dan Peran Strategis
Pesantren berperan sebagai:
Pusat dakwah Ahlussunnah wal Jama’ah ala Nahdlatul Wathan di Sulawesi Tenggara.
Pencetak kader da’i dan guru agama.
Lembaga rujukan keagamaan masyarakat.
Penyelenggara kegiatan sosial: bakti sosial, santunan, dan bantuan bencana.
J. Makna Sejarah dan Pesan Moral
Perjalanan Pondok Pesantren Darul Ulum Nahdlatul Wathan adalah bukti bahwa pendidikan Islam bisa tumbuh dari desa terpencil dengan modal utama keikhlasan, tekad, dan kerja sama masyarakat. Pesantren ini menjadi simbol bahwa perubahan besar bisa lahir dari titik nol, asalkan ada niat tulus untuk berkhidmat.