DESAIN DAN PRODUKSI BUSANA
Warna pada kain dan pakaian akan membuat kain menjadi lebih menarik dan menambah nilai estetik. Pewarna kain sendiri terbagi menjadi dua berdasarkan asalnya, yaitu pewarna kain pewarna alami dan sintetis. Pewarna alami berasal dari tumbuhan dan pewarna sintetis adalah buatan pabrik.
Teknik shibori adalah teknik yang berasal dari Jepang. Teknik pewarnaan ini merupakan salah satu cara pencelupan tekstil di Jepang sejak abad ke 8. Shibori merupakan teknik pencelupan kain yang meliputi jahitan, ikatan, lilitan, dijepit dan dibungkus. Teknik dasar Shibori adalah menggambar di atas kain, dan pengikatan simpul dengan ketat menggunakan benang.
1. Pewarna Kain Alami
Pewarna kain alami merupakan pewarna kain yang berasal dari tumbuhan. Pewarna jenis ini sudah digunakan sejak zaman dahulu orang para nenek moyang. Pada masa sekarang, pewarna alami banyak dipilih karena tidak merusak lingkungan dan memiliki warna yang khas. Untuk lebih mengenal pewarna alami ini, berikut contoh pewarna alami yang banyak digunakan.
1. Buah Pinang (Merah)
2. Secang (Merah)
3. Angsana (Merah dan Cokelat)
4. Kulit Manggis (Biru, Ungu, dan Merah)
5. Kunyit (Kuning)
6. Daun Suji (Hijau)
7. Bunga Tarum atau Indigo (Biru)
2. Pewarna Kain Sintetis
Pewarna pakaian sintetis adalah pewarna yang terbuat dari bahan kimia. Pewarna ini dibuat dengan proses atau perpaduan zat kimia. Karena dibuat dari zat kimia, proses pembuatannya pun melalui reaksi kimia. Hal ini menjadikan pewarnaan pakaian sintetis bersifat lebih stabil. Tidak hanya itu, pewarna sintetis juga mudah diserap oleh bahan tekstil. Sayangnya, tidak semua pewarna pakaian sintetis aman untuk makhluk hidup dan lingkungan. Berikut contoh pewarna sintetis.
1. Direk
2. Belerang
3. Indigosol
4. Napthol
5. Remasol
6. Wantex
Enam teknik pewarnaan tersebut adalah :
Kanoko shibori sering kita jumpai di pasaran Indonesia, di mana bagian tertentu pada kain diikat dengan benang secara acak, atau dilipat terlebih dahulu baru diikat. Penggabungan lipatan dan ikatan bisa menghasilkan motif berupa bercak lingkaran. Teknik ini umum ditemui di Indonesia karena proses pembuatan jenis ini terbilang cukup mudah dilakukan kamu tinggal mencubit bagian yang kamu inginkan lalu lilitkan benang di sekujur bagian kain yang kamu cubit dan hasil dari teknik ini akan berbentuk lingkaran, kamu bisa juga menambahkan koin di dalam cubitan kain agar lingkaran yang dihasilkan menjadi presisi.
Jika ingin mencoba mewarnai kain sendiri dengan teknik shibori, maka miura shibori adalah pilihan yang tepat bagi pemula. Anda hanya membutuhkan beberapa utas benang untuk mengikat bagian kain yang diinginkan, tanpa perlu menyeragamkan bentuk dan kekuatan ikatannya.
Untuk menghasilkan miura shibori dapat dilakukan dengan cara yaitu cara mudah dan sulit untuk cara mudah kamu dapat melakukannya dengan mengikat karet atau benang pada kain dengan kuat dan cara yang sulit dapat dilakukan dengan jahitan jelujur yang melintang di kain yang dikencangkan, keduanya akan menghasilkan motif garis namun cara yang dilakukan dengan menjahit menghasilkan motif yang lebih berkarakter dibanding dengan cara diikat.
Arashi dalam bahasa Jepang berarti badai. Jadi motif yang dihasilkan dari teknik arashi shibori ini akan menyerupai badai. Cara membuatnya adalah dengan melilitkan kain pada sebatang pipa secara diagonal. Lilitannya jangan terlalu erat sehingga menghasilkan efek ‘badai’ yang indah.
Arashi diambil dari bahasa jepang yang berarti badai dan hal itu menggambarkan motif arashi shibori yang seperti badai dan dapat dihasilkan dengan cara melilitkan kain pada pipa atau bahan berbentuk silinder lalu rapatkan seluruh bagian kain pada satu sisi pipa dan selanjutnya lilitkan benang disekujur kain yang telah dirapatkan.
4. Itajime Shibori
Jika arashi menggunakan bantuan pipa, itajime menggunakan dua bilah kayu. Jadi, kain dijepit di antara dua potong kayu lalu diikat dengan tali atau benang. Motif yang dihasilkan akan bercorak kotak-kotak.
Hal yang pertama yang harus dilakukan untuk membuat teknik ini adalah dengan cara melipat kain secara berulang hingga membentuk sebuah tumpukan berbentuk persegi lalu gunakan dua buah balok untuk menjepit kain secara melintang dan jang lupa ikat dua sisi kain secara kuat.
5. Kumo Shibori
Teknik pewarnaan kumo shibori ini memerlukan ketelitian yang agak tinggi. Bagian tertentu dari kain dilipat sedemikian rupa kemudian diikat dengan benang. Motif yang dihasilkan nantinya menyerupai jaring laba-laba. Nah, kain hasil kumo shibori ini biasanya dijual dengan harga yang cukup tinggi.
Untuk menghasilkan kumo shibori kamu perlu memasukan sumpit ke dalam kain sebagai cetakan lalu lilit sumpit tersebut dengan benang secara rapat dari atas ke bawah dan panjang lilitan ini yang kamu buat akan menentukan seberapa besar ukuran motif yang akan dihasilkan, jika sudah terikat kamu bisa melepaskan sumpit dari kain.
6. Nui Shibori
Berbeda dengan teknik lainnya, nui shibori menggunakan pola jahitan tertentu yang dilakukan seirama pada beberapa bagian kain. Motif yang didapat nantinya akan sesuai dengan pola jahitan yang dibuat.Motifnya yang unik dan bernuansa ethnic membuat shibori kian digandrungi saat ini. Di Indonesia kain dengan teknik shibori biasanya menggunakan kain katun berwarna putih karena sifatnya yang dapat menyerap air. Namun sejatinya kain yang bagus dan biasa dipakai untuk teknik shibori adalah kain kapas yang bernama kain nikisima. Teknik ini adalah teknik yang paling sulit dari ke enam teknik yang ada karena ditentukan dengan kemahiran menjahit namun pola yang dihasilkan dapat dibentuk sedemikian rupa dengan cara menjahit bentuk yang kita inginkan pada kain.Setelah mempelajari enam teknik yang sudah disebutkan dan memilih teknik mana yang akan kamu pilih selanjutnya kamu dapat langsung melakukan praktek.
A. Alat dan Bahan yang Diperlukan
1. Kain putih polos berbahan alami seperti katun, sutra, katun primisima, blaco
2. Tanaman indigo atau kamu dapat menggantinya dengan pewarna sintetis yang mudah didapatkan seperti wantek berwarna biru tua.
3. Sarung tangan latex
4. Ember plastik.
5. Garam dan cuka
6. Kompor dan panci
7. Alat untuk mengaduk berukuran besar
8. Jarum, benang, koin dll
9. Pipa atau kayu berbentuk silinder
10. Dua buah balok kayu
11. Sumpit
B. Cara Pembuatan
Langkah dalam pembuatan shibori :
1. Pastikan kain dalam keadaan bersih
2. Rebus air pada panci hingga mendidih
3. Pindahkan air yang mendidih ke dalam ember dan campur dengan tanaman indigo atau wantek lalu tambahkan dua sendok garam dan cuka satu sendok sebagai penguat warna
4. celupkan kain yang sudah dibentuk dengan salah satu teknik shibori ke dalam ember lalu aduk selama 30 menit (lakukan beberapa kali untuk mendapatkan warna maksimal)
5. Setelah proses pewarnaan selesai angkat kain lalu bilas dengan air dingin sampai tidak ada lagi sisa warna yang menetes.
6. Lepas ikatan kain lalu jemur di bawah terik matahari
7. Kain shibori kamu sudah bisa dipakai.
Dalam penggunaanya kain shibori bisa dipakai dalam berbagai kegiatan baik itu formal maupun informal dan dapat pula dikreasikan menjadi berbagai produk fashion berikut inspirasi gaya yang bisa kamu tiru.
Cardigan
Kain Shibori bisa kamu jadikan cardigan yang bisa kamu pakai untuk acara formal maupun informal sebagai outter yang bisa menambah kesan elegan santai pada outfit kamu.
Shibori bisa juga dijadikan jumpsuit yang bisa kamu gunakan untuk acara informal yang nyaman dan bisa juga dipadukan dengan setelan lain.
Selain untuk pelindung dari udara dingin scarf bisa juga digunakan sebagai aksen tambahan untuk setelanmu dan scarf shibori cocok digunakan pada setelan apapun.